Bab 2

Entah mengapa, jantung Husein berdebar lebih cepat dari biasanya ketika mendengarkan sebuah nama yang disebutkan bundanya. Dia tidak tahu, apakah perempuan pilihan bundanya adalah yang terbaik. Namun, untuk saat ini Husein ingin mencari informasi tentangnya terlebih dahulu.

Setelah mendapat alamat pastinya, dia akan melakukan salat istikharah untuk meyakinkan diri dan memohon petunjuk kepada Allah apakah perempuan itu adalah jodoh terbaik untuknya.

"Bunda tahu, Bunda hanya akan menyakiti kamu kalau memaksakan hak kamu. Bunda cuma mau yang terbaik untuk kamu, kalau memang perempuan itu bukan yang terbaik, nggak pa-pa, Sein. Tapi, Bunda tetap berharap kamu mau mempertimbangkan." Rara mengelus tangan sang anak yang masih menggenggam hangat tangannya.

Wanita itu tahu betul seperti apa anaknya, itu pasti bukanlah keputusan yang mudah. Namun, secercah harapan muncul ketika Husein mengangguk dan memberikan senyuman hangat.

"Dia putri bungsu Pak Yuda Wiranata dan Bu Diva Winarsih. Kamu masih ingat?" tanya Rara.

Husein tampak mengingat-ingat. Namun, pria itu sudah lama lupa tentang siapa saja tetangganya di rumah yang lama.

"Kalau tidak salah, dia punya kakak laki-laki dan perempuan. Tapi, Bunda lupa namanya." Rara mencoba memeras lagi ingatan di masa lalu.

Husein menatap dalam iris mata bundanya. "Husein akan cari tahu."

***

[Myboyfie Aku udah di pos ronda. Kamu udah siap?]

[Me Udah, kok. Ini mau ke luar rumah.]

Mutia menegakkan tubuhnya, memasukkan semua keperluan ke dalam tas. Mulai dari dompet, ponsel, power bank, earphone, pembalut, dan lipblam. Dia menatap pantulan dirinya lagi di cermin. Sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Yusuf karena kesibukan sang pacar sebelum penobatan duta sekolah. Rambutnya yang sengaja dibuat sedikit bergelombang membuatnya tampil lebih feminim dari biasanya.

Meninggalkan sebuah senyuman pada cermin sebelum pergi, dia menarik napas dalam-dalam. Tidak tahu ada firasat apa, tetapi gadis periang itu merasa hari-hari bahagia akan segera menjumpainya. Dia jadi tidak sabar menanti.

"Fina, kayaknya Mas nggak bisa nemenin kamu kontrol. Maaf, ya? Mas ada rapat besar soal akuisisi perusahaan. Jadi, gimana, dong? Mau di-cancel ke hari lain?" Ucapan Umar di meja makan terdengar sampai ke tangga. Sepertinya abangnya tidak bisa menemani sang istri kontrol kandungan. Pasti karena kesibukannya di kantor.

"Aku nggak pa-pa, kok, Mas. Nggak perlu di-cancel, aku bisa berangkat sendiri," jawab Fina, mengerti dengan kesibukan suaminya.

Umar menggenggam erat tangan Fina. "Jangan, Mas khawatir. Usia kandungan kamu udah lumayan besar. Jangan sendirian. Kamu minta temenin ...." Ucapan Umar menggantung, masih berpikir harus minta bantuan siapa untuk menemani istrinya.

Lantas ketika tidak sengaja melihat Mutia berjalan melewatinya, Umar pun memanggilnya. "Tia!"

Mutia menghentikan langkah. Dia menghampiri pria yang duduk di meja makan bersama kakak iparnya. "What?"

"Temenin teteh kamu kontrol, ya? Abang ada rapat, tapi nggak bisa kalau biarin istri Abang yang lagi hamil besar berangkat sendirian. Kamu lagi kosong, 'kan? Pengangguran pasti di rumah aja, 'kan?" ucap Umar tanpa dosa.

"Heh, walaupun aku pengangguran, aku juga ada kegiatan, Bang. Sorry-sorry banget, nih! Aku udah ada janji sama temen," jawab Mutia dengan tegas. Tidak tahu apa, kalau Mutia sudah dandan cantik begini?

"Mana kerudung kamu? Terus apa ini? Celana cuma sampai selutut kayak pakai boxer. Mending lepas aja kalau bajumu kayak orang telanjang." Penolakan Mutia untuk membantu abangnya, malah menjadi sesi ceramah ke sekian.

"Kenapa jadi ceramah, sih? Udah, ya, aku udah telat. Bye!" Mutia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia merasa gelisah karena Yusuf pasti sudah lama menunggu.

"Tia, selagi Abang sudah minta baik-baik—"

Fina menyikut lengan sang suami agar tidak bersikap keras pada adiknya. Lama-lama gadis itu pasti akan stres kalau selalu mendapatkan tekanan. Apalagi yang membutuhkan bantuan adalah Umar, harusnya dia bisa meminta tolong dengan lebih baik.

"Tiga novel, deh. Teteh beliin tiga di Gramedia. Gimana?" Fina tahu betul apa kesukaan adik iparnya. Kalau sudah disogok pakai novel, apa saja pasti akan dilakukan.

"Teteh pikir, aku kutu buku banget, apa? Cuma karena tiga novel ... Teteh serius?" Ucapan Mutia membuat Fina terkekeh. Di awal-awal dia bersikap seolah menolak, padahal aslinya mau.

Fina mengangguk. "Serius, tapi kamu ganti baju dulu. Pakai celana panjang."

"Pokoknya Teteh nggak boleh bohong, ya! Teteh janji dulu kalau tiga novel. Beneran tiga novel?" kata Mutia sambil berjalan mundur untuk kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.

"Iya, Cantik. Teteh janji, tiga novel." Fina menunjukkan ketiga jarinya agar Mutia percaya dan bergegas ganti baju. Setelah mendengar janji itu, gadis yang beranjak dewasa itu berlari naik ke kamarnya.

Umar menatap istrinya yang tersenyum senang, cerdas sekali memenangkan hati adiknya. "Pinter banget, sih, Istriku."

Fina melirik Umar yang baru saja memujinya. "Kalau aku nggak kayak gitu, Mutia pasti nggak bakal mau. Anak itu harus diturutin dulu apa maunya kalau mau dibimbing ke jalan yang bener. Jangan dimarahin terus, nanti malah makin memberontak."

Umar mengelus puncak kepala Fina yang tertutup kerudung, kemudian mengecupnya hangat. "Iya, Sayang."

Pipi Fina spontan memerah kala dipanggil seperti itu. Dia menyikut perut Umar agar tidak sembarangan menyebutnya. Siapa tahu ada Umi dan Abi yang lewat, pasti akan sangat malu. "Apa, sih!"

"Udah dua tahun nikah masih malu aja." Umar melingkarkan tangannya di pinggang Fina, hendak bermanja sebelum berangkat kerja.

"Mas, berangkat sana. Nanti telat." Bukannya risi, dia hanya geli kalau Umar bertingkah seperti anak kecil ketika mereka berduaan seperti ini. Dia juga malu kalau tidak bisa menyembunyikan rona pipinya dari pandangan Umar. Suaminya itu selalu suka menggoda.

"Seneng, ya, aku kayak gini? Pipimu merah gitu."

Tuh, kan. Baru saja dibicarakan dalam hati, Umar sudah menggodanya. Fina pun segera mengambil tas Umar di meja makan dan menyodorkannya. Dia mendorong punggung suaminya agar segera berjalan keluar rumah. "Udah, berangkat!"

Umar terkekeh melihat tingkah Fina yang selalu salah tingkah dengan sikap romantisnya. Usia pernikahan mereka memang masih sangat muda. Apalagi keduanya baru saling kenal setelah menikah, jadi cukup wajar kalau Fina masih sering malu dan Umar yang masih bucin akut dengan istrinya. Kata orang-orang, namanya pacaran setelah menikah.

"Aku harus bilang ke Yusuf dulu. Dia pasti udah nungguin," ucap Mutia sembari menekan tombol telepon pada kontak Yusuf. Tidak menunggu lama, pemuda yang membuat janji itu pun menerima telepon dari Mutia.

"Halo, kamu di mana, Mut? Aku udah nunggu dari tadi, katanya udah mau ke luar?"

Mutia menggaruk tengkuk lehernya, kemudian mendudukkan diri di pinggir kasur. "Emm, anu. Maaf banget, ya, Suf? Kayaknya, aku nggak bisa jalan hari ini. Kita ganti lain waktu nggak pa-pa? Aku harus nemenin Teh Fina kontrol. Abang nggak bisa soalnya ada urusan kerja."

"Harus banget hari ini, ya? Kan kita udah ada janji duluan. Tetehmu bisa kontrol sendiri, 'kan? Atau minta temenin umimu."

Terdengar dari nada bicaranya, Yusuf tampak kecewa dengan keputusan Mutia yang mendadak membatalkan janji. Harusnya tidak seperti ini. Yusuf sudah mempersiapkan semuanya. Apa Mutia tidak pernah memikirkan perasaan Yusuf lebih dulu?

"Maaf banget, ya. Perut Teteh udah lumayan besar, aku juga khawatir kalau dia berangkat sendirian. Jadi—” Mutia sedikit merasa bersalah.

"Aku ngerti." Hanya itu yang diucapkan Yusuf sebelum akhirnya memutuskan sambungan secara sepihak.

Mutia terdiam, dia merasa bersalah pada Yusuf. Laki-laki itu pasti sangat kecewa dengannya. Namun, bagaimana lagi? Dari awal, Mutia memang tidak punya perasaan apa-apa pada Yusuf. Dia menerima Yusuf menjadi pacarnya karena suatu alasan. Gadis itu tidak bisa putus dari Yusuf, tidak bisa juga membalas perasaan Yusuf seperti semestinya.

Tidak ingin berlarut-larut dalam pikirannya, Mutia pun kembali berdiri untuk mengganti celananya dengan celana yang lebih panjang. Bertepatan dengan itu, dia melihat Fina yang sudah berdiri di tengah pintu. "Teteh?"

Mutia terkejut dengan keberadaan kakak iparnya. “Apa dia mendengar percakapan tadi? Semoga tidak.”

"Teteh sejak kapan berdiri di situ?"

"Pacar kamu?" Itu yang malah dikatakan Fina.

Jantung Mutia semakin mencelos kala mendengarnya. Apa yang harus dia katakan? Kakak iparnya sudah memergoki, dia bingung harus menjawab apa. Kalau sampai Umar tahu, tamat riwayatnya.

"Anu, Teh. Dia ...."

"Aku dengar, Mut. Dia pacarmu, 'kan?" Fina berjalan masuk dan duduk di tepi kasur.

"Mati, udah," gumamnya sembari memejamkan mata sebentar. "Iya, Pacar Mutia."

"Dan kamu tahu, kan, apa yang akan terjadi kalau abangmu tau?" kata Fina tanpa perlu menjelaskan lagi. Mutia pasti mengerti apa yang akan terjadi.

"Tau, Teh. Teteh ... jangan bilang Abang, ya? Please ...," ucap Mutia memohon pada Fina.

"Kamu sayang sama dia?" tanya Fina dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca Mutia.

Dia tidak bisa menebak apakah Fina marah atau tidak padanya yang paling penting, Mutia juga tidak bisa menjawab pertanyaannya.

"Enggak?" Fina bertanya lagi.

Sementara Mutia hanya menunduk, memperhatikan celana pendeknya yang mau dia lipat untuk dikembalikan ke lemari.

"Kalau kamu bahkan nggak ada perasaan ke dia, buat apa kamu pacaran, Mut? Cuma nimbun dosa aja. Segera putusin dia," kata Fina secara final. Dia kembali menegakkan tubuhnya. "Teteh tunggu di bawah, taxi onlinenya udah dateng."

Setelah kepergian Fina, tubuh Mutia ambruk di atas lantai. Dia terduduk sambil mengelus dadanya. "Sumpah, kalau sampai Abi sama Abang tau, gue nggak ngerti lagi apa masih bisa hidup lebih lama."

***

"Udah?" Fina menghampiri Mutia yang dari tadi berkeliling untuk mencari satu novel untuk dibeli.

Gadis itu sudah mendekap dua novel, jadi sisa satu novel lagi seperti janji Fina pagi tadi.

"Belum, Teh. Aku masih bingung mau beli yang mana."

Fina juga sedikit tertarik dengan buku, seperti Mutia. Namun, bedanya, Fina lebih tertarik ke novel-novel religi, sedangkan Mutia tertarik ke romance-romance ala remaja. "Beli aja yang kamu suka."

"Banyak!"

Fina menggelengkan kepalanya, merasa heran. Di balik tingkah liar gadis ini, dia punya hobi membaca yang langka dimiliki anak-anak zaman sekarang. Setidaknya itu yang membuat Mutia berbeda. "Novel apa aja yang udah kamu gendong itu?"

"Oh, ini? Ini Novel If You Know Why sama If You Know Who karya Kak Itsmeindriya. Aku suka banget karya dia. Soalnya nggak cuma fokus ke konflik romantis, tapi juga soal psikis." Mutia mengatakan itu sambil menunjukkan sampul kedua bukunya di hadapan Fina. Lantas, Fina menerima dua buku itu, lalu membaliknya, membaca blurb yang ada di belakang buku.

"Bagus, nanti Teteh boleh pinjem? Kayaknya menarik."

Mutia mengangguk dengan semangat. "Nanti kita review bareng-bareng, ya!"

"Kamu mau Teteh rekomendasiin cerita bagus, nggak?" tanya Fina.

"Pasti tentang agama, 'kan? Itu, kan, novel-novel kesukaan Teh Fina. Aku nggak suka yang kayak gitu. Terlalu flat dan banyak batasan. Di dalam Islam nggak boleh pacar-pacaran. Nggak asyik, nggak bisa romantis," jawab Mutia langsung, tanpa perlu berpikir lagi.

Itu sudah pendapatnya sejak lama. Orang-orang yang terlalu alim tidak bisa hidup asyik karena semuanya berlandaskan agama. Mutia jadi enggan untuk sekadar menyinggungnya.

Fina terkekeh mendengarnya. "Di dalam Islam boleh pacaran, kok, dengan satu syarat."

Mutia membelalakkan kedua matanya. Fina mengatakan itu dengan suara yang cukup keras, memancing perhatian beberapa orang karena kalimatnya yang sedikit melenceng. "Sejak kapan di dalam Islam boleh pacaran? Terus, memangnya apa syaratnya?"

"Sudah menikah, wkwk." Orang-orang yang mendengarnya pun sontak ikut tertawa kala melihat muka cengo Mutia.

"Mana bisa gitu, ish!"

"Ya, bisalah. Mau ngapain aja udah halal. Nggak ada batasan norma atau agama. Mau mesra-mesraan dapet pahala." Fina menarik Mutia, mengajaknya ke salah satu rak buku yang ingin dia tunjukkan pada Mutia, sedangkan gadis itu hanya mengekor saja karena masih fokus dengan percakapan mereka.

"Emang iya? Kalau udah suami istri, mesra-mesraan dapet pahala?"

Fina menoleh. "Kamu baru tau?"

Mutia mengangguk. Dia sedikit tertarik untuk mendengar lebih jauh.

"Menikah itu, kan, ibadah. Semuanya dilakukan karena Allah. Mencintai karena Allah, menyayangi karena Allah. Tentu saja dapat pahala. Senyum ke pasangan, romantis ke pasangan, perhatian ke pasangan, dapet pahala. Kalau pacaran? Malah sebaliknya. Senyum ke pacar, romantis ke pacar, perhatian ke pacar, sama aja nimbun dosa," kata Fina seperti bercerita, bukan menceramahi seperti Umar.

Fina menjelaskan dengan sabar karena dia tahu betul bahwa wawasan Mutia mengenai Islam sangatlah minim. Selama ini gadis itu terlalu fokus dengan urusan dunia dan kebebasan masa muda. Dia tidak terlalu tertarik dengan hal-hal mengenai agama. Seperti dirinya dulu, saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Nih, novel yang menurutku cocok sama kamu. Kamu suka yang romantis-romantis, ‘kan? Coba sekali aja baca novel yang kayak gini. Aku jamin, kamu bakal ketagihan." Fina menyodorkan sebuah novel ke Mutia.

Mutia menerimanya lalu membaca judul yang tertera di sana: Pelengkap Imanku. Gadis itu mengangkat kedua alisnya.

***

Bab 3

"Asalamualaikum, Bun," ucap Husein kala memasuki ruangan Rara. Dia meletakkan tasnya di atas sofa dan mendekat ke brankar. Tak lupa memeriksa suhu Rara melalui kening atau pipinya.

"Wa'alaikumus-salam, sudah makan, Sein?" tanya Rara. Terkadang dia juga merasa cemas dengan kondisi kesehatan anaknya.

Sepulang kerja harus merawat dirinya, lalu pulang ke rumah dan mengajar ngaji di pondok pesantren ayahnya. Aktivitas itu selalu dia lakukan tanpa henti. Setiap Rara bertanya apakah Husein tidak lelah, pria itu selalu menjawab bahwa semuanya adalah proses dalam mengejar dunia dan akhirat.

"Nanti aja, Bun. Masih belum laper. Oh, iya, Husein mau ketemu dokter dulu, ya." Husein beranjak dari kursi, tetapi ditahan oleh Rara.

"Bunda ikut, ya? Mau cari angin, bosen di sini terus."

Husein tampak enggan karena khawatir terjadi sesuatu apabila bundanya berinteraksi dengan orang luar, tetapi Husein tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju. Dia pun mendekat untuk menggendong bundanya, memindahkan ke kursi roda yang tadinya terlipat di sebelah tiang infus. Setelah itu, dia mulai mendorong gagang kursi roda dari belakang.

"Udah lama Bunda nggak lihat orang-orang," ucapnya. Dari raut wajahnya, dia senang bisa bertemu orang-orang dan saling melemparkan senyuman.

"Bu Rara, gimana kabarnya?" sapa salah seorang pasien yang juga merupakan pasien lama di rumah sakit ini. Sehingga sudah kenal akrab dengan Rara dan Husein.

"Alhamdulillah, baik, Bu. Bu Yani sekeluarga bagaimana?" tanya Rara.

"Alhamdulillah, Bu. Sudah ada perkembangan. Insyaallah, minggu depan saya operasi. Minta doanya, ya, Bu Rara, Nak Husein, semoga bisa sembuh dan segera pulang ke rumah. Saya sudah bosan di sini, kangen suasana rumah."

"Amin," ucap Rara dan Husein serempak. Lantas Rara menggenggam tangan Yani. "Syafakillah, Bu Yani," ucapnya.

Setelah mengatakan itu, suster yang menjaga Bu Yani pun mengatakan bahwa pasiennya sudah ditunggu dokter untuk pemeriksaan bagian dalam. Jadi, harus segera menuju ruangannya. Hal itu terpaksa membuat Yani dan Rara berpamitan, sedangkan Husein lanjut mendorong kursi roda bundanya menuju bagian administrasi.

"Dengan walinya Ibu Raniah Muyassarah?" panggil seorang suster yang mendekat ke arah Husein.

Husein mengangguk, walau sedikit bingung karena dia baru saja ingin menuju administrasi untuk membereskan beberapa hal mengenai biaya sang bunda selama di rumah sakit.

"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya, Sus?" tanya Husein.

"Mari ikut saya sebentar, Pak."

Husein pun kembali mengangguk,  lalu menggeser kursi roda bundanya agar berada di sebelah bangku tunggu dan tidak lagi berada di tengah jalan. "Bunda tunggu di sini sebentar, ya. Husein ikut suster dulu."

"Iya, kamu tenang aja."

***

"Pelengkap Imanku," ucap Mutia kala membaca judul dari novel yang kini berada dalam genggamannya.

"Jangan lupa dibaca nanti," kata Fina yang juga duduk di sebelahnya. Dia memperhatikan raut Mutia yang termenung sejak dari mal.

Tidak menjawab, Mutia hanya mengangguk. Dia mengeluarkan bolpoin yang ada di tas, lalu menuliskan namanya di setiap halaman pertama buku.

"Kamu kenapa diem aja dari tadi?"

Mutia mendongak. Entah kenapa dia juga baru sadar kalau tidak berbicara sejak dari mal sampai rumah sakit. Padahal berbicara adalah salah satu hobinya. Kenapa dia diam saja? Apa mungkin karena masih kepikiran dengan perkataan Fina di Gramedia tadi?

"Gak pa-pa, Teh. Males ngomong aja." Mutia mengedarkan pandangan, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di lorong rumah sakit. Bau obat-obatan yang menyeruak membuat Mutia menggosok pangkal hidungnya.

"Teteh, masih lama, ya? Aku laper," rengek Mutia. Mereka memang sedang mengantre untuk dipanggil gilirannya.

"Bentar lagi. Sabar, ya."

"Kita makan dulu aja gimana? Tadi aku lihat orang jualan mi ayam di depan rumah sakit. Kayaknya enak." Mutia jadi membayangkan sedapnya kuah mie di dalam mulut sambil mengusap perutnya yang datar, berbeda dengan perut Fina yang besar.

"Nanti kalau kita ke depan terus ternyata udah dipanggil, malah antre lagi." Fina tidak sepemikiran dengan adik iparnya.

“Iya juga,” pikir Mutia sambil menghela napas pasrah.

"Kalo gitu, aku ke toilet dulu, ya." Mutia mendekap ketiga bukunya, lalu berjalan ke toilet.

Sampai di dalam, dia baru sadar membawa semua buku yang baru dia beli harusnya tadi dititipkan Fina saja agar tidak perlu repot membawa buku ke toilet. “Astaga, namanya juga nggak kepikiran. Ya, sudahlah.”

Keluar dari bilik toilet, dia mencuci kedua tangan sampaibersih. Sabun toilet di rumah sakit itu selalu bersih dan wangi. Dia suka sekali dengan aromanya. Itu sebabnya dia sengaja menggunakan lebih banyak cairan itu.

"Hehe, lumayan," gumamnya.

Setelah selesai, dia kembali menggendong bukunya keluar toilet. Dia mengedarkan pandang ke seluruh penjuru. Rasanya Mutia mendadak bingung berada di mana?

Kakinya pun berbelok ke lorong lain, tetapi hal itu malah semakin jauh dari posisi kakak iparnya.

“Astaga, di mana sih ruangan dokter kandungan tadi?” Gadis itu mulai cemas.

Sampai kakinya berhenti karena merasa lelah, dia pun memutuskan berjongkok sebentar. Menengok ruangan apa yang ada di dekatnya. Di sana, dia melihat tulisan, 'Ruang Mayat'. Sontak kedua matanya membulat dan segera beranjak dari ruangan itu. Membacanya saja sudah merinding.

"Bisa-bisanya gue kesasar di rumah sakit. Nggak lucu banget. Iya kalo masih bocah, ini udah segede gaban," gumamnya mulai panik karena semua tempat terlihat sama.

Mau belok ke kanan, ternyata itu tempat pembuangan akhir rumah sakit. Mau belok ke kiri, ternyata menuju lapangan rumah sakit. Lalu, dia harus belok ke mana?

Dia sendiri merasa tidak enak untuk bertanya pada orang-orang yang lewat karena semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Gadis itu berpikir malah akan mengganggu aktivitas orang-orang yang lalu-lalang.

"Dahlah, jalan aja dulu. Siapa tahu ketemu," ucap Mutia akhirnya.

Dia memilih berjalan sambil menunduk. Sebenarnya sudah tidak ada tenaga untuk lanjut berjalan karena perutnya yang kosong sejak dari rumah. Namun, dirinya tidak mungkin hanya diam di satu tempat yang sama tanpa berusaha kembali. Bisa-bisa Fina panik dan menghubungi Umar, lalu dia akan kena marah lagi. Membayangkannya saja sudah malas.

Di perjalanan mencari ruangan dokter kandungan, perhatiannya tak sengaja menangkap seorang laki-laki asing yang hendak melakukan perbuatan buruk pada seorang wanita paruh baya. Awalnya, Mutia tidak ingin berprasangka buruk lebih dulu. Dia hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan pria itu. Menarik dompet dan ponsel sang ibu diam-diam, sedangkan ibu tersebut sibuk menggerakkan kursi rodanya dengan kesusahan. Padahal di belakangnya ada selokan yang cukup dalam.

Ternyata benar, dia mau berbuat buruk. Mutia pun berjalan mendekat. "Lo ngapain?"

Merasa perbuatannya ketahuan, laki-laki itu segera kabur sambil memeluk dompet dan menggenggam ponsel milik ibu yang duduk di kursi roda itu.

"Jangan lari, lo!" Mutia sudah tidak peduli dirinya menjadi pusat perhatian karena berteriak dan mengatakan kata kasar.

Dia hanya fokus mengejar pencuri itu. Untung saja dia ingat sedang membawa novel yang ukurannya juga tebal. Tanpa menunggu lama, gadis itu segera melempar novel itu sambil berlari.

Satu novel terlempar, tetapi lemparannya meleset. Dia merasa sangat kesal.

"Sialan!"

Mutia pun berusaha melemparnya lagi. "Yes!" Akhirnya dapat.

Novel itu menghantam tengkuk leher bapak itu sampai dia terhuyung ke depan. Tubuhnya pun jatuh tengkurap. Dia mengusap dagunya yang terbentur lantai dengan keras.

"Ketangkep, kan, lo!"

Pria itu berusaha kabur lagi. Namun, Mutia berhasil mencegahnya dengan menendang keras perutnya. “Berani kabur lagi, gue tebas lo!”

"Maaf, Teh. Ada apa, ya? Mohon jangan membuat keributan," kata seorang dokter yang hendak menengahi Mutia dengan pencuri itu.

"Tolong jangan menimbulkan keributan di sini, Teh. Ini rumah sakit," kata satpam yang berniat menyeret Mutia keluar.

“Emang siapa yang bilang rumah makan?” pikir Mutia kesal.

"Saya juga nggak tau, Pak. Teteh ini tiba-tiba ngejar saya, terus maki-maki saya, ngelemparin buku ke kepala dan nendang perut saya. Padahal saya aja nggak kenal dia siapa."

“Lah, Kutu Kupret!” umpat Mutia dalam hati.

"Bapak jangan playing victim, ya. Jelas-jelas saya tau kalau Bapak mau mencuri dan melukai ibu tadi. Sebaiknya Bapak ngaku biar hukumannya di kantor polisi nggak terlalu berat!" ucap Mutia dengan berani. Padahal sebagian orang di sana terlihat lebih mempercayai ucapan pencuri itu.

"Teteh yakin kalau bapak ini mencuri? Teteh punya bukti?" kata dokter yang berdiri di sebelah satpam.

Mutia melipat kedua tangannya di depan dada. "Saya ini berakal dan punya mata untuk melihat, Dok. Saya juga nggak mungkin iseng nuduh bapak ini gitu aja. Saya udah punya KTP juga, jadi kesaksian di dalam pengadilan pun pasti bakal diterima, 'kan?"

Mutia menoleh ke belakang, melihat ibu yang tadi menjadi korban masih diam dan kebingungan di tempat. "Ibu juga tahu, ‘kan, kalau saya ini berniat nolong Ibu dari bapak ini?"

Ibu itu hanya diam. Sepertinya dia juga tidak menyadari kalau dompet dan ponselnya akan dicuri, atau lebih tepatnya tidak tahu. Karena kejadian itu dilakukan tanpa sepengetahuannya ketika dia sendiri sibuk untuk menggerakkan kursi roda.

“Kenapa ibu ini diem aja, sih? Dia nggak mau bantu bela gue atau emang nggak tau kalau barangnya dicuri?” pikir Mutia dengan alis yang bertautan.

"Sudah jelas, 'kan? Saya bukan pencu—"

"CCTV!" tukas Mutia, menatap dalam pencuri dan satpam di depannya. "Rumah sakit ini pasti punya banyak CCTV, ‘kan?"

"Saya sudah bilang, saya nggak bersalah!" kata lelaki itu bersikeras.

"Kalau Bapak nggak bersalah, harusnya nggak panik, dong, kalau CCTV-nya diperiksa!" tegas Mutia dengan amarah yang sudah berkumpul di puncak kepala.

Mutia menoleh pada satpam yang masih bergeming di tempat yang sama. "Boleh periksa CCTV-nya, Pak? Buat jadi bukti biar hal kayak gini nggak terulang lagi."

"Mari saya antar."

Ternyata benar seperti yang dikatakan Mutia, bapak itu berniat jahat pada ibu yang ada di kursi roda. Bahkan, hal itu bisa dijadikan bukti untuk kejahatan merencanakan pembunuhan karena posisi ibu itu hampir jatuh ke selokan yang dalamnya cukup untuk membuat kepala wanita itu terbentur.

"Baik, saya mengaku bersalah. Tolong jangan laporkan saya ke polisi, Pak! Teteh! Dok! Saya janji tidak akan mencuri lagi. Saya melakukan ini ada alasannya!" ucapnya sembari bersujud di kaki Mutia.

"Semua penjahat juga punya alasan, Pak, kenapa mereka jahat. Tapi, alasan itu nggak bisa dijadikan pembelaan buat berlindung dan nggak bertanggung jawab atas apa yang sudah Anda perbuat." Ucapan Mutia membuat dokter, satpam dan ibu yang menjadi korban terdiam kagum.

Anak muda yang masih berusia belasan itu sanggup menyelesaikan kejadian ini dengan berani dan dewasa. Mereka salut melihatnya.

"Saya mohon!"

Mutia melirik korban yang mendekat dengan kursi rodanya.

"Apa alasannya, Pak? Saya ada salah sama Bapak?" tanyanya dengan nada yang begitu tenang dan hangat.

Mutia sempat tertegun karena raut wajah sang ibu menunjukkan betapa baik dan sabarnya beliau.

"Bukan begitu, Bu. Saya ... saya nggak punya uang untuk membayar biaya persalinan istri saya. Saya takut anak saya menjadi jaminan dan tidak bisa pulang bersama kami. Saya kerja siang malam jadi tukang becak, masih belum bisa melunasi biayanya. Anak saya terpaksa harus lahir dengan cara operasi karena dokter baru menyadari kalau istri saya memiliki pinggul sempit di tengah-tengah pembukaan. Jadi, anak saya tidak bisa dilahirkan dengan cara normal."

Mutia terdiam, tiba-tiba merasa tidak enak dengan bapak itu. Walaupun memang perbuatannya tetap tidak bisa dibenarkan.

"Saya maafkan."

Kedua mata Mutia terbelalak. Dia memandang ibu itu begitu dalam, tidak percaya masih ada seorang manusia yang memiliki hati begitu lapang. Sementara bapak yang telah mencuri itu segera mengembalikan barang-barang sang ibu dan bersujud di kakinya. Dia menangis tersedu-sedu dan memohon maaf dengan tulus.

"Iya, Pak. Saya mengerti kenapa Bapak rela melakukan apa saja demi keluarga Bapak. Saya juga seorang ibu, saya selalu mau yang terbaik untuk anak saya. Kalau boleh, siapa nama istri Bapak dan dia berada di ruangan mana? Saya ada sedikit rezeki yang mudah-mudahan bisa membantu." Wanita itu terlalu baik. Saat dirinya telah menjadi korban kejahatan, tetapi masih sanggup memaafkan, bahkan berniat memberikan bantuan pada orang yang bisa saja mengancam nyawanya.

Mutia semakin tidak mengerti, ada malaikat berwujud manusia di sampingnya, membuatnya kehabisan kata-kata untuk bicara.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED