"Gratatatata!" seru seorang gadis yang tengah berjoget di depan layar ponsel.
Dia menyibak rambut ke samping, menunjukkan bentuk lehernya ke publik. Meski dengan pakaian tertutup, gadis itu masih punya rasa malu untuk tidak meniru orang-orang yang memamerkan tali bra-nya.
"Jelek nggak pa-pa, yang penting banyak duitnya!" katanya tanpa merisaukan suara azan yang sudah berkumandang sejak tadi.
Mungkin setelah ini umi atau kakaknya akan mengetuk pintu untuk mengingatkannya salat dan dia hanya membalas nanti. kata nanti itu bisa jadi berakhir lupa atau terlaksana ketika jam salatnya sudah hampir habis.
“Biasa, namanya juga anak muda,” kata Mutia.
"Tiaaa!" seru Umar dari luar, mengetuk pintu kamar Mutia.
"Nantiii." Padahal Umar belum menyelesaikan ucapannya, tetapi Mutia sudah bisa menebak bahwa Umar akan memintanya salat.
"Nanti apa? Abang belum selesai ngomong," ucapnya.
"Salat, 'kan? Bentar lagi, Bang!"
"Astaghfirullahaladzim, Mutia! Kamu belum salat? Ini udah hampir Isya! Kamu ngapain aja, sih?! Waktu Magrib itu cuma sebentar!" Suara Umar semakin meninggi ketika mengetahui adik bungsunya ternyata belum menunaikan kewajiban sebagai umat muslim.
Mutia tidak merasa gelisah sedikit pun. Dia malah sibuk menggulir hasil video-videonya dan kebingungan harus memposting yang mana. Mendengar tak ada jawaban dari dalam kamar, Umar menurunkan kenop pintu dan berniat masuk. Namun, ternyata pintu kamar dikunci, membuat hati Umar semakin diliputi emosi.
"Mutia, kamu dengerin Abang, nggak?!" sentaknya.
Mutia menggaruk rambut yang terasa sedikit gatal, kemudian memencet tombol berwarna pink untuk memposting videonya.
"Denger, kok. Bentar lagi, tunggu upload ini bentar."
"Mutia, habis ini udah Isya!"
"Tauuu. Ribet banget, sih, Bang?!" Mutia jadi ikutan kesal kalau disuruh-suruh.
"Kalo sampai belum bergerak juga, Abang dobrak pintu kamar kamu. Biar nggak punya pintu sekalian!"
Mutia menghela napas lelah. Dia bangkit dari kasur dan berjalan menuju meja belajar, meletakkan ponselnya di atas sana. Tidak lupa menancapkan charger agar ketika dia selesai salat nanti, ponselnya bisa digunakan sesuka hati. Setelah memastikan terhubung, Mutia pun membuka pintu kamarnya.
"Udah, 'kan? Ini mau salat. Nggak usah ribet!" katanya ketus.
"Bukan masalah ribet atau enggaknya, Tia. Salat itu kewajiban. Kalau kamu tinggal, dosanya besar. Kamu mau narik semua keluarga kamu ke neraka?" kata Umar, mengikuti langkah Mutia dari belakang.
"Masih muda ngapain mikir yang jauh-jauh, sih? Nikmatin aja, lah, masa mudanya. Gini, nih, Islam terlalu banyak peraturan. Capek!"
Emosi Umar kembali terpancing. "Apa kamu bil—"
Brak
Pintu toilet ditutup dengan tidak sopan. Mutia bersandar pada pintu, lalu menatap ke arah cermin yang terpasang di atas wastafel. Gadis belia itu lelah dengan sikap sang kakak yang selalu merusak suasana hatinya.
***
"Pokoknya, gue berharap diterima di universitas yang gue mau biar bisa merantau, keluar dari rumah! Mental gue bener-bener nggak aman kalo masih tinggal sama keluarga gue," ucap Mutia di sela-sela kegiatannya menghabiskan bakso.
"Lo yakin? Merantau nggak gampang, loh. Lo bakal dipaksa mandiri dan ngurus diri sendiri," ucap Erika.
Dia sendiri masih tak habis pikir, padahal lebih enak hidup dengan orang tua daripada sendirian. Mungkin karena didikan keluarga Mutia cukup keras, sehingga sahabatnya itu ingin sekali minggat dari rumah.
"Bodo amat, gue udah siap sama semua risiko dari merantau. Gua udah mempertimbangkan semuanya, gua yakin bisa!" Mutia meninju udara yang ada di depannya, mengepalkan rasa semangat membara.
"Nggak usah sok-sokan, nanti nangeees!" Willy datang dengan hobinya, memancing keributan. Pemuda itu menyeruput es teh milik Mutia tanpa ragu dan menghabiskannya.
"Eh, es gue, Asem! Minta, sih, nggak pa-pa, tapi, ya, jangan diabisin!" Mutia memukul lengan Willy beberapa kali sampai merasa puas.
"Lo kemarin pake hotspot gue buat main Tiktok lebih sadis mana?" Mendengar itu, Mutia cengengesan dan beralih mengelus lengan Willy yang tadi dipukuli.
"Lo nggak ada kumpul?" tanya Erika pada Willy yang duduk tepat di depannya.
Mutia, Erika, dan Willy memang sudah lama bersahabat. Mereka saling kenal sejak duduk di bangku SMP hingga saat ini berada di kelas 12 SMA. Namun, sayangnya, Mutia dan Erika berada di jurusan yang berbeda dengan Willy. Mereka anak IPS, sedangkan Willy anak IPA.
Berbeda dengan Erika yang hobi rebahan, Mutia dan Willy itu termasuk anak yang aktif berorganisasi sehingga keduanya sama-sama mengikuti organisasi tertinggi di sekolah. Bedanya, Mutia mengikuti organisasi MPK, sedangkan Willy mengikuti OSIS.
"Ada paling. Nggak tau gue. Anak-anak sukanya mendadak kalo ngasih kabar." Willy menyangga dagunya, melirik malas ke arah adik kelas yang sengaja caper di sekitarnya. "Habis ini keknya lo yang bakal sibuk, Mut," kata Willy.
Mutia menelan pentolnya sambil mengangguk. Pandangannya fokus pada layar ponsel yang menampilkan beberapa perempuan berjoget dengan trend baru. "Yes, empat acara besar dalam satu bulan. Mantap, 'kan?"
"Yang jadi ketua pelaksana di acara apa?" tanya Willy.
Erika hanya diam menyimak. Kalau sudah urusan organisasi, dia hanya bisa diam mendengarkan karena tidak mengerti apa-apa.
"Acara sidang pleno," jawabnya.
Willy pun manggut-manggut. "Acara serah terima jabatan, lo jadi apa?"
"Sekretaris." Mutia menghela napas panjang.
Selama ini, menjadi sekretaris adalah posisi terberat yang selalu ingin dia hindari. Pasalnya, terlalu banyak yang harus diurus walaupun tugas sekretaris adalah pra-acara. Tetap saja Mutia merasa malas untuk mengerjakan.
"Semangatlah, bentar lagi lengser!" kata Willy terkekeh melihat ekspresi Mutia yang tampak tertekan.
"Jangan ketawa lo. Liat fans lo pada jerit-jerit kesurupan." Ucapan Erika membuat mood Willy memburuk.
Dia memang merasa risih didekati oleh perempuan, apalagi yang sangat menunjukkan ketertarikan. Di mata Willy, mereka sangat genit.
"Simut!" Mutia, Erika, dan Willy menoleh.
Ketiganya memusatkan pandangan pada dua laki-laki yang berjalan ke arah mereka. Sosok yang dipanggil Simut itu tersenyum ke arah pacarnya. Memang, panggilan akrab Mutia adalah Simut karena kata orang-orang, tubuhnya begitu kecil dan imut sehingga dipanggil simut.
"Udah selesai?" tanya Mutia kepada Yusuf yang baru saja berdiri di sebelah mejanya. Pria itu adalah duta sekolah, tentu saja karena ketampanannya yang sangat menonjol.
"Udah. Pulang sekarang, yuk, takut keburu hujan." Yusuf memberikan jaketnya pada Mutia agar dikenakan.
Mutia menerimanya dan mendekap jaket itu. Diliriknya Wisnu—sahabat Yusuf sekaligus pacar Erika—yang sedang mencubit gemas pipi Erika. Gadis itu memang memiliki pipi yang gembul, jadinya orang-orang sering gemas ingin mencubit dan memainkannya seperti marshmellow.
"Rik, Nu, Wil, kita duluan, ya!" kata Mutia.
"Duluan, Bro," ucap Yusuf.
"Hati-hati, Cantik!" balas Erika.
"Yoi," jawab Wisnu dan Willy hampir barengan.
Di perjalanan menuju parkiran, Yusuf bertanya, "Simut, besok mau nonton, nggak? Aku ada tiket buat dua orang."
Mutia melirik Yusuf sekilas. "Nonton film?"
"Iya, film horor."
Mutia berpikir sejenak, mengingat-ingat apakah dirinya punya rencana besok.
"Boleh, tapi jemput di depan pos ronda, ya. Takut ketahuan Abang." Gadis itu membuat kesepakatan.
"Iya."
***
"Bunda, udah bangun? Minum dulu, Bun, biar tenggorokannya seger," ucap seorang pria berpakaian koko dan sarung yang melekat. Kopiah hitam juga masih bertengger di kepalanya, memancarkan aura segar untuk dipandang.
Wanita paruh baya berusia kepala empat itu berusaha membuka sempurna matanya. Dia melihat anak sulungnya, kebanggaannya, kesayangannya itu tengah membantunya bangkit dari tidur. Dengan memberikan sandaran bantal di belakang punggung, Rara menarik napas panjang. Dia menerima segelas air mineral dari sang anak.
"Husein," panggilnya.
Nadanya begitu lemah, membuat Husein tak kuasa menahan air mata yang hendak keluar. Baginya, bunda adalah perempuan paling kuat yang tidak pernah menangis atau mengeluh di depannya. Wanita kesayangannya yang begitu hebat, kini sedang menahan rasa sakit atas penyakit yang diderita.
"Iya, Bunda. Bunda butuh apa? Husein akan siapkan, apa pun." Husein dengan sigap menggenggam tangan Rara, seakan tidak pernah ingin melepasnya, kapan pun.
"Husein, anak Bunda yang paling ganteng," panggilnya lagi, kini diiringi belaian lembut di pipinya.
Husein terkekeh. "Anak Bunda yang cowok, kan, memang cuma satu."
"Sein, umur Bunda ...." Belum selesai menyelesaikan ucapannya, Husein sudah memotongnya.
"Nggak. Jangan ngomong gitu. Bunda bakal panjang umur, Husein akan selalu jaga Bunda. Jadi, jangan bahas soal itu, ya?"
Rara menggeleng dengan senyuman lembut. "Husein, kalau Bunda minta sesuatu, Husein mau nurutin?"
Sontak Husein mengangguk berulang kali. "Pasti! Pasti, Bunda! Apa pun, bakal Husein usahain."
"Pernikahan."
Raut wajah Husein spontan berubah. Dia menegang di tempat. Selama ini, sejak gagalnya pertunangannya waktu itu, bundanya tidak pernah membahas lagi soal pernikahan. Husein pikir, wanita berjasa dalam hidupnya itu tidak lagi berharap dan lebih memilih menunggu yang terbaik. Namun, ternyata selama ini, diam-diam bundanya masih berharap ada seorang wanita untuk segera membantu menyempurnakan agama.
"Sebelum nyawa Bunda nggak ada, untuk terakhir kalinya, Bunda ingin ditemani seorang menantu dari kamu. Bunda ingin melihat kamu bahagia sudah menemukan tulang rusukmu."
Sekadar berusaha menenangkan, Husein memajukan kursinya dan mengelus tangan Rara. "Iya, Bunda. Doakan yang terbaik, ya? Husein juga berharap ada—"
"Ada." Rara tahu bahwa Husein akan beralasan sedang menunggu seseorang untuk datang. Padahal selama ini yang dilakukan anaknya hanya fokus dengan pekerjaan. Seolah-olah dirinya sudah trauma dengan perempuan.
"Ada? Bunda sudah mengenal seorang perempuan?" Husein terkejut dengan jawaban Rara yang mengatakan ada perempuan untuknya.
“Tapi, siapa? Selama ini Bunda hanya berada di rumah sakit, sudah lebih dari sepuluh tahun.” Pikirannya riuh.
"Bunda kenal seorang perempuan. Anaknya cantik, baik, periang, lucu. Cocok sama kamu yang jail dan overprotektif."
Husein dua kali terkejut kala mendengar deskripsi tentang gadis itu. "Husein kenal?" tanyanya.
Bunda menggeleng. "Mungkin kenal, mungkin tidak. Dia tetangga kita dulu sebelum pindah, tapi Bunda juga tidak tau sekarang dia tinggal di mana. Apa kamu mau mencoba mencari tahu?"
"Bunda yakin?"
Rara mengangguk mantap. "Kalau kamu mau."
"Siapa namanya, Bun?" tanya Husein dengan hati yang diselimuti ketegangan.
"Kalau tidak salah ... namanya Mutia Azzahra Wiranata."
***
Entah mengapa, jantung Husein berdebar lebih cepat dari biasanya ketika mendengarkan sebuah nama yang disebutkan bundanya. Dia tidak tahu, apakah perempuan pilihan bundanya adalah yang terbaik. Namun, untuk saat ini Husein ingin mencari informasi tentangnya terlebih dahulu.
Setelah mendapat alamat pastinya, dia akan melakukan salat istikharah untuk meyakinkan diri dan memohon petunjuk kepada Allah apakah perempuan itu adalah jodoh terbaik untuknya.
"Bunda tahu, Bunda hanya akan menyakiti kamu kalau memaksakan hak kamu. Bunda cuma mau yang terbaik untuk kamu, kalau memang perempuan itu bukan yang terbaik, nggak pa-pa, Sein. Tapi, Bunda tetap berharap kamu mau mempertimbangkan." Rara mengelus tangan sang anak yang masih menggenggam hangat tangannya.
Wanita itu tahu betul seperti apa anaknya, itu pasti bukanlah keputusan yang mudah. Namun, secercah harapan muncul ketika Husein mengangguk dan memberikan senyuman hangat.
"Dia putri bungsu Pak Yuda Wiranata dan Bu Diva Winarsih. Kamu masih ingat?" tanya Rara.
Husein tampak mengingat-ingat. Namun, pria itu sudah lama lupa tentang siapa saja tetangganya di rumah yang lama.
"Kalau tidak salah, dia punya kakak laki-laki dan perempuan. Tapi, Bunda lupa namanya." Rara mencoba memeras lagi ingatan di masa lalu.
Husein menatap dalam iris mata bundanya. "Husein akan cari tahu."
***
[Myboyfie Aku udah di pos ronda. Kamu udah siap?]
[Me Udah, kok. Ini mau ke luar rumah.]
Mutia menegakkan tubuhnya, memasukkan semua keperluan ke dalam tas. Mulai dari dompet, ponsel, power bank, earphone, pembalut, dan lipblam. Dia menatap pantulan dirinya lagi di cermin. Sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Yusuf karena kesibukan sang pacar sebelum penobatan duta sekolah. Rambutnya yang sengaja dibuat sedikit bergelombang membuatnya tampil lebih feminim dari biasanya.
Meninggalkan sebuah senyuman pada cermin sebelum pergi, dia menarik napas dalam-dalam. Tidak tahu ada firasat apa, tetapi gadis periang itu merasa hari-hari bahagia akan segera menjumpainya. Dia jadi tidak sabar menanti.
"Fina, kayaknya Mas nggak bisa nemenin kamu kontrol. Maaf, ya? Mas ada rapat besar soal akuisisi perusahaan. Jadi, gimana, dong? Mau di-cancel ke hari lain?" Ucapan Umar di meja makan terdengar sampai ke tangga. Sepertinya abangnya tidak bisa menemani sang istri kontrol kandungan. Pasti karena kesibukannya di kantor.
"Aku nggak pa-pa, kok, Mas. Nggak perlu di-cancel, aku bisa berangkat sendiri," jawab Fina, mengerti dengan kesibukan suaminya.
Umar menggenggam erat tangan Fina. "Jangan, Mas khawatir. Usia kandungan kamu udah lumayan besar. Jangan sendirian. Kamu minta temenin ...." Ucapan Umar menggantung, masih berpikir harus minta bantuan siapa untuk menemani istrinya.
Lantas ketika tidak sengaja melihat Mutia berjalan melewatinya, Umar pun memanggilnya. "Tia!"
Mutia menghentikan langkah. Dia menghampiri pria yang duduk di meja makan bersama kakak iparnya. "What?"
"Temenin teteh kamu kontrol, ya? Abang ada rapat, tapi nggak bisa kalau biarin istri Abang yang lagi hamil besar berangkat sendirian. Kamu lagi kosong, 'kan? Pengangguran pasti di rumah aja, 'kan?" ucap Umar tanpa dosa.
"Heh, walaupun aku pengangguran, aku juga ada kegiatan, Bang. Sorry-sorry banget, nih! Aku udah ada janji sama temen," jawab Mutia dengan tegas. Tidak tahu apa, kalau Mutia sudah dandan cantik begini?
"Mana kerudung kamu? Terus apa ini? Celana cuma sampai selutut kayak pakai boxer. Mending lepas aja kalau bajumu kayak orang telanjang." Penolakan Mutia untuk membantu abangnya, malah menjadi sesi ceramah ke sekian.
"Kenapa jadi ceramah, sih? Udah, ya, aku udah telat. Bye!" Mutia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia merasa gelisah karena Yusuf pasti sudah lama menunggu.
"Tia, selagi Abang sudah minta baik-baik—"
Fina menyikut lengan sang suami agar tidak bersikap keras pada adiknya. Lama-lama gadis itu pasti akan stres kalau selalu mendapatkan tekanan. Apalagi yang membutuhkan bantuan adalah Umar, harusnya dia bisa meminta tolong dengan lebih baik.
"Tiga novel, deh. Teteh beliin tiga di Gramedia. Gimana?" Fina tahu betul apa kesukaan adik iparnya. Kalau sudah disogok pakai novel, apa saja pasti akan dilakukan.
"Teteh pikir, aku kutu buku banget, apa? Cuma karena tiga novel ... Teteh serius?" Ucapan Mutia membuat Fina terkekeh. Di awal-awal dia bersikap seolah menolak, padahal aslinya mau.
Fina mengangguk. "Serius, tapi kamu ganti baju dulu. Pakai celana panjang."
"Pokoknya Teteh nggak boleh bohong, ya! Teteh janji dulu kalau tiga novel. Beneran tiga novel?" kata Mutia sambil berjalan mundur untuk kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Iya, Cantik. Teteh janji, tiga novel." Fina menunjukkan ketiga jarinya agar Mutia percaya dan bergegas ganti baju. Setelah mendengar janji itu, gadis yang beranjak dewasa itu berlari naik ke kamarnya.
Umar menatap istrinya yang tersenyum senang, cerdas sekali memenangkan hati adiknya. "Pinter banget, sih, Istriku."
Fina melirik Umar yang baru saja memujinya. "Kalau aku nggak kayak gitu, Mutia pasti nggak bakal mau. Anak itu harus diturutin dulu apa maunya kalau mau dibimbing ke jalan yang bener. Jangan dimarahin terus, nanti malah makin memberontak."
Umar mengelus puncak kepala Fina yang tertutup kerudung, kemudian mengecupnya hangat. "Iya, Sayang."
Pipi Fina spontan memerah kala dipanggil seperti itu. Dia menyikut perut Umar agar tidak sembarangan menyebutnya. Siapa tahu ada Umi dan Abi yang lewat, pasti akan sangat malu. "Apa, sih!"
"Udah dua tahun nikah masih malu aja." Umar melingkarkan tangannya di pinggang Fina, hendak bermanja sebelum berangkat kerja.
"Mas, berangkat sana. Nanti telat." Bukannya risi, dia hanya geli kalau Umar bertingkah seperti anak kecil ketika mereka berduaan seperti ini. Dia juga malu kalau tidak bisa menyembunyikan rona pipinya dari pandangan Umar. Suaminya itu selalu suka menggoda.
"Seneng, ya, aku kayak gini? Pipimu merah gitu."
Tuh, kan. Baru saja dibicarakan dalam hati, Umar sudah menggodanya. Fina pun segera mengambil tas Umar di meja makan dan menyodorkannya. Dia mendorong punggung suaminya agar segera berjalan keluar rumah. "Udah, berangkat!"
Umar terkekeh melihat tingkah Fina yang selalu salah tingkah dengan sikap romantisnya. Usia pernikahan mereka memang masih sangat muda. Apalagi keduanya baru saling kenal setelah menikah, jadi cukup wajar kalau Fina masih sering malu dan Umar yang masih bucin akut dengan istrinya. Kata orang-orang, namanya pacaran setelah menikah.
"Aku harus bilang ke Yusuf dulu. Dia pasti udah nungguin," ucap Mutia sembari menekan tombol telepon pada kontak Yusuf. Tidak menunggu lama, pemuda yang membuat janji itu pun menerima telepon dari Mutia.
"Halo, kamu di mana, Mut? Aku udah nunggu dari tadi, katanya udah mau ke luar?"
Mutia menggaruk tengkuk lehernya, kemudian mendudukkan diri di pinggir kasur. "Emm, anu. Maaf banget, ya, Suf? Kayaknya, aku nggak bisa jalan hari ini. Kita ganti lain waktu nggak pa-pa? Aku harus nemenin Teh Fina kontrol. Abang nggak bisa soalnya ada urusan kerja."
"Harus banget hari ini, ya? Kan kita udah ada janji duluan. Tetehmu bisa kontrol sendiri, 'kan? Atau minta temenin umimu."
Terdengar dari nada bicaranya, Yusuf tampak kecewa dengan keputusan Mutia yang mendadak membatalkan janji. Harusnya tidak seperti ini. Yusuf sudah mempersiapkan semuanya. Apa Mutia tidak pernah memikirkan perasaan Yusuf lebih dulu?
"Maaf banget, ya. Perut Teteh udah lumayan besar, aku juga khawatir kalau dia berangkat sendirian. Jadi—” Mutia sedikit merasa bersalah.
"Aku ngerti." Hanya itu yang diucapkan Yusuf sebelum akhirnya memutuskan sambungan secara sepihak.
Mutia terdiam, dia merasa bersalah pada Yusuf. Laki-laki itu pasti sangat kecewa dengannya. Namun, bagaimana lagi? Dari awal, Mutia memang tidak punya perasaan apa-apa pada Yusuf. Dia menerima Yusuf menjadi pacarnya karena suatu alasan. Gadis itu tidak bisa putus dari Yusuf, tidak bisa juga membalas perasaan Yusuf seperti semestinya.
Tidak ingin berlarut-larut dalam pikirannya, Mutia pun kembali berdiri untuk mengganti celananya dengan celana yang lebih panjang. Bertepatan dengan itu, dia melihat Fina yang sudah berdiri di tengah pintu. "Teteh?"
Mutia terkejut dengan keberadaan kakak iparnya. “Apa dia mendengar percakapan tadi? Semoga tidak.”
"Teteh sejak kapan berdiri di situ?"
"Pacar kamu?" Itu yang malah dikatakan Fina.
Jantung Mutia semakin mencelos kala mendengarnya. Apa yang harus dia katakan? Kakak iparnya sudah memergoki, dia bingung harus menjawab apa. Kalau sampai Umar tahu, tamat riwayatnya.
"Anu, Teh. Dia ...."
"Aku dengar, Mut. Dia pacarmu, 'kan?" Fina berjalan masuk dan duduk di tepi kasur.
"Mati, udah," gumamnya sembari memejamkan mata sebentar. "Iya, Pacar Mutia."
"Dan kamu tahu, kan, apa yang akan terjadi kalau abangmu tau?" kata Fina tanpa perlu menjelaskan lagi. Mutia pasti mengerti apa yang akan terjadi.
"Tau, Teh. Teteh ... jangan bilang Abang, ya? Please ...," ucap Mutia memohon pada Fina.
"Kamu sayang sama dia?" tanya Fina dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca Mutia.
Dia tidak bisa menebak apakah Fina marah atau tidak padanya yang paling penting, Mutia juga tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Enggak?" Fina bertanya lagi.
Sementara Mutia hanya menunduk, memperhatikan celana pendeknya yang mau dia lipat untuk dikembalikan ke lemari.
"Kalau kamu bahkan nggak ada perasaan ke dia, buat apa kamu pacaran, Mut? Cuma nimbun dosa aja. Segera putusin dia," kata Fina secara final. Dia kembali menegakkan tubuhnya. "Teteh tunggu di bawah, taxi onlinenya udah dateng."
Setelah kepergian Fina, tubuh Mutia ambruk di atas lantai. Dia terduduk sambil mengelus dadanya. "Sumpah, kalau sampai Abi sama Abang tau, gue nggak ngerti lagi apa masih bisa hidup lebih lama."
***
"Udah?" Fina menghampiri Mutia yang dari tadi berkeliling untuk mencari satu novel untuk dibeli.
Gadis itu sudah mendekap dua novel, jadi sisa satu novel lagi seperti janji Fina pagi tadi.
"Belum, Teh. Aku masih bingung mau beli yang mana."
Fina juga sedikit tertarik dengan buku, seperti Mutia. Namun, bedanya, Fina lebih tertarik ke novel-novel religi, sedangkan Mutia tertarik ke romance-romance ala remaja. "Beli aja yang kamu suka."
"Banyak!"
Fina menggelengkan kepalanya, merasa heran. Di balik tingkah liar gadis ini, dia punya hobi membaca yang langka dimiliki anak-anak zaman sekarang. Setidaknya itu yang membuat Mutia berbeda. "Novel apa aja yang udah kamu gendong itu?"
"Oh, ini? Ini Novel If You Know Why sama If You Know Who karya Kak Itsmeindriya. Aku suka banget karya dia. Soalnya nggak cuma fokus ke konflik romantis, tapi juga soal psikis." Mutia mengatakan itu sambil menunjukkan sampul kedua bukunya di hadapan Fina. Lantas, Fina menerima dua buku itu, lalu membaliknya, membaca blurb yang ada di belakang buku.
"Bagus, nanti Teteh boleh pinjem? Kayaknya menarik."
Mutia mengangguk dengan semangat. "Nanti kita review bareng-bareng, ya!"
"Kamu mau Teteh rekomendasiin cerita bagus, nggak?" tanya Fina.
"Pasti tentang agama, 'kan? Itu, kan, novel-novel kesukaan Teh Fina. Aku nggak suka yang kayak gitu. Terlalu flat dan banyak batasan. Di dalam Islam nggak boleh pacar-pacaran. Nggak asyik, nggak bisa romantis," jawab Mutia langsung, tanpa perlu berpikir lagi.
Itu sudah pendapatnya sejak lama. Orang-orang yang terlalu alim tidak bisa hidup asyik karena semuanya berlandaskan agama. Mutia jadi enggan untuk sekadar menyinggungnya.
Fina terkekeh mendengarnya. "Di dalam Islam boleh pacaran, kok, dengan satu syarat."
Mutia membelalakkan kedua matanya. Fina mengatakan itu dengan suara yang cukup keras, memancing perhatian beberapa orang karena kalimatnya yang sedikit melenceng. "Sejak kapan di dalam Islam boleh pacaran? Terus, memangnya apa syaratnya?"
"Sudah menikah, wkwk." Orang-orang yang mendengarnya pun sontak ikut tertawa kala melihat muka cengo Mutia.
"Mana bisa gitu, ish!"
"Ya, bisalah. Mau ngapain aja udah halal. Nggak ada batasan norma atau agama. Mau mesra-mesraan dapet pahala." Fina menarik Mutia, mengajaknya ke salah satu rak buku yang ingin dia tunjukkan pada Mutia, sedangkan gadis itu hanya mengekor saja karena masih fokus dengan percakapan mereka.
"Emang iya? Kalau udah suami istri, mesra-mesraan dapet pahala?"
Fina menoleh. "Kamu baru tau?"
Mutia mengangguk. Dia sedikit tertarik untuk mendengar lebih jauh.
"Menikah itu, kan, ibadah. Semuanya dilakukan karena Allah. Mencintai karena Allah, menyayangi karena Allah. Tentu saja dapat pahala. Senyum ke pasangan, romantis ke pasangan, perhatian ke pasangan, dapet pahala. Kalau pacaran? Malah sebaliknya. Senyum ke pacar, romantis ke pacar, perhatian ke pacar, sama aja nimbun dosa," kata Fina seperti bercerita, bukan menceramahi seperti Umar.
Fina menjelaskan dengan sabar karena dia tahu betul bahwa wawasan Mutia mengenai Islam sangatlah minim. Selama ini gadis itu terlalu fokus dengan urusan dunia dan kebebasan masa muda. Dia tidak terlalu tertarik dengan hal-hal mengenai agama. Seperti dirinya dulu, saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Nih, novel yang menurutku cocok sama kamu. Kamu suka yang romantis-romantis, ‘kan? Coba sekali aja baca novel yang kayak gini. Aku jamin, kamu bakal ketagihan." Fina menyodorkan sebuah novel ke Mutia.
Mutia menerimanya lalu membaca judul yang tertera di sana: Pelengkap Imanku. Gadis itu mengangkat kedua alisnya.
***
"Asalamualaikum, Bun," ucap Husein kala memasuki ruangan Rara. Dia meletakkan tasnya di atas sofa dan mendekat ke brankar. Tak lupa memeriksa suhu Rara melalui kening atau pipinya.
"Wa'alaikumus-salam, sudah makan, Sein?" tanya Rara. Terkadang dia juga merasa cemas dengan kondisi kesehatan anaknya.
Sepulang kerja harus merawat dirinya, lalu pulang ke rumah dan mengajar ngaji di pondok pesantren ayahnya. Aktivitas itu selalu dia lakukan tanpa henti. Setiap Rara bertanya apakah Husein tidak lelah, pria itu selalu menjawab bahwa semuanya adalah proses dalam mengejar dunia dan akhirat.
"Nanti aja, Bun. Masih belum laper. Oh, iya, Husein mau ketemu dokter dulu, ya." Husein beranjak dari kursi, tetapi ditahan oleh Rara.
"Bunda ikut, ya? Mau cari angin, bosen di sini terus."
Husein tampak enggan karena khawatir terjadi sesuatu apabila bundanya berinteraksi dengan orang luar, tetapi Husein tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju. Dia pun mendekat untuk menggendong bundanya, memindahkan ke kursi roda yang tadinya terlipat di sebelah tiang infus. Setelah itu, dia mulai mendorong gagang kursi roda dari belakang.
"Udah lama Bunda nggak lihat orang-orang," ucapnya. Dari raut wajahnya, dia senang bisa bertemu orang-orang dan saling melemparkan senyuman.
"Bu Rara, gimana kabarnya?" sapa salah seorang pasien yang juga merupakan pasien lama di rumah sakit ini. Sehingga sudah kenal akrab dengan Rara dan Husein.
"Alhamdulillah, baik, Bu. Bu Yani sekeluarga bagaimana?" tanya Rara.
"Alhamdulillah, Bu. Sudah ada perkembangan. Insyaallah, minggu depan saya operasi. Minta doanya, ya, Bu Rara, Nak Husein, semoga bisa sembuh dan segera pulang ke rumah. Saya sudah bosan di sini, kangen suasana rumah."
"Amin," ucap Rara dan Husein serempak. Lantas Rara menggenggam tangan Yani. "Syafakillah, Bu Yani," ucapnya.
Setelah mengatakan itu, suster yang menjaga Bu Yani pun mengatakan bahwa pasiennya sudah ditunggu dokter untuk pemeriksaan bagian dalam. Jadi, harus segera menuju ruangannya. Hal itu terpaksa membuat Yani dan Rara berpamitan, sedangkan Husein lanjut mendorong kursi roda bundanya menuju bagian administrasi.
"Dengan walinya Ibu Raniah Muyassarah?" panggil seorang suster yang mendekat ke arah Husein.
Husein mengangguk, walau sedikit bingung karena dia baru saja ingin menuju administrasi untuk membereskan beberapa hal mengenai biaya sang bunda selama di rumah sakit.
"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya, Sus?" tanya Husein.
"Mari ikut saya sebentar, Pak."
Husein pun kembali mengangguk, lalu menggeser kursi roda bundanya agar berada di sebelah bangku tunggu dan tidak lagi berada di tengah jalan. "Bunda tunggu di sini sebentar, ya. Husein ikut suster dulu."
"Iya, kamu tenang aja."
***
"Pelengkap Imanku," ucap Mutia kala membaca judul dari novel yang kini berada dalam genggamannya.
"Jangan lupa dibaca nanti," kata Fina yang juga duduk di sebelahnya. Dia memperhatikan raut Mutia yang termenung sejak dari mal.
Tidak menjawab, Mutia hanya mengangguk. Dia mengeluarkan bolpoin yang ada di tas, lalu menuliskan namanya di setiap halaman pertama buku.
"Kamu kenapa diem aja dari tadi?"
Mutia mendongak. Entah kenapa dia juga baru sadar kalau tidak berbicara sejak dari mal sampai rumah sakit. Padahal berbicara adalah salah satu hobinya. Kenapa dia diam saja? Apa mungkin karena masih kepikiran dengan perkataan Fina di Gramedia tadi?
"Gak pa-pa, Teh. Males ngomong aja." Mutia mengedarkan pandangan, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di lorong rumah sakit. Bau obat-obatan yang menyeruak membuat Mutia menggosok pangkal hidungnya.
"Teteh, masih lama, ya? Aku laper," rengek Mutia. Mereka memang sedang mengantre untuk dipanggil gilirannya.
"Bentar lagi. Sabar, ya."
"Kita makan dulu aja gimana? Tadi aku lihat orang jualan mi ayam di depan rumah sakit. Kayaknya enak." Mutia jadi membayangkan sedapnya kuah mie di dalam mulut sambil mengusap perutnya yang datar, berbeda dengan perut Fina yang besar.
"Nanti kalau kita ke depan terus ternyata udah dipanggil, malah antre lagi." Fina tidak sepemikiran dengan adik iparnya.
“Iya juga,” pikir Mutia sambil menghela napas pasrah.
"Kalo gitu, aku ke toilet dulu, ya." Mutia mendekap ketiga bukunya, lalu berjalan ke toilet.
Sampai di dalam, dia baru sadar membawa semua buku yang baru dia beli harusnya tadi dititipkan Fina saja agar tidak perlu repot membawa buku ke toilet. “Astaga, namanya juga nggak kepikiran. Ya, sudahlah.”
Keluar dari bilik toilet, dia mencuci kedua tangan sampaibersih. Sabun toilet di rumah sakit itu selalu bersih dan wangi. Dia suka sekali dengan aromanya. Itu sebabnya dia sengaja menggunakan lebih banyak cairan itu.
"Hehe, lumayan," gumamnya.
Setelah selesai, dia kembali menggendong bukunya keluar toilet. Dia mengedarkan pandang ke seluruh penjuru. Rasanya Mutia mendadak bingung berada di mana?
Kakinya pun berbelok ke lorong lain, tetapi hal itu malah semakin jauh dari posisi kakak iparnya.
“Astaga, di mana sih ruangan dokter kandungan tadi?” Gadis itu mulai cemas.
Sampai kakinya berhenti karena merasa lelah, dia pun memutuskan berjongkok sebentar. Menengok ruangan apa yang ada di dekatnya. Di sana, dia melihat tulisan, 'Ruang Mayat'. Sontak kedua matanya membulat dan segera beranjak dari ruangan itu. Membacanya saja sudah merinding.
"Bisa-bisanya gue kesasar di rumah sakit. Nggak lucu banget. Iya kalo masih bocah, ini udah segede gaban," gumamnya mulai panik karena semua tempat terlihat sama.
Mau belok ke kanan, ternyata itu tempat pembuangan akhir rumah sakit. Mau belok ke kiri, ternyata menuju lapangan rumah sakit. Lalu, dia harus belok ke mana?
Dia sendiri merasa tidak enak untuk bertanya pada orang-orang yang lewat karena semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Gadis itu berpikir malah akan mengganggu aktivitas orang-orang yang lalu-lalang.
"Dahlah, jalan aja dulu. Siapa tahu ketemu," ucap Mutia akhirnya.
Dia memilih berjalan sambil menunduk. Sebenarnya sudah tidak ada tenaga untuk lanjut berjalan karena perutnya yang kosong sejak dari rumah. Namun, dirinya tidak mungkin hanya diam di satu tempat yang sama tanpa berusaha kembali. Bisa-bisa Fina panik dan menghubungi Umar, lalu dia akan kena marah lagi. Membayangkannya saja sudah malas.
Di perjalanan mencari ruangan dokter kandungan, perhatiannya tak sengaja menangkap seorang laki-laki asing yang hendak melakukan perbuatan buruk pada seorang wanita paruh baya. Awalnya, Mutia tidak ingin berprasangka buruk lebih dulu. Dia hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan pria itu. Menarik dompet dan ponsel sang ibu diam-diam, sedangkan ibu tersebut sibuk menggerakkan kursi rodanya dengan kesusahan. Padahal di belakangnya ada selokan yang cukup dalam.
Ternyata benar, dia mau berbuat buruk. Mutia pun berjalan mendekat. "Lo ngapain?"
Merasa perbuatannya ketahuan, laki-laki itu segera kabur sambil memeluk dompet dan menggenggam ponsel milik ibu yang duduk di kursi roda itu.
"Jangan lari, lo!" Mutia sudah tidak peduli dirinya menjadi pusat perhatian karena berteriak dan mengatakan kata kasar.
Dia hanya fokus mengejar pencuri itu. Untung saja dia ingat sedang membawa novel yang ukurannya juga tebal. Tanpa menunggu lama, gadis itu segera melempar novel itu sambil berlari.
Satu novel terlempar, tetapi lemparannya meleset. Dia merasa sangat kesal.
"Sialan!"
Mutia pun berusaha melemparnya lagi. "Yes!" Akhirnya dapat.
Novel itu menghantam tengkuk leher bapak itu sampai dia terhuyung ke depan. Tubuhnya pun jatuh tengkurap. Dia mengusap dagunya yang terbentur lantai dengan keras.
"Ketangkep, kan, lo!"
Pria itu berusaha kabur lagi. Namun, Mutia berhasil mencegahnya dengan menendang keras perutnya. “Berani kabur lagi, gue tebas lo!”
"Maaf, Teh. Ada apa, ya? Mohon jangan membuat keributan," kata seorang dokter yang hendak menengahi Mutia dengan pencuri itu.
"Tolong jangan menimbulkan keributan di sini, Teh. Ini rumah sakit," kata satpam yang berniat menyeret Mutia keluar.
“Emang siapa yang bilang rumah makan?” pikir Mutia kesal.
"Saya juga nggak tau, Pak. Teteh ini tiba-tiba ngejar saya, terus maki-maki saya, ngelemparin buku ke kepala dan nendang perut saya. Padahal saya aja nggak kenal dia siapa."
“Lah, Kutu Kupret!” umpat Mutia dalam hati.
"Bapak jangan playing victim, ya. Jelas-jelas saya tau kalau Bapak mau mencuri dan melukai ibu tadi. Sebaiknya Bapak ngaku biar hukumannya di kantor polisi nggak terlalu berat!" ucap Mutia dengan berani. Padahal sebagian orang di sana terlihat lebih mempercayai ucapan pencuri itu.
"Teteh yakin kalau bapak ini mencuri? Teteh punya bukti?" kata dokter yang berdiri di sebelah satpam.
Mutia melipat kedua tangannya di depan dada. "Saya ini berakal dan punya mata untuk melihat, Dok. Saya juga nggak mungkin iseng nuduh bapak ini gitu aja. Saya udah punya KTP juga, jadi kesaksian di dalam pengadilan pun pasti bakal diterima, 'kan?"
Mutia menoleh ke belakang, melihat ibu yang tadi menjadi korban masih diam dan kebingungan di tempat. "Ibu juga tahu, ‘kan, kalau saya ini berniat nolong Ibu dari bapak ini?"
Ibu itu hanya diam. Sepertinya dia juga tidak menyadari kalau dompet dan ponselnya akan dicuri, atau lebih tepatnya tidak tahu. Karena kejadian itu dilakukan tanpa sepengetahuannya ketika dia sendiri sibuk untuk menggerakkan kursi roda.
“Kenapa ibu ini diem aja, sih? Dia nggak mau bantu bela gue atau emang nggak tau kalau barangnya dicuri?” pikir Mutia dengan alis yang bertautan.
"Sudah jelas, 'kan? Saya bukan pencu—"
"CCTV!" tukas Mutia, menatap dalam pencuri dan satpam di depannya. "Rumah sakit ini pasti punya banyak CCTV, ‘kan?"
"Saya sudah bilang, saya nggak bersalah!" kata lelaki itu bersikeras.
"Kalau Bapak nggak bersalah, harusnya nggak panik, dong, kalau CCTV-nya diperiksa!" tegas Mutia dengan amarah yang sudah berkumpul di puncak kepala.
Mutia menoleh pada satpam yang masih bergeming di tempat yang sama. "Boleh periksa CCTV-nya, Pak? Buat jadi bukti biar hal kayak gini nggak terulang lagi."
"Mari saya antar."
Ternyata benar seperti yang dikatakan Mutia, bapak itu berniat jahat pada ibu yang ada di kursi roda. Bahkan, hal itu bisa dijadikan bukti untuk kejahatan merencanakan pembunuhan karena posisi ibu itu hampir jatuh ke selokan yang dalamnya cukup untuk membuat kepala wanita itu terbentur.
"Baik, saya mengaku bersalah. Tolong jangan laporkan saya ke polisi, Pak! Teteh! Dok! Saya janji tidak akan mencuri lagi. Saya melakukan ini ada alasannya!" ucapnya sembari bersujud di kaki Mutia.
"Semua penjahat juga punya alasan, Pak, kenapa mereka jahat. Tapi, alasan itu nggak bisa dijadikan pembelaan buat berlindung dan nggak bertanggung jawab atas apa yang sudah Anda perbuat." Ucapan Mutia membuat dokter, satpam dan ibu yang menjadi korban terdiam kagum.
Anak muda yang masih berusia belasan itu sanggup menyelesaikan kejadian ini dengan berani dan dewasa. Mereka salut melihatnya.
"Saya mohon!"
Mutia melirik korban yang mendekat dengan kursi rodanya.
"Apa alasannya, Pak? Saya ada salah sama Bapak?" tanyanya dengan nada yang begitu tenang dan hangat.
Mutia sempat tertegun karena raut wajah sang ibu menunjukkan betapa baik dan sabarnya beliau.
"Bukan begitu, Bu. Saya ... saya nggak punya uang untuk membayar biaya persalinan istri saya. Saya takut anak saya menjadi jaminan dan tidak bisa pulang bersama kami. Saya kerja siang malam jadi tukang becak, masih belum bisa melunasi biayanya. Anak saya terpaksa harus lahir dengan cara operasi karena dokter baru menyadari kalau istri saya memiliki pinggul sempit di tengah-tengah pembukaan. Jadi, anak saya tidak bisa dilahirkan dengan cara normal."
Mutia terdiam, tiba-tiba merasa tidak enak dengan bapak itu. Walaupun memang perbuatannya tetap tidak bisa dibenarkan.
"Saya maafkan."
Kedua mata Mutia terbelalak. Dia memandang ibu itu begitu dalam, tidak percaya masih ada seorang manusia yang memiliki hati begitu lapang. Sementara bapak yang telah mencuri itu segera mengembalikan barang-barang sang ibu dan bersujud di kakinya. Dia menangis tersedu-sedu dan memohon maaf dengan tulus.
"Iya, Pak. Saya mengerti kenapa Bapak rela melakukan apa saja demi keluarga Bapak. Saya juga seorang ibu, saya selalu mau yang terbaik untuk anak saya. Kalau boleh, siapa nama istri Bapak dan dia berada di ruangan mana? Saya ada sedikit rezeki yang mudah-mudahan bisa membantu." Wanita itu terlalu baik. Saat dirinya telah menjadi korban kejahatan, tetapi masih sanggup memaafkan, bahkan berniat memberikan bantuan pada orang yang bisa saja mengancam nyawanya.
Mutia semakin tidak mengerti, ada malaikat berwujud manusia di sampingnya, membuatnya kehabisan kata-kata untuk bicara.
***