Bab 1

Markas Morte

Tampak mobil Rubicon hitam datang diikuti dua Jeep di belakangnya.

Semua pengawal membungkuk kala seorang pria berjas hitam gagah perkasa nan tampan rupawan turun dari mobilnya.

Ya dialah Deo Morte Picasso.

Ketua Klan Wolf yang paling terkenal di Italia.

Deo menapaki karpet merah itu untuk masuk ke dalam markasnya diikuti oleh ketiga sahabatnya.

"Ahh capek banget, ayo ke club," ajak Melvin kala sampai di dalam markas dan menghempaskan tubuhnya di sofa.

"Otak isinya club mulu, sekali- kali mikir lainnya kek," olok Savero sembari melempar bantal sofa itu pada Melvin.

"Yaelah kayak yang dirinya paling suci, tiap hari juga gonta- ganti cewek," olok balik Melvin yang mana hal itu ditertawakan oleh Karel.

"Malam ini kita ke club, Thomas dan anak buahnya akan melakukan pertemuan untuk penjualan marijuana dari China," ujar Deo yang membuat ketiganya langsung berbinar.

"Sungguh? Ke club?" tanya Melvin memastikan jika ia tidak salah dengar.

Deo hanya mengangguk dan menyalakan pematik rokoknya.

"Eh bentar, pertemuan di club? Untuk penjualan marijuana? Wah gila, Thomas memiliki nyali yang sangat besar, bagaimana jika seseorang melaporkannya ke polisi, ia sangat berani sekali," puji Melvin yang heran dengan otak Thomas.

"Karena itu, sebelum ada orang lain yang melaporkan dia ke polisi, mari habisi Thomas lebih dulu," ujarnya sembari menghembuskan asap rokoknya.

"Wah demen banget nih sama yang kayak ginian, gimana kalian mau bertaruh denganku?" tanya Karel yang selalu menawarkan taruhan disetiap situasi dan kondisi apapun.

"Untuk?" tanya Melvin dan Savero secara bersamaan.

"Perempuan yang mungkin akan tewas di tangan Deo karena menggoda atau mengajaknya naik ke atas ranjang," ujar Karel yang begitu yakin jika akan ada penembakan nanti malam di club.

Deo hanya diam sembari menikmati rokoknya.

"Aku bertaruh enggak bakal ada perempuan yang mendekat, lagian siapa sih yang enggak tahu peraturan di club PICASSO, semua perempuan juga tahu kali," ujar Savero dengan begitu yakinnya.

"Iya juga sih, aku juga bertaruh kalau enggak akan ada perempuan yang mendekati si kulkas berjalan ini," ucap Melvin sembari menepuk pundak Deo.

Karel tersenyum kala mereka semua bertaruh.

"Ok, berarti kalian bertaruh jika tidak akan ada perempuan yang mendekatinya?" keduanya mengangguk.

Deo menatap Karel yang tampak girang sekali.

"Kalau aku pasti ada, entah itu perempuan baru atau yang bosan hidup, pasti bakal deketi pak kulkas ini," ucapnya dengan sangat yakin sekali.

"Kalau kita berdua yang menang apa imbalannya?" tanya Savero ingin tahu hadiah apa untuk taruhan kali ini.

"Mobil rubiconku yang baru beli kemarin buat kalian berdua," jawabnya dengan sangat gamblang sekali.

"Ok setuju," sorak keduanya yang kegirangan membuat Deo yang tengah dipertaruhkan hanya diam saja dan melihat keasyikan mereka.

"Udah sore, ayo bersiap," ajak Deo yang sudah beranjak dari sofa untuk pulang membersihkan diri lebih dulu.

"Kita pasti bakal menang," ucap Savero menyakinkan dirinya sendiri.

"Tentu," sahut Melvin.

Karel hanya tersenyum dan sedikit meremehkan keduanya.

***

Di sinilah mereka berempat sekarang, di club PICASSO.

Semua perempuan kini menatap empat pangeran yang tengah berjalan membelah kerumunan itu dengan tatapan liar, kagum dan rasa ingin memiliki.

"Kenapa aku merasa seperti di telanjangi oleh tatapan mereka," gumam Karel sembari menyilangkan tangannya di depan dada.

"Entah kenapa tanganmu di depan dada seperti gayanya seorang banci, apa kau tidak malu dengan profesimu?" tanya Savero yang heran dengan sikap Karel saat ini.

"Sekalipun aku banci, bakal ada ribuan perempuan yang akan mengantri untuk bisa menjadi istriku," ujarnya dengan sangat percaya dirinya membuat Melvin berdecih.

Kini mereka berempat duduk di sudut ruangan di mana itu tempat duduk khusus milik Deo dan ketiga temannya, jadi tak akan ada yang berani mendudukinya.

"Kemungkinan ia akan datang pukul 8 , jadi tunggulah sebentar," ucap Deo memberitahu sembari melihat jam tangannya.

"Berarti kita boleh dong pilih- pilih cewek di sana?" tanya Melvin dengan mata yang berbinar kala beberapa perempuan mengerlingkan sebelah matanya kepadanya.

"Silahkan saja," ujar Deo mempersilahkan Melvin.

"Serius?" tanyanya sembari menatap Deo.

Melvin langsung merubah ekspresinya dan menghempaskan punggungnya di sofa kala Deo memainkan revolvernya.

"Mainnya selalu pistol, dia kira nyawa ini boneka apa, yang sekali tembak cuma tumbang dan berlubang," gerutunya yang kesal kala mereka sedang dalam misi.

Di mana Deo pasti akan melarang mreka untuk melakukan hal lain selain fokus dengan misinya.

"Kurang 5 menit lagi,"gumam Deo yang mana ia sesekali melihat jam tangannya sembari memainkan revolvernya.

"Emang nanti kalau Thomas datang langsung kita serbu gitu? Atau dikepung dulu? Kan anak- anak yang lain lagi berjaga di luar, ia pasti tahu jika kau di sini," ucap Savero yang tidak paham dengan apa yang akan Deo lakukan.

"Ngapain diserbu jika bisa langsung ditembak," jawaban yang sangat tepat di mana seorang Deo paling malas untuk bertele- tele atau rumit.

Ketiganya langsung tepuk tangan dengan jawaban Deo barusan.

Hingga sekarang sudah pukul 8 tepat i mana Deo begitu menunggu momen indah ini.

"Kita lihat saja setelah ini, aku sangat rindu melihat darah," gumamnya pelan sembari mengongkang senjatanya dan mengarahkannya pada ambang pintu tempat orang masuk ke dalam.

"Thomas datang tuan," intruksi pengawalnya yang brjaga di luar club melalui earphonenya.

"Satu,"Deo mulai menghitung dengan senyum seringaian yang terlihat seksi saat ini.

"Dua," ketiga sahabatnya itu juga sangat tidak sabar menunggu momen indah ini dan fokus mereka tak teralihkan dari ambang pintu.

"Tiga," ucap Deo dengan sedikit penuh penekanan dan bersiap untuk menarik pelatuknya.

Bersamaan dengan itu Thomas masuk ke dalam club namun tidak seorang diri melainkan bersama dengan seorang perempuan.

"Valeta."

Bab 2

"Valeta," gumam Deo kaget di mana pandangan ketiga sahabatnya kini tertuju pada Deo.

"Bukankah itu Valeta? Apa yang ia lakukan bersama dengan Thomas?" tanya Karel pada Deo.

Deo hanya diam dengan tatapan mata yang tertuju pada tangan Thomas yang bertengger di pinggang ramping Valeta.

"Yaelah, baru juga mau ngelakuin misi, masih harus CLBK segala," sindir  Savero yang mana hal itu membuat Deo menatap sinis Savero.

"Mantan pakai lewat segala, kan jadi gagal misinya," ledek Melvin sembari menuang koktailnya ke dalam gelas.

BRAK

Melvin yang hendak meraih gelas slokinya kini terperanjat kaget kala Deo menghentakkan sepatu bootsnya.

"Siapa bilang gagal, enggak ada yang namanya perempuan dalam sebuah misi," ujarnya lalu melenggang pergi untuk menghampiri Thomas.

Mereka bertiga yang melihat hal itu sontak langsung bertepuk tangan secara bersamaan.

"Kira- kira hatinya terbuat dari apa?" gumam Karel bertanya.

"Kira- kira perempuan mana yang akan meluluhkan hatinya kelak?" kini giliran Melvin yang bertanya.

"Enggak usah kira- kira, entar kalau udah ketemu yang cocok tuh anak juga bakal bulol pada waktunya, kayak enggak pernah lihat film aja," sarkas Savero sembari melenggang pergi menyusul Deo.

"Kenapa ia selalu mematahkan imajinasi kita?" tanya Melvin yang heran dengan sikap Savero.

"Lagian kan kita beda, kita fiksi mereka nyata," kini giliran Karel yang berpendapat membuat Melvin menghela napas gusar.

"Entah kenapa aku selalu merasa hipertensi setiap kali hanya mengobrol dengan kalian," gumam Melvin frustasi.

Sedangkan di ruang VVIP kini Thomas sedang melakukan transaksi dengan Valeta di sampingnya.

Tangan kekar itu bahkan tidak lepas dari pinggang ramping Valeta.

Tok tok

Semua menoleh tampak Deo bersandar di pintu sembari melayangkan senyum manisnya.

"Deo," gumam Valeta terkejut kala melihat Deo untuk kali pertamanya setelah putus dulu.

"Hei, kita jumpa lagi," sapanya pada Thomas tanpa menatap Valeta sedikitpun.

Deo masuk disusul ketiga temannya yang kini tengah berjaga di ambang pintu.

Deo yang melihat pria China yang duduk berhadapan dengan Thomas tersebut enggan pergi sontak Melvin langsung maju.

Melvin dengan begitu lancarnya berbicara bahasa China dengan orang itu membuat Deo tersenyum tipis.

Savero dan Karel yang berada di belakang, kini merasa takjub dan kagum dengan keahlian khusus Melvin dalam berbicara berbagai bahasa.

"Siapa yang percaya jika dibalik otak mesumnya ia sangat cerdas," gumam Savero yang diangguki oleh Karel.

"Besok- besok kalau gue nikah terus honeymoonnya di Switzerland, masak iya gue harus ngajak Melvin," Savero menoleh menatap jengah Karel.

Pria China itu pergi begitu saja membuat Thomas langsung marah dan berteriak untuk bisa menghentikan pria tersebut.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengusirnya?" teriaknya begitu keras membuat Deo hanya tersenyum dan duduk manis di depan Thomas.

"Ayolah jangan marah, aku hanya ingin menyapamu," ucapnya dengan santai sembari meraih botol sampanye tersebut dan langsung menenggaknya hingga tandas.

Brak

Thomas menggebrak meja di depan Deo hingga sampanye yang ia tuang tadi tumpah.

"Apa kau mencari masalah denganku? Kau lupa, aku bisa saja menghabisimu sekarang ini, jadi jangan banyak tingkah hanya karena kau seorang pemimpin Klan Wolf," oloknya yang begitu marah dan kesal terhadap Deo.

"Lalu habisi aku sekarang," perintahnya pada Thomas.

Valeta yang sejak tadi berdiri di samping kiri Thomas tak mengalihkan tatapannya dari wajah tampan Deo.

"Kenapa? Kau tak punya senjata? Mau kupinjami?" tanyanya dengan meledek sembari memainkan revolverlnya.

Thomas diam sembari menatap tajam Deo yang telah menghancurkan penjualan marijuananya.

"Aku tidak akan memainkan pistol ini, asal," ujar Deo yang menjeda ucapannya.

Thomas dengan cepat langsung menarik Valeta sebagai tamengnya sembari memegang pisau kecil di dekat leher Valeta.

"Jangan banyak bicara, jika kau tak ingin wanita ini terluka," ancamnya pada Deo.

Deo tersenyum lalu menyempatkan diri untuk minum sampanye yang tadi sudah ia tuang.

"Kau tidak tahu berita di internet, sudah lama aku dikabarkan homo, dan aku paling benci dengan sosok yang bernama wanita, jangan jadikan wanita sebagai senjatamu, itu hanya akan menunda kematianmu," beritahunya dengan begitu jelas dan penuh penekanan seakan tengah menyindir Valeta saat ini.

Valeta yang mendengar hal itu kini menahan tangisnya.

Thomas tersenyum mendengar ucapan Deo.

"Kau sungguh lucu sekali, mana mungkin kau tega melukai wanita, jangan jadikan berita di internet sebagai alasanmu," tolak Thomas yang tidak mau mengakui jika Deo membenci sosok wanita.

"Terserah, aku sudah memperingatimu, jika aku sangat membenci wanita. Mereka hanya membuat susah dan memperumit keadaan," jelasnya pada Thomas sembari memainkan revolvernya.

"Deo," panggil Valeta setelah sekian lama ia diam sejak tadi.

Deo seakan tuli dan buta, ia bahkan tidak menoleh sedikitpun.

"Cepat Thomas, beritahu di mana kau simpan semua marijuanamu yang kau impor minggu lalu, dengan begitu aku akan mengampunimu," ucap Deo yang memberikan kesempatan satu kali pada Thomas.

Thomas tertawa mendengar hal itu.

"Kau pikir aku bodoh? Tentu aku tidak akan memberitahumu," tolak Thomas dengan ledekan membuat Deo hanya tersenyum sembari mengongkang senjatanya.

DOR

"DEO," teriak ketiga sahabatnya kala Deo dengan gamblang dan santainya menembak Valeta, mantan kekasihnya dulu.

Thomas yang sejak tadi memegangi tubuh Valeta, kini kakinya terasa sangat lemas sekali kala melihat darah keluar dari dada depan Valeta.

Brugh

Valeta terjatuh di lantai dan Thomas terlihat masih syok dan tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.

"Sudah kubilang, aku paling benci sosok yang bernama wanita, mereka hanya memperumit keadaan," ujarnya sembari menodongkan revolvernya pada Thomas.

Pisau yang sejak tadi Thomas genggam kini terjatuh di lantai saking syoknya.

"Sekarang katakan, di mana marijuana itu kau simpan?" tanyanya sekali lagi.

Thomas langsung bersimpuh di depan kaki Deo.

"Aku menyimpannya di desa Pinus, Shelby yang mengambil alih semua marijuana itu," beritahunya pada Deo.

Deo kembali mengongkang senjatanya membuat Thomas semakin bersujud.

"Kemungkinan Shelby membangun markas di tengah hutan untuk menyimpan semua marijuana itu," ujarnya dengan jujur namun yang namanya Deo Morte Picasso, tidak bisa tahan jika tidak melihat darah dari seorang pengkhianat seperti Thomas.

DOR

DOR

Dalam hitungan detik Thomas sudah tergeletak di lantai dengan bersimpah darah.

"Wah apa itu sungguh menyenangkan bagimu? Kau menghabisinya setelah ia berkata jujur," ujar Melvin yang heran dengan pemikiran Deo.

"Siapa yang tahu jika ia akan berkhianat," jawabnya dengan santai sembari beranjak dari kursi dan memasukkan revolverlnya ke dalam saku.

"Lalu bagaimana bisa kau dengan tega menembak mantanmu sendiri? Kau tidak ingin balikan?" tanya Savero yang menggoda Deo.

"Mereka hanya membuat masalah dan memperumit keadaan, aku tak akan berurusan dengan sosok yang namanya wanita, kalian camkan hal itu," tegasnya sekali lagi pada ketiga sahabatnya lalu melenggang pergi keluar dari ruang VVIP.

Mereka bertiga menghembuskan napas dan menatap iba kedua orang yang tewas di tangan Deo tersebut.

"Bagaimana jika roh Valeta gentayangan karena CLBK?" tanya Melvin yang sempat- sempatnya memikirkan hal itu.

Bab 3

Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.

Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.

Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.

"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.

Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.

Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.

Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.

Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.

Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.

"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di  ruang tamu.

"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.

"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.

"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.

Tentu tentang kontes perjodohan.

Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Pluk

Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.

"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.

Deo menghembuskan napas beratnya.

"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.

"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.

"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.

"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.

"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.

"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.

"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.

Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.

"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.

Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.

"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.

"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.

"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.

Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.

"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.

"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.

Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.

"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.

Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.

"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.

Deo menatap papanya tersebut.

"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.

"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.

"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.

Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.

Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.

Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.

Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.

Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.

"Ya tuan,"

"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.

"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.

Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.

Hei semua

Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?

Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.

Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.

Jika berkenan silahkan mampir.

Kini Deo pulang ke mansionnya setelah menyelesaikan urusannya tadi di club.

Kemungkinan besok ia akan pergi ke desa Pinus seperti yang Thomas katakan tentang marijuananya yang di simpan di sana.

Deo menaikkan sebelah alisnya kala melihat mobil rubicon milik papanya.

"Apa mereka datang? Kenapa tidak mengabari?" gumamnya sembari memasukkan mobil ferarinya ke dalam garasi.

Deo turun dari mobil dan membasuh mukanya sebentar di wastafel depan guna untuk menghilangkan percikan darah dari Thomas dan Valeta tadi.

Ia juga melepas jasnya dan membuangnya di tempat sampah guna untuk menghilangkan bekas darahnya.

Syukurlah kemejanya masih bersih jadi Deo tak perlu repot untuk ganti.

Ia sedikit melonggarkan dasinya dan mengacak- acak rambutnya agar terlihat seperti pulang dari kantor.

Deo lalu masuk ke daam rumah dan benar saja terlihat mereka sudah duduk manis di ruang tamu.

"Papa mama, kapan kalian datang?" tanyanya sembari menghampirinya di  ruang tamu.

"Barusan, apa kamu baru pulang dari kantor?" tanya Morte yang hanya diangguki oleh Deo.

"Kamu sudah makan malam?" Deo sengaja menggelengkan kepalanya agar Miranda memasak.

"Bagus, tahanlah sebentar dan duduk di sini. Papa sama mama mau bicara sesuatu padamu," Deo menghela napas kala ekspetasinya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.

Deo menghempaskan tubuhnya di sofa, ia tahu apa yang akan dibicarakan jika mereka sudah duduk bertiga begini.

Tentu tentang kontes perjodohan.

Miranda mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Pluk

Sebuah foto dari berbagai model cantik yang Deo kenal.

"Pilih salah satu dan menikahlah dengannya, papa sama mama udah kebelet banget pengin punya cucu," ujar Miranda yang kini nada bicaranya ia ganti dengan lemah lembut agar Deo mau menerima tawarannya.

Deo menghembuskan napas beratnya.

"Apa papa sama mama sungguh ingin sekali punya cucu?" tanyanya yang mana hal itu langsung dijawab dengan anggukan oleh mereka berdua dengan begitu kompaknya.

"Kenapa papa sama mama enggak coba buat sendiri dari pada nunggu Deo, kan kelamaan," sontak Miranda yang sejak tadi mendengarkan dengan serius dan hanya berujung lelucon sontak langsung memukuli Deo dengan tas Diornya.

"Aduh ma ampun," rintih Deo yang merasa kesakitan kala tas mahal itu menghantami tubuhnya.

"Mama butuhnya cucu bukan anak, punya kamu satu aja pusingnya enggak karuan, apalagi nambah satu, nanti keluar- keluar kelakuannya mirip kamu lagi, bisa mati muda mama," omelnya panjang lebar yang mana hal itu membuat Deo tertawa begitu juga dengan Morte.

"Udah mama enggak akan kasih kelonggaran lagi buat kami kali ini, cepat pilih salah satu dari mereka dan besok kita ketemu sekalian bicarain pernikahannya, dengan begitu pekan depan kamu langsung nikah, terus bulan depan istri kamu ngandung, tahun ini mama udah punya cucu deh," rancang Miranda dengan begitu gamblangnya bak hendak mengawinkan anak kucing.

"Ma, apa mama kira nikah segampang itu?" Miranda dengan polosnya mengangguk membuat Deo tak habis pikir dengan mamanya tersebut.

"Pa," panggil Deo pada Morte di mana saat ini Deo sudah putus asa dengan kontes perjodohan yang mamanya lakukan setiap minggunya.

Morte menggelengkan kepalanya tanda tak bisa membantu apapun itu dalam hal ini.

"Ayo apalagi, cepat pilih, dengan begitu mama akan buat janji temu untuk besok dengan keluarga mereka, terus kita bicarain pernikahan kalian," ucap Miranda sembari menyodorkan foto- foto itu ke depan Deo.

Deo menatap sekitar 15 lembar foto dari berbagai model di kota Tronto ini.

"Ayo pilih, tunggu apalagi. Semua itu mama pilihkan dari yang tercantik hingga cantik, dengan begitu kamu bisa memperbaiki keturunanmu, kalau kamu asal pilih, mama enggak yakin kamu punya generasi yang bagus takutnya malah semua mirip kamu," ejek Miranda membuat Deo menganga tak percaya dengan apa yang barusan dikatakannya itu.

"Jadi mama anggap Deo jelek?" tanyanya ingin tahu.

"Enggak juga, hanya bujang lapuk," jawab Miranda sekenanya di mana hal itu membuat Morte tertawa.

Deo lalu menatap satu persatu foto itu dengan malas.

"Hompipa alaihum gambreng," ujar Deo yang menggunakan hompimpa untuk memilih 1 dari 15 model yang akan menjadi istrinya.

"Astaga, bagaimana bisa ia melakukan hompimpa untuk memilih seorang istri," gumam Miranda yang heran dengan kelakua putranya sendiri.

Morte yang melihat hal itu hanya tersenyum geli.

"Ini mah," ujarnya asal sembari menyodorkan satu foto dari hasil hompimpanya pada Miranda.

Miranda menatap foto tersebut sembari menghembuskan napas panjang.

"Semoga aja hasil hompimpamu ini membawa hoki. Oke, mama akan menemui keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian, mama pulang dulu ya," pamitnya yang langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan calon menantu dari hasil hompimpa Deo.

Deo menatap papanya tersebut.

"Yaa, apa tuan tidak bisa menghentikan kontes perjodohan ini?" tanyanya pada Morte dengan sedikit kesal.

"Tolong katakan pada istri anda jika putranya ini sangat tertekan," lanjutnya yang memperlihatkan betapa frustasinya ia dengan perjodohan yang selalu mamanya ajukan.

"Tenanglah son, kau sudah memilih satu, kontes perjodohan telah berakhir," jawab Morte sembari beranjak dari sofa.

Deo berdecak lalu mengantar papanya ke depan.

Setelah mereka pergi kini Deo kembali ke ruang tamu untuk memikirkan bagaimana caranya ia kabur dari lamaran besok.

Deo sungguh tak ingin menikah saat ini meski usianya sungguh sudah matang.

Hingga Deo terpikirkan sesuatu yang membuat ia tersenyum lebar.

Dengan cepat Deo langsung menelpon asistennya tersebut.

"Ya tuan,"

"Zero, tolong kemaskan bajuku di koper, besok aku akan pergi jauh, setidaknya siapkan pakaian yang cukup dan keperluan lain yang perlu kubutuhka," perintahnya pada Zero.

"Baik tuan," Deo langsung mematikan teleponnya.

Deo tampak menyunggingkan senyumnya kala ia bisa kabur dari perjodohan gila ini.

Hei semua

Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?

Ikuti terus ya keseruannya dan kisah mereka.

Oh ya agar lebih lengkap lagi halunya, saya sudah mempersiapkan IG untuk melihat visual dan teaser Deo.

Jika berkenan silahkan mampir.

IG: Sherlynursafitri

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED