[ Selamat pagi, Mas.] Sebuah pop up muncul di layar Dani. Iseng-iseng Reni membuka gawai milik suaminya itu.
'Deg!' Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang berbeda. Dengan tangan gemetar Reni berusaha membukanya.
Muncul beberapa pesan lagi setelahnya yang bisa membuat Reni benar-benar sesak nafas.
'Apa sebenarnya yang menjadi bahan omongan?' Hatinya terus menduga-duga, dia berusaha berpikir positif, tapi kata-kata di pesan itu terus mendorongnya berpikir negatif.
[ Aku ingin Mas menjadi ayah dari Fandi. Kita akan bersama-sama membesarkan anak-anak kita.] Begitulah isi pesan itu. Diliriknya Dani yang masih terlelap dalam tidurnya.
Matahari sudah mulai terbit tapi suaminya itu bukan tipe orang yang biasa bangun pagi. Bahkan untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim saja, Reni jarang melihatnya.
'Apa setega itu Mas Dani sama aku?'. Sudut matanya mulai memanas. Dipandanginya wajah polos suaminya yang selama ini selalu manis padanya.
Memang benar, di usia pernikahan mereka yang menginjak angka tujuh tahun, pasangan itu belum juga dikaruniai momongan.
'Tapi, bukankah pernah ke dokter dan setelah tes lab, sperma Mas Dani yang bermasalah?' Sudah tak sanggup menahannya, air mata itu akhirnya luruh juga.
Dalam diam Reni menangis sesenggukan seorang diri. Dani, suaminya tak akan bangun. Dia hanya bisa bangun jika tubuhnya diguncang dengan sangat kencang.
'Apa yang harus aku lakukan?' Ingin rasanya saat ini juga dia menanyakannya pada suaminya. Tapi yang ada pasti bukan jawaban yang dia inginkan, melainkan sebuah kebohongan. Reni sangat hafal dengan sifat suaminya satu itu.
Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu akhirnya mengusap pipi dan sudut matanya. Dia tak boleh gegabah. Biarlah saat ini dia pura-pura tidak tahu, tapi dia harus mengumpulkan bukti untuk membalas keduanya.
***
Dani sudah sampai di pabrik tempatbya bekerja. Hari-harinya bekerja kini tidak akan membosankan lagi. Sejak Tari, janda anak satu, kini bekerja satu bagian dengannya.
"Mas," sapa Tari pada Dani ketika keduanya bertemu di halaman depan pabrik. Dani sumringah melihat kekasih hatinya itu.
Tari memiliki perawakan yang cukup berisi, beda dengan Reni, istrinya. Reni memiliki tubuh yang bisa dibilang kurus. Meski secara kecantikan sama saja. Tapi sekali-sekali Dani juga ingin merasakan yang berisi. Dasar laki-laki.
"Eh, sudah dari tadi, Yank. Tentu saja mereka saling memanggil dengan sebutan 'yank' jika sedang berdua saja. Teman-teman kerja Dani sudah tahu jika dia sudah punya istri. Jika mereka berjalan bersama pasti ngiranya cuma teman kerja yang sedang berbincang.
Tari merupakan karyawan baru di pabrik tempat Dani bekerja. Entah kenapa sangat mudah bagi Dani untuk merayu Tari.
Dani berpikir, dia bisa mencoba berhubungan dengan Tari untuk mengetahui apakah dirinya bisa punya anak atau tidak. Sudah jahat memang niat awalnya.
"Barusan aja. Kok pesanku nggak dibales, sih?" tanya Tari dengan nada manja.
'Pesan?' Dani mengernyitkan dahinya. Sedari pagi dia cek handphonenya tapi tidak ada pesan apapun dari kekasihnya itu.
'Apa Reni yang baca? Terus dihapus? Tapi kok nggak ngomong apa-apa? Gawat kalau Reni sampai curiga.' Segala pemikiran berputar di kepalanya. Bagiamanapun Dani masih mencintai Reni. Istrinya itu satu-satunya yang tetap bertahan dengannya.
Dari dia cuma pengangguran, sedang istrinya yang kerja. Punya usaha juga tidak berjalan mulus, istrinya tetap setia menyokongnya. Hingga kini dirinya punya pekerjaan tetap di pabrik. Semua tidak lepas dari bantuan istrinya yang menggunakan koneksi keluarganya.
Kini Reni memang tidak lagi bekerja karena ingin sekali memiliki momongan. Siapa tahu kalau tidak kecapekan karena bekerja, Reni bakal cepat hamil. Meski sudah 2 tahun sejak memutuskan resign, belum ada tanda-tanda rahim istrinya itu terisi benihnya.
"Mas ... Mas ...." Tari tampak menggoyang-goyangkan lengan Dani ketika melihat kekasihnya itu hanya melamun.
"Ha!" Dani segera sadar jika ada Tari di sampingnya. Tidak mungkin dia bilang kalau Reni yang membuka pesannya.
"Oh ... Mas lupa, Yank. Kesiangan tadi bangunnya. Nggak sempat bales pesanmu." Mereka berdua memang sepakat saling mengirim pesan lewat SMS saja, bukan lewat WA.
"Oh, kirain kenapa? Sudah sarapan, Yank?" Tari memang sangat perhatian, sehingga membuat Dani ingin sedikit bermain-main dengannya.
Salahkah perasaannya saat ini yang mencintai dua wanita di waktu yang bersamaan? Tapi, bukankah cinta tak pernah salah?
"Belum. Aku sengaja mau sarapan sama kamu." Lelaki itu menowel hidung kekasihnya yang membuat mereka terbahak bersama.
"Yaudah. Kita ke kantin aja dulu. Keburu bel masuk." Tari tersenyum ke arah Dani. Jika orang yang belum tahu pasti ngiranya, mereka ini adalah sepasang kekasih, meski nyatanya memang gitu.
Tapi, jika ditanya oleh teman kerjanya, Dani selalu beralasan jika memang mereka cuma teman yang kebetulan nyambung jika ngobrol.
[Nanti sore jadi 'kan, Mas?] Tari mengirimkan sebuah pesan pada Dani.
Mereka berdua kini sedang makan di kantin.
Tidak berdampingan dan agak jauh, agar orang lain tidak terlalu curiga.
[Aku antar istri dulu ke rumah orang tuanya. Biasanya dia akan lama di sana. Biar kita bisa bebas mainnya]. Dani tersenyum penuh arti pada wanita yang duduk di depannya itu, meski terhalang beberapa meja. Tari pun balas tersenyum. Birahi keduanya sudah di ubun-ubun.
[Baiklah, Mas Dani sayang. Aku udah nggak sabar nunggu. Aku pastikan aku bisa hamil dengam segera.] Sebulan mengenal Tari, Dani memang sering bercerita tentang rumah tangganya. Yang sudah menikah tujuh tahun tapi belum dikaruniai anak. Dan juga tentang tabiat istrinya yang sedikit keras kepala.
Seperti gayung bersambut, setiap keluahan Dani menimbulkan perasaan tersendiri di hati Tari. Dirinya yang sudah dua tahun ini hidup menjanda, menjadikannya haus akan belaian laki-laki.
Kata-kata manis Dani mampu membuat Tari bertekuk lutut. Dia pun yakin mampu memberikan putra untuk kekasihnya itu, karena dia sendiri sudah pernah melahirkan. Tak ada yang salah dengan rahimnya.
Bukannya tak ada pria lajang lain, tapi mungkin setan sudah menguasai keduanya, hingga rela menabrak norma dan aturan yang ada.
Agama yang dianut, hanya menjadi sebuah status di kartu pengenal.
[Kamu nggak papa jadi istri kedua, Tari?] Dani memang tidak menjanjikan akan menceraikan istrinya, karena bagaimanapun kebersamaan selama tujuh tahun tidak bisa dia hilangkan begitu saja. Sekeras apapun istrinya, dia masih sangat mencintainya.
[Aku nggak masalah, Mas. Yang penting aku bisa memilikimu.] Entah cinta apa yang dirasakan Tari pada suami orang itu, yang pasti cinta terlarang mereka akan menimbulkan mala petaka bagi keduanya.
Setelah pesan terakhir itu, keduanya saling tersenyum. Seolah ini adalah jatuh cinta yang pertama bagi mereka. Tak peduli dengan status ataupun perasaan orang lain. Yang pasti hanya nafsu yang akan mereka turuti untuk saat ini.
"Yank, kamu jadi balik kampung?" Dani memeluk Reni dari belakang, meniup-niup leher istrinya itu, hingga Reni merasa geli. Meski banyak pertanyaan yang ingin dia lontarakan, namun Reni memilih untuk menahannya terlebih dahulu. Dia harus benar-benar membuktikan semuanya.
"Iya, Yank. Aku udah kangen ama mereka- bapak dan ibu Reni-. Aku mau di sana seminggu, ya?" Reni berbalik menatap suaminya, dia tampilkan senyum semanis madunya, meski nyatanya hatinya ingin menjerit.
"Baiklah ...." Jawaban dari Dani tak seperti yang dibayangkannya. Biasanya dia akan protes dan dalam dua hari pasti sudah menjemputnya. Tapi, kini dengan mudahnya berkata baiklah. Reni benar-benar kecewa dengan jawaban Dani.
"Boleh?" Sekali lagi ingin memastikan jawaban yang keluar dari bibir Dani, kini matanya menatap lurus ke arah mata suaminya.
"Hu um." Dani mengangguk seraya memeluk istrinya. Tapi, sekilas tadi Reni dapat melihat jika suaminya itu tak berani menatap wajahnya. Reni tersenyum getir, dari sini sebuah kesimpulan dapat dia ambil.
Ingin rasanya dia menangis tapi mati-matian ditahannya. Enggan dia menumpahkan air mata untuk pengkhianat sepertinya.
"Mau dianter kapan?" Apakah cuma perasaan wanita itu, atau memang benar adanya? Dani terlihat begitu antusias kali ini. Bahkan sampai menawarkan diri.
Jelas sekali sebuah senyuman merekah di bibir Dani, tak seberat biasanya, yang akan terus merajuk jika ditinggal lama-lama.
"Bagiamana kalau sekarang?" ucap Reni dengan bibir bergetar. Rasa kecewa sudah menjalar ke seluruh pori-pori tubuhnya. Saat ini, rasanya benar-benar muak saat berdekatan dengan Dani seperti ini.
"Yasudah, kemasi barangmu. Aku mandi dulu." Dani segera beranjak dari dari sisi Reni, meninggalkan istrinya yang masih mematung sepeninggalnya.
Reni terduduk lemas di tepi ranjang, cairan hangat mulai menjalar menetes di pipi. Bahkan perubahan sekecil apapun dari sikap suaminya, Reni bisa mengetahuinya.
"Tidak! Aku tidak boleh kalah dan lemah." Akhirnya, wanita itu bangkit dan segera memasukkan beberapa lembar pakaiannya ke dalam tas. Untuk beberapa waktu, mungkin dia bisa menenangkan hatinya yang tengah bergemuruh.
'Akhirnya ... ada waktu lumayan lama untuk Tari. Aku nggak bakal nyia-nyiain kesempatan ini. Kami berdua sudah cukup lama memendam semua ini. Harus segera dituntaskan. Dan akan kubuktikan bahwa aku tidak bermasalah.' Jika hati telah tertutup nafsu, maka rasa bersalah sudah tidak ada lagi. Hanya pembenaran akan setiap kesalahannya.
'Setelah mengantar Reni, aku harus segera menghubungi Tari. Sudah nggak sabar untuk bercocok tanam di lahan yang subur sepertinya.' Bayangan liar sudah menguasai pikiran dan hati Dani. Tak peduli jika suatu saat akan ada hati yang tersakiti.
"Sudah siap, Yank?" Dengan wajah penuh senyum, Dani menatap istrinya yang sedari tadi duduk tepian ranjang mereka. Entah kenapa senyuman Dani terlihat begitu melukai wanita berumur 27 tahun itu.
"Eh, i--iya," jawab Reni dengan tergagap. Hatinya remuk redam. Ingin rasanya dia bertanya tentang pesan itu dan sikap Dani yang berubah 180 derajat itu, tapi dia belum menemukan cukup bukti.
Meski pesan dari seseorang kemarin sudah dia foto di hapenya, tapi bukti itu belum cukup kuat. Bisa saja suami tak terlalu tampannya itu mencari berbagia alasan untuk mengelak.
Kalau begitu pasti dia akan lebih berhati-hati agar perselingkuhannya tidak tercium olehnya.
Dengan motor matic yang kreditannya masih belum lunas, Dani mengantar Reni untuk mengunjungi kedua orang tua Reni yang rumahnya berjarak dua jam perjalanan.
Sepanjang jalan, tak ada srpatah katapun yang keluar dari bibir Reni, padahal biasany perjalanan begini, mereka banyak ngobrol dan bercanda-canda.
Dani pun sepertinya pikirannya sudah tak sabar ingi menemui pasangan haramnya itu. Dia merasa memiliki lebih banyak waktu yang akan dihabiskan bersama Tari.
"Mas langsung pulang, ya, Dek ...?" Reni benar-benar terkejut. Begitu gampangny suminya itu pamit pulang, tidak menginap dulu seperti biasanya.
Meski pulang sangat pagi karena dia harus masuk kerja, Dani menyempatkan menginap di rumah mertuanya dulu. Dia tidak pernah terburu-buru seperti ini, karena masih ingin berlama-lama bersama istrinya itu.
"Nggak ... nginep, Mas?" tanya Reni lebih tepatnya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Takut, besok telat masuk kerja, Sayank. Dan juga capek nantinya Mas." Ada saja alasan orang untuk berbohong. Kalau begini Reni sudah tidak bisa mengganggu keputusan suaminya itu.
"Mas pamit sama bapak, ibu dulu, ya?" Dani segera mencari keberadaan mertuanya itu, untuk segera pamit.
Mertuanya sama terkejutnya dengan Reni, tidak biasa-biasanya menantu kesayangannya itu buru-buru pulang.
Dengan jurus seribu alasan, akhirnya Dani dapat terbebas dari pertanyaan-peetanyaan mendetail dari mertuanya itu. Reni hanya terdiam berusaha aamgar tangisnya keluar. Meski rasa sesak dan sakit merayapi hati kecilnya yang rapuh itu.
***
"Aku seneng akhirnya kita beneran bisa kayak gini." Seorang wanita bergelayut manja di dada seorang pria yang bukan suaminya itu.
Sang pria pun merasakan tubuhnya sudah mulai terbakar oleh nafsu dan gairah melihat tubuh setengah telanjang dari wanita selingkuhannya itu.
Mereka berdua adalah Dani dan Tari yang janjian check in di hotel. Tak butuh alasan bagi Tari untuk tidak tidur di tempatnya. Sebenarnya rumahnya tidaklah jauh dari tempat kerja mereka, tapi dia memilih kos dan meninggalkan anaknya bersama kedua orang tuanya.
Tari seorang janda, bercerai dengan suaminya dua tahun lalu, dengan alasan sang suami selingkuh. Miris memang mengingat apa yang akan kedua insan bukan pasangan ini akan lakukan.
Apakah Tari tidak berfikir bahwa mungkin istri dari Dani akan seterluka dirinya ketika tahu suaminya selingkuh dengannya.
Dani sendiri benar-benar sudah terbujuk rayuan setan. Mungkin karena hatinya yang gersang karena tidak pernah ibadah hingga dengan mudahnya bercengkerama mesra dengan wanita yang jelas-jelas bukan istrinya itu.
"Aku juga, Sayang. Aku sudah sangat tidak sabar ingin segera ...." Dani menggantung ucapannya dan memilih untuk tersenyum nakal dan menarik turunkan sebelah alisnya.
Keduanya bertatapan penuh gairah, setan telah menutup mata batin keduanya, hingga tak ingat lagi dengan adanya dosa.
"Tapi, janji ya, Mas. Kalau aku beneran hamil kamu bakal nikahin aku?" Tari ingin memastikan tentang ucapan Dani beberapa waktu lalu. Hamil atau tidak, melakukan zina seperti ini bukankah sama saja berdosa.
"Iya, Sayang. Istriku sudah lama tidak bisa mengandung. Aku yakin rahimnya bermasalah. Aku janji akan nikahin kamu jika kamu beneran hamil." Laki-laki memang penuh muslihat untuk menjerat mangsanya. Sang wanita juga dengan mudahnya menyerahkan dirinya tanpa ada ikatan halal.
Sebesar apapun masalah dalam rumah tangga orang lain, bukan hal benar jika kita masuk dan merusak hubungan yang telah diikrarkan di hadapan Tuhan.
Apalagi menjadi murahan hanya untuk mendapat belaian seorang lelaki. Jangan biarkan orang lain memandang rendah status janda karena perbustan harammu itu.
"Tapi, kamu mau 'kan kalau jadi yang kedua?" Dani berusaha meyakinkan lagi bahwa wanita di sampingnya itu akan menerima sratusnya kelak.
Tari mengangguk mantap, baginya saat ini adalah dia mendapat belaian dari orang lain, "tapi ... kenapa, Mas tidak nuntut cerai istri Mas saja. Kan terbukti dia yang nggak bisa ngasih keturunan?" Namanya manusia pasti ada sifat serakahnya juga.
"Kalau itu ... lebih baik kita mulai saja. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera menghasilkan Dani Junior." Tari hanya tergelak mendengar ajakan Dani itu. Baginya terdengar sangat lucu dan menggoda.
Keduanya pun akhirnya tenggelam dalam aktifitas haram yang tidak patut dicontoh. Yang hanya ada setan di antara mereka.
Melupakan hati wanita lain yang mungkin sedang menangis sendirian. Kamar hotel itu menjadi saksi kekejian mereka menodai sebuah ikatan sakral yang bernama pernikahan.
Reni merasa sangat gelisah. Handphone Dani sedari tadi tidak diangkat. Pas ditelepon nyambung, tapi tidak diangkat-angkat juga.
"Kemana kamu, Yank?" Reni mondar-mandir di dalam kamarnya. Perasaannya sungguh tak enak.
Semenjak berpisah siang tadi, tak sekalipun suaminya itu menghubunginya. Bahkan untuk sekedar mengabari kalau dia sudah sampai di rumah.
Sebagai istri, tentu saja Reni sangat khawatir. Meski beberapa hari ini pikirannya dipenuhi sebuah kecurigaan. Namun, sebagai seseorang yang telah bersama selama tujuh tahun, tentu saja bukan perkara kecil ketika tidak mendapat kabar sama sekali dari pasangannya.
"Apa kamu sudah sampai di rumah, Yank?" Tidak biasanya suaminya seperti ini. Beberapa hari ini dia memang menemukan hal-hal yang tidak biasa pada suaminya, yang membuatnya lebih curiga.
Segera terpikirkan ide olehnya untuk mendownload aplikasi pelacak yang terhubung oleh email. Reni tahu email apa yang terhubung dengan handphone suaminya.
Dengan diiringi suara degub jantung yang semakin mengencang, Reni berusaha memasukkan email itu untuk melacak lokasi suaminya saat ini. Tangannya sedikit bergetar ketika mengetikkannya.
Kini tubuhnya ikut bergetar hebat ketika pin itu menunjukkan nama lokasi yang mampu membuat tubuhnya panas dingin.
Hotel Saudara, itulah nama tempat yang tertulis tepat di mana perkiraan lokasi suaminya berada.
"Astaghfirullahal'adzim ...." Tangis tak lagi mampu ditahannya. Kini wanita itu benar-benar menangis dalam diam sembari menahan sesak yang terus menghimpit jiwa.
'Pantas saja sedari tadi Mas Dani tidak memberi kabar sama sekali. Ternyata ...," batinnya menjerit menahan perih. Tubuhnya mendadak lemas hingga luruh ke lantai. Semua pengorbanan dan kesetiaannya terbayar sebuah pengkhianatan.
Reni menemani suaminya dari tidak punya pekerjaan hingga kini memiliki pekerjaan tetap. Wanita itu juga yang membantu Dani bangun dari keterpurukan. Menerima kekurangannya ketika dokter memvonis kualitas sp*rmanya tidak terlalu baik, sehingga kemungkinan punya anak begitu kecil.
Reni dengan sabar meski hatinya juga merindu adanya buah hati. Dia juga rela menutupi tentang hasil pemeriksaan itu dari keluarganya agar suaminya tidak disalahkan. Dan dia dengan sabar menerima setiap sindiran yang menyalahkan rahimnya yang dibilang tidak subur.
Cemoohan mertuanya yang selalu menjadikannya tersangka atas belum dikaruniainya dia seorang cucu. Reni menelannya sendiri.
Ingin rasanya dia menangis sekeras-kerasnya, tapi takut orang tuanya tahu apa yang terjadi. Biarlah semua kesakitan ini untuk sementara dia tanggung sendiri.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel kelas melati, sepasang pasangan selingkuh baru selesai melakukan aktifitas keji nan tercela itu. Senyum tak pernah lepas dari bibir keduanya. Wajah penuh kepuasan terlihat sangat jelas.
Dani mengecup kening Tari, keringat masih membasahi tubuh polos mereka. Hanya bertutupkan selimut, keduanya saling berpelukan seakan enggan berpisah.
"Terima kasih, Sayang," ucap laki-laki tak tahu diri itu seraya memejamkan matanya. Mungkin dia merasa kelelahan setelah aktifitas panas mereka.
"Sama-sama, Mas. Aku merasa bahagia saat ini. Aku yakin aku akan segera hamil." Entah apa yang ada di pikiran wanita itu. Betapa mengharapnya hamil tanpa suami. Meski Dani sudah berjanji akan menikahinya ketika dia bisa hamil, tapi bukankah hal yang memalukan jika sampai hamil di luar nikah.
Mungkin, urat malunya sudah beneran putus. Sehingga dia akan dengan bangganya hamil dengan suami orang lain yang akhirnya akan melukai hatu wanita lain.
"Sebentar, Sayang. Aku lupa seharian ini tidak menghubungi Reni. Hape juga aku silent biar nggak berisik." Dani segera melepas pelukannya pada kekasihnya itu.
Benar saja, ada 30 panggilan tak terjawab dari istrinya. Dan ada sekitar 50 pesan yang dikirimkan Reni.
Tari nampak cemberut ketika perhatian Dani beralih pada benda pipih itu. Hatinya mendongkol, saat bersamanya kenapa Dani masih saja teringat dengan Reni, istrinya.
[ Maaf, Yank. Aku sampai rumah langsung tidur. Capek banget. Beberapa hari ini kerjaan lagi banyak. Kamu tahu sendiri 'kan, aku lembur terus belakangan ini?] Segera Dani menekan tombol sent setelah mengetikkan itu. Jika selama ini dia selalu minta video call jika sedang berjauhan dengan istrinya, tapi tidak untuk saat ini.
Dia hanya membalas istrinya agar istrinya itu tidak khawatir.
Beberapa saat dia menunggu jawaban istrinya itu, tapi tidak segera mendapat jawaban.
'Mungkin dia sudah tertidur?' batinnya mengingat saat ini sudah hampir jam sepuluh malam.
Dani segera meletakkan gawainya itu kembali ke atas nakas. Segera dia menghampiri kekasihnya itu lagi. Tak dihiraukannya lagi tentang Reni, seolah istrinya itu tidak pernah ada.
Setan mulai membisikkan lagi godaannya untuk menikmati tubuh yang haram baginya itu.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan lagi, Sayang?" Sebuah kerlingan nakal ditampakkan Dani. Sayang, sudah nyewa hotel mahal-mahal, main cuma sekali. Seperti itu yang ada di pikiran lelaki kere tapi niat selingkuh itu.
"Apa sih yang enggak buat kamu, Sayang." Tari tersenyum girang. Segera dia menyambar b*bir lelaki yang masih berstatus suami orang itu. Mereka saling beradu, saling menciptakan permainan yang semakin lama semakin panas.
Merasakan mafsu yang kian memuncak, b*birnya segera turun ke bawah. Tak ada satu pun bagian tubuh Tari yang lepas dari ciumannya. Tari pun nampak begitu terbakar karena permainan Dani.
Tanpa rasa takut kepada Sang Pencipta, dan juga tanpa rasa bersalah karena telah mengkhianati hati seseorang, keduanya telah larut lagi dalam peegumulan yang hanya didasari dengan nafsu itu.
Karena tidak ada satupun malaikat yang akan mendoakan keberkahan untuk keduanya. Hanya setan kini yang ada di antara mereka.
Yang pasti, Dani tak akan tahu jika saat ini Reni masih menangis seorang diri. Wanita itu telah mengaktifkan pengaturan agar centang birunya tidak akan terlihat.
Reni memang tidak berniat membalas pesan suaminya itu. Entahlah, bagaimana nantinya jika dia bertatap muka dengan pria itu. Yang pasti, perasaan jijik yang kini dia rasakan pada Dani.
Lama Reni menatap ke arah layar benda pipih itu. Ingin rasanya dia banting, tapi kok sayang, baru sebulan dia beli. Kecuali jika ada wajah Dani di hadapannya, kemungkinan besar akan dia lempar ke arahnya.
"Jangan nangis terus, Ren. Kamu nggak selemah itu. Cepat putuskan! Apa kamu masih bisa bersama pria yang menjijikkan itu?" Tangisnya kini telah benar-benar berhenti. Tak ingin lagi dia menangisi lelaki tak bermoral itu.
Tapi, untuk membuatnya membuka mulut, bukti yang Reni punya belumlah kuat. Biarlah Reni akan mengikuti sejauh mana mereka akan benar-benar menampakkan diri. Bagaimanapun bangkai keduanya, suatu saat akan tercium baunya.
Biarlah untuk sementara seperti ini dulu. Hingga tiba saatnya, suami dan selingkuhannya tidak bersama, dan dia sendiri akan pergi meninggalkannya.
Reni bukan wanita bodoh yang hanya akan diam saja ketika dicurangi. Dia akan diam-diam mencari cara agar Dani akhirnya tidak mendapatkan satu pun di antara mereka.