Bab 1

"Dek, jangan tidur dulu. Ada yang pengen mas omongin ," ucap Yanto di malam hari itu kepada Viana, istrinya.

Viana yang tadinya sudah bersiap-siap hendak tidur jadi mengurungkan niatnya. Dia lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya.

"Ya, ada apa, Mas? Kok kayak ada yang penting gitu," tanya Viana kala melihat wajah sang suami nampak sedikit bimbang.

Yanto terdiam sesaat, terlihat dia agak ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya.

Viana yang melihat hal itu menjadi penasaran.

"Mas! Kok diam aja, katanya mau ngomong."

"Eh, i-iya, Dek. Ini...ini tentang Runi. Tadi sore Runi menelepon mas. Dia bilang dia ingin tinggal di sini bersama kita," jawab Yanto seraya menatap ke arah istrinya.

Seketika itu juga, Viana membulatkan kedua bola matanya.

"Tinggal di sini? Kenapa? Lalu suaminya?" tanya Viana beruntun.

Yanto menghembuskan nafas perlahan sebelum menjawab pertanyaan Viana.

"Runi bilang bahwa dia dan suaminya sudah cerai dan Runi harus keluar dari rumah yang selama ini ditempatinya karena rumah itu milik suaminya."

"Hah? Cerai? Kok bisa?" Viana keheranan.

"Iya, Vi. Katanya Andri selingkuh dengan teman kerjanya. Runi sendiri yang memergoki mereka. Sekarang dia bingung mau tinggal dimana. Sementara ini dia menumpang di rumah temannya. Tidak mungkin kan dia berlama-lama tinggal di sana, makanya mas putuskan untuk mengabulkan keinginannya itu," jelas Yanto.

Viana terdiam. Dia melemparkan pandangan ke arah lain. Jujur, dia sangat keberatan akan keputusan suaminya itu mengingat hubungannya dengan Runi yang merupakan adik iparnya bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Runi adalah perempuan yang sombong karena merasa dirinya orang kaya. Oleh karena itu, Viana merasa tidak cocok kalau Runi harus tinggal serumah dengan mereka.

Memang, suami Runi yang bernama Andri adalah orang kaya, pemilik sebuah showroom mobil yang terkenal di Kota A, sedangkan Yanto hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan yang tidak terlalu besar. Rumah yang mereka tempati saat ini pun hanya rumah sewa karena mereka belum mampu membeli rumah sendiri. Yanto dan Viana telah menikah selama lima tahun dan berdomisili di Kota U, tapi sayangnya mereka belum dikaruniai seorang anak. Namun, hal ini tidak merenggangkan hubungan diantara keduanya karena mereka menyerahkan semuanya pada Yang Di Atas. Lagipula, mereka sudah pernah tes kesuburan dan hasilnya, mereka berdua dinyatakan subur. Jadi, mereka memilih untuk berpasrah saja, menunggu Sang Pencipta mempercayakan seorang anak.

Yanto dan Viana, mereka berdua berasal dari keluarga sederhana dan sudah yatim piatu. Dulunya Viana dan orang tuanya tinggal di Kota J. Viana adalah anak tunggal, sedangkan Yanto tinggal di Kota U dan dia mempunyai seorang adik perempuan, bernama Runi.

Kedu orang tua Viana meninggal pada saat dia berusia empat belas tahun karena kecelakaan lalu lintas. Berhubung orang tua Viana adalah seorang perantauan di kota itu, maka dia tidak punya sanak saudara di sana. Viana kemudian diasuh oleh salah seorang tetangganya yang baik yaitu Bu Resti yang kebetulan tidak mempunyai anak, bahkan sekolahnya pun dibiayai oleh Bu Resti meskipun hanya sampai SMA saja. Namun, Viana sudah sangat bersyukur dan dia pun cukup tahu diri untuk tidak merepotkan lagi orang tua angkatnya itu.

Sedangkan Yanto, ayahnya telah tiada karena mengalami kecelakaan kerja pada saat dia berusia sepuluh tahun dan Runi berusia tiga tahun. Untuk membiayai hidup mereka sehari-hari, ibu mereka bekerja sebagai tukang masak di sebuah rumah makan dengan gaji tidak terlalu besar.

Menyadari kesulitan ibu Yanto dalam membiayai hidup mereka bertiga, seorang saudara dari pihak ayah Yanto yang tinggal di Kota A berinisiatif untuk mengasuh salah satu dari mereka dan pilihan mereka jatuh kepada Runi. Meski berat, ibu mereka mencoba berpikir realistis bahwa dia tidak akan sanggup menghidupi kedua anaknya itu dengan gajinya yang tidak seberapa sehingga dia merelakan Runi diasuh oleh keluarga tersebut. Toh, mereka juga bukan orang lain, masih ada hubungan saudara dengan Runi, begitu pikir ibunya pada saat itu. Maka jadilah Runi pindah ke kota A mengikuti orang tua angkatnya. Di situlah nantinya Runi bertemu dengan Andri yang kelak menjadi suaminya.

Bab 2

Setamat SMA, Viana memutuskan untuk mencari pekerjaan dan dia diterima bekerja di sebuah minimarket. Yanto pun setamat sekolah juga memutuskan langsung untuk bekerja. Setelah mencoba melamar ke sana sini, akhirnya Yanto diterima bekerja di sebuah perusahaan yang produksi makanan kemasan ringan sebagai staf administrasi dan hal tersebut sangat disyukurinya karena dengan demikian ibunya tidak perlu lagi bekerja mencari nafkah di usia yang mulai menjelang senja, sudah ada dirinya kini yang menjadi tulang punggung keluarga.

Pertemuannya dengan Viana untuk pertama kali terjadi di minimarket tempat Viana bekerja yaitu ketika Yanto berkunjung ke Kota J. Waktu itu dia sedang cuti dan diajak oleh ibunya untuk berkunjung ke Kota J guna menjumpai seorang teman lamanya di sana.

Di sana, Yanto menyempatkan diri untuk berbelanja oleh-oleh khas Kota J. Saat dia ingin membeli air mineral, dia masuk ke minimarket tempat Viana bekerja dan secara kebetulan, Viana lah yang bertugas sebagai kasir saat itu.

Pertemuan pertama mereka begitu berkesan bagi Yanto sehingga dia memutuskan untuk 'mengejar' Viana dan bak gayung bersambut, Viana pun menerima cinta Yanto. Setelah berpacaran jarak jauh selama dua tahun, mereka memutuskan untuk menikah.

Pada awalnya Viana merasa ragu untuk menerima lamaran Yanto karena melihat sikap Runi yang kentara sekali tidak menyukainya di awal pertemuan mereka.

Sosok Runi yang pada waktu itu sudah berpacaran dengan Andri, terkesan sombong dan angkuh karena dia selalu dimanjakan oleh orang tua angkatnya yang memang termasuk orang berada dan itu membuat Viana merasa tidak nyaman.

Namun, pada akhirnya Yanto berhasil meyakinkannya sehingga Viana setuju untuk menikah. Setelah menikah, pria itu memboyong Viana ke kota asalnya yaitu Kota U dan mereka memutuskan mengontrak rumah sembari menabung untuk kelak dapat membeli rumah sendiri. Selama tinggal di Kota U, Viana tidak pernah lupa untuk tetap berkomunikasi dengan orangtua angkatnya melalui video call. Sampai kapan pun, Viana tak akan pernah bisa melupakan kebaikan Bu Resti dan suaminya yang telah bersedia mengasuhnya sampai dewasa sehingga dia tidak menjadi anak yang terlantar

Sedangkan Runi kembali tinggal bersama ibunya atas permintaan Yanto yang khawatir ibunya tinggal sendirian di rumah dan tidak ada yang menemani.

Awalnya Runi menolak karena dia tahu kalau dia tinggal kembali bersama ibu kandungnya, dia tidak akan bisa lagi hidup mewah seperti pada waktu dia bersama orang tua angkatnya dan dia juga tidak mau jauh-jauh dari Andri. Namun, untungnya pada saat itu orang tua angkat Runi juga berniat pindah ke kota H, mengikuti ajakan putranya yang sudah menikah dengan putri salah seorang pejabat di daerah itu sehingga mereka ikut membantu membujuk Runi untuk kembali ke rumah ibu kandungnya. Andri pun juga berusaha meyakinkan Runi bahwa mereka masih tetap bisa menjalani hubungan jarak jauh dan Andri juga berjanji bahwa selama mereka terpisah, dia akan selalu setia kepada Runi. Akhirnya, Runi pun terpaksa menyetujuinya.

Selama kurun waktu tersebut, Runi hanya sesekali saja berkunjung ke kontrakan Yanto. Itu pun demi memenuhi permintaan sang ibu yang memintanya menemani beliau ke sana. Alasan utamanya adalah karena rumah Yanto sempit dan dia merasa gerah berlama-lama di sana.

Saat bertemu pun, Runi kerap melontarkan kalimat sindiran untuk Viana. Ingin rasanya Viana menampar mulut adik iparnya yang tidak punya etika dalam berkata-kata itu, tetapi ditahannya demi menghormati ibu mertuanya yang selama ini sangat baik kepadanya.

Selang dua tahun setelah pernikahan Yanto, Runi pun melangsungkan pesta pernikahan yang megah dengan Andri. Setelah menikah, mereka pindah ke Kota A dengan memboyong serta ibu Runi bersama mereka. Hal ini merupakan permintaan dari Andri sendiri yang merasa iba melihat ibu mertuanya hanya tinggal seorang diri saja di rumah dan juga tidak ingin membebani Yanto yang dia tahu mempunyai ekonomi yang pas – pasan meskipun dari Yanto sendiri tak merasa keberatan jika ibunya tinggal bersamanya. Selagi dia mampu, toh tidak ada masalah, begitulah pemikiran Andri dan rumah yang selama ini ibu Yanto dan Runi tempati disewakan kepada orang lain dengan pembayaran sewa secara bulanan.

Bab 3

Sebenarnya pernah terbersit keinginan Yanto untuk pindah ke rumah ibunya daripada harus mengontrak terus, tetapi faktor jarak ke tempat kerjanya menjadi pertimbangan bagi Yanto. Jarak rumah ibunya ke kantor lebih jauh daripada jarak rumah yang ditempatinya saat ini sehingga untuk mengantisipasi agar tidak terlambat datang ke kantor dan juga untuk menghemat ongkos bensin, maka Yanto terpaksa mengurungkan niatnya itu.

Namun, sebagaimana kata pepatah, 'untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak', sebuah musibah menghampiri mereka beberapa bulan setelah ibu mereka pindah ke Kota A. Rumah yang mereka sewakan dilahap si jago merah karena si penyewanya lupa mematikan kompor saat mereka pergi meninggalkan rumah untuk bertamasya ke sebuah tempat wisata. Berhubung rumah itu tidak ada asuransinya, maka mereka tidak mendapatkan sepeserpun ganti rugi atas peristiwa tersebut. Ingin meminta pada si penyewa, Yanto tidak sampai hati karena mereka pun juga mengalami kerugian dimana semua barang – barang mereka termasuk surat – surat penting yang ada di dalam rumah hangus terbakar tanpa sisa.

Ibu Yanto yang mendapat kabar tersebut menjadi sangat shock. Pasalnya rumah itu merupakan peninggalan almarhum ayah Yanto dan Runi, rumah yang penuh kenangan bagi ibu mereka. Karena terlalu larut dalam kesedihan, ibu Yanto akhirnya jatuh sakit dan setelah dirawat selama satu bulan di rumah sakit, beliau pun akhirnya menghembuskan nafas terakhir dan menyusul sang suami ke alam baka.

Kepergian sang ibu untuk selamanya itu, membuat Yanto dan Viana sangat bersedih, tapi yang mengherankan Runi malah bersikap biasa saja. Biarpun nampak kesedihan di wajahnya, tapi tidak seperti Yanto dan Viana yang begitu terpukul dengan kejadian itu.

Semenjak kepergian sang ibu, kesombongan Runi kian menjadi-jadi. Dengan menyandang status sosial sebagai orang kaya, Runi memandang rendah kepada Yanto dan Viana bahkan selama menikah dengan Andri, dia sama sekali tak mau melakukan kontak dengan Yanto dengan alasan tidak level.

Lalu sekarang, tiba-tiba wanita sombong itu ingin tinggal di rumah mereka. Apa dia tidak salah dengar? Sungguh, hal yang sama sekali di luar dugaan Viana.

"Gimana, Dek?" tanya Yanto, membuyarkan lamunan Viana tentang Runi.

Viana menatap Yanto sejenak sebelum membuka suara.

"Tapi Mas, kamu tahu sendiri kan kalau Runi itu orangnya seperti apa? Maaf Mas, aku bukan bermaksud untuk menjelekkan adikmu. Hanya saja dari apa yang kita alami selama ini, nyata sekali bahwa dia tak pernah menghargai kita sebagai kakak dan kakak iparnya. Kalau seandainya dia tinggal di sini, bisa-bisa aku dan dia tiap hari cekcok dan itu jelas akan membuat aku merasa tidak nyaman tinggal di rumah, Mas," Viana mencoba menolak secara halus dengan mengungkapkan fakta yang sudah terjadi antara mereka dengan Runi serta kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.

Yanto nampak tercenung sesaat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Viana, tetapi hati kecilnya sebagai seorang kakak tak bisa menutup mata atas apa yang menimpa adiknya itu terlebih lagi saat ini mereka berdua adalah anak yatim piatu yang tentunya harus saling dukung satu sama lain.

"Mas tahu itu, Dek. Namun, gimana pun juga Runi itu tetap adik mas. Mas tidak bisa lepas tangan begitu saja. Apalagi sebelum meninggal, ibu mengamanatkan mas untuk ikut menjaga Runi karena ibu khawatir Runi akan mendapat masalah karena sifat jeleknya itu. Dulu dia masih ada suami yang menjaganya sehingga mas tidak begitu khawatir, tetapi sekarang dia udah cerai, otomatis mas lah yang menjadi tempatnya bersandar sekarang. Vi, mas mohon, kesampingkan dulu rasa tidak sukamu pada Runi. Siapa tahu, sekarang Runi sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau misalnya kamu masih tersinggung atas sikap Runi di masa lampau, izinkan mas mewakilinya meminta maaf kepadamu," ucap Yanto panjang lebar.

Viana tak menggubris perkataan Yanto. Batinnya masih sibuk berperang antara menerima atau tidak.

"Dek, gimana? Boleh ya, Runi tinggal di sini?" bujuk Yanto

Viana melirik suaminya, sepasang matanya menatap tajam iris hitam pekat milik sang suami.

"Atau kalau kamu keberatan, biar mas kontrakin aja rumah untuk Runi," ujar Yanto melihat sang istri tak kunjung memberi jawaban.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED