"Mbak, kalau nyuci baju yang bener, dong! Lihat, gaun mahalku jadi rusak gara-gara kamu cuci pakai mesin,” marah Rara kepada Wati.
Wati tertunduk dalam, tak berani menatap apalagi membalas ucapan Rara.
“Lihat, nih! Manik-manik kristalnya jadi copot semua. Rusak gaun mewahku. Kamu mana bisa ganti,” ejek Rara lagi.
“Maaf, Ra. Aku nggak sengaja,” lirih sekali Wati menjawab.
Nada suaranya terdengar ketakutan, bukan merasa bersalah.
“Maaf, maaf! Enak saja minta maaf. Apa dengan maaf gaunku bisa kembali?” cibir Rara.
“Biar nanti aku jahitkan lagi manik-manik yang lepas dari gaunmu, ya. Jangan beritahu Dedy,” bujuk Wati semakin lirih.
Wati paling takut bila Dedy memarahinya karena telah membuat kesal Rara.
“Memangnya kamu bisa beli manik-manik kristal yang sama? Ini kristal Swarovski, tahu!” bentak Rara lagi.
Wati hampir menangis. Andaikan ia punya keterampilan, tentu ia bisa mencari kerja untuk mendapatkan uang. Dengan uang itu ia bisa keluar dari rumah ini, tidak akan lagi dia diperlakukan menjadi babu oleh madu seperti ini.
“Ada apa ini, pagi-pagi kok sudah ribut-ribut?” tanya Dedy yang tiba-tiba muncul.
Dedy sudah mengenakan kemeja yang rapi dengan celana kain. Bahkan wajahnya pun sudah dicukur rapi. Dedy terlihat tampan. Penampilannya tidak lagi mirip kuli angkut.
Semenjak menikah dengan Rara, jabatan Dedy sudah naik menjadi pengelola toko kelontong Rara. Rara menjadi kasir, memegang kunci kotak uang dan Dedy menangani barang-barang yang datang dari supplier.
“Ini lho, Mas. Mbak Wati nyuci bajuku saja rusak. Baju halus dicuci pakai mesin. Huh, nggak becus!” semprot Rara dengan wajah bersungut-sungut.
Dedy menatap Wati.
“Ma-maaf, Mas. Aku nggak sengaja,” kata Wati dengan wajah ketakutan.
Dedy menghela napas.
“Mulai sekarang semua baju Rara kamu cuci tangan saja. Biar bajuku saja yang dicuci pakai mesin,” kata Dedy.
“Ya, Mas,” sahut Wati masih dengan kepala tertunduk.
“Mana dia nggak mungkin bisa ganti,” sungut Rara seraya melemparkan baju di tangannya ke wajah Wati, membuat Wati gelagapan.
“Sudah, Sayang. Jangan marah-marah terus, dong. Nanti hilang cantiknya,” rayu Dedy seraya mencolek dagu istri keduanya.
Dedy merangkul bahu Rara dan mengajaknya menjauhi ruang belakang.
“Kamu sudah sarapan, belum? Ayo kita sarapan dulu, lalu berangkat ke toko,” ajak Dedy lembut.
Tinggal Wati yang berdiri sendiri dengan hati teriris tanpa penghiburan. Air matanya jatuh tanpa ada yang melihat.
Tak terdengar jawaban Rara, hanya piring beradu sendok yang terdengar. Dedy dan Rara sarapan pagi berdua dengan makanan yang dimasak oleh Wati. Wati sendiri tidak diajak makan oleh mereka berdua. Rara selalu melarang Wati makan bersama di meja makan. Wati hanya diizinkan makan di dapur seorang diri.
Pada malam harinya, Dedy mendatangi Wati di kamarnya. Ia juga langsung mengunci pintu kamar setelah masuk.
“Aku tidur di sini malam ini,” kata Dedy.
Wati terkejut. Tidak biasanya Dedy mau tidur di kamarnya yang sempit dan lebih mirip gudang. Selain kamarnya memang tidak nyaman, Rara jarang mengizinkan Dedy mengunjungi Wati.
“Rara?” tanya Wati dengan bola mata membulat.
“Dia tidur karena kecapekan. Padahal malam ini aku sedang ingin,” bisik Dedy di telinga Wati.
Dedy langsung meraih tubuh Wati dan memeluknya, membuat Wati gemetaran. Lama tidak disentuh membuat Wati sudah lupa rasanya.
“Tapi aku tidak pandai memuaskanmu, tidak seperti Rara,” lirih Wati dengan hati pedih. Ia teringat akan ucapan Dedy pada malam sebelumnya.
“Siapa bilang? Perempuan itu nggak perlu berbuat apa-apa lelaki pasti bisa puas,” bisik Dedy sambil menciumi telinga Wati.
Wati terpelongo. Jawaban Dedy berbeda sekali dengan ucapannya kemarin malam. Tangan Dedy berusaha membuka baju Wati, tapi Wati menahan tangan itu.
“Apa kamu cinta aku, Mas?” tanya Wati seraya menatap mata Dedy.
“Tentu aku cinta kamu. Kenapa kamu tanya begitu?” Tangan Dedy berusaha membuka baju Wati lagi, tapi Wati menepis tangan Dedy.
“Kalau begitu kenapa kamu membiarkan aku diperlakukan begini oleh Rara?” tanya Wati pelan.
Dedy mendengkus. Ia menghentikan usahanya dan duduk di atas kasur tipis.
“Semua ini aku lakukan karena aku cinta kamu. Rara itu kaya raya. Dia juga sedang sakit berat, hidupnya mungkin tinggal sebentar. Setelah dia pergi, semua hartanya bisa kita miliki. Saat itu, hanya ada aku dan kamu,” bisik Dedy seraya menatap Wati tepat di manik mata.
“Aku membiarkan dia memperlakukanmu seperti babu, agar dia tidak curiga dengan rencanaku. Percayalah, hanya kamu yang aku cinta,” tambah Dedy.
“Jadi kamu betul-betul tidak cinta dia, Mas?” tegas Wati.
“Pasti. Rara yang melamarku, bukan aku yang melamarnya. Aku ini lelaki, suka memburu dan bukan barang buruan,” jawab Dedy lagi.
Wati terdiam. Apakah Dedy jujur saat ini ataukah ucapannya kepada Rara yang betul?
Diamnya Wati dimanfaatkan oleh Dedy. Cepat Dedy meraih tubuh Wati. Wati yang kebingungan membiarkan dirinya malam itu diberi nafkah batin.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Wati bangun dengan perasaan yang bersemangat. Setelah diberi nafkah batin semalam, ia merasa kembali utuh sebagai perempuan.
Wati hendak bangkit untuk mengerjakan tugasnya sehari-hari setiap pagi. Ia melirik Dedy yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Saat hendak bangkit untuk pergi, tiba-tiba tangan Dedy mencekal tangan Wati.
“Ah!” Wati terpekik kecil, tak menyangka bahwa Dedy sudah bangun.
Lekas-lekas Wati menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan, takut suaranya terdengar oleh Rara di kamar seberang.
“Aku kira kamu masih tidur, Mas,” bisik Wati.
Dedy tidak menjawab. Ia menarik Wati keras-keras sampai Wati tersungkur ke dalam pelukannya. Wati gelagapan.
“Nanti malam kita ulangi lagi,” bisik Dedy.
Wati tertegun. Dedy bangun dan duduk.
“Kenapa tidak sekarang saja?” pancing Wati.
“Nanti Rara keburu bangun. Dia pasti marah aku ada di kamarmu malam ini,” balas Dedy.
Dedy lalu berdiri dan berlalu pergi. Wati mendengar Dedy membuka pintu kamar di seberangnya, lalu masuk dan mengunci pintu. Dedy pindah tidur ke kamar Rara.
Dengan perasaan kecewa, Wati juga berdiri dan menyeret langkah menuju dapur. Ia harus memasak dan membersihkan rumah seperti hari-hari sebelumnya.
Pada pukul 8 pagi, Rara keluar dari kamarnya. Tidak biasanya Rara bangun sesiang ini. Apakah Rara sakit ataukah Dedy yang menahannya untuk bangun? Wati diliputi perasaan cemburu.
“Mbak, sarapanku mana?” teriak Rara begitu keluar dari dalam kamar.
Wati yang sedang mencuci peralatan bekas memasak, terlonjak. Ia cepat-cepat membasuh tangan yang dipenuhi busa sabun cuci piring, lalu lekas menghampiri Rara di depan kamarnya.
Penampilan Rara acak-acakan. Dari wajahnya terlihat jelas bahwa dia baru bangung tidur. Rambutnya yang keriting panjang juga terlihat belum disisir. Sosoknya sangat mirip dengan singa baru bangun tidur.
Rara tidak ada cantik-cantiknya sedikit pun di dalam pandangan Wati. Mengapa Dedy mau menikahinya? Betulkah Dedy menikahinya hanya karena harta?
“Mau aku ambilkan sarapan?” tanya Wati dengan suara yang datar.
“Iya. Bawakan ke kamar. Badanku nggak enak,” ketus Rara. Tanpa menunggu jawaban Wati, Rara masuk kembali ke dalam kamarnya.
Sebelum pintu kamar ditutup di hadapan Wati, ia masih melihat Dedy yang tidur bertelanjang dada di ranjang. Tubuhnya hanya ditutupi selimut dari pinggang ke bawah.
Hati Wati serasa diremas. Wati mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan menuju ruang makan dengan perasaan hati yang panas karena cemburu.
Wati mengambilkan sepiring nasi goreng dan lauk sosis dengan hati yang galau. Ingin rasanya ia pergi dari rumah ini, tapi tak berdaya. Ia takut apabila kabur dari rumah ini, maka ia akan terlunta-lunta di jalanan. Ia tidak punya keterampilan apa-apa.
Sebetulnya, Wati punya ijazah SMU. Tapi ijazah itu ia titipkan kepada Bu Nara, ibu pengurus panti tempatnya dulu dibesarkan. Wati melakukan itu karena tidak berpikir bahwa lembaran itu akan berguna karena ia tidak berniat bekerja setelah menikah.
Wati menyangka hidupnya akan lebih mudah setelah menikah. Nyatanya kehidupannya menjadi lebih rumit dan morat-marit. Apalagi saat menikah Dedy belum punya pekerjaan tetap.
Apabila sudah begini, menyesal rasanya dulu Wati menikah cepat-cepat. Lulus SMU dia langsung menerima lamaran Dedy yang berumur dua tahun lebih tua daripada dirinya. Mereka sudah berpacaran selama tiga tahun dan Dedy terus mendesaknya untuk menikah.
Wati mengantarkan sepiring nasi itu ke kamar Rara yang tertutup. Saat berada di depan pintu kamar, kembali Wati mendengar suara-suara dari kamar madunya. Suara desah yang diiringi cekikan tertahan.
Selama beberapa detik, Wati tidak tahu hal yang harus dilakukannya. Apakah ia sebaiknya mengetuk pintu kamar untuk memberikan sarapan yang diminta Rara? Ataukah sebaiknya ia pergi saja?
“Sudah, Mas. Sudah,” Wati mendengar bisik-bisik suara Rara.
“Kamu harus menebus kesalahanmu semalam karena tidur meninggalkanku,” balas Dedy juga berbisik.
“Aku sedang nggak enak badan,” protes Rara lagi.
“Akan aku bikin enak,” balas Dedy.
Wati tak tahan lagi mendengar itu semua. Air mata kembali mengalir di pipi. Ia berbalik pergi, mengembalikan piring nasi ke meja makan.
Di dapur, Wati menangis sesenggukan. Mengapa hidupnya jadi begini? Tiba-tiba Wati ingin sekali bertemu dengan Bu Nara di panti.
Akhirnya Rara dan Dedy keluar dari dalam kamar mereka. Saat keluar kamar, Rara dan Dedy sudah selesai mandi dan keramas. Mereka bersama-sama menuju ruang makan sambil bergandengan tangan, mesra sekali.
Tampaknya Rara sudah lupa akan perintahnya membawakan sarapan ke kamarnya. Terbukti, ia tak mencari Wati dan memarahinya. Atau jangan-jangan semua itu hanya akal bulus Rara untuk menunjukkan kepada Wati bahwa dialah istri yang diinginkan Dedy?
Wati sendiri tidak ada di ruang makan maupun dapur saat Dedy dan Rara masuk ke ruang makan. Ia sibuk menjemur baju yang baru dicucinya di halaman belakang rumah.
Setelah selesai menjemur, Wati masuk kembali ke dalam rumah dan melihat Dedy dan Rara sedang sarapan di meja makan. Tatkala melihat Wati, Rara langsung berteriak,
“Mbak, ambilkan minum buatku dan Mas Dedy!”
Tanpa banyak bicara, Wati mengambil dua buah gelas lalu mengisinya dengan air dari dispenser. Saat memberikan dua gelas itu ke meja makan, Rara sedang bercanda mesra dengan Dedy.
“Mas, nakal, ah,” Rara mencubit lengan Dedy yang berada di sampingnya.
Rara sama sekali tak memedulikan kehadiran Wati yang baru masuk. Seolah-olah ia sengaja hendak memanas-manasi Wati.
“Kamu lebih nakal,” balas Dedy santai. Dedy pun tidak memandang sedikit pun ke arah Wati. Sikapnya sama sekali berbeda dengan saat tadi malam di kamar Wati.
Betulkah ia mencintai Wati seperti yang dikatakannya?
Sementara itu, ekspresi Wati biasa-biasa saja. Seakan-akan ia tak terpengaruh oleh pameran kemesraan di hadapannya. Tak seorang pun tahu, perasaan Wati di dalam dada seperti lava panas yang menggelegak di perut gunung.
Usai meletakkan dua gelas di meja, Wati pergi kembali tanpa kata. Ia lebih memilih menyapu teras di depan rumah, daripada harus mendengar obrolan Rara dan Dedy di dalam rumah. Setidaknya, di teras ia bisa menghirup udara segar untuk melegakan sempitnya perasaan.
Teras sudah hampir selesai disapu oleh Wati, saat Dedy dan Rara keluar rumah bersama-sama. Penampilan mereka sudah rapi, siap berangkat ke toko bersama-sama. Romantis. Sikap mereka berdua membuat Wati merasa bahwa dirinyalah tokoh jahat di dalam kisah ini.
“Ya ampun, aku ketinggalan dompet. Tunggu sebentar, Mas,” cetus Rara seraya berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wati untuk mendekati Dedy yang sudah siap duduk di sepeda motor Ninja yang dibelikan Rara untuknya.
“Mas, aku kangen Bu Nara,” kata Wati blak-blakan.
“Lalu?” sahut Dedy seraya mengerutkan dahi.
“Aku ingin mengunjungi beliau, Mas. Mas juga sudah lama tidak bertemu Bu Nara, kan?” kata Wati pelan.
“Aku masih sibuk. Kapan-kapan saja kita ke sana,” kilah Dedy.
Belum sempat Wati menjawab lagi, Rara sudah kembali keluar rumah. Tatapan matanya terlihat tidak suka saat mendapati Wati berbicara di dekat Dedy. Wati mundur, memberikan tempat buat Rara untuk naik ke boncengan sepeda motor Dedy.
“Kami mau pergi. Jangan lupa antar makan siang buat kami dan pegawai,” ketus Rara.
Salah satu tugas Wati mengantarkan makan siang buat Dedi dan Rara, juga beberapa pekerja toko yang berbilang tak sampai lima orang. Rara memerintahkan Wati untuk memasak makan siang bagi para pegawainya, agar dia tak perlu memberi uang makan bagi para pekerja itu.
Dedy dan Rara berlalu, meninggalkan Wati yang menatap dua sejoli itu pergi. Sambil memandang kepulan asap dari sepeda motor Dedy yang meraung pergi, Wati menentukan sikap. Ia berbalik masuk kembali ke dalam rumah, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Saat tadi Dedy menolak permintaannya untuk mengunjungi Bu Nara, Wati sudah tahu bahwa Dedy tak akan pernah mengizinkannya menemui Bu Nara. Untuk menemui Bu Nara, ia harus melakukannya sendiri secara diam-diam.
Tekad Wati sudah bulat. Ia harus menemui Bu Nara. Ia ingin mengambil ijazahnya yang pernah dititipkan dulu. Ia akan melamar pekerjaan dengan ijazah itu. Pekerjaan apa saja yang penting ia punya penghasilan sendiri. Wati tak berkeberatan meskipun hanya menjadi pelayan di warung makan atau buruh pabrik yang hanya bertugas buang benang baju-baju produksi konfeksi.
Dari tetangga di rumah gubuknya dulu Wati mengetahui, bahwa gaji pelayan warung makan dan buruh pabrik itu kecil, sementara jam kerjanya sangat panjang dan melelahkan.
Tapi sekarang Wati tidak takut untuk bekerja keras, paling tidak ia digaji. Tidak seperti sekarang, ia mengerjakan semua pekerjaan rumah tapi hanya diganjar makan sehari-hari. Suami pun harus berbagi, itu juga ia jarang mendapatkan jatah.
Wati tak ingin lagi dihina Rara karena tak punya uang dan tak punya pekerjaan. Kalau ia keluar dari rumah ini, Wati ingin pergi dalam keadaan mulia dan tak lagi terhina.
Satu-satunya hal yang masih mengganjal pikiran Wati hanyalah ia masih berstatus sebagai istri Dedy. Wati masih penasaran, apakah betul Dedy masih mencintainya? Buktinya Dedy tak mau menceraikannya.
Tak bisa Wati pungkiri, ia masih mencintai Dedy. Mereka sudah pacaran selama tiga tahun sebelum Dedy melamarnya. Cinta itu juga yang membuat Wati mau menikah dengan Dedy meskipun Dedy belum punya pekerjaan tetap. Sekarang baru terasa oleh Wati, betapa gegabahnya dulu keputusannya.
Apakah betul Dedy menikahi Rara agar mereka bisa hidup bahagia berdua? Betulkah Rara sakit parah dan akan segera meninggal? Wati diombang-ambingkan perasaan. Ia kebingungan.
Niat Wati untuk menemui Bu Nara semakin mantap. Ia harus meminta pendapat Bu Nara tentang banyak hal. Ia harus menemui Bu Nara.