Wati tiba-tiba terjaga dari tidur. Tenggorokannya terasa amat kering. Ia menyingkapkan selimut dan menurunkan kaki ke lantai.
Pelan-pelan ia membuka pintu kamar agar tidak terdengar deritan dari engsel pintu yang belum pernah diminyaki. Ia tidak ingin membuat gaduh sehingga membangunkan Dedy yang tengah tidur dengan istri keduanya di kamar seberang.
Wati hendak berjalan menuju ke ruang makan untuk mengambil air minum. Ketika kaki Wati melewati kamar madunya, terdengar suara-suara mencurigakan dari dalam sana. Ia ingin tidak mendengarkan, tapi penasaran. Akhirnya Wati berhenti di depan pintu kamar madunya.
“Kamu hebat, Mas. Selalu perkasa,” bisik Rara dari dalam kamar.
“Kamu juga hebat, Sayang. Tidak seperti Wati yang tidak tahu caranya melayani suami di kasur,” balas Dedy juga berbisik.
Meskipun mereka berbisik-bisik, tapi sunyinya suasana malam membuat bisikan itu terdengar dengan baik oleh telinga Wati yang berada di luar pintu kamar.
Wati mengepalkan tangan yang gemetar. Dihina suami sendiri di depan madu, siapa yang tidak geram? Padahal ia tak pernah menolak melayani Dedy di kasur dalam kondisi apapun. Dedy minta permainan dengan gaya apapun juga tidak pernah ia tolak. Dedy sudah berbohong kepada Rara.
“Kenapa kamu nggak menceraikan dia saja sih, Mas?” bisik Rara lagi.
“Buat apa? Wati bisa membantumu mengerjakan pekerjaan rumah, jadi nggak perlu repot-repot membayar pembantu,” sahut Dedy masih berbisik.
Rara terkikik kecil. Suara yang keluar dari mulutnya seperti ditahan dengan tangan.
“Betul juga. Kamu pintar, Mas,” ujar Rara.
“Iya, dong. Aku nggak mau tangan halusmu ini kasar karena mencuci dan mengerjakan pekerjaan rumah lain. Biar tangan ini membelai-belaiku saja,” imbuh Dedy.
“Tapi, bagaimana kalau nanti Wati mengadu kepada keluarganya kalau di sini dijadikan babu?” tanya Rara cemas.
“Nggak usah khawatir. Dia itu yatim piatu. Nggak punya keluarga lagi buat tempat mengadu,” jawab Dedy tenang.
Di balik pintu, Wati menggigit bibirnya dengan perasaan tertusuk. Air mata turun mengalir di pipi. Ia membalik badan, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dengan langkah hati-hati seperti keluarnya tadi. Rasa hausnya sudah hilang.
Wati menangis diam-diam di balik bantal. Sengaja menutupi isaknya agar tidak ketahuan. Ternyata sebusuk itu Dedy yang pernah memintanya menjadi istri.
Dulu, Dedy melamarnya sambil berlutut seperti adegan di film-film romantis. Ternyata semua itu hanya siasat demi mendapatkan yang diinginkannya. Setelah manisnya didapat, sepah dibuang.
Ke mana janji Dedy dulu saat meminta izinnya untuk menikah lagi? Janji bahwa hidup mereka akan lebih baik setelah Dedy menikah dengan Rara. Ternyata semua itu hanya pemanis bibir. Nyatanya, semua itu hanya taktik licik untuk mendapatkan izin Wati saja.
Wati teringat dulu saat mereka baru pertama kali menikah. Dedy masih bekerja serabutan, sementara Wati mengurus rumah tangga dan tidak bekerja di luar rumah. Terkadang Dedy mendapatkan uang, terkadang tidak. Oleh karena itulah rezeki yang didapat pada hari ini harus dapat disisihkan untuk esok hari. Berjaga-jaga kalau besok tidak ada lagi uang yang didapat.
Berlauk makan ikan asin dan sambal sudah jadi makanan yang sering dijalani. Satu hari bisa masak saja Wati sudah sangat bersyukur. Sering kali terjadi, satu butir telur dijadikan telur dadar dengan menambahkan air dan tepung terigu yang banyak agar dapat dimakan berdua.
Oleh karena itulah, saat mendapatkan pekerjaan sebagai kuli angkut barang di toko kelontong di pasar, Dedy maupun Wati sama-sama bersorak gembira.
Toko kelontong itu dimiliki oleh seorang janda bernama Rara. Usia Rara lebih tua lima tahun daripada Dedy, tapi wajahnya tidak terlihat lebih tua dari Dedy. Banyak menghabiskan waktu kerja di bawah terik sinar matahari telah membuat wajah Dedy lekas keriput akibat terbakar matahari.
Semenjak saat itu, kehidupan mereka menjadi jauh lebih baik. Gaji yang diterima oleh Dedy memang tidak besar, tapi dengan adanya kepastian uang setiap bulan maka Wati bisa berhemat dan mengatur keuangan.
Akan tetapi, belum lama mengecap rasa tenteram dalam berumah tangga, cobaan sudah datang lagi. Pada suatu hari, Dedy mengatakan niatnya untuk menikah lagi. Tidak main-main, wanita yang ingin dinikahinya adalah Rara bosnya sendiri.
“Kalau aku menikahi Rara yang kaya, kita tidak akan hidup susah seperti ini lagi. Nggak perlu mikir lagi harus berhemat uang buat makan sampai akhir bulan,” bujuk Dedy.
“Tapi, Mas. Apa tidak ada cara selain menikah lagi?” tanya Wati yang berkeberatan.
“Apa kamu cemburu? Kamu pikir aku tidak cinta lagi kepadamu?” tanya Dedy.
“Jelas, Mas. Siapa wanita yang ingin dimadu? Siapa wanita yang tidak cemburu?” jawab Wati.
“Kamu jangan cemas, Wati. Meskipun aku menikahi Rara, tapi cinta sejatiku tetap kamu,” tambah Dedy lagi, tangannya mengelus kepala Wati.
Ya, itu perkataan Dedy dulu. Tapi sekarang? Apa yang didengar Wati tadi di kamar madunya sudah menghancurkan perasaan Wati.
Wati menangis tersedu-sedu. Apabila hatinya terbuat dari kaca, maka pastilah bentuknya sudah hancur berkeping-keping seperti kaca yang dibanting ke lantai. Tega sekali Dedy berkata begitu kepada madunya.
Apakah dulu dia dilamar hanya untuk dimanfaatkan dan disia-siakan? Jahat sekali. Wati tak menyangka ada manusia berhati se-tan macam Dedy. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Wati menghapus air mata. Ia duduk memeluk lutut di kasur busa tipis di dalam kamar. Sementara tulangnya masih bisa merasakan kerasnya lantai saking tipisnya alas tidurnya, Rara di kamar seberang tidur nyaman dengan spring bed kualitas nomor satu.
Tapi dia bisa apa? Rumah besar ini milik Rara. Semua isinya pun milik Rara. Saat memasuki rumah ini, bisa dikatakan Wati hanya membawa badan berbalut pakaian lusuh. Wati masih ingat pandangan mata menghina dari sorot mata Rara saat itu.
“Ini istri pertamamu, Mas?” tanya Rara kepada Dedy.
“Iya, Sayang. Terima dia tinggal di sini, ya. Jangan usir dia, kasihan. Dia tidak punya keluarga dan siapa-siapa lagi selain aku,” pinta Dedy saat itu.
Rara menatap Wati dari ujung kepala hingga ujung kaki. Selama memandang, mulut Rara tak berhenti cemberut dan mencebik. Wati sendiri hanya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata madunya. Dari segi apapun, ia kalah pamor dibandingkan madunya yang kaya.
“Ya, sudah! Aku terima dia di sini. Tapi jangan mimpi di sini dia bakal ongkang-ongkang kaki,” ketus Rara.
“Jangan khawatir, Sayang. Wati ini orangnya rajin. Dia juga pandai memasak dan berbenah. Dia tidak akan merepotkanmu,” kata Dedy halus membujuk.
“Kita lihat saja nanti. Ingat, kamu tinggal menumpang di sini jadi harus tahu diri. Makan dan tinggal di sini jangan dianggap gratis,” sembur Rara lagi.
Wati mendengar suara ayam berkokok di luar jendela kamarnya. Hari sudah menjelang pagi. Wati beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah dapur. Ia akan mengerjakan tugas hariannya setiap pagi. Memasak makanan buat Dedy dan Rara, menyapu dan mengepel, mencuci piring dan mengelap perabotan rumah, juga mencuci dan menjemur pakaian.
"Mbak, kalau nyuci baju yang bener, dong! Lihat, gaun mahalku jadi rusak gara-gara kamu cuci pakai mesin,” marah Rara kepada Wati.
Wati tertunduk dalam, tak berani menatap apalagi membalas ucapan Rara.
“Lihat, nih! Manik-manik kristalnya jadi copot semua. Rusak gaun mewahku. Kamu mana bisa ganti,” ejek Rara lagi.
“Maaf, Ra. Aku nggak sengaja,” lirih sekali Wati menjawab.
Nada suaranya terdengar ketakutan, bukan merasa bersalah.
“Maaf, maaf! Enak saja minta maaf. Apa dengan maaf gaunku bisa kembali?” cibir Rara.
“Biar nanti aku jahitkan lagi manik-manik yang lepas dari gaunmu, ya. Jangan beritahu Dedy,” bujuk Wati semakin lirih.
Wati paling takut bila Dedy memarahinya karena telah membuat kesal Rara.
“Memangnya kamu bisa beli manik-manik kristal yang sama? Ini kristal Swarovski, tahu!” bentak Rara lagi.
Wati hampir menangis. Andaikan ia punya keterampilan, tentu ia bisa mencari kerja untuk mendapatkan uang. Dengan uang itu ia bisa keluar dari rumah ini, tidak akan lagi dia diperlakukan menjadi babu oleh madu seperti ini.
“Ada apa ini, pagi-pagi kok sudah ribut-ribut?” tanya Dedy yang tiba-tiba muncul.
Dedy sudah mengenakan kemeja yang rapi dengan celana kain. Bahkan wajahnya pun sudah dicukur rapi. Dedy terlihat tampan. Penampilannya tidak lagi mirip kuli angkut.
Semenjak menikah dengan Rara, jabatan Dedy sudah naik menjadi pengelola toko kelontong Rara. Rara menjadi kasir, memegang kunci kotak uang dan Dedy menangani barang-barang yang datang dari supplier.
“Ini lho, Mas. Mbak Wati nyuci bajuku saja rusak. Baju halus dicuci pakai mesin. Huh, nggak becus!” semprot Rara dengan wajah bersungut-sungut.
Dedy menatap Wati.
“Ma-maaf, Mas. Aku nggak sengaja,” kata Wati dengan wajah ketakutan.
Dedy menghela napas.
“Mulai sekarang semua baju Rara kamu cuci tangan saja. Biar bajuku saja yang dicuci pakai mesin,” kata Dedy.
“Ya, Mas,” sahut Wati masih dengan kepala tertunduk.
“Mana dia nggak mungkin bisa ganti,” sungut Rara seraya melemparkan baju di tangannya ke wajah Wati, membuat Wati gelagapan.
“Sudah, Sayang. Jangan marah-marah terus, dong. Nanti hilang cantiknya,” rayu Dedy seraya mencolek dagu istri keduanya.
Dedy merangkul bahu Rara dan mengajaknya menjauhi ruang belakang.
“Kamu sudah sarapan, belum? Ayo kita sarapan dulu, lalu berangkat ke toko,” ajak Dedy lembut.
Tinggal Wati yang berdiri sendiri dengan hati teriris tanpa penghiburan. Air matanya jatuh tanpa ada yang melihat.
Tak terdengar jawaban Rara, hanya piring beradu sendok yang terdengar. Dedy dan Rara sarapan pagi berdua dengan makanan yang dimasak oleh Wati. Wati sendiri tidak diajak makan oleh mereka berdua. Rara selalu melarang Wati makan bersama di meja makan. Wati hanya diizinkan makan di dapur seorang diri.
Pada malam harinya, Dedy mendatangi Wati di kamarnya. Ia juga langsung mengunci pintu kamar setelah masuk.
“Aku tidur di sini malam ini,” kata Dedy.
Wati terkejut. Tidak biasanya Dedy mau tidur di kamarnya yang sempit dan lebih mirip gudang. Selain kamarnya memang tidak nyaman, Rara jarang mengizinkan Dedy mengunjungi Wati.
“Rara?” tanya Wati dengan bola mata membulat.
“Dia tidur karena kecapekan. Padahal malam ini aku sedang ingin,” bisik Dedy di telinga Wati.
Dedy langsung meraih tubuh Wati dan memeluknya, membuat Wati gemetaran. Lama tidak disentuh membuat Wati sudah lupa rasanya.
“Tapi aku tidak pandai memuaskanmu, tidak seperti Rara,” lirih Wati dengan hati pedih. Ia teringat akan ucapan Dedy pada malam sebelumnya.
“Siapa bilang? Perempuan itu nggak perlu berbuat apa-apa lelaki pasti bisa puas,” bisik Dedy sambil menciumi telinga Wati.
Wati terpelongo. Jawaban Dedy berbeda sekali dengan ucapannya kemarin malam. Tangan Dedy berusaha membuka baju Wati, tapi Wati menahan tangan itu.
“Apa kamu cinta aku, Mas?” tanya Wati seraya menatap mata Dedy.
“Tentu aku cinta kamu. Kenapa kamu tanya begitu?” Tangan Dedy berusaha membuka baju Wati lagi, tapi Wati menepis tangan Dedy.
“Kalau begitu kenapa kamu membiarkan aku diperlakukan begini oleh Rara?” tanya Wati pelan.
Dedy mendengkus. Ia menghentikan usahanya dan duduk di atas kasur tipis.
“Semua ini aku lakukan karena aku cinta kamu. Rara itu kaya raya. Dia juga sedang sakit berat, hidupnya mungkin tinggal sebentar. Setelah dia pergi, semua hartanya bisa kita miliki. Saat itu, hanya ada aku dan kamu,” bisik Dedy seraya menatap Wati tepat di manik mata.
“Aku membiarkan dia memperlakukanmu seperti babu, agar dia tidak curiga dengan rencanaku. Percayalah, hanya kamu yang aku cinta,” tambah Dedy.
“Jadi kamu betul-betul tidak cinta dia, Mas?” tegas Wati.
“Pasti. Rara yang melamarku, bukan aku yang melamarnya. Aku ini lelaki, suka memburu dan bukan barang buruan,” jawab Dedy lagi.
Wati terdiam. Apakah Dedy jujur saat ini ataukah ucapannya kepada Rara yang betul?
Diamnya Wati dimanfaatkan oleh Dedy. Cepat Dedy meraih tubuh Wati. Wati yang kebingungan membiarkan dirinya malam itu diberi nafkah batin.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Wati bangun dengan perasaan yang bersemangat. Setelah diberi nafkah batin semalam, ia merasa kembali utuh sebagai perempuan.
Wati hendak bangkit untuk mengerjakan tugasnya sehari-hari setiap pagi. Ia melirik Dedy yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Saat hendak bangkit untuk pergi, tiba-tiba tangan Dedy mencekal tangan Wati.
“Ah!” Wati terpekik kecil, tak menyangka bahwa Dedy sudah bangun.
Lekas-lekas Wati menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan, takut suaranya terdengar oleh Rara di kamar seberang.
“Aku kira kamu masih tidur, Mas,” bisik Wati.
Dedy tidak menjawab. Ia menarik Wati keras-keras sampai Wati tersungkur ke dalam pelukannya. Wati gelagapan.
“Nanti malam kita ulangi lagi,” bisik Dedy.
Wati tertegun. Dedy bangun dan duduk.
“Kenapa tidak sekarang saja?” pancing Wati.
“Nanti Rara keburu bangun. Dia pasti marah aku ada di kamarmu malam ini,” balas Dedy.
Dedy lalu berdiri dan berlalu pergi. Wati mendengar Dedy membuka pintu kamar di seberangnya, lalu masuk dan mengunci pintu. Dedy pindah tidur ke kamar Rara.
Dengan perasaan kecewa, Wati juga berdiri dan menyeret langkah menuju dapur. Ia harus memasak dan membersihkan rumah seperti hari-hari sebelumnya.
Pada pukul 8 pagi, Rara keluar dari kamarnya. Tidak biasanya Rara bangun sesiang ini. Apakah Rara sakit ataukah Dedy yang menahannya untuk bangun? Wati diliputi perasaan cemburu.
“Mbak, sarapanku mana?” teriak Rara begitu keluar dari dalam kamar.
Wati yang sedang mencuci peralatan bekas memasak, terlonjak. Ia cepat-cepat membasuh tangan yang dipenuhi busa sabun cuci piring, lalu lekas menghampiri Rara di depan kamarnya.
Penampilan Rara acak-acakan. Dari wajahnya terlihat jelas bahwa dia baru bangung tidur. Rambutnya yang keriting panjang juga terlihat belum disisir. Sosoknya sangat mirip dengan singa baru bangun tidur.
Rara tidak ada cantik-cantiknya sedikit pun di dalam pandangan Wati. Mengapa Dedy mau menikahinya? Betulkah Dedy menikahinya hanya karena harta?
“Mau aku ambilkan sarapan?” tanya Wati dengan suara yang datar.
“Iya. Bawakan ke kamar. Badanku nggak enak,” ketus Rara. Tanpa menunggu jawaban Wati, Rara masuk kembali ke dalam kamarnya.
Sebelum pintu kamar ditutup di hadapan Wati, ia masih melihat Dedy yang tidur bertelanjang dada di ranjang. Tubuhnya hanya ditutupi selimut dari pinggang ke bawah.
Hati Wati serasa diremas. Wati mengepalkan kedua tangannya. Ia berbalik dan menuju ruang makan dengan perasaan hati yang panas karena cemburu.
Wati mengambilkan sepiring nasi goreng dan lauk sosis dengan hati yang galau. Ingin rasanya ia pergi dari rumah ini, tapi tak berdaya. Ia takut apabila kabur dari rumah ini, maka ia akan terlunta-lunta di jalanan. Ia tidak punya keterampilan apa-apa.
Sebetulnya, Wati punya ijazah SMU. Tapi ijazah itu ia titipkan kepada Bu Nara, ibu pengurus panti tempatnya dulu dibesarkan. Wati melakukan itu karena tidak berpikir bahwa lembaran itu akan berguna karena ia tidak berniat bekerja setelah menikah.
Wati menyangka hidupnya akan lebih mudah setelah menikah. Nyatanya kehidupannya menjadi lebih rumit dan morat-marit. Apalagi saat menikah Dedy belum punya pekerjaan tetap.
Apabila sudah begini, menyesal rasanya dulu Wati menikah cepat-cepat. Lulus SMU dia langsung menerima lamaran Dedy yang berumur dua tahun lebih tua daripada dirinya. Mereka sudah berpacaran selama tiga tahun dan Dedy terus mendesaknya untuk menikah.
Wati mengantarkan sepiring nasi itu ke kamar Rara yang tertutup. Saat berada di depan pintu kamar, kembali Wati mendengar suara-suara dari kamar madunya. Suara desah yang diiringi cekikan tertahan.
Selama beberapa detik, Wati tidak tahu hal yang harus dilakukannya. Apakah ia sebaiknya mengetuk pintu kamar untuk memberikan sarapan yang diminta Rara? Ataukah sebaiknya ia pergi saja?
“Sudah, Mas. Sudah,” Wati mendengar bisik-bisik suara Rara.
“Kamu harus menebus kesalahanmu semalam karena tidur meninggalkanku,” balas Dedy juga berbisik.
“Aku sedang nggak enak badan,” protes Rara lagi.
“Akan aku bikin enak,” balas Dedy.
Wati tak tahan lagi mendengar itu semua. Air mata kembali mengalir di pipi. Ia berbalik pergi, mengembalikan piring nasi ke meja makan.
Di dapur, Wati menangis sesenggukan. Mengapa hidupnya jadi begini? Tiba-tiba Wati ingin sekali bertemu dengan Bu Nara di panti.
Akhirnya Rara dan Dedy keluar dari dalam kamar mereka. Saat keluar kamar, Rara dan Dedy sudah selesai mandi dan keramas. Mereka bersama-sama menuju ruang makan sambil bergandengan tangan, mesra sekali.
Tampaknya Rara sudah lupa akan perintahnya membawakan sarapan ke kamarnya. Terbukti, ia tak mencari Wati dan memarahinya. Atau jangan-jangan semua itu hanya akal bulus Rara untuk menunjukkan kepada Wati bahwa dialah istri yang diinginkan Dedy?
Wati sendiri tidak ada di ruang makan maupun dapur saat Dedy dan Rara masuk ke ruang makan. Ia sibuk menjemur baju yang baru dicucinya di halaman belakang rumah.
Setelah selesai menjemur, Wati masuk kembali ke dalam rumah dan melihat Dedy dan Rara sedang sarapan di meja makan. Tatkala melihat Wati, Rara langsung berteriak,
“Mbak, ambilkan minum buatku dan Mas Dedy!”
Tanpa banyak bicara, Wati mengambil dua buah gelas lalu mengisinya dengan air dari dispenser. Saat memberikan dua gelas itu ke meja makan, Rara sedang bercanda mesra dengan Dedy.
“Mas, nakal, ah,” Rara mencubit lengan Dedy yang berada di sampingnya.
Rara sama sekali tak memedulikan kehadiran Wati yang baru masuk. Seolah-olah ia sengaja hendak memanas-manasi Wati.
“Kamu lebih nakal,” balas Dedy santai. Dedy pun tidak memandang sedikit pun ke arah Wati. Sikapnya sama sekali berbeda dengan saat tadi malam di kamar Wati.
Betulkah ia mencintai Wati seperti yang dikatakannya?
Sementara itu, ekspresi Wati biasa-biasa saja. Seakan-akan ia tak terpengaruh oleh pameran kemesraan di hadapannya. Tak seorang pun tahu, perasaan Wati di dalam dada seperti lava panas yang menggelegak di perut gunung.
Usai meletakkan dua gelas di meja, Wati pergi kembali tanpa kata. Ia lebih memilih menyapu teras di depan rumah, daripada harus mendengar obrolan Rara dan Dedy di dalam rumah. Setidaknya, di teras ia bisa menghirup udara segar untuk melegakan sempitnya perasaan.
Teras sudah hampir selesai disapu oleh Wati, saat Dedy dan Rara keluar rumah bersama-sama. Penampilan mereka sudah rapi, siap berangkat ke toko bersama-sama. Romantis. Sikap mereka berdua membuat Wati merasa bahwa dirinyalah tokoh jahat di dalam kisah ini.
“Ya ampun, aku ketinggalan dompet. Tunggu sebentar, Mas,” cetus Rara seraya berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wati untuk mendekati Dedy yang sudah siap duduk di sepeda motor Ninja yang dibelikan Rara untuknya.
“Mas, aku kangen Bu Nara,” kata Wati blak-blakan.
“Lalu?” sahut Dedy seraya mengerutkan dahi.
“Aku ingin mengunjungi beliau, Mas. Mas juga sudah lama tidak bertemu Bu Nara, kan?” kata Wati pelan.
“Aku masih sibuk. Kapan-kapan saja kita ke sana,” kilah Dedy.
Belum sempat Wati menjawab lagi, Rara sudah kembali keluar rumah. Tatapan matanya terlihat tidak suka saat mendapati Wati berbicara di dekat Dedy. Wati mundur, memberikan tempat buat Rara untuk naik ke boncengan sepeda motor Dedy.
“Kami mau pergi. Jangan lupa antar makan siang buat kami dan pegawai,” ketus Rara.
Salah satu tugas Wati mengantarkan makan siang buat Dedi dan Rara, juga beberapa pekerja toko yang berbilang tak sampai lima orang. Rara memerintahkan Wati untuk memasak makan siang bagi para pegawainya, agar dia tak perlu memberi uang makan bagi para pekerja itu.
Dedy dan Rara berlalu, meninggalkan Wati yang menatap dua sejoli itu pergi. Sambil memandang kepulan asap dari sepeda motor Dedy yang meraung pergi, Wati menentukan sikap. Ia berbalik masuk kembali ke dalam rumah, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Saat tadi Dedy menolak permintaannya untuk mengunjungi Bu Nara, Wati sudah tahu bahwa Dedy tak akan pernah mengizinkannya menemui Bu Nara. Untuk menemui Bu Nara, ia harus melakukannya sendiri secara diam-diam.
Tekad Wati sudah bulat. Ia harus menemui Bu Nara. Ia ingin mengambil ijazahnya yang pernah dititipkan dulu. Ia akan melamar pekerjaan dengan ijazah itu. Pekerjaan apa saja yang penting ia punya penghasilan sendiri. Wati tak berkeberatan meskipun hanya menjadi pelayan di warung makan atau buruh pabrik yang hanya bertugas buang benang baju-baju produksi konfeksi.
Dari tetangga di rumah gubuknya dulu Wati mengetahui, bahwa gaji pelayan warung makan dan buruh pabrik itu kecil, sementara jam kerjanya sangat panjang dan melelahkan.
Tapi sekarang Wati tidak takut untuk bekerja keras, paling tidak ia digaji. Tidak seperti sekarang, ia mengerjakan semua pekerjaan rumah tapi hanya diganjar makan sehari-hari. Suami pun harus berbagi, itu juga ia jarang mendapatkan jatah.
Wati tak ingin lagi dihina Rara karena tak punya uang dan tak punya pekerjaan. Kalau ia keluar dari rumah ini, Wati ingin pergi dalam keadaan mulia dan tak lagi terhina.
Satu-satunya hal yang masih mengganjal pikiran Wati hanyalah ia masih berstatus sebagai istri Dedy. Wati masih penasaran, apakah betul Dedy masih mencintainya? Buktinya Dedy tak mau menceraikannya.
Tak bisa Wati pungkiri, ia masih mencintai Dedy. Mereka sudah pacaran selama tiga tahun sebelum Dedy melamarnya. Cinta itu juga yang membuat Wati mau menikah dengan Dedy meskipun Dedy belum punya pekerjaan tetap. Sekarang baru terasa oleh Wati, betapa gegabahnya dulu keputusannya.
Apakah betul Dedy menikahi Rara agar mereka bisa hidup bahagia berdua? Betulkah Rara sakit parah dan akan segera meninggal? Wati diombang-ambingkan perasaan. Ia kebingungan.
Niat Wati untuk menemui Bu Nara semakin mantap. Ia harus meminta pendapat Bu Nara tentang banyak hal. Ia harus menemui Bu Nara.