Dia tersenyum, lesung pipinya menambah manis wajah dari pemilik netra berwarna coklat terang itu. Dia Melodi, seorang penulis artikel dari sebuah perusahaan swasta yang cukup memiliki nama di Indonesia. "Wah...dia benar-benar cantik," pujinya pada deretan foto seorang wanita. "Pasti dia sangat pintar juga. Pantas saja begitu banyak penggemar dan menjadi salah satu artis yang legendaris. Aku benar-benar beruntung bisa mewawancarainya hari ini."
"Terima kasih atas pujiannya, Nona Melodi." Mendengar namanya disebut, dia langsung memutar tubuhnya hingga terlihatlah seorang wanita yang umurnya sudah masuk lima puluh tahun. Namun, dia masih terlihat cantik sekali. Begitu anggun dengan balutan kemeja over size berwarna putih serta celana berbahan kain berwarna hijau, rambutnya yang sudah mulai berwarna putih dia sanggul sederhana. Dia duduk dikursi roda, sambil menjalankan benda yang menopang tubuhnya itu mendekati Melodi.
"Bu Gilsha, terima kasih sudah mau menerima kedatangan saya dirumah Ibu ini." Melodi berbicara sangat sopan, dia juga terlihat bergetar karena berjumpa dengan seorang wanita yang sudah lama menghilang dari layar kaca. Meski banyak orang masih memperbincangkan karyanya, tetapi tidak pernah ada yang mampu membuat berita tentang wanita ini lagi setelah dua puluh tahun lebih.
Namanya Gilsa Alyne, seorang model juga artis yang banyak sekali membintangi film-film populer pada masanya, mantan Ratu Kecantikan yang juga memenangkan banyak penghargaan dunia film, baik dari dalam maupun luar negri. "Jadi apa yang ingin kau ketahui tentangku Nona Melodi Oliver?" pertanyaan itu membuat kening Melodi berkerut.
"Maaf, bagaimana anda tahu nama belakang keluarga saya?"
"Aku mengenal dekat Papa mu, Noah Oliver." Saat Melodi berpikir, dia tanpa sengaja melihat sebuah foto, yang letaknya di atas meja hias. Tepat di sudut ruangan.
Itu adalah foto ayahnya, wajahnya terlihat masih sangat muda. Dia memeluk seorang wanita yang memakai kebaya putih, senada dengan pakaian Noah__ayahnya. Mereka tampak sangat mesra, dan bahagia. Wanita cantik itu tak lain adalah Gilsha Alyne.
**** End Of Prolog***
Bab 1. Selamat Tinggal
'Ketika sebuah perpisahan terasa sangat manis, mampukah kau melepaskan tanpa rasa sakit?'
*****
Bali 1992.
Deburan ombak dibibir pantai Kuta,Bali terasa seperti irama indah untuk sepasang kekasih yang tengah melepas rindu. Netra coklat terang itu berbinar malu, saat satu kecupan dia dapatkan. Mereka sedang duduk di atas pasir, sambil Pria itu memeluk kekasihnya dari belakang.
Ini bukan ciuman pertama mereka, meski memang di tempat yang sama. Namun, rasanya masih begitu malu dan desiran aneh selalu mereka berdua rasakan jika sudah bersama seperti ini. Begitu memabukkan, dan ingin terus mengulanginya.
Pria itu memakaikan sebuah kalung yang dia beli di Sydney. Kalung itu ia pesan khusus untuk kekasihnya, liontin hati bermatakan berlian. Dia ingin cinta mereka abadi seperti sinar berlian yang tidak pernah pudar, meski umurnya sudah ribuan tahun. Dia tersenyum ketika pemberiannya itu terlihat sangat indah dipakai oleh kekasihnya. Namanya Noah Oliver, wajahnya tampan dengan khas darah campuran yang terlihat jelas ketika orang melihatnya. Bahkan saat di Bali, orang-orang mengiranya seorang wisatawan.
Ibunya adalah penduduk Kota Bali yang indah, sementara ayahnya warga negara asing, berasal dari Melbourne yang bekerja di Jakarta, hingga sekarang dia dan keluarganya menetap di Jakarta. Dia ke Australia hanya karena urusan pekerjaan saja.
Mengendarai mobil yang sangat populer Mazda Astina 323 berwarna merah, Noah Oliver menjemput kekasihnya dirumah wanita itu, kemudian mereka memilih pantai untuk tempat berkencan mereka. Seperti dulu, mereka pertama bertemu.
Noah dan Gilsha sudah berpacaran selama empat tahun, dan satu tahun terakhir harus berhubungan jarak jauh. Semua tidak lain karena Noah ada pekerjaan di Sydney. Sementara Gilsha juga hijrah ke Jakarta, dia ingin lebih sukses lagi menjadi seorang bintang dilayar kaca.
"Ku pikir kau tidak akan kembali ke Bali," kata Noah sambil terus memainkan hujung rambut Gilsha. Bagi Noah, kali ini kekasihnya itu terlihat berbeda, wajahnya murung padahal mereka baru bertemu. "Sayang, kamu kenapa?" Noah menarik wajah Gilsha untuk menatapnya.
"Tidak ada...aku hanya sangat merindukan mu." Gilsha memeluk erat tubuh Noah.
"Kamu memikirkan hubungan kita ya? Jangan khawatir, aku akan...."
"Noah maukah kamu menikahiku?" pertanyaan itu membuat Noah bungkam, dia tidak menduga jika ini yang akan dipikirkan oleh Gilsha sekarang.
"Kita akan menikah, aku akan datang melamar kamu. Namun, tidak sekarang karena aku baru mulai memegang usaha keluargaku. Setelah semua berjalan lancar, aku berjanji akan segera melamar kamu." Gilsha mengangguk sambil memberikan senyuman terpaksa.
Dia berharap agar Noah mengerti kegundahan di hatinya ini, tapi ternyata harapannya pupus begitu saja. Gilsha membuka kemeja flanel yang dia gunakan untuk menutupi kaos putih yang membentuk tubuhnya itu. "Aku akan menetap di Jakarta, tapi orang tuaku ingin ada seorang Pria yang bisa menjaga pergaulanku. Ku pikir akan lebih baik, kalau orang itu adalah kamu."
"Gilsha, kamu tahu aku juga belum pasti kapan kembali ke Jakarta. Urusanku di Sydney masih banyak."
"Ya, aku mengerti. Jadi mungkin lebih baik kita akhiri saja hubungan ini."
"Sayang...kenapa berbicara seperti itu?"
"Karena bukan hanya kamu saja yang ingin maju dan berkembang Noah. Aku juga memiliki impian, orang tuaku setuju jika menikah sekarang. Aku yakin juga orang tuamu setuju, bukankah mereka pernah mendesak kita agar segera menikah?! Jika memang kamu tidak mau menikahi ku saat ini, aku mengerti. Ku harap juga kamu mau mengerti keputusan ku."
Percuma dia meminta Noah menikahinya, dia sudah bertanya dan semua keputusan ada pada Noah. "Lalu, kamu akan tetap pergi ke Jakarta?"
"Ya, tentu saja. Lagi pula sudah ada beberapa kontrak film yang aku terima, mau tidak mau aku harus tetap pindah ke sana."
"Siapa pria yang ingin kau nikahi?" tanya Noah. Dia tahu kekasihnya memiliki banyak sekali penggemar, dan juga tidak sedikit pria diluar sana menginginkan posisi Noah saat ini, yaitu menjadi kekasih dari seorang Gilsha Alyne. Wanita berparas cantik, yang memiliki darah campuran seperti dirinya. Selain cantik, Gilsha juga pintar. Tidak heran tahun semalam Gilsha menang pada ajang Ratu Kecantikan.
"Siapapun Pria itu, kelak bukan urusanmu lagi." Gilsha menahan tangis saat mengatakannya.
"Tidakkah kamu mau menungguku?"
"Sudah berapa lama aku menunggu Noah? Apa kamu pernah berpikir bagaimana aku menjalani ini semua? Saat aku di Bali kamu berada di Jakarta, Bandung dan entah dimana lagi. Sekarang aku di Jakarta kamu berada di Australia. Sekarang aku benar-benar membutuhkan kamu Noah, tapi jika kamu tidak bisa aku tidak masalah." Gilsha tidak marah, sungguh dia tidak ingin egois. Hanya saja dia juga ingin menggapai mimpinya. "Aku akan menjalani kesendirian ini sebisaku, dan jika kamu juga ingin menjaga cinta kita sampai nanti kamu bisa menetap di Jakarta aku harap kamu datang padaku Noah."
Gilsha menutup wajah dengan kedua tangannya, Noah mendekap tubuhnya erat. Mereka tidak bertengkar, hanya berbicara tentang masa depan. Sayangnya demi keinginan serta impian mereka masing-masing, keduanya harus memilih jalan untuk berpisah.
Berpisah disaat masih saling mencintai, itu sangat sulit. Lengan kokoh Noah tidak melepaskan tubuh Gilsha sedikitpun, dia benar-benar takut waktu akan membuat mereka harus kembali ke tempat masing-masing. Kenangan indah mereka berdua terlalu banyak, bahkan tidak dapat Noah ingat pertengkaran hebat apa yang pernah mereka lalui. Semua begitu sempurna, Gilsha benar-benar tipe wanita yang dia inginkan untuk menjadi istrinya.
"Jangan lupakan aku Gilsha," pinta Noah sambil mengecup kening Gilsha, lalu memeluknya kembali.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu Noah, yang aku tidak yakin adalah kamu bisa segera kembali dan tetap meraihku lagi."
Mengurai pelukan mereka disaat senja menyapa, waktu yang Noah takutkan itu terjadi. Dia terpaksa mengantarkan Gilsha kembali ke rumah orang tuanya. Bali mempertemukan mereka, dan di tempat ini juga mereka memutuskan untuk berpisah. Mobil sudah sampai didepan rumah berwarna putih gading, tangan Noah menghentikan pergerakan Gilsha yang ingin turun dari dalam mobil. Senyuman Gilsha masih pria itu lihat, satu tangan wanita itu juga mengusap rahangnya. "Cepatlah kembali jika kau tidak ingin aku diambil orang lain." Gilsha tersenyum kemudian dia mengecup pipi dan terakhir bibir Noah. Pagutan itu cukup dalam, seperti keyakinan Gilsha yang begitu dalam pada Noah.
Tidak pernah Noah bayangkan mereka akan berpisah semanis ini, dia rasanya ingin berteriak sekarang juga. Namun, memang dia juga belum siap untuk menikahi Gilsha. "Hati-hati di jalan," ucap Gilsha kemudian benar-benar turun dari dalam mobil itu. Masuk kedalam rumah tanpa melihat Noah lagi, seketika ruang disekitar Noah hampa. Memukul setir berulang kali tidak membuat sesak di dadanya berkurang, yang terjadi dia semakin kesakitan. Dia melihat kemeja Gilsha tertinggal di mobilnya. Ingin keluar dan mengembalikan, tetapi niat itu terhenti saat dia ingin kemeja flanel tersebut dia simpan, sampai nanti dia kembali kepada Gilsha.
Hari...bulan...dan tahun, kini berganti.
Bahkan kamu yang ku tunggu, tak lagi kembali.
Entah kamu lupa, atau memang tidak lagi perduli.
Padaku, yang setia menanti...
****
Jakarta 1997
Deretan cincin yang berada didalam etalase perhiasan ternama disalah satu toko di Jakarta begitu memukau mata Gilsha. Beginilah dia jika tidak ada jam kerja, berbelanja apapun yang dia inginkan. Sekarang dia sedang mencari cincin, karena merasa cincin yang lama sudah terlalu kuno. Karena dia seorang artis, tentu penampilan adalah hal yang penting untuk dia jaga.
"Mbak boleh lihat yang ini," ucap Gilsha dan seorang wanita lagi secara bersamaan. Gilsha melihat wanita itu, begitu juga dengan wanita tersebut. Mungkin karena Gilsha memakai kaca mata dan topi, wanita yang tengah tersenyum lebar kearah dirinya itu tidak tahu siapa dia sebenarnya.
"Ah...maaf, ternyata aku juga menyukai model cincin yang kau suka." Gilsha hanya tersenyum seadanya untuk menanggapi.
"Kau saja, aku akan cari model lain." Gilsha memilih untuk mencari ditempat lain. Tepat saat dia memutar tubuhnya, sosok Pria yang begitu dia kenali itu berjalan ke arahnya. "Noah," katanya seperti berbisik.
"Sayang apa cincinnya yang kau mau sudah dapat?" Noah bertanya, tapi Gilsha tahu itu bukan untuknya. Pertanyaan itu untuk wanita yang tadi juga menginginkan cincin yang sama dengannya. Sontak Gilsha kembali memutar tubuhnya, melihat interaksi pria itu dengan wanitanya. Tentu wanitanya, karena Noah memanggilnya 'sayang'. Setelah lima tahun mereka tidak bertemu, kini Noah bersama wanita lain. Gilsha tersenyum miris, menertawakan apa yang tengah ia pikirkan sekarang.
"Gilsha," panggil seorang Pria dengan suara yang keras, sehingga menarik perhatian seseorang dibelakang tubuh Gilsha. Menutup matanya, Gilsha menunduk kemudian dia menoleh ke belakang, mata Noah mengamatinya. Entah dorongan dari mana, tapi Gilsha ingin agar Noah melihatnya disana.
Perlahan Gilsha membuka kaca mata yang dia gunakan, sorot mata Noah jelas terkejut. Gilsha menyunggingkan senyuman tipis, dan pergi dari sana. Meninggalkan Noah dengan keterkejutannya.
"Gil, kenapa lama sekali."
"Iya maaf," jawab Gilsha kemudian dia merangkul lengan pria itu. Dia adalah Dika Maheswara, seorang anak dari pemilik statisun tv. Dika juga yang mengenalkannya kepada Lina, manager yang saat ini mengurus semua pekerjaan untuk Gilsha. Gilsha dan Dika selalu dekat, bahkan sekarang Gilsha mulai merasa begitu bergantung kepada Dika. Semua itu terjadi ketika dia kehilangan kedua orang tuanya, Gilsha tidak ingin lagi mengingat masa-masa itu.
"Kamu tidak jadi beli perhiasan?" tanya Dika begitu perhatian kepadanya, dan Gilsha menggelengkan kepala.
"Lain kali saja," jawabnya kemudian mengajak Dika segera pergi dari tempat itu. Kepala Gilsha rasanya panas, dia merasa Noah masih terus memperhatikannya. Ada apa dengan Noah? apa pria itu bahkan tidak ingin menyapa dirinya, apa karena dia takut wanitanya akan cemburu. Setelah tujuh tahun, mereka akhirnya bertemu seperti ini. Tujuh tahun ini, banyak sekali hal yang membuat Gilsha harus berdiri kuat. Banyak teman, serta lingkungan yang pergi meninggalkannya, bahkan juga kedua orang tuanya.
"Gilsha besok apa kamu ada pekerjaan?" Dika kini sudah menyetir mobil untuk mengantarkan Gilsha ke rumahnya.
"Ya, ada pertemuan penting dengan Pimpinan Perusahaan yang menjadikanku sebagai ikon model produk mereka."
"Kalau begitu kosongkan waktumu setelahnya."
"Aku tidak bisa Dika, setelahnya aku harus bertemu Sutradara lagi." Mendengar hal itu Dika langsung menghentikan mobil tiba-tiba. Matanya penuh dengan kabut amarah, menatap Gilsha tajam. "Dika lepaskan! sakit," pinta Gilsha karena cengkraman Dika di wajahnya.
"Aku tidak perduli kau ada pekerjaan apa, besok aku ingin kau menemaniku!" Beginilah sikap buruk Dika, sangat kasar dan emosinya tidak bisa dikontrol. Hal ini yang membuat Gilsha belum mau menikah dengan pria ini. "Jangan buat aku merusak wajahmu ini lagi Gilsha, kau sudah tahu bukan bagaimana rasanya." Dika membuang kasar wajah Gilsha begitu cepat, setelah tadi dia menariknya dengan sangat kasar.
***
Pagi yang cerah, Wilya sudah sibuk didapur mencoba membuat sarapan untuk suaminya tercinta. Meski dia belum bisa memasak, tapi setidaknya dia mencoba. Ada satu orang asisten rumah tangga yang dia pekerjakan untuk membantunya dirumah, dia dan Noah sudah dua tahun menikah dan semua terasa sempurna untuk mereka berdua. Meski menjadi istri dari Pria tampan seperti suaminya adalah ujian paling berat yang harus dia lalui, tapi dia tidak ambil pusing karena Noah adalah tipe pria yang setia. Pulang tepat waktu, dan selalu menemaninya jika sedang libur bekerja.
Wilya buru-buru meletakkan nasi goreng buatannya ke atas meja makan saat melihat suaminya sudah keluar dari dalam kamar mereka. "Sayang tidak sarapan dulu?" tanya Wilya ketika Noah langsung keluar dari dalam rumah. Wilya dibuat bingung dengan kelakuan Noah setelah mereka pulang dari toko perhiasan. Wilya berpikir mungkin Noah marah, karena dia terlalu lama memilih cincin kemudian malah tidak jadi membeli apapun.
"Aku ada pekerjaan penting pagi ini. Aku tidak sempat sarapan," kata Noah kemudian mengecup kening Wilya yang masih berdiri tepat didepan mobil Noah. "Aku pergi dulu, jangan terlalu lelah dirumah." Wilya tersenyum mendengar perhatian dari suaminya itu. Dia pikir Noah marah, tapi ternyata tidak. Mungkin memang benar pekerjaan Noah sangat banyak di kantornya.
Noah mengemudikan mobil dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya, dia memang sudah terlambat datang pagi ini. Meski posisinya adalah pimpinan perusahaan, dia tetap harus tepat waktu datang ke kantor. Begitu memarkirkan mobil, Noah langsung buru-buru menuju ruangannya. Saat dia masuk kesana, sudah ada seorang wanita yang duduk membelakangi Noah. Dia kenal postur tubuh ini, tapi apakah benar? dia memang ada janji dengan model yang dipilih tim promosi untuk iklan produk, tetapi apakah model itu adalah Gilsha? cinta lama yang harus dia buang jauh dari kehidupannya saat ini.
Wanita itu berdiri dan menyambut Noah dengan senyumnya "Selamat pagi Bapak Noah Oliver, perkenalkan saya Gilsha Alyne. Model yang dipilih untuk membintangi iklan produk perusahaan Anda." Gilsha terdengar sangat formal, seperti tidak ingin mengakui kalau mereka dulu pernah memiliki sebuah hubungan.
"Gilsha," ucap Noah tidak menyambut uluran tangan Gilsha. Melihat hal itu Gilsha menurunkan tangannya, dia menarik napas dalam sebelum kembali berkata "aku tidak tahu kalau pimpinan perusahaan ini adalah dirimu.Jika memang ingin mengganti dengan model lain, aku tidak keberatan." Wajah Gilsha berubah menjadi dingin, dia melangkahkan kakinya untuk melewati Noah, tetapi lengannya ditahan oleh pria itu. Sorot mata Gilsha dan Noah bertemu, sadar akan keadaan saat ini Noah melepaskan tangannya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Kita bisa bekerja layaknya rekan bisnis, tetapi jika kau terganggu tidak mengapa Gilsha, aku mengerti."
"Aku tidak terganggu sama sekali, bukankah kita sudah punya jalan hidup masing-masing." Gilsha tersenyum lagi, tapi Noah merasa ada yang kurang dari senyuman Gilsha biasanya. Noah kemudian mempersilakan Gilsha kembali duduk, mereka akan membahas kerjasama yang akan dilakukan. Gilsha memperhatikan Noah, dia sadar kalau ia sangat merindukan Noah. "Gilsha apa ini nomor telpon mu?"
"Bukan! itu nomor Manager, dia yang biasa mengurus hal mengenai kontrak dan sebagainya. Saat ini dia sedang ada di Rumah Sakit, jadi aku mengurusnya seorang diri. Apa kau mau nomor telponku?" tanya Gilsha kemudian dia mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam dan tebal itu dari dalam tasnya.
"Gilsha aku sudah menikah," kata Noah membuat wajah Gilsha yang tadi tersenyum kini terlihat berubah. Namun, cepat-cepat dia mengubah lagi mimik wajahnya.
"Selamat kalau begitu, tapi aku tidak bertanya bukan? aku hanya tanya apa kau butuh nomor telponku. Bukan aku ingin kita berbaikan seperti dulu lagi," kata Gilsha yang membuat Noah jadi merasa bersalah. Gilsha yang dia kenal, tidak ketus dan sombong seperti ini gaya bicaranya. Selesai dengan urusan kontrak yang disepakati serta ketentuan yang ingin Noah beritahu Gilsha, mereka berdiri karena Gilsha akan pergi saat itu.
"Terima kasih sudah menerima tawaran ini Gilsha." Noah sudah bisa tersenyum kepada wanita yang masih dia simpan fotonya itu.
"Sama-sama Noah, ini adalah pekerjaanku. Hanya saja tidak menyangka, akan berkerja denganmu. Selamat kau sudah jadi orang yang hebat, aku bangga melihatnya." Gilsha memeluk Noah, dia ingin menangis rasanya. Pelukan itu dibalas oleh Noah, bukan karena dia ingin memanfaatkan keadaan, hanya saja dia menganggap Gilsha adalah temannya saat ini.
"Sayang aku datang...,"
Bersambung....
Ubud, Bali 2021..
Melodi melemparkan kertas yang ia pegang. Fikri rekan kerjanya menarik napas lelah, Melodi yang tadinya sangat bersemangat dengan pekerjaannya untuk menuliskan perjalanan hidup Gilsha Alyne, kini ingin membatalkan pekerjaan tersebut.
"Gil...kita udah sampai disini, dan kita beruntung karena Bu Gilsha mau di wawancarai."
"Aku tidak bisa Fik! dia adalah wanita yang sudah merebut Papa ku." Fikri sudah tahu hal ini karena tadi saat di perjalanan Melodi sudah menceritakan amarahnya itu.
"Aku tahu, tapi kita tetap harus melanjutkan ini. Apalagi kalau sampai dia mau membuka hubungannya dengan papa mu dimasa lalu, itu akan menjadi artikel besar. Bukan hanya tentang perjalanan karirnya saja. tapi juga kehidupan pribadinya."
"Kau ini gila ya?! mau membuat nama baik keluargaku hancur begitu?"
Melodi masih tidak ingin menemui Gilsha hari ini untuk melanjutkan wawancaranya, Gilsha wanita itu adalah ketidaksempurnaan yang terus membayangi keluarganya. Hanya saja, jika dia terus melakukan wawancara ini, dia bisa kena pecat. Ini adalah pekerjaan yang dia inginkan, bukan karena uangnya, tapi dia mencintai pekerjaan ini.
"Pantas Mama selalu melarangku jika membeli poster Gilsha Alyne."
***
Jakarta 1997...
Seorang wanita yang membuka pintu itu tidak berkedip melihat pemandangan diruangan kerja suaminya. Wilya, kakinya terasa lemas saat ini matanya tidak lepas melihat suaminya memeluk tubuh wanita lain, dan mereka terlihat sangat akrab.
"Ah..sayang maaf, sini aku kenalkan kepada Gilsha." Keterkejutan Wilya menjadikan ia canggung, isi kepalanya masih mencerna semua ini. "Aku harap kamu tidak salah paham dengan pelukan kami tadi. Dia temanku, namanya Gilsha kamu pasti sudah kenal kalau namanya ya," ucap Noah yang membuat Wliya mengangguk tersenyum seadanya saja. Dia memang mengenali wajah Gilsha yang seorang artis ternama, tapi tetap saja sebagai seorang istri dia merasa cemburu melihat suaminya memeluk wanita lain. Dia pikir, wanita dari masa lalu suaminya yang pernah Ibu mertua ceritakan datang lagi.
Ya, Ibu mertua Wilya pernah bercerita kalau dia harus lebih ekstra membuat Noah mencintianya, karena dulu pernah ada seorang wanita yang begitu Noah cintai. "Hai...aku Wilya, istri Noah." Sengaja Wilya menekan kata istri kepada wanita berparas cantik didepannya itu. Gilsha tersenyum ramah, dia meraih uluran tangan tersebut.
"Aku Gilsha, senang bisa berkenalan denganmu. Oh..ya Noah aku pamit dulu, masih ada pekerjaan yang menunggu. Mengenai salinan surat kerja samanya bisa kau kirim saja kepada managerku. Sampai jumpa Wilya," ucap Gilsha jelas terlihat tidak ada yang wanita itu tutupi. Wilya bernapas lega, dia sudah berpikir macam-macam tadi.
"Kamu kenapa datang kesini tiba-tiba?" tanya Noah saat hanya ada mereka berdua saja.
"Kalau aku tidak datang kesini, mungkin lebih dari sekedar berpelukan yang terjadi. Iya kan?" Noah melirik Wilya sekilas, dia menggelengkan kepala.
"Jangan berlebihan, aku sudah jelas-jelas mengenalkannya kepadamu." Noah memang seperti itu, jika tidak suka aura dan nada bicaranya menjadi dingin. Wilya takut dibuatnya, dia juga merasa keterlaluan karena sudah mengatakan hal seperti itu, padahal Noah dan wanita itu hanya berteman.
"Apa kau berhubungan dekat dengan artis itu?"
"Ya, dulu. Kami hanya baru bertemu lagi karena masalah pekerjaan," jawab Noah tanpa menatap wajah istrinya. Dia terus fokus pada kertas dihadapannya, sementara Wilya duduk di kursi depannya.
"Maaf sayang...aku hanya takut, kalau kau berselingkuh dibelakang ku."
"Aku tidak akan melakukannya, jika aku ingin aku akan mengatakannya kepadamu." Noah menatap wajah Wilya yang membeku, sedetik kemudian dia tertawa. Wilya merasa sangat konyol karena suaminya sudah mempermainkannya.
"Ah...Noah itu tidak lucu."
"Tapi wajahmu lucu sekali Wilya," ujar Noah tertawa sambil memegang perutnya. Mereka tidak menyadari kalau dibalik pintu itu Gilsha masih mendengarkan semuanya. Sekertaris Noah yang tadi pergi kini sudah kembali ke mejanya, dia menyapa Gilsha.
"Maaf Nona Gilsha apa ada yang bisa saya bantu."
"Ah...itu ada apa-apa. Aku hanya sedang mengingat apakah meninggalkan sesuatu tadi." Aldi sekertaris itu mengangguk sambil tersenyum ramah. Gilsha melangkahkan kakinya, tidak jauh dari ruangan Noah, ada sebuah ruangan lagi yang pintunya terbuka. Samar-samar dia mendengar ocehan para wanita didalam sana.
"Oh..iya satunya cantik, dan satunya tampan. Bagaimana tidak seras sekali."
"Mereka juga selalu romantis kalau kita lihat kan, aku juga pernah loh..ketemu Bu Wilya dan Pak Noah saat berbelanja. Pak Noah sedang menggandeng tangan istrinya, tipe-tipe suami yang posesif itu loh...duh..idaman banget ya..."
Mendengar hal itu Gilsha tertegun, dengan berat kakinya melangkah meninggalkan kantor Noah. Dalam perjalanan dia memikirkan kehidupan sempurna yang Noah dan Wilya dapatkan, sementara hidupnya terasa sangat menyedihkan. Gilsha memakai kaca mata hitamnya saat turun dari dalam taksi. Kali ini dia harus bertemu dengan Sutradara, tidak ada Lina dia harus seorang diri kemana-mana.
Larut dalam perbincangan mengenai proyek film terbarunya, Gilsha lupa kalau dia harus menemani Dika. Gilsha kembali ke rumahnya yang terbilang cukup mewah, Gilsha menaiki anak tangga yang melengkung itu dan berpegang pada gagang spiral kayunya. Tubuhnya terasa lelah, baru saja masuk kedalam kamar tiba-tiba bel rumah itu berbunyi. Dia menerka siapa yang datang, tetapi dia tidak keluar dari kamarnya. Akan ada asisten rumah tangganya yang membukakan pintu, tetapi tiba-tiba Gilsha teringat sesuatu. Dia mulai cemas, tepat saat itu pintu kamarnya dibuka dengan kasar.
"Dika maaf," baru dia mengucapkan kata maaf rambutnya sudah ditarik oleh Dika. "Dika...lepaskan sakit," pinta Gilsha tetapi malah tamparan yang cukup kuat dia dapatkan. Gilsha memegang pipinya, bibirnya bergetar. Tidak sampai disitu, Dika kembali menarik rambut Gilsha dan menyeretnya keluar dari dalam kamar.
"Kau berani sekali mempermainkan ku hah?! kau ingin aku mengulanginya Gilsha IYA?!" Dika menampar Gilsha hingga tidak sengaja Gilsha jatuh dan berguling dari anak tangga itu. Dua pelayan disana mengejarnya, mereka menutup mulut saat Dika tidak terlihat kasihan sama sekali kepada Gilsha, bahkan dua tamparan lagi Gilsha dapatkan.
"Tuan Dika sudah tuan...kasihan Nona Gilsha, dia bisa mati jika terus tuan pukul seperti ini." Salah satu pelayan senior disana memegang kaki Dika sambil berlutut, sementara Gilsha sudah dipeluk pelayan satu lagi tubuhnya yang terkulai lemas itu. Ada darah yang mengalir dari sudut bibir dan juga kening Gilsha, wajahnya memar seperti habis mendapatkan tinju.
"Kalian....jangan ada yang memanggilkan Dokter untuknya, biar dia tahu rasanya jika tidak menuruti keinginanku."
"Aku akan melaporkanmu ke Polisi brengsek!" umpat Gilsha di sisa tenaganya. Selama ini Dika selalu mengancamnya dengan semua koneksi pria itu, dia juga yang merasa sangat bergantung kepada Dika dan merasa tidak memiliki siapapun yang bisa ia percaya selain pria itu. Hanya karena Dika lah yang pertama kali mengulurkan tangan untuk membantu Gilsha, disaat semua orang tidak yakin dengan bakatnya. Mendengar hal itu, Dika kembali memukul wajah Gilsha.
"DIKA!" teriak Lina yang untungnya datang tepat waktu. "Jangan menyentuh dia lagi, atau aku akan bertindak tegas kali ini." Dika tertawa mengejek Lina, wanita itu dia yang mengenalkan kepada Gilsha. Bisa-bisanya Lina mencoba mengancamnya.
"Kau beritahu kepadanya, jika tidak ingin wajah cantiknya itu rusak turuti kataku. Jika ingin melaporkan silakan saja, aku pastikan uang dan tabungan kalian habis, serta karir mu ini hancur, baru mungkin polisi akan datang menjemputku. Itu juga kalau aku bisa mereka tahan!" tantang Dika kemudian pria itu pergi setelah meludah di depan pintu rumah itu. Lina segera membantu Gilsha masuk ke kamar kembali setelah Dika pergi, dia juga menelpon Dokter untuk segera datang.
"Kau ingin aku membuat laporan untuk Dika?"
"Tidak perlu! dia benar, aku hanya akan menghabiskan serta menghancurkan karir ku saja. Aku yang salah karena lupa untuk menemaninya."
"Tapi Gil...kau bukan budaknya." Lina tidak habis pikir dengan jalan pikiran Gilsha. Tidak ada respon dari Gilsha, dia hanya menahan sakit yang kembali ia rasakan. "Gil, tapi kau belum melakukan hubungan it- tu dengannya kan?" tanya Lina ragu-ragu.
"Aku lebih baik dia pukuli daripada berhubungan badan dengan monster itu." Lina mengucap syukur karena Gilsha masih waras. Gilsha menutup mata, tiba-tiba air mata yang ia tahan tadi kembali ingin tumpah. Semua tidak lain karena dia menangisi jalan yang ia pilih, sementara ditempat lain banyak orang bahagia. Dia harus kesepian tanpa ada pasangan yang memperhatikannya, tanpa teman disetiap dia ingin pergi berlibur atau melakukan sesuatu berdua. Banyak yang mendekatinya, tapi itu hanya sebatas karena wajah, tubuh, dan popularitasnya saja. Tidak ada yang benar-benar ia rasakan tulus, seperti Noah dulu mencintainya.
Noah...pria itu begitu dia rindukan. Dia ingin memilikinya lagi, dia rindu perhatian Noah untuknya. Sudah sangat lama bahkan dia merindukannya, salahkah jika dia ingin pria itu kembali padanya?