Lina berdiri di depan gedung megah yang familiar. Terlihat modern dengan sentuhan elegan, namun bagi Lina, gedung ini menyimpan kenangan pahit yang tak akan pernah bisa dihapus. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung yang berdengung keras di telinga. Sudah sembilan tahun, sembilan tahun penuh kebohongan dan jarak, dan kini ia kembali. Tak ada pilihan lain. Hidupnya sudah berubah, tak ada tempat lain untuknya kecuali kembali ke kota ini.
Perusahaan ini adalah satu-satunya kesempatan yang ada. Lagipula, siapa yang akan menolaknya? Siapa yang akan menolaknya, kecuali dirinya? Ia pernah berharap tak pernah harus kembali, berharap bisa melupakan semuanya, termasuk pria itu.
Langkah Lina terasa berat saat ia melangkah masuk ke dalam gedung. Ruangan besar dan modern menyambutnya, penuh dengan staf yang sibuk beraktivitas. Tapi satu wajah yang lebih familiar dari yang lain sudah menunggu di balik meja depan. Dan itu cukup untuk membuat Lina berhenti sejenak.
"Selamat datang kembali, Miss Damaris," ujar seorang wanita muda, memandang Lina dengan senyum yang tak dapat disembunyikan. "Kami sudah menunggu kedatangan Anda."
Lina tersenyum tipis, berusaha tak menunjukkan rasa cemas yang menggelora di dalam hati. Wanita itu segera memberi tanda untuk Lina mengikuti langkahnya, dan perlahan mereka berjalan menuju ruang utama.
Lina tahu siapa yang menunggunya di sana. Elian Zayn Anderson-pemilik perusahaan ini, seorang pria yang pernah menjadi segalanya baginya. Dan kini, pria itu adalah orang yang paling ingin ia hindari.
Ruangan itu terasa semakin sempit seiring dengan semakin dekatnya mereka ke pintu utama. Begitu pintu terbuka, pandangan Lina langsung tertumbuk pada sosok pria yang sudah sembilan tahun ia tinggalkan. Elian duduk dengan punggung tegak, matanya yang tajam menatap keluar jendela, seolah tak menyadari kedatangan Lina.
"Lina," suaranya rendah, seolah memecah kesunyian yang melingkupi ruangan. Ia tidak menoleh, namun Lina bisa merasakan tatapan tajamnya yang menembus tubuhnya. "Kau akhirnya datang juga."
Lina merasakan tubuhnya kaku, seolah ada batu besar yang menghimpit dadanya. Ia ingin berkata sesuatu, apapun, tetapi kata-kata itu serasa terkunci di tenggorokan. Elian tidak berubah-tampilannya tetap sempurna dengan potongan rambut yang rapi dan pakaian formal yang mengesankan kekuatan serta kedigdayaannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Sesuatu yang Lina tidak bisa mengabaikan: tatapan itu. Mata Elian yang dulu penuh kasih kini terisi dengan sesuatu yang lebih gelap, lebih tajam, dan lebih menyakitkan.
"Lina, aku harap kau bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini," lanjut Elian, suaranya datar, tanpa emosi. "Jangan khawatir, aku akan memastikan semua berjalan lancar untukmu."
Lina tidak tahu apa yang harus dijawab. Kembali bekerja untuk pria yang pernah menghancurkan hatinya adalah cobaan yang lebih berat daripada yang ia bayangkan. Ia hanya mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Namun, saat ia melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, Elian akhirnya menoleh, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku tahu, Lina," katanya dengan nada yang entah penuh kebencian atau penyesalan. "Kau benci aku, kan?"
Pertanyaan itu mengguncang dirinya. Benci? Benci adalah kata yang ringan dibandingkan dengan apa yang Lina rasakan. Namun, apakah ia bisa mengatakannya begitu saja? Apakah itu benar-benar yang ia rasakan?
"Elian..." Lina memulai, suara itu keluar serak, tidak seperti dirinya yang biasanya tegas dan jelas. "Ini bukan soal benci."
Elian mendekat, langkahnya tegas dan pasti, seolah-olah dia tahu betul apa yang akan terjadi. "Jadi, apa, Lina? Kau pikir setelah semua yang terjadi, kita bisa kembali ke titik semula? Kita bisa memperbaiki semuanya?"
Lina menelan ludah, kata-kata itu terasa seperti api yang membakar lidahnya. Sakit. Terlalu sakit. "Aku tidak tahu, Elian. Aku hanya... aku hanya ingin melupakan semuanya."
Tapi Elian hanya tersenyum, senyum yang penuh makna. "Tidak ada yang bisa melupakan, Lina. Tidak di dunia ini."
Lina merasa dunia di sekitarnya berputar. Apakah ini saatnya untuk menghadapi kenyataan yang selama ini ia coba hindari? Ataukah ini kesempatan untuk mengakhiri segalanya dan pergi?
Lina merasakan panas menjalar ke wajahnya. Semua yang ia tahan selama sembilan tahun itu, kini datang seperti badai yang tidak bisa ia kendalikan. Setiap kata Elian seperti pisau tajam yang menusuk hatinya. Tidak ada yang bisa melupakan, katanya. Dan itu benar-bagaimana mungkin ia bisa melupakan pria yang pernah menjadi segalanya? Yang pernah merenggut kebahagiaannya hanya untuk meninggalkan luka yang begitu dalam.
"Elian, aku tidak bisa seperti dulu," Lina berusaha menahan emosinya, namun suara itu terdengar rapuh, hampir hancur. "Aku tidak bisa kembali ke masa itu."
Elian melangkah lebih dekat, hanya beberapa langkah saja yang memisahkan mereka. Tangannya terjulur, mendekatkan Lina pada kenyataan yang tak dapat ia hindari. "Kau tidak bisa, atau kau tidak mau?" katanya, suaranya menggetarkan ruangan dengan ketegasan yang hanya bisa datang dari pria yang pernah menghancurkan harapan.
Lina menatapnya dengan tajam, merasa perasaan lama yang terkubur mulai meledak di dalam dada. "Kenapa kau tidak bisa berhenti, Elian?" tanya Lina dengan suara yang bergetar, namun penuh amarah. "Kenapa setelah semua yang terjadi, kau masih berusaha memaksaku untuk berada di sini, di hadapanmu? Kenapa?"
Elian berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan jawabannya. Lalu, dengan tatapan penuh kebingungan yang hampir tidak ia kenali, dia berkata, "Karena kau masih penting bagi aku, Lina. Kau mungkin sudah pergi, tapi aku tidak bisa melupakan apa yang kita punya. Dan aku tidak akan membiarkanmu begitu saja pergi lagi."
Lina merasa kepalanya berputar. Semua alasan yang ia bangun untuk menghindari Elian-untuk menjauh dari rasa sakit itu-tiba-tiba runtuh begitu saja. Apakah itu cinta? Ataukah sekadar keinginan untuk menguasai? Lina tidak tahu, tetapi apa yang jelas adalah, Elian belum selesai dengannya. Dan dia tidak tahu apakah dia siap untuk itu.
"Elian..." Lina memejamkan mata, berusaha meredam emosi yang datang begitu mendalam. "Apa yang kau inginkan dari aku? Apa lagi yang bisa kau ambil dariku?"
"Apa yang aku inginkan?" Elian mengulang kata-kata itu, seolah tidak percaya dengan pertanyaan yang keluar dari bibir Lina. "Aku ingin kita kembali seperti dulu, Lina. Aku ingin kita memperbaiki apa yang rusak, apa yang hilang, karena aku tidak pernah berhenti mencarimu."
Lina merasa udara di sekitarnya semakin sesak. Ia ingin berteriak, ingin menolak, ingin menghapus segalanya. Tapi setiap kata Elian membuatnya terdiam. Lembut, penuh rasa bersalah, dan dengan sedikit kebanggaan yang sulit dipahami. Apakah mungkin ia benar-benar merasakan penyesalan? Atau ini hanya permainan Elian yang ia mainkan?
Lina menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Aku tidak bisa kembali ke masa itu, Elian. Tidak setelah semua yang kau lakukan. Aku tidak bisa."
Namun, Elian tidak mundur. Dia hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Lina artikan. Ada rasa tanggung jawab, ada kebanggaan yang dia sembunyikan di balik matanya yang dingin. Dan yang lebih menakutkan, ada harapan yang tak terucap, berharap Lina akan mengubah pikirannya.
"Aku tidak memaksamu, Lina," Elian akhirnya berkata, suaranya lebih lembut. "Tapi, jangan lupakan-aku tidak pernah benar-benar menyerah padamu."
Lina menggigit bibir, berusaha mengendalikan diri. "Jangan bermain dengan perasaanku, Elian," ucapnya perlahan, wajahnya memerah, tetapi suara itu tegas. "Aku sudah cukup terluka. Jangan tambahkan lagi."
Elian mengangguk perlahan, seperti mengerti bahwa Lina sedang terjebak dalam kebingungannya sendiri. "Jika itu yang kau inginkan," katanya dengan suara yang lebih lembut, meski tak sepenuhnya meyakinkan. "Tapi aku akan terus berusaha, Lina. Aku akan menunggumu."
Lina merasa seolah ada bom waktu yang berdetak di dalam dirinya. Entah ia bisa bertahan atau terjatuh kembali dalam perangkap Elian. Tapi satu hal yang ia tahu-kembali bekerja di perusahaan ini tidak akan semudah yang ia bayangkan. Ia tidak hanya harus menghadapi Elian, tapi juga dirinya sendiri.
Saat ia berbalik untuk pergi, Elian memanggilnya lagi. "Lina..." suaranya kali ini penuh dengan keseriusan.
Lina berhenti, tak berani menoleh, namun hatinya berdetak lebih cepat.
"Aku akan membuatmu kembali, satu cara atau cara lainnya," Elian berkata, dan suaranya penuh dengan ancaman yang halus, namun pasti.
Lina menatap pintu keluar, melangkah keluar dengan langkah yang lebih cepat. Ia tahu satu hal: permainan baru saja dimulai.