Ketika pertama kali menampaki kampung halaman, hati gadis cantik ini gamang. Seribu satu macam perasaan campur aduk. Sudah benarkah langkah yang ditempuhnya saat ini? Ia kembali ke masa lalunya. Bandung. Yang merupakan tempat kelahirannya, tempat dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan dewasa. Tempat yang membawa duka yang tak berkesudahan. Lima tahun berlalu. Tiba-tiba Diandra merasa deras waktu menyeretnya kembali.
Pesawat telah sedari tadi lepas landas. Aktifitas di bandara juga sudah semakin berkurang. Dua, tiga orang terlihat masih mondar-mandir mendorong kereta barang. Diandra masih termanggu di ruang tunggu. Entah apa yang gadis cantik ini pikirkan? Air matanya tiba-tiba menetes, Ia berusaha menghapus bulir air matanya yang masih membasahi wajah cantiknya.
Sejak tadi matanya berkeliling, mengamati setiap sudut bandara. Sudah banyak yang berubah. Diandra meneliti setiap orang yang berlalu-lalang. Tak ada satu pun orang yang ia kenali atau mengenalinya. Semua terasa sangat asing.
“Taksi, Mbak?” tegur Bapak supir taksi tersebut dengan sangat ramahnya.
Diandra memandangi sekilas supir taksi tersebut, mungkin Bapak supir taksi ini merupakan supir taksi yang keduapuluh yang menghampirinya. Karena Diandra yang tak tega, akhirnya dia mengangukan kepalanya. Supir taksi tersebut berkumis tebal, memiliki postur tubuh yang kurus. Apa lagi Bapak supir taksi tersebut sudah tua.
Ia lalu mengekori langkah kaki Bapak tersebut yang Nampak sekali kerepotan mengangkat barang belanjaannya. Diandra sengaja tak memberitahukan kepulangannya yang secara mendadak dari Bundanya.
Dia ingin membuat kejutan kecil. Sudah lama sang Bunda memintanya untuk pulang, tetapi Diandra selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Padahal, semuanya hanya bermuara pada satu alasan saja : yaitu adalah Robert! Setelah peristiwa itu, Diandra masih belum mampu melupakan apa pun kenangan yang menyakitkan. Tiba-tiba hatinya merasakan sesak.
Taksi berjalan agak lambat. Gerimis jatuh satu persatu. Lewat kaca mobil yang buram, Diandra menikmati suasana di luar sana. Semua sudah Nampak berubah. Satu, dua gedung pencakar langkit tampak meramaikan kota. Jalanan yang dulu lengang, kini terlihat sangat padat. Macet mulai mengisi dimana-mana.
“Di depan belok kanan atau kiri mbak?” tanya supir taksi tersebut dengan ramahnya. Melirik Diandra melalui kaca spionnya.
“Kiri,Pak. Rumah yang gradasi hijau itu!”
Taksi berhenti di depan rumah bergadasi hijau dengan perkarangan yang sangat luas.
“Ini, Pak. Makasih, Diandra menyodorkan uang limapuluh ribuan.
Diandara melangkahi anak tangga dari batu. Dulu, ratusan kali sudah ia melangkahi anak tangga tiga tingkat itu. Bahkan, pernah saat dia buru-buru mau berangkat sekolah, dia hampir terjatuh di tangga itu. Semua begitu jelas, walau pun sudah lima tahun berlalu.
Diandra terpaku tepat di depan teras. Rumah di ha-dapannya juga sudah berubah. Di sampingnya, ada tamanan kecil penuh dengan bunga mawar aneka warna.
Teras itu sendiri menghadap ke halaman luas. Di halaman itu, Nampak ada pohon manga, pohon pisang dan pohon salak. Beberapa rumpun bunga kana menghiasi tepi pagar. Rimbunnya pepohonan yang menutupi teras, membuat suasana menjadi teduh dan nyaman.
“Nyari siapa, Mbak?” tanya seorang perempuan yang jauh lebih mu-da, kira-kira lebih muda darinya.
Dengan tersenyum, gadis muda tersebut menghampirinya.
Diandra mengerutkan keningnya. “ini rumahnya Ibu Nita, kan?”
“Mbak ini,….”
“Aku Diandra, putrinya.”
“Ohh, Mbak Diandra. Saya Santi pembantu baru di sini.”
“Bu…. Ibu…..!” teriak Santi, “Mbak Diandra pulang!”
Seorang wanita tua tergopoh-gopoh keluar. Diandra terpaku menatap wanita tua di hadapannya. Garis-garis tampak jelas di wajahnya. Membuatnya terlihat sangat tua. Diandra berlari menyongsong wanita itu. Mengecup punggung tangannya dan memeluknya erat.
“Kenapa nggak ngomong dulu Nak, kalo kamu mau pulang?” tanya wanita itu ketika pelukan terlepas.
“Kalau ngomong bukan surprise namanya.”
“Akhirnya, kamu pulang juga, Nak.”
Mata tuanya berkaca-kaca, “kalo tau bakalan pulang hari ini, kan, bisa di jemput.”
“Nggak apa-apa, Bunda.”
“Itu bawaanmu?” Bunda menunjuk koper dan barang-barang lain yang masih berserakan di teras, “banyak banget.”
“Saya bawa masuk ya, Mbak.” Santi yang tadi diam, kini bergerak menuju barang-barang Diandra.
“Berat, loh. Biarin aja. Nanti kita angkat sama-sama,” sahut Diandra.
“Jangan, Mbak,” Santi buru-buru mencegahnya, “Kebetulan, ada Mas Jamil. Biar dia saja yang mengakat bawaan Mbak Diandra.”
“Jamil?”
“Dia suami saya, Mbak” jelas Santi yang terlihat agak malu.
Diandra sedikit kaget. Perempuan muda seperti Santi rupanya sudah menikah. Padahal, jika di bandingkan dirinya usia Santi terbilang sangat belia. Namun, Diandra memaklumi semua itu. Para perempuan desa biasanys tidak terlalu banyak pertimbangan dalam memilih calon suami untuk kemudian menikah.
Di kalangan perempuan desa, biasanya ada mitos turun temurun yang diyakini. Misalnya jika perempuan tersebut menolak lamaran laki-laki yang datang melamarnya, dia akan menjadi perawan tua. Jadi, seperti apa pun laki-laki yang datang melamarnya, gadis tersebut wajib menerimanya. Perempuan tak berhak memilih atau mengambil keputusan sendiri pa-sangan hidupnya. Bagi perempuan desa, saat mengalami haid pertama, itu tandanya mereka harus menikah sesegera mungkin. Berbeda sekali dengan perempuan kota. Banyak pertimbangan sebelum memutus-kan mengikat diri dalam ikatan pernikahan. Masa penjajakan yang cukup, materi yang matang kecocokan latar belakang keluarga, dan tetek bengek lainnya. Belum lagi, ketakutan-ketakutan yang sangat beralasan dan terkesan dibuat-buat.
Seorang pemuda tanggung datang menghampiri mereka.
“ini suamimu?” Diandra memandangi Santi yang menganguk sungkan.
“ini barangnya, Mbak?” tanya Jamil sambil menunjuk barang-barang bawaan Diandra, “dibawa ke mana Mbak?”
“Ohh…, bawa ke kamarku yang dahulu saja.”
“Kamarnya Diandra yang di pojok ruang tengah itu,”jelas Bunda.
Diandra memperhatikan pemuda yang tampak gesit membawa barang-barangnya itu. Kira-kira usianya masih sangat belia sekali. Pasangan belia. Diandra merasa sangat tua sekali jika berhadapan dengan mereka berdua.
“Ayah di mana?”
“Masih di kantor. Mungkin, sebentar lagi pulang. Udah nggak usah nunggu Ayahmu. Kamu makan saja dulu Nak. Kebetulan, tadi Bunda memasak tumis pare dan oseng tempe. Kamu masih doyan kan?”
“Bunda, kok, rumahnya sepi? Mas Dellon mana?”
Tiba-tiba, wajah Bunda menjadi mendung.
“Kakak kamu nggak tinggal di sini lagi.”
“Kenapa?”
“Perusahaanya sudah berkembang, dia sudah membeli rumah sendiri Nak.Terus, baru seminggu ini dia pindah dari rumah. Di tambah lagi dia menjalin hubungan dengan gadis yang berbeda agama dengan kita. Karena Bunda marahi dia nggak terima. Dasar anak nggak tau diri, sudah dididik dan dibesarkan. Setelah jadi orang sukses, malah seperti ini balasannya,” gerutu Bunda .
Diandra terdiam, ternyata Bunda masih sama seperti dulu. Masih suka mengomel untuk menumpahkan kekesalannya. Sangat emosional sekali. Diandra ingat, Bunda memang sangat keras dalam hal mendidik anak-anaknya sehingga sangat terkesan otoriter.
Sejak dulu bukan hanya Mas Dellon, Mbak Dina, dan Dilla sering kali ingin minggat dari rumah.
Tiba-tiba Bunda menitikan air matanya, Diandra langsung memeluk dan menenangkan Bundanya.
“Bunda kenapa menangis?” tanya Diandra menatap Bundanya dengan penuh keheranan.
Bersambung.
Bab 2. Orang Tua Tersayang
“Orang tua membesarkan anak-anaknya dengan satu harapan, suatu saat nanti anak-anaknya menjadi orang yang berguna. Bukan lantas pergi meninggalkan orang tuanya yang sudah peot ronta seperti ini. Seperti kacang lupa dengan kulitnya, itu namanya anak durhaka. Anak yang nggak tau balas budi,” Bunda masih saja mengomel dan terus menangis.
Bunda memang belum banyak berubah. Meski kali ini sikapnya, sudah lebih lunak. Tidak berlaku keras dan kasar lagi. Mungkin, kepergian Mas Delon sedikit menyadarkannya.
“Jadi Mas Dellon nggak pernah ke sini lagi?”
“Masih, sesekali pulang kerja, dia mampir ke sini. Kadang, weekend juga menginap di sini.”
Diandra menyendokkan nasinya dengan sangat antusias sekali. Memu di meja makan sangat mengundang seleranya. Apalagi, ketika disantap pada saat perutnya sedang keroncongan seperti ini. Selama perjalanan tadi, perut Diandra memang belum terisi apa pun.
“Hmm….enak. Gurih.”
Bunda terttegun, “Harusnya, Kakakmu juga ikut pulang dengan kamu."
“Mbak Dina masih sibuk kerja. Ia baru saja dipromosikan ke posisi yang lebih menjanjikan.”
Bunda tak menyahut. Ekpesinya datar.
“Udah lama banget ya, aku nggak makan masakan Bunda yang lezat dan menggugah selera ini.”
“Selama kamu di sini, Bunda akan memasak makanan kesukaan kamu. Coba lihat badan kamu sekarang kurus banget, padahal dulu badan kamu gembrot kaya bola.”
Ya, Diandra ingat. Dulu-semasa SMA- badannya sangat tambun. Lemak di tubuhnya berlipat-lipat, hobinya memang sangat sering memakan makanan mengandung jung food dan mie instan. Diandra juga suka mengemil dan minum susu. Akibatnya, ia sedikit mengalami obsesitas. Namun, semenjak kejadian itu-peristiwa Robert-berat badannya menurun dratis.
Mungkin, itu karena terlalu banyak pikiran dan kesedihan yang mendalam.
Teringat kejadian itu… teringat Robert, nafsu makan Diandra lenyap seketika.
“Kamu kenapa?”
“Nggak pa-pa, Bunda. Aku agak pusing. Mungkin aku kecapean.”
“Ya udah. Sana istirahat aja di kamar.”
“Diandra….”
Suara seseorang di ambang pintu membuat Diandra membalikkan tubuh ke arah suara itu.
“Ayah….” Teriak Diandra. Tanpa ragu, Diandra berlari ke arahnya.
Membiarkan tubuhnya tenggelam pelukan laki-laki tua itu. Diandra merasakan kulit itu tampak kurus. Kulitnya yang keriput terlihat lebih gelap. Ke mana Ayah dulu yang gemuk dan kekar? Ayah yang pernah menggendongnya di lengan kirinya dan Dilla, adiknya di lengan kanannya? Dibandingkan dengan Bunda, Diandra lebih dengan Ayahnya. Ayah seorang pria berhati lembut sehingga membuatnya terlihat penurut dan lemah di hadapan Bunda yang dominan.
Bersama Ayah, Diandra dapat bermanja se-puasnya.
“Akhirnya kamu pulang juga, Nak,” gumam Ayah terharu, “Kok, wajahmu pucat. Kenapa?”
“Kecapean, Yah. Kepala Diandra agak pusing. Diandra juga ngantuk.”
“Ya udah . istirahat saja dulu.”
Ayah menggandeng Diandra ke kamarnya.
“Coba lihat, kamarmu masih sama seperti yang dulu, kan? Nggak ada satu pun perabotnya yang pindah tempat. Ayah mau balik ke kantor dulu, masih ada urusan yang belum selesai. Nanti malam, kita ngobrol lagi.”
Setelah mengecup kening putrinya, Ayah berlalu. Diandra mengamati setiap sudut kamarnya. Semuanya memang belum berubah. Kamar itu merupakan bagian dari masa kecilnya. Ia tidak dapat melupakannya. Meskipun itu hanya melupakan hal kecil.
Cat dinding berwarna pink yang mulai memudar. Pernak-pernik Hello-kitty yang menghiasi tembok kamar. Diandra memang suka sekali kepada kucing Hello-kitty tersebut. Hampir setiap pernak-pernik tersebut menghiasi tembok kamarnya.
Langit-langit kamar yang tinggi. Kaca rias yang besar berbingkai ukiran di sudut kamar. Di sampingnya, ada lemari pakaian dari kayu jati berwarna cokelat muda. Lemari itu bersebelahan dengan sebuah meja tulis, juga dengan warna yang senada. Foto Diandra dengan pipi tembemnya, berseragam putih abu-abu, terlihat di atas meja tulis itu. Juga buku-bukunya yang berderet rapi. Sebagian buku-buku sekolah dan sebagian lagi komik.
Namun, yang menarik perhatian Diandra adalah sebuah pigura berukuran kecil dengan kaca buram yang retak. Letaknya menjorok ke dalam , tersembunyi di antara buku-buku. Foto Robert!
Perlahan, tangan Diandra terjulur meraih pigura itu. Jemarinya bergetar. Foto Robert yang telah memamerkan senyumannya. Separuh wajahnya tertutupi kaca yang retak. Cowok jangkung berkulit putih. Rambut hitam berombak dan sedikit awut-awutan. Punya hidung bangir dan bibirnya yang tipis. Alis tebal dengan sepasang mata teduh yang agak menyipit di sudut melengkapi wajah ovalnya. Juga senyuman yang riskan dengan tawa renyah.
Diandra masih mengingat semuanya dengan baik. Foto itu diambil saat ia dan Robert masih SMU. Dulu Diandra sendiri yang memecahkan frame tersebut. Ia pikir hal tersebut dapat menuntaskan kebenciannya kepada Robert.
Sudah lima tahun berlalu, tetapi semua serasa baru kemarin. Luka di hatinya belum sebelum sembuh benar. Kepiluan membelit dadanya. Setetes bening mulai mengalir di pipinya.
“Robert…” Ada perih merayap saat nama itu terucap.
Kenapa gambar ini ada di sini? Mungkin, Bunda yang menaruhnya. Atau mungkin Santi , pembantunya yang lugu itu nggak tahu apa-apa tentang sejarah pigura itu. Mungkin, ia yang menatanya tanpa praduga apa-apa.
Diandra menghela napas. Dibukanya laci meja untuk menaruh pigura retak itu. Di sana, ia menemukan se-buah diari using. Diandra mengambil dan memulai mem-bacanya buka lembarannya satu-satu. Dulu, Diandra sering menuliskan perasaannya pada diari itu. Hubungannya yang jauh dari Bunda membuatnya tidak punya teman untuk mencurahkan isi hatinya.
Bunda terlalu keras untuk dijadikan sahabat. Bunda terlalu kukuh untuk diajak bertukar pikiran tentang cinta. Sementara untuk berbagi cerita dengan Ayah, rasanya sangat sungkan sekala. Apalagi, Ayah terlalu serius untuk diajak untuk bertukar pendapat tentang laki-laki. Ayah terlalu religius untuk digiring berbicara tentang hubungan mesra laki-laki dan perempuan. Diandra membaca diari tua itu. Sampulnya sudah kusam tertutup debu. Di dalamnya, terlukis suka duka cerita remaja Diandra. Di sana, ada cerita singkat, ada puisi, ada bait-bait lagu. Namun, hampir semua lembar bercerita tentang Robert. Robert adalah cinta pertamanya. Orang pertama yang mengajari Diandra mengenal cinta. Robert jugalah orang yang pertama menghempaskan Diandra pada duka yang tak berkesudahan. Mengenalkan Diandra tentang sakitnya luka karena cinta.
Air mata jatuh lagi, mengalir di pipi Diandra. Lima tahun telah berlalu, ternyata dia juga belum bisa melupakan kenangan tentang Robert. Hatinya masih teririsdan meneteskan perih bila mengingat segala hal tentang Robert. Buru-buru, ditutupnya diari using itu dan dimasukkannya ke laci meja. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. Diandra merasa dirinya sangat lemah. Ia tak berdaya mengikis kegelapan masa lalunya.
Diandra menghempaskan tubuhnya di atas Kasur. Seprei pink bermotif Hello-kitty itu masih terasa lembut, meski warnanya sudah memudar. Diandra memiliki kebiasaan tidak memperlihatkan air matanya di hadapan siapa pun. Semua orang mengira Diandra adalah seorang gadis yang tegar dan tak pernah menangis.
Padahal, Diandra menyembunyikan kesedihannya. Ia menumpahkan semuanya pada diari. Tak jarang, pada saat semua orang terlelap Diandra akan menangis diam-diam di kamarnya, di atas tempat tidurnya. Berulang kali, ia berusaha menyembunyikan air matanya. Setiap menangis Diandra menututupinya dengan guling. Diandra tak ingin menyusahkan orang lain dengan masalahnya. Namun, akibatnya malahan menjadi menyusahkan dirinya sendiri. Jiwanya menjadi rapuh.
Malam itu, perasaan Diandra kembali galau. Ingatan-ingatannya meloncat-loncat. Keletihan yang tadi merayapi sekujur tubuhnya, tak lagi dirasakan. Kini, yang ia rasakan adalah perasaan haru yang luar biasa bercampur perasaan-perasaan yang tak dapat dijelaskan.
Diandra masih mengingat dengan jelas semuanya. Lagi-lagi, hempasan kenangan masa itu menyerangnya. Kenangan masa-masa indah bersama Robert, juga kenangan peristiwa pahit yang akhirnya menjerumuskan Diandra dalam jurang kesedihan yang tak berujung. Diandra memejamkan matanya yang basah. Ia membiarkan khayalannya kembali pada peristiwa lampau…
Bersambung.
Bab 3. Akan Selalu Terkenang
Siang itu, suasana kelas sangat riuh. Kebetulan Pak Danang , sang wali kelas berhalangan hadir. Murid-murid sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang lempar-lemparan bantal penghapus, ada yang berduan di pojok ruangan, ada yang kejar-kejaran, dan ada yang asyik bergosip.
“Diandra ada berita hangat,” teriak Ayu menghampiri Diandra.
Diandra masih tekun dengan novel di hadapannya.
“Aku mau cerita, tapi janji habis ini kamu traktir aku ya!”
Tak ada respon.
“hellooouu…! Kamu denger nggak, sih? Liat sini, dong. Ntar aja baca novelnya. Ini tentang Robert. Gebetanmu itu!”
Mendengar nama Robert di sebut, serta merta Diandra menutup novelnya. Ia menatap Ayu lekat-lekat. Me-nanti kelanjutan kalimatnya.
“Uuh! Kalo dengar Robert aja, baru melotot. Gini, se-lama ini, kamu, kan ngefans berat tuch, sama Robert. Kamu sampe uring-uringan dan nggak bisa tidur karena mikirin caranya deketin dia. Kamu juga bela-belain bolos pelajaran Cuma karena pengen lihat dia tanding basket. Kamu…”
Diandra tampaknya tak sabaran.
“Tenang… tenang. Nah, sebagai sahabatmu yang baik, aku nggak tega ngeliat kamu kaya gitu. Jadinya, akum au bantuin kamu. Aku juga mau… “
“Ayu…!”
“Iya… iYa. Selama ini, aku perhatiin kamu beneran cinta sama dia. Nah, yang namanya cinta itu harus diperjuangkan. Dia harus tau perasaanmu. Kamu nggak boleh diem aja nunggu keajaiban dating. Sekarang, bukan zamannya cewek pasif. Kalo kamu mencintai seseorang, kamu harus berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya, walaupun…”
“Kenapa?”
“Oke. Oke. Gini, tadi aku lewat di ruang sebaguna. Di sana, lagi ada pendaftaran anggota Palang Merah Remaja. Ekstakulikuler yang baru. Yang ikutan banyak banget. Nah, aku ngelihat Robert. Dia ikutan daftar. Minggu depan, diklatnya udah mulai. Jadi, ini kesempatan buat kamu.”
Diandra tertegun.
“O, ya, kayaknya si Sisil nggak ikutan, deh. Jadi, kali ini kamu nggak punya rival. Nah, asyik, kan? Kapan lagi bisa punya kesempatan banyak gini. Kan, kamu bisa berada dalam kegiatan yang sama. Aku bisa ngebayangin, nanti kamu dan Robert bisa bareng….”
Sebelum Ayu menuntaskan kalimatnya, Diandra sudah melesat ke ruangan serbaguna. Sambil menggerutu, Ayu menyusulnya.
“Waduh, jumlah pendaftarannya udah penuh. Lagian, kami udah buka pendaftaran sejak dua minggu yang lalu. Kenapa kamu baru daftar sekarang?”
“Soalnya, saya baru tau.”
“Kalo gitu, itu kesalahan kamu sendiri. Makanya, jadi siswa itu harus aktif dong. Harus tau perkembangan yang terjadi di sekitarannya. Jangan Cuma diem di dalem kelas terus.”
“Tapi kan….” Diandra terdiam. Dia tahu, ini memang kesalahannya. Dia jarang sekali menyempatkan diri membaca papan pengumuman. Dia ogah ikut kegiatan ekstrakulikuler kalau tidak terpaksa. Dunianya cuma kantin, novel, dan Robert. Termasuk saat ini. Dia nggak akan sudi buang-buang waktu adu mulut dengan panitia diklat, kalau bukan demi Robert!
“Tolong Kak,” Mita mulai ikut-ikutan, “Teman saya ini udah lama banget pengen jafi anggota PMR. Jadi, tolong kasih dia kesempatan. Kalo kali ini dia gagal lagi, dia bisa stress. Lagian, tambah satu lagi nggak apa-apa, kan? Sebenarnya, saya juga mau ikutan. Tapi, kan nggak mungkin nambah dua orang lagi. Asalkan teman saya bisa ikutan, saya mengalah nggak apa-apa kok.”
“Ya udah nambah satu lagi nggak apa-apa,” setelah melihat tampang Diandra dan Ayu yang memelas, panitia diklat itu akhirnya mengalah juga.
“Adik-adik, hari ini, diklat kita sudah memasuki hari terakhir. Pada sesi berikutnya, kalian harus mempraktikan semua teori yang telah diajarkan. Untuk itu, kami akan membagi kalian menjadi tujuh kelompok. Setiap kelompok terdiri atas lima orang. Nah, saya akan membacakan nama-nama kelompoknya,” kata Kak Galang sebagai pembina.
Diandra melirik Robert yang berdiri tak jauh darinya. Tubuh jangkungnya membuat Robert tampak lebih menonjol dari peserta yang lainnya. Wajahnya terlihat kelelahan. Peluh membasahi kaosnya. Sama seperti Diandra. Kegiatan ini benar-benar menguras tenaga.
Diandra menghela nafas. Diklat sudah memasuki hari terakhir, tetapi ia belum juga mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Robert. Jangankan untuk berbicara, berkenalan pun belum sempat. Badan Diandra mulai lemas. Hatinya juga. Diandra mulai putu asa. Rasanya, tak mungkin lagi bermimpi untuk bisa lebih dekat lagi dengan Robert.
Diandra memerhatikan Kakak pembina yang masih sibuk berkoar-koar dengan suara serak.
“Ternyata, jumlah kalian ganjil. Jadi, ada satu orang yang belum mendapatkan kelompok dan boleh ikut memilih kelompok yang mana saja.”
Pembina itu menatap peserta satu-persatu.
“Diandra?”
“Ya, Kak?”
“Kamu mau ikut kelompok yang mana?”
Yess! Diandra bersorak dalam hati. Tanpa pikir panjang, Diandra berujar lantang, “aku pilih kelompok Robert saja, Kak!”
Oups! Semua memandangnya. Diandra ikut terkejut sendiri dengan lontaran kalimatnya yang spontan.
Dia lupa jika dirinya dan Robert belum saling mengenal. Selama ini, Diandra selalu mencari informasi tentang Robert secara diam-diam. Semua hal menyangkut Robert sudah terekam di memorinya. Siapa nama lengkap Robert, di mana rumahnya, bagaimana keluarganya, jumlah saudaranya, apa kebiasaannya, di mana tempat nongkrongnya, hobinya, teman-teman dekatnya, termaksuk tentang Sisi… pacar Robert!
Diandra tahu, Robert punya Sisi. Sudah setahun lebih mereka bersama. Namun, Diandra tak patah arang. Seperti kata orang, selama janur kuning belum melengkung. Diandra masih bersemanagt mengintip Robertmain basket, meski di sana ada Sisi melompat-lompat kegirangan. Dia masih berse-mangat memerhatikan Robert bolak-balik kantin, meski di sana ada Sisi yang bergelayut manja. Diandra tak peduli Robert memiliki beberapa banyak Sisi, yang penting ia dapat melihat pujaan hatinya itu setiap hari.
Diandra melirik Robert sekali lagi. Cowok itu masih sibuk membenahi peralatan praktik. Diandra memberanikan diri mendekatinya. Peserta yang lain juga sibuk di kelompoknya masing-masing.
“Hai!” sapa Diandra riang, “ngg… kamu Robert, kan?”
Robert melihat sekilas. Tatapannya datar. Kemudian, ia menyibukkan diri lagi dengan peralatan yang berserakan di kakinya.
Uh! Sok cool banget, sih! Diandra geregetan.
“Tadi, kamu udah nyebut namaku, kan?”
Akhirnya, suara itu keluar juga. Berat dan lembut.
Diandra terpaku sejenak.
“Aku cuman mau memastikan saja. Takut salah. Kenalin, aku Diandra.”
Robert melirik sebentar. Masih dengan ekpresi yang sama.
“Kegiatan ini bikin capek, ya? Kamu capek, nggak?”
Tak ada jawaban. Diandra mendengarkan suara dengusan keras dari hidung cowok itu. Mungkin, dia mengaangap embusan nafasnya itu sudah dapat mewakili jawabannya.
“Aku kemarin lihat kamu tanding basket. Kamu mainnya keren banget. Kamu memang jago basket, ya!”
Robert berbalik menatap Diandra. Diandra suka melihat mata Robert. Hitam dan tajam setajam silet. Di balik tatapannya yang tajam itu, Diandra menemukan keteduhan. Yang membuat Diandra semakin jatuh cinta.
“Robert, aku datang. Gimana, capek ya, sayang? Nih, aku bawakan makanan.”
Diandra dan Robert berbalik ke arah datangnya suara tersebut.
Bersambung.