Pandan Wangi Aditama Perkasa dengan cekatan mengaduk kopi, sekaligus teh yang diraciknya dalam waktu yang bersamaan. Pagi-pagi seperti ini sudah menjadi tugasnya untuk menghidangkan minuman bagi para staff dan karyawan PT. INTI GRAHA ANUGRAH. Ia telah seminggu bekerja menjadi OG di perusahaan kontruksi kompetitor kakaknya. Bayangkan, ia yang seorang fashion designer lulusan Parsons School of Design College New York, bekerja menjadi seorang OG.
Dan semua ini ia lakukan demi kakaknya, Putra Lautan Aditama Perkasa. Lautan akhir-akhir ini mengeluhkan tentang masalah tender yang selalu kalah di akhir. Jikalau masalah presentasi, perusahaan mereka selalu memukau. Para client kerap memberi applause atas ide-ide inovatif kakaknya yang luar biasa. Hanya saja apabila sudah dilaga dengan masalah budgeting yang ditawarkan, perusahaan kakaknya selalu dikalahkan oleh PT. INTI GRAHA ANUGRAH ini. Kakaknya curiga kalau ada orang dalam yang bermain di sini. Karena angka-angka yang mereka tawarkan hanya berselisih tipis di atas kompetitornya ini. Mereka seolah-olah telah mengintip terlebih dahulu, berapa harga-harga yang mereka tawarkan. Baru perusahaan kompetitor ini menambahi sedikit angka di atasnya.
Untuk itulah, Pandan Wangi menyamar dengan melamar sebagai seorang OG di perusahaan kompetitor ini. Dan ide ini sebenarnya ia dapat dari Vanilla. Sahabatnya yang kini sedang bahagia-bahagianya menjadi seorang ibu baru. Menurut Vanilla, menjadi seorang OG adalah jalan pintas untuk bisa mendekati semua jajaran di perusahaan tanpa kentara. Karena dari mulai staff kelas teri sampai kelas piranha, semua akan bersinggungan langsung dengannya tanpa ada yang curiga secara berlebihan. Ya, apa berbahayanya seorang OG bukan? Pasti begitulah pemikiran orang awam.
Oleh sebab itulah ia sekarang ada di sini. Menukar semua gaun glamournya dengan kemeja putih dan rok hitam sederhana khas OG demi, tercapainya misi besarnya. Ia ingin tahu, siapa yang telah ini menyabotase perusahan kakaknya yang sudah diwariskan secara turun temurun itu. Ayahnya, Revan Aditama Perkasa memang sudah pensiun sekitar setahun lalu.
Ayahnya kini lebih suka melanglang buana menemani bundanya menikmati hari-hari tua mereka dengan berpetualang ke negara-negara lain. Mereka juga kerap kali tinggal di Kerajaan Siam, Thailand. Tanah kelahiran bundanya. Bundanya ini sebenarnya adalah seorang cucu raja Siam. Hanya saja karena bundanya memutuskan untuk mengikuti suaminya di Indonesia, maka konsekuensinya adalah bundanya harus kehilangan haknya sebagai seorang cucu raja. Begitulah peraturan protokoler di kerajaan sana. Tetapi dalam hubungan kekeluargaan, mereka semua tetap baik-baik saja.
"Eh anak baru, lo kalo kerja yang bener dong? Dari tadi gue lihat lo cuma ngaduk-ngaduk kopi doang. Cepetan anterin semua minuman ke meja masing-masing staff. Setelah itu lo buatin lagi segelas kopi untuk anak Pak Darwis yang baru mulai ngantor hari ini. Ruangannya juga yang biasa dipake Pak Darwis ya? Inget jangan salah!" Pandan nyaris menjatuhkan gelasnya karena mendengar kecemprengan suara Mbak Nanik. Salah seorang OG senior di kantor ini. Pandan mengelus dada. Memang nasib anak baru di mana-mana sama saja walau apapun tingkat jabatannya. Baik itu seorang manager atau OG sekalipun, kalau masih new comer pasti akan ditindas.
Sabar, Ndan. Ini kan demi misi perusahaan. In hale exhale, sabarrr...
Pandan menyusun masing-masing minuman enam di sisi kanan, dan enam lainnya di sisi kiri agar seimbang. Ia kemudian mengangkat dua belas gelas di atas baki dan mulai bergerak membagikan minuman. Suitan nakal dan gombalan dari para karyawan yang masih single hanya ditanggapi Pandan dengan seulas senyum tipis dan sopan. Laki-laki di mana-mana sama saja. Tidak bisa melihat kening yang mulus sedikit, pasti mereka sudah sibuk menggoda. Beberapa staff wanita memperlihatkan ekspresi tidak suka melihat kehadirannya. Pandan tahu, mereka merasa kalah saing dengan dirinya yang hanya seorang OG. Tapi Pandan menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Ia tidak mau memusingkan hal-hal yang tidak penting untuk di pikirkan. Buang-buang tenaga saja. Haters gonna hate 'kan kata Mbak Taylor Swift?
Pandan menyisakan satu gelas kopi di baki dan bergegas ke ruangan yang bertuliskan Presiden Direktur. Ia mengetuk beberapa kali, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Karena pekerjaannya masih banyak, ia bermaksud meletakkan kopinya di meja anak Pak Darwis saja. Dengan begitu urusannya selesai. Pandan mendorong pintu dengan siku kanan, karena tangan kirinya sedang memegang baki minuman.
Pandan terpaku saat masuk ke dalam ruangan. Ia dihadiahi konten 17 tahun ke atas secara live. Pandan hanya mematung saat melihat seorang pria berpakaian formal sedang berciuman ala french kiss dengan seorang wanita muda yang pakaiannya sudah acak kadul tidak karuan. Kedua orang ini sama-sama tidak dikenali oleh Pandan. Tetapi pemuda yang sedang sibuk menukar salivanya dengan seorang wanita yang duduk di atas pangkuannya itu, wajahnya sebelas dua belas dengan wajah Pak Darwis. Pasti pemuda inilah anak Pak Darwis yang akan menggantikan posisi ayahnya mulai hari ini. Kinerja hari pertama yang luar biasa.
"Apakah Anda tidak diajarkan sopan-santun oleh orang tua Anda, untuk tidak masuk ke dalam ruang pribadi seseorang tanpa mengetuk pintu lebih dulu? Anda ini sungguh tidak sopan!" Saat melihat kehadirannya, pemuda itu segera menurunkan wanita yang ada di pangkuannya. Sang wanita buru-buru membetulkan penampilannya. Sepertinya si wanita malu karena kepergok sedang melakukan adegan yang tidak senonoh di kantor. Pandan mengernyitkan keningnya saat memperhatikan wanita ini lebih dekat. Astaga! Wanita ini adalah istri dari seorang pengusaha ternama yang baru saja menikah beberapa bulan lalu. Pantas saja wanita ini terkejut. Takut skandalnya terbongkar barangkali. Cuih!
"Kedua orang tua mengajari saya dengan amat sangat baik, Pak. Makanya sebelum masuk tadi, saya telah mengetuk pintu berulang-ulang kali. Karena tidak mendapat jawaban barulah saya membukanya. Mungkin saat itu Bapak sedang sibuk." Sahut Pandan dengan wajah sopan namun dingin. Dia memang hanya seorang OG. Tetapi ia tidak akan terima jika ia disalahkan atas sesuatu yang meman bukan salahnya.
"Kalau tidak mendapat jawaban, kenapa Anda malah masuk saja. Bukankah Anda tahu kalau ini kantor? Sopan santun Anda di mana, heh?" Bentak anak Pak Darwis lagi. Kesabaran Pandan habis sudah.
"Justru karena ini kantor dan bukan kamar pribadi Bapaklah makanya saya berani masuk, saat pintu ruangan sudah terbuka sedikit. Sudah menjadi tugas saya setiap pagi untuk mengantarkan kopi dan meletakkannya di meja masing-masing staff sekalipun mereka belum ada di tempat. Saya hanya melaksanakan tugas saya. Bukan urusan saya melihat apa yang sedang berlangsung di dalam ruangan yang Bapak sebutkan sebagai kantor tadi. Karena pengertian kantor di sini menurut saya adalah tempat untuk bekerja. Tapi kalau menurut Bapak saya bersalah, saya minta maaf. Karena bagaimanapun Bapak adalah bossnya. Permisi." Pandan meletakkan segelas kopi di meja dan berlalu begitu saja dari ruangan anak Pak Darwis. In hale, ex hale... sabarrrr...
"Tunggu dulu! Anda ini hanya seorang OG tapi sudah berani menyindir-nyindir saya. Anda benar-benar tidak tahu diri? Anda mau saya pecat?" Raungan pria pemarah ini seketika menghentikan langkah Pandan. Begini amat ya rupanya jadi orang kecil? Tidak ada sedikitpun keadilan yang di dapatkannya. Dari sudut mata Pandan melihat si wanita lawan laga bibir atasannya tadi menghampiri atasannya sambil berbisik pelan. Atasannya tampak mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Si wanita kemudian bergegas pergi seolah-olah tidak melihat Pandan dan tidak ada kejadian apa-apa. Luar biasa!
"Bapak mau memecat saya? Tidak masalah. Tetapi Bapak harus bisa membuktikan kalau saya memang melakukan kesalahan fatal sehingga saya layak untuk dipecat." Jawab Pandan tegas.
Atasannya tiba-tiba saja berdiri dari kursi dan menghampirinya yang sedang berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Anda masih berani menyahuti kata-kata saya?" Atasannya sekarang menunjuk-nunjuk wajahnya dengan geram. Pandan woles saja. Ia ini kan putri Revan Aditama Perkasa yang sangat jago jika disuruh berargumen. Selama ia benar, sampai mana pun akan ia ikuti apa maunya anak pemilik perusahaan ini.
"Saya bukannya menyahuti kata-kata, Bapak. Tapi saya menjawab pertanyaan, Bapak. Bedakan. Soalnya Bapak tadi mengancam akan memecat saya? Saya hanya bertanya apa kesalahan saya? Wajar kan, Pak? Maaf jika kata-kata saya menyinggung perasaan Bapak." Pandan membungkukkan sedikit tubuhnya. Ia pura-pura mengalah demi untuk menaikkan ego atasannya. Ia sedang mempraktekkan ilmu tarik ulur yang kerap kali dipraktekkan ayahnya.
"Ingat Nak, kalau menghadapi lawan yang keras, jangan ikuti kekerasannya. Kita harus lentur dan menarik ulur. Tapi beri tekanan pada poin-poin penting yang harus diwaspadainya."
"Oh ya, kalau tidak salah ibu tadi itu menantunya Pak Hendrawan bukan? Mudah-mudahan saja Pak Hendrawan tidak tahu kalau menantunya sering main ke sini ya, Pak?" Timpal Pandan kalem.
Pandan juga memberikan tatapan lugu-lugu mengancam pada atasan barunya ini. Wajah atasan barunya seketika memucat mendengar kalimat ambigunya. Sepertinya atasannya ini baru sadar akan konsekuensi memiliki affair dengan istri orang. Rasain lo! Hehehe.
"Anda ini..."
Tok... tok... tok...
Kalimat atasannya diinterupsi oleh ketukan pelan di pintu.
"Siapa?" Auman sang atasan sampai membuat telinga Pandan berdenging.
"Saya Verina, Pak. Di depan ada teman lama Bapak yang ingin bertemu katanya." Pandan mendengar suara Mbak Rina menjawab takut-takut. Mungkin Mbak Rina jiper karena mendengar bentakan atasan barunya, yang bahkan belum ia ketahui namanya ini.
"Oh Pak Denver Delacroix Bimantara kan? Suruh beliau masuk saja." Pandan yang mendengar nama Denver disebut beserta nama Delacroix Bimntara di belakangnya seketika gugup. Putra sulung Om Arkansas rupanya teman lama atasannya ini. Ai mak jang, bisa ketahuanlah ini samarannya. Pandan dengan cepat memasang maskernya. Sebisa mungkin ia menutupi wajahnya agar tidak dikenali. Misinya bisa gagal di tengah jalan kalau Denver sampai membuka penyamarannya.
Suara pintu yang dibuka dan ditutup kembali membuat Pandan berkeringat dingin. Ia bermaksud keluar ruangan dan menyelipkan tubuhnya di samping Mbak Verina.
"Mau kemana kamu OG? Urusan kita belum selesai. Buatkan segelas kopi untuk tamu saya. Setelah urusan saya dengan teman saya selesai, baru kita akan menyelesaikan semua masalah kita. Mengerti kamu?" Pandan hanya menganggukkan kepalanya dan buru-buru ngacir ke pantry.
Masalah kita? Lo aja kali. Cuih!
"Selamat." Ucapnya lirih saat berhasil mencapai pantry tanpa dikenali oleh Denver.
"Selamat apa? Kamu disuruh mengantarkan segelas kopi saja ke ruangan Pak Darwis malah nyangkut lama di sana. Kamu berniat menggoda anak Pak Darwis ya? Jangan mimpi kamu. Si Arsene itu pacarnya berganti setiap minggu. Kamu jangan kege-eran kalau dirayu-rayunya tadi. Dia itu tidak pernah serius dengan perempuan. Apalagi yang kelasnya jauh di bawahnya seperti kamu. Nanti habis manis sepah dilepehin kamu. Mengerti?" Pandan mengangguk.
Peringatan ini berlaku untuk lo juga, Mbak Nanik? Batinnya.
Walaupun di ucapkan dengan kalimat yang sadis, tapi apa yang di katakan oleh Mbak Nanik itu benar. Orang-orang seperti Pak Arsene, yang namanya baru saja ia ketahui dari Mbak Nanik ini, pasti merasa seperti Tuhan karena memiliki segalanya. Mereka suka mempermainkan perasaan orang sesuai dengan keinginan mereka. Orang-orang seperti ini sangat jarang mengenal kata cinta. Bagi mereka cinta itu adalah saat para wanita beramai-ramai berusaha meraih perhatian mereka. Mereka tidak tau saja bahwa yang dicintai oleh wanita-wanita itu bukan dirinya, tapi uangnya. Mereka menganggap orang lain bodoh padahal ia sendiri juga bodoh. Kebodohan tidak mengenal status bukan?
"Kopi saya masih sama seperti dulu ya, OG yang namanya nyontek nama beras. Hitam pekat tanpa pemanis buatan. Jangan seperti waktu dulu. Kamu mencampurkan garam alih-alih gula." Sebuah suara bariton menyapa pendengarannya. Denver Delacroix Bimantara. Sepertinya Denver sudah mengenalinya dan mengikutinya hingga ke pantry ini. Kepalang basah, nyebur aja sekalian.
"Tenang saja Bapak yang namanya nyontek nama kota di Amerika sana. Saya tidak akan mencampurkan garam lagi dalam kopi, Bapak. Saya hanya akan meneteskan sedikit saliva saya di dalam kopi Bapak, agak Bapak menjadi sedikit penurut pada saya." Sahut pandan kalem. Kadung ketahuan, mau bagaimana lagi?
"Ah, kalau begitu saya ingin mencicipi saliva kamu langsung dari sumbernya saja." Pandan membelalakkan matanya saat Denver memajukan tubuhnya dan semakin mendekati tubuhnya. Denver ini memang gila. Kalau sudah punya mau, apapun akan ia terabas. Sifatnya sebelas duabelas dengan ayahnya, Om Arkanas. Pandan mundur-mundur risih hingga punggungnya membentur bak pencuci piring. Namun Denver malah makin dekat dan terus mendekatinya. Tepat pada saat wajah Denver menunduk dan hanya berjarak beberap senti meter dari wajahnya, sebuah suara menginterupsi.
"Eh Den, lo ngapain mepet-mepetin OG gue begitu?" Pandan menarik nafas lega. Untuk pertama kalinya ia bersyukur saat melihat wajah atasan songongnya. Dengan cepat ia segera berkelit dan kembali meracik kopinya.
"Mata OG lo kelilipan makanya gue bantu niupin matanya. Ia kan OG? Eh nama kamu siapa?" Denver pura-pura bertanya.
"Nama saya Pandan Wangi, Pak." Jawab Pandan hati-hati. Ia tentu saja tidak menyertakan nama Aditama Perkasa di belakangnya.
"Apakah mata kamu sekarang sudah lebih baik? Kalau belum apa perlu saya bantu untuk meniupnya lagi barangkali?" Tanya Denver sambil tersenyum iblis. Manusia mesum akut ini memang menyebalkan!

"Mbak Nik, saya lihat ruang arsip sepertinya kok jarang sekali dibersihkan ya?" Pandan mulai menebar strategi. Saat ini ia dan Nanik sedang mencuci gelas-gelas kotor. Di jam pagi menjelang siang seperti ini, tugas mereka memang sedikit longgar. Para staff biasanya sudah fokus dengan pekerjaan masing-masing. Sehingga jarang sekali mereka minta diantarkan minuman.
"Karena semua tugas saya sudah selesai, apa boleh saya saja yang membersihkannya?" Pandan menghampiri Mbak Nanik yang terlihat sedang mengelap gelas-gelas yang baru saja mereka cuci.
"Gue heran ngeliat lo OG baru. Lo ini emang mental babu atau cuma belagak rajin karena pengen naik gaji? Yang mana yang bener?" Mbak Nanik meliriknya sekilas dengan tangan yang tetap cekatan mengelap gelas-gelas.
"Ya dua-duanya kali, Mbak. Hehehe. Saya memang suka bersih-bersih orangnya. Tapi kalau hal itu ternyata juga bisa membuat saya naik gaji kan alhamdullilah, Mbak." Pandan nyengir. Pura-pura malu karena niatnya ketahuan.
"Nah kan bener dugaan gue. Gue ini emang paling jago kalo disuruh membaca isi hati orang," imbuh Mbak Nanik dengan jumawa.
Bingo! Kena juga Mbak Nanik dalam jebakannya. Ia memang sengaja mengangkat-angkat Mbak Nanik agar ia bisa semakin dekat dengannya. Kalau ia bisa meraih kepercayaan OG senior ini, maka misinya akan lebih mudah untuk dijalankan. Sambil menyelam minum Xing Fu Tang. Dingin-dingin seger, ya kan?
"Mbak Nanik kayak Roy Kiyoshi deh? Bisa aja membaca isi hati orang. Coba kalo Mbak diberi kesempatan yang sama kayak si Roy. Pasti Mbak bakalan terkenal juga." Rayu Pandan lagi.
"Lebay lo ah!" Omel Mbak Nanik seraya memutar bola matanya.
"Ini gelas-gelasnya mau dikeringkan ya? Biar saya bantuin ya Mbak, dari pada saya nganggur?" Pandan ikut meraih sebuah gelas dan mengelapnya hingga kering. Ia mendengar Mbak Nanik menghela napas panjang.
"Lo kalo mau minta naik gaji yang harus lo baik-baikin itu pemilik perusahaan ini. Bukan gue. Karena sebaik dan serajin apa pun lo sama gue, gue nggak bakalan bisa naikin gaji lo. Karena lo dan gue itu sama-sama kacung kampret di sini. Ngerti lo."
Nah kan, roman-romannya Mbak Nanik mulai sedikit menaruh simpati padanya.
"Oh, jadi saya harus baik-baikin Pak Arsene ya Mbak biar bisa naik gaji?" Tanya Pandan berlagak pilon. "Kalau begitu nanti saya coba deh baik-baikin Pak Arsene. Demi membayar uang kost yang sudah menunggak tiga bulan, apa pun asal saya lakukan asal halal." Pandan menarik napas berulang kali. Ia juga mencoba berimprovisasi dengan menambahkan ekspresi wajah sememelas mungkin. Aktingnya sebelas dua belaslah dengan sinetron-sinetron menantu yang tertindas di stasiun TV sebelah.
"Lo nunggak bayar uang kost?" Kali ini Mbak Nanik menghentikan kegiatannya. Semua gelas telah ia lap bersih dan disusun rapi dalam lemari. Ia sekarang berdiri berhadap-hadapan dengan Pandan. Pandan mengangguk. Kali ini ekspresinya ia usahakan semirip mungkin dengan anak kost di tanggal tua yang tidak diberi utangan mi instan di warung sebelah. Ngenes, coeg!
"Makanya kalo hidup ngekost itu lo harus hemat dan pinter-pinter mengatur keuangan. Ini bulan masih panjang tapi lo udah mikirin utang aja. Lo beneran lagi bokek?" Pandan mengangguk. "Coba gue liat dompet lo?" Mbak Nanik meminta barang bukti. Sepertinya ia belum yakin kalau Pandan memang semiskin itu. Pandan buru-buru mengeluarkan dompet lusuhnya dan memberikannya pada Mbak Nanik. Saat membuka dompetnya, gantian Mbak Nanik yang menghela napas panjang.
"Dompet lo ini belum merdeka rupanya," tukas Mbak Nanik prihatin.
"Belum merdeka? Maksudnya?" Mbak Nanik menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandan bingung. Belum merdeka bagaimana maksudnya?
"Lah isi dompet cuma gambar Ibu Tjut Meutia doang. Itu kan artinya lo masih dalam masa perjuangan? Kalo isinya gambar Pak Soekarno dan Pak Hatta, itu baru bisa disebut dompet lo udah merdeka. Kalo masih gambar ginian, artinya lo juga kudu ikut berjuang. Jangan boros-boros jadi orang."
Mbak Nanik mengembalikan dompet lusuh Pandan dengan isi yang juga sama memprihatikannya. Pandan nyengir lagi. Kata-kata Mbak Nanik membuatnya geli. Si Mbak galak ini konyol juga ternyata.
"Gue sekarang mau ngebersihin ruangan arsip. Lo mau ikut kagak? Ruangan arsip itu nggak boleh dimasukin sembarang orang karena sifatnya rahasia. Makanya dibersihinnya cuma seminggu dua kali. Tapi kalo sama gue, lo bisa ikutan. Mau kagak?"
"Wah hanya Mbak Nanik yang boleh. Berarti Mbak Nanik ini orang kepercayaannya Pak Darwis dong ya? Hebat euy!" puji Pandan dengan air muka yang dibuat setakjub mungkin. Mendengar pujiannya, Pandan nyaris bisa melihat lubang hidung Mbak Nanik kembang kempis karena bangga.
"Ya iyalah. Gue kan udah hampir lima belas tahun kerja di sini. Lo mau ikutan nggak?"
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Asa ditonjok congcot, euy. Memang inilah tujuan utamanya menjadi OG di kantor ini. Menyelidiki arsip-arsip perusahaan.
"Nggak usah deh, Mbak. Ntar kalo ada apa-apa, Mbak Nanik lagi yang disalahin." Sahut Pandan pura-pura enggan. Padahal dalam hati ia kegirangan. Kesempatan udah ada di depan mata, coeg! Tinggal diemplok aja. Tapi ia harus kelihatan enggan-enggan gimana dulu gitu. Biar Mbak Nanik makin percaya akan makaud baiknya. Aktingnya harus lulus sertifikasi dong. Hehehe.
"Udah nggak apa-apa. Asal jangan kena air aja itu arsip-arsip. Pasti akan aman-aman aja. Ntar habis ini gue pinjemin duit gue dulu buat lo bayar kost-an. Tapi setelah itu inget, iket pinggang lo kenceng-kenceng. Hidup hemat." Mbak Nanik ini judes-judes ternyata hatinya baik juga.
"Ah siyap." Pandan menjawab jenaka seraya mengacungkan kedua jempolnya. Aktingnya benar-benar sebelas dua belas dengan Dian Sastro rupanya.
Misi pertama untuk mendekatkan diri dengan Mbak Nanik sudah hampir bisa dikatakan berhasil. Tinggal beberapa misi lagi yang menunggu untuk ia selesaikan. Ia sudah tidak sabar untuk mengungkap siapa sebenarnya penghianat yang menyebabkan perusahaan keluarganya merugi. Oke, just wait and see.
==================================
"Sebenarnya arsip-arsip tua yang di sebelah sini itu udah nggak begitu penting lagi. Tapi ya mungkin karena nilai sejarahnya, makanya Pak Darwis selalu meminta gue untuk membersihkannya. Menyusunnya dengan rapi sesuai dengan tanggalnya. Lo bersihin yang teliti. Inget, jangan sampai kena air ya? Ntar lembab dan jamuran jadinya."
Pandan mengangguk patuh seraya memperhatikan setiap detail ruang arsip ini dengan seksama. Ruang arsip-arsip lama dan arsip-arsip baru walaupun berada dalam ruangan yang sama, tapi dipisahkan oleh sebuah pintu penghubung. Perbedaan sirkulasi udaranya pun sangat berbeda. Di ruangan arsip lama udaranya lembab dan berdebu karena agak jarang dibersihkan. Sementata ruangan arsip baru udaranya bersih dan segar. Mungkin karena adanya exhausted fan juga di sana. Mbak Nanik membuka pintu penghubung dan membawanya pada sekat arsip-arsip baru.
"Nah, kalau bagian ini semua adalah arsip-arsip baru tahun ini. Pak Darwis melarang keras orang-orang yang tidak berkepentingan untuk menyentuh arsip-arsip ini. Selain gue yang emang petugas kebersihan, hanya Bu Intan, sekretaris Pak Darwis yang mempunyai akses keluar masuk ruangan ini. Gue bersihin yang bagian arsip-arsip baru ini dan lo bersihin arsip-arsip lama. Tapi pintu penghubungnya biarin aja terbuka. Jadi lo nggak sesek napas karena banyak debu-debu di sana." Mbak Nanik menarik tali exhausted fan untuk menyaring sirkulasi udara dalam ruangan.
"Setelah Pak Darwis pensiun, Bu Intan kabarnya juga mau digeser kedudukannya ya, Mbak? Saya taunya sih dari pembicaraan staff-staff sewaktu nganterin minuman tadi. Bukannya saya bermaksud kepo lo." Pandan berusaha mengakrabkan diri dengan Mbak Nanik agar ia bisa lebih mudah untuk mendapatkan info-info terkini di kantor.
"Kayaknya sih. Ya secara Arsene itu kan playboy abis. Mana betah dia kalo kemana-mana ngajak Bu Intan yang umurnya udah tiga puluhan? Pasti dia bakalan nyari yang lebih muda plus seksi supaya bisa dia pake juga. Yah udah jadi rahasia umum sih kalo rata-rata kaum executive muda pada begitu kelakuannya. Ya walaupun nggak semua juga. Tapi nggak semuanya itu juga dikit bangetlah persentasinya. Namanya juga laki. Kalau nggak buaya ya anjin*."
Pandan yang sedang mengelap beberapa arsip melirik Mbak Nanik yang kayaknya dendem banget ngomongin soal laki-laki. Ia tahu sampai diusianya yang sepertinya sudah mencapai angka empat puluhan ini Mbak Nanik masih belum juga menikah. Padahal wajahnya manis juga. Khas indonesiawi banget.
"Mbak kayaknya dendam banget sama laki-laki. Pernah dikecewain ya, Mbak? Eh maaf, jadi kepo saya. Hehehe." Dengan dibukanya pintu penghubung, mereka masih bisa bercakap-cakap walaupun membersihkan bagian yang berbeda.
"Bukannya dendem. Tapi gue udah nggak percaya sama yang namanya laki-laki. Gue udah pernah ditinggalin, dibodohin, dicurangin, dan cuma dianggap kayak tempat sampah untuk buang suntuk. Gue juga pernah diajak balikan kemudian ditinggalin lagi setelah laki-laki yang katanya mencintai gue itu nemu cewek yang lebih muda dan kaya. Jadi gue ilfeel sekarang kalo ngomongin soal laki-laki. Makanya gue milih untuk hidup sendiri aja dari pada sakit hati lagi."
Dari getirnya suara Mbak Nanik, Pandan bisa merasakan betapa Mbak Nanik sudah kehilangan kepercayaan pada laki-laki. Ia tidak bisa menyalahkan Mbak Nanik. Setiap orang mempunyai kisah dan masa lalu sendiri-sendiri. Kita tidak bisa menghakimi seseorang karena perjalanan hidup yang mereka lalui tentu saja berbeda.
Dalam diam mereka berdua bekerja dengan cekatan. Pandan berkali-kali melirik kearah arsip-arsip baru dengan rasa penasaran yang begitu besar. Hanya saja, ia tahu bahwa ia harus bersabar. Ia harus bisa berteman dan mendapat kepercayaan terlebih dahulu dari Mbak Nanik baru ia bisa bergerak. Untuk saat ini progressnya dalam mendekati Mbak Nanik dalam seminggu ini sudah lumayan ada kemajuan. Tinggal sedikit lagi mudah-mudahan semua rahasia bisa diungkap.
Setelah pekerjaannya di ruang arsip selesai, Pandan kembali ke pantry untuk membersihkan diri dari debu-debu ruangan arsip sementara Mbak Nanik dipanggil oleh salah seorang staff untuk memphotocopy beberapa berkas. Pandan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Memutar keran wastafel dan membasuh kedua lengannya di sana.
Karena cuaca yang cukup panas, Pandan yang kegerahan mengangkat ke atas semua rambut panjangnya. Kemudian menggelungnya menjadi satu bagian dipuncak kepalanya. Barulah ia merasa sedikit sejuk dan lega. Saking asyiknya mencuci tangan, Pandan sampai tidak menyadari kalau ada sesosok tubuh yang mendekat.
"Apa sebenarnya niat kamu menyamar sebagai OG begini? Apa Lautan tau kalau kamu sedang bergerilya di sini, hmmm?" kaget Pandan mematikan keran dan melirik ke sumber suara.
Denver tampak berdiri di ambang pintu pantry sambil bersedekap. Memperhatikannya mencuci tangan. Ini manusia sebiji selalu muncul secara tiba-tiba.
"Saya sedang ada misi penting di sini, Bang Denver. Tolong jangan buka dulu penyamaran saya sebelum misi saya completed. Saya mohon, Bang Denver." Pandan memutuskan untuk sedikit menjilat Denver dengan panggilan masa kanak-kanak mereka. Pandan berharap semoga Denver bersedia menutupi penyamarannya minimal sampai misinya selesai. Mudah-mudahan saja si brengsek ini bersedia untuk tutup mulut.
"Boleh saja. Asal kamu cium dulu saya sekali." Jawab Denver kalem.
Nah kan, mesumnya manusia ini memang tidak berubah dari dulu.
"Kenapa? Apa pacar-pacar Abang pada demo dan mogok bermesraan dengan Abang, makanya Abang berharap sekecup ciuman dari saya?" tantang Pandan sinis.
"Tidak. Mereka malah berlomba-lomba ingin memuaskan saya dengan berbagai gaya dan cara. Tidak ada relevansi antara pacar-pacar saja dengan permintaan saya pada kamu. So, kamu ingin misi kamu aman, atau...?" Denver dengan sengaja menggantung kalimatnya. Pandan tahu kalau si Denver ini sebenarnya sedang mengancamnya dengan cara yang halus. Pandan sampai kepengen mengunyah baki saking kesalnya. Tetapi tak urung ia memghampiri Denver dan mengecup juga sekilas pipi kanannya. Si mesum akut ini memang tukang cari kesempatan. Apa boleh buat. Demi misi memancing maling keluar dari sarangnya, terpaksalah ia sedikit berkorban. Anggap saja lagi mencium kucing garong. Masalah selesai. Titik.
"Terima kasih. Saya terima DPnya ya? Nanti pelunasannya saya tunggu di hari-hari berikutnya?" Denver mengedipkan sebelah matanya seraya berjalan kembali menuju ke ruangan atasannya. Dalam posisinya yang sekarang memunggungi Pandan, Dexter tersenyum. Akhirnya kesampaian juga ia memodusi anak Om Revan. Menurut ayahnya, Om Revan dulu sangat suka memodusi ibunya sehingga ayahnya sering naik darah dibuatnya. Sekarang gantian. Ia yang akan sering- sering memodusi anak gadis Om Revan ini. Lihat saja nanti tanggal mainnya. Hehehe.
"Dalam mimpi Abang saja." Pandan berdecih seraya kembali berjalan ke pantry. Sepertinya hari-harinya akan semakin suram karena misinya telah di ketahui Denver. Si Brengsek itu telah mengantongi kartu Asnya. Pandan bingung. Mulai hari ini hidupnya pasti akan sengsara di bawah tekanan manusia gila satu ini.
"Lo pulang kerja bukannya ke rumah dulu, ini malah ke rumah gue. Nggak takut lo ntar diamuk sama Bang Utan?" Vanilla yang baru saja selesai menyusui putrinya, menepuk-nepuk lembut punggung sang bayi. Tidak lama kemudian terdengar suara sendawa dari mulut mungil si bayi yang lucu. Si bayi menggerutu sendiri, sebelum menguap lebar dan memejamkan matanya. Sepertinya bayi Vanilla ini mengantuk karena kekenyangan.
"Nggak masalah, La. Semua dalam keadaan aman dan terkendali. Gue udah buat laporan khusus ke Bang Utan. Gue bilang kalo lo lagi stress karena terkena sindrom baby blues. Jadi sebagai sahabat yang baik, gue akan selalu ada buat menghibur lo. Gue ini kan selalu main aman setiap mau berbohong. Lo nggak usah khawatir La?"
Pandan gantian menepuk-nepuk punggung Vanilla dengan gaya menenangkan. Ia meniru dengan sempurna aksi Vanilla saat menepuk-nepuk punggung bayinya. Tindakannya ini dihadiahi dengusan oleh Vanilla. Pandan hanya terkekeh saja. Ia memang sengaja singgah ke rumah Vanilla karena kangen dengan bayinya yang lucu. Setelah seharian ngebabu, dia perlu merefresh diri dengan melihat yang imut-imut dulu. Vanilla melotot jengkel.
"Dasar sahabat lucknut lo ya? Gue baik-baik aja malah lo bilang kena sindrom baby blues. Hati-hati lo. Ketahuan Bang Utan semua kebohongan lo, bisa dijadiin serundeng ntar." Vanilla mencoba mengingatkan. Si Pandan ini telah melakukan kebohongan berkali-kali pada Lautan, kakaknya. Pertama Pandan telah berbohong soal pekerjaannya. Pada Lautan ia mengaku berkerja sebagai designer di salah satu butik terkenal. Padahal ia menjadi OG di perusahaan saingan keluarganya. Kedua, Pandan menciptakan image sebagai seorang anak kost yang kere di dekat kantornya. Padahal ia membayar uang kost hanya untuk menitip mobilnya. Pandannya tetap saja pulang ke rumah. Setiap pagi ia keluar rumah dan mengganti pakaian glamournya dengan kostum OG di kost-annya. Setelah itu baru lah ia bekerja. Sepulang kerja juga begitu. Ia mengganti terlebih dahulu kostum OG-nya dengan pakaiannya semula, baru kembali ke rumah. Dan yang ke tiga, ya ini. Pandan menjual namanya agar bisa main ke rumahnya dengan alasan kalau ia sedang terkena sindrom baby blues. Kreatif sekali berbohongnya bukan? Padahal Putra Lautan ini gualaknya nauzubillah. Kalau semua akal-akalan Pandan ketahuan, bakalan dikuliti hidup-hidup itu si Pandan.
"Ya mau gimana lagi, La. Semua ini 'kan gue lakuin untuk menyelamatkan perusahaan keluarga juga. Masa gue diem-diem bae tender-tender gede perusahaan keluarga gue diembat orang terus. Lama-lama bisa rubuh dong itu perusahaan. Intinya gue begini 'kan demi kelangsungan semua klan Aditama Perkasa juga." Seperti biasa Pandan langsung membela diri.
"Tapi kenapa lo mesti bohong sama Bang Utan? Kenapa nggak lo kasih tau aja tujuan lo yang tulus nan mulia itu?" sindir Vanilla sadis.
"Waktu gue nyaranin lo jadi OG, gue pikir Bang Utan tau soal misi lo ini. Makanya gue tenang-tenang aja. Tapi rupanya ini Bang Utan kagak tau apa-apa. Kalo sampai Bang Utan tau gue ikut andil dalam misi terselubung lo ini, bisa abis gue, Ndan!" Keluh Vanilla ngeri. Putra Lautan Aditama Perkasa itu memang galak sekali. Aliya dulu pernah mengatakan kalau Lautan bersin saja bisa keluar becak. Apalagi kalau ia marah bukan? Bisa-bisa yang keluar bukan hanya becak saja. Tapi bajaj, angkot bahkan bus antar kota.
"Makanya lo doain supaya misi gue itu completed sebelum gue ketauan sama Bang Utan. Kalo doa lo khusyu dan sungguh-sungguh, insya allah pasti akan dijabah Allah, La." Rayu Pandan manis. Berusaha meniru ceramah paginya Mama Dedeh.
Pandan kini pindah posisi mendekati bayi Vanilla yang sedang tidur seraya memperhatikan ekspresi si bayi yang berubah-ubah. Sebentar ia tertawa, sebentar kemudian menjebi-jebi seperti mau menangis. Dan sekarang ia mengulet-ulet hingga wajahnya memerah sambil menggerutu. Pandan gemas sekali melihatnya. Lucu banget euy. Duh, jadi pengen punya bayi sendiri. Ups!
"Si Boncel ini lucu banget ya, La? Noh coba lo liat coba ekspresinya. Bisa berubah-ubah gitu. Padahal lagi tidur. Anak lo kira-kira lagi mimpi apaan ya sampe mesem-mesem gitu mukanya?" Pandan mengelus pelan pipi si Boncel dengan gemas.
"Eh ikan dugong! Lo namain apa anak gue tadi? Si Boncel? Gue sama Altan nyari nama-nama bayi yang keren itu sampai berbulan-bulan tahu. Sampai bikin selametan bubur putih bubur merah lagi buat namain si Zeline. Ini lo malah seenaknya aja ngeganti-ganti nama anak orang. Nama anak gue itu Zeline Zakeisha Wijaya Kesuma. Yang artinya anak perempuan penghuni surga yang berwajah cantik seperti emaknya. Bukan si Boncel!" Vanilla ngamuk-ngamuk karena putri cantiknya dipanggil si Boncel oleh Pandan.
"Etdah nama si Bon--eh Zeline ini panjang amir, La? Lo buat namanya bukan pas lagi naik kereta api kan?" Pandan kembali cengengesan saat melihat Vanilla melotot lagi. Pandan merasa Vanilla pasti akan mendebatnya lagi. Semenjak sudah naik pangkat menjadi seorang ibu, jiwa keibuannya mengalir deras bagai tanggul jebol. Tidak bisa dibendung. Belum sempat sahabatnya itu menyela, pintu kamarnya terbuka dan menghadirkan sosok suami tercintanya si Illa yang sepertinya baru pulang kantor. Altan Wijaya Kesuma.
"Sewaktu Tante Embun menamai kamu, si Tante tidak sedang ada di toko grosir beras kan, Ndan?" Sedikit kata-kata, tapi sentilannya ngena banget.
"Kalau tidak salah nama lengkap kamu itu Pandan Wangi Aditama Perkasa, kan? Empat baris kata juga sama seperti Zeline. Tapi kamu lahirnya di rumah sakit 'kan? Bukan di MRT?"
Astaganaga. Altan ngebales ngenyeknya kagak mau rugi banget. Semua dibalesin satu persatu kayak lagi ngereply chat gebetan. Kagak ada yang terlewat satu kata pun coeg!
"Saya cuma bercanda kali, Bang. Jangan diambil hati ya, Bang? Cukup usus dua belas jari aja yang diambil. Biar gampang keluarnya." Pandan lagi-lagi ngeles dengan cara bercanda. Suami jutek si Illa ini cuma mendengus saja. Ish kok bisa ya si Illa betah banget punya laki judes dan tukang itung-itungan begini? Untung ganteng. Eh kaya juga. Eh cinta banget juga sama si centil Illa. Berarti si Illa beruntung dong ya?
Mungkin karena mendengar suara ribut-ribut, si bayi jadi terbangun dan mulai mengeluarkan suara tangisan terkencangnya. Aje gile, desibel suara tangisannya sampai membuat telinganya berdenging. Bibit-bibit bakalan bisa jadi penyanyi rock ini ntar gedenya si Zeline ini.
"Wah anak daddy udah bangun ya? Sini daddy gendong dulu. Duh anak daddy kayaknya belum mandi ini. Bau acem soalnya." Pandan cengo melihat Altan yang biasanya ketus-ketus songong kalau ngomong, bisa berbicara dengan bahasa bayi yang begitu menggemaskan dengan putrinya. Duh si Altan ini bapakable banget ternyata ya?
"Masa bau acem sih, daddy? Orang baru dimandiin juga. Kalau mommynya gimana, Dad? Udah halum atau masih bau acem juga?" Vanilla sekarang ikut-ikutan berbicara dalam bahasa bayi juga. Altan mengikuti permainan Vanilla dengan mengendus-endus gemas leher dan pipinya. Vanilla yang kegelian terkekeh-kekeh kencang diiringi si bayi yang kini juga ikut tertawa terkekeh-kekeh. Ia seolah-olah mengerti kalau ia sedang diajak bermain oleh kedua orang tuanya.
Ebuset, gue cuma dianggap kayak kain hordeng kamar doang di sini yak?
Pandan yang merasa bagai remahan kripik pisang di dalam kaleng Khong Gua*, buru-buru berpamitan. Jiwa jomblo ngenesnya meronta-ronta hebat meminta pelepasan Hak Guna Hati demi mendapatkan sertifikat dihalalin. Naseb... naseb...
========================
Pandan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedikit di atas rata-rata. Ia lafar pemirsa. Saat ia berkunjung ke rumah Vanilla tadi, ia sudah keburu pulang sebelum ditawari makan malam. Gimana ia tidak minta pulang coba? Itu keluarga kecil tidak menganggap ia sebagai manusia di sana. Mereka berdua terus saja mesra-mesraan dan melupakan seonggok manusia jomblo yang hatinya hancur berkeping-keping, saat melihat pertunjukan live show kasih sayang berbalut cinta. Cih!
Suara orkes melayu mulai terdengar menyayat hati dari perutnya. Sepertinya tingkat laparnya sudah mencapai level maksimal. Pandan menekan kian dalam pedas gasnya. Malangnya ia tidak memperhatikan kala sebuah mobil mewah lainnya yang baru saja keluar dari perempatan jalan, tiba-tiba melintas.
CKITTTT!!!
Pandan buru-buru menginjak rem dan membanting stir ke kiri. Mobil mewah itu juga terlihat agak oleng karena sepertinya juga direm secara mendadak.
Alhamdullilahhh...
Pandan membenamkan wajah pada stir mobil berbantalkan kedua lengannya. Untung saja ia bisa mengerem tepat waktu dan selamat. Kalau tidak, pasti ia akan menghadap penciptaNYA lebih cepat dari pada waktu yang seharusnya. Sejurus kemudian pintu kaca samping mobilnya diketuk oleh seseorang. Ia tidak segera membukanya. Ia menghela napas panjang beberapa kali dan menenangkan perasaannya dulu. Setelah perasaannya agak sedikit tenang, barulah ia menegakkan tubuh dan membuka kaca mobil. Pasti ini adalah pengemudi mobil yang tadi nyaris bertabrakan dengannya.
"Apakah Anda tahu berapa batas kecepatan selama berkendara di jalan raya?" Suara dalam dan gusar seorang laki-laki memasuki pendengarannya.
"Batas kecepatan di jalan bebas hambatan adalah 100 km/jam. Untuk jalan antarkota, kecepatan paling tinggi adalah 80 km/jam. Kawasan perkotaan 50 km/jam, dan kawasan permukiman 30 km/jam. Sudah jelas? Kalau sudah, silihkan minggir, saya mau meneruskan perjalanan."
Pandan yang sesungguhnya masih shock, menjawab pertanyaan si pengemudi asal saja tanpa berniat untuk melihat wajahnya. Ia kini menurunkan rem tangan, menaikkan persnelling ke posisi D dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Gara-gara insiden ini, rasa laparnya menguap sudah. Yang tersisa sekarang adalah rasa letih. Ia ingin secepatnya membaringkan tubuh di ranjang empuknya.
"Pandan Wangi Aditama Perkasa? Pantas saja!" Intonasi dalam suara pria ini semakin tidak enak didengar.
Mendengar nama disebut orang asing ini secara lengkap, sontak membuat Pandan melirik sosok yang berdiri tepat di samping mobilnya. Mahater Depati. Anak Om Rangkayo Depati atau yang biasa disapa Anak Dewa oleh ibunya. Om Anak Dewa ini adalah kakak angkat ibunya sewaktu tinggal di Bukit Dua Belas dulu. Hanya saja hubungan cinta yang bersegi-segi antara Tante Suci, Om Anak Dewa, ayah dan ibunya, membuat hubungan kekeluargaan mereka mendingin. Ayahnya tidak menyukai Om Anak Dewa begitu pun sebaliknya.
"Bang Ather ngapain sih lama-lama di sana? Orangnya masih hidup 'kan? Nggak mati? Ya udah kita jalan lagi. Kebagusan amat ditanya-tanya keadaannya? Kesenangan ntar tuh orang?" Suara nyaring seorang perempuan terdengar dari mobil Mahater yang diparkir sembarang di pinggir jalan. Si Mahater ini sedang bersama pacarnya rupanya.
Kalo gue mati, yang pertama bakalan gue cekek ya, elo. Batin Pandan kesal.
Beberapa orang pengguna jalan dan masyarakat sekitar, yang melihat kejadian tadi mulai mendekat dan menghampiri mobilnya. Saat mereka menanyakan keadaannya, Mahater lah yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaan mereka. Pasti si Mahater ini sok baik karena takut dikeroyok massa. Ia juga mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja dan mereka berdua juga saling mengenal dengan baik. Saat Mahater mengatakan bahwa mereka berdua saling mengenal dengan baik, Pandan mencibir. Saling mengenal dengan baik katanya? Hah, saling bermusuhan lebih tepatnya.
"Pantas saja apa? Pantas mati gitu maksud lo? Minggir sana, gue mau lewat. Lagian itu piaraan lo di mobil dikasih sesajen dulu dong, biar nggak ngamuk-ngamuk terus." Pandan yang risih karena menjadi perhatian orang banyak segera mengusir Mahater. Mana itu pacarnya teriak-teriak terus lagi di mobil. Nggak haus apa ya itu cewek dari tadi ngomel-ngomel terus?
"Kamu tidak apa-apa? Wajah kamu pucat sekali. Kamu mau minum dulu barangkali? Di mobil saya ada air mineral baru?" Mahater menahan pergelangan tangannya yang ingin menutup kaca mobil.
"Kagak usah, terima kasih. Gue nggak haus. Lagian lo nggak usah sok baik sama gue. Padahal dalam hati pasti lo nyukurin gue banget kan? Lagu lo sok baik sama gue," gerutu Pandan sebel.
"Bejalan hendak menepi. Supayo idak tepijak kanti. Becakap piaro lidah. Supayo kanti idak meludah."
Pandan terdiam. Soalnya ia sama sekali tidak tahu apa arti kata-kata si Mahater ini. Dia yang dari lahir dan besar di ibukota seperti ini, manalah ia mengerti bahasa daerah Jambi. Lain kalau tadi ibunya yang diberi jawaban berpantun seperti ini. Pasti bisa langsung dibales dengan sama merdunya oleh ibunya. Lah dia ini kan tahu pantun cuma dari acaranya almarhum Olga dan Kang Opick doang. Paling pantun yang melekat di kepalanya itu adalah kata-kata; masak aer biar mateng. Dan dijawab audiens dengan kata; cakeppp. Dah itu aja.
"Maap ye. Supaya gue nggak merusak isi pantun yang indah tapi gue kagak tau artinya itu, gue cuma mau bilang kalo gue nggak kenapa-kenapa dan gue mau pulang sekrang. Titik. Lepasin tangan gue." Pandan berusaha menarik pergelangan tangannya yang dicekal oleh Mahater.
"Pantun itu artinya jika hendak melakukan sesuatu haruslah berhati-hati. Seperti juga tuduhan kamu tadi yang mengatakan kalau saya mengharapkan kamu mati. Jaga lisan kamu. Saya sama sekali tidak mempunyai keinginan seperti itu." Desis Mahater kesal. Kedua alisnya bertaut kencang. Marah rupanya si Mahater ini. Ya sudahlah. Emang gue pikirin!
"Oke. Gue minta maaf kalo itu bisa buat gue lebih cepet nyampe rumah. Lepasin tangan gue, gue bilang!" Pandan menarik paksa tangannya dari cengkraman Mahater. Cengkraman itu akhirnya terurai setelah pacar si Mahater berteriak lagi. Alamat bisa terkena kanker telinga ini si Mahater kalo lama-lama pacaran sama cewek model tarzan begini. Setelah Mahater menggeser tubuhnya, Pandan melajukan kendaraannya dan melewati tubuh Mahater begitu saja. Ia tadi bahkan dengan sengaja bersikap seolah-olah ingin menabraknya. Emang enak berurusan dengan keluarga Aditama Perkasa!