Bab 1

Lisa duduk bersandar di kursi dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya lurus, menatap layar komputer di depannya yang sudah dia matikan sebelumnya. Pandangannya mulai beralih ke layar ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Wajahnya berkerut dan matanya menyipit, terus memandangi layar ponsel itu. Entah apa yang sedang dia tunggu.

Dia mulai mengetuk-ngetukan jari mungilnya di atas meja kerjanya. Merasa mulai bosan menunggu ponsel kesayangannya itu yang tidak kunjung bergetar. Dia tidak habis pikir, kenapa benda berbentuk pipih itu tidak berdering, tidak bergetar, tidak menyala, tidak melakukan hal yang sesuai dengan harapannya.

Dia menaruh ponselnya dengan sembarangan. Tidak lagi berharap ponsel itu untuk menyala, bergetar, ataupun berdering. Baru kali ini dia merasa ponselnya tidak berguna. Entah ponselnya yang tidak berguna atau ponsel orang yang sedang dinantinya.

"Untuk apa memiliki ponsel kalau tidak bisa digunakan? Apa mungkin ponselmu sudah dijual?"

Lisa bermonolog sembari merutuki seseorang yang menjadi alasan, kenapa dia sampai merasa kesal seperti ini.

Dia mulai merasa bosan. Dia memutar kursi kerjanya menghadap jendela yang cukup besar dan menampakkan pemandangan indahnya kota Bandung saat di malam hari. Memerhatikan mobil- mobil yang berseliweran di jalan raya kota Bandung dengan tatapan menerawang.

Dia perhatikan, selama beberap tahun terakhir jalanan kota Bandung semakin ramai. Tidak sedikit kemacetan yang terjadi di kota ini, meskipun pada malam hari. Pemandangan indah jalan raya selalu membuat hatinya bahagia.

Langit sudah gelap. Dia melirik ke salah satu benda kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam delapan lewat. Dia mendesah dan mendengus kesal. Dengan sekali hentakan, dia memutar kembali kursinya menghadap meja kerja.

"Apa kamu tidak punya pulsa atau paket data? Kenapa sampai saat ini tidak menghubungiku juga?" desis Lisa sembari mengetuk-ngetuk ponselnya dengan kukunya yang bening.

"Kamu berdebat dengan ponsel?" tanya seseorang dari arah belakang.

Lisa mengangkat wajah dan menoleh, menatap ke sumber suara yang baru saja didengarnya.

Orang itu tidak lain adalah Rena. Dia baru saja masuk ke ruangan dan tersenyum ketika melihat rekan kerjanya yang sedang berbicara dengan sebuah ponsel.

"Kenapa Kak Ren masih ada di sini? Belum selesai pekerjaannya?" tanya Lisa ringan tanpa beban, sambil mencondongkan tubuh ke depan, menumpukkan kedua siku di meja dan bertopang dagu. Tentu saja hal itu membuat pipi chuby-nya terlihat seperti akan tumpah.

Rena menggelengkan kepala, "pekerjaanku sudah selesai. Hanya saja aku melupakan sesuatu di meja kerja, dengan terpaksa aku kembali ke sini untuk mengambilnya."

Lisa mengangguk dengan mantap. Sepertinya dia mengangguk karena benar- benar paham, bukan asal mengangguk tanpa alasan.

Rena berjalan ke meja kerjanya yang berada tepat di samping meja kerja Lisa. "Bukankah kamu sudah menyelesaikan pekerjaan sejak dua jam yang lalu?" tanya Rena sembari menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Lisa mendengus kesal. "Memang," jawabnya lemas dengan suara yang hampir saja tidak terdengar. Dia lemah karena suatu hal atau dia lemah karena lapar. Entahlah, hanya dia yang tahu tentang dirinya sendiri.

"Lalu ... kenapa kamu masih ada di sini?" sambung Rena kembali, setelah sebelumnya mendapat jawaban dari Lisa.

Bukannya menjawab pertanyaan Rena, Lisa malah menunduk dan menyandarkan keningnya di atas meja, dengan kedua tangannya yang dia gunakan sebagai tumpuan. Kemudian dia mendengus keras.

Lisa dan Rena merupakan karyawan di salah satu perusahaan terbesar di kota Bandung. Perusahaan itu bergerak di bidang produksi. Rena lebih dulu bekerja di perusahaan itu dibanding Lisa, bisa dikatakan Rena adalah seniornya.

Mereka berdua sedang menangani sebuah produksi yang sama. Pembuatan produk mie instan dengan versi baru yang belum pernah ada sebelumnya, menjadi produksi besar yang pertama kali Lisa tangani.

Berbeda dengan Rena. Sebelumnya dia sudah pernah menangani beberapa produksi dari berbagai jenis makanan yang sangat laku di pasaran, sebelum Lisa masuk dan menjadi karyawan baru di perusahaan itu. Bahkan sampai sekarang dia sudah menjadi karyawan tetap.

Perlu digaris bawahi, Lisa dan Rena bekerja di bagian kantor. Sehingga mereka yang merancang dan mengatur, supaya produk yang dikeluarkan oleh perusahaan mereka bisa menembus pasar nasional bahkan pasar internasional.

"Lis, kenapa kamu lesu begitu? Tidak biasanya kamu bersikap seolah tidak ada semangat hidup," ucap Rena sambil menepuk pelan bahu Lisa, kemudian dengan pelan mengelusnya. Dia sudah menganggap Lisa sebagai teman sekaligus adiknya sendiri.

"Kamu lupa hari ini adalah hari jumat? Biasanya kamu merasa senang dan bersemangat di hari jumat," sambung Rena kembali, sembari menarik tangannya dari pundak Lisa.

Lisa mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Rena dan menampakkan senyumnya yang terlihat sedikit terpaksa.

Hari jumat memang hari yang paling disukainya karena hari jumat adalah hari terakhir yang akan mengeluarkannya dari dunia pekerjaan.

Dalam kata lain, hari jumat sebagai tanda jika akhir pekan telah menantinya. Dia bisa melakukan semua hal yang dia inginkan di akhir pekan. Namun, hari ini menjadi pengecualian. Dia tidak merasa senang atau bersemangat ketika akhir pekan sudah berada tepat di depan mata.

"Hmm... sepertinya aku mengerti," ucap Rena tiba-tiba sembari menampakkan senyumnya. "Rupanya ... kamu belum mendapat kabar dari dia." Tebakkannya tepat mengenai sasaran.

Lisa menggigit bibir dengan tipis dan mengangguk lemah. Dia kembali melirik layar ponselnya yang masih setia dalam mode gelap dan dalam mode diam. Saking lelah dan bosan menanti sesuatu yang tidak pasti, akhirnya dia membulatkan tekad untuk tidak berharap lagi kabar dari orang itu. Dia mendengus dan meraih ponselnya dengan kasar.

"Sudah. Lupakan saja dia!" ucapnya dengan tegas. Ucapan itu dia tujukan kepada dirinya sendiri.

Dengan sikap acuh tak acuh, dia memasukan ponselnya ke dalam tas selempang, kemudian dengan satu kali gerakan dia berdiri dari kursi kerjanya.

"Kak Rena, ayo kita pulang saja sekarang. Percuma juga terus berada di sini," ajaknya kepada Rena yang masih memasukkan barang-barang yang sempat tertinggal, ke dalam tasnya.

"Duduk melamun dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, sama sekali tidak ada gunanya," sambungnya kembali dengan raut wajah yang mulai tampak kesal.

Rena menatap Lisa dengan bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang di maksud teman kerjanya itu. "Yang mengharapkan sesuatu tidak pasti itu siapa?" tanya Rena sambil mengerutkan keningnya.

"Tidak ada," jawab Lisa dengan asal. Tentu saja hanya Lisa sendiri yang mengharapkan sesuatu tidak pasti itu. Sementara Rena, dia tidak berharap apa pun.

Rena masih berada di ruangan itu hanya karena ada barangnya yang masih tertinggal, bukan karena berharap akan sesuatu.

***

Sepuluh menit kemudian, Lisa dan Rena sudah berada dalam lift kaca yang membawa mereka turun ke lantai dasar. Lisa berdiri membelakangi pintu lift dan menikmati pemandangan malam kota Bandung yang terbentang di depan mata.

Di saat matanya tengah asik menikmati keindahan malam di kota kembang itu, entah kenapa pikirannya tiba-tiba membawanya kembali mengingat kejadian di masa lalu.

Bab 2

Pada awal perceraian orang tuanya belasan tahun lalu, dia tinggal bersama ibunya di Surabaya. Lima tahun kemudian, ketika berumur tujuh belas tahun, dia memutuskan pindah ke Bandung dan tinggal bersama ayahnya. Sejak saat itu, Bandung menjadi hidupnya, dan tempat ternyaman baginya.

Bunyi dentingan halus membuyarkan lamunannya. Bunyi itu menarik paksa pikirannya untuk kembali dari bayangan masa lalunya.

Lisa dan Rena segera keluar dari lift. Lisa melambaikan tangan ke arah Rena, sebagai tanda dari perpisahan mereka yang sementara.

Alasan mereka berpisah sesaat setelah keluar dari pintu lift, karena mobil mereka diparkirkan di tempat yang berbeda.

Rena memarkir mobilnya di basement, sementara Lisa memarkir mobilnya di lapangan parkir di luar gedung. Sebenarnya Lisa juga mendapatkan fasilitas parkir di basement, sama seperti Rena. Namun, dia tidak menggunakan fasilitas itu, karena dia lebih suka berjalan jauh dari tempat parkir menuju kantornya, dengan alasan untuk kesehatan.

Dia juga tidak biasanya mengendari mobil ke mana-mana. Dia lebih suka naik bus atau kendaraan umum lainnya. Walaupun dia harus ekstra hati-hati terhadap kejahatan yang mungkin terjadi di kendaraan umum, misalnya pencopetan.

Namun, pagi ini jalanan cukup padat, dan terjadi kemacetan panjang. Jadi, dia terpaksa mengendari mobilnya sendiri supaya bisa datang ke kantor lebih awal, dan tidak terlambat karena terjebak macet.

Lisa belum benar-benar pergi dari depan pintu lift itu, sebelum Rena menghilang dari pandangannya.

Dia mulai membalikkan badannya setelah memastikan, jika Rena sudah tidak terjangkau oleh penglihatannya.

Baru saja dia hendak melangkah, tiba-tiba saja manik-manik matanya menangkap seorang laki-laki yang kini tengah berdiri di dekat meja resepsionis di lobi gedung.

Langkah kakinya terhenti dan dia menahan napas, tapi hanya sebentar. Dia memilih untuk tidak mempedulikan orang itu, seolah-olah dia tidak mengenali sosok laki-laki yang baru saja tertangkap oleh penglihatannya. Dia memutuskan untuk mengabaikan orang itu dan kembali melanjutkan langkahnya.

Laki-laki itu melihat Lisa berjalan dengan terburu-buru ke arah pintu utama. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepada Lisa, tapi Lisa mengabaikannya dan malah semakin mempercepat langkah.

"Lisa ...." Seseorang memanggilnya dari arah belakang.

Dia mendengar jelas suara yang memanggil namanya. Namun, tidak ada niatan sedikit pun untuk mendengarkan orang itu.

"Lisa!" Lagi-lagi laki-laki itu memanggilnya dan dia tetap memilih untuk pura-pura tidak mendengar.

Dia terus melangkah ke luar dari gedung dan melangkah semakin cepat ke tempat di mana mobilnya terparkir.

Dia sama sekali tidak mempedulikan bunyi langkah kaki yang kini tengah menyusul langkahnya. Langkahnya semakin cepat untuk meghindar dari laki-laki yang kini masih mengikutinya dan terus-menerus memanggil namanya.

Angin musih hujan menerpa tubuhnya yang kini terbalut jaket hitam. Lisa semakin merapatkan jaket yang dia kenakan. Dinginnya malam semakin menusuk pori-pori tubuhnya.

Gerimis mulai lebat, membasahi wajah cantiknya yang kini tertutup oleh beberapa helaian rambut yang tertiup angin. Butiran air yang jatuh semakin menambah pesonanya.

"Lisa ... tunggu sebentar."

Lisa masih tidak mempedulikan laki-laki yang sejak tadi memanggil namanya.

Berapa ratus kali pun laki-laki itu memanggil namanya, dia akan tetap mengabaikan.

Ketika dia hampir sampai di tempat parkir mobil putih kecilnya, dia langsung mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya.

Terdengar bunyi piip dua kali tanda pintu mobil sudah terbuka. Setelah itu, dia cepat-cepat masuk.

Saat dia hendak menutup pintu mobilnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang juga menarik pintu mobilnya dari luar. Sehingga dia tidak bisa menutup pintu itu, karena tertahan.

"Bisa kita bicara sebentar, Lisa Lamona?" tanya laki-laki tampan itu, yang kini masih menahan pintu mobilnya menggunakan satu tangan.

Lisa tidak menjawab pertanyaannya, dia malah memilih untuk memalingkan muka.

"Kenapa kamu tidak berhenti saat aku memanggilmu? Apa kamu sedang buru- buru?" tanya laki-laki itu kembali.

"Mau apa?" tanya Lisa dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah. Malah terdengar jutek dan sinis.

Dia menatap laki-laki tampan itu dengan tatapannya yang sengaja dibuat supaya terkesan tajam dan menusuk.

Laki-laki itu terkekeh pelan sembari menundukkan kepalanya. Rambutnya yang dipotong rapih namun terkesan berantakan sesuai trend, jatuh begitu saja menutupi dahinya.

Hal itu membuat Lisa sulit menahan dirinya untuk tidak terpesona dengan laki- laki yang kini berada tepat di hadapannya. "Jika kamu tidak sedang terburu-buru, aku ingin mengajakmu untuk menemaniku makan malam." Tawaran laki-laki itu sepertinya membuat hati Lisa mulai bimbang.

Sumpah serapah yang dia tujukan untuk laki-laki itu beberapa saat yang lalu, seperti terlupakan begitu saja.

Egonya ingin menolak, tapi hatinya sulit untuk tidak menerima.

'Dasar manusia menyebalkan!' Lisa menggerutu dalam hatinya. Dia mendengus kesal sembari melirik orang di sampingnya, yang kini masih setia berdiri di depan pintu mobilnya.

Laki-laki itu sedang membetulkan rambut bagian depannya, yang menghalangi dahi pari purnanya.

Seulas senyum penuh percaya diri tetap tersungging di bibirnya, seakan dia yakin jika Lisa tidak akan menolak ajakannya.

'Terus saja tebar pesona kaya gitu. Dasar laki-laki narsis!' cibir Lisa dalam hatinya. Lisa masih enggan mengeluarkan suaranya, karena dia masih kesal dengan laki-laki yang berada di depannya.

Karena Lisa tidak menjawab, laki-laki itu memilih untuk melanjutkan perkataannya. "Aku yang akan bayar makanannya. Kamu boleh memilih restoran mana pun yang kamu inginkan."

Belum juga Lisa menjawab ajakannya, tapi dia berkata seolah-olah Lisa akan menerima.

Sejak tadi, Lisa sudah menahan dirinya untuk bersikap tidak peduli, tapi akhirnya dia tidak dapat lagi menahan diri.

"Dasar laki-laki menyebalkan! Reyhan, kamu benar-benar menyebalkan! Ke mana saja kamu selama ini? Kenapa tidak meneleponku atau memberiku kabar?"

Lisa mengeluarkan semua unek-unek yang sejak tadi mengganggu pikirannya dan ingin segera dikeluarkan.

Bukannya merasa bersalah setelah mendengar perkataan Lisa, laki-laki yang diketahui bernama Reyhan itu malah tersenyum lebar. Dia sama sekali tidak terpengaruh perkataan Lisa. Dia bersikap seolah tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuat Lisa kesal.

"Jadi kamu mau makan apa, Nona?" Aska bertanya seperti itu seolah Lisa adalah ratunya. Ratu hati maksudnya.

"Aku mau makan bakso beledug!" jawab Lisa dengan ketus.

Dia melipatkan kedua tangannya di depan dada, sembari menatap lurus ke arah mata Reyhan yang sedang memandanginya. Tatapannya masih menunjukkan bahwa dia belum sepenuhnya memaafkan Reyhan.

"Hanya itu?" tanya Reyhan sambil menaikkan sebelah alisnya. "Hm." Lisa hanya berdehem sambil memalingkan muka.

Bukannya memilih restoran yang mahal, Lisa malah memilih makanan di persimpangan jalan alun-alun kota Bandung.

Baso Beledug yang baru saja dia sebutkan, adalah salah satu makanan yang berhasil masuk ke dalam daftar makanan favoritnya.

Reyhan tersenyum penuh kemenangan. Dia sudah menduga, jika wanita menggemaskan itu tidak akan menolak ajakannya. Hal ini membuat rasa percaya dirinya semakin bertambah.

Bab 3

Di alun-alun kota Bandung, ada banyak sekali penjual bakso dengan ciri khas rasanya yang berbeda-beda.

Namun, dari sekian banyaknya penjual bakso, Lisa hanya ingin memakan bakso yang bernama bakso beledug. Sebenarnya, bakso ini tidak cukup terkenal. Malahan ada bakso lain yang lebih terkenal dari bakso beledug.

Lisa sempat berpikir, kenapa bakso yang menurutnya bakso terenak di dunia itu tidak diketahui orang lain. Entah benar bakso itu adalah bakso terenak, atau ada bakso yang lebih enak yang tidak mau Lisa coba.

Lisa tipikal orang setia. Terhadap makanan pun dia setia. Jika dia sudah menemukan makanan yang menurutnya enak, dia akan tetap memilih makanan itu sampai makanan itu tidak ada lagi. Bahkan, dia tidak berminat mencari makanan yang jauh lebih enak dari makanan itu.

Berbeda dengan Reyhan. Dia adalah tipikal orang pemilih dalam segala hal. Termasuk dalam makanan. Reyhan hanya suka makan di restoran, karena menurutnya makanan di restoran sudah pasti sehat dan enak. Berbeda dengan makanan pinggiran yang jauh dari kata sehat. Itu menurutnya!

Seperti saat ini, dia tidak mungkin datang ke tempat bakso di pinggiran jalan, kalau bukan Lisa yang menginginkan untuk makan di sana.

Seharusnya dia tidak membiarkan Lisa untuk memilih restoran yang akan mereka datangi, karena Lisa tidak akan memilih restoran mana pun.

Tidak masalah! Kali ini Reyhan mengalah. Dia lebih suka melihat Lisa yang lahap memakan bakso dari pada Lisa yang pura- pura tidak mempedulikannya seperti tadi.

Reyhan tidak memesan bakso itu. Mustahil baginya, jika dia ikut memakan bakso yang berada di pinggiran jalan. Dia lebih memilih untuk menahan rasa laparnya, dari pada harus memakan bakso yang kini tengah dimakan Lisa.

"Katakan!"pinta Lisa dengan mulutnya yang masih dipenuhi bakso.

"Telan dulu makananmu dengan benar." Reyhan terkekeh pelan. Dia mengusap sudut bibir Lisa yang terkena noda kuah bakso, menggunakan jarinya.

Lisa mendengarkan perkataan Reyhan, dia mengunyah, menelan, lalu melanjutkan perkataannya.

"Ke mana saja kamu seminggu terakhir ini? Apa kamu masih ingat, waktu itu kamu janji mau menjemputku di stasiun. Kamu tahu berapa lama aku menunggu? Kalau tidak bisa menjemput, kamu bisa memberitahuku dengan menelepon. Bukankah itu salah satu alasanmu membeli ponsel? Atau kamu lupa untuk apa gunanya ponsel?" Lisa berbicara dengan kalimat panjang lebar. Dia mengeluarkan semua unek-unek yang sudah dia tahan beberapa hari ke belakang.

Sementara Reyhan, dia tidak langsung menjawab. Dia malah menahan senyum. Hal itu tentu saja membuat Lisa semakin kesal dengannya.

Dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia lebih suka sosok Lisa yang cerewet dari pada sosok Lisa yang mempedulikannya. tidak

"Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Jangan coba-coba mengataiku cerewet atau bawel!" ancam Lisa sambil meraih garpu yang dia todongkan ke hadapan Reyhan dan menatap Reyhan dengan tatapan tajam.

Mereka berdua sudah berteman, sejak Lisa pindah ke Bandung. Mereka bertemu untuk pertama kalinya ketika Reyhan diajak menghadiri pesta pembukaan cabang kantor perusahaan baru ayah Lisa di jalan Buahbatu.

Reyhan pernah mengaku pada Lisa bahwa pada awalnya dia berpikir jika Lisa anak angkat, karena Lisa berbeda sekali dengan ayahnya.

Padahal jika diperhatikan dengan saksama, Lisa juga memiliki kemiripan dengan ayahnya.

Dia memiliki kedua ciri sekaligus. Perpaduan suku sunda dari ayahnya, dan suku jawa dari ibunya, menjadikan dia sebagai gadis cantik sejuta pesona.

Seiring berjalannya waktu, mereka selalu bersama. Kemudian Reyhan menganggap Lisa sebagai adiknya sendiri dan mereka berdua sangat cocok.

Orang yang tidak mengenal mereka, selalu menganggap mereka sebagai pasangan kekasih. Setiap kali mereka pergi berdua, mereka kerap kali mendengar orang-orang yang membisikkan keserasian mereka menjadi pasangan kekasih.

Mungkin karena mereka punya kesamaan nasib. Mereka berdua anak tunggal, orang tua mereka sudah bercerai walaupun masih berhubungan baik sampai sekarang, dan mereka tinggal bersama ayah mereka.

"Hello? Kamu mau mulai menjelaskan sekarang atau mau menunggu sampai musim rambutan?" tanya Lisa tiba-tiba dan langsung membuat Reyhan tersadar kembali dari lamunannya.

Mendengar suara itu, Reyhan langsung mengangkat pandangannya, dan mendapati Lisa yang sedang menatapnya tajam dengan alis terangkat.

"Baiklah, aku minta maaf!" ucap Reyhan hati-hati, sembari menyunggingkan senyum lima ribu watt-nya.

"Aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu di bandara. Aku juga minta maaf karena tidak menghubungimu."

Reyhan langsung mengatakan dan mengakui kesalahan kepada Lisa. "Kamu ke mana saja seminggu terakhir ini?" tanya Lisa kembali.

Dia belum puas hanya dengan mendengar permintaan maaf saja. Dia ingin tahu kenapa Reyhan melakukan kesalahan itu.

"Singapura."

Lisa mengerjapkan mata. "Singapura?"

Reyhan mengangguk. “Waktu itu ayahku sedang ada di Singapura untuk urusan bisnis. Hari minggu lalu, hari kamu kembali ke Bandung, aku mendapat telepon yang mengabarkan ayahku tiba- tiba jatuh pingsan di tengah rapat."

"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" Lisa tampak begitu khawatir tatakala mendengar kabar itu. Dia menjadi begitu menyesal karena tadi telah bersikap buruk kepada Reyhan, tanpa mendengarkan penjelasan Reyhan lebih dulu.

Reyhan mengangkat sebelah tangan. "Tidak perlu cemas!" tuturnya dengan cepat, ketika melihat raut wajah Lisa yang berubah tampak perihatin.

"Ayahku hanya kelelahan dan jantungnya memang dari dulu sedikit bermasalah. Jadi aku harus langsung terbang ke Singapura untuk menggantikannya."

"Syukurlah jika seperti itu," ucap Lisa bersyukur dan merasa tenang karena tidak ada hal yang terlalu buruk terjadi kepada ayah Reyhan.

"Aku sudah pernah cerita tentang pembangunan apartemen di sini yang bekerja sama dengan Singapura, bukan?" tanya Reyhan, mengingatkan Lisa akan satu hal.

Lisa mengangguk. Dia ingat Reyhan pernah menyebut-nyebut tentang proyek itu. Perusahaan properti ayah Reyhan akan bekerja sama dengan perusahaan Singapura untuk membangun apartemen di Bandung. Reyhan adalah salah satu arsitek yang terlibat dalam proyek ini.

"Karena ayahku harus beristirahat beberapa hari di rumah sakit, aku yang harus melanjutkan pekerjaannya," Reyhan meneruskan. "Aku tidak punya banyak waktu luang untuk menelepon. Aku tidak bisa menemukan waktu yang cocok untuk menghubungimu."

"Di mana ayahmu sekarang?" tanya Lisa. Pikirannya lebih terfokus kepada ayah Reyhan. Dia tidak peduli lagi terhadap Reyhan yang tidak mengubunginya beberapa hari lalu.

"Sudah sehat dan kembali bekerja seperti biasa," sahut Reyhan, lalu mengangkat bahu dan tersenyum lebar.

"Ayahku itu tipe orang yang tidak bisa diam, jadi dia tidak akan tahan terus berada di rumah sakit," sambungnya kembali sembari tertawa pelan.

Sementara Lisa, dia hanya menganggukkan kepalanya, lalu menunduk memandang makanannya. Dia agak menyesali sikap gegabahnya. Marah-marah sendiri sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Reyhan, mengalihkan pembicaraan.

Lisa mengangkat wajahnya. "Bunda? Seperti biasa. Masih sibuk mendesain perhiasan dan aksesoris."

"Belum menikah lagi?"

Lisa menggeleng pelan. "Belum. Sepertinya bunda tidak berniat untuk menikah lagi. Sama seperti ayah, kurasa!" ucap Lisa acuh tak acuh.

"Kemarin aku juga baru pulang dari Surabaya," sambungnya kembali, sengaja memberitahu Reyhan akan kegiatannya selama Reyhan tidak ada bersamanya.

"Bertemu dengan ibumu?" tanya Reyhan spontan.

Itu lebih terdengar seperti tebakkan, bukan pertanyaan.

Lisa mengangguk. "Hmm. Aku juga bertemu dengan sepupuku."

"Sepupumu yang mana?" tanya Reyhan kembali.

"Yang tinggal di Bali. Aku baru tahu ternyata pacarnya seorang publik figur," sahut Lisa, lalu mendadak mengalihkan pembicaraan, "Ngomong-ngomong soal pacar, bagaimana dengan Singapura? Kamu bertemu gadis cantik di sana?"

Reyhan menjentikkan jarinya, "Ah! Aku hampir lupa memberitahumu."

"Apa?" Lisa mengerutkan kening dan langsung was-was.

Tadi dia hanya sekadar bertanya, tidak sungguh-sungguh ingin mendengar kisah cinta Reyhan dengan gadis Singapura atau gadis mana pun.

"Aku punya teman di Singapura," Reyhan memberitahu. "Namanya, Louis!" sambungnya kembali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED