Sampul Novel Love In Bandung

Love In Bandung

9.2 / 10.0
Di balik keindahan Bandung, Lisa diam-diam mencintai sahabatnya, Reyhan. Namun, kehadiran Louis dari Singapura mengubah segalanya dan berhasil merebut hati Lisa. Ketika Lisa dan Louis resmi berpacaran, Reyhan justru baru menyadari perasaan aslinya. Sayangnya, rintangan berat menghadang hubungan Lisa dan Louis meski mereka saling mencintai. Usaha Reyhan mendekat pun sia-sia karena Louis tak tergantikan. Akankah Lisa memilih salah satu dari mereka, atau malah kehilangan keduanya?
Ringkasan Love In Bandung
Di balik keindahan Bandung, Lisa diam-diam mencintai sahabatnya, Reyhan. Namun, kehadiran Louis dari Singapura mengubah segalanya dan berhasil merebut hati Lisa. Ketika Lisa dan Louis resmi berpacaran, Reyhan justru baru menyadari perasaan aslinya. Sayangnya, rintangan berat menghadang hubungan Lisa dan Louis meski mereka saling mencintai. Usaha Reyhan mendekat pun sia-sia karena Louis tak tergantikan. Akankah Lisa memilih salah satu dari mereka, atau malah kehilangan keduanya?
Baca Selengkapnya

Love In Bandung Bab 1

Lisa duduk bersandar di kursi dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangannya lurus, menatap layar komputer di depannya yang sudah dia matikan sebelumnya. Pandangannya mulai beralih ke layar ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Wajahnya berkerut dan matanya menyipit, terus memandangi layar ponsel itu. Entah apa yang sedang dia tunggu.

Dia mulai mengetuk-ngetukan jari mungilnya di atas meja kerjanya. Merasa mulai bosan menunggu ponsel kesayangannya itu yang tidak kunjung bergetar. Dia tidak habis pikir, kenapa benda berbentuk pipih itu tidak berdering, tidak bergetar, tidak menyala, tidak melakukan hal yang sesuai dengan harapannya.

Dia menaruh ponselnya dengan sembarangan. Tidak lagi berharap ponsel itu untuk menyala, bergetar, ataupun berdering. Baru kali ini dia merasa ponselnya tidak berguna. Entah ponselnya yang tidak berguna atau ponsel orang yang sedang dinantinya.

"Untuk apa memiliki ponsel kalau tidak bisa digunakan? Apa mungkin ponselmu sudah dijual?"

Lisa bermonolog sembari merutuki seseorang yang menjadi alasan, kenapa dia sampai merasa kesal seperti ini.

Dia mulai merasa bosan. Dia memutar kursi kerjanya menghadap jendela yang cukup besar dan menampakkan pemandangan indahnya kota Bandung saat di malam hari. Memerhatikan mobil- mobil yang berseliweran di jalan raya kota Bandung dengan tatapan menerawang.

Dia perhatikan, selama beberap tahun terakhir jalanan kota Bandung semakin ramai. Tidak sedikit kemacetan yang terjadi di kota ini, meskipun pada malam hari. Pemandangan indah jalan raya selalu membuat hatinya bahagia.

Langit sudah gelap. Dia melirik ke salah satu benda kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam delapan lewat. Dia mendesah dan mendengus kesal. Dengan sekali hentakan, dia memutar kembali kursinya menghadap meja kerja.

"Apa kamu tidak punya pulsa atau paket data? Kenapa sampai saat ini tidak menghubungiku juga?" desis Lisa sembari mengetuk-ngetuk ponselnya dengan kukunya yang bening.

"Kamu berdebat dengan ponsel?" tanya seseorang dari arah belakang.

Lisa mengangkat wajah dan menoleh, menatap ke sumber suara yang baru saja didengarnya.

Orang itu tidak lain adalah Rena. Dia baru saja masuk ke ruangan dan tersenyum ketika melihat rekan kerjanya yang sedang berbicara dengan sebuah ponsel.

"Kenapa Kak Ren masih ada di sini? Belum selesai pekerjaannya?" tanya Lisa ringan tanpa beban, sambil mencondongkan tubuh ke depan, menumpukkan kedua siku di meja dan bertopang dagu. Tentu saja hal itu membuat pipi chuby-nya terlihat seperti akan tumpah.

Rena menggelengkan kepala, "pekerjaanku sudah selesai. Hanya saja aku melupakan sesuatu di meja kerja, dengan terpaksa aku kembali ke sini untuk mengambilnya."

Lisa mengangguk dengan mantap. Sepertinya dia mengangguk karena benar- benar paham, bukan asal mengangguk tanpa alasan.

Rena berjalan ke meja kerjanya yang berada tepat di samping meja kerja Lisa. "Bukankah kamu sudah menyelesaikan pekerjaan sejak dua jam yang lalu?" tanya Rena sembari menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Lisa mendengus kesal. "Memang," jawabnya lemas dengan suara yang hampir saja tidak terdengar. Dia lemah karena suatu hal atau dia lemah karena lapar. Entahlah, hanya dia yang tahu tentang dirinya sendiri.

"Lalu ... kenapa kamu masih ada di sini?" sambung Rena kembali, setelah sebelumnya mendapat jawaban dari Lisa.

Bukannya menjawab pertanyaan Rena, Lisa malah menunduk dan menyandarkan keningnya di atas meja, dengan kedua tangannya yang dia gunakan sebagai tumpuan. Kemudian dia mendengus keras.

Lisa dan Rena merupakan karyawan di salah satu perusahaan terbesar di kota Bandung. Perusahaan itu bergerak di bidang produksi. Rena lebih dulu bekerja di perusahaan itu dibanding Lisa, bisa dikatakan Rena adalah seniornya.

Mereka berdua sedang menangani sebuah produksi yang sama. Pembuatan produk mie instan dengan versi baru yang belum pernah ada sebelumnya, menjadi produksi besar yang pertama kali Lisa tangani.

Berbeda dengan Rena. Sebelumnya dia sudah pernah menangani beberapa produksi dari berbagai jenis makanan yang sangat laku di pasaran, sebelum Lisa masuk dan menjadi karyawan baru di perusahaan itu. Bahkan sampai sekarang dia sudah menjadi karyawan tetap.

Perlu digaris bawahi, Lisa dan Rena bekerja di bagian kantor. Sehingga mereka yang merancang dan mengatur, supaya produk yang dikeluarkan oleh perusahaan mereka bisa menembus pasar nasional bahkan pasar internasional.

"Lis, kenapa kamu lesu begitu? Tidak biasanya kamu bersikap seolah tidak ada semangat hidup," ucap Rena sambil menepuk pelan bahu Lisa, kemudian dengan pelan mengelusnya. Dia sudah menganggap Lisa sebagai teman sekaligus adiknya sendiri.

"Kamu lupa hari ini adalah hari jumat? Biasanya kamu merasa senang dan bersemangat di hari jumat," sambung Rena kembali, sembari menarik tangannya dari pundak Lisa.

Lisa mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Rena dan menampakkan senyumnya yang terlihat sedikit terpaksa.

Hari jumat memang hari yang paling disukainya karena hari jumat adalah hari terakhir yang akan mengeluarkannya dari dunia pekerjaan.

Dalam kata lain, hari jumat sebagai tanda jika akhir pekan telah menantinya. Dia bisa melakukan semua hal yang dia inginkan di akhir pekan. Namun, hari ini menjadi pengecualian. Dia tidak merasa senang atau bersemangat ketika akhir pekan sudah berada tepat di depan mata.

"Hmm... sepertinya aku mengerti," ucap Rena tiba-tiba sembari menampakkan senyumnya. "Rupanya ... kamu belum mendapat kabar dari dia." Tebakkannya tepat mengenai sasaran.

Lisa menggigit bibir dengan tipis dan mengangguk lemah. Dia kembali melirik layar ponselnya yang masih setia dalam mode gelap dan dalam mode diam. Saking lelah dan bosan menanti sesuatu yang tidak pasti, akhirnya dia membulatkan tekad untuk tidak berharap lagi kabar dari orang itu. Dia mendengus dan meraih ponselnya dengan kasar.

"Sudah. Lupakan saja dia!" ucapnya dengan tegas. Ucapan itu dia tujukan kepada dirinya sendiri.

Dengan sikap acuh tak acuh, dia memasukan ponselnya ke dalam tas selempang, kemudian dengan satu kali gerakan dia berdiri dari kursi kerjanya.

"Kak Rena, ayo kita pulang saja sekarang. Percuma juga terus berada di sini," ajaknya kepada Rena yang masih memasukkan barang-barang yang sempat tertinggal, ke dalam tasnya.

"Duduk melamun dan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, sama sekali tidak ada gunanya," sambungnya kembali dengan raut wajah yang mulai tampak kesal.

Rena menatap Lisa dengan bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang di maksud teman kerjanya itu. "Yang mengharapkan sesuatu tidak pasti itu siapa?" tanya Rena sambil mengerutkan keningnya.

"Tidak ada," jawab Lisa dengan asal. Tentu saja hanya Lisa sendiri yang mengharapkan sesuatu tidak pasti itu. Sementara Rena, dia tidak berharap apa pun.

Rena masih berada di ruangan itu hanya karena ada barangnya yang masih tertinggal, bukan karena berharap akan sesuatu.

***

Sepuluh menit kemudian, Lisa dan Rena sudah berada dalam lift kaca yang membawa mereka turun ke lantai dasar. Lisa berdiri membelakangi pintu lift dan menikmati pemandangan malam kota Bandung yang terbentang di depan mata.

Di saat matanya tengah asik menikmati keindahan malam di kota kembang itu, entah kenapa pikirannya tiba-tiba membawanya kembali mengingat kejadian di masa lalu.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Love In Bandung

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Pasca panggilan video terakhir, suami Kayra lenyap tanpa jejak, meruntuhkan dunianya dan memaksanya menghidupi kedua buah hati sendirian. Di masa sulit ini, Damar hadir. Sang ipar menaruh dendam akibat skandal masa lalu yang melibatkan rahasia saudara kembar Kayra. Sempat menolak mengakui darah daging dari relasi itu, Damar akhirnya luluh melihat kemiripan sang bayi. Akankah takdir baru bersama Damar ini menjadi akhir dari penderitaan panjang Kayra?
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali meminta cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru menurunkannya di jalan demi menjawab telepon sang mantan, Rosalie Harris. Laurence terus meremehkan Josie dan yakin istrinya tidak akan berani pergi. Dia tidak sadar bahwa pengabaiannya kali ini telah melewati batas. Di sisi lain, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie agar segera menyelesaikan perceraiannya dan pergi meninggalkan negara ini untuk selamanya.
Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil tanpa sengaja menemukan patung beruang di jalan dan membawanya pulang untuk dirawat dengan tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa benda mati tersebut sebenarnya adalah inkarnasi dari sosok dewa muda yang sangat kuat. Wujud beruang itu terus bertahan menemani Melinda hingga ia tumbuh dewasa menjadi wanita yang cantik. Namun, sebuah konflik menegangkan mendadak muncul dan menguji ikatan unik mereka. Akankah kisah cinta antara manusia dan dewa ini berujung pada kebahagiaan?
Sampul Novel Diagnosis Kanker di Hari Ulang Tahun Pernikahan
8.4
Delapan tahun membina rumah tangga, Jessica harus menelan pil pahit di hari ulang tahun pernikahannya. Alih-alih merayakan momen spesial, dia tidak sengaja mendengar pengakuan kejam suaminya, Rio Aditya. Rio ternyata berselingkuh dengan Nadia dan berniat menceraikannya. Di saat yang sama, Jessica didiagnosis mengidap kanker ovarium stadium akhir. Tanpa rasa cinta yang tersisa dan waktu yang kian menipis, Jessica memutuskan untuk merelakan semuanya, bersiap pergi selamanya demi kedamaiannya sendiri.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Pasca dikhianati saudara angkat dan tunangannya sekembalinya dari desa, Sabrina memilih membalas dendam lewat Charles, paman sang mantan. Walau Charles sempat menolak perasaan setelah malam intim mereka, Sabrina berhasil memicu harga diri pria itu hingga terikat selamanya. Kini berstatus sebagai bibi mantannya, Sabrina yang kerap diremehkan ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar. Ia membuktikan diri bukan pemburu harta, melainkan pemilik takhta yang sesungguhnya.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjadi istri kedua miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalu. Kehidupan pernikahan ini terasa sangat pahit bagi Kayla, sebab ia hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses tersebut. Tanpa memiliki posisi nyata di mata suaminya, Kayla kini harus berjuang keras menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sama sekali tidak dihargai dalam rumah tangga itu.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED