Bab 1

Dzrrt ....

Ponsel Lintang bergetar tanda panggilan masuk. Lintang mengabaikannya dan tetap fokus melanjutkan meetingnya.

Setelah meeting selesai, Lintang kembali melihat ponselnya. Terlihat lima puluh pesan singkat dan dua puluh panggilan tak terjawab dengan na kontak 'IBU RATU' di layar ponselnya.

Baru saja Lintang membuka satu pesan yang bahkan belum sempat ia baca, kontak dengan nama 'IBU RATU' itu kembali membuat ponselnya berdering.

"Ada apa? Aku baru selesai meeting!"

jawabnya kesal.

"Nanti malam kamu harus luangkan waktumu untuk makan bersama! Mama nggak mau tau! Kamu harus dateng! pokoknya harus! Kalau nggak, Mama bisa nekat bikin malu kamu dengan mendatangi kantormu dan ...," desak Mayang memaksa putrinya agar menuruti kemauannya. Tanpa menanggapi ancaman sang Bunda,

Lintang mematikan ponselnya.

"Menyebalkan sekali!" Lagi-lagi ia menggerutu di tengah kesibukannya.

Selang beberapa menit, seorang wanita memanggilnya.

"Bu lilin, Pak Bowo memanggil Anda ke ruangannya," ucap Anita seorang sekretaris yang cantik nan manis dengan lesung di kedua pipinya. 

"Haih ... ada apa lagi ini? Masih pagi kok ya udah banyak yang bikin sebel sih! Ngerusak mood aja!" keluh Lintang yang kekesalannya sudah di ubun-ubun.

Nampaknya pagi itu adalah pagi yang benar-benar membuat mood Lintang memburuk.

Tok ... tok ... tok ....

Setelah pintu dibuka nampak sebuah senyuman hangat dan ramah terukir pada wajah pria paruh baya yang garis halus mulai terlihat samar dikeningnya.

"Bapak memanggil saya?"

 "Ah iya! Masuk Lin. Sini, sini!" pinta Bowo antusias dengan nada bicara dan logat yang khas nampak seolah sangat akrab dengan Lintang.

"Ada apa pak? Apakah ada masalah dengan ...."

Ceklek!

Lintang menoleh ke arah sumber suara tanpa menyelesaikan kalimatnya. Kali ini nampak seorang pria muda serta rupa yang asing masuk keruangan itu.

"Ah, akhirnya datang juga. Iyak! Lintang, ini Ishan dan Ishan ini Lintang karyawan paling kompeten, paling cekatan dan pokonya paling best lah di sini."

Dengan antusiasnya Bowo memperkenalkan Lintang pada Ishan diiringi dengan pujian setinggi langit.

Namun siapa sangka dibalik pujiannya itu terselip harapan, lebih tepatnya niat terselubung Bowo agar Ishan dapat menerima dan bisa rukun dalam bekerja sama dengan Lintang.

Bowo adalah direktur utama di perusahaan Lintang bekerja. Bukan tanpa sebab Bowo begitu akrab dan memuji Lintang setinggi langit.

Ia sangat akrab dengan Lintang lantaran Lintang adalah karyawan andalan lebih tepatnya aset perusahaan bagi Bowo.

Betapa tidak, Lintang yang cekatan selalu mampu membereskan kekacauan dari akibat kecerobohannya yang sudah mendarah daging.

Namun Ishan, pria asing yang baru datang ini justru mengabaikan Bowo yang merupakan paman sekaligus ayah angkatnya.

Ia terpaku menatap wajah gadis yang tujuh tahun silam meninggalkannya, kini berada tepat di hadapannya.

"Kau? Di sini?!" tanyanya yang menunjukkan seolah sudah mengenal Lintang sebelumnya.

"Maksudnya?" jawab Lintang yang mengerutkan keningnya.

"Eh, kalian sudah saling kenal?" tanya Bowo menyela. 

"Maaf, mungkin saya lupa, tapi anda siapa?" tanya Lintang yang menyerah lantaran benar-benar tak mengenali pria yang berdiri di hadapannya itu.

"Ah, bahkan kau tak mengenaliku?

Alasan itukah yang membuatmu enggan menjabat tanganku? Apakah ini yang namanya karyawan teladan?" tanya Ishan yang tiba-tiba menunjukkan ekspresi marah.

"Ah maaf, iya saya mohon maaf atas kel ...." 

"Ah ... sudahlah! Itulah kamu."

Ishan mengibaskan tangannya menolak tangan Lintang lantaran kesal diabaikan.

"Ada masalah apa dengan pria ini? Baru pertama kali ketemu udah songong aja! Jadi pengen jahit tu mulut!" umpatnya dalam hati berusaha menahan diri untuk mencaci.

"Maaf menyela, tapi ijinkan saya bicara dulu," ucap Bowo menyela untuk kembali melanjutkan memperkenalkan keduanya.

"Lintang, ini adalah Ishan yang akan menggantikan saya sebagai direktur utama untuk mengurus perusahaan ini."

Lintang mulai merasa tertekan mendengar apa yang di sampaikan oleh bosnya.

 "Kabar bagusnya, mulai hari ini juga kamu juga ku angkat sebagai wakil direktur untuk mendampingi Ishan."

 Seketika mata Lintang melotot seolah bola matanya hendak melompat keluar saking terkejutnya.

"Maaf, sepertinya saya salah dengar dan saya juga sangat tidak paham dengan apa yang bapak sampaikan."

"Hadeh ... katanya karyawan paling kompeten dan paling hebat, tapi selain dungu juga tuli! Benar-benar paket combo. Sepertinya aku bakal berumur pendek kerja bareng dengan karyawan model begini."

Ishan tanpa ragu mengolok Lintang dengan sindiran pedasnya.

"Nah mulai lagi ni cowok! Kalau di lihat lagi, bibir itu tidak asing!" batinnya dengan melemparkan tatapan tajam ke arah Ishan.

Meski kesal dengan ucapan Ishan tapi Lintang mulai mengingat pria yang dari tadi bersikap sinis terhadapnya.

"Sepertinya saya mulai ingat sekarang! Lu bukannya mantan pacar gue yang culun itu ya? Yang dulu suka banget ngintilin gue di perpus bukan?"

Pertanyaan yang di lontarkan Lintang sontak membuat Bowo dan Ishan kaget hingga menunjukkan reaksi yang tak terduga.

Ishan yang dengan sikap diamnya seolah mengiyakan pertanyaan Lintang. Sedangkan disisi lain Bowo sudah menutup mulutnya dengan tangan kanannya menahan tawa melihat kebungkaman Ishan atas pertanyaan Lintang.

"Hmm ... Tapi seingatku namanya Satrio atau Tio sapaan akrabnya. Tapi apa mungkin itu kamu?" tanya Lintang memainkan telunjuknya di ujung bibir merahnya.

"Oh bisa jadi itu benar Lin, karena nama panjangnya Satrio Ishan kartadinata, akan lebih bagus kalau kalian CLBK," kelakar Bowo menyela dengan cekikik tawa yang memudar lantaran menjawab praduga Lintang.

"Dasar nggak punya hati! Bahkan sedetikpun aku tidak pernah melupakan namamu maupun wajah kucelmu!" balas Ishan judes.

"Ah, ternyata itu beneran kamu toh. Tapi sekarang penampilanmu lumayan, nggak seculun dulu."

Lintang membalas olokan Ishan sebelumnya dengan komentarnya.

Sementara itu Bowo terpingkal-pingkal mendengar keponakan sekaligus anak angkatnya yang selama ini ia kenal sebagai pria yang selalu di puja wanita kini di olok oleh seorang wanita tepat didepan matanya.

"Om! Om Bowo mending cepetan pulang deh! Bukannya om ada acara sama calon istri Om ya?" ucap Ishan yang saking malunya hingga ingin segera Bowo pergi.

"Hahaha ... Iya, iya! Tapi sebelum itu, Om harus mengumumkan dan memperkenalkan kalian dulu donk. Masak direktur utama di ganti tapi bawahan nggak ada yang tau? Kan nggak lucu."

Ketiganya keluar dan Bowo memberikan pengumuman tentang dirinya yang mundur dan digantikan Ishan serta Lintang yang naik jabatan menjadi wakil direktur.

Di tengah pidato Bowo, baik Ishan maupun Lintang justru tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

"Para orang tua yang sudah udzur ini menikah di waktu yang senja rupanya! Lebih dari itu, kenapa tak ada yang mau dengar pendapatku? Bahkan aku tak diberi kesempatan untuk menolak jabatan yang pria tua ini berikan! Sungguh ironis!" gerutu Lintang dalam hati kesal karena jabatan barunya.

Lebih tepatnya ia merasa kesal menjadi bawahan Tio mantan kekasihnya.

Sementara itu Tio alias Ishan pun tengah bertanya-tanya dalam hatinya.

"Kira-kira apa alasan Lintang mutusin gue waktu itu? Apa sekarang dia udah punya pacar? Atau bahkan mungkin suami? Dia masih ingat aku, tapi kenapa tingkahnya seolah tak pernah terjadi apapun? Apa aku hanya mainannya? Ah sial! Kepalaku kembali dipenuhi dengan dirinya! Aku bisa gila!" batinnya.

Sepanjang pidato ia terus bergelut dengan pikirannya sampai-sampai ia tak mendengar jika Bowo memintanya memberi sambutan. 

Lintang yang berada tepat di sampingnya pun menyenggol lengan Ishan dengan sikunya. 

"Berhentilah memikirkan diriku, Saatnya memberi penyambutan,"

bisik Lintang.

Jarak yang begitu dekat membuat hangat napas Lintang menggelitik telinga Ishan hingga telinga Ishan memerah karenanya. Ditambah lagi aroma parfum yang familiar di indera penciuman Ishan pun merasuk menggoyahkan hati dan mengacaukan pikirannya.

"Aku tidak memikirkanmu!" teriak Ishan spontan dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus, membuat seluruh karyawan bahkan Bowo terkejut serta tertawa geli melihat tingkah putra angkatnya.

Refleks Ishan membuat Lintang geram karena malu hingga membuatnya mencubit pinggang Ishan sambil berucap pelan. Rahang merapat meminimalkan bibir bergerak saat berucap menekankan betapa gemasnya Lintang. "Apa kau benar-benar gila? Dasar bodoh!" bisiknya.

Ishan meringis kesakitan. Tangannya meraih tangan Lintang yang masih kuat mencubit pinggangnya.

Grep!

Ishan terdiam saat memegang tangan Lintang, lantaran merasakan kelembutan tangan Lintang yang dingin di antara nyeri di pinggangnya akibat cubitan Lintang.

"Menjijikkan!" Gerutu Lintang sambil menghempaskan tangan Ishan.

"Silahkan pak Ishan untuk memberikan kata sambutannya," tukas Bowo menengahi dua sejoli yang berseteru dalam bisik.

Saat Ishan memberi kata sambutannya, nampak semua karyawati terpesona oleh rupa elok sang direktur muda itu. Suara Ishan yang berat tapi kalem bak nyanyian idol dambaan mereka. Dalam sekejap ia menjadi idola baru di perusahaan itu.

Usai mengumumkan jabatan baru Lintang dan pergantian direktur baru, Bowo kembali memberi sedikit penjelasan pada tugas-tugas Ishan. 

"Jika masih ada yang belum kamu pahami atau butuh bantuan, kamu bisa mengandalkan Lintang. Sudah ya, jangan lupa. Nanti malam kamu harus datang. Om pergi ya? Yang rukun sama mantan," ledek Bowo sebelum pergi meninggalkan Ishan.

Bab 2

Setelah Bowo dan Lintang keluar meninggalkan ruangan Ishan, bukannya kerja Ishan justru duduk termenung dengan pikiran yang dipenuhi tanya tentang Lintang.

Sesaat kemudian, lamunannya buyar oleh ketukan pintu sekretaris yang datang dengan setumpuk berkas.

"Pak, hari ini ada laporan dari pihak agensi model untuk fashion show yang tengah ditangani Pak Bowo."

"Apakah Lin ... ah! Maksudku wakil direktur juga ikut andil dalam proyek ini?"

"Iya Pak."

"Kalau begitu panggil wakil direktur ke mari dan tinggalkan berkas-berkasnya di meja."

"Baik Pak."

Segera ia melupakan tentang apa yang menggangu pikirannya. Kini ia tengah disibukkan dengan setumpuk berkas mengenai proyek yang di tangani oleh direktur sebelumnya. Profesionalitasnya memang tak diragukan lagi, dalam sekejap Ishan memahami permasalahan yang tengah dihadapi.

Selang beberapa saat,

Tok ... tok ... tok ....

Pintu kembali diketuk dan Ishan mulai merasa kesal karenanya.

"Iya, masuk. Lain kali langsung masuk aja! Saya nggak suka mendengar suara ketukan pintu yang mengganggu!" ucapnya tegas.

Dalam sekejap pria bodoh yang tadi berulah berganti menjadi sosok yang kharismatik dan tegas saat berhadapan dengan setumpuk berkas dan beberapa persoalan mengenai pekerjaan. Auranya membuat Lintang yang biasanya angkuh menjadi segan untuk membantah.

"Ya, maaf pak. Kalau begitu ada yang bisa saya bantu Pak?"

"Iya, coba kamu lihat ini, tadi pihak agensi model menelepon untuk meminta kenaikan gaji sebesar 10 kali lipat dari kesepakatan awal. Jika kita tidak bersedia, mereka meminta untuk mundur dari proyek ini. Tapi jika kita membatalkan kontrak dengan mereka, kita nggak mungkin dapat model dalam waktu sesingkat ini, apa solusimu?"

Lintang kembali membaca berkas dan mengambil surat kontrak yang mereka tanda tangani sebelumnya. Dengan seksama Lintang memeriksa satu persatu surat kontrak itu.

Di dalam ruangan yang sama dan seprofesional apapun seorang Ishan, namun jika dihadapkan dengan Lintang seorang gadis yang masih menghuni hatinya maka matanya pun tak mungkin bisa diajak kompromi.

Sesekali Ishan mencuri pandang pada Lintang yang tengah sibuk memeriksa berkas dengan wajah seriusnya.

Sejenak wajah itu membuat Ishan terlena.

"Yaps! Masalah ini biar saya yang tangani. Jika sudah hanya ini saja, saya pamit undur diri untuk segera menyelesaikan masalah ini," tegas Lintang yang membuat Ishan terkejut dan kelimpungan mengalihkan pandangan lantaran khawatir kepergok curi pandang.

"Eh, tunggu! Memangnya apa rencanamu?"

"Tentu saja menemui mereka untuk membuat kesepakatan baru."

"Apa semudah itu? Apa kau yakin bisa?"

"Ya, kita coba saja dulu."

"Baiklah! Aku akan pergi bersamamu! Aku khawatir mereka akan berbuat nekat saat kau mulai memprovokasi mereka."

"Lalu siapa yang akan bertanggung jawab di kantor jika direktur kita yang agung ini ikut keluar? Seharusnya jika anda ingin ngintilin saya lagi, anda bukan menjabat sebagai direktur utama, tapi asisten pribadi saya!" ucap Lintang yang kesal karena sikap kekanakan Ishan.

"Itu ide yang bagus! Tunggu sebentar."

Ishan bergegas keluar dan kembali mengumpulkan para karyawan.

Lintang bingung melihat apa yang akan di lakukan Ishan.

"Pengumuman! Mulai hari ini akan ada pergantian posisi untuk beberapa karyawan. Untuk Indra, kamu saya angkat jadi wakil direktur, dan Selena kamu menjadi manager menggantikan posisi Indra. Lintang saya tempatkan sebagai asisten pribadi saya. Saya harap kalian yang baru berganti posisi dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Sekian, terima kasih dan silahkan lanjutkan pekerjaan kalian."

Lintang melongo mendengar dan melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Ishan.

"Wah ... wah ... luar biasa! Anda benar-benar menggunakan wewenang anda dengan bijak!" ucap Lintang sambil tepuk tangan dan tak hentinya menggelengkan kepalanya karena heran dengan kelakuan direktur muda itu. Ishan hanya tersenyum sombong menanggapi sindiran Lintang.

Tepat saat jam istirahatkan makan siang mereka pergi meninggalkan kantor menuju tempat Denny berada.

Saat sampai di parkiran, Ishan meminta Lintang yang mengemudikan mobilnya. Tanpa membantah Lintang melaksanakan perintah Ishan. Saat dalam perjalanan, Ishan memecah sunyi dengan sedikit basa-basi.

"Tapi ... apa Om Bowo sering seperti ini? Maksudku apakah om Bowo sering membuat kesepakatan dengan perjanjian yang dapat merugikan kita seperti ini?"

"Iyups! Begitulah pamanmu. Selalu membuatku kelelahan dan kerepotan membereskan masalah yang beliau buat." jawab Lintang kesal.

"Pfft! Tidak heran setelah tujuh tahun berlalu kamu kelihatan lebih tua. Bwahahaha ...."

"Yah! Dan yang membuatku heran setelah tujuh tahun berlalu kamu masih belum move on," ucapan Lintang membuat Ishan terdiam seketika.

"Hey! Dari mana kepercayaan dirimu itu? Aku yang sekarang tampan dan gagah ini, kini telah menjadi penakluk wanita! Mana mungkin aku nggak bisa move on dari gadis kurang ajar sepertimu? NA-JIS!"

"Padahal aku hanya asal bicara. Kenapa reaksimu berlebihan seperti itu? Tampaknya ucapan ku tadi benar!"

"Benar kepalamu! Justru sebaliknya, aku sangat membencimu!" jawab Ishan meninggikan suaranya.

"Kau tau? Bisa jadi, bencimu hanyalah pelampiasan dari perasaan tersakiti, perasaan campur aduk yang membuatmu frustasi. Benci tapi masih merindu."

Dalam sekejap suasana di dalam mobil menjadi melankolis. Ishan terhanyut dalam rangkaian kalimat Lintang.

"Tentu saja itu cukup untuk membuktikan jika cinta itu masih ada dan masih duduk tenang di sana. Perasaan bertanya-tanya, 'tak pernahkah sekalipun kau mengingatku?' Dan kubilang 'blasss Ra tau!" lanjut Lintang yang di akhiri dengan nada bicara yang ngegas untuk merusak suasana melow yang ia ciptakan.

"Dasar wanita gila! Dengan kepribadianmu ini, ku yakin kamu nggak akan pernah menikah!"

Pernyataan Ishan bukanlah pernyataan asal. Melainkan pernyataan yang memancing untuk melihat tanggapan dan reaksi Lintang.

Dari pernyataan itu terselip sedikit harap untuk sebuah jawaban yang ia cari.

Namun, tanggapan Lintang yang dingin dan tanpa terucap apapun dari bibir mungilnya justru membuat pikiran Ishan semakin penasaran tak berarah.

Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya mereka sampai di sebuah gedung agensi milik Denny.

Sayangnya Denny sedang tak ada di tempat. Sekretarisnya mengatakan jika Denny akan mengadakan pesta ulang tahun di sebuah hotel berbintang.

Dengan susah payah akhirnya Lintang dapat informasi tentang di hotel mana dan pukul berapa Denny akan mengadakan pestanya.

"Informasi tadi cukup. Selanjutnya kita kembali saja dulu, nanti malam biar saya sendiri yang menyelesaikannya."

"Apakah kamu selalu bertindak sembrono seperti ini? Kamu ini wanita!"

"Memangnya kenapa jika saya seorang wanita? Salahkah?"

Mendengar pertanyaan Lintang, Ishan baru sadar jika Lintang adalah gadis angkuh yang tak pernah suka di remehkan ataupun dianggap lemah.

"Ah sudahlah sepertinya trombositmu menurun. Kita cari makan siang dulu! Bertengkar dan berdebat juga butuh tenaga!" sanggah Ishan tak ingin memancing kemarahan Lintang.

"Tunggu dulu! Maksudmu tadi apa? Kenapa kalau aku seorang wanita?"

"Tidak! Tidak apa-apa, aku hanya salah bicara. Ayo cepat cari makan! Aku sudah kelaparan!" ucap Ishan yang enggan memberi penjelasan. Ia hanya langsung membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi kemudi.

Sementara Lintang masih berdiri mematung dengan wajah masam, seolah siap untuk bertengkar dengan Ishan.

Bab 3

"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ? Ayo cepat naik!" Ishan memanggil Lintang melalui jendela mobil.

Bukannya langsung naik, gadis dengan rambut yang disanggul itu justru melemparkan tatapan tajam dengan aura yang seolah siap untuk membunuh. Ishan yang merasa takut pun langsung menutup kaca mobilnya dan segera menyalakan mesinnya.

Lintang berjalan tenang sambil terus menatap tajam ke arah pria dengan rambut cepak dan wajah tegas itu.

"Hii ...," lirih ishan sambil bergidik ngeri. Walau ia tau, jika Lintang tak dapat melihatnya dari luar.

"Kok ada ya gadis dengan mata iblis tapi secantik itu? Antara terpesona sama serem jadinya," gumamnya lagi yang melihat Lintang dari dalam mobil.

Setelah Lintang masuk dan duduk di kursi samping kemudi, seketika aura horor membuat bulu kuduk Ishan berdiri.

Bugh!

Lintang menutup pintu mobilnya dan Ishan segera melajukan mobil dengan perasaan tegang yang tak berkesudahan sebab kediaman Lintang.

"Bisa tolong dijelaskan apa maksud ucapan anda tadi? Kenapa dengan saya yang seorang wanita?"

Seketika Ishan terkejut.

Lintang kembali bertanya dengan ekspresi wajah yang dingin. Sehingga membuat Ishan merasa terintimidasi.

"M–maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud meremehkan ataupun menganggap kamu lemah. Aku hanya khawatir, itu saja." jawab ishan terbata sangking tegang dan gugupnya.

"Baiklah, cepat jalan! Sebentar lagi waktu istirahat segera habis," perintah Lintang yang kini tengah memperlakukan atasannya layaknya sopir.

Sikapnya itu bukan tanpa alasan, Lintang bersikap bossy lantaran menyadari jika Ishan tengah berusaha menghindari perselisihan dengannya.

Namun, sikap Lintang justru membuat Ishan melongo dan mulai meragukan apa itu Lintang yang ia kenal dulu?

"Kenapa aku merasa sekarang aku jadi seperti kacungnya?" batin Ishan.

Sesampainya di sebuah restoran seperti pada umumnya, Ishan menanyai makanan apa yang ingin dia pesan.

"Tang! Kamu mau pesan apa?" tanya Ishan sambil membaca buku menu.

"Pesan saja untuk dirimu sendiri! Aku bawa bekalku sendiri."

Ishan mengerutkan alisnya saat melihat Lintang mengeluarkan kotak bekal makanan dari tasnya.

"Hey! Apa-apaan ini? Apa kamu sedang irit?" tanyanya yang sedikit terkejut serta heran dengan perilaku Lintang.

"Tidak! Aku tidak terbiasa dengan makanan di luar! Aku lebih suka dengan masakanaku sendiri!"

"Sejak kapan kamu jadi sok higienis? Yang ku tau selama pacaran denganmu, kamu bahkan malas untuk belajar memasak. Apakah sekarang memasak adalah hobimu?"

"Hey! Itu sudah berlalu! Aku bahkan sudah lupa!"

"Bagiku, saat ini kamu tetap pacarku! Karena saat itu kamu menghilang dariku tanpa ada kata 'putus' diantara kita!"

"Kamu benar-benar belum move on? Menyedihkan sekali! Hmh!" ledek Lintang sarkas.

"Jangan keterlaluan! Itu karena kamu yang tiba-tiba ngilang! Kamu pikir kamu siapa?! Datang dan pergi seenak jidatmu! Kali ini jangan harap kamu bisa lepas!"

"Peringatan ataupun ancamanmu tak berlaku untukku. Jangan terus mengingat yang telah berlalu, itu sudah tak berguna. Cepat pesan makananmu, dan kita harus segera kembali ke kantor!"

Ishan melambaikan tangannya untuk memanggil waitress.

"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"

"Saya pesan fried rice tanpa cabe dan orange juice."

"Cih! Makan di restoran mewah cuma pesan nasi goreng sama jus jeruk?" ejek Lintang.

"Menurutmu aku harus pesan apa?"

Lintang hanya mengedikkan bahunya sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Ia nampak khusyuk menikmati makan siangnya.

Melihat cara Lintang menyantap makanan yang nampak seolah ia sedang menyantap hidangan terlezat, Ishan tergoda untuk mencobanya.

"Tang ...." Lintang mengabaikan Ishan, seolah tau apa yang akan ia ucapkan berikutnya.

"Lintang! Apa sih menu makan siangmu?"

"Rica-rica ayam sama nasi aja," jawab Lintang singkat, karena masih sibuk mengunyah.

"Seenak apa sih? Sini biar ku cicipi."

"Nggak! Tunggu aja pesananmu! Bentar lagi juga dateng."

"Tapi aku pengen punyamu tang ... ya? Please ... dikiiit aja tang," rengek Ishan memelas.

"Kalau kamu ngicipin makananku meski cuma sesuap, aku tak yakin setelah mencicipinya kamu masih hidup!" jawab Lintang memberi peringatan.

"Emangnya kenapa? Jangan pelit-pelit kenapa sih tang?"

"Makananku banyak cabenya! Bukankah kamu alergi cabe?"

"Kamu masih mengingatnya?"

"Asal ngomong aja!"

"Kenapa nggak bisa jujur sih? Apa susahnya mengatakan perasaanmu padaku? Bukankah kita masih sama-sama suka?"

"Ini pesanan anda tuan."

Waitress datang membawa pesanan Ishan.

"Ah akhirnya!" ucap Ishan dengan antusias untuk menikmati makanannya segera.

"Terus terang sekali! Kepercayaan dirimu itu membuatmu berselimut tinja!" ucap Lintang menjawab pertanyaan Ishan sebelumnya.

"Bruuaahh! Uhuk ... uhuk ...," Ishan tersedak mendengar jawaban Lintang.

"Ah! Sial! Kamu benar-benar merusak nafsu makanku! Bisa-bisanya kamu menggunakan perumpamaan dengan kotoran saat sedang makan?! Dasar geblek!" umpatnya kesal.

Sementara itu Lintang justru dengan santainya menikmati makanannya.

"Cepat habiskan makanmu!" bentak Lintang.

"Jangan pura-pura bodoh! Apa kamu nggak jijik?"

"Kenapa harus jijik saat benda itu tidak berhadapan, ataupun tidak kau sentuh? Bahkan aromanya pun tak tercium."

jawaban yang keluar dari mulut Lintang dengan wajah tanpa ekspresi itu membuat Ishan geleng-geleng kepala keheranan.

"Wanita gila! Sejujurnya aku kagum dengan sifatmu yang lain dari pada yang lain ini. Yah ... walau kadang bikin gemes-gemes jengkel juga sih! Tapi itulah kenapa selama tujuh tahun ini aku ma ...."

Hap!

Lintang tiba-tiba memasukkan nasi goreng itu ke mulut Ishan, sehingga Ishan tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena mulutnya yang penuh dengan nasi goreng.

"Berhenti mengoceh! Cepat habiskan makananmu! Kalau tidak habis, bungkus aja kasih pengemis!"

Lintang meradang karena kebawelan Ishan yang gigih untuk terus menyeretnya ke dalam arus masa lalu.

"Kamu semena-mena sekali. Bukankah lebih baik sengaja beli lagi untuk pengemis daripada makanan sisa?"

"Huh! Kamu ini pria atau wanita?! Kenapa kamu cerewet sekali sih! Kalau kamu mau beli untuk dibungkus ya beli saja! Aku hanya tidak suka dengan orang yang menyia-nyiakan makanan, mubazir!" jawab Lintang dengan meninggikan suaranya karena kesabarannya sudah habis.

Keributan yang diciptakan Lintang dan Ishan membuat pengunjung lain merasa risih sehingga menyampaikan keluhannya pada manajer restoran.

Hingga akhirnya sang manajer pun datang menghampiri keduanya untuk menegurnya.

Namun saat wanita dengan setelan blus berwarna pink di padukan Blazer dan celana putih itu berada tepat di hadapan Ishan dan Lintang, manajer itu justru tertegun melihat keduanya.

Walau sedikit syok, gadis dengan rambut panjang yang tergerai indah itu memberanikan diri untuk menyapa kedua pelanggan yang tengah ribut itu.

"Ishan? Apa yang ...," Dira bersuara lirih diselimuti dengan keraguan. Niat hati ingin bertanya, namun apa daya lidahnya justru kelu melihat sang kekasih dengan wanita lain.

Walau samar, Lintang mendengar Dira yang memanggil Ishan. Terlebih posisi duduk Lintang yang menghadap ke arah Dira berada.

"Apakah anda barusan memanggil pak Ishan?" tanya Lintang yang membuat Ishan menoleh kebelakang.

"Apakah barusan dia bilang 'pak'?" batin Dira yang sedikit merasa lega.

"Indira?" Ishan terperanjat melihat wanita yang baru tiga hari lalu ia pacari ada di hadapannya.

Melihat reaksi keduanya, Lintang menangkap adanya suatu hubungan asmara.

Hingga ia berinisiatif untuk memberi waktu bagi keduanya.

"Maaf pak Ishan, nampaknya saya harus kembali ke kantor lebih dulu. Permisi Pak." Lintang langsung pergi tanpa mendengar jawaban Ishan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED