"Kejar dia! Jangan sampai lolos. Aku tidak mau dia hidup dengan tenang di sana atas apa yang telah dia perbuat," ujar seorang pria yang sedang menelepon suruhannya. Dia terlihat begitu marah, matanya nyalang memandang ke arah luar ruangan.
"Harry, apa kau yakin akan kembali ke Korea?" tanya seseorang di belakangnya membuat pria itu menoleh ke arahnya.
"Aku sangat yakin. Aku ingin mencarinya dengan tanganku sendiri. Dia harus menebus dosa-dosanya, karena dia tidak akan berhenti kalau bukan aku sendiri yang menghentikannya." Aura dingin sangat terpancar pada sosok pria itu. Ambisinya untuk mencari seorang wanita psikopat begitu kuat. Dalang dari semua pembunuhan kekasih dan beberapa teman SMA-nya.
------
Hanya terdengar suara rintikan hujan di luar sana yang menemani di malam yang sunyi ini. Han Yura sedang duduk termenung sambil memikirkan perkataan orang tuanya. Mereka ingin dirinya segera menikah. Sampai-sampai mereka mempersiapkan kencan buta dengan beberapa pria untuk dirinya. Namun, semua itu sia-sia. Di antara dari semua pria itu tidak ada yang bisa memikat hati Yura.
"Haaahhh ... benar-benar, ya. Dunia ini sungguh nggak adil. Kenapa semua orang malah menanyakan tentang pernikahan kepadaku? Gimana mungkin aku memikirkannya? Pacar aja aku belum punya," gerutu Yura di dalam kamarnya sambil berguling-guling tak tentu arah di atas king size-nya.
"Yaakk. Kenapa juga diumurku yang ke 26 tahun ini masih aja single?" Yura mengacak rambutnya frustasi.
"Apa aku nggak cantik dimata para pria? Tapi, ahh, nggak mungkin kalau aku memang nggak cantik. Mengapa mereka mendekati aku di kantor? Kalau dilihat-lihat, mereka lumayan juga sih, bisa di bilang banyak yang tampan. Entahlah, mereka nggak ada yang istimewa di mataku. Apa jangan-jangan aku nggak tertarik sama pria? Astagaaaa ... ini sungguh membuat kepalaku pusing."
Berbagai pikiran melayang-layang di kepalanya. Karena sampai sekarang, dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya pacaran itu. Sudah jam dua belas malam, Yura masih betah untuk terjaga seolah-olah matanya enggan untuk menutup. Sampai jam satu dini hari, matanya sudah mulai lelah. Akhirnya Yura memutuskan untuk istirahat.
Keesokan harinya, Yura berangkat ke perusahaan Rank Group tempat di mana dia bekerja. Dengan kondisi yang kurang baik dan mata yang sedikit sembab karena dia terjaga semalaman sehingga harus tidur telat.
"Hei, Kenapa dengan matamu Han Yura? Kau seperti panda aja dengan mata seperti itu. Apa jangan-jangan kamu habis putus sama pacarmu, ya?" ejek Naemi sahabat karib Yura.
"Ahh, ini nggak apa-apa, kok. Hanya saja, aku terjaga semalam karena nonton melodrama. Terus aku harus mengeluarkan air mataku yang berharga ini. Ya, beginilah hasilnya mataku sedikit sembab." Yura terus membantah Naemi.
"Ohh, gitu rupanya. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku nggak yakin dengan jawabanmu. Nggak biasanya kamu nonton film sampai larut malam. Apalagi film sedih kayak gitu. Biasanya kamu lebih memilih istirahat karena besok kamu harus bekerja, ya, kan?"
Berbagai ocehan yang diberikan Naemi membuat Yura gugup seketika. Bagaimana mungkin Yura menceritakan masalahnya kepada Naemi. Pada akhirnya dia malah dapat ejekan dari sahabatnya itu. Mau ditaruh di mana mukanya jika hal tersebut terjadi?
Yura terlalu malu karena dia tidak berpengalaman sama sekali dengan seorang lelaki di umurnya yang sudah terbilang cukup untuk berpacaran bahkan menikah. Sehingga, mau tak mau Yura harus mengalihkan pembicaraan sebelum Naemi memberi pertanyaan yang aneh-aneh terhadap dirinya.
'Astagaaa ... nih anak, kenapa otaknya begitu encer sekali pagi ini? Bisa-bisanya dia membombardir pertanyaan yang membuatku mati kutu,' batin Yura sedikit jengkel.
"Ahh, itu--- itu"--- Yura tergagap sambil memikirkan jawaban yang tepat. "Yaakk. Kenapa kamu cerewet sekali pagi ini? Ah, sudahlah. Aku nggak mau bahas ini lagi. Lebih baik aku menyiapkan laporan buat besok sebelum si nenek sihir itu," maksudnya adalah Im Yhuna, "marah-marah nggak jelas. Telingaku sakit kalau dengerin omelannya dan suaranya yang cempreng." Yura terus mencari alasan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya sudahlah. Aku nggak akan mengganggumu kali ini. Meskipun sebenarnya aku penasaran, sih. Hehehe ...," jawab Naemi sambil senyum-senyum menggoda Yura.
"Sudah sana fokus kerja!" perintah Yura sambil menarik Naemi agar duduk di tempat kerjanya.
"Dia benar-benar aneh pagi ini. Ahh, masa bodoh. Mungkin perkataan Yura ada benarnya. Oke. Sekarang fokus kerja demi mencapai target supaya bonus bulanan bisa cair," batin Naemi mulai berkutat dengan komputernya.
Semua karyawan berada di meja kerjanya masing-masing. Mereka sibuk dengan komputer dan tumpukan kertas yang berada di meja kerjanya. Sampai-sampai mereka tidak menyadari dengan kedatangan sang direktur.
"Ekheemm. Selamat pagi semuanya," sapa sang direktur yang didampingi oleh beberapa asistennya.
Semua yang ada di dalam ruangan tersebut menoleh ke sumber suara. Sontak mereka semua berdiri terkejut akan kedatangan sang direktur Park Jerry.
"Selamat pagi direktur." Para karyawan serentak berdiri sambil membungkukkan badannya kepada direktur besar Rank Group.
"Baiklah. Semuanya tidak usah berlebihan seperti itu." Park Jerry menampilkan seulas senyuman di wajah.
"Maaf, sudah mengganggu waktu kalian bekerja. Jadi begini, maksud kedatangan saya sekarang hanya menyampaikan informasi penting kepada kalian semua. Dua hari lagi saya akan pensiun dari perusahaan ini. Maklum saja saya sudah tua dan saya ingin menikmati masa tuaku bersama keluarga tercinta. Jadi, saya akan menyerahkan tanggung jawab saya untuk memimpin perusahaan ini kepada putra semata wayang saya." Para karyawan sedikit terkejut dengan perkataan direkturnya yang secara tiba-tiba.
"Hari ini, dia baru akan pulang ke Korea setelah dia menyelesaikan study di Harvard Amerika selama dua tahun. Dia mengambil fakultas Harvard Business School. Dia bisa dibilang masih muda, umurnya saat ini masih 29 tahun. Tapi, tenang saja. Dia sudah berpengalaman untuk mengurus perusahaan karena saya bisa menjaminnya. Saya mohon bantuannya kepada kalian semua untuk berbagi pengalaman bersama putraku. Saya harap kalian semua bisa menerimanya dengan baik," ujar direktur Park Jerry yang dijawab anggukan oleh semua karyawan.
Mereka tidak menyangka kalau direktur baru mereka masih muda. Tapi, tidak sedikit para karyawan khususnya karyawan wanita senang dengan kabar barusan. Wanita mana yang tidak tertarik dengan pria muda yang sudah mapan dan satu-satunya pewaris perusahaan Rank Group. Salah satu perusahaan yang berpengaruh di Asia. Tidak mudah untuk bisa masuk ke perusahaan Rank Group, berbagai seleksi yang ketat harus dilalui oleh banyak orang yang ingin menjadi pegawai di perusahaan ternama tersebut.
"Oke. Hanya itu saja yang perlu saya sampaikan. Terima kasih atas waktunya. Saya undur diri dulu sampai jumpa dan semangat buat kalian semua," pamit Park Jerry kepada para karyawannya.
Setelah kepergian direktur Park Jerry, para pegawai bergerombol membicarakan tentang bagaimana sosok direktur baru mereka yang terbilang masih muda. Mereka tidak sabar menunggu dua hari lagi. Akan tetapi berbeda dengan Yura, dia terlihat cuek seolah-olah tidak ada berita apa pun pagi ini. Dia lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya daripada harus bergosip yang tak jelas menurutnya.
"Haahh ... ada-ada aja, sih, mereka. Belum tentu juga dia tampan. Umurnya boleh muda, tapi siapa tahu wajahnya sudah kayak om-om. Lagian buat apa juga, sih, mereka menggosipkan hal yang tidak penting itu," gerutu Yura dalam hatinya. Dia merasa terganggu dengan suara berisik teman-temannya yang heboh.
Langit biru dengan awan putih membumbung tinggi menghiasi cakrawala siang ini. Di sana ada seorang pemuda tampan yang baru menginjakkan kakinya di Bandara Incheon Korea Selatan. Dia sangat merindukan negara tempat di mana ia dilahirkan. Seulas senyum terpancar dari wajahnya. Rasanya sudah lama dia tidak berkunjung ke negara tercintanya ini. Masih 2 tahun saja sudah banyak yang berubah.
"Selamat datang Korea. Semoga hari-hariku cerah dari sekarang," ucap Harry Borison dengan senyuman yang begitu menawan khas pria dingin dan angkuh namun terlihat wibawa.
Harry Borison adalah pria blasteran Korea Inggris, sehingga dia mempunya wajah setengah bule setengahnya khas wajah orang asia membuat wajahnya dikagumi oleh banyak orang. Dia putra semata wayang dari tuan Park Jerry dan nyonya Fiona Angeline. Setelah kepulangannya dari Amerika, Harry langsung diberi tanggung jawab oleh papanya untuk menggantikan posisinya sebagai direktur utama di Rank Group perusahaan milik keluarga mereka yang begitu berpengaruh di Asia.
-----
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 di mana para pegawai sudah boleh pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. "Yaakk Han Yura, kenapa kamu sore-sore gini malah mau beranjak tidur? Ini masih jam lima sore, Nak. Cepat bangun dan berdandanlah yang cantik! Ayo cepat banguunnn!!!" teriak nyonya Han Hyemi yang sedikit kesulitan membangunkan putrinya Han Yura.
"Eohh, mamaa. Aku capeekk ... banget, setelah seharian bekerja. Aku ingin istirahat aja. Lagian, aku sering tidur sore-sore begini tapi gak pernah ada yang melarang. Kenapa sekarang mama mempermasalahkannya? Dan apa tadi? Kenapa aku disuruh dandan yang cantik segala?" rengek Yura terhadap mamanya.
"Nggak bisa. Pokoknya kamu harus bangun sekarang juga! Nanti kita akan kedatangan tamu sahabat lama keluarga kita. Jadi, kamu harus berpenampilan secantik mungkin dan jangan sampai memalukan orang tuamu ini. Ayo sana cepat bersihkan tubuhmu itu!" ujar nyonya Han Hyemi sambil menarik tangan Yura agar bangun dan segera menyeretnya ke kamar mandi.
"Aduuhhh ... kenapa mama jadi menyebalkan gini, sih?" Sambil mengacak rambutnya kesal. Segala omelan dilontarkan Yura di dalam kamar mandi.
Beberapa menit telah berlalu, akhirnya Yura keluar juga dari kamar mandi setelah selesai membersihkan tubuhnya. Yura melangkahkan kakinya ke sebuah almari yang cukup besar dengan desain Eropa yang klasik tempat di mana ia menaruh semua pakaiannya. Dia mempertimbangkan pakaian mana yang akan ia kenakan sekarang, sehingga dia mencoba satu persatu semua pakaiannya dan pada akhirnya pilihannya jatuh pada pakaian berwarna peach. Setelah dirasanya semua sudah cukup, Yura berdiri di depan cermin besar yang memperlihatkan semua lekuk tubuh indahnya.
Yura terpesona dengan tampilannya sendiri. Dia memakai pakaian pilihannya tadi dengan balutan make up ditambah berbagai aksesori yang telah melekat pada tubuhnya seperti anting, kalung, dan rambut yang dibiarkan terurai. Sehingga membuat semakin mempercantik tampilannya malam ini.
"Apakah ini benar diriku? Tumben sekali aku terlihat cantik seperti ini. Tapi tunggu dulu, kenapa aku jadi antusias seperti ini? Lagian, nggak jelas juga siapa tamunya. Terus kenapa aku harus repot-repot berias seribet ini? Haahhh ... sungguh membuang-buang waktu aja." Yura menanyakan kepada dirinya sendiri seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang di depan cermin. Rasanya antara senang dan juga malas karena waktu istirahatnya terganggu.
Keluarga Han menyiapkan semuanya dengan begitu antusias dan senyuman selalu terpancar di wajah mereka terutama kedua orang tua Yura. "Mamaa, papa. Memangnya mau ada acara apa, sih? Kenapa kita harus menyiapkan begitu banyak makanan? Pakaian mama papa juga terlihat formal begini," tanya Han Daniel (adik Yura) dengan raut muka yang kebingungan.
"Kamu sudah datang ternyata putra andalanku. Kita bentar lagi mau kedatangan tamu istimewa. Jadi, cepat sana ganti pakaianmu! Aku beri waktu lima menit untuk kamu ganti pakaian," ujar tuan Han Baek.
"Yaakk ... Papaa ... Kenapa waktu yang diberikan kepadaku cuma lima menit? Waktu segitu hanya cukup buat masukkan celana aja itu pun hanya separuh kaki ...," rengek Daniel kepada papanya yang dibalas dengan tatapan tajam dari Tuan Han. Akhirnya mau tak mau, Daniel menuruti apa kata papanya sebelum hal yang tidak dia inginkan terjadi.
Tuan Han Baek dan Nyonya Han Hyemi masih sibuk mempersiapkan semuanya sambil dibantu oleh para pelayan rumah mereka. Tak berkunjung lama bel rumah mereka berbunyi.
"Ahh, itu pasti mereka. Aku coba lihat dulu." Tuan Han dengan antusias pergi ke depan membukakan pintu rumah mereka yang cukup besar.
"Waahh, benar ternyata dugaanku. Ini benar-benar kalian yang datang. Aku merindukanmu teman. Rasanya sudah lama sekali kita nggak bertemu," ujar tuan Han sambil memeluk sahabat lamanya tuan Park Jerry.
"Aku juga sangat merindukanmu teman lamaku." Membalas pelukan tuan Han. "Apa aku dan keluargaku nggak boleh masuk ke dalam rumahmu?" tanya tuan Park Jerry dengan wajah yang berbinar.
"Aduuhh, maaf Jerry. Aku sampai lupa. Ayo silakan masuk! Kami sudah menyiapkan banyak makanan buat kalian," ujar tuan Han sambil mengajak keluarga Park Jerry masuk dan mengantarnya menuju ruang keluarga. Di sana beberapa makanan sudah tertata rapi di meja yang telah disiapkan oleh keluarga Han.
"Waahh, akhirnya kita bertemu lagi. Ayo silakan duduk!" ujar nyonya Han Hyemi yang dijawab anggukan oleh keluarga Park Jerry.
"Oh, baik, terima kasih," jawab Nyonya Fiona dengan senyum berbinar.
"Apakah ini putra kalian?" tanya tuan Han.
"Iya betul, dia putra semata wayangku. Tadi siang, dia baru datang dari Amerika. Kebetulan dia telah menyelesaikan study-nya di sana selama dua tahun. Rasanya sudah lama sekali dia pergi meninggalkanku. Lihat saja wajahnya sudah seperti bule," jawab tuan Park Jerry dengan senyum lebarnya mencoba menggoda Harry.
Sedangkan orang yang sedang dibicarakan hanya mengulas sebuah senyuman tanpa berkata apa pun. "Ternyata kamu bisa juga manja sama anakmu, ya? Jelas saja putramu ini kayak orang bule. Dia, 'kan, lebih mirip sama ibunya," goda tuan Han kepada sahabatnya itu. "Oh iya, siapa namamu, Nak?" tanya tuan Han Baek kepada Harry.
"Nama saya Harry Borison." Sambil memberikan hormat kepada tuan Han dan nyonya Han. "Senang bisa bertemu dengan paman dan bibi." Harry menjawab dengan sopan serta memberikan senyum hangatnya yang semakin membuatnya tampan dengan berbalut kemeja putih dan celana hitam yang terlihat pas ditubuhnya. Tak lupa mata coklat mudanya yang sangat berkilau, hidung mancungnya, dan rambut hitamnya dengan tatanan soft side parting, membuat ketampanannya semakin terlihat sempurna.
"Waahh, dia sangat tampan Jerry. Sama seperti waktu aku masih muda, iya, kan?" ujar tuan Han dengan penuh percaya diri yang ditanggapi dengan tertawaan oleh kedua keluarga kecil tersebut.
"Nggak mirip sama sekali. Dia lebih mirip aku waktu muda. Astaga, ternyata kamu masih sama seperti dulu ya, Baek. Selalu percaya diri," ujar Tuan Park sambil tertawa mengejek. "Ngomong-ngomong, ke mana putra dan putrimu?"
"Mereka masih siap-siap di atas." Tak lama kemudian, Daniel keluar dari kamarnya.
"Ohh, itu dia (Daniel) putraku yang bungsu. Cepat sini, Nak! Beri salammu kepada keluarga sahabat papa," ujar tuan Han. Kemudian Daniel memberikan ucapan salam untuk keluarga Park Jerry. Mereka semua berbincang-bincang dengan begitu bahagianya. Sedangkan Harry, dia mulai merasa bosan dan memilih untuk bermain ponsel.
"Ah, tunggu dulu. Di mana putrimu, Baek? Apa masih belum selesai juga siap-siapnya?" tanya tuan Park Jerry.
Belum sempat tuan Han menjawab, terdengar suara high heels yang sedang menuruni tangga. Semua mata menoleh ke sumber suara tersebut dan mereka semua terpesona ketika melihat seorang wanita bagaikan dewi menuruni anak tangga dengan begitu anggunnya.
Harry yang sedari tadi memainkan ponselnya, terdiam membatu. Matanya terpesona ketika memandang wanita itu (Han Yura). Baru pertama kali ini seorang Harry Borison pandangannya terpaku ketika melihat sosok wanita.
"Kenapa tiba-tiba tubuhku berdesir hebat seperti ini saat melihatnya?" Harry tidak mengerti dengan perubahan dalam dirinya.
Setelah sampai di ruang keluarga, Han Yura memberikan salam hangatnya kepada keluarga sahabat lama papanya. Sontak saja, Yura merasa terkejut ketika mengetahui siapa tamu istimewa keluarganya yang tak lain adalah keluarga Park. Di mana tuan Park Jerry adalah direkturnya sekaligus pemilik perusahaan Rank Group tempat di mana ia bekerja.
"Jadi, ternyata kamu yang namanya Han Yura putri dari Han Baek? Kalau aku sudah tahu sejak awal, aku pasti akan sangat senang. Kamu wanita yang tidak hanya cantik, tapi juga giat bekerja. Prestasimu di perusahaan juga bagus. Tidak salah lagi aku milih menantu," ujar tuan Park Jerry tanpa dosa. Kedua insan (Yura dan Harry) dibuat terkejut atas perkataannya.
"Apa maksudnya dengan calon menantu, Pa?" Harry merasa bingung dengan ucapan papanya barusan.
"Iya direktur, Yura juga tidak paham sebenarnya ini ada apa?" timpal Yura kepada direkturnya sekaligus kerabat orang tuanya.
Park Jerry malah tersenyum melihat kedua anak muda itu kebingungan. "Ohh, sepertinya anak-anak kita masih tidak tahu dengan rencana kita Han Baek," jawab Park Jerry yang dibalas senyuman oleh tuan Han, nyonya Han dan nyonya Fiona kecuali Daniel karena dia tidak tahu sama sekali dengan rencana orang tuanya untuk sang kakak.
"Iya benar katamu sayang. Mereka tidak tahu apa-apa, berjumpa saja baru kali ini," ujar nyonya Fiona kepada suaminya yang dibalas dengan gelak tawa kedua keluarga. Kecuali Yura dan Harry, mereka hanya diam membisu tidak tahu harus berkata apa tentang rencana kedua orang tua mereka. Mereka berdua bingung apa yang harus mereka perbuat sekarang ini setelah mendengar perkataan dari orang tuanya. Rasanya mereka ingin segera meninggalkan ruangan.
"Oke, biar aku perjelas lagi. Harry Borison dan Han Yura, maaf, kami tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan kalian. Namun, kami melakukan semua ini demi kebaikan kalian sendiri. Harry, aku tahu kamu nggak setuju dengan rencana kami. Aku mohon, kali ini kamu jangan menentang keputusan papa dan mama. Mungkin ini tidak adil bagimu, tapi cobalah mengerti Harry. Papa dan mama sangat menyayangimu. Kami tidak mau kamu salah pilih dalam mencari pasangan dan kami yakin kamu akan bahagia bersama Han Yura. Kami sudah memutuskan, pernikahan kalian akan diadakan dua minggu lagi. Jadi, selama itu kalian bisa saling mengenal satu sama lain. Aku mohon pada kalian berdua untuk menerima perjodohan ini," ujar tuan Park Jerry panjang lebar di depan kedua keluarga kecil mereka.
Yura dan Harry hanya diam seribu bahasa. Mereka terlarut dalam pikirannya masing-masing, sehingga kesunyian melanda di antara mereka semua setelah penuturan yang diberikan oleh tuan Park Jerry barusan. Namun, tak lama kemudian Harry mengeluarkan suaranya.
"Baiklah. Papa, mama, jika itu bisa membuat kalian bahagia. Aku akan menerima perjodohan ini." Dibalik sifat dingin dan angkuhnya, Harry memang seorang anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Kebahagiaan mereka adalah segalanya bagi Harry. Meskipun dia tidak yakin akan keputusannya sendiri setelah dia ditinggal oleh pujaan hatinya untuk selamanya empat tahun lalu. Kejadian itu membuat dunia Harry begitu terpuruk.
Harry Borison dulunya memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya. Waktu itu, dia masih berumur 25 tahun. Akan tetapi, takdir memisahkan mereka berdua. Kekasih hatinya Hwan Yeunji meninggalkannya karena kecelakaan tragis yang menimpa wanita itu. Harry sangat terpukul akan kepergian wanitanya. Dia sangat menyesali tidak bisa menemani gadisnya karena dia terlalu sibuk dengan study-nya. Harry merutuki dirinya sendiri sampai saat ini. Dia masih belum bisa menerima dengan kejadian empat tahun lalu. Hingga membuatnya menjadi seorang pria yang dingin dan angkuh terhadap orang lain. Bahkan dia sempat berpikiran untuk tidak mengenal apa yang namanya cinta lagi, karena baginya semua itu akan sia-sia terhadap hidupnya. Dia merasa tidak akan ada yang bisa menggantikan wanitanya di dalam hati Harry.
"Baiklah kalau gitu. Harry sudah mengatakan akan menerima perjodohan ini, Sekarang bagaimana denganmu, Yura? Apa kamu juga akan menerima perjodohan ini?" tanya tuan Han kepada Yura putri kesayangannya. Sedangkan Yura hanya diam saja. Dia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia ingin menikah. Dia sudah tidak tahan dengan sindiran keluarganya dan teman-temannya Karena dia tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi, disisi lain dia tidak pernah mengenal pria yang akan menjadi suaminya ini dan dia juga belum siap akan menjadi seorang istri mulai dua minggu depan.
"Ohh, Tuhan. Aku harus menjawab apa?" batin Yura dengan gelisah.
Harry melihat kegelisahan pada diri Yura. "Ahh, mungkin Yura masih butuh waktu untuk memikirkannya." Akhirnya Harry angkat bicara di depan keluarga mereka. Sedangkan tuan Han dan nyonya Han sedikit gelisah melihat kondisi putrinya saat ini.
Namun, tiba-tiba Yura mengeluarkan suaranya. "Aku menerima perjodohan ini," ucap Yura pada akhirnya. Semua keluarga sontak terkejut dengan perkataan Yura yang secara tiba-tiba.
"Apa benar yang kamu katakan, Nak?" tanya nyonya Han yang dijawab anggukan dan senyuman dari Yura. Sedangkan Harry merasakan adanya kejanggalan pada diri Yura.
"Ahh, syukurlah kalau kalian berdua menerima perjodohan ini. Masalah persiapan pernikahan, biar kami saja yang mengurus semuanya. Kalian berdua hanya fokus pada pekerjaan kalian saja. Dan kamu Harry Borison, kamu harus mulai mempersiapkan dirimu untuk memimpin Rank Group mulai besok," ujar tuan Park Jerry.
"Baik, Pa," jawab Harry dengan kewibawaannya. Sedangkan Yura hanya menatap Harry dengan lekat tidak menyangka dengan apa yang dia dengar barusan.
"Berarti direktur baruku adalah HARRY BORISON dan dia adalah calon suamiku sendiri? Ohh, ini sungguh tidak mungkin. Ya Tuhan, takdir apalagi ini? Bagaimana aku bisa menghadapinya nanti di kantor? Astagaa ... kalau kayak gini mending aku jomblo aja sampai mati." Yura tak percaya dengan garisan takdir yang terjadi pada dirinya. Kedua keluarga kecil itu merasa bahagia dan mereka kembali menyantap hidangan yang ada di depan mereka.