Bab 1

"Alicia."

"Mommy!" Seorang gadis kecil menghampiri ibunya yang tengah berdiri di ambang pintu kamar, memeluknya langsung.

"Alicia," panggil wanita paruh baya itu sekali lagi, dengan mata yang berkaca-kaca. 

Alicia tampak kebingungan. "Mama, ada apa?" 

Marie menggelengkan kepala, tersenyum menatap anaknya.

Tidak lama kemudian, dua pria datang menghampiri mereka. Keduanya Alicia sangat kenal. Yaitu ayah dan pamannya.

"Robert, aku mohon, jaga Alicia baik-baik." Marie menatap Robert dengan air mata yang sudah berlinang.

Robert menganggukkan kepala. "Kalian tidak perlu khawatir, Alicia akan aman tinggal bersamaku," ucapnya dengan sulas senyuman manis.

Marie menganggukkan kepalanya, masih dengan air mata yang bergulir di kedua pipinya. Setelah memeluk Alicia, dia mundur dan membiarkan Alarick, suaminya, memeluk anak mereka.

"Daddy berjanji akan menjemputmu nanti, dan kau akan baik-baik saja dengan paman Robert. Jadilah anak yang baik, mengerti?" Alarick memeluk erat anaknya, lalu memundurkan diri dan berdiri sejajar dengan Marie.

Alicia menatap kedua orangtuanya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, namun kedua orangtuanya seolah tengah mengucapkan kata-kata perpisahan, membuatnya tidak kuasa menahan tangis lagi.

"Daddy dan mommy akan kemana? Alicia juga ingin ikut," rengeknya dengan suara isakan tertahan. Ketika Robert mendekatinya dan menahan Alicia untuk mendekati kedua orangtuanya, padahal Alicia hanya berniat untuk memeluk mereka, meminta penjelasan atas alasan mereka yang hendak pergi meninggalkannya.

"Goodbye, Honey. We love you."

Dan setelah itu, Alicia tidak lagi bertemu dengan kedua orangtuanya.

***

Bab 2

Sudah satu minggu semenjak kepergian kedua orangtuanya yang tanpa sebab atau tanpa alasan. Saat ini, Alicia tinggal dengan pamannya, Robert Lucero.

Kehidupan gadis berusia sembilan tahun itu jauh berbeda dari yang sebelumnya. Dia selalu murung diri di dalam kamar, jarang makan, dan juga jarang tidur. Robert tidak pernah sekalipun mengunjunginya atau hanya sekedar datang menghiburnya.

Alicia kini merasa bahwa dunianya hampa.

Namun, sepertinya kehidupannya juga akan berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya, ketika malam itu, Robert meminta kepada pelayannya untuk mendandani Alicia dengan rapi. Dan di ruang tamu, Alicia dipertemukan dengan seorang pria yang memiliki mata seperti iblis, merah kelam.

Alicia yang awalnya hanya terdiam, tiba-tiba merasa sekujur tubuhnya merinding seperti ketika dia ditakut-takuti oleh nannynya tentang monster di bawah ranjang. Bedanya, saat ini monster itu tengah menatap tepat ke arahnya, begitu tajam.

Alicia tidak berani membuka mulut, atau memandang lagi pria itu, dia hanya menundukkan kepala dengan tubuh bergetar, dan samar-samar mendengar pamannya berbicara.

"Bagaimana, Mr. Denovan? Alicia memang benar keponakan saya, anak dari Albert dan Marie Lucero."

Mata tajam dan merah kelam pria itu menatap Alicia dingin.

"Hm..." gumamnya panjang. "Apa aku bisa membawanga sekarang?"

Robert menyeringai lebar. "Tentu saja!" katanya dengan binar di kedua matanya. Bayang-bayang tentang harta dan tahta yang sebentar lagi akan dia peroleh menari-nari di kepalanya.

Dan mendengar bahwa pria di hadapannya ini ingin membawanya pergi membuat Alicia panik bukan main. Dia meronta ketika Robert mengambil tangannya dan membawanya, atau bisa lebih dikatakan menyeretnya, ke dalam sebuah mobil.

Alicia memberontak lagi dan menepuk kaca mobil kuat sambil menangis dengan keras. Tidak lama kemudian, pria iblis tadi masuk ke dalam mobild dan duduk di jok kemudi. Dia melirik Alicia dari rierview mirror di depan dengan mata merah kelamnya, dan Alicia tidak bisa melupakan seringaian tajam pria iblis itu.

***

Bab 3

Gadis berambut hitam dengan blus putih di atas mata kaki itu duduk di atas rerumputan sambil memainkan pucuk dandelion yang tadi dipetiknya. Matanya menatap ke depan, pada beberapa ekor domba yang tengah asik mengunyah rumput.

Rambut hitam gadis itu beterbangan diterpa angin, namun dia tidak peduli, malah matanya menutup, menikmati suasanya pagi ini yang begitu sejuk.

Di kala sendiri seperti ini, dia selalu diingatkan akan kedua orangtuanya, dan pria bermata merah yang telah membawanya ke sini.

Di usianya yang sudah menginjak angka delapan belas tahun, Alicia tidak lagi menangis jika mengingat kedua orangtuanya pergi meninggalkannya tanpa sebab. Dia berpikir, apa dulu dia pernah berbuat nakal sehingga ayah dan ibunya pergi dan tidak mau bersamanya lagi? Apa dulu dia telah menjadi anak yang tidak baik sehingga membuat ayah dan ibunya menangis? Alicia tidak tahu, dia tidak akan pernah tahu.

Paman Robert yang dulu juga berjanji akan menjaganya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, nyatanya melakukan sebaliknya. Dia menjual Alicia pada si pria bermata merah kelam yang sampai saat ini tidak pernah bisa Alicia lupakan. Tentang bagaimana pria itu menatapnya, yang langsung membuat sekujur tubuh Alicia merinding dan hampir selalu bergetar takut setiap kali mengingatnya. Apa pria itu benar-benar manusia? Atau dia adalah jelmaan iblis di dunia nyata?

Yang pasti, Alicia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Dia bertekad, setelah sekolahnya lulus di desa terpencil ini, dia akan merantau ke kota, untuk mencari kedua orangtuanya di sana.

Tapi bagaimana dengan pria bermata merah itu? Alicia memikirkannya lagi. Karena jelas-jelas bahwa pria itulah yang membawanya ke tempat ini, menitipkannya pada bibi Jen yang saat ini selalu berperan sebagai ibu pengganti untuknya. Dulu, bibi Jen selalu menghibur atau hanya sekedear menemani Alicia ketika gadis itu menangis di malam hari, bermimpi buruk karena merindukan kedua orangtuanya. Alicia sangat menyayangi bibi Jen. Dan dia suka pada kehidupannya di sini, di desa terpencil yang tidak banyak orang ketahui.

Suasananya masih sangat asri dan hijau, udaranya juga segar dan hangat.

"Alicia!"

Alicia membuka kedua kelopak matanya ketika mendengar suara bibi Jen memanggil di belakang.

Sontak, Alicia pun menoleh dan mendapati bibi Jen tengah berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya. Alicia lantas bangkit dan berjalan mendekati bibi Jen dengan tatapan penuh bertanya.

"Ada apa, Aunt?" tanya Alicia.

Bibi Jen berhenti di hadapan Alicia dengan napas ngos-ngosan, hal itu semakin membuat Alicia mengerutkan kening.

Setelah napasnya mulai teratur, barulah Bibi Jen menatap Alicia dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.

"Ayo cepat kembali ke rumah!" kata bibi Jen kemudian menarik tangan Alicia dan menyeret gadis itu pergi.

"Tunggu! Tunggu, Aunty! Tunggu dulu!" Alicia menahan tangan bibi Jen yang sontak berhenti dan berbalik menatapnya bingung.

"Apa yang terjadi, Aunty? Apa Aunty baik-baik saja?" tanya Alicia dengab raut penuh kekhawatiran di wajahnya.

"Aku baik-baik saja. Kita harus cepat, dia sudah datang?"

Alicia hendak bertanya siapa yang datang namun bibi Jen telah lebih dulu menarik tangannya da pergi.

Rasa penasaran Alicia bertambah dua kali lipat ketika melihat Wendy, anak semata wayang bibi Jen, tengah mengintip di balik pintu dapur yang langsung menuju ke ruang tamu.

"Wendy, ada apa?" bisik Alicia di belakang Wendy yang membuat perempuan berambut pirang itu berjengit kaget.

"Alice!" serunya kesal.

Alicia tidak menggubris tanggapan berlebihan Wendy, dia hendak ikut mengintip ketika bibi Jen yang baru saja selesai minum menarik tangannya kembali dan membawanya menaiki tangga berkayu tempat kamar Alicia.

Di dalam kamarnya yang sempit, bibi Jen tampak gelisah. Dia berjalan bolak-balik sambil berkacak pinggang.

Alicia yang tengah duduk di pinggir kasur menatapnya aneh.

"Kau harus mengenakan dress yang bagus!" tekad Bibi Jen yang kemudian mengobrak-abrik lemari pakaian Alicia.

"Aunty, stop! Tenangkan dirimu."

Bibi Jen menggeleng. "Tidak ada kata tenang untuk saat ini! Ya Tuhan, setelah bertahun-tahun, dia akhirnya menemuimu, apa kau tahu artinya apa?"

Kernyitan di dahi Alicia semakin dalam. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati bibi Jen yang masih berkutik dengan baju-baju di lemarinya.

"Siapa yang kau maksud dengan 'dia', Aunty?" tanya Alicia.

"Kenapa kau harus memiliki baju yang sama, Alice?!" sahut bibi Jen seolah tidak menggubris pertanyaan Alicia.

Alicia menoleh ke arah lemarinya dan mengidikkan bahu.

"Semua bajuku, Aunty kan yang menjahitnya. Di atas mata kaki, berwarna putih, berbahan lembut dan nyaman."

Bibi Jen memutar bola matanya jengah. Dia menatap Alicia dari atas sampai bawah. Alicia tumbuh sebagai gadis yang cantik dengan porsi tubuh yang ideal, dia tidak tampak gemuk, tidak juga terlihat kurus. Rambut hitam lurusnya membingkai wajahnya yang tirus. Dan Alicia tidak pernah mengenakan make up, wajahnya sudah terpoles cantik dengan alami. Bulu mata lentik dengan iris hijau, bibirnya berwarna pink alami, serta kulit wajahnya yang putih dengan pipi merona. Apalagi dengan warna rambutnya yang gelap, Alicia seolah tampak seperti boneka-boneka porselen cantik. Mungkin jika dia diberi sedikit make up, maka orang-orang tidak akan menganggapnya manusia.

"Aku kenakan yang ini saja, ya," kata Alicia pada akhirnya, menyadarkan bibi Jen dari lamunannya.

Bibi Jen menatap baju yang dibawa Alicia di tangannya. Itu adalah sebuah pakaian yang sama dengan pakaian-pakaiannya yang lain. Hanya saja, yang satu ini adalah baju baru yang baru saja selesai Jen jahit dua hari yang lalu.

Bibi Jen pun mengangguk kuat-kuat. "Ya... ya kenakan itu dan segeralah ganti pakaianmu. Sisir juga rambutmu, kenakan sedikit make up yang aku belikan padamu kemarin, dan lakukan semuanya dengan cepat, mengerti?"

Alicia mengangguk patuh dan tidak sempat berkomentar saat bibi Jen berucap lagi. "Cepat, Alicia! Dia tidak suka menunggu lama," kata bibi Jen kemudian keluar dari kamar Alicia, meninggalkan gadis itu yang lagi-lagi bertanya siapa 'dia' yang dimaksud oleh bibi Jen.

***

Setelah Alicia selesai mengganti bajunya, dia kemudian hanya menyisir rambutnya tanpa mengenakan make up seperti yang bibi Jen perintahkan. Karena jujur, Alicia tidak tahu cara menggunakan barang-barang yang bibi Jen dan Wendy sebut make up itu.

Alicia pun keluar dari kamarnya, tanpa alas kaki dia menapaki lantai kayu yang dingin.

Sampai di ruang tamu, Alicia mendengar suara berat milik seorang pria tengah mengucapkan sesuatu yang Alicia tidak dapat dengar dengan jelas.

Alicia berjalan semakin mendekat.

"Usianya sudah delapan belas tahun, Jen. Sembilan tahun berlalu dan dia sudah tidak punya alasan apapun untuk tetap tinggal di sini. Seperti yang kukatakan padamu sebelumnya, bahwa aku akan datang kembali padanya."

Terdengar suara bibi Jen menangis, Alicia memelankan langkahnya.

"Tapi kumohon, tidak bisakah kau menunggu? Setidaknya beri kami waktu dua hari, kumohon! Aku sangat menyayangi Alicia seperti aku menyayangi anak kandungku sendiri, kumohon Tuan Lucius, beri kami waktu bersamanya sedikit lebih lama."

Alicia memasuki ruang tamu, melihat bini Jen duduk di sofa dengan berlinang air mata dan paman Fillbert duduk di sampingnya mengusap punggung bibi Jen yang tengah terisak.

Kemudian, mata Alicia bertemu dengan sepasang mata merah kelam yang balas menatapnya tajam. Napas Alicia tercekat. Dia menutup kedua mulutnya karena terkejut, merasa bahwa apa yang dia lihat saat ini tidaklah nyata. Tanpa sadar, Alicia melangkah mundur, dan di detik berikutnya dia berbalik dan berlari pergi.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED