Langit sore di Manhattan mulai meredup, menyisakan semburat jingga di antara gedung-gedung pencakar langit. Namun, di dalam ballroom hotel mewah tempat pernikahan itu berlangsung, semua terasa dingin dan hampa.
Aurelia duduk diam di kursi pelaminan, jari-jarinya menggenggam buket bunga putih dengan begitu erat, seolah itulah satu-satunya hal yang bisa dia kendalikan saat ini. Gaun pengantinnya terasa terlalu berat, seperti beban yang kini mengikatnya dalam pernikahan tanpa cinta ini.
Di sampingnya, Damon Aldrich tampak tenang, hampir terlalu tenang. Dengan setelan jas hitam yang sempurna, dia lebih mirip seorang eksekutif yang baru saja menandatangani kontrak penting daripada pria yang baru menikah.
Dan memang, bagi mereka, ini bukan pernikahan. Ini hanya transaksi.
"Pernikahan ini tidak mengubah apa pun," suara Damon terdengar rendah namun tajam, hanya cukup untuk didengar oleh Aurelia.
Dia menoleh, menatap mata kelam pria itu yang tak menunjukkan emosi apa pun.
"Aku tahu." Aurelia mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang selama ini dia pendam.
"Dalam beberapa tahun, kita akan bercerai," lanjut Damon. "Aku mendapatkan warisan yang seharusnya menjadi milikku, dan kau bisa melanjutkan hidupmu tanpa ada lagi beban keluargamu di pundakmu."
Aurelia menelan ludah, menahan kepedihan yang mulai menjalari hatinya. Pernikahan ini memang bukan keinginannya. Dia tidak pernah ingin menjadi istri seseorang yang bahkan tidak bisa berpura-pura peduli. Tapi saat keluarganya di ambang kehancuran, dia tidak punya pilihan lain.
Kepala keluarganya, ayahnya, telah mempertaruhkan segalanya dalam bisnis yang salah. Keluarga Voltaire, yang dulu terpandang, kini nyaris bangkrut. Hanya satu jalan keluar yang tersisa: pernikahan ini.
"Kau tidak perlu mengingatkanku," jawab Aurelia akhirnya, suaranya datar.
Damon hanya menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke para tamu yang mengelilingi mereka, memberikan senyum tipis yang penuh kepalsuan.
Di kejauhan, Aurelia bisa melihat wajah orang tuanya-terutama sang ayah, yang terlihat lega karena kesepakatan ini telah berjalan lancar. Aurelia seharusnya merasa lega juga. Seharusnya dia merasa beruntung karena berhasil menyelamatkan keluarganya.
Tapi mengapa hatinya terasa begitu kosong?
Malam itu, Aurelia berdiri di balkon kamar hotel mereka, menatap cahaya kota yang berkelap-kelip. Di belakangnya, Damon berdiri dengan satu tangan menyelipkan sebatang rokok di antara jemarinya. Dia tidak merokok, hanya sekadar kebiasaan lama yang muncul ketika pikirannya sedang penuh.
"Jadi, bagaimana kita melakukannya?" tanya Aurelia, akhirnya memecah keheningan.
Damon mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
"Kita menikah, tapi kita tidak benar-benar bersama." Aurelia berbalik, menatapnya. "Kau ingin kita tinggal di rumah yang berbeda?"
Damon mengembuskan napas, lalu berjalan mendekat. "Aku akan tetap tinggal di penthouse-ku. Kau bisa tinggal di mana pun yang kau mau, asal tidak mengganggu hidupku."
Aurelia tersenyum miring. "Begitu mudahnya, ya?"
Damon menatapnya dengan mata gelap yang sulit dibaca. "Kita sudah sepakat, Aurelia. Ini hanya kontrak. Jangan mengharapkan apa pun dariku."
Ada sesuatu dalam suaranya yang menusuk, tapi Aurelia menolak untuk menunjukkan kelemahan.
"Aku tahu."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Damon berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Aurelia sendirian dengan perasaan yang entah mengapa terasa lebih dingin daripada angin malam di balkon itu.
Hari ini, dia telah menjadi istri seorang pria yang bahkan tidak ingin mengenalnya lebih dalam. Dan dalam beberapa tahun, dia akan menjadi mantan istrinya.
Itulah rencana awal.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa rencana bisa berubah.
Aurelia menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun pengantin yang dia kenakan masih melekat di tubuhnya, tetapi kini terasa seperti sebuah penghinaan. Dia telah menyerahkan dirinya pada kesepakatan yang dingin dan tanpa hati-demi keluarganya, demi kehormatan yang sudah lama terkikis oleh kesalahan ayahnya.
Dari pantulan cermin, dia melihat Damon berdiri di ambang pintu kamar hotel mereka. Dengan jas yang sudah dilepas dan dasi yang longgar, dia terlihat santai, tetapi sorot matanya tetap tajam.
"Kau tidak perlu menunggu di sini," kata Aurelia tanpa menoleh.
Damon menyandarkan bahunya ke kusen pintu. "Aku hanya ingin memastikan kita memiliki pemahaman yang sama."
Aurelia memutar tubuhnya, menyilangkan tangan di depan dada. "Pemahaman seperti apa?"
Damon berjalan mendekat dengan langkah lambat namun pasti. Setiap gerakannya mencerminkan kendali yang begitu kuat atas dirinya sendiri, seolah dia tidak pernah membiarkan emosi menguasainya.
"Bahwa tidak akan ada harapan di antara kita," ucapnya tegas. "Kita menjalani pernikahan ini sebagai formalitas. Aku tidak akan mencampuri hidupmu, dan kau tidak akan mencampuri hidupku."
Aurelia tertawa kecil, sinis. "Aku tidak pernah menginginkan lebih dari itu, Damon."
Dia bisa melihat rahang pria itu mengeras, tetapi hanya dalam hitungan detik, ekspresinya kembali netral.
"Bagus," ujar Damon. "Aku akan meminta pengacara untuk menyusun perjanjian tertulis. Kau akan mendapatkan semua yang kau butuhkan selama kita masih menikah. Setelah semuanya selesai, kita akan berpisah tanpa drama."
Aurelia menahan napas. Kata-katanya begitu lugas, seolah dia berbicara tentang kesepakatan bisnis biasa.
"Aku mengerti," jawabnya pelan.
Damon mengangguk, kemudian berbalik untuk pergi. Namun, sebelum dia mencapai pintu, Aurelia berbicara lagi.
"Apakah kau mencintainya?"
Langkah Damon terhenti. Tanpa menoleh, dia menjawab, "Siapa?"
Aurelia menatap punggungnya yang tegap. "Mira. Wanita yang kau inginkan sejak awal."
Butuh beberapa detik sebelum Damon akhirnya berbalik, matanya gelap dan penuh ketajaman.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu," katanya dingin. "Apa pun yang terjadi dalam hidupku, itu bukan urusanmu, Aurelia."
Senyum tipis muncul di bibir Aurelia, tetapi matanya dingin. "Tentu saja. Kita hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam pernikahan kosong, bukan?"
Damon tidak menjawab. Tanpa sepatah kata lagi, dia keluar dari kamar, meninggalkan Aurelia sendirian di malam pernikahan mereka yang terasa lebih seperti kesepakatan bisnis daripada sebuah awal baru.
LIMA TAHUN KEMUDIAN
Damon duduk di ruang kantornya yang mewah, menatap dokumen di tangannya. Perceraian. Kata itu seharusnya tidak berarti apa-apa baginya. Sejak awal, dia dan Aurelia sudah sepakat bahwa pernikahan mereka hanya sementara.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
"Mira ingin kita menikah segera setelah perceraianmu selesai," ujar seorang pria di seberang meja-Ethan, sahabat sekaligus pengacaranya.
Damon menutup dokumen itu. "Tentu saja dia menginginkannya."
Ethan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau terdengar ragu."
Damon menghela napas. "Tidak ada keraguan. Aku hanya ingin menyelesaikan ini secepat mungkin."
"Aku bisa menghubungi Aurelia dan menyusun pertemuan untuk menyelesaikan semuanya," kata Ethan. "Dia tidak akan memperumit keadaan, bukan?"
Damon terdiam. Aurelia bukan tipe wanita yang akan membuat segalanya menjadi rumit. Dia menerima pernikahan ini dengan sikap dingin, dan dia juga akan menerima perpisahan dengan cara yang sama... bukan?
"Tidak akan ada masalah," jawab Damon akhirnya.
Tetapi dia salah.
Karena ketika akhirnya dia bertemu dengan Aurelia lagi setelah lima tahun, dia tidak hanya menemukan mantan istrinya-dia juga menemukan seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang memiliki mata dan rahang yang begitu mirip dengannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Damon kehilangan kendali.
Damon berdiri di depan rumah besar yang pernah menjadi rumah mereka. Lima tahun telah berlalu, namun semua yang ada di tempat ini terasa begitu familiar. Namun, ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak seharusnya dia rasakan.
Saat dia melangkah masuk, sebuah aura aneh menyelimuti tempat itu. Begitu berbeda dengan rumah yang dia tinggalkan dulu, yang terasa dingin dan kosong, rumah ini kini dipenuhi oleh kehidupan-laughter, tawa anak-anak, suara musik yang dimainkan di ruangan lain. Semua ini adalah hal yang dia lewatkan. Dan untuk alasan yang tidak bisa dia jelaskan, perasaan aneh ini mulai tumbuh di dalam dirinya.
Aurelia muncul dari ruang tamu, terlihat lebih matang, lebih tenang daripada yang dia ingat. Gaun simpel berwarna hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat elegan, meskipun ekspresi wajahnya tetap tersembunyi dalam ketenangan yang tampak dingin.
Damon menatapnya sejenak, mencoba mencari jawaban atas semua pertanyaan yang terpendam selama ini.
"Kau datang tepat waktu," ujar Aurelia, suaranya datar, namun ada sesuatu yang membuat Damon tertegun-sesuatu yang dia tidak dapat tangkap di balik kata-kata itu.
"Untuk apa?" tanya Damon, berusaha menahan rasa curiga yang perlahan tumbuh.
"Untuk membicarakan perceraian kita."
Damon mengangguk. "Aku tidak punya waktu untuk basa-basi, Aurelia."
"Jadi, mari kita selesaikan."
Namun, saat dia melangkah lebih dalam ke ruang tamu, mata Damon menangkap sosok seorang anak laki-laki yang sedang duduk di atas karpet, memainkan mobil-mobilan. Tiba-tiba, perasaan aneh itu semakin kuat, dan dia tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Siapa dia?"
Aurelia berbalik, memandang Damon dengan mata yang terlihat tenang, namun ada sedikit kebingungan dalam tatapannya.
"Ini Niko," jawabnya pelan. "Anak kita."
Damon terdiam. Seolah dunia berhenti berputar sejenak. Anak mereka?
Hati Damon berdegup kencang. Dia menatap anak itu, matanya yang cerah dan rambut coklat gelap yang mulai tumbuh panjang. Wajah anak itu begitu mirip dengannya. Begitu mirip dengan dirinya ketika dia masih kecil.
"Apa maksudmu... anak kita?" tanya Damon, suaranya hampir tak terdengar.
Aurelia mendalamkan pandangannya, lalu menghela napas berat. "Aku tahu ini mengejutkan," katanya pelan. "Tapi dia adalah anak kita, Damon."
Damon merasa seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya. Tubuhnya terasa lemah, seolah dia baru saja diserang oleh kenyataan yang tidak dapat dia hindari.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Damon dengan suara yang semakin serak.
Aurelia menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. "Aku tidak tahu bagaimana caranya. Saat kau pergi, aku berusaha menjalani hidupku dengan cara yang terbaik untuk kami berdua. Aku tidak ingin membebanimu dengan hal ini."
"Jadi kau memutuskan untuk memendamnya begitu saja? Selama lima tahun?" suara Damon meninggi, emosi yang dia coba sembunyikan kini keluar begitu saja.
Aurelia menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang mengancam untuk jatuh. "Aku tidak tahu bagaimana kau akan merespons, Damon. Aku takut, sangat takut kalau kau tidak akan menerimanya."
"Bagaimana bisa aku tidak menerima anak kita?" tanya Damon dengan nada tajam, namun hatinya bergejolak. "Kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari hidupnya? Dari hidupmu?"
Senyap mengisi ruangan itu, kecuali suara Niko yang masih sibuk bermain. Namun, setiap detik terasa seperti menambah berat pada beban yang ada di antara mereka.
"Karena aku tahu betul bahwa kau akan meninggalkan kami begitu kau tahu," jawab Aurelia, suaranya hampir berbisik. "Kau sudah sangat jelas sejak awal. Pernikahan ini bukanlah sesuatu yang kau inginkan, dan aku tidak ingin menambah kesulitan dalam hidupmu."
Damon merasa hatinya hancur. Semua yang dia pikirkan selama ini tentang pernikahan mereka-tentang hidup mereka-ternyata hanyalah ilusi. Dia telah mengabaikan begitu banyak hal. Semua detil kecil yang dia kira tidak penting. Semua yang terjadi selama lima tahun terakhir, semuanya seperti sebuah kebohongan besar yang terbuka di hadapannya.
"Bagaimana bisa aku tidak tahu?" tanya Damon, suaranya kini penuh dengan kebingungannya sendiri.
Aurelia memejamkan mata, berusaha mengendalikan diri. "Aku... aku tidak ingin menjadi penghalang dalam hidupmu. Aku tahu tujuanmu, Damon. Aku tahu betapa pentingnya warisan itu untukmu. Aku tidak ingin menjadi alasan kau gagal meraihnya. Aku tidak ingin menjadi beban."
Damon merasa semakin tercekik. Semua yang dia anggap pasti, semua yang dia lakukan demi mendapatkan warisan itu, ternyata sia-sia. Semua itu tidak pernah benar-benar sepadan.
Aurelia mengangkat wajahnya, menatap Damon dengan tatapan penuh kebingungan dan kesedihan. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya pelan.
Damon terdiam, matanya tidak bisa lepas dari wajah Niko yang sedang asyik bermain. Hatinya bergejolak, bercampur antara kebingungannya, kemarahannya, dan rasa bersalah yang mendalam.
"Saya... saya harus memikirkan ini," jawabnya akhirnya, suaranya begitu rendah.
Namun, dalam hati Damon, sebuah keputusan besar mulai terbentuk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi satu hal yang jelas-hidupnya, tak akan pernah sama lagi.