Rasa sakit yang menyengat menjalar ke lengannya. Sakit itu tidak tertahankan.
Clara Widian menjilat bibirnya yang pecah-pecah dan mencoba membuka matanya, tetapi tidak bisa.
Kelopak matanya terasa panas dan berat. Dia mendengar suara samar-samar dan dia bergerak di tempat tidur. Terkadang suara itu terdengar keras dan jelas dan terkadang melembut, membuatnya bingung.
"Astaga, kasihan sekali! Keluarga gadis itu menolak memberikan anestesi. Aku heran kenapa mereka begitu membencinya."
"Ya. Dia memiliki tiga puluh jahitan di lengannya. Aku bisa merasakan betapa sakitnya hanya dengan melihatnya."
Setelah beberapa lama, Clara perlahan membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Matanya membelalak kaget ketika dia melihat infus yang menembus kulitnya. Dia segera menyadari apa yang telah terjadi.
Siska Budiman memintanya untuk pergi berbelanja dengannya, tetapi sebenarnya dia mengajak Clara untuk membawakan tas belanja.
Siska sering menyuruh Clara untuk melakukan tugasnya, dan Clara selalu mematuhinya. Bahkan itulah yang terjadi sekarang.
Dalam perjalanan pulang, Siska mengemudikan mobil dan Clara duduk di kursi belakang. Detik berikutnya, mobil tersebut menabrak seseorang.
Adegan kecelakaan mobil itu melintas di benaknya. Jantung Clara berdegup kencang di dadanya. Dia berkeringat dingin. Rasa takut yang dia rasakan membuat sarafnya tegang.
Tubuhnya gemetar. Dia dengan panik melihat sekeliling dan menyadari tidak ada orang lain di bangsal.
Saat dia hendak duduk, dia mendengar suara langkah kaki datang dari luar bangsal.
Clara berbalik dan melihat sosok tinggi. Hatinya berdebar ketika dia menyadari bahwa sosok itu adalah orang yang sangat dia rindukan.
"Daniel!" serunya dengan gembira.
Daniel Sudarsa adalah suaminya. Mereka telah menikah selama tiga tahun. Dia menyukai pria itu meskipun mereka jarang bertemu.
Clara mengira Daniel datang mengunjunginya setelah mengetahui tentang kecelakaan mobil. Dia tahu dirinya kurang lebih ada di hati pria itu.
Hanya saja, detik berikutnya, pria itu bergegas pergi, bahkan tanpa memandangnya sama sekali.
Senyum Clara menghilang dalam sekejap.
Tanpa ragu, dia segera menarik jarum infus dari lengannya dan mengejarnya.
"Daniel ...."
Mengira bahwa pria tersebut tidak mendengarnya, Clara meneriakkan namanya dan mengejarnya sampai ke bangsal berikutnya.
Akan tetapi, apa yang dia lihat selanjutnya membuatnya merasa seperti disambar petir.
Siska, wanita yang selalu berpura-pura lemah di hadapan Daniel, sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Pergelangan tangan kirinya dibalut dengan kain kasa; air mata mengalir di wajahnya. Matanya bengkak dan merah, membuatnya tampak menyedihkan.
Kakak perempuan Daniel, Betty Sudarsa, dan ibunya Evelyn Mardina juga ada di bangsal itu. Mereka bertiga mengelilingi Siska dan menjaganya, mengabaikan Clara.
Clara tampak terkejut ketika melihat mereka.
Dia dengan bodohnya percaya bahwa Daniel ada di sini untuk mengunjunginya.
Mereka berempat menoleh ke arah Clara pada saat yang sama. Ibu mertuanya yang berpakaian mewah berdiri lebih dulu. "Clara, kamu datang pada waktu yang tepat," ucapnya dengan angkuh. "Serahkan dirimu ke polisi dan beri tahu mereka bahwa kamu yang menyebabkan kecelakaan itu."
"Itu benar. Akui kesalahan itu untuk Siska," timpal Betty.
"Menyerahkan diri?" Clara tersentak kaget.
Kemarahan melonjak melalui nadinya.
Dia menarik napas dalam-dalam dan menunjuk ke arah Siska. "Dia menabrak seseorang! Dia yang menyebabkan kecelakaan itu! Kenapa harus aku yang menyerahkan diri?"
Keluarga Sudarsa selalu memperlakukannya sebagai pelayan, dan dia sudah terbiasa.
Siska memanfaatkan kebaikan Keluarga Sudarsa padanya dan selalu berusaha mencari cara untuk membuat Clara tidak bahagia.
Demi mempertahankan pernikahannya dengan Daniel, Clara menanggung semua rasa sakit dan penderitaan. Bagaimanapun juga, dia menikah dengan Keluarga Sudarsa untuk memenangkan hati Daniel.
Akan tetapi, orang-orang ini telah bertindak keterlaluan hari ini. Dia tidak menyangka bahwa mereka akan memintanya untuk mengakui kesalahan yang dilakukan wanita yang suka berpura-pura itu.
"Maafkan aku. Ini semua salahku. Aku tidak ingin kecelakaan itu terjadi." Siska menutupi wajahnya dan menangis. "Aku bersedia masuk penjara untuk menebus dosa-dosaku. Jika anggota keluarga korban tidak memaafkanku, aku siap membayarnya dengan nyawaku. Tapi ...."
Dia terisak keras dan mengelus perutnya. "Aku ... aku sedang mengandung anak Daniel," ucapnya, menatap pria yang berdiri di samping tempat tidur dengan lembut. "Aku tidak bisa membiarkan anakku menderita karena diriku."
Clara merasa seperti disambar petir.
Kata-kata Siska benar-benar tak terduga.
Clara tidak bisa memercayainya. Bagaimana dia bisa mengandung anak Daniel?
Clara sangat terkejut dengan kata-kata Siska yang terus bergema di telinganya sehingga dia tidak bisa berbicara. Dia berbalik dan menatap wajah tampan Daniel.
Dalam tiga tahun terakhir, ekspresi yang paling sering dilihatnya di wajah pria itu adalah ketidakpedulian dan keterasingan. Sebenarnya, mereka berdua jarang bertemu satu sama lain. Daniel jarang tinggal di rumah. Clara menghargai saat-saat bersamanya, meskipun itu hanya beberapa jam.
Clara berharap dan berdoa agar dapat memenangkan hatinya. Dia yakin bahwa Daniel akan menyadari cinta dan kegigihannya, lalu pada akhirnya benar-benar jatuh cinta padanya. Itulah satu-satunya alasan dia menanggung semua kesulitan dan penghinaan di Keluarga Sudarsa.
Ibu mertuanya yang jahat, Evelyn, menyuruh-nyuruhnya setiap hari. Betty juga mempersulitnya dan tidak terkecuali Siska. Akan tetapi, Clara menanggung semua itu untuk Daniel.
Dia telah menjadi istri yang berbakti selama tiga tahun terakhir, melakukan apa pun yang diperintahkan.
Clara dengan naifnya percaya bahwa suatu hari nanti dia bisa membuat Keluarga Sudarsa terkesan dan membuat mereka menerimanya.
Sekarang, dia merasa bahwa kehidupannya selama tiga tahun terakhir hanyalah sebuah lelucon.
Dia menatap Daniel tanpa daya. "Daniel, Siska yang menyebabkan kecelakaan itu. Apa kamu juga ingin aku mengakui kesalahan untuknya?"
Kelopak mata Daniel sedikit berkedut. Dia dengan cepat menghindari tatapan tanya dari Clara.
Keheningannya adalah jawaban yang tak terucapkan. Ini membuat bulu kuduk Clara merinding.
"Orang itu sudah meninggal sekarang. Kompensasi bukanlah masalah besar, tapi seseorang harus bertanggung jawab."
Evelyn mendengus.
"Kamera pengawas tidak menangkap gambar yang jelas. Hanya kamu dan Siska yang ada di dalam mobil saat itu, jadi lebih baik kamu yang mengaku salah untuknya," timpal Betty.
Clara menatap mereka dengan tatapan kosong. Dia tidak percaya bahwa mereka bisa mengucapkan kata-kata itu. Bisa-bisanya mereka mengharapkan dirinya melakukan hal seperti itu untuk mereka?
Kepalanya seakan berputar ketika dia menyadari kenyataan dari situasinya. Suaminya tidak hanya berselingkuh, tetapi juga memintanya masuk penjara demi wanita simpanannya.
"Kamu dan putraku telah menikah selama tiga tahun tapi kamu masih belum hamil. Aku ingin segera memiliki cucu agar ayah Daniel bisa beristirahat dengan tenang. Keluarga Sudarsa telah membangun kerajaan bisnis. Kami membutuhkan seorang cucu untuk mewarisi semua harta di masa depan."
Evelyn menatap perut Clara dengan tajam.
"Kami tidak membutuhkan wanita yang tidak bisa hamil dalam keluarga kami," tambah Betty.
Rahang Clara menjadi tegang. Dia merasa sangat marah. Selama tiga tahun, Daniel belum pernah menyentuhnya. Bagaimana dia bisa hamil dengan anaknya? Ini semua sangatlah konyol.
"Siska sedang hamil sekarang. Dia mengandung pewaris Keluarga Sudarsa kami. Selain itu, dia merasa sangat bersalah sehingga dia mencoba bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya. Jika dokter tidak menyelamatkannya tepat waktu, dia dan bayinya pasti sudah meninggal. Tidak bisakah kamu melakukan hal kecil ini untuk membantunya?"
Evelyn menghampiri Siska dan membelai rambutnya dengan penuh perhatian.
"Clara, kamu harus menanggung sedikit rasa sakit untuknya," ucap Betty dengan dingin. "Kami telah memperlakukanmu dengan baik sejak kamu menikah dengan Daniel, kan?"
Clara tidak bisa memercayai apa yang didengarnya.
Dia sudah cukup menderita selama tiga tahun terakhir. Sekarang, mereka bahkan berencana mengirimnya ke penjara.
Clara merasa muak dengan perilaku mereka.
Dia menggertakkan giginya dan luka di lengannya terasa semakin sakit, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan luka di hatinya.
Clara menatap Daniel, berharap pria itu akan berbicara untuknya.
Bagaimanapun, dia adalah istrinya. Apakah dia benar-benar tega membiarkannya masuk penjara demi wanita lain?
Namun, yang membuat Clara kecewa, Daniel menunduk, mengambil cek dari sakunya, dan menyerahkannya pada Clara.
"Aku akan memberimu satu triliun rupiah sebagai kompensasi untuk mengakui kesalahan demi Siska."
Wajah Clara menjadi pucat dalam sekejap. Dia menerima cek itu dengan tangan gemetar.
Apa Daniel mengira dirinya akan berkompromi demi uang?
"Satu triliun. Wah! Kamu sangat murah hati."
Clara tertawa getir dan air mata mengalir di pipinya. Dia merasakan sakit luar biasa di dadanya seolah-olah seseorang telah menusuk jantungnya dan mencabutnya keluar dari dadanya.
Clara merasakan sesak di dadanya. Kebencian dan rasa sakit yang tak ada habisnya melonjak di hatinya.
Dia menggigit bibirnya untuk menahan amarahnya. Rasa darah yang tajam membuatnya tersadar kembali. Dia tidak ingin menanggung siksaan lagi.
Clara berjalan menghampiri Siska dan menamparkan cek itu ke wajahnya.
"Ah!"
Siska menjerit tajam dan meringkuk di ranjang rumah sakit seperti anak kucing yang ketakutan. Evelyn dan Betty segera bergegas menghampiri Siska dan berdiri di depannya untuk melindunginya.
"Apa yang kamu lakukan?" Daniel dengan cepat melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Clara.
"Kamu memberiku satu triliun sebagai kompensasi. Aku menukar uang itu dengan menamparnya. Kenapa? Apa kamu merasa kasihan padanya?" Clara memelototi pria yang dicintainya dengan sepenuh hati.
Pria itu mengatakan akan memberinya satu triliun sebagai kompensasi. Akan tetapi, Clara tidak ingin dipermalukan seperti itu, jadi dia menampar wajah Siska sebagai jawaban.
"Apa kamu sudah gila?" bentak Daniel dengan tajam. "Siska sedang terluka. Jangan semakin menyakitinya."
"Dasar wanita gila!" teriak Betty. "Siska merasa sangat bersalah sehingga dia melukai pergelangan tangannya sendiri. Apa kamu tidak punya hati? Bagaimana bisa kamu memperlakukannya seperti ini?"
Clara mengabaikan Betty dan berbalik untuk menatap Daniel.
"Bagaimana denganku? Apa aku tidak terluka? Siapa istrimu? Aku atau dia?"
Clara merasa pusing. Itu mungkin karena efek samping dari kecelakaan mobil. Suaranya yang lemah membuat pertanyaannya terdengar lemah.
Rasa sakit di dadanya seakan bertambah, membuatnya hampir tidak bisa bernapas.
Clara menyesal jatuh cinta pada Daniel. Pria tersebut selalu bersikap dingin dan jahat padanya.
Selama ini dia naif dan bodoh. Mungkin cinta telah membutakan dirinya. Sekarang sudah waktunya untuk sadar.
Dia berjuang untuk melepaskan diri dari cengkeraman Daniel. Sama seperti betapa dia mencintai pria itu di masa lalu, dia sangat membencinya sekarang.
Cintanya untuk Daniel menghilang dalam sekejap.
"Ah, benarkah? Dia merasa sangat bersalah sehingga dia mencoba bunuh diri, ya?" Clara menyeringai pada Siska.
Wanita itu selalu memperlakukannya sebagai pelayan, tetapi berpura-pura lemah dan polos di hadapan Daniel. Siska tersenyum penuh kemenangan, tetapi dia membelakangi Daniel, dan pria tersebut tidak memperhatikan senyumnya.
Clara tidak percaya Siska akan mencoba bunuh diri.
Dia tidak percaya wanita munafik seperti Siska bisa melakukan hal seperti itu.
Clara melangkah maju dan merobek kain kasa yang membungkus pergelangan tangan Siska. Hanya ada luka ringan di pergelangan tangan Siska, hampir tidak ada goresan.
Siska berteriak kaget dan buru-buru menutupi pergelangan tangannya. Wajahnya memucat, dia tidak menyangka Clara akan mengungkap kebohongannya.
"Apa ini yang kamu sebut percobaan bunuh diri?" Clara membuang kain kasa itu dan menatap orang-orang di bangsal.
Keheningan pun menyelimuti bangsal.
"Aku tahu kamu sangat menghargai hidupmu, jadi kenapa kamu mencoba mengambil nyawamu sendiri? Tidak heran kamu adalah aktris yang sukses di industri hiburan. Astaga, ini menjijikkan!"
Siska memang seorang aktris yang populer, tetapi dia tidak memiliki kemampuan akting. Dia memperoleh ketenaran dan kesuksesan hanya karena dia memiliki promosi yang sensasional.
Evelyn dan Betty saling memandang, tetapi tidak mengatakan apa pun. Wajah mereka menjadi muram dalam sekejap.
Clara merasa puas melihat reaksi mereka.
"Kamu ...."
Wajah Siska memerah. Dia ingin membela diri tetapi tiba-tiba menyadari Daniel masih mengawasinya. Ekspresi wajah Siska dengan cepat berubah dari malu menjadi sedih.
Melihat aktingnya, Clara mencibir di dalam hati.
Daniel menatap Siska dan kemudian menatap Clara. Rahangnya menjadi tegang, dan dia mengerutkan alisnya. "Clara ...."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, Clara berbicara.
"Daniel, ayo bercerai."