Sudah hampir dua jam Ella mendengar ocehan sahabatnya yang hanya berputar pada itu-itu saja. Ia bahkan tak sempat mencela untuk membagikan pendapatnya pada gadis itu. Saking cepatnya gadis itu dalam berbicara. Ella bahkan sudah menandaskan dua gelas kopi untuk berjaga-jaga apabila kantuk menyerang.
"Jadi menurut lo, gue harus bawa masalah ini ke hukum atau nggak?"
"Dua jam lo ngoceh cuma mau tanya itu?" Ella nampak kesal bukan main.
"La, lo tahu sendiri kalau kita selesain masalah lewat hukum pasti ribet deh. Makanya gue nanya pendapat lo, perlu atau nggak?" Dara kembali duduk ke kursi dihadapan Ella. Mereka kini berada di ruang kerja Ella.
"Ya menurut lo sendiri gimana? Kan, lo yang dirugiin."
Masuk akal. Dara kembali berpikir berapa kerugian yang ia terima ketika dirinya mendapatkan fakta bahwa ibu tirinya berselingkuh oleh orang perusahaannya sendiri lalu menyuruh selingkuhannya untuk menggelapkan uang perusahaan. Pikirannya buntu. Sudah terlalu banyak uang yang diambil ibu tirinya tersebut.
"Banyak banget. Bisa beli rumah baru gue," ujar Dara, kala mengira-ngira totalan kerugian yang ia terima.
Ella memijit pelipisnya. "Jadi?"
Dara hanya menghela napas. Ayahnya sedang sakit. Dia tidak ingin ayahnya menjadi tambah khawatir karena masalah ini.
"Kalau lo mau selesain lewat jalur hukum, gue punya kenalan lawyer. Dia yang nangani kasus Mas Ares waktu cerai sama mantan istrinya," kata Ella membuat mata Dara berbinar.
"Serius? Lawyer yang menangin hak asuh anak buat Mas Ares, waktu itu?"
Ella mengangguk.
"Gue minta kartu nama atau nomor teleponnya dong," pinta Dara.
"Besok gue kasih tahu. Gue harus nanya Mas Ares dulu."
Dara mengangguk-angguk paham. Kemudian suasana hatinya menjadi sedih lagi. Bagaimana kalau ayahnya menolak untuk pisah dengan ibu tirinya? Bagaimanapun ayahnya sudah termakan berbagai rayuan dari wanita itu.
"Gue khawatir Papa nolak pas gue paksa buat dia cerai sama si Mak Lampir. Gue khawatir kalau Papa tahu semua ini jantungnya kumat lagi. Gue nggak mau kehilangan Papa. Dia satu-satunya yang gue punya."
Dara menggenggam liotin dari kalung yang ia pakai. Itu adalah pemberian ayahnya saat ia ulang tahun ke 17, tujuh tahun yang lalu.
"Bokap lo pasti ngerti, Dar."
10 tahun yang lalu waktu Ibunya meninggal dunia, Ayahnya terkena serangan jantung dan nyaris kehilangan nyawa. Hal itu membuat Dara takut jika sewaktu-waktu jantung Ayahnya kumat lagi ketika harus diminta berpisah dengan istri keduanya ini.
Mau beribu kalimat Dara jelaskan, dimata Ayahnya orang itu akan terlihat baik. Istrinya. Dara tahu ayahnya sangat mencintai wanita yang ia sebut Mak Lampir tersebut.
"Gue balik duluan, ya, Ra. Nyokap minta jemput nih."
Ella membuyarkan lamunan Dara. Gadis itu mengangguk dan membiarkan Ella pergi.
Pikirannya terus berkutat akan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi akibat rencananya ini. Walau ia takut ini untuk kebaikan semua, tetapi tetap saja akan ada yang melihat dari sisi pandang yang berbeda.
***
Seorang pria yang sudah memasuki usia senja itu langsung membukakan pintu rumahnya ketika mendengar suara mobil tiba di halaman. Instingnya kuat, dia selalu kapan putri semata wayangnya pulang.
"Kok Papa belum tidur?" tanya Adara, kemudian mencium punggung tangan Ayahnya.
"Mana bisa tidur kalau gadis Papa belum pulang," sahutnya, membuat Adara tersenyum.
"Ayo masuk. Papa udah makan?" Adara berjalan sambil menggadeng lengan Ayahnya.
"Udah. Kamu udah makan? Kelihatan lemas banget, Nduk," kata Ayah Dara, sembari memegang pipi anaknya.
"Udah kok. Pa, Adara mau ngomong sesuatu yang penting sama Papa," kata Dara. Ia sendiri pun tidak yakin untuk mengatakan masalah itu saat ini. Tetapi baginya lebih cepat lebih baik.
"Apa, Nak?"
Ayah dan anak itu tengah duduk di sofa ruang keluarga.
"Sebenarnya karyawan Papa yang korupsi di kantor itu ... Selingkuhan Mama Wulan." Dara memelankan suaranya ketika menyebut nama ibu tirinya.
"Selingkuhan?" kata Ayahnya tak percaya, bahkan suaranya nyaris tak ada.
"Iya, Pa. Mama Wulan udah selingkuh sejak setahun yang lalu," ujar Dara, melanjutkan.
Dara tidak tega untuk melanjutkan lebih jauh ceritanya. Raut wajah Ayahnya berubah sendu. Raut wajah yang ia lihat 10 tahun yang lalu ketika acara pemakaman Ibu kandung dirinya.
"Papa mau, ya, bercerai sama dia. Ini buat kebaikan kita, Pa. Buat Papa dan aku," ujar Dara, sambil menggenggam kedua tangan Ayahnya.
Samar-samar Dara gelengan dari Ayahnya. Hatinya terasa pedih, bahkan ketika dikhianati sekalipun Ayahnya masih tetap ingin mempertahankan pernikahan ini.
"Dara mohon, Pa ..."
Ayah Dara bangkit dari sofa, ia berjalan pelan ke arah kamarnya namun baru saja membuka kenop pintu suara gaduh terdengar.
"Papa!!"
Ayah Dara pingsan sembari memegang dadanya. Tempat di mana biasa ia mengeluh rasa nyeri.
"Papa bangun!!"
"Pak Said!!! Papa pingsan!" Dara berteriak memanggil supir pribadinya.
Tak lama kemudian supirnya datang dan membantu Dara menggotong Ayahnya ke dalam mobil. Pak Said langsung menancap gas ke arah rumah sakit tempat biasa majikannya berobat.
Dara panik setengah mati. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah teledor memberi tahu masalah berat ini kepada Ayahnya. Dara tidak berhenti menangis dan memanggil Ayahnya yang masih terpejam. Dara takut kemungkinan buruk terbesar dalam hidupnya akan terjadi.
Sesampai di rumah sakit Ayah Dara langsung dibawa ke unit gawat darurat untuk segera mendapat pertolongan intensif. Dara hanya bisa menunggu di luar. Di tempat para penunggu lainnya. Ia terduduk lemas di kursi tunggu dan tak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang barusan terjadi.
Pak Said menghampiri wanita itu, "Maaf, Non. Mau saya teleponkan Bu Wulan agar pulang lebih awal dari luar kota?"
Pertanyaan Pak Said membuat Dara mual. Untuk apa dihubungi, lagipula wanita tua itu juga sudah tidak peduli dengan keadaan Ayahnya.
"Nggak perlu. Mulai sekarang jangan kaitkan saya dan Papa dengan dia."
Pak Said mengangguk paham. Dara curiga sebenarnya Pak Said sudah mengetahui perbuatan busuk ibu tirinya sejak lama. Sebab ada beberapa hal janggal ketika dulu Pak Said menjawab pertanyaan dirinya kemana ia mengantar Wulan.
Dara tidak tahu lagi harus menghubungi siapa. Ia segera menekan nomor Ella dan meminta wanita itu datang menemaninya. Ella adalah sahabat terbaik dirinya dari 10 tahun lalu. Wanita itu tak pernah menolak datang dikala keadaannya yang sedang berduka sekalipun.
"Putri Bapak Wisnu Wardhana?" panggil seorang perawat.
Adara langsung bangkit ketika mendengar nama Ayahnya dipanggil.
"Saya suster. Ayah saya gimana?"
"Beliau butuh perawatan yang lebih intensif, maka harus dirawat inap selama beberapa hari. Kondisinya cukup parah."
Kaki Dara melemas. Terakhir Ayahnya menginap di rumah sakit adalah dua tahun lalu ketika Ayahnya tak sengaja menabrak mobil orang lain sewaktu menjemput dirinya dulu.
"Kalau begitu silakan diisi data diri Pak Wisnu kemudian diserahkan ke kasir untuk melunaskan administrasi terlebih dahulu." Perawat itu memberi sebuah map berisi kertas yang harus diisi Adara.
"Makasih, Sus."
Dara segera membawa map itu ke bagian administrasi dan mengisi dengan cepat agar Ayahnya juga cepat mendapat pertolongan. Selesai mengurus administrasi, Dara kembali menuju ruang UGD untuk melihat kondisi Ayahnya.
"Om Wisnu kenapa lagi, Dar?" Ella datang 45 menit kemudian. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan raut khawatir dari wajahnya.
Dara sedikit terkejut. Sedari tadi dia memang hanya melamun tak jelas untuk memikirkan hal-hal bodoh.
"Harus dirawat inap," kata Dara, pelan.
"Sabar, Dar. Lo harus kuat, ini adalah risiko dari penyelesaian masalah lo. Percaya sama gue, akhir dari semua ini pasti menyenangkan."
Ella memeluk Dara seerat mungkin. Ia beruntung masih memiliki kedua orang tua yang lengkap dan ssangat amat menyayangi dirinya.
"Yauda sekarang lo masuk dulu. Gue tunggu di sini," kata Ella.
"Iya, La."
Ayahnya mendapat tempat paling pojok diantara yang lain. Jarum infus terpasang di punggung tangan kanan Ayahnya dan oksigen diantara hidung dan mulutnya.
Air mata Dara merembes. Dia langsung mencium kening dan punggung tangan Ayahnya yang tak tertusuk jarum infus.
"Maafin Dara, Papa ...," katanya sambil tersedu. "Dara sayang sama Papa."
***
3 message from Ella Ribero
Dara mengucek matanya ketika getaran dari ponselnya terasa begitu mengejutkan. Pesan dari Ella.
Ia tertidur di sofa rumah sakit setelah lelah menangis.
[Ella Ribero: Dara. Ini nmr pengacara kakak gue 089271771xxx. BTW, GWS buat Om Wisnu]
Dara tersenyum membaca pesan terakhir dari Ella. Kemudian ia menyimpan nomor ponsel pengacara rekomendasi Ella kekontak ponselnya. Pikirannya terbayang insiden tadi malam. Jika Ayahnya saja pingsan karena mendengar permintaan dirinya atas perceraian yang ia inginkan, bagaimana dengan melaporkan wanita tua itu ke polisi?
Tugasnya bertambah. Ia dilanda dengan plihan yang cukup sulit.
Kemarin Adara mendapat laporan dari orang suruhannya. Orang itu bilang jika Wulan sedang menikmati liburan dengan selingkuhannya di luar kota. Kata-kata kasar tak terhindari dari mulut manisnya untuk memaki wanita tidak tahu diri itu.
Setelah seminggu berlalu sejak terjadinya insiden itu. Adara memutuskan untuk mengambil jalur hukum. Walau Ayahnya tetap tidak mau bercerai tetapi Adara tetap melaporkan perbuatan buruk Wulan dan selingkuhannya tentang penggelapan uang di kantor.
Kini disebuah kafe kecil di kawasan Ibukota Adara berada. Menunggu pengacara yang akan membantunya dalam masalah ini.
"Maaf menunggu lama."
Adara mengangkat pandangannya dari layar ponsel kepada seorang pria betubuh jangkung dihadapannya.
"Saya Deva Abimanyu, pengacara yang kamu hubungi kemarin," kata Deva, memperkenalkan diri sebelum Adara bertanya.
"Ohh, iya silakan duduk."
Deva duduk di kursi di hadapan Adara.
Seorang pelayan kafe menghampiri mereka dan bertanya menu apa yang akan mereka pesan.
"Mango soda!" sahut keduanya bersamaan.
Baik Adara maupun Deva saling bertatap dan tak lama kemudian tawa pecah diantara mereka. Tawa Deva yang renyah membuat Adara tak bisa membendung tawanya.
"Mango soda-nya dua ya, Mbak."
Pelayan itu mencatat menu yang dipesan Deva dan segera pergi.
"Tadi ada rapat mendadak dengan klien saya yang lain jadi agak telat. Maaf ya, Adara," kata Deva.
"Nggak apa-apa. Saya juga belum lama di sini. Hmm, bisa langsung kita mulai?" tanya Adara yang enggan berbasa-basi lama karena harus pulang dan menemani Ayahnya.
"Tentu."
Adara menceritakan kronologi permasalahannya dengan jelas. Tak sedikit pun yang ia lewatkan dan semua bukti yang ia miliki walaupun bukan dari tangannya sendiri. Bahkan masalah perselingkuhan Wulan pun tetap Adara ceritakan.
"Cukup berat masalah kamu. Ditambah Ayah kamu juga nggak mau cerai dengan istrinya," komentar Deva, setelah mendengar cerita Adara.
"Tapi, saya cuma ingin melaporkan tentang dia yang telah melakukan korupsi di kantor ayah saya. Saya nggak peduli dengan skandal perselingkuhan yang dia lakukan. Kamu bisa bantu saya?"
"Saya usahakan, Dara. Selama saya ada dipihak yang benar, maka kemungkinan saya kalah sangat kecil. Saya perlu banyak bukti dan data-data hasil korupsi yang dilakukan beliau. Baru kita ajukan laporan ke polisi," tutur Deva, dengan mantap.
Masalah korupsi dan pencurian lainnya sudah sering ditangani pria itu. Bahkan dia pernah menangani kasus besar di Indonesia tentang pengusaha yang pernah mengambil uang yang bukan miliknya dan berakhir menang. Pengusaha itu dijatuhkan hukuman seberat-beratnya.
Deva juga pernah menangani kasus pencurian barang berharga senilai ratusan juta yang dilakukan orang sekelempok pencuri andal. Seperti yang selalu ia katakan pada kliennya, jika dia ada dipihal yang benar maka kemungkinan untuk kalah sangatlah kecil yang artinya dia selalu menang apabila membela orang yang benar. Pencuri itu bernasib sama dengan pengusaha tadi.
"Kalau begitu kapan saya bisa serahkan bukti-bukti itu sama kamu?"
"Secepatnya agar bisa saya pelajari dan dilaporkan."
"Lusa? Kita ketemu di kafe ini lagi. Bagaimana?" tawar Adara.
"Boleh. Tapi malam, saya nggak bisa kalau pagi, siang, atau sore," kata Deva.
Dara terkekeh. "Saya tahu. Kamu memang pengacara hebat yang sibuknya pasti gila-gilaan."
Deva tertawa kecil. "Cita-cita saya mau jadi seperti Hotman Paris."
Dara tertawa. "Kayaknya nanti Hotman Paris deh yang mau jadi kayak kamu."
Deva tertawa lepas. Kedua matanya tenggelam, mungkin karena sipit.
"Dara, kamu jangan mikirin masalah ini terus menerus. Percayakan sama saya. Saya nggak akan mengecewakan kamu," ujar Deva.
Adara sedikit bingung mengapa Deva bisa mengatakan itu. Adara hanya membalas dengan seulas senyuman.
"Kamu kelihatan lelah. Saya tahu dari mata kamu. Khas klien yang sedang pusing setengah mati. Tawa kamu jauh lebih cantik daripada rautmu saat ini."
Tawa Adara kembali pecah. Begitu juga dengan Deva.
Adara menemukan satu fakta. Selain hebat, pengacara ini juga pandai bermain kata.
***
"Mbak Adara, ini semua bukti udah saya cetak termasuk potongan gambar dari cctv," kata Tito—karyawan terpecaya Dara—, ia menyerahkan sebuah amplop besar cokelat pada Adara.
"Oke. Makasih, Tito. Saya langsung pergi, ya."
Tito mengangguk sopan. "Semoga dapat hasil yang baik, Mbak."
Adara membalas dengan senyuman.
Dia tidak salah memohon pada Ayahnya lima tahun lalu untuk mempekerjakan dan menyekolahkan Tito di kantor Ayahnya. Karena terbukti dengan sekarang, Tito mampu bekerja dengan sangat baik dan sedang membantu Adara untuk kembali menstabilkan penghasilan kantor yang tadinya terus menerus menurun. Dan yang Adara paling syukuri adalah karena Tito tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun.
Selama perjalanan pikiran Adara terfokus pada dua hal, yaitu jalan raya dan masalah yang saat ini tengah ia hadapi. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kali bagi Adara berurusan dengan penegak hukum selain ditilang oleh polisi di jalan raya.
Setengah jam kemudian Adara sampai di kafe yang telat ia setujui dengan Deva. Ia tak sabar untuk memproses masalah ini agar cepat selesai dan benalu dalam hidupnya cepat pergi. Adara segera menyerahkan amplop cokelat itu pada Deva. Pria itu memeriksa beberapa saat, hanya sekadar melihat kemudian menutup kembali. Dia juga berjanji pada Adara untuk tidak terlalu khawatir.
"Kamu suka minum apa?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut si pengacara ketika meeting mereka selesai.
Dara terlihat berpikir sebentar. "Milkshake or coffee, maybe."
"Kalau gitu kita harus cari milkshake atau kopi yang enak biar suasana hati kamu lebih lega," ucap Deva.
Adara berpikir Deva bercanda namun ternyata tidak. Pria itu bersungguh-sungguh ketika mengajak Adara untuk mencari minuman favorit gadis itu.
"Heh? Ke mana?" tanya Adara, sedikit terkejut saat Deva mengulurkam tangannya.
"Cari kafe yang seru. Kamu suntuk sama masalah kamu, saya juga," jawab Deva, realistis.
"Tapi muka kamu nggak kelihatan suntuk," tukas Dara.
"Pikiran saya yang suntuk," kata Deva, sambil salah satu tangannya memegang dahi. Adara tertawa kecil.
"Okay."
Akhirnya wanita itu menyetujui dan mereka benar-benar mencari tempat yang cocok. Adara tidak banyak bicara saat di perjalanan, ia percaya saja pada Deva. Deva sudah memberi kesan pertama yang baik bagi wanita itu, maka tak perlu banyak cara untuk bisa mendapatkan sikap ramah tamah dari seorang Adara Wirasti Maheswari.
Boire Amour Cafe's
Deva membawa Adara ke sebuah kafe ala Perancis langganan dirinya untuk melepas penat.
Sebenarnya Deva sedikit ragu mengajak Adara ke tempat kesukaannya itu, sebab hampir semua yang dijual disana adalah minuman beralkohol favoritnya. Namun, jika dilihat dari kondisi Adara, sepertinya wanita itu butuh tempat yang sedikit berbeda.
"Yuk," kata Deva, sembari melepas sealt belt.
"Saya mau no smoking area, ya," ujar Adara, memperingati. Deva mengangguk.
"Santai. Saya juga bukan perokok kok."
Pernyataan Deva membuat Adara lega, setidaknya ia tidak harus berurusan dengan asap kematian yang sangat ia benci dari dulu. Asap sialan yang selalu saja membuatnya sesak napas.
"Kamu mau apa?" Deva menyodorkan sebuah buku menu pada Adara.
"Strawberry milkshake," kata Adara, cepat. Ketika melihat nama 'milkshake' tertera di sana, ia langsung girang bukan main.
"Miss, strawberry milkshake and wine," ujar Deva, pada salah satu pelayan.
Ternyata ruangan tempat mereka berada sekarang jauh dari ekspektasi Adara. Ia awalnya skeptis pada tempat ini, namun setelah masuk dan merasakan suasananya, sepertinya Adara akan menyukai tempat ini. Dengan alunan musik klasik dan pengharum ruangan beraroma lavender favoritnya.
"Saya tahu kenapa kamu sangat menyukai tempat ini," ujar Adara, ia menerawang sekeliling.
"Kenapa?" Deva menoleh.
"Tempat ini tenang. Seorang pengacara pasti butuh tempat dan suasana yang tenang agar pikirannya tetap stabil saat memeriksa dokumen kliennya," kata Adara, santai.
"Exactly! Kok kamu tahu?" Deva memberikan milkshake strawberry pada Adara, sekaligus menuang wine pada gelasnya.
"Nebak aja," jawab Adara, singkat.
Alunan musik klasik kembali mengambil alih diantara mereka. Baik Adara maupun Deva sama-sama terdiam, hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Kamu merasa hidup kamu terlalu datar, nggak?" tanya Deva. Ketika ia memikirkan topik apa yang akan dikeluarkan, hanya pertanyaan itu yang muncul dipikirannya.
Adara berpikir sebentar. "Sometimes."
Ella bahkan sering berkata bahwa hidup Adara itu kelewat santai.
"Kelihatan dari wajah kamu. Terus cara kamu menyiasati kedataran itu?" Deva bertanya lagi.
"Hmm, I don't know. Maybe read a book atau hunting milkshake yang ada di Jabodetabek," jawab Adara, disusul tawa dua orang berbeda jenis kelamin itu.
Deva tak dapat menahan tawa. "Kamu unik juga. Andai masalah bisa terlupakan hanya dengan minum milkshake atau wine."
"Mungkin aku nggak pernah ketemu kamu," lanjut Adara.
Deva tersenyum. "Dar, kamu pernah making out?"
Adara terkejut. Memang benar, pria manapun otaknya tidak pernah jauh-jauh dari mesum. Astaga! Ingin sekali Adara tampar pipi pengacara itu memakai botol wine-nya. Melihat ekspresi Adara yang berubah datar membuat Deva cepat-cepat mengklarifikasi ucapannya.
"Maksud aku, kita itu kan sudah sama-sama dewasa. Jadi kupikir pembahasan yang tepat untuk kita adalah itu. Sorry to say, Dar." Deva merasa canggung luar biasa. Ingin sekali ia terjun ke dari gedung ini.
Adara diam. Tidak ada salahnya memang membahas hal seperti itu. Toh apa yang dikatakan Deva benar, mereka sudah sama-sama dewasa dan pantas membicarakan itu. Lagipula sahabatnya, Ella, juga selalu berkata untuk jangan terlalu terkejut ketika mendapati pembahasan macam itu.
Mungkin benar apa yang selalu Ella katakan, dirinya terlalu datar. Terlalu takut keluar dari zona nyamannya sehingga selalu saja ada alasan untuk mencoba hal-hal baru. Mencoba menikmati masa-masa seusia dirinya.
Dan, making out salah satunya. Memang tidak semua orang dewasa melakukan itu. Tetapi dalam lingkungan Adara tak jarang mereka melakukan itu dan tak malu mengakuinya pada orang lain.
"Kamu mau milkshake lagi?" Deva bertanya kembali. Ia takut Adara tersinggung karena tak kunjung juga berbicara.
"Ah, nggak perlu, terima kasih. Dan untuk tadi kamu nggak perlu minta maaf. Kamu kan bicara begitu sama wanita 24 tahun bukan 14 tahun jadi sah-sah aja," ujar Adara, yang juga merasa tidak enak karena telah membuat suasana menjadi canggung.
Deva tersenyum. "Oke."
Selalu saja. Adara selalu saja terbuai dengan senyum manis seseorang. Entah itu pria maupun wanita. Deva adalah salah satunya, pria pemilik senyum manis yang masuk dalam kategori Adara Wirasti Maheswari.
"Kamu sudah pernah?" Pertanyaan Adara cukup rancu, tapi Deva berhasil menangkap maksud wanita itu.
"Hmm ... Pernah. Waktu punya pacar," jawab Deva.
Ya. Untuk kali pertamanya ia melakukan hal itu saat masih duduk dibangku kuliah dan tentu saja saat ia masih memiliki seorang pacar. Dia bukan tipe pria yang mau tidur sama siapa saja hanya demi kepuasaan diluar akal sehat itu.
"Sekarang nggak ada?" Adara sangat tertarik untuk mengetahui lebih dalam.
Deva menggeleng pelan. "Belum."
"Nggak coba ONS? Banyak temanku melakukan itu disaat mereka nggak ada pasangan." Adara mengambil contoh dari salah satu sahabat prianya, Theo. Pria itu suka sekali menghabiskan waktu sebagai seorang single dengan one night stand.
Deva kembali menggeleng. "Kemungkinan kena penyakit kelamin lebih besar. Aku nggak mau. Lagipula, aku cuma ingin berhubungan dengan orang yang benar-benar aku kenal, bukan sebatas sebagai pemuas hasrat disaat ingin aja. Aku ngerasa akan jadi sangat murahan bila melakukan ONS, walaupun aku pria."
"Aku juga nggak ingin kalau suatu hari istriku tahu kalau suaminya bekas penidur banyak wanita. Apalagi sampai istriku kenal dengan siapa saja wanita yang aku tiduri, bisa kacau kan?" lanjut Deva dengan nada guraunya, seperti biasa.
Adara mengangguk sembari menunjukkan senyum setuju. Adara rasa Theo harus mendengarkan ucapan Deva barusan, kecuali jika pria itu memilih menjadi single selama hidupnya.
"Dar, kamu pernah dengar istilah friends with benefit?"
Adara mengangguk. Theo pernah mengajaknya melakukan itu dan berakhir sebuah tamparan dipipi pria itu.
[Flashback On
"Friends with benefit. Nggak ada salahnya kalau lo mau coba untuk pertama kalinya sama gue, Dar. Siapa tahu ketagihan," ujar Theo, terdengar sangat genit.
"Kalau lo ketagihan, gue rela deh cuma tidur sama lo seumur hidup gu—"
PLAK!
"Gila lo ya?! Ngebayangin lo telanjang aja sudah bikin gue jijik, tahu?!"
"Sadis! Makanya kalau mau brengsek jangan ke sahabat sendiri kenapa," sahut Ella, sambil tertawa.
Flashback Off]
"Apa respons kamu?"
"Aku tolak. Aku nggak berani keluar dari zona nyamanku. Aku takut sesuatu buruk terjadi," ucap Adara, jujur.
"Sekali-sekali kamu harus keluar dari zona nyaman. Nggak harus having sex, Dar. Aku rasa banyak hal-hal yang belum kamu coba diusia 24 tahun ini, kan?"
Tebakan Deva sangat benar. Bahkan datang ke club seperti ini hanya akan Adara lakukan jika ada pesta saja.
"Aku ingin, tapi aku takut."
"Mulai dari hal yang kecil dulu," ujar Deva, terdengar sangat meyakinkan.
"Apa?"
Deva menyodorkan sebuah gelas kecil berisi minumannya yang barusan ia tuang ke gelas baru. "Minum ini dan rasakan sensasinya."
Adara dan Deva tertawa ketika mendengar pria itu berbicara seperti seseorang yang sedang mengiklankan sesuatu.
"Kamu harus mau. Wine nggak begitu buruk untuk seorang pemula," kata Deva, usai tertawa.
"Okay."
Adara mengambil gelas berisi wine dan mulai meminumnya. Demi apapun rasanya sangat tidak enak dan bau. Tetapi ketika cairan itu masuk ke rongga tenggorokannya, seakan meminta untuk dipanggilkan wine lagi.