Gadis yang sedang asyik menonton drama korea di kamar orangtuanya itu tak henti-hentinya menghembuskan nafas kasar. Tv di kamarnya baru saja rusak karena tak sengaja terlempar tempat pensil saat ia frustasi mengerjakan tugas fisika.
Telinganya benar-benar panas mendengar celotehan sang ibu sejak pagi tadi.
"Biru! Astaga! Kamu dengerin Bunda ngomong nggak sih?!"
"Denger, Bun! Ya ampun.."
"Sayang.. Sudahlah. Toh si Biru udah ngasih penjelasan kenapa baru pulang tadi pagi."
"Ya tapi–"
Gadis tadi membuka pintu kamar kuat. Matanya menatap anggota keluarganya kesal, "Kalian berisik banget sih! Senja tuh lagi nonton para cogan!" teriak gadis itu dengan dada yang naik turun akibat emosi.
Hening.
Seorang pria berusia 42 tahun itu berdehem. Ia melirik sang istri yang juga masih terkejut. Apalagi anak sulung mereka yang menganga.
Langit menekan dagu anak sulungnya agar mulutnya tertutup rapat. Biru yang sadar pun ikut berdehem. Begitu pula Utari, ia menyengir tanpa dosa menatap anak bungsunya.
"Adek? Udah laper? Ini Bunda tinggal nyiapin ke atas meja." kata Utari.
Senja mendengus. Tanpa membalas ucapan sang bunda, gadis itu kembali membanting pintu kamar kesal.
Ketiga manusia itu terjengit. Ketiganya saling melirik satu sama lain.
"Adek lagi pms ya, Bang?"
Biru menggeleng pelan, "Mana Abang tahu, Bun."
Langit tertawa pelan. Hal itu membuat Biru dan Utari menoleh, menatap Langit seakan bertanya.
"Persis kayak kamu, Bun. Galak." kata Langit. Biru mengangguk setuju, "Bener, Pa."
Utari menatap keduanya tajam. Tangannya sudah berkacak pinggang, "Kalian– HEI! SINI BALIK! JANGAN KABUR KALIAN YA!" seru Utari mengejar suami dan anaknya ke halaman belakang.
Sedangkan Senja kembali menyembunyikan kepalanya di bawah bantal. Ia mengerang kesal. Rumahnya selalu ramai. Entah karena dirinya, Biru, Utari, atau bahkan Langit sendiri.
...............
Senja Mahesa. Anak bungsu dari pasangan Langit Mahesa dan Utari Prameswari. Senja memiliki seorang kakak laki-laki yang hanya berbeda satu tahun darinya yaitu Biru Mahesa.
Senja memiliki wajah cantik yang dibekali dengan hidung mancung, alis yang rapih, bulumata lentik, bibir tipis juga lesung pipi di kedua pipinya yang chubby. Gadis keturunan Bandung-Makassar itu sungguh mampu membuat semua orang terpesona.
Namun, sifatnya yang bar-bar dan berisik membuat semua orang meringis sambil mengusap telinga mereka bila berdekatan dengan Senja.
Lain Senja, lain pula Biru. Biru memang dapat dikatakan sebagai cogan. Terlebih wajahnya bak tokoh utama dalam setiap cerita. Seperti selalu saja ada lampu yang menyorot terang.
Biru terkenal dengan keramahannya. Apalagi saat masih bersekolah ia menjadi tim inti basket di SMA Dirgantara . Setelah kelulusannya, Biru melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas negeri terbaik di Kota Bandung.
Berbeda dengan Senja yang kelewat santai bahkan bisa dibilang bodoamat dengan sekolah, Biru justru sangat memiliki otak yang cerdas. Namun hal itu tidak membuat kedua orangtua mereka membedakan kedua anaknya. Tidak, lebih tepatnya Langit sudah pasrah bila salah satu anaknya memiliki otak dan kelakuan yang sama persis dengan sang pujaan hati.
Utari sedang berkutat di dapur bersama Langit. Semenjak menikah dengan Langit, ia belajar memasak dari suaminya itu. Ya, Langit lebih ahli ketimbang Utari.
"Pa, aku jadi keinget pas kita belum menikah." ujar Utari tiba-tiba.
Perasaan Langit sudah tak enak. Ia harus menjaga jawabannya mati-matian bila sang istri sudah berkata perihal masa lalu mereka. Salah omong sedikit, Utari akan merajuk dan berakhir tidak mau memberinya jatah. Itu bencana besar!
"Apa, Bun?" balas Langit meneguk salivanya susah payah.
Utari berhenti memotong wortel untuk sayur sop malam ini. Ia menoleh ke arah kanan.
"Dulu Papa bilang masakan Bunda itu enak."
Langit mengangguk, "Emang. Nasi goreng sosis buatan Bunda emang enak waktu itu." aku Langit.
Utari tersenyum lebar, "Lebih enakan nasi goreng aku atau dessert buatan Nada?"
Langit tersenyum lebar, "Bunda lah." jawab Langit penuh percaya diri. Ia tidak akan menjawab sejujurnya walaupun masakan mantan gebetannya dulu itu lebih enak.
"Bagus-bagus." balas Utari melanjutkan memotong wortel. Sedetik kemudian, Langit meringis saat jari Utari menarik daun telinganya ke atas.
"Bohong! Orang jelas-jelas waktu itu kamu banggain dessert buatan Nada daripada nasgor aku!" omel Utari kesal. Langit mendengus, "Ya kan dulu, Bun."
"Tetep aja kamu bohong!"
"Aw.. Bun.. Ya Allah, ampun sayang! Bunda! Ney! Ampun!"
Utari berhenti menjewer telinga Langit. Ia menyodorkan pisau ke depan wajah Langit, "Awas kamu bohong lagi!" kata Utari kemudian melanjutkan memasak.
Langit mengusap dadanya sabar. Memang serba salah. Jujur salah, bohong lebih salah. Untung cinta, kalau nggak, Langit pastikan Utari masih menjadi perawan tua.
Bukan, bukan karena tidak cantik atau menarik. Utari banyak yang sukai dulu. Bahkan Langit harus berjuang mati-matian. Tetapi sedikit sekali yang tahan dengan kelakuan Utari. Anggap saja Utari beruntung karena Langit masih mau dengannya.
Ah tidak, tepatnya Langit yang beruntung bisa mendapatkan Utari yang cantik dengan segala keunikannya. Langit akui Utari memang pintar, cantik, baik hati. Walaupun kelakuannya bar-bar dan tidak bisa diam sama sekali. Hanya Utari yang bisa menerima segala kekurangan dalam dirinya.
"Heh! Kenapa kamu senyum-senyum nggak jelas hah?! Mikirin cewek lain ya?!" kejut Utari yang membuat Langit mendelik.
"Suudzon mulu sama suami kamu!"
Utari mengendikan bahu, "Bukan suudzon. Kamu kan playboy dari dulu." balas Utari santai. Langit menghela nafas panjang, "Kan Bunda yang satu-satunya Papa cinta."
"Geli."
"Astaghfirullah. Salah mulu."
Utari menyengir. "Panggil Biru sama Senja gih, Pa. Bunda masih mau buat sirup."
Langit mengangguk. Setelah mengecup kening sang istri, Langit naik ke lantai dua untuk memanggil kedua anaknya makan malam.
Langit mengetuk pintu kamar berwarna biru langit itu. Tak menunggu waktu lama, pintu itu terbuka. Tentu saja dengan wajah bangun tidur milik Biru yang buat gadis mana saja akan memekik heboh.
Langit menatap Biru geli melihat tingkah anaknya yang sok kegantengan itu. Langit mendengus geli.
"Nggak usah sosoan kamu deh, Bang. Geli Papa liatnya." komentar Langit yang membuat Biru kesal. Padahal ia sudah bergaya sekeren mungkin walaupun masih setengah mengantuk!
"Cuci muka abis itu turun. Bunda udah selesai masak." kata Langit. Biru mengangguk langsung menutup pintu kamarnya.
Langit menatap pintu yang tertutup itu dengan pandangan kesal. Ia harus sabar memiliki anak yang sepertinya kurangajar akibat dirinya dulu juga seperti itu. Bahkan sifat playboynya menurun ke Biru.
Langit memutar badannya, ia mengetuk pintu kamar berwarna pink pastel yang berada tepat berhadapan dengan kamar Biru. Langit tidak mendengar adanya jawaban pun membuka pintu kamar itu.
Langit tersenyum kecil melihat Senja yang tertidur dengan gaya yang sangat tidak elit. Bantal jatuh ke lantai, kasur besar itu penuh karena Senja yang tidur seperti arah jarum jam. Kaki dan tangannya melebar tanpa takut akan copot dari engselnya!
Kalau Biru benar-benar mewarisi sifat dan sikap Langit. Semua orang akan setuju bila Senja mewarisi segala hal dari Utari.
Langit mengusap kepala Senja lembut. Ia mendengar Senja bergumam pelan.
"Ah Christ.. Senja juga mau kayak Anna.."
Langit mengerutkan dahinya, "Christ? Anna?" gumam Langit pelan. Namun kemudian matanya membulat saat sadar kalau itu adalah tokoh dari sebuah film yang pernah Biru tonton.
Saat itu Langit tidak sengaja masuk ke dalam kamar Biru saat anak itu sedang nobar bersama teman-temannya. Langit mengusap dadanya, "Apakah ini cobaan karena gue sama Utari dulu juga goblok ya?" gumam Langit.
Langit menepuk jidat Senja cukup keras yang membuat gadis itu tersentak kaget. Ia membuka matanya lalu menatap Langit sebal. Ia mengerang, "Papaaa!!! Ganggu aja sih.."
"Bangun. Makan malem."
"Hm.." gumam Senja kembali memeluk gulingnya erat membelakangi Langit.
Langit mendengus. Tanpa mendengarkan protesan anak bungsunya, pria itu mengangkat tubuh Senja layaknya karung beras memuju ruang majan.
"Papa!"
"Papa turunin Senja!"
"Papa!!" seru Senja kencang memukul punggung Langit kesal. Langit mengacuhkan teriakan kencang anaknya itu.
Senja menatap Langit dengan tatapan membunuh begitu diturunkan di salah satu kursi makan. Ia bersedekap kesal. Langit yang di tatap oleh anaknya itu hanya menyeruput santai teh yang mulai dingin.
Biru yang baru datang setelah membersihkan diri itu menatap Senja dan Langit bergantian. Ia berdiri di sebelah Utari yang sedang memotong buah strawberry untuk dimasukan ke dalam sirup.
"Mereka kenapa, Bun?"
Utari mendengus, "Kayak nggak tahu Adek sama Papa aja kamu." jawabnya enteng.
Utari menarik kursi di sebelah Langit. Sedangkan Biru di sebelah Senja. Keluarga kecil itu pun memakan menu makan malam mereka setelah berdoa bersama.
Senja melahap ayam bakar madu kesukaannya. Sesekali melirik Langit tajam. Sepertinya ayah dan anak itu masih belum berdamai.
"Setelah makan jangan langsung masuk kamar. Ada yang Bunda mau omongin bareng kalian." kata Utari tenang.
Biru mengangguk.
"Apa, Bun?" tanya Senja masih mengunyah nasi.
Langit melotot. "Telen dulu baru bicara, Senja!"
Senja hanya mengendikan bahu. Ia tahu, table manner sang ayah jauh lebih diatas bundanya. Mengenai kelakuan dan pelajaran bisnis, Senja dan Biru dapatkan dari sang ayah. Namun mengenai perasaan, sang bunda nomor satu.
Langit bisa dikatakan keras. Tak jarang Senja dan Biru mengadu pada Utari karena kekejaman ayah mereka dibalik kasih sayangnya.
Sejak dulu, Langit memang dikenal seseorang yang cuek dan jarang menunjukan ekspresi. Semua hal ia pendam sendiri. Setidaknya, setelah bertemu Utari, Langit sedikit meleleh dari julukan pangeran es.
Semua anggota keluarga Mahesa sudah berkumpul di ruang keluarga. Biru sedang menidurkan kepalanya di pangkuan sang bunda. Sedang Senja sibuk men-stalking cogan di atas karpet berbulu itu. Langit pun meluruskan tubuhnya di salah satu sofa lain.
"Ehem,"
Biru, Senja, juga Utari menatap Langit yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk menyender. Tatapannya cukup serius yang membuat ketiganya tidak berani membuat lelucon.
"Papa mau bicara sama Senja juga Biru." kata Langit menatap kedua anaknya bergantian. Kemudian beralih menatap Utari, wanita yang hanya berbeda satu bulan darinya itu mengangguk sambil tersenyum manis.
Langit menghembuskan nafas panjang, "Minggu depan kita bakal pindah ke Tangerang." kata Langit.
Biru mengernyitkan dahi.
"Kita?"
Utari terkekeh, "Maksud Papa, selain kamu tentu aja. Kamu tetep disini lanjutin kuliah kamu." balas Utari tenang.
Senja melotot tak suka. Ia menggelengkan kepalanya, "Nggak! Senja nggak mau!"
"Senja–"
Senja menggeleng, "Ini tahun terakhir Senja sekolah, Papa! Bahkan baru dua bulan Senja jadi anak kelas 12!" protes Senja. Ia sudah berdiri menatap Langit dan Utari sebal, "Senja bisa disini sama Abang. Kalian kalau mau pindah, pindah aja!"
"Sen–"
Langit menahan lengan Utari yang ingin mengejar anak bungsunya itu. Langit menggeleng, "Biar aku yang ngomong sama anak itu."
Utari mengangguk pelan. Biru tersenyum lembut, "Bunda nggak usah khawatir. Senja cuma kaget, Biru yakin." ujar Biru lembut.
Langit mengetuk pintu kamar Senja berkali-kali namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Langit terkekeh, "Senja.. Sayang, buka pintunya dong."
"Nggak mau!"
"Papa mau bicara, Nak."
"Nggak!"
Langit menghembuskan nafas panjang. Ia tahu anak bungsunya sama keras kepalanya dengan dirinya sendiri. Walau lebih banyak mirip Utari, sifat keras kepalanya itu menurun pada Senja ketimbang Biru.
"Senja, buka pintunya ya?" ujar Langit lembut.
Ceklek
Senja menubrukan tubuhnya ke dalam dekapan sang ayah erat. Langit tersenyum kecil, ia menggendong Senja layaknya koala kecil. Keduanya masuk ke dalam kamar gadis itu.
Beberapa menit kemudian, Senja sudah melepaskan pelukannya. Langit merapihkan rambut anak bungsunya yang sedikit berantakan. Ia mengusap jejak airmata di pipi Senja dengan lembut.
"Senja, dengerin Papa dulu."
Senja mengangguk.
"Papa juga tahu kamu nggak bakal mau pindah dari Bandung. Papa juga nggak mau, selain ini tempat kelahiran Papa, Bandung memang rumah dan masa depan Papa juga Bunda yang pernah kami rancang jauh sebelum menikah." ujar Langit. Bibirnya tersenyum kecil, "Kita cuma bakal pindah sementara, Senja. Papa janji, setelah kerjaan Papa selesai disana– kita bakal balik ke rumah ini."
Senja masih enggan berbicara. Ia mengalihkan pandangannya. Langit membawa Senja ke dalam pelukannya. Kehangatan kembali menguasai hati Senja. Sejak dulu, Langit memiliki pelukan yang menghangatkan seperti Utari.
"Kalau Senja masih ragu, Papa bakalan selesain kerjaan Papa secepat mungkin biar selepas kamu lulus, kita bisa balik ke Bandung." ujar Langit.
"Sampai kelulusan, Senja. Setelah itu kamu pilih universitas di Bandung dan kita tinggal bareng lagi di rumah ini." sambung Langit, "Harusnya Biru yang paling sedih karena sendiri di Bandung lho."
Senja mendengus, "Malah seneng dia bisa kelayapan."
Langit terkekeh. Ia melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Senja cukup lama.
"Papa jamin, dia nggak berani macem-macem."
Senja menyengir.
"Senja juga jamin sih. Terakhir kali kalian baku hantam, akhirnya Bunda ngunciin kalian di gudang. Ewh.."
Langit meringis. Ia ingat itu. Sejak dulu, Utari memang paling tidak suka kekerasan. Apalagi kalau dirinya sudah main tangan pada anak sulungnya. Sudah dibilang, Langit sejak dulu sudah terbiasa kasar. Utari sedikit banyak mengubah hidupnya.
"Oke, minggu depan. Senja mau tidur. Selamat malam, Papa." kata Senja akhirnya lalu mencium pipi Langit.
Langit menarik selimut sampai ke dagu anak bungsunya. Setelah mencium kening Senja lagi, Langit menyalakan lampu tidur dan menutup pintu kamar Senja.
"Astaga!"
Utari menyengir, "Kamu kayak liat setan aja, Mas."
Langit mendelik. Mirip setan emang. Untung cinta.
"Ya kamu ngapain di depan sini? Mana maskeran! Kaget aku, Bun." kesal Langit. Utari hanya menyengir sambil memeluk lengan Langit.
"Senja gimana?"
"Mau kok,"
Keduanya beriringan menuruni anak tangga. Langit tiba-tiba berhenti, menatap mata Utari dalam. Utari yang ditatap seperti itu pun salah tingkah. Hei! Jangan salahkan dirinya. Langit sejak dulu sangat mempesona!
"Bun, tamu bulanan kamu udah pergi kan?"
Utari mengangguk, "Udah. Sebelum makan malam tadi aku mandi kan."
Langit menyeringai. Utaru bingung, kenapa dengan suaminya ini? Namun kemudian dia sadar. Utari berdehem, ia menjauhkan tubuh Langit dan berniat kabur.
Sayang sekali, Langit lebih gesit dan menggendong istrinya ala bridal. Utari hanya pasrah, habislah ia malam ini.
Senja masih terpejam walau gorden silver kamarnya sudah terbuka lebar. Bahkan Biru mematikan AC kamar Senja dan membiarkan kaca jendela kamar Senja terbuka lebar. Namun gadis itu tampak tidak terganggu sama sekali dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya.
Biru melompat ke atas kasur dan menggoyangkan tubuh Senja yang membuat si empu mengerang kesal. Senja menendang-nendang ke segala arah sambil mengumpati abangnya itu.
"Abang ah!"
"Abang ih aku masih ngantuk!"
"Biru Mahesa!"
Biru masih belum berhenti menjahili Senja. Bibirnya tak henti tertawa geli.
"PAPA BUNDA! ABANG GANGGUIN ADEK MULU IH!!!" teriak Senja nyaring sambil menangis memukuli Biru dengan bantal.
Biru malah semakin tertawa kencang melihat ekspresi Senja yang sangat lucu baginya. Senja yang sudah emosi pun menendang Biru hingga jatuh tersungkur dari atas kasur.
"Mampus lo! Sono!"
Biru mengaduh sambil mengusap keningnya yang mencium lantai. Untung kamar Senja ada karpet berbulu yang lumayan membantu. Kalau tidak, Biru pastikan rasanya semakin sakit.
Biru berdiri dari posisi jatuhnya tadi. Ia menyeringai saat melihat Senja yang kembali memejamkan matanya. Tanpa dosa, Biru menggigit pipi chubby Senja gemas lalu kabur dari kamar gadis itu.
"BIRU BANGSAT LO YA SAKIT ANJING!"
"SENJA MAHESA! MULUTNYA MAU BUNDA CABEIN YA!"
"BIRU MAHESA! JANGAN GANGGU ADEK KAMU!"
Senja yang sudah tidak mood itu menangis kencang sambil berjalan ke arah kamar mandi. Ia memilih mandi setelah itu membalas perbuatan Biru. Sedang Biru yang membuat heboh rumah pagi ini hanya tertawa puas masuk ke dalam kamarnya.
Langit mendengus, "Anak kamu demen banget gangguin anak aku sih!"
Utari mendelik. "Anak kamu noh kasar banget mulutnya."
"Lah sama kayak kamu dulu."
Utari menaruh cangkir kopi Langit dengan kesal. Ia memajukan wajahnya, "Nggak ada ronde selanjutnya malam ini!" tegas Utari kemudian meninggalkan Langit yang hendak protes.
"Bun!"
"Bunda! Kok gitu?!"
"Utari Prameswari kesayangan Langit!"
BRAK!
Langit berdehem mendengar bantingan pintu kamar. Ia mengusap dadanya, "Emang bener bayangan gue sama dia dulu sebelum kawin. Rumah bakalan rame." gumam Langit kemudian menyeruput kopinya.
Langit menyemburkan kopinya. Ia mendelik, "UTARI KAMU MAU JADI ISTRI DURHAKA NGASIH GAREM KE KOPI SUAMI HAH?!"
"BODOAMAT!"
Langit mengerang sebal lalu membuat kopi hitam sendiri. Kalau sudah begini, ia harus membawa martabak keju dan jasuke mozzarella kesukaan sang istri agar lebih jinak kembali.
Senja sudah keluar dari kamar mandi. Ia pun sudah memakai celana jeans longgar dengan tanktop putih yang dipadukan dengan kemeja flanel oversized miliknya.
Senja memakai skincare pada wajahnya lalu memakai lipbalm pada bibir tipisnya. Tak lupa ia mengikat rambutnya.
"Perfect," gumam Senja menyambar tas kecil berisikan ponsel dan dompetnya.
Hari ini ia ingin berkeliling Kota Bandung sebelum besok harus pindah ke Kota Tangerang. Senja membuka pintu kamar Biru tanpa izin.
Kamar cowok itu tampak sangat rapih. Biru memang rajin bangun pagi dan membereskan kamarnya sendiri. Senja bisa mendengar Biru sedang bernyanyi di dalam kamar mandi. Suara shower pun terdengar jelas.
Senja mengetuk pintu kamar Biru, "Abang."
Suara shower berhenti. Terdengar sahutan Biru dari dalam kamar mandi. "Apa?"
"Temenin aku ke toko buku sama sekalian keliling ya?"
"Gue mau jalan sama temen."
Senja mendengus, "Fine!" kesal Senja. Biru pun tampaknya kembali sibuk di dalam sana. Senja mengedarkan pandangannya lalu menyeringai.
Gadis itu tanpa dosa melempar semua bantal dan guling ke sembarang arah. Menghancurkan sprei kasur Biru. Tak lupa memberantaki meja belajar milik Biru.
Senja bahkan menyemproti seluruh kamar Biru dengan parfum cowok itu yang membuat isinya hampir habis. Dan jangan lupakan keranjang baju kotor yang ia hamburkan di atas kasur. Senja mengambil kolor biru dengan pandangan jijik dan menaruhnya di pembatas balkon.
Biar aja jadi pajangan! Malu-malu sono kalau ada tetangga liat! Pikir Senja.
Senja membulatkan matanya begitu mendengar suara shower kembali mati. Gadis itu buru-buru keluar kamar Biru.
"Pa? Bunda mana?"
Langit yang sedang mengerjakan laporan itu menoleh, "Di kamar. Kamu mau kemana, Dek?"
"Jalan."
"Sama siapa?"
Senja cemberut, "Sendiri."
"Hati-hati. Biru mau ngapain emangnya?" tanya Langit.
Senja yang mendengar nama Biru disebut pun kembali terkejut. Ia buru-buru izin pada Langit dan meminta uang tambahan.
"Adek jalan ya, Pa. Assalamualaikum." kata Senja buru-buru keluar rumah. Baru saja membuka pintu rumah, teriakan Biru sudah memenuhi seisi rumah.
"SENJA MAHESA! KAMPRET YA LO! DASAR BABI NGEPET! KAMAR GUE LO APAIN SIALAN!"
Langit menatap Senja yang terdiam di daun pintu. Sedang gadis itu menyengir, "Ups," ringisnya lalu segera menghilang.
"Sen–"
BRAK!
Langit meremas rambutnya. Pagi ini memang benar-benar ramai. Baru saja Langit terkejut dengan teriakan Biru dan bantingan pintu Senja, istrinya pun ikut bertingkah.
Utari membuka pintu kamar dengan wajah garang. Ia memegang sapu lidi seakan siap memukul siapa saja yang berani melawannya.
"Bun, kamu ngapain?"
"Kenapa sih dua anak itu berisik banget daritadi! Kasar-kasar pula!"
Langit meringis, "Nggak tahu."
"Kamu juga! Bukannya misahin malah ngopi aja!"
Langit membelalak, "Kok jadi aku?!"
Utari mengibaskan tangannya. Ia kembali masuk ke dalam kamar, meninggalkan Langit yang ingin berteriak frustasi melihat seisi rumah yang bertingkah aneh pagi ini.
Biru menahan emosinya yang memuncak. Rasanya ia ingin membuang adiknya itu ke tembok cina! Biar ia tidak bisa kembali lagi ke rumah ini. Sialan. Ia sudah membereskan seluruh kamarnya! Tapi anak laknat itu malah menghancurkan kamarnya.
"Astaga! Kolor spiderman gue!" gumam Biru mengambil kolor kotornya yang ada di balkon lalu menaruhnya di keranjang kotor.
Cowok itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur setelah kembali membereskan kamarnya. Padahal niat hati setelah mandi ia akan bersantai kemudian menuju kafe sesuai jam janjian.
Senja sialan emang. Adek laknat! Umpat Biru.
Disisi lain, Senja sudah sibuk berkeliling toko buku. Di keranjangnya sudah ada tiga novel. Satu novel fantasi, satu novel romansa, dan satu lagi novel horor.
Matanya masih ingin mencari mangsa. Ia rasa setelah mendapatkan dua novel lagi, ia baru akan makan siang.
"Senja?"
Senja yang sedang membaca sinopsis novel bergenre romansa itu menoleh, keningnya mengerut dalam. Mencoba mengingat siapa gadis di sebelahnya ini.
Gadis itu tampaknya mengerti. Ia terkekeh, "Gue Radisa."
Radisa?
Senja tersenyum lebar, "Oh! Radisa!" balas Senja. Senja mengumpat dalam hati, ia sama sekali belum mengingat siapa itu Radisa.
Radisa mengangguk. Ia melirik novel yang di pegang oleh Senja. Radisa berdehem, "Sendirian? Biru mana?"
Senja memiringkan kepalanya, ia ingat siapa Radisa ini pada akhirnya. Salah satu penggemar Biru dari sekolah tetangga. Senja meringis, banyak sekali gadis yang ingin berteman dengan dirinya agar bisa dekat dengan Biru. Kurangajar!
"Iya. Dia mau jalan katanya."
"Sama siapa? Pacarnya?"
Senja menggeleng, "Nggak tahu. Temennya kali. Dia nggak punya pacar."
Radisa tersenyum lebar. Ia membuka tasnya lalu memberikan dua cokelat batang pada Senja.
"Tadi gue abis beli cokelat, tapi ternyata adek sepupu gue nggak suka. Ini buat lo sama Biru." kata Radisa malu-malu. Senja menerima cokelat itu, "Makasih ya."
"Sama-sama. Salam buat Biru ya, gue duluan."
"Oke."
Senja tersenyum miring saat Radisa pergi. Ia menatap cokelat itu lalu mengendikan bahu acuh. Sori Radisa. Tapi Abang gue nggak terlalu suka manis apalagi cokelat. Terpaksa dua-duanya buat gue.
Senja menaruh dua novel tambahan ke dalam keranjang lalu segera menuju kasir. Setelah membayar novel, kakinya melangkah ke McD.
Senja memakan lunch sambil menonton drakor di ponselnya. Suasana McD cukup ramai, sepertinya hanya dia yang sendirian dalam satu meja. Menyedihkan.
Andai saja ia memiliki pacar yang ganteng mirip aktor china favoritnya, atau setidaknya keren seperti aktor hollywood kesukaannya, dan bahkan setajir melintir seperti Kim Soo Hyun. Senja menggeleng, sepertinya ia mulai gila bila berandai-andai.
"Sori, boleh bagi tempat? Yang lain penuh banget."
Senja mengangkat wajahnya. Matanya berbinar melihat cogan yang berdiri di depannya ini. Bahkan seakan ada cahaya menyinari yang membuatnya terlihat slow motion.
"Halo?"
Senja mengerjapkan matanya lalu berdehem pelan. Ia hanya mengangguk. Cowok itu mengucapkan terimakasih lalu duduk di depannya. Senja kembali menonton drama korea dengan serius. Walaupun sesekali melirik cowok di depannya yang juga sibuk makan sambil memainkan ponselnya.
"Gue tahu gue ganteng."
Uhuk uhuk uhuk..
Senja menerima sodoran minum dari cowok itu. Ia menepuk dadanya berkali-kali. Sial, rasa malu dan sakit pada dadanya terasa sekali. Bisa-bisanya ia tersedak! Apalagi ada beberapa butir nasi yang ikut terlempar keluar dari mulutnya. Memalukan. Sangat memalukan.
Senja berdehem, "Maaf." cicit Senja.
Cowok itu mengangkat alisnya sebelah, "Buat?"
"Buat.. Itu," jawab Senja menunjuk butiran-butiran nasi yang berantakan di dekat makanan cowok itu.
Cowok itu berdehem. Sebenarnya ia baru menyadarinya, dan sedikit jijik. Namun tak apa, ia memaksakan sebuah senyuman.
"Nggak papa. Nggak kena nasi gue kok."
"Tapi.."
"Nggak papa," balas cowok itu kembali melanjutkan makannya. Begitu cowok itu menyedot pepsinya, Senja membulatkan matanya.
Maaf, cogan. Nasi gue juga ada mampir masuk ke minuman lo.
Senja meringis pelan. Cowok itu sadar, "Ada apa?"
Senja menyodorkan minumannya, "Ini buat lo. Punya lo buat gue aja. Tadi kan gue udah minum pas keselek." kata Senja. Cowok itu menggeleng, "Nggak papa."
"Tapi–"
"It's okay."
Senja menggebrak mejanya. Cowok itu terkejut. Senja berdecak, "Nasi gue masuk ke minuman lo juga." kata Senja cepat.
Senja melambaikan tangannya di depan wajah ganteng itu. Sialan, ni anak kesambet apa gimana?!
"Maksud lo.. Nasi lo ada di minuman gue.."
Senja mengangguk.
"Gue nitip tas sama hp." kata cowok itu buru-buru. Senja melihat ia masuk ke dalam toilet.
Senja menghembuskan nafas, "Bukan salah gue. Gue udah nyoba ngomong dari awal." gumam Senja kembali melanjutkan makan siangnya. Tentu saja menukar pepsi mereka.
Setelah kejadian memalukan tadi, tak ada yang bersuara satu pun. Bahkan hingga lunch Senja habis, gadis itu enggan menatap cogan di depannya.
Ia masih malu.
"Tunggu," kata cowok itu menahan Senja yang sudah ingin pergi.
Senja mengangkat alisnya sebelah. Ia bingung saat cowok itu malah membuka ponselnya. Seketika Senja merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya saat cowok itu menyodorkan ponselnya.
"Nomor lo."
Senja menyimpan nomornya. Memastikan wajahnya tidak semerah kepiting rebus, ia mengembalikan ponsel cowok itu. Cowok itu tersenyum.
"Gue Aiden, by the way."
"Senja." balas Senja malu-malu. Senja berdehem, "Gue duluan. Bye."
Senja keluar dari McD dengan wajah sumringah. Ia menggosokan kedua telapak tangannya gugup dengan senyuman selebar joker. Ya Tuhan, Senja mau berteriak rasanya! Mimpi apa dia semalam sampai ada cogan meminta nomornya!
Langkahnya tiba-tiba berhenti. Ia teringat mimpinya semalam. Ia memimpikan Christian dalam film fifty shades of grey.
"Ya Allah, maafin Senja. Nggak maksud, tapi si Christ hot banget!" pekik Senja tertahan melanjutkan langkahnya keluar Mall.
Gadis itu tidak tahu saja bila ia mengigau dan ketahuan sang ayah. Langit pun enggan membahas itu, ia pusing sendiri menghadapi hasil kerja rodinya dengan sang istri.
...............
Disinilah Senja. Menikmati angin sore di salah satu taman kota. Senja menatap langit yang sudah menguning, sesekali menjilati ice cream cone yang sempat ia beli tadi.
"Sebentar lagi musim hujan. Padahal lebih seru di Bandung." gumam Senja malas.
Ia memikirkan lingkungan baru itu. Senja ingat, saat dirinya patah hati ketika duduk di bangku kelas sepuluh, bunda menceritakan sebuah kisah romansa yang sedikit banyak membuat Senja terpukau.
Sebuah hubungan jarak jauh bertahun-tahun tanpa pernah bertemu sebelumnya dan bertemu saat keduanya sudah sukses dan siap membangun rumah tangga. Hubungan yang sangat banyak perjuangan dan pengorbanan itu bahkan sering putus nyambung. Entah karena hadirnya orang ketiga, kesalahpahaman, atau bahkan rasa bosan. Namun keduanya saling kembali dan memaafkan kesalahan mereka satu sama lain. Bahkan untuk mencapai jenjang yang lebih serius, keduanya sangat berjuang mendapatkan restu dari kedua belah pihak. Masing-masing mereka yang sudah dijodohkan dengan oranglain itu saling berjuang dan akhirnya mendapat sebuah restu.
Senja sempat bertanya, darimana bundanya mengetahui kisah itu. Rupanya itu adalah kisah kedua orangtuanya.
Senja percaya bundanya memang secinta itu dengan sang ayah. Tak peduli sebanyak apapun Langit berbuat kesalahan, Utari selalu menerima pria itu. Begitupun sebaliknya, tak peduli Utari tidak peka atau bahkan seringkali sulit memahami Langit, Langit tetap ingin Utari seorang di dalam hidupnya.
Senja menghembuskan nafas panjang kesekian kalinya. Ia memikirkan kisahnya sendiri. Apa mungkin ia bisa mendapatkan pasangan seperti Langit? Atau mungkinkah ia sanggup menjadi Utari yang ikhlas dalam mencintai?
Senja mendengus, "Boro-boro pacar. Gebetan aja nggak ada." kesal Senja, "Kasian banget gue," ringisnya.
Ponsel gadis itu berdering. Senja menggeser layar ponselnya tanpa melihat caller id. Telinganya seketika berdengung saat mendengar teriakan sang bunda.
"SENJA MAHESA! PULANG SEKARANG JUGA! BESOK KITA PINDAHAN DAN BISA-BISANYA KAMU BELUM RAPIHIN BARANG-BARANG KAMU?! MAU BUNDA SITA HP KAMU HAH?! MAU BUN–" senja menjauhkan ponselnya, mengusap telinganya sebentar.
"...SAR KAMU YA! CEPET BALIK ATAU BUNDA NGGAK KASIH JAJAN DUA BULAN!"
tut tut tut..
Senja berdecak pelan. Sebenarnya bundanya itu ada masalah apa sih dengan dirinya? Kok sepertinya sangat menyebalkan. Giliran Biru saja, disayang-sayang!
Senja memesan ojek online untuk pulang ke rumah. Tak lupa membeli roll potato dan jasuke mozzarella kesukaan sang bunda sebagai sogokan.
Senja menghembuskan nafas lelah saat memasukan baju terakhir ke dalam koper besarnya. Ia sengaja tidak membawa semua bajunya. Merepotkan. Lagipula Senja jarang keluar rumah dengan baju jalan yang berbeda-beda.
Ia menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan. Merenggangkan otot-otot tangannya. Baru saja ia berbaring, suara Utari sudah memenuhi seisi rumah dua lantai itu.
"SENJA! BIRU! THE FOOD IS READY SWEETIE!"
"Aaarrgghh!!" erang Senja kesal. Ia enggan bangkit dari kasur empuknya. Tubuhnya sangat lelah karena berkeliling kota tadi.
Pintu kamarnya terbuka memunculkan wajah Biru dengan senyuman manisnya. Senja mendelik aneh, "Ngapa, Bang?"
"Nggak papa. Turun yuk,"
Senja terdiam. Alarm di dalam kepalanya berkata Biru sedang menyusun rencana. Senja menatap Biru penuh selidik.
Biru mendengus, ia masuk ke dalam kamar adiknya itu. Dengan wajah datar, ia meraup wajah Senja dengan tangannya.
"Nggak usah suudzon lo sama gue."
"Ya biasanya lo kan nyebelin."
Biru menarik Senja agar bangkit dari kasurnya. Ia merangkul adiknya menuju ruang makan. Senja pun memeluk pinggang Biru manja.
Utari dan Langit yang melihat keakuran kedua buah hatinya itu serasa ingin buat tasyakuran tujuh hari tujuh malam. Sangat menggemaskan.
"Ehem," Utari berdehem yang menyadarkan Langit.
Langit tersenyum ke arah dua anaknya yang sudah duduk di hadapannya. Utari menyendokan nasi ke piring Langit.
"Hari ini Papa yang masak gulai ikan. Papa tahu Biru suka itu kan?"
Biru mengangguk, "Iya. Soalnya kalau Bunda, rasanya nggak seenak buatan Papa."
Utari melotot kesal. Langit malah tersenyum bangga, mau bagaimanapun skill memasak Langit jauh di atas Utari. Ia ingat bagaimana dulu ia mengajari Utari memasak nasi dan menggoreng ayam goreng via video call karena sedang di rumah sendiri dan kelaparan tengah malam.
Senja memukul bahu Biru cukup kencang. Ia mengarahkan kepalan tangannya ke wajah Biru. Utari tersenyum haru, "Anak Bunda baik banget sih."
Senja menepuk dadanya bak pahlawan. Senja melirik Biru tajam, "Aku juga tahu kalau Papa lebih jago masak dari Bunda. Bahkan semua masakannya lebih enak ketimbang Bunda. Tapi nggak ngomong ceplos di depannya juga, gila!"
"Ehem,"
"Abang mau dipotong uang jajannya?! Masih untung Senja ingetin." kata Senja. Biru menatap Senja kesal sambil melirik Utari yang sudah menatap keduanya tajam.
"Apasih, Bang?! Udah sono minta maaf sama, Bunda! Gue tahu dari gulai ikan, pasta, puding lava sama nasi goreng aja masih menang Papa! Tapi plis dong, jang–"
"Senja." panggil Langit memotong ucapan anak bungsunya itu.
Senja menoleh, "Apa? Senja bener kok. Biru harus minta maaf sama Bunda. Masakan Papa emang lebih enak dari–" mata Senja melotot begitu sadar dengan ucapannya sejak beberapa detik yang lalu.
Senja beralih menatap Utari yang sudah menatapnya setajam silet. Wanita 42 tahun itu memegang sendok makan dengan erat.
"Ma-maksudnya Senja tuh–"
Utari bangun dari duduknya. Ia berjalan menuju kamar tanpa memerdulikan panggilan dari anak dan suaminya. Tak lupa membanting pintu kamar dengan kencang.
Senja menunduk. Begitupula dengan Biru. Langit menghela nafas, "Papa samperin Bunda dulu. Kalian makan duluan aja."
"Papa," panggil Senja.
Langit membalikan badannya, "Ya, sayang?"
"Bilang ke Bunda, Senja minta maaf. Senja nggak ada maksud apa-apa." lirih Senja. Langit tersenyum lembut, "Pasti."
Setelah Langit menyusul Utari, Senja melirik Biru. Ia mendengus sebal, semuanya karena Biru! Ia juga menepuk bibirnya berkali-kali. Bukan salah Senja sepenuhnya, Senja mewarisi sifat blak-blakan ini juga dari Utari.
"Hahh.." Senja merasa sangat bersalah pada bundanya itu. Padahal ia tahu bagaimana sang bunda mencoba untuk jadi istri dan ibu yang sempurna bagi mereka dari cerita sang ayah.
Biru mengusap kepala Senja, mulutnya masih mengunyah. Senja mendelik, "Abang sih!"
"K-hok Ab-hangh,"
"Plis deh telen dulu baru ngomong. Ewh,"
Biru menelan nasinya lalu meneguk segelas air. Ia ikut mendelik, "Kok Abang?"
"Ya Abang ngomong gitu di depan, Bunda! Hargain dong walaupun emang itu kenyataan! Segalak-galaknya Bunda kan beliau tetep wanita!"
Biru menghembuskan nafas, "Iya Abang salah memang."
Senja memotong sosis gorengnya dengan kesal lalu mencoleknya ke saus tomat kesukaannya. Senja memilih makan daripada berdebat dengan Biru. Ia masih butuh tenaga untuk memilih novel mana yang akan ia bawa ke Tangerang.
Langit masih mencoba menghibur sang istri. Entahlah, belakangan ini Utari terlalu emosional. Padahal biasanya tidak begitu. Ya ia tahu kedua anaknya bisa dibilang keterlaluan, tapi tanggapan Utari malam ini tidak seperti biasanya.
"Ney.. Udah dong. Makan yuk,"
Utari masih diam memeluk guling. Enggan membalikan tubuhnya sama sekali.
"Sayang," panggil Langit menyentuh pundak Utari. Langit pun akhirnya ikut berbaring dan memeluk Utari dari belakang.
"Utari, aku udah masak loh. Masa nggak kamu makan? Padahal aku masak kentang balado kesukaan kamu juga." kata Langit sedih.
Utari membalikan tubuhnya. Ia menatap manik mata Langit dalam, seulas senyuman muncul dari wajahnya. Langit mengusap pipi chubby Utari dengan ibu jari.
"Kita makan ya? Mereka juga nyesel kok. Mereka nggak maksud apa-apa, Ney." kata Langit pelan. Utari mengangguk, ia mengecup bibir Langit singkat.
"Aku tahu. Aku cuma kesel."
"Senja juga minta maaf. Lihat, anak aku emang pinter banget."
Utari mendengus. Ia bangun dari kasur bersama Langit. Keduanya kembali ke meja makan untuk makan malam.
Mata Langit dan Utari membulat saat melihat kedua anaknya seperti korban bencana alam di ruang keluarga.
Bagaimana tidak? Biru berselonjor di sofa panjang dengan mengusap perutnya berkali-kali. Bahkan sendawa masih keluar dari mulutnya. Sedang Senja kepalanya keluar dari batas sofa dan kakinya ke atas sandaran sofa. Seperti Biru, gadis itu tampak kekenyangan.
Utari dan Langit saling melirik satu sama lain lalu masuk ke ruang makan. Betapa terkejutnya mereka melihat meja makan yang tadinya penuh dengan menu makan malam ini, hanya tersisa beberapa lauk seperti kentang balado, ayam goreng dan sayur sop. Selebihnya habis menyisakan tulang dari ikan gulai.
Langit menganga, "Mereka.. Serius?"
"Pa, mereka nggak makan berapa hari?"
Keduanya menggeleng. Tanpa memikirkan hal itu lagi, Utari dan Langit pun makan malam. Beruntung mereka tidak menyentuh masakan kesukaan Utari. Sepertinya gulai ikan dan rendang buatan Langit sangat menggugah selera makan kedua anaknya itu.
"Bang,"
"Hm,"
Senja menoleh, "Sesekali main ya ke Tangerang. Pasti sepi deh rumah nggak ada Abang nanti." ucap Senja tenang.
Biru membalas tatapan Senja. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Ya pastilah. Lagian nggak jauh-jauh amat Bandung-Tangerang." balas Biru.
Keduanya terdiam. Saling tenggelam dalam pikiran masing-masing. Satu hal yang pasti, mereka harus terbiasa untuk saling berjauhan. Selama ini, baik Senja ataupun Biru tidak pernah berjauhan. Walaupun kerap kali bertengkar dan berdebat, mereka tidak terpisahkan.
Bahkan ketika tour perpisahan Biru, cowok itu mengajak Senja untuk ikut serta tour ke Bali selama satu minggu penuh itu.
Senja tersenyum kecil saat mengingat bagaimana ia menangis tanpa henti dulu. Waktu itu Biru sedang sakit cacar, dan sang nenek menyuruh Senja untuk tinggal di rumahnya. Ah, kalau dipikir kembali itu hanya sekitar dua minggu Senja berjauhan dengan Biru.
Bagaimana nanti?
"Senja. Biru."
Kedua remaja itu menoleh. Utari menyengir di dalam dekapan sang suami. Senja dan Biru menghampiri kedua orangtua mereka.
"Ayo kita ke gazebo. Malam ini kita bakar-bakar jagung sambil minum cocktail." ujar Utari yang dibalas anggukan semangat kedua anaknya.
Senja memeluk pinggang Biru. Mereka menuju halaman belakang rumah. Senja memilih duduk di gazebo, sesekali memotret semuanya dengan kamera polaroidnya.
Senja tersenyum kecil melihat keromantisan kedua orangtuanya. Sesekali tertawa pelan melihat Biru yang kesal karena menjadi nyamuk diantara keduanya.
Biru memanggil Senja. Mau tak mau gadis itu menghampiri sang kakak. Biru menyodorkan kipas, "Nih kipasin. Abang mau ambil minuman dulu."
Senja mengangguk.
"Pa, dagingnya pakein keju juga ya." pinta Senja pada Langit yang sedang memanggang daging. Langit mendengus, "Nggak anak nggak emak, sama aja."
"Fine-fine!" pasrah Langit begitu melihat ekspresi permusuhan Utari dan Senja padanya.
Utari mengangkat daging yang sudah matang sempurna. Malah sesekali memakan daging itu yang membuat Senja merengek ingin juga.
"Nggak, nanti bareng-bareng, Dek. Bentar lagi kok nih tinggal tiga." tolak Utari santai.
Senja mencebikan bibirnya sebal, "Padahal Bunda daritadi makanin." gumam Senja sambil mengipas jagung bakarnya sekuat tenaga untuk melampiaskan emosinya.
Biru yang baru datang membawa nampan berisikan minuman dingin itu menghampiri Senja. Alisnya bertautan heran, "Ngapa lo?"
"Emak lo noh. Pelit." balas Senja sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh Utari.
"Biarin. Suka-suka Bunda lah."
"Hih, awas aja kolestrol kebanyakan daging. Lemak semua!"
"Yang penting ideal."
Senja mendecih, "Padahal badan kek gabon."
"APA?!"
Biru dan Langit terkejut mendengar pekikan Utari. Buru-buru Biru membawa Senja duduk di gazebo.
"Nyari perkara lo emang sama Bunda." kata Biru kemudian melanjutkan membakar jagung.
Senja meledek Utari dari arah gazebo. Gadis itu menjulingkan matanya sambil menarik kedua telinganya. Tak lupa mencibirkan bibirnya.
Utari mendelik, anak siapa sih?! Langit nggak seekspresif itu perasaan.
Langit menyenggol Utari yang membuat wanita itu mengangkat alisnya sebelah seakan bertanya 'apa?'
"Seinget aku, pas kita pacaran aku maunya anak cewek kita mirip aku deh yang kalem. Kok bisa-bisanya dua-duanya petakilan mirip kamu?" bisik Langit.
Utari memukul pundak Langit kencang. Ringisan pelan terdengar dari bibir Langit. Sial, tenaga istrinya bukan hanya fantastis di atas ranjang. Namun juga di situasi lainnya.
"Cepetan! Aku laper!"
Langit mendengus, "Ini udah. Yang ada kejunya itu punya kamu sama Senja." balas Langit.
...............
Senja tertawa mendengar lelucon dari Biru. Jangan tanya bagaimana reaksi Utari, wanita itu sudah terpingkal. Bahkan Langit harus menahan nafas pasrah saat istrinya memukul pahanya berkali-kali.
"Bun, Bunda inget si Mikael?"
Utari tampak berfikir lalu mengangguk. Ia menatap anak bungsunya penasaran, "Kenapa dia, Dek?"
Senja melirik Biru yang sudah melotot. Senja memajukan wajahnya, membisiki sesuatu di telinga sang bunda.
"Mikael suka sama Abang."
"APA?! SUKA?!"
senja tergelak. Utari menatap Biru horor. Ia mengecek seluruh wajah Biru, bahkan sampai ke gigi-gigi cowok itu. Langit mengernyit heran, "Apasih, Dek?"
"Abang disukain sama Mikael."
Langit membelalak kaget, "Astaga! Jeruk makan jeruk!" seru Langit menunjuk Biru tepat di depan wajahnya.
Biru menyingkirkan jari sang ayah. Ia mendelik ke arah Senja. Tak lama menghembuskan nafas panjang. Ia harus menjelaskan ini, apalagi sang bunda sudah seperti hulk yang siap menghancurkan apa saja yang ada di depannya.
"Iya, Mikael confess perasaannya ke Abang waktu itu. Pas liburan perpisahan kemarin, Bun, Pa. Adek tahu karena nggak sengaja denger." kata Biru. Ia melirik Senja remeh, "Kayaknya sih sengaja." sambung Biru.
Senja memukul lengan Biru kencang, "Enak aja! Adek nggak sengaja denger! Lagian Mikael mau confess di balkon utama. Orang mah di taman belakang kek yang sepi." elak Senja.
Biru meringis pelan mengusap lengannya yang terasa perih dan panas akibat pukulan Senja itu.
Utari berdecak, "Terus,"
"Ya Abang tolak. Bunda emang mau anaknya belok?!"
Utari meringis pelan. Membayangkan hal itu membuat Utari bergidik ngeri, bisa-bisa gue dicincang Bunda sama Mama kalau tahu cucunya belok.
Utari menggelengkan kepalanya cepat. Langit sudah tebak istrinya itu sedang memikirkan hal yang tidak-tidak.
Langit berdehem, "Kamu nggak nyoba godain kan? Maksud Papa penampilan kamu cool kan?" tanya Langit ragu.
Senja terbahak. Hal itu membuat ketiganya menatap Senja bingung. Apa yang ditertawakan oleh gadis ini?
Senja berdehem. Ia mengibaskan tangannya cepat, "Abang ini tuh incaran semua kalangan, Pa! Semua cewek bakalan suka sama dia. See? Buktinya cowok aja ada yang kepincut." kata Senja. "Kalau di novel-novel yang Adek baca, Abang ini tipe tokoh utama protagonis. Ganteng, ramah, baik hati, penolong, friendly. Siapa yang nggak suka sama dia coba? Ya paling orang yang iri sama Abang." sambung Senja merangkul Biru.
Biru berusaha melepaskan rangkulan Senja yang erat pada lehernya. Setelah berhasil, ia menghirup oksigen banyak-banyak karena sempat gelagapan kekurangan oksigen akibat rangkulan adiknya pada lehernya.
"Ckckckck, kasihan sekali anak sulung Bunda." ujar Utari menatap Biru prihatin.
Langit menggeleng pelan, "Pantes juga kamu jadi playboy. Banyak yang suka ternyata."
Utari mendengus.
"Gimana nggak player. Bapaknya juga begitu pas masih muda." sinis Utari. Biru menyengir lebar, "Kan. Nggak salah aku berarti."
"Kok aku?"
Utari mendelik, "Kok aku?" ulang Utari dengan nyeleneh. Matanya menatap Langit tajam, ia menunjuk suaminya dengan jagung yang masih tersisa sedikit.
"Terus kamu pikir siapa itu Ara, Nada, Isa, Ami–"
Langit membekap mulut istrinya. Ia menatap istrinya tak percaya. Serius, dia masih ingat semua wanita yang pernah ia kencani?! Bahkan sekedar gebetan aja Utari masih hafal?!
Senja dan Biru menatap Langit prihatin. Kedua anaknya menggelengkan kepalanya.
"Ckckckck dasar brengsek." kata Senja dan Biru berbarengan.
Langit melotot, "Apa?!"
Utari melepaskan tangan Langit dari mulutnya. Ia melirik Langit sinis, "Memang brengsek. Sayangnya aku cinta. Saking cintanya, aku nggak bisa nerima oranglain untuk hidup bersama."
Langit berdehem. Sedang Senja dan Biru sudah berpura-pura muntah. Kedua orangtua mereka memang pasangan yang unik.
Setelah berbincang dan bersantai, semuanya kembali ke kamar masing-masing. Berbeda dengan Langit dan Utari yang melakukan ritual malam mereka, Senja dan Biru memilih tidur karena sudah mengantuk.
Langit ikut berbaring di sebelah Utari setelah permainan beberapa ronde mereka. Ia menatap Utari yang memejamkan matanya dengan nafas yang masih terengah-engah.
Senyuman lembut muncul dibibirnya. Ia memeluk Utari yang membuat wanita itu membuka matanya. Terasa deru nafas hangat Langit di lehernya.
Langit mengecup lehernya sekali, "Terimakasih, Utari. Terimakasih untuk segalanya."
Utari ikut tersenyum manis. Ia memiringkan tubuhnya, memeluk tubuh Langit. Mengusap kepala pria itu, memberikan rasa nyaman dan tenang pada Langit.
"Aku cinta kamu, Mas. Terimakasih udah berusaha sebaik mungkin buat aku dan anak-anak." lirih Utari. Utari dapat merasakan pelukan Langit yang semakin erat.
"Begitupun aku, Ney. Aku cinta kamu. Cuma kamu yang aku mau di dunia ini." balas Langit pelan. Langit mengangkat wajahnya lalu mencium bibir Utari lembut.
Langit tersenyum disela-sela ciuman mereka. Tanpa Utari sadari, Langit sudah berada di atas tubuhnya kembali. Langit melepaskan ciuman mereka. Tangannya mengusap pipi Utari lembut, "Please?"
Utari terkekeh. Pipinya merona, tak ayal mengangguk. Langit tersenyum lebar. Malam itu, Langit dan Utari menghabiskan waktu dengan erangan demi erangan.
Berbeda dengan Senja yang bermimpi dikejar puluhan troll akibat membaca novel fantasi beberapa hari belakangan ini.