Bab 1

Nada dering mengalun dari ponsel Rhino. Rhino yang masih tidur dengan setengah wajah terbenam di bantal, akhirnya membuka sebelah matanya untuk mencari ponselnya.

Ternyata ponsel Rhino tergeletak di nakas, berdekatan dengan asbak berisi puntung rokok yang sangat banyak. Karena masih sangat mengantuk, ia sengaja tidak bangun. Hanya tangannya yang menggapai-gapai untuk memungut ponselnya.

Tanpa meliihat siapa yang menelepon, Rhino menjawab dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.

"Halo... eh, assalamu 'alaikum...."

"Bang Rhino! Bang Rhino di mana?!!"

Dari seberang sana, seorang wanita membalas dengan panik. Rhino tersentak, lalu melihat nama yang tertera. Ternyata Reita, adik iparnya.

"Bang Rhino, cepat ke rumah sakit! Sekarang!"

"Ha? Siapa yang sakit?" tanya Rhino dengan kesadaran yang mulai pulih.

"Kak Rena, Bang! Kak Rena sudah masuk rumah sakit!"

"Hah? Rena sakit apa?" tanya Rhino lagi.

"Kok sakit, sih? Bang Rhino ngelantur ya? Kak Rena mau melahirkan, Bang! Sudah pembukaan... ah, aku nggak tahu. Pokoknya, Bang Rhino cepat ke sini! Aku kirimkan nama rumah bersalinnya, ya."

Rhino akhirnya bangkit dari tidurnya. Matanya melotot. Astaga, ia baru ingat sekarang! Istrinya! Istrinya, Rena, sedang hamil tua dan ternyata akan melahirkan malam... eh, ini malam atau pagi, sih?

Rhino melihat jam di ponselnya. Astaga, ternyata sudah pukul 07.00! Artinya, Rhino tertidur semalaman di rumah ini. Kenyataan itu menyadarkan dirinya bahwa ia tidak pulang ke rumah semalam, justru pada saat Rena paling membutuhkan suaminya.

Beruntung Rena masih punya adik yang bisa menolong dan membawanya ke rumah bersalin. Entah apa jadinya jika Rena sendirian saja di rumah pada saat masa bersalinnya makin dekat.

Rhino tersentak, lalu membalikkan badan. Ia menatap seorang wanita berpakaian minim, yang masih tertidur pulas. Dengan lembut, Rhino menggerakkan bahu wanita itu.

"Ris, Risa. Bangun, Ris. Aku harus pergi sekarang. Rena mau melahirkan," kata Rhino lembut.

Risa, nama wanita itu, menepis tangan Rhino. Tanpa membuka mata, ia menarik selimut hingga menutupi bahunya. Melanjutkan tidur.

"Aku harus pergi sekarang. Kamu nggak apa-apa 'kan, kutinggal sendirian?" tanya Rhino lagi, masih dengan kelembutan yang sama.

"Hem... pergi saja. Aku mau tidur!" balas Risa kasar.

Rhino mengembuskan napas. Ia segera memungut pakaiannya yang berserakan di kamar, lalu mengenakannya dengan sangat cepat. Setelah beres, ia beranjak menuju ambang pintu. Namun sesuatu membuatnya kembali menoleh pada Risa yang masih mendengkur halus.

Rhino mendekati Risa dan memandang wajahnya. Kemudian, ia membungkuk, hendak mencium kening wanita itu. Namun, saat bibir Rhino hampir mengenai sasaran, Risa membalikkan badan dengan cepat. Tangan wanita itu menampar pipi Rhino hingga pria itu terpaksa menarik wajahnya.

"Ugh," keluh Rhino sambil memegang pipinya.

Rhino mengembuskan napas berat. Ia akhirnya kembali berjalan menuju pintu kamar. Kali ini, ia akan benar-benar pergi.

"Setelah Rena melahirkan, aku akan menceraikan dia," ujar Rhino sebelum membuka pintu kamar.

"Benar, nih?"

Sahutan dari belakangnya tersebut membuat Rhino berbalik. Risa ternyata sudah duduk di tempat tidur, memandangnya dengan senyuman merekah. Ternyata, wanita itu hanya berpura-pura tidur sebelumnya.

"Benar, nih? Kau akan menceraikan dia, lalu menikahi aku?" ulang Risa memastikan.

"Iya. Aku akan menikahimu. Jadi kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi seperti ini," jawab Rhino. Ia hendak mendekati Risa lagi. Namun mengingat tamparan yang ia terima sebelumnya, Rhino mengurungkan niatnya dan hanya terpaku di dekat pintu.

"Baguslah. Aku juga sudah lelah menyimpan rahasia ini. Rasanya muak sekali, harus berpura-pura," cetus Risa. Ia lalu berpakaian, lalu menghampiri Rhino yang setia menunggu.

"Aku antar ke depan," kata Risa saat Rhino membuka pintu kamar..

Rhino mengangguk, lalu membiarkan Risa berjalan di depannya. Memandu Rhino meninggalkan rumah mungil Risa.

Rhino memasuki mobilnya yang terparkir di halaman rumah Risa. Sebelum Rhino menghidupkan mesin mobilnya, Risa menumpukan kedua tangan dan kepalanya di jendela mobil yang terbuka. Bertanya sekali lagi untuk memastikan janji yang Rhino ucapkan di dalam rumah.

"Kau benar-benar akan menceraikan Rena, 'kan? Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu. Ah, tidak. Aku akan mengutukmu, supaya kau mati perlahan-lahan dan penuh penderitaan karena sudah menyakiti hatiku!"

Rhino bergidik dan memohon, "jangan, dong. Aku bersumpah, hanya kau yang akan kupilih."

Risa tertawa kecil. Kemudian ia menarik tubuhnya hingga Rhino bisa menaikkan kaca jendela.

Tak lama kemudian, mobil Rhino bergerak meninggalkan rumah Risa. Pemilik rumah itu melambaikan tangan, melepas kepergian kekasih gelapnya itu.

Sambil mengemudikan mobil menuju ke rumah bersalin, Rhino menarik napas dalam. Ia mengingat janji dan sumpah yang ia ucapkan sebelum meninggalkan rumah Risa.

"Aku tidak akan mengecewakanmu, Risa," gumamnya. Menguatkan diri agar tidak mengecewakan wanita yang ia cintai itu.

Bab 2

Rhino mengendus tubuhnya sendiri. Ia baru ingat, ia belum mandi sejak kemarin dan belum berganti pakaian. Akibatnya, aroma tubuhnya menjadi kurang sedap.

Dengan agak panik, ia membuka tasnya untuk mencari parfum. Setelah menemukannya, ia menyemprotkan parfum tersebut untuk menutupi aroma tubuh yang menurutnya kurang sedap. Tak lupa, ia mengulum permen untuk menutupi bau rokok yang menguar.

Setelah yakin bau badan bukan lagi menjadi masalah, Rhino turun dari mobil. Ia menyusuri pelataran parkir rumah sakit dengan langkah tergesa. Mencari-cari adik iparnya yang sejak tadi tak henti meneleponnya, Reita.

"Bang Rhino! Kok lama, sih? Mana semalam nggak pulang. Ngapain aja, sih? Kasihan Kak Rena, sekarang sendirian di ruang bersalin!" sergah Reita gusar setelah melihat Rhino. Sejak tadi hanya ia sendirian yang menunggui kakaknya yang akan melahirkan. Tak pelak, ia merasa kesal karena iparnya membiarkan kakaknya berjuang sendirian.

Rhino diam saja. Ia tahu bahwa ia bersalah, sehingga tak ingin membalas kata-kata adik iparnya itu.

Perawat yang berdiri di sebelah Reita, mengajak Rhino ikut masuk ke ruang bersalin. Rhino menurut. Meskipun ini kali pertama ia menjadi calon ayah, ia sudah tahu bahwa seorang suami lazimnya mendampingi istrinya yang sedang melahirkan.

Dengan mengenakan pakaian yang diberikan oleh rumah sakit, Rhino mendampingi Rena yang sudah siap melahirkan. Ia tersenyum saat melihat Rena. Sayang, senyumnya tersembunyi di balik masker yang ia kenakan.

"Maaf, aku tidak pulang semalam karena ada masalah di lapangan," kata Rhino pada Rena, berdusta.

Rena hanya mengangguk dengan wajah dibasahi peluh. Ia membiarkan Rhino mencium pipi lalu menggenggam tangannya. Tidak ada waktu dan tenaga untuk menanyakan lebih lanjut. Sebab, semua perhatian dan tenaga tengah Rena pusatkan untuk mendorong keluar bayi yang memang sudah waktunya menghirup udara dunia.

Rhino sebenarnya merasa bingung dan jengah serta agak takut jika harus menghabiskan waktu di kamar bersalin. Namun jika menunggu di luar bersama Reita, Rhino juga merasa tidak enak. Reita pasti akan menganggapnya tak peduli pada Rena.

Terus terang, Rhino tidak mau jika harus terlihat kejam hingga mengundang pertanyaan, bahkan kecurigaan. Bagaimana pun, ada rahasia yang harus ia jaga. Rahasia bersama Risa.

Oleh sebab itu, Rhino bertahan di kamar bersalin. Bersama Rena, dokter dan perawat yang tidak ia kenal. Ini lebih baik daripada harus mendapatkan pertanyaan, mengapa ia tidak peduli pada keadaan istrinya.

Selama proses persalinan itu sendiri, tatapan Rhino berganti-ganti antara wajah Rena yang mengerahkan tenaga sekaligus menahan sakit, dengan dokter dan perawat yang membantu persalinan Rena.

Urat-urat halus di wajah Rena yang menegang, bahkan sampai menonjol. Menunjukkan betapa hebat pejuangan Rena untuk melahirkan anak mereka berdua. Genggamannya di tangan Rhino semakin lama semakin kuat, hingga Rhino benar-benar terkunci pada posisinya di sisi Rena dan tak bisa pergi sebelum proses kelahiran selesai.

Rhino sebenarnya ingin memalingkan wajah karena tak kuasa menyaksikan daya upaya Rena untuk melahirkan bayi yang sudah dikandungnya selama ini. Namun, jika ia berbuat seperti itu, untuk apa dirinya mendampingi Rena di kamar bersalin ini?

Maka, agar keberadaannya memberi arti bagi perjuangan Rena, Rhino pun meniru kata-kata yang diucapkan oleh dokter dan perawat yang membantu persalinan Rena. Kata-kata sederhana yang sekiranya dapat menyemangati Rena yang tengah berjuang antara hidup dan mati demi kelahiran bayinya.

"Ayo, Sayang.... Terus... terus...."

"Jangan takut. Suster bilang, teruskan saja."

"Bagus, Sayang. Sudah kelihatan, dokter? Ya? Tuh, kata dokter sedikit lagi."

Rhino tidak tahu, berapa lama waktu berlalu hingga suara tangisan akhirnya memenuhi kamar bersalin dan dokter memotong tali pusar bayi yang berhasil dilahirkan oleh Rena tersebut. Dengan sisa-sisa tenaganya, Rena mengulas senyum saat bayi mungil itu diperlihatkan padanya.

Sementara Rhino sendiri? Ia merasa matanya memanas. Rena yang bertaruh nyawa untuk melahirkan bayi mereka, namun Rhino juga ikut merasakan lelah dan sakitnya. Saat Rena berhasil melaluinya, Rhino pula yang ikut merasa lega dan bahagia.

Bahagia?

Rhino tertegun memikirkan arti kata bahagia itu. Kebahagiaannya selama enam bulan terakhir ini adalah bersama dengan Risa. Menghabiskan waktu bersama wanita yang juga mengenal baik Rena tersebut adalah prioritas Rhino selama ini.

Apalagi saat tangan Rhino terulur untuk menerima bayi berjenis kelamin perempuan itu untuk diazani. Entah mengapa dan dari mana, air matanya tak terbendung lagi. Bayangan Risa seketika lenyap, berganti dengan wajah mungil bayi yang belum ia beri nama itu.

Usai mengazani putrinya, Rhino menengok keadaan Rena yang masih memulihkan diri. Istri yang ia nikahi dengan 'terpaksa' itu, melemparkan senyuman padanya. Sama sekali tidak ada jejak kemarahan karena ulah Rhino yang tidak pulang semalam, justru pada saat Rena sangat membutuhkan pendampingannya. Barangkali, kebahagiaan karena telah memiliki anak, membuat Rena melupakan kesalahan suaminya.

"Kau sudah baikan," kata Rhino kaku. Ia memang bahagia. Namun jika mengingat apa yang telah ia lakukan dengan Risa, rasa bahagia itu tersisihkan oleh rasa bersalah.

"Tentu saja. Ada anak kita, jadi aku pasti akan pulih dengan cepat," sahut Rena.

Rhino tak membalas perkataan istrinya. Ia membungkuk, lalu memeluk Rena yang terkejut dengan gerak tiba-tiba Rhino.

"Terima kasih, ya. Anak kita akan menjadi prioritasku sekarang," janji Rhino di telinga Rena.

Rena tertegun. Kemudian balas memeluk Rhino dan menjawab, "iya. Tentu saja."

Bab 3

Setahun yang lalu.

Dalam waktu kurang dari seminggu, Rhino akan menikah dengan Rena. Meskipun mereka memiliki kesempatan untuk saling mengenal enam bulan sebelum akad nikah, menurut Rhino, pernikahan tersebut tidak dilandasi dengan cinta. Bahkan, sekadar bersimpati pada Rena yang baru ditemuinya pun, sulit untuk ia lakukan.

Rhino sendiri tak kuasa menolak permintaan ibunya untuk menikahi Rena yang merupakan keluarga jauh mereka. Menurut ibunya, Rena yang sudah tidak memiliki orang tua tersebut adalah anak yang baik dan cocok dengan Rhino. Rhino tidak sependapat, tapi tak berani menentang keinginan ibunya yang begitu dominan dalam kehidupannya.

Setelah masa perkenalan yang cukup singkat, Rhino akhirnya melamar Rena. Rencananya, mereka akan menikah secara sederhana, sesuai dengan keinginan Rhino dan Rena. Sebab, mereka berencana untuk membeli rumah dan tinggal terpisah dari ibu Rhino. Jadi, pilihan untuk menggelar pernikahan sederhana adalah semata demi menghemat anggaran agar dapat membeli rumah impian mereka.

Akan tetapi, menjelang pernikahan mereka, kegundahan Rhino semakin menjadi. Di depan Rena, ia bisa bersandiwara menjadi sosok calon suami yang baik. Namun tidak jika ia sudah menyingkir dari keberadaan Rena sekeluarga dan keluarganya sendiri. Rhino masih berpikir bahwa Rena adalah sosok asing yang terpaksa ia nikahi.

Hari ini adalah hari terakhir Rhino bekerja sebelum mengambil cuti nikahnya. Juga, menjadi kesempatan terakhirnya untuk menjadi 'diri sendiri' sebelum mengenakan topengnya di hadapan Rena dan keluarga mereka berdua. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikirannya.

Pada akhirnya, Rhino hanya bisa menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Sebelum kelak menjalani kehidupan yang tidak ia inginkan, Rhino hanya ingin menepi sesaat. Ia berharap keajaiban terjadi dan ia dapat menemukan kebahagiaan dalam hidup yang tidak berjalan sesuai keinginannya tersebut.

"Uhuk! Uhuk!"

Suara batuk seorang wanita menghentakkan Rhino. Menyadarkannya dari kesibukan menggores drawing pen di meja gambarnya. Ia menoleh ke asal suara dan melihat seorang wanita tengah berada di ambang pintu ruang kerja Rhino.

Rhino sendiri tak mendengar bunyi pintu dibuka, sehingga ia tak tahu, sejak kapan wanita itu berdiri di sana. Yang jelas, wanita itu mengalami kesulitan bernapas hingga terbatuk-batuk karena menghirup kepulan asap rokok yang dinikmati oleh Rhino.

"Astaga! Maaf," ujar Rhino. Ia buru-buru membuka jendela agar pertukaran udara segera terjadi. Alarm kebakaran di ruangannya sudah lama rusak hingga ia bebas merokok saat sedang bekerja. Sehingga ia lupa bahwa bukan hanya ia yang dapat terus-terusan berada di ruang kerjanya itu.

Rhino mempersilakan wanita yang tidak ia kenal itu duduk, sementara ia sendiri sibuk mengipas-ngipas untuk membantu menjernihkan udara di ruang kerjanya. Dengan risih, ia membuang gunungan puntung rokok di asbak ke tempat sampah.

"Sebentar. Anda asisten saya yang baru?" tanya Rhino pada wanita yang masih berusaha menahan batuknya itu.

"Iya, Pak. Saya Risa," jawab wanita tersebut.

Dari tanya jawab singkat, Rhino mengetahui bahwa Risa berasal dari alma mater yang sama dengannya. Namun Rhino tak mengenalnya karena ia baru saja lulus saat Risa masuk fakultas yang sama di universitas tersebut.

Rhino cukup senang karena dapat bertemu dengan sesama alumni. Mereka bertukar cerita sejenak, di mana Rhino menanyakan kabar para dosen mau pun karyawan di tempatnya menuntut ilmu dahulu.

Pada awalnya, hubungan Rhino dan Risa sebatas atasan dan bawahan semata. Rhino juga mengundang Risa menghadiri resepsi pernikahannya.

Sama sekali tidak terbersit dalam pikiran Rhino bahwa kelak, Risa akan menjadi seseorang yang memberikan warna baru untuk hidupnya. Sebab, setelah menikah, kehidupannya dengan Rena berjalan baik dan cukup lancar sehingga Rhino sempat mengira bahwa ia terlalu berburuk sangka pada pernikahannya.

Nyatanya, Rena adalah istri yang baik. Ia mengurus Rhino dengan telaten dan apik. Selama Rena berada di sisinya, Rhino tak perlu khawatir kelaparan karena setiap hari Rena menyiapkan makanan yang sehat dan enak untuk suaminya. Sarapan, bekal makan siang hingga makan malam, semuanya disiapkan dengan baik.

Rena pun seorang istri yang patuh dan siap melayani segala kebutuhan Rhino, termasuk kebutuhan biologis. Wanita berwajah ayu dengan sorot mata teduh itu juga pandai memuaskan Rhino. Sehingga Rhino merasa malu sendiri karena telah meragukan kehidupan barunya sebagai seorang suami.

Segalanya tampak berjalan dengan baik, hingga saat Rena mulai mual-mual dan menjadi sangat lemah untuk sekadar bergerak. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan Rhino, wanita itu sampai meminta maaf karena ia tidak kuat lagi.

Rhino pada awalnya merasa cemas dan mengira istrinya sedang terserang penyakit. Namun saat dokter menyatakan bahwa Rena tengah hamil, kecemasan itu tentu saja berganti menjadi kebahagiaan.

Rhino merasa kebahagiaannya sudah lengkap. Dunianya hampir penuh, karena tak lama lagi, akan bertambah sosok yang akan ia sayangi dengan sepenuh hati.

Sayangnya, Rhino terlalu melambungkan harapannya. Dia tidak menyadari bahwa arah hidupnya akan berubah. Meninggalkan Rena dan calon bayinya demi seseorang yang tidak pernah menolak permintaannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED