“Ibu mencintaimu, Nak.”
“Tidak!”
“Ayah juga mencintaimu, Nak!”
“Jangan! Tidak! Jangan pergi! Ayah! Ibu!”
Dahi pria itu mengerut dan nampak gelisah dalam tidurnya. Kepalanya terus menoleh ke kanan dan ke kiri bergantian, sampai akhirnya matanya tiba-tiba terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Selama beberapa saat ia hanya diam, tidak bergeming.
“Hanya mimpi.” , gumamnya pelan dan merebahkan tangannya di atas dahi seraya memejamkan matanya kembali.
Belum lama ia memejamkan mata, sebuah suara yang keluar dari intercom mengejutkannya.
“Selamat ulang tahun yang ke dua puluh tiga tuan muda, Khaidar. Semoga anda panjang umur dan sehat selalu. Nenek anda sudah menyiapkan kejutan di ruang utama dan sudah menunggu anda.”
Pria muda itu membuka matanya perlahan menatap lampu yang padam di atasnya. Ia memikirkan perkataan sekretaris pribadinya yang baru saja berbicara padanya melalui intercom karena tidak berani masuk begitu saja.
“Masuklah.” , balas Khaidar dan tak berselang lama pintu kamarnya yang besar itu terbuka.
Seorang pria dengan setelan jas rapi masuk. Suara sepatu pantofelnya membentur lantai marmer menimbulkan suara yang memaksa Khaidar untuk tidak memejamkan matanya lagi. Dia adalah Hardian, sekretaris pribadi Khaidar yang paling lama bertahan dengannya. Sebelum Hardian, sudah puluhan orang yang mengundurkan diri setelah bekerja tidak kurang dari sebulan. Tidak ada yang istimewa dari Hardian, hanya saja ia memiliki hati yang keras seperti es di kutub yang sulit untuk mencair. Itu adalah salah satu modal besar yang harus dimiliki untuk bertahan sebagai sekretaris pribadi Khaidar.
“Nenek anda sudah menunggu sejak tadi, tuan muda. Sebaiknya anda segera bangun dan menyapanya sebentar.” , ungkap Khaidar dengan tegas seperti rambutnya yang klimis.
“Tadi kau bilang hari ini aku ulang tahun yang ke berapa?”
“23 tahun, tuan.”
“Ah benar. 23 tahun hidupku yang tidak berguna.”
“Sebaiknya anda lekas bangun dan temui nenekmu, atau–”
“Atau apa?” , tanya Khaidar terlihat tidak peduli.
Hardian melangkah mendekat dan tanpa ragu langsung menyibak selimut yang menutupi dada Khaidar sampai ke ujung kakinya dan membuat dadanya terekspos, “Apa saya harus menyeretmu juga, tuan?”
Khaidar sejak dulu memiliki kebiasaan untuk tidur tanpa mengenakan baju meskipun kamarnya dingin. Ia lebih memilih untuk memakai selimut yang tebal. Ia yang masih terkejut dengan tindakan Hardian barusan langsung turun dari tempat tidur sebelum Hardian benar-benar menyeretnya dengan cara yang sama sekali tidak terhormat. Saat Khaidar bangun berdiri, Hardian melihat bagian bantal yang membentuk kepala Saka tampak agak basah tanda bahwa Khaidar berkeringat saat tidur, padahal pendingin ruangan terus menyala sepanjang malam.
“Apa semalam anda mimpi buruk lagi, tuan muda?” , tanya Hardian berjalan mengikuti Khaidar yang sudah melangkah keluar dari kamarnya dengan mengenakan jubah mandi abu-abu.
“Apa kau seorang peramal, mas Hardian? Bagaimana bisa tebakanmu selalu benar?” , kini Khaidar yang balas bertanya.
Sepanjang jalan Khaidar dari kamarnya menuju ruang utama, ia bertemu dengan beberapa orang yang menunduk sambil mengucapkan selamat pagi padanya. Mereka adalah para pekerja yang mengurus rumah dua lantai yang memiliki luas 2.500 meter persegi itu. Kebanyakan orang-orang yang bekerja untuk merawat rumah ini adalah laki-laki. Tentu ada alasan khusus untuk itu.
“Bukan meramal. Saya lebih suka menyebutnya dengan deduksi.” , jawab Hardian singkat.
Saat Khaidar menuruni tangga melingkar yang besar itu, ia bisa melihat ada begitu banyak kotak-kotak kado yang dibungkus dengan pita-pita besar bertebaran di sekitar sofa. Beberapa pelayan sudah berdiri dengan atribut khusus ulang tahun seperti topi kerucut dan juga terompet.
“Selamat ulang tahun, tuan muda Khaidar!” , sahut mereka semua dengan kompak lalu diiringi dengan tepukan tangan dan juga lagu ucapan selamat ulang tahun.
“Stop! Stop! Stop!” , pekik Khaidar terlihat tidak senang dengan itu dan mereka semua langsung berhenti, “Aku sudah besar. Sudah berkepala dua. Tidak perlu seperti itu.”
Para pelayan yang langsung ciut itu menatap ke arah Hadrian bersamaan, seolah-olah bertanya ‘apa yang harus mereka lakukan sekarang’. Tanpa sepatah kata pun, Hadrian selaku orang terdekat Khaidar saat ini, langsung memberi kode dengan menggerakan kepalanya untuk meminta mereka pergi kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
Kado yang tentu saja tidak dibutuhkan oleh Khaidar itu benar-benar menumpuk, tumpah ke lantai. Saat hendak duduk di tengah sofa, Khaidar menendang beberapa kado yang menghalangi langkah kakinya, sementara beberapa pelayan yang masih ada di sana hanya bisa bersedih hati. Mereka yakin kotak terkecil yang ada di situ adalah ponsel keluaran terbaru dan Khaidar menendangnya begitu saja seakan itu adalah kertas tak terpakai yang telah diremas menjadi bentuk bola.
“Selamat ulang tahun cucuku sayang.” ,ucap seorang wanita tua yang tampil di layar sebuah tablet yang sudah berdiri di atas meja, tepat di hadapan Khaidar.
Pria itu bisa melihat sang nenek yang tersenyum lebar menampilkan garis kerutan di sudut mata, sementara dirinya sendiri tidak menyalakan kamera sesuai dengan permintaan sang nenek.
“Nenek terlihat cantik hari ini.” , puji Khaidar dengan senyum pahit di wajahnya.
Wanita tua yang tampak di layar, tertawa renyah mendengarnya, “Tentu saja. Ini hari yang istimewa untuk nenek karena cucu nenek berulang tahun. Tidak terasa kau sudah tumbuh besar.”
“Bagaimana nenek bisa tahu aku tumbuh besar jika tidak melihatku?” , tanya Khaidar tersenyum miris.
Senyuman lebar sang nenek pun memudar namun ia tetap memaksa kerutan di sekitar bibirnya untuk tetap terangkat.
“Apa nenek tidak mau melihatku? Sekali saja. Aku tidak butuh hal lain. Aku tidak butuh semua kado bodoh ini. Aku ingin nenek melihatku.”
Hardian dan beberapa pelayan yang masih ada di situ ikut bersedih dalam hati mereka merasakan betapa kesepiannya Khaidar, sepanjang hidupnya tidak pernah benar-benar merasakan kasih sayang secara langsung meskipun hidupnya sangatlah berkecukupan.
Bibir sang nenek bergetar, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh cucu kesayangannya itu. Namun ia tidak punya pilihan selain tetap tersenyum, terlihat tegar.
“Nenek akan datang berkunjung nanti.”
“Nenek juga bilang begitu pada ulang tahunku tahun lalu.”
“Kau tahu nenek sangat sibuk mengurus banyak hal.”
“Nenek juga tahu aku sangat merindukan nenek.”
Bak serangan peluru dari juru tembak, setiap kata yang Khaidar ucapkan tepat mengenai hati sang nenek, melukainya, dan meninggalkan rasa sakit di sana. Ia tidak bisa mengingkari bahwa perkataan cucunya adalah benar dan ia pun merasakan hal yang sama.
“Baiklah. Silahkan kau buka kameramu. Nenek ingin melihat wajah cucu nenek yang paling tampan.”
Khaidar tersenyum senang dan matanya sudah berkaca-kaca. Ia menoleh pada Hadrian dan lelaki berpakaian rapi itu langsung mendekat untuk menyalakan fitur kamera dengan ragu-ragu. Sebelum menyalakannya, ia menoleh kembali pada Khaidar dan yang ia dapatkan hanya anggukan kepala.
Di seberang panggilan video, sang nenek merasa begitu gugup sampai ia harus memegangi tangannya yang gemetar. Selama setahun ini ia hanya melihat cucunya melalui foto saja, tidak pernah melihatnya secara langsung untuk keselamatannya.
Khaidar Wijaya, cucu satu-satunya dan juga merupakan pewaris tunggal dari perusahaan property miliknya. Kehidupan sempurnanya yang sudah terjamin sejak dalam kandungan dihentikan oleh kutukan yang datang padanya. Semua orang yang menyayanginya dengan tulus akan terus mendapatkan kesialan sampai puncaknya adalah kematian.
Dalam setahun ini terhitung ia hanya dua kali bertemu secara langsung dengan sang nenek saat pembukaan gedung cabang baru dan juga saat pelantikan dirinya sebagai CEO di perusahaan. Saat natal tahun lalu ataupun saat ulang tahunnya, mereka hanya berbicara melalui panggilan video dan itu pun hanya sang nenek yang menyalakan video. Begitu juga dengan hari-hari lainnya, selain berbicara tentang bisnis dan kegiatan sehari-hari yang monoton, tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Meskipun begitu, mereka cukup sering berkomunikasi melalui panggilan video.
Video dinyalakan dan Khaidar langsung menunjukkan senyum terbaiknya. Sudut bibirnya terangkat ke atas menampilkan deretan giginya, begitu halnya dengan matanya yang melengkung bagai pelangi kecil. Hati neneknya terenyuh, meleleh seperti es yang disiram lava dan itu membuat dadanya menjadi sakit.
“Cucuku..” , panggil sang nenek dengan senyum merekah di wajahnya.
Ia baru menyadari betapa dirinya sangat merindukan sang cucu.
Khaidar sangat mirip dengan sang ayahnya sewaktu muda meskipun bibirnya merupakan kopian dari sang ibu. Itu membuat dada neneknya sesak dua kali lipat. Ia merindukan cucunya, dan lebih merindukan putranya.
“Iya, nek?” , balas Khaidar, senang.
“Selamat ulang tahun, ya. Nenek harap kau selalu dilimpahi kebahagiaan dalam hidupmu.”
Khaidar mengangguk dengan tersenyum pahit, “Jika nenek bisa datang ke sini pasti aku akan sangat bahagia.”
Kini ganti sang nenek yang tersenyum pahit, “Maaf ya, untuk hari ini nenek sudah ada janji dengan para investor. Mungkin lain kali.”
Untuk menyembunyikan kesedihannya, Khaidar terus mengangguk, “Aku mengerti.”
“Oh! Nenek harus pergi sekarang. Sampai nanti, ya.”
“Sampai nanti, Nek.”
Panggilan video pun berakhir saat sang nenek menekan tombol merah yang ada di layar. Tepat setelah layar mati, raut wajah nenek berubah menjadi pucat dan tangannya langsung menggenggam dada sebelah kiri. Rasa sakit mulai menjalar dari jantung hingga ke pundak dan bergerak menuju tangannya, hingga pada puncaknya, sang nenek jatuh terjerembab dari kursi.
***
Bagi Khaidar, hari ulang tahun lebih mengerikan daripada hari Senin ataupun hari evkin dimana hasil kinerjanya di perusahaan akan dinilai. Bukan hanya karena hari ulang tahunnya begitu sepi tanpa ada nenek ataupun sanak saudara yang datang, namun juga dikarenakan setiap hari ulang tahunnya ingatan akan kedua orangtuanya menyeruak dan akan menghantuinya sepanjang hari. Alih-alih menjadi hari ulang tahun, lebih mirip seperti hari berkabung untuknya.
“Apa kau tidak mau duduk di sini bersamaku alih-alih hanya berdiri di sana seolah-olah kau adalah patung, Hardian.” , tegur Khaidar yang sedang menikmati sarapan mewahnya seorang diri di meja panjang yang di sisi nya terdapat 12 kursi.
Hadrian yang sejak tadi berdiri di belakang Khaidar sambil mengatur jadwal untuk pria yang sedang makan seorang diri itu langsung menoleh begitu namanya disebut.
“Maaf, tuan. Saya sudah sarapan tadi pagi dan masih kenyang.” , kata Hadrian menolak dengan halus.
“Aku yakin kau tidak sempat makan banyak pagi tadi. Bergabunglah bersamaku. Makan sendirian seperti ini membuatku tidak berselera.”
“Dua gelas jus sayur dan dua buah dada ayam panggang sudah memenuhi semua bagian pencernaan dan saya sendiri masih bisa merasakan jusnya di tenggorokan.” , balas Hadrian lagi-lagi menolak untuk yang kedua kalinya.
Tepat setelah penolakan itu, terdengar dentingan sendok perak yang membentur piring. Khaidar meletakkan sendoknya dengan kasar dan merebahkan punggungnya pada sandaran kursi yang tinggi dan empuk. Ia memejamkan matanya, menyelam ke dalam pikirannya.
Hadrian yang melihat hal itu langsung menghentikan kegiatannya dan menghampiri Khaidar, “Ada apa, tuan? Apa tidurmu tidak nyenyak semalam?”
“Aku tidak tahu ini hanya aku saja atau semua orang yang baru menginjak usia 23 tahun merasakan hal yang sama.”
“Apa maksudmu, tuan?”
“Isi kepalaku terlalu rumit, sulit menjelaskannya.”
“Aku akan berusaha untuk memahaminya, tuan.” , kata Hadrian bersikukuh.
“Kau yang masih ingat bagaimana rasanya dipeluk oleh kedua orangtuamu dan tidak mengemban kutukan bodoh semacam ini, tidak akan pernah mengerti.”
Hadrian terdiam. Ia tidak bisa menyangkal apa yang Khaidar katakan. Kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya sewaktu ia masih kecil, kembali terngiang dalam benaknya. Saat itu ayahnya memberikan pengertian padanya bahwa setiap orang hanya dapat mengerti orang lain setelah mencoba berjalan dengan sepatunya. Pada waktu itu yang terbayang dalam Hadrian hanyalah dirinya yang mencoba memakai sepatu ayahnya, sama sekali tidak terpikirkan bahwa itu adalah dasar yang harus dipahami semua orang.
“Maaf jika saya tidak bisa mengerti betul apa yang sedang tuan rasakan. Tapi aku tahu bagaimana cara meringankan semua hal yang berputar di kepala tuan.”
Khaidar langsung membuka matanya dan melirik pada Hadrian, “Maksudmu, bar? Itu kan yang ingin kau katakan padaku?”
Dengan senyum bangga, Hadrian mengangguk tanpa ragu.
“Aku punya kenalan seorang pemilik bar yang sangat bagus. Jika tuan mau, aku akan menghubunginya sekarang agar dia membuka barnya untukmu seorang. Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku.” , jelas Hadrian.
“Kau yang terbaik. Aku harap kau tidak menyayangiku karena aku tidak ingin kehilanganmu, Hadrian.”
Mendengar itu, Hadrian terkekeh, “Aku tidak punya alasan untuk menyayangimu, jadi tuan tidak perlu khawatir.”
***
“Ini gila! Aku baru saja memejamkan mataku selama beberapa menit dan langsung dipanggil untuk bekerja!” , omel seorang gadis yang sedang membereskan meja bar panjang dan mengilap, menggerutu pada temannya yang ada di seberang panggilan telepon.
“Tapi kau tetap datang?” , balas temannya di seberang sana.
“Aku tidak punya pilihan. Ditawari gaji tiga hari untuk satu hari bekerja, bagaimana bisa aku menolaknya?”
Kekehan renyah terdengar dari lubang speaker dan gadis itu ikut terkekeh.
Dia adalah Viona, gadis 23 tahun yang bekerja menjadi bartender di salah satu bar ternama yang ada di pusat kota. Sudah 3 tahun lamanya ia menggeluti profesi ini berkat bantuan dari mantan kekasihnya yang sudah mengenalkannya pada dunia hiburan malam. Mantan kekasihnya adalah seorang DJ dan sudah pindah bekerja di bar kota lain.
Viona bukanlah satu-satunya bartender yang bekerja di sini. Total semuanya adalah 4 orang termasuk dia dan dari keempat orang yang dihubungi oleh pemilik bar, hanya Viona yang menjawab sehingga sang pemilik bar menawarkannya bayaran lebih agar Viona mau menerimanya.
Panggilan tersebut bukannya tanpa sebab. Hadrian, sekretaris pribadi Khaidar yang merupakan teman dekat pemilik bar membuat Viona harus merelakan waktu tidurnya setelah sepanjang malam terjaga untuk bekerja. Viona yang biasa datang pukul 6 sore, terpaksa harus datang pukul 10 pagi, dimana seluruh bagian bar baru saja dibersihkan. Bahkan ia bisa mencium aroma cairan pembersih lantai yang digunakan untuk mengepel.
Bar begitu sepi. Hanya ada dirinya dan 2 orang lainnya yang merupakan penjaga keamanan yang juga dipanggil untuk memastikan tidak ada orang lagi yang datang selain Khaidar. Beberapa saat yang lalu pemilik bar datang dan memberitahukan Viona bahwa tamu mereka yang satu ini adalah orang penting, jadi Viona harus menunjukkan performa terbaiknya.
Tak berselang lama setelah pemilik bar pergi, dua orang berpakaian rapi masuk dan berdiri di dekat pintu masuk, seakan-akan figuran sedang menunggu tokoh utama untuk masuk. Melihat itu Viona menelan ludahnya berat. Ia bisa membayangkan pria tua bertato dengan rambut yang sudah mulai memutih dan berpakaian rapi akan keluar dari sana. Persis seperti yang ada dalam film mafia.
Langkah kaki yang mengetuk lantai mulai terdengar menggelitik telinga Viona sekaligus membuatnya gugup setengah mati. Matanya terbelalak kemudian dahinya mengernyit heran. Dugaannya salah. Pria itu tidak bertato dan rambutnya masih hitam.
“Tunggu! Itu kan.. Khaidar si gay?!”
“Oh? Kau si mata empat?”
“Dan kau si gay?”
Sapaan ramah mereka lemparkan satu sama lain begitu Khaidar menghampiri meja bar dan mendudukan dirinya tepat di hadapan Viona. Mereka dulunya adalah teman satu kelas saat di sekolah menengah pertama. Masing-masing dari mereka punya kesan buruk satu sama lain dan tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
Viona pada masa itu dikenal dengan gadis culun berponi tebal, rambut diikat dua rendah tepat di belakang telinga, dan juga kacamata bulat yang tebal karena mata minusnya. Tidak begitu pandai bergaul dan hanya memiliki satu teman dekat yang duduk satu meja dengannya, yaitu Gita. Karena hanya Gita satu-satunya yang ia miliki, Viona amat peduli dan sayang padanya. Dia tidak akan tinggal diam dan selalu punya cara yang mengejutkan untuk membalas orang yang membuat Gita sedih.
Karena paras dan juga latar belakangnya yang sama menawannya, Khaidar adalah laki-laki idaman para gadis. Namun ada rumor bahwa ia tidak pernah menerima satu pun perempuan yang mendekatinya, secantik ataupun sebohai apapun dia. Tentu saja Khaidar melakukan itu karena ia tidak ingin ada yang tersakiti karena kutukannya.
Berbagai rumor pun tersebar. Mulai dari Khaidar yang sudah memiliki tunangan hasil perjodohan neneknya sampai jati dirinya yang sebenarnya adalah seorang gay. Meskipun begitu, tidak sedikit gadis yang masih bersikukuh ingin mendapatkan hati seorang Khaidar. Salah satunya adalah Gita, teman dekat yang paling disayang oleh Viona.
Setelah menelan harga diri dan berniat untuk menyatakan perasaannya pada Khaidar, jawaban yang ia dapatkan sama seperti gadis yang lainnya. Ingat, semua yang menyakiti Gita akan berurusan dengan Viona. Dari penolakan itu lah mereka berinteraksi untuk pertama kalinya.
Suatu pagi yang cerah, Khaidar datang pada jam sama seperti yang hari lainnya. Hari itu Viona kedapatan jadwal piket membersihkan kelas dan ia mendapatkan bagian mengepel ruang kelas dan juga koridor. Ia sedang mengepel koridor saat Khaidar datang dan tidak sengaja menyenggol Viona yang berjalan mundur saat mengepel. Tanpa mengatakan apa-apa, Khaidar langsung masuk ke dalam kelas dan duduk seolah tidak terjadi apa-apa.
Kekesalan Viona memuncak dan ia berjalan masuk ke dalam kelas dengan langkah keras, memperingatkan siapapun bahwa ia sedang tidak ramah saat ini. Ia langsung menghampiri Khaidar yang sedang mengeluarkan buku-bukunya. Tanpa mengatakan apapun ia langsung mengangkat ember berisi air kotor bekas membilas alat pel dan menumpahkan begitu saja di atas kepala Khaidar. Semua barang milik Khaidar dan pakaian yang dikenakan olehnya tidak luput dari air kotor tersebut.
“Aku tidak akan meminta maaf karena kau berutang permintaan maaf padaku. Jadi kita impas.” , ujar Viona dan langsung pergi ke luar ruangan, tidak mempedulikan tatapan teman-teman satu kelasnya yang memandangnya bingung, tak percaya.
Sejak saat itu, Khaidar memutuskan untuk menjauhi Viona bagaimana pun caranya. Meskipun mereka sekelas, Khaidar berusaha sebisa mungkin untuk tidak kontak mata ataupun berpapasan dengannya. Begitu juga halnya dengan Viona. Setelah membuat teman dekatnya menangis selama dua malam ditambah lagi hukuman mengepel seluruh koridor kelas selama tiga minggu, Viona bersumpah tidak akan mau berurusan dengan Khaidar lagi.
Namun semesta selalu punya cara untuk mematahkan sumpah manusia. Setelah 10 tahun berlalu, mereka kembali bertemu di tempat yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
“Kau sudah tidak memakai kacamata mu lagi.” , komentar Khaidar dengan senyum kecil agak menyeringai.
Tanpa Khaidar tahu, Viona merasa harga dirinya dikoyak dengan komentar sekaligus senyuman itu.
Seakan ingin menunjukkan bahwa ia masih sama gilanya seperti dulu, Viona meletakkan kedua tangannya ke atas meja dan menatap lurus pada Khaidar, “Dan aku masih bisa mencium aroma pembersih lantai datang bersamamu.”
Khaidar terkekeh sambil memijat pelipisnya, “Wah, sungguh sapaan yang amat ramah. Aku datang bukan untuk mencari masalah denganmu. Kau peracik minuman di sini? Tolong buatkan aku minuman yang akan membuatku lupa dengan semua yang terjadi hari ini dan aku akan bangun besok seolah hari ini tidak pernah datang.”
Viona mundur menarik tangannya dari meja dan mulai meraih sebuah gelas kaca berukuran kecil dan meletakannya tepat di hadapan Khaidar, “Ada apa denganmu? Sepertinya posisimu sebagai orang penting tidak bisa membuatmu bahagia bahkan untuk satu hari saja.”
“Kata-katamu terlalu kejam, nona.” , balas Khaidar melipat satu kakinya ke atas kaki lainnya, “Aku mengharapkan kesenangan di tempat ini dan bukannya ocehan mendengung yang mengganggu.”
“Ha!” , respon Viona mulai merasa kalah, “Maaf, aku tidak bisa membuatmu senang di tempat ini karena itu bukanlah kewajibanku. Silahkan datang lebih malam jika ingin melihat lusinan gadis muda dengan tubuh wanita dewasa untuk menyenangkanmu dan bukannya duduk di sini setelah membuat seorang pekerja melewatkan waktu tidurnya.”
“Aku pikir kau dibayar untuk itu.” , timpal Khaidar, “Jadi kau akan membuatkanku minum atau tidak?”
Mata Viona melirik pada dua pria besar dengan pakaian rapi yang berdiri di dekat pintu masuk dan mendapati mereka sedang melihat ke arahnya. Hal itu membuat Viona harus mengurungkan niatnya yang hendak menyiramkan air ke wajah Khaidar seperti dulu.
Alih-alih menyiramkan air pada wajah Khaidar, Viona meraih gelas kocok tanpa mengalihkan perhatiannya dari Khaidar. Ia mulai menuangkan berbagai jenis minuman, memberikan perasan lemon dan memasukan beberapa es batu, kemudian mengocoknya dengan gerakan khas seorang bartender. Semua itu ia lakukan dengan mata yang tak lepas dari pria di depannya, sibuk mengutuknya dalam hati.
Tatapan mengintimidasi itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Khaidar. Perhatiannya lebih terpusat pada gelas kocoknya. Baginya itu sangat menarik. Seperti mesin ajaib, dimana beberapa cairan dimasukkan kemudian diberi sedikit guncangan, maka akan berubah menjadi bentuk dan rasa yang baru.
Di belakang mereka, Hadrian yang masih menunggu di mobil mendapatkan panggilan dari sekretaris pribadi nenek Khaidar. Panggilan itu berhasil membuat wajahnya jadi pucat pasi lalu bergegas keluar dari dalam mobil sedan. Begitu masuk, ia melihat Khaidar tengah asyik melihat bagaimana minumannya dibuat. Sadar bahwa Khaidar sudah cukup tersiksa dengan kenangan buruk di hari ulang tahunnya, Hadrian mengurungkan niatnya dan sebagai gantinya ia berbisik pada pria besar yang berjaga di dekat pintu.
“Nyonya mendapat serangan jantung. Aku akan pergi ke rumah sakit, kalian jaga Khaidar.” , bisik Hadrian membuat kedua pria besar itu ikut pucat sama seperti dirinya.
“Apa kami harus mengabarinya?” , tanya seorang pria dengan wajah bulat.
Hadrian menatap punggung Khaidar lama, “Tidak perlu. Biar aku yang bicara padanya.”
Pria besar itu saling menatap dan mengangguk bersamaan, “Kami mengerti.” , dan Hadrian pun pergi.
“Silahkan.” , Viona menggeser gelas berisi minuman ke arah Khaidar.
Mata Khaidar bergerak mengikuti gerakan gelas yang berhenti beberapa senti di depannya, “Mau minum bersamaku?” , katanya seraya mengangkat kepala, menatap ke arah Viona.