“Den … lo tahu nggak kenapa kutang itu digantung? Nggak dilipat?”
“Sebab kalau dilipat bukan kutang namanya, dan masangnya juga digantung di badan.”
“Lo salah. Kalau dilipat bukan kutang namanya. Makanya nggak ada orang yang bilang LIPAT KUTANG, pasti mereka bilang GANTUNG KUTANG.”
Deno yang sejak tadi meladeni pelesetan kosong yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan percakapan mereka sekarang ini.
“Lo masih waras kan, Ra? Kok, lo ngomongnya ngelantur gini sih? Bukanya sekarang lo mau curhat ama gua? Lo udah janji loh di sekolah tadi. Makanya gua izinin lo nginap di Kos gua.”
“Itulah yang akan gua omongin, Den. Hidup gua kayak kutang itu … GANTUNG. Semua terlihat tak pasti, nggak jelas. Dibilang anak baik-baik … bukan. Disebut pelacur … juga bukan. Pagi sepulang sekolah gua harus melayani kakak gua. Malamnya gua harus melayani ayah tiri gua. Miris kan? Itulah kenapa gua bilang hidup gua persis seperti kutang gantung itu.”
“Serius lo, Ra? Terus lo diam aja gitu? Kenapa lo nggak cerita ke nyokap lo?” Deno menatap heran dan kejut ke arah Dara yang duduk di sampingnya.
“Gua diancam, Den. Baik kak Ardi maupun ayah gua, mereka ngancem gua bakalan bunuh ibu gua kalau gua buka mulut.”
“Astaga, Dara! Mereka ngancem lo kalau buka mulut. Lah mereka sendiri, enak-enakkan buka mulut bawah lo, gila! Terus hubungannya dengan kutang yang digantung apa? Lo nggak bisa disamain dengan kutang, Ra. Lo itu ibarat kata, tanaman anggrek yang cantik, berharga.”
“Lo lupa ya? Pernah lihat bentuk kutang nggak sih lo? Dua gelembung yang menonjol itu begitu menggoda. Dan gua yakin sejuta persen, setiap mata yang melihat dua gelembung itu langsung menerbitkan pikiran kotor alias mesum. Terlepas dari, tuh kutang terbuat dari sutera kek, sifon kek, atau apalah. Yang jelas bukan bahannya yang menggiurkan tetapi tonjolan yang dua itu yang menggiurkan. Nah … gua ibarat kata seperti itu. Gua ini dua tonjolan yang menggiurkan buat kakak dan ayah tiri gua. Terlepas gua ini anak atau saudara mereka.”
“Jadi … lo mau curhat ke gua soal lo sama dengan kutang itu yang nasibnya digantung ama ayah dan kakak tiri lo itu, Ra? Okay … gua kasih lo solusi. Dan hanya ini yang tercetus di dalam otak jenius gua.”
“Apa?”
“Turun, jangan mau digantung lagi. Lo harus dipakai sampai kiamat. Artinya, mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Dan kuncinya adalah di diri lo, ngerti?!” unggah Deno dengan nada suara yang sumbang.
Malam ini Dara memaksa menginap di kos-kosan milik Deno. Lelaki ganteng dan humoris. Bersama Deno, Dara merasa bahagia menjalani hari-hari sekolahnya meski di tengah impitan ekonomi keluarga. Lelaki itu kerap memberinya semangat dan tidak tanggung-tanggung memberinya bantuan. Deno termasuk pelindung bagi Dara. Siapapun yang mengganggu Dara, Deno akan memasang badan melindungi gadis itu. Tapi satu kelemahan lelaki itu … dia tulalit alias Oon.
Dara memutuskan untuk menginap di Kos-kosan Deno setelah melakukan banyak pertimbangan. Dia lelah, lelah digilir terus oleh kakak dan ayahnya. Teringat bagaimana Dara pertama kali ditiduri oleh Ardi, membuat gadis itu tak elak sering menitikkan air mata.
“Awas kalau lo berani mengadu sama ibu, gua akan bunuh ibu lo atau gua akan fitnah lo kalau lo yang pertama kali menggoda gua. Lo belum tahu, ya? Bokap gua sangat percaya dan sayang sama gua. Lo mau bokap gua nyakitin ibu lo,” ancaman Ardi setelah selesai meniduri Dara pada pagi menjelang siang itu.
Saat itu, tidak ada satu orang pun yang berada di rumah. Kecuali Dara dan Ardi. Mirna, ibu kandung Dara sedang bekerja di kantor. Herman, ayah tiri Dara bekerja di perusahaan milik Mirna pasca menikahi perempuan itu.
Suasana sepi itu akhirnya dimanfaatkan oleh Ardi untuk menggauli Dara. Pasalnya sejak ibu kandung Dara memperkenalkan mereka waktu itu, saat itulah Ardi memiliki ketertarikan yang lain terhadap Dara. Dan sejak saat itu, Ardi mencari-cari kesempatan agar bisa menyetubuhi gadis itu.
“Kak Ardi! Lepas! Lepaskan Dara, Kak!”
“Ngengkang! Ngengkang gua bilang!” Ardi terus berusaha membukan dua kaki milik Dara yang sudah bergelatah. Kecepatan tangan Ardi beradu cepat dengan gerakan pemberontakan tubuh Dara.
Pakaian Dara sudah tidak serapi beberapa saat lalu. Sedang Ardi yang sudah mengapit tubuh Dara bergerak cepat melepaskan pakaian miliknya.
“Agh, dasar cewek bandel!” geramnya kembali pada Dara. Tidak ingin kehilangan mangsa, Ardi tak mengubris sisa baju yang sudah setengah berantakan di tubuh Dara.
Serangan fokusnya tertuju pada benda yang sudah menampakkan diri di balik rok Dara. Tidak mengulur waktu, Ardi mendaratkan serangannya. Suara erangan yang tertahan pun mulai melengking dari Dara.
“Awas kalau lo teriak!” ancamnya lagi.
Ardi cepat-cepat menyelesaikan kegiatannya pada Dara. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Sebentar lagi Mirna akan pulang dari pasar. Dara meringkuk sambil memeluki tubuh polosnya itu. Senyum sinis menyumbang dari bibir Ardi karena lelaki itu sudah merasa puas mendapatkan tubuh Dara.
Warna bercak merak itu menempel begitu saja di atas seperai. Ardi mengusap puncak kepala Dara dan mengecupnya.
“Besok lagi, Dara sayang. Mmmuahh!” seperti tidak melakukan sebuah kesalahan, Ardi meninggalkan kamar Dara begitu saja dengan tawa senangnya.
Dara segera berlari ke dalam kamar mandi. Ia menenggelamkan diri dan merendam diri di bawah guyuran air shower. Ia berharap air-air itu bisa membersihkan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Ardi pada permukaan kulitnya. Jijik, kotor, hina, malu, dan sedih bercampur menyelimuti perasaan Dara.
“Ihh! Ih! Ih!” jerit Dara mengusap kasar tubuhnya. Tak lama tangisnya menumpah lagi dalam guyuran air shower.
Dara masih tenggelam dalam ratapan hatinya. Bahkan tidak menyadari kepulangan sang ibu. Hingga suara wanita itu sudah menderu di balik pintu kamar mandi.
“Dara dara! Kamu di dalam, Nak?!” pekik Mirna mengetuk pintu kamar mandi. Dara terkesiap. Buru-buru ia membersihkan diri sembari menyahuti panggilan sang ibu.
“Eh, iya bu! Bentar! Bentar lagi Dara selesai!” sahut Dara.
“Ya sudah. buruan mandi. Ibu belikan soto lamongan buat kamu.”
Soto lamongan, makanan kesukaan Dara dan selalu dibawakan Mirna apabila wanita itu pulang dari pasar. Tetapi sekarang, makanan itu tidak menggiurkan hati Dara. Hanya tangisan dan isakan bercampur dengan nada kebencian.
Mirna membersihkan diri di dalam kamarnya. seperti yang biasa ia lakoni. Setelah itu ia harus berjibaku di dapur untuk menyiapkan menu makan malam bagi sang suami barunya, Herman yang tak lain ayah kandung Ardi.
“Kamu kenapa lesu gitu, Ra?” suara Mirna menyapa sang putri yang berjalan ke arah meja makan untuk menyantap soto lamongan yang sudah dibelikannya.
Sepeninggal Haris, ia meninggalkan sebuah anak perusahaan dan beberapa aset kekayaan lainnya. Beruntung Mirna adalah mantan pembisnis kecil-kecilan. Setidaknya, walau demikian dia memiliki sedikit pengalaman dalam mengurus perusahaan pabrik Tupperware yang ditinggalkan Haris.
Sambil menjadi single parent bagi putrinya, Dara. Mirna mengurus perusahaan suaminya. Pernikahan dengan Farhan, satu bulan yang lalu, masih membekas dalam ingatan Mirna. Pernikahan yang penuh siksa itu, harus diakhiri meski hanya berlangsung satu bulan. Itulah pernikahan terkilat sepanjang hidup Mirna.
Untungnya ada Herman yang selalu menyemangati dan mendampingi Mirna saat menjalani masa-masa sulit melewati perceraian dengan Farhan.
“Terima kasih ya, Mas. Selama ini kamu sudah banyak membantuku dalam mengurus perceraianku dengan si berengsek itu,” kata Mirna suatu ketika.
“Nggak apa-apa. Aku malah cemas sama anak kamu. Takutnya dia trauma,” balas Herman yang menunjukkan sikap simpatinya pada keluarga Miran sehari setelah sidah putusan cerai antara Mirna dan Farhan. Mirna merasa tersentuh dengan kalimat Herman yang sangat mencemaskan putrinya. Sangat jarang seorang lelaki yang begitu peduli dengan anak wanita lain dari hubungan yang lain.
“Dara nggak apa-apa kok, Mas. Dia Alhamdulillah cukup tegar menghadapi masalah ini.” tepat saat kalimat Mirna usai, suara pintu kamar lantai atas terdengar. Ada Dara yang berjalan menuruni anak tangga menghampiri kedua orang dewasa itu. mata Herman tertuju pada Dara berusia delapan belas tahun tersebut.
“Gimana keadaan kamu, Ra? Apa kamu sudah lebih baik?” tanya Herman yang langsung berdiri menyambut kedatangan Dara. Gadis itu hanya diam. Dia hanya mengangguk menjawabi Herman. Dara tak perduli dengan keberadaan Herman, ia langsung menuju ibunya dan merangkul wanita itu.
“Maafkan Ibu, Ra. Ibu sudah memilih lelaki yang salah. Dan membuat kita harus menderita seperti ini.”
“Nggak apa-apa, Bu. Setidaknya hidup kita sudah aman dan tenang sekarang. Ibu dan aku tidak perlu lagi menerima pukulan atau tamparan lagi,” lirih Dara.
Memang pernikahan Farhan dan Mirna penuh dengan kekerasan. Setelah menikah, sifat asli Farhan muncul. Ia kerap pulang dengan wanita lain dan selalu melakukan kekerasan pada Mirna. Hampir semua uang Mirna ia gunakan berpoya-poya.
Pada suatu ketika, Mirna yang ditemukan Herman dengan luka lebam di sudut bibirnya dan sedang menangis di dalam ruang kerja. Saat itu Herman hendak mengantarkan laporan produksi bulan ini.
“Bu Mirna …! Astagfirullah! Ibu kenapa?” tanya Herman panik.
“Agh, tidak apa-apa pak Herman. Saya hanya kejedok pintu saja tadi pagi,” bohong Mirna menyembunyikan lukanya dengan telapak tangan. Mirna tak berani menatap Herman. Namun terlambat, mata Herman sudah menangkap beberapa luka memar juga di beberapa tubuh Mirna. Sejak saat itu, Herman tersentuh untuk membantu wanita itu. dan sejak itu pula, hubungan antara Mirna dan Herman bukan lagi antara atasan dan bawahan, melainkan sudah menjadi seorang teman curhat.
“Kamu harus menggugat Farhan, Mirna. Saya ada kenalan seorang pengacara. Dia pasti mau membantumu, Mir.” Perbincangan antara Herman dan Mirna suatu ketika.
“Tapi, Mas. Farhan itu nekad. Dia gila. Dia bisa melakukan apa saja demi keinginannya. Apalagi kalau dia sedang marah. Aku nggak mau anakku satu-satunya menjadi korban.”
“Anakmu akan aman-aman saja. Anakku, Ardi. Akan membantunya. Dahlah, kamu tenang aja. Yang penting kamu harus berani. Aku ada di sampingmu, dukung kamu,” ucap Herman yang menggenggam erat tangan Mirna.
Sejak itulah, Dara dan Mirna begitu percaya pada Herman dan putranya Ardi. Sejak kedekatan Herman dan Mirna, kedua anak mereka pun sudah berkenalan. Sejak mengurus perceraian Mirna dan Farhan, Dara dan Ardi kerap bertemu. Namun tentunya sebagai calon saudara sambung.
Lepas dari Farhan, Mirna menerima cinta Herman. Kedekatan mereka berujung pada timbulnya rasa cinta. Namun Mirna tak mau seluruh karyawan membicarakan hubungan mereka. Alih-alih ingin menyerahkan laporan, nyatanya Herman dan Mirna sengaja bertemu untuk berduaan.
“Jangan di sini, Mas. Ini kantor,” lirih Mirna yang sudah berusaha menahan pelukan Herman yang mengganas.
“Agh, aku sudah tidak tahan lagi, Mir. Kamu sudah membuatku ingin terus sejak pertama cium kamu dan kita … malam itu,” goda Herman. Suara keduanya tak begitu terdengar. Hanya nada pelan namun penuh dengan birahi.
Tangan Herman sudah menjelajah sisi tubuh Mirna. Mengacak pakaian wanita itu dan mulai menyusup mencari benda ternikmatnya.
“Mas … ah,”
Mirna mulai mendesah, ketika tangan liar Herman begitu lincahnya menyusup masuk ke dalam rok pakaian kerja Mirna. Kursi tamu ruang kerja Mirna sudah berubah fungsi menjadi tempat keduanya menyalurkan gairah panas yang sudah memanggil.
“Ah Mas … aku sudah tidak tahan lagi,” desah Mirna semakin menjadi ketika Herman berhasil membuat area itu basah.
“Kau mulai basah, sayang.” Herman mulai cepat-cepat membuka celana Jeansnya. Benda keras itu sudah mengatur posisi terbaiknya di balik celana dalam Herman. Seakan sudah tak sabar ingin bermanja di dalam sana. Mata Mirna bisa melihatnya dengan jelas kali ini. Ini pertama kalinya mereka bercinta. Dan Herman berhasil menggoda Mirna agar menyerahkan tubuhnya pada dirinya.
“Besar, Mas,” lirih Mirna menemukan benda tumpul itu.
“Aku yakin, kamu pasti menyukainya, Mirna sayang.”
“Tapi jangan lama-lama ya, aku takut Santi akan masuk kemari.”
“Udah, ini jam istirahat. Pintu juga sudah aku kunci,” ucap Herman yang buru-buru mengatur posisi di antara selangkang kaki Mirna yang sudah membuka apik.
Setelah ciuman yang diberikan Mirna. Kini Herman meminta lebih dari hubungan yang baru satu bulan berjalan itu. sebuah hubungan biologis yang selalu menjadi penghantar pertemuan mereka. anehnya, Mirna sama sekali tak protes. Sepertinya wanita itu pun membutuhkan kehangatan setelah lepas dari siksaan Farhan.
Herman telah memberinya kelembutan sentuhan. Tidak hanya itu, selama ini Hermanlah yang sudah membantunya melewati masa sulit menghadapi biduk rumah tangga penuh kekerasan itu. Herman juga yang membantu Dara bangkit dari traumanya.
Semua kebaikan Herman, sudah menorehkan kesan baik di hati Mirna. Sehingga wanita itu tidak berpikir dua kali ketika Herman mengatakan cinta padanya dan meminta hubungan lebih seperti sekarang ini.
Milik MIrna berdenyut hebat, ketiak benda itu menusuk-nusuk tubuhnya. matanya merem-melek menikmati gesekan cepat yang diberikan Herman. Sudah tiga kali Mirna berhasil orgasme oleh perbuatan Herman.
“Ah, Mas. Enak sekali.”
“Aku juga keenakan, sayang. Bagaimana kalau nanti sepulang kerja kita ke hotel? Di sini aku belum puas, Mirna sayang.”
“Benarkah? Baiklah, aku pun belum puas, Mas.”
Keduanya semakin memburu. Peluh yang sudah mulai membasahi pakaian mereka kini semakin terlihat saja. Pada hentakkan keras yan diberikan Herman, Mirna dan Herman menggeram nikmat. Dan menempelkan dua milik mereka yang sama-sama berdenyut.”
“Aahhh,” lega keduanya.
Melihat hubungan Mirna dan Herman berjalan sangat baik, hati Dara merasa tenang. Sejak mengenal Herman pun, lelaki itu selalu menunjukkan sikap hangat layaknya seorang ayah.
“Ra, Ibu ingin menikah lagi. Apakah boleh sayang?” suara Mirna pada suatu malam. Dara memang sudah mengetahui hubungan antara ibunya dengan Herman. Dan selama itu pula Herman menunjukkan sikap yang baik layaknya seorang ayah. Ditambah rumor yang beredar, Herman memiliki seorang anak laki-laki yang sedang mengecam pendidikan di salah satu universitas.
“Apakah dengan om Herman, Bu?” sidik Dara dengan suara dipelankan. Mirna mengangguk.
“Selama ibu bahagia, Dara restui. Yang terpenting ibu bahagia. jangan kayak pernikahan ibu dengan om Farhan. Suka main kasar.” Kalimat Dara mengingatkan Mirna pada pernikahan kedua yang kilat dengan lelaki tempramen bernama Farhan.
Mirna sangat bahagia mendengar izin dari sang putri. Ia dan Herman pun segera melangsungkan pernikahan. Selepas menikah, Herman dan Ardi memilih tinggal menetap di rumah besar Mirna. Tidak ada yang tahu jika ayah dan anak itu sebenarnya tak jauh berbeda dengan bajingan lainnya.
“Rumahku terlalu besar, Mas. Kamu dan Ardi saja yang ikut tinggal di sini. Biar ramai,” kata Mirna saat itu. Ardi dan Herman sangat bahagia. siapa yang tak bahagia, tiba-tiba menjadi seorang konglomerat dan tinggal di rumah mewah.
Bekerja sebagai mandor pabrik, adalah posisi yang sangat rendah di mata Herman. Namun berkat kelihaiannya mengambil hati Mirna, dari seorang mandor pabrik kini berpindah menjadi manager personalia. Atau lebih tepatnya suami pemimpin perusahaan.
“Aku belum bisa memberi posisi jabatan sebagai CEO, Mas. Tetapi aku akan meminta Santi untuk mengajarmu pelan-pelan ya. Kalau sudah bisa nanti toh, kamu yang akan menggantikan aku di sini.” Kalimat Mirna kali ini membuat kepala Herman semakin melayang-layang bahagia.
“Ouh, terima kasih sayang. Aku semakin sayang sama kamu. Dan aku janji akan menjaga kepercayaan yang kau berikan kepadaku,” ucap Herman memeluk Mirna di depan seluruh karyawan.
Tatapan iri menampil dari beberapa orang yang kurang menyukai sosok Herman. Bagaimana tidak, sejak pernikahan keduanya, Mirna dan Herman tak malu-malu lagi memamerkan kemesraan mereka di depan umum.
“Norak,” komentar salah satau karyawan selepas Mirna mengumumkan posisi Herman yang baru dalam perusahaan.
Mendaki piramida kesuksesan melalui pernikahan, adalah salah satu trik dari Herman. Dan lihat hasilnya, tidak sia-sia. Begitu mendapat status suami-istri, Herman juga mendapat posisi teratas sebagai manager personalia. Lagat Herman langsung berubah derastis. Sedikit terlihat angkuh. Ia semakin mengangkat wajah pada karyawan-karyawan lainnya.
“Yang tidak mematuhi perintahku, akan ku pecat! Mengerti?!” hentaknya pada beberapa bawahannya. Mereka hanya menunduk takut dan mengiyakan saja. Dan yang pastinya, mereka tidak ingin mencari masalah atau berurusan dengan lelaki itu.
“Kamu! Kemari!” panggilnya pada Dira, salah seorang staf personalia yang termuda.
“Yang lainnya silahkan keluar. Dan kerjakan pekerjaan kalian.” Unggah Herman. Seluruh karyawan pun menurut. Hanya Dira yang masih tinggal di dalam ruang itu.
Atmosfer berbeda sangat terasa dalam ruangan itu. Dira menunduk takut. Tatapan Herman terlihat penuh mesum kepadanya. Didekatinya gadis yang berdiri dengan tubuh gemetar itu. kemudian tangannya mulai meraba tubuh Dira dari ujung atas hingga pinggang. Bahkan memijat bagian terempuk di sana.
“Kalau kamu mau saya kasih upah lebih, kamu harus menemani saya, bagaimana?”
“T … Tapi, Pak. Bagaimana kalau Ibu Mirna tahu? Dan seisi perusahaan ini?” ucap Dira takut-takut.
“Tenang saja. Selama mulut kamu ini bungkam, semua tidak akan tahu termasuk istri saya. Saya akan menyimpan rahasiamu, sama seperti kau menyembunyikan identitas ibumu yang seorang pelacur.”
DEGH.
Sontak Dira terkejut mendengar ternyata Herman sudah mengetahui latar belakang keluarganya. Mau tidak mau, Dira pun harus menuruti kemauan lelaki itu. herman menunjuk Dira sebagai sekretarisnya, agar ia bisa dengan leluasa menjamah tubuh gadis itu kapanpun ia inginkan.
Lain Herman, lain pula dengan kemesuman anaknya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Rasanya pribahasa itu sangat tepat untuk menggambarkan sisi Ardi dan ayahnya, Herman.
Hari ini Dara tidak masuk sekolah. Sebab. Dua hari lagi ia akan menghadapi ujian akhir. Jadi sekolah memberinya waktu luang di rumah untuk mempersiapkan diri. Ardi pun tidak masuk kuliah hari ini.
Suasana rumah terasa sepi hari itu. hanya Ardi dan Dara yang beraktivitas di rumah tersebut. Mirna dan Herman sedang berada di kantor. Sementara di rumah Mirna memang tidak menggunakan jasa layanan pembantu, mengingat Dara sudah besar dan bisa masak sendiri.
Suasana sepi itu digunakan Ardi untuk melaksanakan niatnya yang selama ini terpendam pada Dara.
“Bisa datang ke kamar gua nggak, sekarang?” isi pesan singkat yang dikirim Ardi melalui ponsel Dara.
Kening gadis belia itu merengut. Tak biasanya kakak lelakinya itu memanggilnya ke kamar. Tapi panggilan tetaplah panggilan yang harus dipenuhi.
Suara pintu kamar terbuka, wajah tampan Ardi menolah ke arah tubuh yang sudah berdiri di ambang pintu itu.
“Lo nggak sekolah? Kenapa?” tanyanya pada jarak yang renggang.
“Libur tenang, Kak. Lusa mau ujian akhir.”
“Ouh … umur lo berapa?” tanya Ardi lagi.
“Se … mbilan belas, kak. Kenapa?”
“Sini lo!” Ardi mengibaskan tangannya meminta Dara mendekat. Tidak ada rasa curiga yang dirasakan oleh gadis itu. ia berjalan masuk begitu saja dan berdiri tepat di depan Ardi.
“Duduk!” titah Ardi menepuk sisi tubuhnya. Dara menurut dan meletakkan tubuhnya di sisi Ardi.
Tanpa aba-aba yang jelas, tangan Ardi langsung mendorong tubuh Dara terempas ke atas kasur. Dara terkejut. Ia pun mulai memberontak untuk melepaskan diri. Namun terlambat, kekuatan Ardi saat ini melebihi dirinya.
Dara hancur, warna bercak merah itu menandakan kemenangan bagi Ardi karena telah berahsil merenggut mahkota berharga Dara.
“Awas kalau lo berani-berani mengadu. Gua nggak akan segan-segan bikin hidup nyokap lo hancur.”
Sejak ancaman itu mendengung, Dara tak bisa berbuat apa-apa lagi selain diam, dan meratapi kesedihannya. Hingga malam menjemput, seusai makan malam, Dara memilih langsung memasuki kamarnya.
Percintaan Herman dengan Dira rasanya belumlah memuaskannya. Pasalnya, bercinta dengan gadis itu hanyalah sebentar, sebab Mirna lagi-lagi mengganggu kesenangannya itu.
“Mas, kamu di mana? kita nggak pulang bareng?” suara Mirna yang menderu melalui telpon saat Herman dan Dira sedang berada di hotel. Dia baru saja usai dari kegiatan panasnya denga Dira yang sedang mengancing kemejanya.
“Iya, aku akan pulang, tapi agak telat. Aku ada urusan mendadak sedikit nih,” alasan Herman.
“Oh, ya udah. Kita ketemu di rumah ya, Mas.”
“Iya, sayang.”
Ketidak puasan ini membawa Herman untuk melampiaskan sakit hati sekaligus gairahnya pada Dara. Entah kenapa, sejak ia menikah dengan Mirna, ia merasa kurang tertarik lagi bercinta dengan wanita itu. Dan lebih memilih bercinta dengan yang lain saja meskipun itu anak tirinya.
“Ayah! Ayah! Jangan ayah!” ronta Dara di tengah mulutnya yang dibekap oleh Herman malam itu.
“Diam! Jangan teriak! Layani aku sekarang!” paksa Herman.