Bab 1

Malam ini, di salah satu sudut jalanan kota metropolitan Surabaya yang gemerlap oleh lampu jalan, Ode sedang berdiri di trotoar bersama sahabat dekatnya, Dido.

Ode, kita pulang saja, sudah cukup ngamennya,” ajak Dido sambil menyeka keringat di dahinya. Ia juga sudah mulai merasakan haus dan kehabisan air minum, belum sempat membelinya lagi. Terpaksa hanya ditahan saja dan berkali-kali coba menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya. Sedangkan keringat masih terus membasahi kening, bahkan badannya.

Dido menyeka lagi keringatnya. Tubuhnya kurus, tinggi badan hanya seratus enam puluh sembilan sentimeter, warna kulitnya sawo matang, rambut agak kribo brekele dan bicaranya selalu medhok Surabaya. Kadang juga jika bicara sering bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa jawa.

Pakaian khas yang sedang digunakan Dido berupa baju kemeja lengan panjang aneka motif warna, agak press body, dan berpadu dengan celana kain warna krem disertai sepatu pantofel warna hitam mengkilap. Model celananya agak sempit di paha tapi ukuran dari betis hingga kaki makin lebar.

Kegemarannya pada baju model tersebut mulai muncul sejak masuk SMA, ketika pertama kali melihat sebuah tayangan di televisi yang menampilkan konser grup band papan atas yang cukup populer di tanah air sejak era tahun 70-an. Dari situlah ia mengidolakan dan terobsesi meniru gaya berpakaian grup band ternama. Baju model idolanya itu dianggap sebagai baju kebesaran ketika akan bepergian, termasuk juga selalu dipakai saat ke kampus. Meskipun model baju seperti itu sudah lewat masanya, sudah sangat jarang orang yang pakai, tapi Dido tetap menyukainya.

Di kampus hanya Dido saja yang masih memakai baju dengan model dan motif aneka warna seperti itu. Ada dua hal yang ia dapat dari gaya berpakaiannya di kampus. Pertama, ia jadi tampil beda sendiri meski dianggap aneh oleh kebanyakan mahasiswa. Kedua, dengan gaya pakaian itu telah membuatnya mudah dikenali karena hanya ia seorang yang pakai. Gaya yang sama setiap hari dan jadi ciri khasnya.

Di kos juga sama pakaiannya, seperti pakaian bertamu, rapi. Padahal ia hanya duduk santai di kursi bawah pohon depan rumah kos, nongkrong ngobrol bersama teman satu kos yang kadang hanya pakai singlet dan sarungan tanpa celana pendek. Jika sedang sial, kadang kala ada semut pohon yang nyasar sampai ke dalam sarung dan menggigit hingga bikin panik.

Sejenak Ode memandangi Dido yang mukanya tampak mulai lelah, mata mengantuk. Gitar bututnya telah ia gantungkan di pundak. Berbeda dengan penampilan Dido, pakaian yang dikenakan Ode hanyalah kaos oblong leher bundar warna hitam bertuliskan: “Kurir Cinta”. Berpadu dengan celana jeans biru tua yang kedua lututnya sudah sedikit sobek-sobek. Ciri khas kebanyakan mahasiswa pada umumnya.

“Jadi serius nih, ngamen malam ini cukup?” Ode kembali memastikan.

Dido hanya mengangguk dan sempat menguap.

Melihat kondisi Dido, Ode hanya menggeleng kepala sejenak. Ia maklum dengan apa yang dialami sahabat dekatnya.

Tanpa bicara lagi, tangan kanan Ode yang tidak memegang biola bergerak meraih sebuah kantong permen dari genggaman Dido yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya. Kantong bungkus permen itu berisi uang receh hasil mengamen mereka di beberapa warung kaki lima tepi trotoar, dekat kawasan kampus.

"Lumayan hasil untuk malam ini” pikir Ode. Dengan sedikit bantuan sinar penerangan lampu jalan, tampak di dalam kantong besar pembungkus permen ada beberapa uang koin lima ratusan, uang kertas seribu rupiah, tapi ada juga uang koin seratusan.

Sebenarnya tujuan utama mereka mengamen, begitu juga dengan kebanyakan mahasiswa lainnya yang suka ngamen, bukan untuk mencari uang. Tapi lebih kepada mengasah mental, mengikis rasa malu. Di benak Ode, kalau pun masih ada rasa malu saat mengamen, itu masih mending dan lebih baik, asalkan tidak bikin malu alias malu-maluin.

Ode bergegas memasukkan biola ke dalam tas kopernya, lalu disampirkan kembali di pundaknya. Mereka berdua kembali berjalan menyusuri trotoar lebar untuk pulang ke kos.

Baru beberapa langkah, Dido menguap lagi. Ode heran, karena Dido tidak seperti biasanya yang setiap malam kuat begadang. Tapi malam ini Dido sudah tidak tahan kantuk. Beberapa kali ia sempat memejamkan mata sejenak sambil tetap berjalan. Tidak peduli dengan ramainya suara hilir mudik kendaraan. Hampir saja ia tersandung di trotoar dan jatuh masuk got jika tidak spontan tangannya ditahan oleh Ode.

Dengan kondisinya yang seperti itu, Ode memang setuju untuk pulang. Itu lebih baik, keputusan yang tepat. Apabila Dido dipaksa untuk tetap lanjut mengamen, suaranya pasti akan terdengar aneh seperti kaset pita kusut atau kepingan VCD yang tergores, akibat menyanyi sambil sesekali menguap. Jika sudah seperti itu suaranya, akan sangat mungkin bukan lagi uang receh yang mereka dapat, melainkan pemberhentian tidak terhormat. Bahkan yang lebih buruk dari itu adalah mendapatkan amarah, umpatan dan diusir para pendengar.

"Uwes ta. Cukup! Masih lebih bagus nyanyian burung Beo aku daripada nyanyianmu.!” Ingatan tentang ucapan lantang bernada protes dari seorang bapak tua beruban yang beberapa bulan lalu pernah mereka dengar di sebuah warung kaki lima kembali terngiang di benak Ode.

"Apaaa? Masih lebih bagus suara burung beo daripada suara kami, manusia?” protes Ode dalam hati ketika mendengar ocehan bapak tua itu. Ode dan Dido spontan berhenti mendadak sambil ternganga melihat bapak tua tersebut.

Tetapi, belum juga sempat Ode dan Dido berpikir lebih jauh, mereka berdua kembali dikejutkan dengan reaksi dari orang lain yang ada di warung makan kaki lima tersebut. Ode dan Dido spontan beralih melihat ke tempat duduk pengunjung lainnya. Tampaklah beberapa gadis mahasiswi langsung berhenti makan setelah mendengar ocehan Bapak tua beruban. Mereka semua bersamaan menoleh sejenak pada Ode dan Dido dengan ekspresi datar tanpa senyum. Tapi beberapa detik kemudian tawa mereka pecah terbahak-bahak, meski susah payah ditahan.

Oh Tuhan, malunya minta ampun. Muka Ode jadi berubah merah bagaikan udang rebus karena tak kuasa menyembunyikan rasa malu. Sedangkan Dido, ia hanya tersenyum nyengir memerhatikan gadis mahasiswi cantik tersebut.

"Ayo, mau berhenti nyanyi apa nggak? Cari tempat lain saja.” lanjut bapak tua beruban itu tanpa basa basi, tanpa senyum.

Ode dan Dido saling pandang dan, bahkan sempat saling senggol kaki. Dido yang sudah dapat kode dari Ode masih coba tetap memetik gitarnya dan berusaha tegar di tengah rasa malu.

"Kalau ndak berhenti, apa mau saya ambilkan burung beo-nya biar saingan nyanyi dan dengerin bagusan siapa? Kalau perlu nanti biar beo ngajarin nyanyi yang bagus, mau gitu?” lanjutnya lagi dengan sedikit nada penekanan dan raut muka yang terlihat seperti kesal.

Sekejap senyum Dido hilang dan kembali saling pandang dengan Ode.

Semua menunggu apakah Ode dan Dido masih akan tetap lanjut menyanyi meskipun telah kena serangan mental? Menunggu apa reaksi dan keputusan yang akan diambil Dido dan Ode.

۞ ۞ ۞

Bab 2

Keputusan telah diambil oleh Dido dan Ode. Mereka akhirnya berhenti bernyanyi, tidak diteruskan lagi dan pergi meninggalkan warung kaki lima, terutama meninggalkan bapak tua beruban yang tidak memiliki rasa hormat sedikitpun kepada seniman jalanan.

"Kelewatan tuh bapak tua, masa kita diadu dengan suara burung beonya?” gerutu Dido masih kesal dan tidak terima. Ia tidak menduga kenapa bisa bertemu dengan orang yang sama sekali tidak punya rasa menghargai atas sebuah karya seni, walau mungkin karya seni tersebut biasa saja atau bahkan tidak enak didengar.

"Kalau dia tadi ndak suka suaraku, nyanyianku, lebih baik dia tutup telinga saja, daripada bandingkan dengan burung beonya. Sakit hatiku!" keluh Dido masih kesal.

"Ya lebih bagus dia bilang gitu Do, daripada tutup telinga, malah lebih menyakitkan lagi," sahut Ode masih coba tenangkan Dido sekaligus menghibur dirinya. Bagaimana pun, ia juga merasakan kesal dan malu atas sikap bapak tua tersebut.

Di awal mula mengamen justru mendapatkan hal tidak menyenangkan. Tapi akhirnya Ode sadari dan anggap sebagai hal biasa untuk menguji mental. Malam itu mereka mengalah dan berusaha tidak ambil hati atas perlakuan tidak menyenangkan.

Malam ini, sudah kesekian puluh kalinya mereka mengamen. Justru peristiwa pertama mengamen dan dapat insiden tidak mengenakan membuat mental mereka kuat dan tahan banting. Tidak ada lagi rasa malu sedikitpun.

Sekitar dua puluh meter Ode dan Dido melangkah, tibalah di sebuah perempatan lampu merah. Beberapa kendaraan sedang berhenti, mobil dan motor masih ramai menunggu antrian untuk lampu hijau.

Hilir mudik kendaraan dari arah lain yang mendapat giliran untuk jalan tidak luput dari pandangan Ode. Lalu lintas malam ini sangat ramai. Tidak heran, untuk kota sebesar Surabaya, pemandangan ramai seperti malam ini menjadi hal yang biasa.

Ketika sedang asyik memperhatikan keramaian kendaraan, tiba-tiba samar terdengar suara orang, tidak jauh dari tempat Ode dan Dido berdiri.

Ode menoleh ke arah datangnya suara. Tampaklah seseorang yang dari cara penampilan dan dandanannya terlihat berbeda. Dido juga sempat menoleh dan memperhatikan orang itu.

"Permisi kakaaa ...” ucapnya dengan nada lembut pada seorang supir mobil pribadi yang kacanya terbuka. Bapak supir itu cuma menoleh sejenak, cuek.

Tetapi, pria yang mencoba menunjukkan gerak geriknya seperti gerakan gemulai wanita, tanpa malu langsung beraksi. Ia membunyikan alat musik gemericik kumpulan penutup botol, berusaha melakukan improviasi nada pembuka disertai goyangan badan sedikit meliuk-liuk.

"Anggur meraaahh ...” mulai terdengar suaranya yang berusaha dilembutkan meskipun tetap terdengar bass. Satu kalimat lirik lagu dari salah satu lagu dangdut telah mulai ia nyanyikan.

Baru dua kata yang ia ucapkan, tiba-tiba ...

"Eeeeehh ... sudah hijaaauu,” lanjutnya lagi sambil menahan tawa, geli sendiri. Gerak gemulai dan suaranya terhenti. Pria itu tidak lagi membunyikan gemerincingnya karena baru menyadari kalau lampu merah telah berganti jadi lampu hijau.

Bapak Sopir itu tertawa, tapi ia mulai bersiap memajukan mobil yang dikemudinya, untuk bergerak bersama kendaraan lain. Sedangkan waria itu tidak lagi melanjutkan nyanyiannya.

"Kakaaa ... duitnya mana? Kan udah nyanyi,” jelasnya percaya diri, berusaha merayu sambil menyodorkan telapak tangannya.

"Ndak ada duit kecil,” sahut Bapak sopir sekenanya.

"Duit besar juga boleh, ada kembaliannya kok,” jawabnya, agak genit. Tapi bapak Sopir itu terus cuek dan kendaraannya mulai melaju.

Dido yang sebelumnya terlihat sangat mengantuk, tiba-tiba seperti orang kesetanan. Tanpa angin tanpa hujan, ia langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan ia tertawa hingga matanya sempat terpejam, tidak kuasa menahan tawa setelah mendengar sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan pria itu. Termasuk juga tertawa karena melihat pria yang berdandan menor itu ngotot meminta duit dengan menyediakan uang kembalian.

Sebenarnya Ode juga ingin tertawa, tapi agak ditahan dan perutnya jadi sedikit tegang. Ode heran karena baru kali ini ia melihat ada waria di lampu merah tempat mereka berada. Pada malam-malam sebelumnya mereka tidak pernah menemukan.

"Mungkin dia nyasar, bukan hanya kesasar arah jalan, tapi juga kesasar arah pendirian jati dirinya,” pikir Ode.

"Wooii!” terdengar suara teriakan lelaki dengan lantang.

Keduanya terkejut. Tawa Dido tiba-tiba terhenti karena baru menyadari sesuatu. Ternyata pria yang menirukan gaya wanita tersebut marah dan merasa tersinggung oleh tawa keras Dido. Suaranya yang tadi terdengar lembut, berubah jadi garang. Tidak ada lagi suara lembutnya.

"Siapa yang kalian tertawakan?! Kenapa ngamen di lampu merah ini?! Ini kan wilayahku!” teriaknya dengan lantang melawan deru hilir mudik kendaraan, tegas, dan berkacak pinggang. Wajahnya berubah jadi sangar, menunjukkan amarah. Ia merasa tidak terima dan bergegas menghampiri Ode dan Dido yang jaraknya cuma sekitar sebelas meter darinya.

Ode melihat tanpa berkedip pada waria yang hampir sama tinggi dengannya, seketika rasa gugup menghampiri. Ingin rasanya Ode menjelaskan bahwa mereka berdua tidak mengamen di wilayah tersebut, tapi niat itu diurungkannya.

"Doo? Didoo … gimana nih, Do,” pinta Ode pelan, mulai panik dan matanya tetap serius melihat gugup pada waria yang mulai mendekat.

Tapi apa yang terjadi ...

Dalam kondisi panik dan gugup, Dido sama sekali tidak menjawab. Ode penasaran dan ia palingkan wajah sejenak untuk melihat reaksi Dido yang berdiri di sampingnya.

Astaga, Ode sangat terkejut. Matanya semakin terbelalak melihat apa yang terjadi pada Dido.

Di sana, sekitar sepuluh meter, Ode melihat Dido telah lari lebih dulu, terbirit-birit seperti orang kebelet pipis dikejar hantu. Dido seperti sudah tidak peduli lagi pada Ode karena yang ada di benaknya hanyalah pikiran untuk lari sejauh mungkin. Rasa kantuk yang tadi menderanya, musnah seketika.

"Didooooo! Tungguuuu!” teriak Ode semakin panik dan bergegas ikut lari, menyusuri trotoar, memburu Dido. Sedangkan sang waria, tidak juga mengalah. Ia semakin emosi dan penasaran mengejar Ode dan Dido.

Malam ini, seperti adegan drama ibukota di saat petugas dinas sosial melakukan razia penertiban. Kejar-mengejar terjadi. Ode mengejar Dido yang lari ketakutan, sedangkan Waria juga mengejar Ode dan Dido dengan penuh semangat. Tetapi waria juga tampak dipenuhi rasa takut dan was-was jangan sampai juga ia sedang dikejar petugas trantib satpol PP.

Seorang gadis yang sempat mereka lalui terkejut melihat Ode dan Dido berlari ketakutan. Bukannya menghindar, gadis itu justru tetap diam berdiri di tepi trotoar dan seperti jadi sangat tertarik menyaksikan. Seolah-olah ingin memberi semangat laksana para cheerleaders yang memberi semangat para pemain basket. Memberi semangat idola pujaan mereka sambil teriak histeris: “Ayo sayang... lari yang cepat...”

Dido sempat terpana melihat gadis cantik yang ikut menyaksikan kejar-kejaran. Larinya melambat, nalurinya seperti ingin mengajak kenalan gadis itu.

"Wooooiii! Ojo mlayu. Awas yoo! Nakal deh!” terdengar lagi suara teriakan tapi bernada gemas dari mulut waria tadi, ia masih tetap mengejar Ode dan Dido.

Keadaan semakin genting. Dada Ode dan Dido berdebar makin cepat. Pikiran Ode dan Dido dihantui ketakutan jika tertangkap akan seperti apa nanti nasib mereka. Jarak antara mereka juga makin dekat. Waria itu tidak menyerah dan terus berlari cepat laksana singa yang menerjam mangsanya.

"Bahaya! Kalau begini bisa ketangkap," batin Ode semakin dihantui rasa takut dan tanda tanya apakah akan berhasil lolos atau malah tertangkap.

۞ ۞ ۞

Bab 3

Keadaan menjadi genting dan penuh ketegangan. Kejar mengejar masih terus terjadi. Segala tenaga dikerahkan Ode dan Dido demi bisa menyelamatkan diri dari waria yang tanpa lelah dan berusaha keras ingin berhasil menangkap mereka berdua, atau minimal salah satu dari keduanya.

"Ayo lari yang cepat Doooo.!” teriak Ode karena menyadari Dido melambat.

Dido terkejut dan kembali menambah kecepatan larinya dengan penuh semangat meski berat hati untuk meninggalkan gadis yang memikatnya. Ia merasa satu kesempatan langka untuk berkenalan telah terlewatkan begitu saja.

Tetapi agaknya tidak hanya sang gadis saja yang terkejut. Ada juga seorang pemuda yang terlihat kaget dan heran. Ia justru jadi begitu bersemangat memperhatikan dari jarak belasan meter di depan Ode dan Dido. Mengamati sambil menunggu makin dekat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Perlahan pemuda berbadan kekar itu semakin yakin kalau terjadi sesuatu yang tidak beres, lebih tepatnya penjambretan. Itulah yang ada di benak pemuda itu. Ia sudah bertekad untuk tidak berpaling, tetap berdiri di tengah trotoar, di jalur yang akan dilalui Ode dan Dido yang tinggal berjarak belasan meter di depannya. Ia mulai yakin ingin menghentikan aksi yang dianggapnya sebagai penjambretan. Ingin mencegat Ode dan Dido, menghentikan dan mengambil kembali barang yang dijambret. Pemuda itu sangat bersemangat dan yakin ia akan berhasil menghentikan, apalagi melihat Ode dan Dido posturnya tidak sebanding dirinya. Ia anggap sangat mudah untuk menghentikan mereka.

Kakinya berdiri dalam posisi yang telah siaga, seperti layaknya cara berdiri atlet karate yang siap menanti serangan lawan. Ia berdiri memperhatikan dengan cermat pada Ode dan Dido

Berbeda dengan sang gadis yang memberi semangat pada Ode dan Dido, pemuda itu juga justru seakan sedang memberi semangat kepada orang yang mengejar Ode dan Dido. Ia tampak sumringah melihat orang yang mengejar di belakang Ode dan Dido. Mungkin karena kebetulan saat melihatnya di keremangan, terhalang lampu dan dari kejauhan. Jadi, dipikirnya orang yang mengejar Ode dan Dido adalah gadis cantik yang sedang kecopetan dan berusaha lari mengejar pencurinya. Pemuda itu bahkan semakin menyiapkan diri ingin menghadang, berdiri di lintasan yang akan dilalui Ode dan Dido, dan berusaha ingin merebut barang yang dicuri. Ia ingin jadi pahlawan. Lebih tepatnya pahlawan kemaleman.

Ode was-was, dadanya berdetak lebih kencang. Mereka sekarang menghadapi dua masalah. Satu datang dari arah belakang, waria yang mengejarnya, dan satu lagi di depan menanti. Tampak jelas dari jarak dua belas meter di depan mereka, pemuda berotot mulai merentangkan tangannya. Bersiap dengan sigap ingin mencegat Dido dan Ode, berdiri dengan posisi kaki siaga laksana seorang atlet beladiri.

"Bahaya!” pikir Ode.

Tetapi, sebelum Ode dan Dido benar-benar sampai di dekat pemuda yang menghalau, tiba-tiba pemuda itu jadi terlihat kaget, mata melotot dan mendadak balik belakang. Ia justru ikut berlari jauh lebih cepat dari Ode dan Dido setelah menyadari bahwa ternyata orang yang mengejar bukanlah gadis cantik, tapi seorang waria. Wajah pemuda itu pucat pasi dicekam rasa takut seperti melihat hantu menyeramkan.

Ode menahan tawa saat berlari, ia terkejut melihat reaksi pemuda yang tadi ingin mencegatnya. Badan saja yang kekar, atletis, tapi ketakutan juga dengan waria.

Di sisi lain, rasa was-was yang tinggi akibat takut tertangkap waria seakan memaksa tawa mereka terhenti dan membangkitkan kembali energi Ode dan Dido dengan stamina penuh. Ode dongkol, semua berawal dari ulah Dido yang tertawa keras dan membuat waria itu tersinggung.

Kaki Ode mulai lelah karena sejak sore keliling mengamen, ditambah lagi harus berlari dikejar waria. Rasa takut telah melumpuhkan kemampuan otak mereka untuk berpikir agar sebaiknya menahan angkot yang lewat sehingga bisa melaju cepat dan bebas dari kejaran. Tetapi ide itu tidak muncul dan mereka terus berlari di trotoar pada satu sudut sisi kota Surabaya.

Ode menoleh sejenak karena ingin mengetahui kondisi Dido yang tertinggal di belakangnya. Tiba-tiba...

"Awaas di belakangmu Dooo!” teriak Ode panik.

Ternyata waria itu semakin dekat, tinggal tiga langkah di belakang Dido. Bahkan, gitar Dido yang tersampir di pundaknya nyaris saja tergapai oleh genggaman tangan waria. Bahaya kembali mengancam.

"Odeeeeeee! Tolong akuuuuu! Tidaaakk! Lepaskan!” teriak Dido.

Ode panik mendengar teriakan Dido. Ode bergegas mendekatinya, lalu menepuk-nepuk pipinya.

"Do, Didoo ... bangun Do!” Dido terkejut, matanya nanar, takut. Ia juga spontan langsung mendekap Ode dengan erat.

"Eeh, Do, lepasin dong. Apaan sih pakai peluk-peluk segala?” protes Ode karena merasa risih dengan sikap Dido yang main peluk erat dan mesra.

Dido masih diam, sekejap ia kembali melepas pelukannya dan memandang heran sambil berusaha mengumpulkan nyawa dan ingatannya.

"Sudah pagi gini. Masak masih terbawa mimpi aja dengan waria semalam? Kamu kangen dia ya?” jelas Ode sambil tertawa

"Enak aja! Yo ndak lah. Amit-amit kalau bertemu dia lagi,”sahut Dido yang kaget mendengar celoteh Ode tapi juga masih menahan kantuk.

Ode hanya tertawa melihat sahabat dekatnya. Dido mengucek matanya, sesekali ia masih menguap. Pikirannya masih belum tenang karena peristiwa dikejar waria tadi malam telah hadir dalam tidurnya dan menjelma jadi mimpi buruk.

Setelah mendengar penjelasan Ode, spontan saja Dido langsung tersenyum nyengir dan bangun seketika.

"Udah, mimpi nggak usah diambil pusing, jangan masukin hati. Makanya berdoa sebelum tidur biar nggak mimpi buruk,” jelas Ode.

"Iyo. Gara-gara waria semalam nih,” ucapnya kesel, lalu bangun dari tempat tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur. Ode hanya tertawa melihat Dido. Untung saja semalam Dido memang tidak sampai tertangkap waria. Jika tertangkap, Dido pasti akan jadi bulan-bulanan sang waria. Statusnya sebagai perjaka akan tamat, tinggal kenangan pahit.

"Yowes minggir, jangan berdiri halangin pintu. Aku mau duluan mandi. Wedhok wuayu arek maba pasti ngenteni aku,” jelasnya sambil tersenyum nyengir.

"Oh, kirain ditunggu waria wuayu, ” goda Ode tertawa puas sambil bergegas ingin kembali ke kamarnya.

"Ode, ingat ya, pokoknya kejadian semalam hanya rahasia kita. Ojo sampe kebongkar rek, malu nanti,” pintanya memohon pada Ode

"Iya iya. Ya udah, buruan mandi. Katanya kamu mau hadiri acara pembukaan OSPEK di kampus. Sebagai panitia harus cepat datang lebih awal dong. Masak jam segini masih di kos?”

"Loh, sekarang jam berapa?” tanya Dido panik sembari meraih HP untuk melihat jam.

"Sudah mau jam tujuh,” sahut Ode.

"Wah, gawat, telat nih. Kalau gini nanti bisa gantian Maba yang hukum panitia,” jelasnya dan tanpa buang waktu lagi Dido langsung lari ke kamar mandi. Waktunya tinggal lima belas menit menuju pukul tujuh pagi. Ia sendiri khawatir apakah akan bisa tiba tepat waktu atau tidak. Biasanya ia yang sering menghukum mahasiswa baru yang datang terlambat. Tapi kali ini keadaan bisa saja berubah, ia yang akan kena hukuman.

"Nggak boleh terlambat nih,” jelas Dido sambil melepas pakaian. Mandi bebek pun jadi pilihannya. Mandi asal siram tanpa peduli semua terkena air atau tidak, yang penting mandi. Semuanya demi mengejar waktu agar tidak terlambat dan dihukum.

۞ ۞ ۞

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED