“Dasar anak gak berguna, uang segini mana cukup buat memenuhi kebutuhan sebulan!” maki seorang wanita paruh baya bernama Elma kepada putrinya yang bernama Niela.
“Ada apa lagi sih ini?” tanya Ferdi yang baru saja pulang bekerja, dia adalah ayahnya Niela.
“Anak kamu ini gak berguna, dari dulu sudah aku katakan tinggalkan dia di tempat sampah itu kenapa kamu membawa dia pulang!” jawab Elma dengan berapi-api.
“Cukup Elma! Semakin hari kamu semakin melampaui batas semenjak aku membawa Niela ke sini sikapmu tidak pernah berubah!” ucap Ferdi tak kalah sengitnya.
“Terus aja bela dia, dia itu bukan anak kandung kita!” bentak Elma lagi.
“KAU ....”
“Ayah udah, jangan bertengkar lagi sama Ibu lebih baik sekarang Ayah istirahat aku bikinin teh buat Ayah ya,” ucap Niela mencoba untuk meredam amarah sang ayah.
Ferdi hanya mengepalkan tangannya dengan kuat menahan amarah kepada Elma. Memang bukan rahasia lagi jika Draniela Grizelle atau Niela, bukanlah anak kandung mereka bahkan sampai saat ini Ferdi dan Elma tidak memiliki anak kandung.
“Ayo Yah!” ajak Niela lagi sambil menggamit lengan ayahnya menuju dapur sederhana rumah mereka.
“Ayah mau aku siapin air hangat buat mandi?” tanya Niela yang mulai memasak air untuk menyeduh teh.
“Gak usah, kamu juga pasti capek pulang kuliah langsung kerja sampai di rumah harus masak kerjain lagi pekerjaan rumah gara-gara ibu kamu,” jawab Ferdi.
“Aku gak capek kok Yah, aku malah senang bisa masakin buat Ayah sama ibu, nanti kalau aku udah menikah aku gak mungkin kan tinggal di sini lagi,” ucapan Niela membuat kening Ferdi berkerut karena tak biasanya sang putri membahas soal pernikahan.
“Menikah? Hmm apa putri Ayah ini udah punya pacar dan siap untuk menikah?” tanya Ferdi menggoda sang putri.
“Eh ... bu-bukan gitu Yah, aku gak punya pacar,” jawab Niela dengan gugup dan wajah yang mulai memerah.
“Terus selama ini kamu jalan sama Tian gak ada hubungan apa-apa gitu?” tanya Ferdi.
“Aku sama Tian Cuma temenan Yah, gak ada hubungan apa-apa,” jawab Niela.
“Gak ada hubungan apa-apa, tapi kencan setiap hari,” ucap Ferdi yang semakin gencar menggoda Niela.
“Ayah udah ah, sekarang Ayah mandi aku mau masak,” ucap Niela.
“Oke, Ayah mandi dulu.” Ferdi segera berlalu ke kamarnya, sedangkan Niela langsung mengambil bahan untuk memasak makan malam mereka.
Niela menyiangi sayuran sambil mengingat lagi kejadian saat dia di kampus tadi, Niela hampir saja dilecehkan oleh temannya hanya karena Niela tinggal di daerah pesisian kota Jakarta yang terkenal dengan hingar bingar kehidupan malamnya. Bahkan sebelum Elma menikah dengan Ferdi, Elma pernah menjalani pekerjaan sebagai wanita panggilan di sana mungkin sekarang juga dia masih melakukan pekerjaan itu tanpa sepengetahuan Ferdi.
“Ayolah jangan munafik Niela, aku tau kamu lagi butuh uang buat biaya kuliah, ayahmu pasti tidak bisa membayar biaya kuliahmu, jadi kita bersenang-senang malam ini,” ucap Arvan teman kuliah Niela yang selalu berbuat seenaknya kepada mahasiswi dan mahasiswa di kampus mereka.
“Cih ... aku bukan wanita panggilan!” maki Niela dengan tatapan nyalangnya.
“Hahaha that so funny, kau pikir aku tidak tau apa pekerjaan ibumu, kau pun tinggal di tempat yang terkenal penuh dengan kesenangan malam jadi kau sama dengan mereka, ayahmu tidak akan keberatan jika kau tidur denganku malam ini dia pasti senang karena anaknya bisa menghasilkan uang yang sangat banyak dalam satu malam,” ejek Arvan.
PLAAK
Satu tamparan dari tangan mulus Niela mendarat di pipi Arvan, tamparan yang cukup keras hingga membuat pipi Arvan terasa sangat panas. Arvan mengepalkan tangannya dan menatap Niela dengan nyalang.
“Jangan pernah menghina ayah dan ibuku!” maki Niela.
“Kamu!” pekik Arvan dengan jari yang menunjuk tepat di hadapan wajah Niela.
“APA? KAMU PIKIR AKU TAKUT, HUH?” tanya Niela dengan sengit hal itu membuat Arvan semakin naik pitam karena ini sudah yang ke sekian kalinya dia ditolak oleh Niela.
“Wanita murahan tidak tau diri!” jawab Arvan dengan nyalang tangannya terangkat siap untuk menampar Niela, namun ....
“Hei Bung, lo gak malu mau mukul cewek!” ucap Tian dengan tubuh yang dia bentengi di hadapan Niela, dia adalah sahabat Niela.
“Minggir, gak usah ikut campur urusan gue sama wanita murahan ini,” ucap Arvan sambil menepiskan lengan Tian.
“Siapa? Wanita murahan?” tanya Tian dengan tatapan tajamnya.
“Dia itu memang wanita murahan, tapi dia ....”
BUGH
Kini satu tinju dari Tian yang melayang mengenai wajah Arvan hingga darah segar keluar dari sudut bibir pria itu.
“Sebelum lo hina Niela, lo ngaca dulu kelakuan lo itu sangat bejat dan murahan dasar manusia sampah!” maki Tian lalu menarik lengan Niela agar dia ikut pergi dengan Tian.
“Tian sialan! Gue bakalan bales perbuatan lo!” pekik Arvan.
“Gue gak takut!” ucap Tian dengan tatapan menantang setelah itu Tian dan Niela pun pergi.
Niela menghela nafasnya dengan panjang, kenapa kebanyakan orang selalu mengatakan hal yang menurut mereka benar tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya.
Walaupun Niela tinggal di lingkungan seperti yang mereka tau, sedikit pun Niela tidak ingin mengikuti jejak mereka untuk bekerja di rumah yang sangat mewah itu.
Ya, rumah mewah tempat para wanita menjajakan tubuhnya kepada para pria hidung belang.
“Wanita murahan,” gumam Niela.
“Kenapa mereka selalu menganggap aku seperti itu,” ucap Niela lirih.
“Ya ampun Niela hati-hati, Nak,” ucap Ferdi yang kembali ke dapur dan melihat Niela hampir mengiris jarinya.
“Ayah!” ucap Niela.
“Kamu mikirin apa?” tanya Ferdi.
“Gak mikirin apa-apa, Yah,” jawab Niela.
“Sini biar Ayah yang lanjutin,” ucap Ferdi.
“Gak usah Yah, Ayah duduk aja ini tehnya,” ucap Niela.
“Tapi kamu jangan ngelamun,” ucap Ferdi.
“Iya Ayah,” ucap Niela.
“Manjain terus dia,” ucap Elma dengan sinis saat dia datang ke dapur.
Ferdi menghela nafasnya dengan panjang saat mendengar ucapan Elma, dia tidak ingin menghiraukan ucapan sang istri dengan perlahan dia menikmati teh buatan Niela.
“Setidaknya kamu itu harus menjadi anak yang berguna dan bisa balas budi kepada kami yang sudah membesarkan kamu,” ucap Elma.
“Dari pada kamu terus ngoceh gak karuan lebih baik kamu bantu Niela masak,” ucap Ferdi.
“Aku, masak? Kau tidak lihat aku baru selesai mengecat kuku?” tanya Elma sambil menyodorkan kukunya yang masih basah.
“Kamu melakukan pekerjaan yang tidak berguna dari pada Niela, jadi berhenti menyalahkan Niela terus menerus,” jawab Ferdi.
“Bela lagi anakmu itu, dia harus menghasilkan uang yang lebih banyak agar dia tidak menyusahkan kita terus,” ucapan Elma membuat emosi Ferdi kembali memuncak.
“Besok aku akan mencari pekerjaan tambahan, Bu,” ucap Niela.
“Bagus lah, seharusnya kau memang sadar diri,” ucap Elma.
“Tidak perlu Niela, Ayah masih mampu untuk membiayai kuliah kamu dan biaya kehidupan sehari-hari kita,” ucap Ferdi.
“Kau bilang mampu? Apa kau tidak pernah berpikir semua uang yang kau berikan selalu tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhanku?” tanya Elma dengan sengit.
“Uang yang aku berikan setiap bulannya cukup besar Elma, kau yang tidak bisa bersyukur dan mengelola uang itu dengan baik!” jawab Ferdi.
“Besar katamu? Cih nasibku benar-benar sial, dulu aku pikir saat menikah denganmu aku bisa hidup enak dan bergelimang harta karena kau anak seorang pengusaha kaya, tapi ternyata semuanya hanya bualan,” ucap Elma.
“Aku rela meninggalkan keluargaku untuk menikah denganmu, ternyata aku juga salah sudah melakukan ini!” ucap Ferdi.
“Jika kau menyesali itu juga, maka biarkan aku membawa Niela agar dia bekerja seperti para wanita di sini!” ucapan Elma membuat mata Ferdi dan Niela membulat sempurna.
"Biarkan dia mencari uang lebih banyak untuk kita,” ucap Elma.
Braak
Ferdi memukul meja makan dengan sangat kencang, dia sangat marah mendengar Elma mengatakan hal itu lagi, ya ini bukan pertama kalinya Elma mengatakan agar Niela bekerja seperti kebanyakan wanita yang tinggal di sana.
“Ayah jangan khawatir sampai kapan pun aku tidak akan menuruti apa yang Ibu katakan,” ucap Niela.
“Langkahi dulu mayatku jika kau ingin melakukan itu kepada putri kesayanganku!” ucap Ferdi dengan tatapan tajamnya sambil menunjuk wajah Elma lalu Ferdi pergi karena dia tidak ingin semakin lepas kendali saat berhadapan dengan Elma.
“Dasar benalu kau puas melihat aku dan suamiku bertengkar terus gara-gara ulahmu?” tanya Elma.
“Maaf Bu, aku tidak bermaksud untuk membuat ayah dan Ibu bertengkar, tapi ....”
“Persetan dengan semua itu yang terpenting untukku, kau harus mendapatkan uang yang banyak dan bisa memenuhi semua keinginanku,” ucap Elma menyela lalu dia segera mengambil tasnya dan pergi.
“Kapan semua ini berakhir, masih ada waktu beberapa jam lagi aku masih sempat untuk mencari pekerjaan yang lain,” ucap Niela lirih sambil melirik jam dinding yang ada di dapur, dia kembali melanjutkan pekerjaannya karena Niela akan pergi lagi untuk mencari pekerjaan tambahan.
***
“Mama gak bosan terus jodohin anak itu? Nanti ujung-ujungnya dia nolak lagi,” tanya seorang pria paruh baya yang saat ini sedang membaca koran di ruang tamu rumah mewahnya.
“Gak, kali ini dia harus mau menikah sama perempuan pilihan Mama, pokoknya sekarang Mama gak mau dengar penolakan dia lagi,” jawab sang istri.
Pasangan suami istri itu bernama Haris dan Danira.
“Ma, aku pergi lagi soalnya ada meeting penting.” Haris dan Danira menoleh saat mendengar suara sang putra.
“Kamu tuh ya, gak betah banget diem di rumah ini udah sore sebentar lagi juga jam pulang kantor,” ucap Danira kepada sang putra.
“Kalau aku gak kerja Mama gak bisa shoping beli barang branded,” ucapan putra mereka membuat Haris tertawa dengan kencang.
“Papa, kok malah ketawa sih,” ucap Danira dengan kesal.
“Emang bener,” ucap Haris.
“Pa, aku berangkat,” ucapnya lalu dia pergi.
“Darren jangan lupa nanti malam temenin Mama makan malam sama, Mega!” pekik Danira tapi sang putra tidak menghiraukan panggilannya sama sekali.
Darren Alvaro Prayudha, seorang CEO muda yang memiliki paras tampan namun selalu memasang wajah dinginnya kepada semua orang, bahkan Darren terkenal sebagai pemimpin yang tegas dan selalu menginginkan pekerjaan yang sempurna.
“Berkas untuk meeting sudah siap?” tanya Darren kepada Albert saat dia sudah sampai di kantor.
Albert adalah sahabat Darren sekaligus orang kepercayaannya, kedua pria itu sama-sama memiliki paras yang tampan namun kepribadian mereka sangat jauh berbeda. Darren benar-benar sangat acuh kepada semua orang tanpa pandang bulu dan tidak peduli pria atau wanita, sedangkan Albert selalu bersikap seenaknya. Satu lagi, julukan sang penakluk wanita pun sudah sangat melekat pada Albert.
“Semuanya sudah aku siapkan,” jawab Albert.
“Ada meeting lagi?” tanya Darren.
“Tidak,” jawab Albert mereka pun masuk ke ruangan meeting.
Satu jam telah berlalu meeting pun selesai, kini hanya ada Darren dan Albert yang ada di ruangan itu.
“Mau ikut denganku?” tanya Albert.
“Ke mana?” tanya Darren.
“Ke tempat yang bisa melepaskan keperjakaanmu,” jawaban Albert membuat Darren melayangkan tatapan tajamnya karena ini bukan pertama kalinya Albert mengatakan hal itu kepada Darren.
“Stupid!” maki Darren.
“Kau pengecut, Darren!” ucap Albert.
“Lebih baik aku jadi pengecut menurutmu dari pada aku ganti teman tidur setiap malam sepertimu, aku tidak sudi,” ucap Darren.
“Kau harus tau Darren, itu sangat menyenangkan,” ucap Albert dengan mata yang berbinar.
“Cih! Sangat menjijikan!” Darren lalu beranjak dari tempatnya.
“Ayo ikut aku!” ucap Albert sambil menarik lengan Darren.
“Tidak!” ucap Darren sambil menepiskan lengan Albert dengan kasar.
“Ayolah kali ini saja, jika kau tidak ingin bermain-main maka temani aku minum sebentar,” ucap Albert terus memaksa Darren. Akhirnya sambil menghela nafasnya dengan panjang Darren menuruti ucapan sahabatnya.
***
“Niela, kamu mau ke mana?” tanya Tian saat melihat Niela keluar dari gang rumahnya dengan membawa tas.
“Mau cari kerjaan,” jawab Niela.
“Emangnya kamu udah gak kerja di cafe?” tanya Tian.
“Masih, tapi aku mau cari tambahan yang lain soalnya ya gitu lah,” jawab Niela.
“Ya udah aku antar,” ucap Tian.
“Emangnya gak ngerepotin kamu?” tanya Niela.
“Enggak lah makanya aku tawarin tumpangan,” jawab Tian.
“Oke deh ayo,” ucap Niela lalu Tian kembali ke rumahnya untuk mengambil motornya setelah itu mereka pergi.
Niela dan Tian mendatangi hampir semua tempat yang memungkinkan, namun belum membuahkan hasil hingga mereka berhenti di salah satu tempat.
“Niela, kamu serius mau kerja di tempat kayak gini?” tanya Tian, tempat yang mereka datangi adalah club malam.
“Gak tau Tian, aku mau coba tanya aja ke dalem siapa tau mereka butuh karyawan baru,” jawab Niela.
“Tapi gak di sini Niela, kamu tau kan itu tempat apa?” tanya Tian.
“Iya aku tau, tapi kan gak ada salahnya mencoba aku juga capek dari tadi muter-muter terus tapi belum ada kerjaan yang dapat ini juga udah hampir malam,” jawab Niela.
“Udah lah, besok kita cari lagi dari pada kamu kerja di tempat kayak gini,” ucap Tian.
“Aku mau coba tanya sama pemiliknya,” ucap Niela tak ingin menghiraukan ucapan sahabatnya.
“Niela, tunggu!” cegah Tian, tapi Niela tetap masuk ke tempat itu.
“Ck ... keras kepala banget sih,” ucap Tian, dia pun pergi menyusul Niela, dia tidak akan membiarkan Niela bekerja di tempat seperti ini.
Saat masuk ke tempat itu ternyata Tian melihat Niela sedang digoda oleh seorang pria.
“Lepasin!” pekik Niela karena tangannya dicengkram sangat erat oleh pria yang tidak dia kenali.
“Kau orang baru di sini, Nona?” tanya pria itu.
“Iya dia orang baru, tapi dia harus pergi sama gue!” ucap Tian dengan tatapan tajamnya.
“Berapa kau bayar dia, biar aku ganti dua kali lipat?” tanya pria itu.
“Kau tidak akan mampu membayarnya!” jawab Tian.
“Perempuan murahan seperti dia, tidak pantas dibayar dengan harga tinggi,” ucapan pria itu membuat Tian semakin naik pitam, lalu dia mengangkat tangannya bersiap untuk melayangkan tinjunya, namun perbuatan Tian dicegah oleh Niela.
“Jangan Tian, nanti kamu malah kena masalah lebih baik kita pergi dari sini,” ucap Niela sambil menarik lengan Tian.
“Enggak, dia harus diberi pelajaran biar gak kurang ngajar sama cewek,” ucap Tian.
“Hei Bung, kau tidak sadar sedang berada di mana?” tanya pria itu dengan senyuman mengejek.
“Kau!” pekik Tian.
“Tian jangan, ayo kita pulang!” ucap Niela lalu menarik Tian untuk keluar dari tempat itu, namun ....
Bruk
Niela yang tidak memperhatikan di sekitarnya menabrak seseorang hingga dia terjatuh di atas orang itu.
“Niela!” ucap Tian.
Mata Niela membulat sempurna ketika bibirnya beradu dengan bibir pria itu.
‘Oh my god, my first kiss!’ ucap Niela di dalam hatinya.
“Niela!” panggil Tian tapi Niela tidak menanggapi karena gadis itu masih terkejut.
“Rupanya dia menikmati posisi itu!” ucap seorang pria yang datang bersama pria yang kini berada di bawah Niela.
“Niela!” panggil Tian lagi namun dengan sedikit kencang hal itu membuat Niela terperanjat lalu dia langsung bangun dari posisinya.
“Ayo pergi!” ucap Tian dengan kesal sambil menarik lengan Niela.
“Bentar, Tian!” ucap Niela.
“Gak ada, pulang sekarang!” ucap Tian lagi lalu menyeret Niela agar keluar dari tempat itu.
“Mas, sorry!” pekik Niela kepada pria yang tadi terjatuh karena dia.
“Kamu suka ya ciuman sama cowok itu?” tanya Tian dengan tatapan tajamnya ketika mereka sudah sampai di parkiran.
“Hah? Ciuman?” tanya Niela dengan mata yang membulat sempurna.
“Aku ciuman?” tanya Niela lagi.
“Iya emangnya apa lagi ‘kan tadi kamu ciuman sama dia sampe gak mau bangun!” jawab Tian.
“Aku gak sengaja Tian, abisnya kamu malah mau berantem di sana!” ucap Niela.
“Tau ah, bikin orang kesel aja udah dibilangin jangan masuk ke situ masih masuk juga bukannya dapet kerjaan malah ciuman sama orang,” ucap Tian yang semakin kesal.
“Kamu kok jadi marah-marah ‘kan kamu juga tau tadi itu aku gak sengaja nabrak dia,” ucap Niela.
“Gak sengaja juga tetep aja ‘kan namanya kamu ciuman sama dia!” ucap Tian.
“Tian!” pekik Niela yang mulai kesal karena Tian tak hentinya memarahi dia.
“Apa!” pekik Tian juga.
“Kamu udah kayak emak-emak yang gak kebagian sembako murah, marah-marah aja,” ucap Niela.
“Jelas lah aku marah, aku tuh cem ....” Sadar dengan apa yang akan dia katakan, Tian langsung menghentikan ucapannya.
“Kenapa gak dilanjutin?” tanya Niela.
“Gak apa-apa lupain aja, cepetan naik udah sore nih!” jawab Tian.
“Dih, gak jelas banget sih!” ucap Niela, lalu dia naik ke motor Tian setelah itu mereka pergi.
“Ini helmnya terima kasih,” ucap Niela, setelah dia dan Tian sudah sampai di gang yang tak jauh dari rumahnya.
“Hmm!” gumam Tian.
“Kamu marah sama aku?” tanya Niela.
“Gak!” jawab Tian.
“Ya udah,” ucap Niela, lalu dia pun pergi.
“Ya ampun, itu cewek gak peka banget sih lagian tadi ngapain coba pake ciuman sama cowok itu!” ucap Tian dengan kesal, dia pun segera pergi dari sana.
***
Setelah kejadian dia ditabrak oleh seorang gadis, Darren hanya diam memainkan gelas yang dia pegang, bahkan dia tidak menghiraukan seorang wanita yang datang untuk menggodanya, entah kenapa dia terus terbayang dengan tatapan mata gadis itu.
“Pergi!” ucap Darren sambil memberikan uang kepada wanita itu.
“Aku belum melakukan apa-apa untukmu tapi kau sudah membayarku,” ucap wanita itu dengan menggoda tapi Darren malah melayangkan tatapan tajamnya kepada wanita itu.
“Kalian pergi dulu dari sini,” ucap Albert kepada dua wanita yang ada di hadapannya.
“Apa kita tidak akan bersenang-senang?” tanya salah satu wanita itu.
“Aku ingin bicara dulu dengan temanku,” jawab Albert lalu kedua wanita itu pun pergi.
“Rupanya kau menikmati saat bibirmu bersentuhan dengan wanita tadi?” tanya Albert dengan alis yang terangkat.
“Apa yang kau maksud?” tanya Darren.
“Cih ... berpura-pura tidak mengerti, ayolah Darren kini waktunya kau melepaskan keperjakaanmu!” jawab Albert.
“Aku akan melakukannya tapi bukan dengan wanita murahan seperti mereka, harus wanita yang belum tersentuh siapa pun yang tidur denganku,” ucap Darren.
“Kau gila? Di tempat seperti ini tidak ada wanita yang masih suci,” ucap Albert.
“Aku tidak peduli,” ucap Darren lalu beranjak dari tempatnya.
“Kau mau ke mana?” tanya Albert.
“Pulang, aku muak berada di sini,” jawab Darren.
“Kau belum ....”
“Persetan dengan apapun itu!” maki Darren menyela ucapan Albert lalu dia benar-benar pergi dari tempat itu.
“Ternyata pria itu belum benar-benar dewasa,” ucap Albert.
***
“Ah ... shit!” maki Darren sambil mengacak rambutnya frustasi.
Saat ini dia sedang berada di kamar apartmentnya, dia sengaja tidak kembali ke rumah karena dia sangat malas bertemu dengan ibunya yang pasti akan memaksa dia untuk makan malam bersama Mega.
Entah dengan cara apa lagi Darren mengatakan dia tidak ingin dijodohkan oleh wanita mana pun, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dirasakan oleh Darren.
Saat Darren memejamkan matanya, dia kembali teringat dengan wanita yang sudah mencuri kecupan pertamanya tadi. Itulah kenapa sejak dia datang ke apartemennya, Darren terus merasa gelisah dan frustasi.
“Kenapa aku teringat wajah dia lagi!” ucap Darren dengan pandangan lurus menatap langit-langit kamarnya.
“Stop it Darren, jangan memikirkan dia lagi,” ucap Darren lalu dia melirik ke arah nakas karena ponselnya berdering di sana. Darren menghela nafasnya dengan panjang saat melihat ibunya yang menelpon. Akhirnya, Darren hanya membiarkan ponselnya berdering, saat ini dia sangat malas untuk berdebat dengan ibunya. Darren pun mulai memejamkan matanya karena tubuhnya sudah terasa sangat lelah dengan semua pekerjaan yang dia lakukan di kantor.
***
Keesokan harinya
“Niela!” panggil Ferdi, Niela yang masih bersiap di kamarnya dengan tergesa-gesa keluar dari kamar menghampiri sang ayah.
“Ada apa, Yah?” tanya Niela sambil merapikan seragam kerjanya.
“Kamu udah siap?” tanya Ferdi.
“Udah Yah, sebentar lagi berangkat hari ini aku gak kuliah,” jawab Niela.
“Sekarang kamu sarapan dulu, makanannya udah Ayah siapin,” ucap Ferdi.
“Kok Ayah yang masak? Kenapa gak tunggu aku aja?” tanya Niela.
“Gak apa-apa, hari ini Ayah juga berangkat siang soalnya harus mengurus berkas buat dinas ke luar kota juga,” jawab Ferdi.
“Ayah mau ke luar kota?” tanya Niela.
“Iya, cuma untuk beberapa hari udah sini kamu sarapan dulu,” jawab Ferdi.
“Ibu ke mana?” tanya Niela.
“Ayah gak tau ibu kamu ke mana sepagi ini,” jawab Ferdi lalu Niela mengambilkan makanan untuk Ferdi.
“Kemarin dapat pekerjaannya?” tanya Ferdi.
“Belum Yah, nanti aku coba cari lagi,” jawab Niela.
“Jangan pikirin apa yang ibu kamu bilang, gaji Ayah masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kita dan kuliah kamu,” ucap Ferdi.
“Aku gak memikirkan apa yang ibu bilang kok Yah, tapi emang aku gak mau terus menerus jadi beban buat Ayah sama ibu,” ucap Niela.
“Siapa bilang kamu beban buat Ayah, kamu itu anugerah yang Allah titipkan buat Ayah semenjak kamu hadir Ayah jadi punya tujuan hidup lagi,” ucap Ferdi.
“Terima kasih, Yah,” ucap Niela dengan senyuman yang hadir di sudut bibirnya.
“Kamu kok gak makan?” tanya Ferdi, karena sejak tadi Niela hanya memperhatikannya bahkan sampai makanan di piring Ferdi habis.
“Aku keasikan liat Ayah makan, jadinya lupa,” jawab Niela lalu tertawa.
“Kamu ini ada-ada aja, ya udah biar Ayah suapin,” ucap Ferdi.
“Jangan, Yah,” ucap Niela, namun Ferdi tidak menghiraukan ucapan sang putri, dia menyendok kan nasi untuk Niela dan menyuapi putrinya.
“Aku bisa makan sendiri aku juga udah gede masa disuapin sama, Ayah,” ucap Niela.
“Kamu itu tetap anak kecil buat, Ayah,” ucap Ferdi.
“Iya deh iya aku emang masih kecil di mata, Ayah,” ucap Niela hal itu membuat Ferdi tertawa lalu dia terus menyuapi Niela.
“Makanya kamu tuh cepetan cari suami umur manusia gak ada yang tau, sekarang Ayah udah tua kalau Ayah meninggal, siapa yang ....”
“Ayah kok bahas itu Ayah masih sehat gak bakalan tinggalin aku, lagian jangan ngomongin yang kayak gitu terus, Ayah pasti bisa lihat aku menikah terus Ayah bisa main sama anak aku nanti,” ucap Niela menyela ucapan sang ayah karena dia sudah bosan mendengar ibunya sering berbicara seperti itu.
Namun tidak Niela pungkiri, saat ini hatinya menjadi gelisah karena mengkhawatirkan sang ayah, Niela segera menepis semua pemikiran itu karena dia yakin tidak akan terjadi sesuatu dengan ayahnya.
“Niela, Niela, kamu itu loh kalau dikasih tau suka ngeyel ‘kan tadi Ayah bilang umur manusia gak ada yang tau bisa aja lima langkah kamu pergi dari sini detak jantung Ayah berhenti Ayah cuma khawatir soalnya ibu kamu gak bisa Ayah harapkan untuk mengurus kamu dengan baik, jadi kalau Ayah pergi ...,” ucap Ferdi kembali terhenti.
“Ya ampun Ayah malah diperjelas, udah ah jangan ngelantur terus,” ucap Niela lalu meminum air yang sudah disediakan oleh Ferdi.
“Ini makanannya belum habis,” ucap Ferdi.
“Aku udah kenyang Yah, udah siang juga nanti aku telat,” ucap Niela lalu dia menyalami Ferdi dan pergi.
“Sebenarnya Ayah khawatir sama kamu, Nak, kalau Ayah benar-benar pergi kamu gimana dan sama siapa, apa Ayah harus menjodohkan kamu dengan Tian, dia pria yang baik Ayah yakin dia bisa dipercaya untuk selalu menjaga kamu walaupun kamu bukan anak kandung Ayah tapi Ayah benar-benar menyayangi kamu,” ucap Ferdi, selesai sarapan dia merapikan meja makan karena dia yakin Elma tidak akan melakukan itu bahkan sejak bangun tidur Ferdi sudah tidak melihat di mana Elma berada.
Selesai merapikan dapur, Ferdi pun bersiap untuk pergi bekerja, namun baru saja dia keluar dari gang rumahnya, ada mobil yang melaju sangat kencang, Ferdi tidak menyadari itu hingga ....
BRAAK