Bab 1

Sebagai Eksekutif muda, tentu hidup ku bisa dikatakan sangatlah mapan. Perkenalkan nama ku Fadlan, Aku adalah seorang berdarah campuran, dimana Ayah Ku seorang keturunan Arab, sementara Ibu ku adalah Indo, lebih tepatnya orang Jawa. Masa kecil ku kuhabiskan di Pekalongan, disanalah Aku dilahirkan dan tumbuh jadi dewasa sebelum akhirnya Aku melanjutkan pendidikan ku (Kuliah) di salah satu Universitas ternama di Kota Kembang, kota Bandung.

Tak terasa, sekarang usia ku sudah mendekati angka kepala tiga, dimana Aku sendiri belum juga membina sebuah rumah tangga, walau sebenarnya Orang tua ku sudah mendesak ku agar segera Menikah, termasuk juga kerabat kerabat ku. Sebenarnya Aku bisa dikatakan lumayan Ganteng dan tentu saja Macho, Aku sendiri bertubuh atletis, dengan hidung Mancung dan bulu bulu yang menghiasi bagian wajah ku yang selalu tercukur rapih, dan tentu juga tinggi badan yang sangat ideal, apalagi ditunjang akan kempauan finansial ku sebagai exsekutif muda yang berkarir di salah satu Perusahaan besar, yang berkantor di kawasan SCBD Sudirman Jakarta.

Sekarang Aku tinggal di Jakarta, dimana Aku sudah mempunyai rumah sendiri yang terletak di kawasan Bintaro, dan tentu juga memiliki kendaraan Mobil dan juga Motor besar yang semakin menambah kesan elegan akan pribadi ku,akan penampilan ku. Sementara Orang tua ku dan juga saudara ku tetap berada di Kota Pekalongan, dimana mereka memang mempunyai Usaha disana, usaha yang sudah ada sejak Aku masih kecil.

Aku adalah tipikal orang yang sangat pemilih dalam bergaul, terutama terhadap cewek cewek, banyak yang berusaha mendekati ku, Aku tau itu dari cara mereka berperilaku di hadapan ku, dimana kadang mereka terlihat seolah ingin cari perhatian dari ku, kadang ada malah yang kelewat batas! Seakan memamerkan keseksian akan tubuhnya terhadap ku, mereka tidak tau kalau Aku sudah bosas akan itu, sebab memang Aku sejak SMA sudah terkenal Playboy, dan sangat mudah Cewek Cewek yang ku suka untuk ku tahluk kan, termasuk juga semasa kuliah di Kota Bandung.

Aku sendiri sudah merasakan berganti ganti Pacar, dan tentu juga sudah mencicipinya, mencicipi setiap lekuk tubuh akan keindahan dari seorang Wanita, apalagi Aku sudah kehilangan keperjakaan sewaktu masih di SMA dulu.

Jujur ku akui, akhir akhir ini, Aku sangat tertarik dengan Wanita yang sedang berbadan dua, apalagi kalau sudah dalam keadaan hamil besar, ibarat sudah hamil tujuh atau bahkan mendekati mau melahirkan, entah kenapa Obsesi dan Fantasi ini selalu merasuki pikiran ku, sejak pertama beberapa Minggu yang lalu Aku iseng menonton Video XXX dengan gendre seperri itu. Dimana dalam Video itu sedang bercumbu seorang Pria dengan Wanita Hamil yang bukan Istrinya, dimana di dalam Video itu si Pria dengan buasnya memeras dan menghisap ASI yang sudah terproduksi dari si Wanita tersebut. Ditambah lagi akan APEM si Wanita yang seakan sedang tembem tembemnya dan basah serta bau yang khas yang ada di sana.

Oh... kapan obsesi liar ini akan terlaksana, hanya itu yang ada di dalam pikiran ku sekarang ini, bagi ku sekarang ini wanita seperti itulah yang ter sexy bahkan mengalahkan yang masih perawan sekalipun!

Tentu saja cukup sulit bagi ku untuk melaksanakan obsesi ku ini, karna tentu sulit untuk mencari Wanita hamil besar yang mau merelakan bayi yang ada di rahimnya tuk dimandikan atau di kasih serapan SP☆☆MA oleh Pria lain yang bukan Suaminya.

Sekarang ini, Aku jadi sering menonton Video Video seperti itu di Laptop Ku, dan bahkan ku koleksi, setiap aku menyaksikannya di Laptop ku, seakan Senjata Pamungkas milik ku selalu berontak dan langsung menegan dengan sempurnanya, dimana senjata kebanggaan ku sendiri berukuran Big dan juga berurat dengan tak beraraturan, ya! Kepunyaan ku memang lumayanlah, sekitar delapan belas cm ukurannya saat menegang, karna memang Aku pernah iseng mengukurnya, dan juga pastinya tebal dan keras dengan kepala bak helm tentara di waktu perang dunia ke dua, seperti helm tentara Nazi yang gagah perkasa.

Tak terasa sudah sebulan lebih Obsesi itu menghantui pikiran ku, apalagi saat mata ku melihat sesosok wanita yang sedang berbadan dua dengan perut buncitnya, pikiran kotor ku langsung membuat junior ku bangun dengan sendirinya, terkadang itu membuat ku jadi gak nyaman, karna otomatis celana yang ku kenakan akan terangkat dan seolah bisa terlihat karna bangun, apalagi kalau hal itu terjadi pas di keramaian, yang awalnya Baju ku ku masukkan dengan rapih di celana, mau gak mau harus ku keluarkan, atau bahkan ku bantu untuk menutupinya dengan apa saja yang sedang ku pegang atau ku bawa, seperti tas ataupun buku. Hahaha.... memang gila Obsesi ku ini.

Suatu ketika saat Aku pulang dari Kantor ke rumah ku dengan Mobil Civic ku, tepat mendekati pintu masuk Komplek perumahan, mata ku tertuju melihat dua orang sosok pemulung dengan gerobaknya sedang istirahat tak jau dari gerbang masuk Komplek tempat ku tinggal, dimana di sana ada seorang Lelaki dewasa dan seorang Wanita yang dalam keadaan hamil tua, seperti yang menjadi obsesi ku selama ini, dimana terlijat si wanita dengan perut buncitnya membuat ku melambatkan laju Mobil ku, Aku yakin mereka pastilah sepasang suami istri.

Perjalanan pun ku lanjutkan menuju rumah ku karna tak ada kesempatan bagiku untuk berhenti di sana, sebab itu adalah jalan keluar masuk kendaraan, tentu jika Aku berhenti akan mengganggu pengendara lain jadinya.

Hayalan ku pun langsungsung ke si Ibu hamil tersebut, hayalan hayalan akan obsesi ku. Sesampai di rumah, Aku pun langsung mandi, dan pastinya jadi memanjakan Senjata pusaka ku yang sudah berdiri dengan gagahnya karna hayalan hayalan tersebut. Ku manjakan barang pusaka ku dengan jari ku, ku hayalkan Aku sedang menyetubuhi si Ibu tersebut dengan buasnya, sambil menghisap putingnya yang pasti sudah ada air susunya.

"Aouh....."

Jari ku semakin cepat bergerak maju mundur memanjakan Batang ku, ditambah dengan buih sabun yang semakin membuatnya sedikit lebih licin, dan akhirnya.

Crot...Crot...Crot...

Lahar panas milik ku pun tumpah ke tembok kamar mandi dan juga lanti dengan amat banyak, setelah benih ku keluar, kurasakan kelegaan di pusaka perkasa ku. Dalam angan ku semoga suatu saat nanti dapat kembali melihat mereka dan juga bisa menyapanya, dan tentu Aku juga harus mencari akal agar obsesiku bisa tercapai.

Akhirnya mandi ku pun selesai, seperti biasa, Aku bersantai sebentar sebelum akhirnya makan malam dan mengerjakan file file pekerjean yang belum selesai di Laptop ku sebelum akhirnya Aku pergi tidur.

Tak terasa, hari hari pun berganti, kembali pas Aku pulang kerja dan sudah mendekati komplek tempat ku tinggal, Aku kembali melijat sosok pemulung yang beberapa hari yang lalu ku lihat, mereka sepertinya sedang beristirahat tepat di dekat rumah kosong yang memang sudah tak terurus. Aku pun meneruskan perjalanan ku pulang ke rumah, sesampai di rumah, Aku berniat ingin melihat mereka kembali, ingin menyapa mereka, kebetulan di rumah ada roti, Aku pun membawanya sebagai jalan untuk menyapa mereka. Segera ku hidupkan mesin Motor ku dan ku kunci pintu rumah, Aku pun bergegas ke sana, ke tempat dimana tadi mereka beristirat, berharap mereka masih di situ.

Aku pun sampai disana, dan benar mereka masih berada disitu.

"Pak, ini ada roti Pak"

"Eh... makasih Pak (ucap si Bapak sambil mendekat ke Aku mengambil roti yang ku tenteng di dalam kantong plastik)

"Oh... iya Pak, sering ya disini?

"Hehehe... iya Pak sambil istirahat sebentar disini"

"Udah banyak Pak, dapat hasil mulungnya? (Sambil mata ku selalu tertuju ke si Ibu yang sedang hamil besar itu, dimana dia terlihat sibuk mengopeki plastik dari gelas Aqua)

"Alhamdulillah Pak"

"Oh iya Pak, di rumah saya ada Koran koran bekas dan juga ada besi bekas ordeldil Mobil, ada beberapa kilo, ya lumayanlah, Bapak mau?

"Oh... mau Pak, mau bangat, rumahnya dimana Mas?

"Di dalam komplek ini Pak, tapi tidak sekarang ngambilnya, kalau mau hari Sabtu saja, sekitar jam segini, gimana?

"Oh iya iya Pak, boleh"

"Ya udah dulu ya Pak, Bu, nanti hari sabtu ketemu disini jam segini ya"

"Iya Pak, makasih banyak ya"

"Iya Pak"

Aku pun langsung menghidypkan mesin motor ku dan langsung meluncur balik ke rumah. Segera Aku mandi, lalu makan malam. Tak terasa sekarang sudah sekitar jam Sepuluh malam, Aku kemudian memutuskan untuk tidur, sambil berbaring di ranjang empuk ku, Aku terbayang bayang akan sosok Wanita hamil tersebut, dimana dia terlihat masih muda, sementara si Bapak itu ku taksir sudah berusia sekitar empat puluh tahunan. Aku jadi bertanya tanya dalam hati ku, apakah mereka itu Suami Istri? Atau jangan jangan malah Si Wanita itu anaknya si Bapak tersebut? Ah sudalah, toh nanti malam minggu saat mereka ke sini, Aku akan mengetahuinya, Aku pun Akhirnya meputuskan untuk tidur.

Tak terasa hari hari pun berganti, dan sekarang sudah hari Sabtu, seperti biasanya Aku pun olahraga pagi lari pagi berkeliling Komplek, karna memang setiap Sabtu dan Minggu Aku libur bekerja, biasanya ku luangkan selalu untuk berolahraga.

Bab 2

Jam pun terus berputar, dan sekarang sudah sekitar jam tujuh malam, gerimis pun turun. Aku tentu sangat kecewa dengan cuaca saat ini karna bisa bisa si Bapak dan Ibu pemulung itu tidak ada ditempat biasa mereka beristirahat, tapi akhirnya kuniatkan juga untuk melihatnya, segera ku hidupkan mesin motor ku dan di tengah gerimis kupaksakan untuk pergi melihatnya, berharap mereka ada disana. Alangkah senanangnya Aku saat mata ku melihat si Bapak dan Ibu itu ternyata sudah berada disana, Aku pun langsung menghampiri mereka.

"Eh... dah lama Pak disini?

"Lumayan Pak, sambil nunggu nunggu Bapak soalnya, hehehe"

"Oh... maaf ya Pak, tadinya malah saya kira si Bapak gak disini gara gerimis ini"

"Pasti disinilah Pak, kan sudah janjian kemarin"

"Iya Iya, ya udah ayo deh Pak kita ambil rongsokannya, oh iya Ibu mau saya Bonceng?

"Gak usah Pak, saya jalan saja sama Suami saya" (Ucap si Ibu)

"Ya udah Pak kalau gitu, nanti Bapak masuk Komplek terus langsung ke Kekiri sampai mentok, baru ke kanan lurus terus sampai mentok juga, rumah saya paling ujung soalnya, dan bilang saja kalau ada yang nanyain Bapak mau ke mana, bilang ke rumah Pak Fadlan mau ambil rongsokan"

"Oh... iya Pak"

"Ya sudah, saya duluan ya Pak, saya tunggu"

"Iya Pak, iya"

Aku pun meninggalkan mereka, dimana mereka berjalan sambil mendorong gerobaknya memasuki komplek perumahan ku, dan kebetulan tidak ada security yang berjaga di Komplek kami. Sesampai saya di rumah, Aku langsung mengganti pakaian ku karna basah kena gerimis yang lumayan, Aku pun hanya memakai kaos Singlet dan celana boxer pendek lalu duduk bersantai di teras rumah ku sambil menunggu kedatangan mereka. Gak sampai sepuluh menit akhirnya si Bapak dan Ibu pemulung itu pun sampai.

Ku bukakan pagar rumah ku lalu kusuruh si Bapak untuk memasukkan saja gerobaknya ke dalam garasi tepat di belakang mobil ku karna memang masih luas yang kosong.

"Ayo masuk Pak"

"Hehehe... iya Pak"

"Jangan panggil Pak lah, masih sendiri soalnya saya, panggil Mas saja"

"Hehehe... oh iya Mas"

Mereka pun masuk, lalu si Ibu kusuruh untuk duduk di Kursi kayu yang ada di teras ku, karna dia tentu kelelahan berjalan apalagi sedang hamil besar dengan beban perut buncitnya yang membuat libodi ku naik ke ubun ubun memandangnya.

"Pak saya bikin Kopi ya, ibu mau Kopi atau teh Manis?

"Gak usah Mas, jadi ngerepotin" ( Ucap si Bapak)

Aku pun menimpalinya dan mengatakan gak ngerepotin, sementara si Ibu itu tidaklah banyak bicara, hanya mangguk saja dan senyum. Segera kubuatkan Kopi untuk ku dan untuk si Bapak dan teh manis panas buat si Ibu tersebut. Setelah itu Aku pun kembali ke teras sambil membawakannya.

"Ayo Pak, Bu diminum"

"Iya Mas, makasih, oh... iya Mas, rongsokannya dimana?

"Ohh... ada Pak disamping, ayok kita lihat"

Aku pun berjalan dan di ikuti si Bapak dan Ibu tersebut, kebetulan Aku menyimpannya memang di samping rumah yang juga adalah gudang kecil ku.

"Wah... lumayan banyak juga ya Mas"

"Iya Pak"

"Makasih banyak nih Mas"

Kemudian si Bapak pun mengangkatinya dan kubantu juga memasukkannya ke dalam gerobak miliknya, sementara si Ibu itu ku minta agar duduk saja dan gak usah ikut membantu kami, akhirnya Koran bekas dan majalah bekas yang menumpuk itu pun berpindah ke dalam gerobak termasuk besi rongsokan yang lumayan juga.

Setelah selesai kami mengangkatinya, kembali kami duduk dan menikmati Kopi yang tadi ku buatkan, sementara sekarang juga justru datang hujan dan semakin deras, yang awalnya tadi hanyalah gerimis. Sambil mengopi, Aku pun mengobrol dengan mereka, ingin tau akan mereka.

"Pak asli mana Pak dan nama Bapak siapa?

"Oh... dari .... Mas" kalau Bapak panggil Pak Danang saja (sambil menyebutkan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Barat)

"Kalau Ibu sama juga, Nama Ibu sendiri?

" Nisa Mas, beda kabupaten"

"Ohh gitu, oh iya Bu, dah berapa bulan tuh?

"Hehe... sudah masuk delapan bulan Mas"

"Wah pantasan sudah besar gitu, bentar lagi dong, anak keberapa tuh?

"Baru ini Mas, hehehe... (balas si Ibu)

"Oh... baru itu, beruntung bangat ya Pak punya Istri masih muda"

"Hehehe... iya Mas"

"Bapak sendiri sekarang ini umur berapa?

"Sudah empat puluhan Mas"

"Kalau Ibu?

"Saya sekarang Dua puluhan Mas"

"Wah!!! Beda jauh ya, beda dua pulu tahun, hebat juga si Bapak ini, dah gitu Istrinya cantik lagi"

Sepasang suami istri itu pun tersenyum mendengar pujian ku. Sambil mengopi, Aku pun menawarkan Rokok milik ku ke si Bapak, sebab dari tadi kuperhatikan dia melihat lihat bungkus rokok ku.

"Pak, di hisap aja Rokoknya, gak apa apa"

"Hehehe... iya Mas, makasih Mas"

"Hujannya makin deras nih"

"Iya nih Mas, gimana ya"

"Ya nunggu berhentilah Pak, masa Bapak sama Ibu hujan hujanan deras gini"

"Emang gak apa apa Mas, takut jadi keganggu soalnya"

"Gak kok Pak, nginap juga gak apa apa"

"Hehehe... Mas ini bisa saja"

Sekarang Aku pun mencari ide untuk menyampaikan niat ku untuk nge☆☆tot dengan Istrinya, tapi Aku bingung bagaimana menhatakannya, dan apakah si Bapak pemulung itu akan mau Istrinya ku pakai dan apakah si Ibu mau ku pakai?

Akhirnya ide pun timbul di pikiran ku, Aku lalu pura pura minta bantuan si Bapak untuk memindahkan meja yang ada di ruang tengah rumah ku, sebenarnya itu hanyalah alasan agar Aku bisa bicara berdua dengan si Bapak tersebut. Aku pun mengajak si Bapak masuk bersama ku kedalam rumah, sementara Istrinya tetap di teras.

Sesampai di ruang tengah, Aku pun pura pura memindahkan meja dengan di bantu oleh si Bapak, kesempatan itu pun kugunakan untuk mengatakan niat ku ke si Bapak.

"Pak Danang, ada yang ingin Saya omongin, ingin minta bantuan Bapak dan kalau Bapak setuju Aku kasih uang sejuta ke Bapak"

"Bantuan apa Mas?

"Hemmm.... gini Pak, tapi jangan marah ya, sebenarnya Aku suka bangat dengan Wanita hamil seperti Istri Bapak, kalau seandainya Aku bisa ngen☆☆tin Istri Bapak malam ini dan Aku bayar satu juta, kira kira Bapak mau gak"

Kemudian Pak Danang pun terdiam sejenak mendengar ucapan ku tersebut, lalu dia pun bertanya.

"Emang Mas gak ada Istri?

"Hehehe gak ada Pak, saya masih sendiri soalnya"

"Tapi gimana ya Pak, istri saya kan lagi hamil besar gitu, emang bisa Pak di en☆☆t kalau lagi hamil besar gitu?

"Ya bisalah Pak, kan asal jangan di tindih aja perutnya, lagian emang Bapak dah gak en☆☆tin ai Ibu?

"Hehe... iya Mas, sudah lama, udah beberapa bulan kali"

"Wah kasihan dong yang di dalam perut si Ibu, gak di kasih protein jadinya"

"Protein apaan Pak?

"Ya Sp☆☆ma lah Pak, hehehe... oh iya Pak gimana, mau gak?

"Gimanya ya Pak, Istri saya mau gak ya, tapi benaran dikasih sejuta Mas?

"Iya benaran Pak"

"Gimana ya,,, butuh bangat sih uang buat lahirannya nanti, tapi Istri saya mau gak ya Mas"

"Ya udah, Bapak coba aja bujuk Istrinya sekarang"

"Iya Mas, sebentar ya"

Pak Danang pun keluar dan menemui Istrinya yang duduk di teras sedang menikmati teh manisnya, sementara Aku mengikuti dari belakang tapi tak ikut ke teras rumah, Aku pun menguping pembicaraan pasangan Suami Istri itu, Aku sangat berharap si Bu Nisa mau, karna Batang pusaka ku sudah sangat berontak dari tadi akibat melihat perut buncitnya, apalagi wajahnya juga lumayan cantik, tapi memang tubunya pendek, mungkin hanya sekitar dada ku jika berdiri bersama berdekatan.

Bab 3

Aku tak sabar menanti jawaban dari Pak Danang, walaupun Aku menguping tapi pembicaraan mereka tak dapat ku dengarkan dengan baik, terlihat pasangan suami istri itu berdiskusi akan hal itu dan mata ku pun menyaksikan si Istri akhirnya mangguk mangguk, Aku tentu berharap itu tanda dia mau akan apa yang di minta Suaminya yaitu Pak Danang. Pak Danang lalu masuk ke rumah, sebelum dia masuk pas masih mau berdiri dari kursi yang dia duduki, Aku pun bergegas ke Sofa untuk duduk, agar dia tak tau kalau Aku menguping mereka dan mengintipnya dari balik gorden.

"Gimana Pak Danang? Mau gak istrinya?

"Mau Mas, tapi benarankan dikasih satu juta?

"Iya benar lah Pak"

"Cuman gini Mas Fadlan, Istri saya pengennya harus Aku temani"

"Maksutnya Bapak nonton Saya ngen☆☆tin Istri Bapak?

"Iya Pak, dia takut katanya" (Sambil menunduk mengatakan itu)

"Ya udah gak apa apa"

Aku pun mengiyakannya, sebenarnya kurang nyaman juga, tapi dari pada gak sama sekali, yq mau gak mau Aku pun mengiyakannya kalau Pak Danang akan berada bersama ku dan Istrinya.

Pak Danang lalu keluar ingin mengajak istrinya masuk ke dalam rumah, Aku pun ikut juga keluar, saat Aku keluar, mbak Nisa langsung menundukkan kepalanya.

"Pak, gerobaknya di dorong rada kebelakang lagi Pak, biar gak kelihatan"

"Iya Pak"

Setelah Pak Danang selesai mendorong gerobaknya, kami bertiga pun masuk ke dalam rumah lalu segera ku kunci pintu, lalu Aku mengambil handuk dan meminta pasangan suami istri pemulung itu untuk mandi terlebih dahulu, karna memang tercium oleh ku bau keringat yang membuat ku kurang nyaman dari tubuh mereka. Mereka berdua pun ku arahkan ke kamar mandi tamu untuk mandi bersama agar cepat sebab Aku sudah tak sabar ingin mencicipi tubuh Wanita hamil yang menjadi obsesi ku belakangan ini, apalagi pusaka ku juga sudah sangat berontak sampai sampai celana boxer yang ku pakai terdorong ke depan karna sudah gananya pusaka ku tersebut.

Akhirnya sepasang suami istri itu pun selesai mandi, Aku kemudian mendekati mbak Nisa sambil senyum, wajahnya yang dia tundukkan langsung ku cium di depan suaminya, perut buncitnya pun ku elus elus. Segera ku gandeng tangannya ke dalam kamar ku dan di ikuti oleh Suaminya dari belakang. Aku kemudian mendudukkan mbak Nisa di tepi ranjang ku, lalu Pak kusuruh duduk di Kursi yang ada di dalam kamar ku, kursi di dekat cermin besar yang ada di dalam kamar yang jaraknya sekitar satu setengah meter dari tepi ranjang tempat di mana istrinya sekarang duduk sambil menundukkan kepalanya.

Ku dekati mbak Nisa dan duduk di sampingnya, segera ku raba buah dadanya, dia pun terlihat kaku akan perlakuan tangan ku yang meremas perlahan buah dadanya walau masih terhalang oleh daster yang dia kenakan. Pak Danang sendiri juga sama, dia hanya duduk terdiam dan justru menundukkan wajahnya.

Kemudian ku minta mbak Nisa untuk berdiri lalu dia ku peluk dari belakang, kembali ku remas remas buah dada miliknya, mbak Nisa pun masih kaku seperti patung, hanya nafasnya yang sesekali di tarik panjang. Aku lalu berkata ke Pak Danang yang duduk di hadapan ku dan Istrinya Nisa.

"Pak, Istrinya ku telanjangi ya"

Sambil tangan ku mulai bekerja melepas daster yang dikenakan Nisa,sementara Pak Danang hanya mengangguk menjawab perkataan ku.

"mbak, rilex aja, gak usah takut, Aku jamin nanti ibu akan keenakan, apalagi kata si Bapak, Ibu sudah lama gak di kelonin"

Mbak Nisa pun hanya terdiam dan akhirnya daster lusuh yang dia kenakan pun terlepas dari tubuhnya tapi jilbab yang dia pakai sengaja tak ikut ku lepas. Mata ku pun memandang pemandangan yang sangat luar biasa, dimana bagian privatnya sekarang hanya terbungkus BH dan Celana dalam yang ku perhatikan cukup kusam dan bahkan ada bolongnya, tali BH itu lalu ku lepas dan terpampanglah bukit kembar miliknya yang lumayan besar dengan puting kecoklatan dan terlihat disanana seperti ada yang putih di muncung puting miliknya, aku yakin itu pasti ASI akibat dari remasan ku tadi.

Kembali Bu Nisa kududukkan dan tampa basa basi langsung ku lahap putingnya dan ku sedot kuat, benar saja ternyata mulut ku langsung terisi oleh ASI miliknya, satu tangan ku pun bekerja di bagian buah dadanya yang satunya meremas dan memilin putingnya dengan jari ku. Terdengar oleh ku sedikit desahan dari mulutnya saat lidah ku menggelitik putingnya.

"Pak, enak bangat ASI Istri Bapak, Bapak dah pernah sedot belum?

"Belum Mas" (jawab Pak Danang dengan sedikit terbata bata)

Kembali ku sedot dengat buasnya kedua puting Bu Nisa dengan bergantian, Aku menyedot ASI miliknya dengan buas.

"Mas ahhh.... "

Desahan pun keluar dari mulutnya. Setelah puas akan ASI nya, mulut ku lalu bergeriliya menyusuri perut buncitnya lalu berhenti di bagian pusar dan lidah ku langsung mengelitinya.

"Awouh.... jangan, geli ahh...

"Nikmati saja Bu, malam ini Ibu akan Aku puaskan"

Kemudian mulut ku semakin turun dan pahanya sedikit kulebarkan, ku pandang sejenak akan bagian intimnya yang masih terbungkus oleh CD kusam dan ada bolongnya itu, hidung ku pun mencium aroma anyir disana, sepertinya CD itu sudah di pakai oleh Bu Nisa beberapa hari ini, tapi Aku justru menyukai aroma yang berada disana.

Hidung ku semakin ku dekatkan dan bahkan sudah bersenduhan langsung dengan CD nya, kuhirup dalam dalam aroma khas yang semakin membuat ku bertambah bergairah.

"Mas jangan, itu jorok"

"Gak Kok mbak, justru Aku suka dengan baunya"

Permukaan CD itu pun sudah mulai basah dan licin, hidung mancung ku semakin ku tekan seolah ingin membelah lobang goa Surga dunia milik Bu Nisa walau masih terhalang CD kusam tersebut.

"Auhh.... baunya nikmat bangat Bu, Fadlan suka"

Sekarang bukan hanya hidung ku yang bekerja, tapi lidah ku juga mulai menyapu nyapu permukaan CD itu.

"Mas jangan, itu kan jorok"

"Gak jorok itu mbak, justru lejat, nanti juga me☆☆k Ibu akan ku jilati dan menelan lendirnya, emang me☆☆k mbak gak pernah ya dijilati Bapak?

"Gak pernah Mas"

"Wah si Bapak, harus di jilati pak" (Sambil ku pandang Pak Danang mengatakan itu)

"Pak, CD istrinya Fadlan lepas ya"

Jari ku pun mulai menariknya, tapi jari dari Bu Nisa mencoba menahannya, Aku pun menyingkirkan jarinya dan akhirnya CD itu pun mulai ku turunkan lalu ku minta mbak Nisa agar sedikit mengangkat pantatnya agar Aku dapat melepasnya, akhirnya lepas juga CD yang dia pakai, spontan mbak Nisa langsung menutupi Sorga dunia miliknya itu dengan telapak tangannya.

"Gak usah malu mbak, Aku sangat suka kok Me☆ek Ibu, lebat bangat lagi bulunya, gak pernah di cukur ya? Pak, Me☆mek Istri Bapak bagus bangat, boleh ya Aku jilati" (Sambil ku tatap Pak Danang yang duduk terdiam meyaksikan aksi ku)

Aku kemudian medudukkan Bu Nisa kembali di tepi ranjang dan kembali telapak tangannya dia gunakan menutupi Sorga dunia miliknya itu, segera kusingkirkan tangannya, mata ku lalu memandang betapa indahnya Me☆mek itu, betapa indahnya Me☆mek Wanita hamil, terlihat oleh ku disana sudah basah. Ku lebarkan kedua kaki mbak Nisa dan Aku pun berjongkok di lantai, lalu pas saat ku dekatkan mulut ke Me☆ek nya, mbak Nisa pun berkata:

"Jangan Mas, itu jorok"

"Gak kok Sayang, justru Aku suka, Aku ingin bersihin lendir Me☆mek mu dengan lidah ku dan menelannya, nikmati saja ya"

Ku ucapkan kata sayang ke mbak Nisa. Kemudian langsung ku rapatkan mulut ku ke Me☆mek nya, ku hirup dalam dalam oroma khas dari sana, aroma yang membuat nafsu sahwat ku semakin memuncak. Lidah ku kemudian langsung menyapu nyapu bibir Me☆meknya walau sedikit terhalang oleh bulu lebat yang ada disana.

"Awouh.... Mas, jangang Mas, jorok itu Mas"

Ku hentikan sebentar sapuan lidah ku karna telapak tangan dari mbak Nisa kembali menghalangi mulut dan lidah ku, Aku pun berkata ke Pak Danang Suaminya

"Pak, emang Bapak gak pernah ya jilatin Me☆meknya?

"Gak pernah Mas"

"Wah Bapak harus di ajari ini, sini Pak duduk di samping Istri Bapak, biar bisa lihat"

Pak Danang pun melangkang sedikit kaku mendekat ke ranjang, lulu kuminta dia duduk tepat disamping Istrinya. Kembali kusingkirkan kedua tangan Bu Ningsi dan menahannya agar jangan menghalangi aksi mulut dan lidah ku yang memang sudah sangat ingin membersihkan semua lendir yang ada di dalam Me☆meknya.

"Di lihat Pak, biar lain kali bisa bikin mbak Nisa terkencing kencing keenakan"

Kembali ku jilati Me☆mek nya dan lidah ku pun menerobos masuk ke dalam goa hangat miliknya. Sementara Pak Danang pun dengan setia menyaksikan mulut ku dengan rapat di Me☆mek Istrinya.

"Awuhhh.... Mas, geli, ahhhh.....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED