"Itu pasti Mas Arya," gumam Shanum. Wanita cantik yang tengah sibuk berkutat di dapur dengan berbagai adonan kue itu pun melepaskan apronnya tatkala mendengar ketukan pintu dari luar.
"Shanum, cepat buka pintunya!" Terdengar suara bariton suaminya yang terdengar tergesa. Shanum merapikan penampilannya seadanya. Lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu utama.
Pintu terbuka. Wanita itu terhenyak seketika saat melihat sosok yang berdiri di balik pintu. Bukan hanya suaminya saja yang di sana, melainkan ada ibu mertuanya, adik iparnya dan satu perempuan muda yang sama sekali tak dikenal Shanum.
"Mas?" lirihnya masih bertanya-tanya tentang perempuan itu.
"Lama amat sih buka pintunya, ngapain aja di rumah!" ketus Bu Desi yang langsung menyelonong masuk ke dalam rumah mewah dua lantai itu. Wanita itu menatap jijik ke arah sang menantu yang penampilannya sama sekali tak sedap dipandang. Bagaimana tidak, di baju Shanum terdapat beberapa bercak dari adonan tepung hingga membuat Bu Desi mencela penampilannya.
"Iya, bikin orang capek berdiri aja," timpal Lila tak kalah ketus dari ibu kandungnya. Sedetik kemudian, perempuan muda itu sudah mengekori langkah Bu Desi, dan duduk di sofa empuk yang ada di ruang tamu.
"Kamu kenapa sih lama banget buka pintunya," sahut Arya kesal. Dia juga ikut-ikutan mengomeli Shanum sama seperti ibu dan adiknya barusan. "Ayo, masuk," ajaknya kemudian sambil menggandeng tangan perempuan muda yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
Shanum memutar bola matanya malas. Mendengar tiga kali omelan dari ketiga orang itu membuatnya sedikit naik pitam. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, demi menetralkan emosinya. "Sabar, Shanum," gumamnya lirih.
Shanum melangkah mendekati mereka yang kini sudah duduk di sofa. Ia menjadi orang terakhir yang mendaratkan tubuhnya di sofa single yang tersisa.
"Wah, rumahmu besar dan luas juga ya, Arya. Ibu menyesal karena dulu nggak mau ikut kamu ke Jakarta dan tinggal di sini," ucap Bu Desi. Kedua bola matanya tampak berbinar-binar memindai seisi rumah yang ditempati Arya dan Shanum, dengan berbagai macam perabotan mewahnya.
"Ya iyalah, ibu sih. Lila kan udah bilang, mending tinggal di rumah Mas Arya aja. Eh, ibunya nggak mau!" celetuk Lila menimpali penyesalan sang ibu.
Sementara itu, Shanum hanya diam dan memerhatikan gerak-gerik mereka berempat. Arya, Ibu mertua, adik ipar, serta seorang perempuan yang asing bagi Shanum.
Bu Desi dan Lila yang masih terpesona dengan desain rumah mewah itu, dan Arya juga perempuan yang sedari tadi menundukkan kepalanya, enggan membalas tatapan Shanum. Mungkin … takut.
"Mas Arya, tolong jelaskan semua ini," pinta Shanum mulai membuka suara. Wanita itu menaruh kedua tangannya di perut sembari memindai keempat orang di hadapannya dengan tatapan menyelidik.
"Ah iya, aku sampai lupa untuk mengenalkannya padamu, Sha," ucap Arya santai, seakan tanpa beban, pun juga rasa bersalah telah membawa istri barunya ke istana yang ditempatinya dengan Shanum selama tiga tahun terakhir.
Shanum menatap lekat ke arah Arya, menanti kata demi kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Katakan, siapa dia Mas?" Penuh penekanan, Shanum bertanya. Kedua matanya tengah memindai sosok asing yang duduk di samping suaminya, bahkan bergelayut manja di lengan sang suami.
"Perkenalkan, dia adalah Anara, istri baruku." Tanpa dosa, lelaki yang masih berstatus suami sah Shanum itu memperkenalkan perempuan dengan riasan tebal, dan pakaian yang aduhai seksinya sebagai istri barunya. Bagaikan petir di musim kemarau ketika Arya mengenalkan sosok itu.
"Aku sudah menikah dengan Anara tiga bulan yang lalu," sambungnya sembari menatap mesra Anara yang duduk di sampingnya, melempar senyum remeh terhadap istri sah Arya.
"Hahaha…." Shanum tiba-tiba saja tertawa lepas. Dia menertawakan dirinya sendiri. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tiba-tiba saja dirinya dilanda kenyataan sedemikian rupa. 'Sedih, iya. Tapi hanya sedikit saja. Hatiku terlalu berharga untuk meratapi lelaki pecundang seperti Mas Arya. Mirisnya hidupku!' keluh Shanum dalam hati.
Shanum menghentikan tawanya. "Lalu, maksudmu apa membawanya ke sini, Mas," ucap Shanum dengan wajah datar.
Sementara keempat orang itu menatap Shanum heran. Ya, Arya, Bu Desi, Lila, dan juga perempuan muda yang baru saja dikenalkan Arya sebagai istri keduanya. Mereka tercengang dengan ekspresi Shanum.
Bukan amarah atau makian yang wanita itu lontarkan. Melainkan ekspresi datar dan dingin yang Shanum tunjukkan pada mereka berempat.
'Hah! Jangan harap! Aku tak akan mengotori mulutku dengan mengucapkan bermacam sumpah serapah pada mereka. Tidak akan!' Shanum membatin dalam hatinya.
"M–Maksudku ...." Arya tampak gugup. Pria itu mendadak ciut setelah melihat reaksi santai Shanum.
"Katakan saja pada Shanum, Arya. Jangan bertele-tele! Kita akan tinggal di sini mulai sekarang!" tukas Bu Desi, dengan tatapan sinisnya tertuju pada Shanum.
Anara? Perempuan itu hanya mampu menundukkan wajahnya. Menyembunyikan senyum licik di balik wajahnya. Shanum dapat melihat senyuman licik dari perempuan itu. Seakan tengah mengejeknya.
"Tunggu, kalian? Maksudnya Ibu, Lila, dan juga perempuan ini akan tinggal di sini? Di rumahku? Aku nggak salah dengar kan, Mas?" Shanum menatap tajam tepat di manik mata suaminya.
Pria itu terlihat gelagapan. Jakunnya naik turun tampak kesulitan menelan ludahnya. Dia pikir Shanum akan iya-iya saja dengan kemauannya. Tetapi, dugaannya salah besar.
"Be–Benar, Sha. Karena Anara sekarang jadi istriku juga. Jadi, dia akan tinggal bersama kita. Kamu nggak keberatan, kan?" ucap Arya dengan intonasi sedikit rendah.
"Kalau aku nggak bolehin gimana?" tantang Shanum tidak mau kalah.
Anara seketika menengadahkan wajahnya menatap tajam ke arah Shanum.
'Hei, gundik! Beraninya kau menatapku seperti itu. Cih!' Shanum menggeram dalam hatinya.
Bu Desi dan Lila pun tak kalah sinisnya kala matanya beradu pandang dengan Shanum.
"Aku kepala keluarga di sini, jadi aku berhak menentukannya, Sha!" ujar suami Shanum itu, sok bijak.
"Rumah ini adalah rumahku. Aku nggak mau ada sampah yang masuk ke rumahku yang mewah ini," sarkas Shanum seraya mengangkat dagunya.
"Plis, Sha. Anara lagi hamil sekarang. Aku nggak tega kalau biarin dia, ibu dan Lila tinggal di rumah yang sempit. Bukankah di sini banyak kamar yang kosong, Sha. Biarkan mereka tinggal di sini," ucap Arya dengan tatapan mengiba.
"Jangan banyak protes lah kamu, Shanum!" sentak ibu mertuaku. Tatapan matanya nyalang menatap ke arah menantunya itu.
'Apalagi ini!' desis Shanum dalam hatinya ketika melihat kemarahan sang ibu mertua dan mendengarnya membentaknya untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
"Kamu jangan sok berkuasa atas rumah ini. Inikan rumah hasil kerja keras Arya, putraku. Kamu kerjanya cuman ongkang-ongkang kaki, jadi jangan sok ngatur suamimu!" ketusnya lagi.
'Apa? Aku tak salah dengar? Ongkang-ongkang kaki, katanya. Ibu mertuaku seperti belum sepenuhnya mengenalku.' Shanum mencibir dalam hatinya.
Arya terlihat menyikut pelan ibunya. Memberi kode pada ibu mertua untuk berhenti.
"Sudah, Bu. Jangan dilanjutkan lagi." Arya tampak berbisik ke telinga ibunya.
"Sudah mandul, sok-sokan mau menguasai harta anakku. Dasar benalu kamu, Shanum!" hinanya lagi.
Shanum terkesiap dengan hinaan dari Bu Desi. Wanita itu tak mengindahkan permintaan putranya untuk diam. Dia justru melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati Shanum.
"Apa Ibu bilang?" tukas Shanum dengan mata memerah menahan amarah.
***
"Sudahlah, Shanum! Terima saja kalau suamimu ini punya istri baru. Sudah mandul, jadi benalu pula. Lagian, lelaki kan boleh beristri lebih dari satu," terang Bu Desi. Kata-kata itu sungguh menyakitkan bagi Shanum.
Sementara itu, Anara dan Lila hanya tersenyum mengejek ke arah Shanum yang terdiam atas celaan dari Bu Desi. Mereka berdua mengira kalau wanita itu akan menangisi nasibnya. Tapi, mereka salah! Shanum tak selemah itu.
"Bu, sudah dong." Arya lagi-lagi memberi sinyal agar sang ibu tak lagi melontarkan kata-kata yang akan membuat Shanum murka.
"Aku? Mandul? Benalu? Apa Ibu nggak salah bicara?" tantang Shanum dengan tatapan dinginnya.
"Ya iyalah! Lihat saja, tiga tahun lebih menikah kamu juga belum bisa hamil! Itu namanya, MANDUL!" Tekan Bu Desi saat menyebutkan kalimat terakhirnya. "Lalu rumah ini, kemewahan ini, seluruh perabotan yang ada di sini, bukankah semuanya adalah kerja keras anakku! Jadi, wajar kalau kamu disebut sebagai BENALU!" Bu Desi mendelik tajam ke arah Shanum.
Sedangkan, raut wajah Arya justru berubah panik saat mendengar ucapan sang Ibu. Peluh sebesar biji jagung sudah bercucuran di keningnya.
'Gawat!' Pria itu membatin cemas.
Shanum kini mengerti setiap maksud dari perkataan dari ibu mertuanya. Dan, dengan perkataan itu membuat Shanum paham bagaimana Arya menceritakan tentang dirinya pada sang mertua.
"Shanum, tolong lupakan ucapan ibuku ya. Kami lelah, jadi tolong biarkan kami semua istirahat ya?" pinta Arya tak tahu malunya mengalihkan topik pembicaraan.
Kini giliran Shanum yang mendelikkan kedua matanya ke arah lelaki yang masih berstatus suaminya itu.
'Jadi begitukah ibumu menganggap diriku selama ini?' Shanum membatin. 'Haha… tunggu! Mereka sungguh belum tahu siapa aku. Wah! Benalu katanya? Aku ingin sekali terbahak rasanya,' gerutunya dalam hati kecilnya. Dia tak boleh lemah, apalagi di hadapan mereka.
"CUKUP!" sentak Shanum dengan suara meninggi.
Ini sudah tak bisa ditolerir lagi. Ia harus menunjukkan siapa yang berkuasa dan berhak di rumah ini. Bukan Arya, apalagi sang ibu mertua. Rumah ini adalah rumah peninggalan orang tuanya, juga semua aset yang di dalamnya. Enak saja, Arya mengakui semuanya sebagai miliknya, pikir Shanum.
Mereka berempat tampak begitu terkejut dengan bentakan Shanum yang tiba-tiba. Tampak, Bu Desi tengah memegangi dadanya demi menenangkan degup jantungnya yang bertalu-talu cepat akibat sentakan Shanum yang cukup keras.
"Sha–Shanum …," cicit Arya lirih. Sama sekali, dan mungkin tak menyangka jika istri yang selalu lemah lembut di hadapannya bisa membentak begitu keras seperti tadi.
'Salahmu yang membangunkan singa betina yang tengah tertidur, Mas.' Shanum mendesis dalam hatinya.
"Tenanglah, Shanum. Aku hanya minta biarkan mereka—" Ucapan Arya terpotong oleh suara Shanum yang menggema.
"Pertama, kamu datang dengan membawa istri barumu, bagaikan sebuah kejutan yang tak terduga, Mas. Kedua, kamu tiba-tiba juga memintaku agar menerima kehadiran istri barumu di sini. Kamu hebat, Mas!" ucap Shanum penuh penekanan.
"Kamu keterlaluan! Kamu pikir aku akan menerima begitu saja diperlakukan seperti itu?" Shanum menatapnya dengan nyalang. Lelaki tampan itu terlihat gusar, jelas tampak dari gestur tubuhnya yang mulai tak nyaman. Shanum menyadari perubahan suaminya itu.
"Nggak akan, Mas. Kalau hanya ibumu dan adikmu yang tinggal di sini, tentu saja aku tak keberatan. Tapi ini? Terlalu mudah bagimu mengkhianati ikatan suci pernikahan kita. Aku juga tak sudi jika dipoligami. Kalian menikah di belakangku saja, itu sudah sangat menyakitkan! Caramu salah, Mas! Sekarang pilihlah, aku atau istri barumu, Mas?" Shanum memberikan pilihan bagi Arya. Ia ingin melihat seberapa besar ketegasan Arya, meskipun harapannya setipis kulit ari karena saat ini wanita itu tengah mengandung buah hati Arya, dan Shanum? Dia belum mengandung, dan ada alasan di balik semua itu.
Hening. Mendadak tak ada yang mengeluarkan suara lagi di ruangan itu. Hanya terdengar desah dan hela napas yang saling bersahutan. Anara memegang tangan Arya erat-erat seakan mengisyaratkan kalau dia ingin agar Arya memilihnya dan membuang istri tuanya.
"Berani dan sombong sekali, kamu mengatakan itu, Shanum! Arya cepat ceraikan saja istri tak tahu dirimu itu. Kamu pikir bisa menikmati sendirian harta Arya, hah! Tidak akan kubiarkan selama aku masih hidup!" cetus ibu mertua Shanum secara tiba-tiba setelah keheningan yang membelenggu. Jari telunjuknya menunjuk tepat di wajah Shanum.
Shanum tak merasakan lagi sakit di hatinya. Seperti sudah mati rasa dengan kata-kata cacian itu.
"Arya itu menikah denganmu semata karena kasihan, kamu tahu! Kamu itu cuma anak sebatang kara dan nggak punya siapa-siapa! Berterimakasihlah Arya tak menceraikanmu setelah punya istri baru. Dasar wanita benalu, mandul!" racau ibu mertua Shanum lagi. Semakin menambah serpihan luka di hatinya.
Shanum diam, dan hanya menganggap suaranya bak radio butut yang sudah rusak.
"Stop, Bu! Hentikan!" hardik Arya yang sudah hilang kesabaran pada setiap kata-kata sang Ibu. Arya tampak menatap Shanum dengan tatapan yang entah.
"Sha, maafkan ibuku. Itu ... sungguh nggak seperti yang kamu pikirkan. Jangan terlalu dipikirkan ucapan ibuku. Kumohon, cukup terimalah Ibu, Lila, dan Anara di sini. Aku tak ingin berdebat dan membuat rumit permasalahan lagi." Arya tampak bangkit dari tempat duduknya, mendekati Shanum dan menggenggam tangannya erat-erat.
Namun, telinga Shanum sudah telanjur mendengar semua hal menyakitkan dari ibu mertuanya. Ia tak akan tinggal diam.
"Ibu," ucap Shanum begitu lirih. Yang dipanggil pun segera menatapku sang menantu masih dengan tatapan sinisnya.
"Ibu bilang kalau aku sebatang kara? Ibu bilang juga, kalau aku hanya benalu yang hanya ingin menguasai harta anakmu? Ibu bilang, aku ini mandul?" tanya Shanum mengulang setiap cercaan dan makian Bu Desi dengan jelas. Kedua matanya menatap lekat wanita bertubuh gempal dengan perhiasan emas yang menghiasi hampir seluruh tubuhnya. Persis toko Emas berjalan, dan beliau adalah ibu mertua yang selalu dihormatinya selama ini.
"Iya? Memang kenapa? Apakah perkataanku kurang jelas? Kamu tuli?" sahut Bu Desi balik menatap nyalang ke arah Shanum.
Shanum memiringkan sudut bibirnya. "Aku nggak tahu, apa saja yang Mas Arya ceritakan tentangku pada Ibu. Yang jelas, tanyakan sendiri kebenarannya pada anakmu, Bu. Siapa yang sesungguhnya jadi benalu di sini? Aku atau anakmu?" ujar Shanum dengan nada mengintimidasi.
Seketika saja Arya terlihat gugup. Sementara, Anara dan Lila yang usianya sebaya itu tampak penasaran dengan hal yang terjadi selanjutnya. Mereka hanya menyimak dan mendengarkan perdebatan tiga orang dewasa itu saja.
Sedangkan ibu mertua Shanum justru terlihat memandang wajah tampan putranya, seakan-akan tengah menagih penjelasan dari Arya atas ucapan Shanum tadi.
Shanum menyeringai, 'Maukah kuceritakan cerita yang lucu pada kalian? Di mana sang benalu, menganggap pohon inangnya sebagai benalu,' desisnya dalam hati sembari menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
"Jadi ibu mau dengar cerita yang sebenarnya dariku, atau dari anak ibu?" tawar Shanum lagi seraya menunjuk tepat di wajah Arya.
Suaranya lembut namun penuh penekanan itu sanggup memecah keheningan yang menyapa di ruangan itu.
Arya terkesiap. Mana mungkin dia membiarkan istrinya itu menjelaskan yang sebenarnya. Bisa-bisa kebohongannya selama ini terbongkar.
'Aku nggak boleh diam saja!' tekadnya dalam hati.
"Biar aku aja yang jelasin, Sha. Sekarang, aku minta kita sudahi perdebatan ini, ya. Aku lelah, ingin istirahat." Arya berkata dengan nada memelas ke arah Shanum yang masih menatap tamu-tamu tak diundangnya dengan tatapan yang sulit dimengerti.
'Ck, tentu saja kamu lelah, Mas. Alasanmu ke luar kota selama hampir seminggu ini, rupanya untuk mempersiapkan kepindahan ibu, adikmu dan juga istri barumu.' Shanum membatin geram dalam hatinya.
"Duh, udah deh, Mbak Shanum. Jangan kebanyakan drama! Aku tuh capek, mau istirahat. Mana, ayo tunjukkan kamarku." Lila yang sedari tadi diam, rupanya sudah tak sabar untuk menempati salah satu kamar di rumah mewah milik Shanum itu. Ucapannya sama sekali tak memiliki sopan santun terhadap Shanum yang merupakan kakak iparnya juga tentunya usia mereka tidak sebaya.
"Benar itu, ayo mana tunjukkan kamar kami," timpal Bu Desi yang seolah tak peduli dengan perasaan Shanum.
Arya menatap Shanum lagi, seolah-olah tengah meminta persetujuan dari istrinya dengan tatapan mengiba. Shanum hanya menanggapi tatapan Arya dengan acuh.
"Ibu, Lila. Dengar ya, sekali lagi kalian harus tahu segala sesuatunya dulu sebelum memutuskan tinggal di rumah ini. Jadi Mas Arya ini—"
"Sudah, Sha. Tolong. Kamu nggak ngerti banget sih, aku capek. Kita kan bisa bicarakan ini nanti, Sha!" potong Arya sengaja menyela ucapan sang istri.
Shanum memiringkan sudut bibirnya. Seakan mengejek sikap pecundang dari Arya. "Enak saja kamu memintaku menyudahinya, Mas! Kamulah yang memulai semua ini!" seru Shanum geram dengan sikap Arya yang terlalu menganggap enteng masalah itu.
Arya bersikap masa bodoh saja, seakan-akan tak mendengarkan seruan Shanum yang tak menyukai kehadiran istri baru suaminya itu.
"Sudah, Arya! Nggak usah hiraukan istrimu itu. Dia itu palingan marah karena kamu udah punya istri, dan istrimu lagi hamil! Jadi dia iri karena nggak bisa hamil!" sergah Bu Desi mendelikkan bola matanya sinis ke arah sang menantu.
Lagi dan lagi, Shanum menelan ludahnya seraya menegarkan hatinya. Dia memang sengaja tidak hamil dulu dan mengonsumsi pil KB tanpa sepengetahuan Arya. Hal itu dia lakukan demi menguji cinta dan ketulusan Arya. Lantas, hari ini semuanya terbongkar. Shanum bersyukur dia belum mengandung buah hati dari pria pengkhianat seperti Arya.
"Terserah, apa kata Ibu, yang jelas saya nggak sudi ada sampah yang masuk ke rumah saya ini," tukas Shanum dengan nada menyindir Anara.
"Mas, dengar nggak? Dia ngatain aku sampah!" protes Anara tak terima ketika melihat sorot meremehkan dari Shanum.
"Kalau kamu bukan sampah, lalu apa?" Shanum sengaja menantang Anara.
"Mas!" rengek Anara meminta pembelaan Arya. Pria itu merasakan kepalanya berdenyut akibat ulah dua istrinya yang berseteru itu.
"Huh, sebel deh! Berisik banget kalian!" Lila berdecak kesal, lalu bangkit dari tempat duduknya dan tanpa kata langsung masuk menjelajah seisi rumah Shanum.
"Hei, kamu mau ke mana, tunggu ibu!" seru Bu Desi seketika menyusul langkah Lila.
"Bawa dia pergi, Mas!" tegas Shanum menyorot tajam mata Arya. Berusaha mencari celah dan alasan untuk mempertahankan rumah tangga yang masih seumur jagung itu.
"Nggak bisa, Sha! Dia istriku, dia juga sedang mengandung anakku. Mana mungkin aku menelantarkannya," tolak Arya dengan wajah tertunduk lesu.
Shanum menghela napasnya panjang. Rasa cinta yang mulai tumbuh pada suaminya itu kini menguap begitu saja. Rasanya sia-sia saja mempertahankan rumah tangganya dengan Arya.
"Kamu sungguh nggak bisa mengusirnya dari rumahku, Mas?" Sekali lagi, Shanum bertanya. Arya hanya menggelengkan kepalanya, tanpa berani menatap wajah Shanum.
"Anara, Ayo kita masuk. Kita ke kamar tamu." Arya lantas berlalu sembari menggiring istri keduanya itu ke kamar tamu. Tanpa menghiraukan Shanum yang masih menatap mereka dengan raut keberatan. Sementara, Shanum yakin kalau ibu mertua dan adik iparnya itu sudah masuk ke kamar lainnya. Karena memang rumah ini terdapat banyak kamar. Tiga di lantai bawah, dan tiga di lantai atas.
Rumah yang ditinggalkan oleh Dhanu Mahendra, ayah Shanum begitu besar dan megah untuk anak tunggal sepertinya. Dhanu selalu berharap suatu saat Shanum berumah tangga dan memiliki banyak anak sehingga rumah ini akan riuh ramai oleh kehadiran cucu-cucunya. Namun, amat disayangkan ketika setahun yang lalu Dhanu meninggal dunia.
Satu-satunya keluarga yang Shanum miliki sudah tiada. Dan saat ini, dirinya hanya memiliki Arya saja sebagai pasangan hidupnya. Namun, sepertinya mulai saat ini Shanum harus terbiasa sendiri, setelah Arya terang-terangan berkhianat di depan mata kepalanya sendiri. Lelaki itu sudah melewati batasnya.
Shanum menghela napas panjang demi meredam emosinya, "Ya, biarkan saja deh. Setidaknya untuk malam ini aku akan membiarkan mereka tidur dengan nyaman," gumamnya.
Bukan. Bukannya Shanum bodoh membiarkan mereka tetap tinggal di sini. Hanya saja, sisi kemanusiaannya tetap tak tega jika melihat kondisi Anara yang katanya tengah hamil. Shanum dapat melihat dari balik dress biru laut selututnya kalau perutnya sudah tampak mulai membuncit.
Shanum menebak-nebak jika usia kandungannya mulai menginjak trimester kedua.
"Astaghfirullah." Shanum memekik pelan ketika menyadari sesuatu.
"Kalau Mas Arya mengatakan baru menikah tiga bulan yang lalu. Itu artinya … mereka sudah terlebih dulu melakukan hubungan terlarang sebelum menikah. Mereka sudah berzina!" Shanum berkata lirih atas keterkejutannya yang masuk akal mengenai hubungan suaminya dan Anara.
Ia bahkan bertanya-tanya sejak kapan Arya mulai berhubungan dengan Anara. Shanum bergidik jijik saat sadar jika suaminya itu telah menjamah perempuan lain selain dirinya.
'Ya Allah, kenapa kenyataan ini begitu kejam?' lirih Shanum dalam hatinya. Suaminya sudah berselingkuh, dan ia baru mengetahuinya sekarang. Dan tepat di saat dia sedang ingin berhenti mengonsumsi pil KB demi melakukan program hamil. Tapi, kenyataan ini begitu saja terkuak, membuat Shanum sedikit senang karena dia belum sampai mengandung benih Arya di rahimnya.
"Entah apakah aku harus bersyukur atau bersedih atas kenyataan ini." Shanum menggumam pelan, dengan dua tetesan bening yang meleleh di pipinya. Wanita itu beranjak berdiri dari tempat duduknya, setelah menyeka kasar air matanya, lalu dia berniat untuk masuk ke kamarnya.
Ia mencoba menghalau pikirannya tentang kemungkinan yang ada.
"Hufh… sudahlah, aku harus belajar tak peduli dengan mereka. Besok, aku pastikan mengusir mereka dari rumah ini. Harus!" gumam Shanum yakin sembari berjalan menuju ke arah tangga yang akan membawa dirinya naik ke kamar, tempatnya mengistirahatkan tubuh lelahnya.
***