Bab 1

(Mereka masuk ke dalam kamar yang sama.)

Kubaca dengan seksama pesan dari seseorang yang kuminta untuk mengintai suamiku dan gundiknya.

(Baik, terima kasih,) balasku singkat.

Menarik nafas panjang untuk meredakan sesak yang ada dalam dada, aku keluar dari kamar hotel yang kini kutempati. Langkahku cepat bersama manager hotel yang sebelumnya kupinta bantuannya.

Tanpa mengetuk pintu dahulu. Pria yang berdiri di sampingku langsung menempelkan card key untuk kemudian pintu terbuka lebar.

Langkahku cepat masuk ke dalam kamar, melihat sepasang pria dan wanita tengah melakukan itu dengan keadaan tanpa sehelai benang pun.

Berdehem pelan, kulihat wajah keduanya yang langsung terperanjat dengan mata membulat, lalu buru-buru menarik selimut untuk menutupi raganya yang tak berbalut.

“Zea?!” lirih si gundik.

“Mama?” Pria yang berbalik dengan gundiknya itu melotot menatap ke arahku. Suamiku juga terkejut melihatku berdiri bersama beberapa orang yang salah satunya memegang handycam.

“Pakai pakaianmu, kita bicara.”

Mas Raga susah payah menelan saliva. Mungkin tak menyangka aku akan mempergokinya untuk yang kesekian kali.

Ya, dia adalah Mas Raga—suamiku. Untuk kesekian kalinya dia berselingkuh dengan wanita yang tidak pernah henti-hentinya mengajar dia.

Shevaya namanya.

Enam kali sudah ‘ku maafkan perbuatannya, tapi kali ini lebih keterlaluan. Mereka bahkan dengan teganya sedang melakukan hal itu.

Nyeri tentu saja, sakit hati apalagi. Tapi aku tak berdaya atas keadaan. Perpisahan yang pernah terpikirkan akan membuat orang-orang di sekitarku terluka.

Aku sering memergoki mereka di hotel hendak check in, di mobil sedang bercumbu, bahkan saat mereka berada di bandara. Keduanya terlihat bergandengan tangan tanpa malu dilihat oleh orang sekitar.

Suamiku berprofesi sebagai pilot dan gundiknya yang berprofesi sebagai seorang pramugari, memungkinkan keduanya untuk sering bepergian bersama, bahkan menginap di hotel yang sama saat fly ke berbagai kota atau negara.

Dan sekarang, untuk sekian kalinya aku harus mendapati kenyataan tentang suamiku yang doyan jajan dan selingkuh, dan lebih parahnya pada orang yang sama.

Benar-benar gila.

“Ma, aku minta maaf. Aku mengakui apa yang aku lakukan ini salah. Tapi aku tidak akan melakukannya lagi. Aku mohon kali ini, maafkan aku, ya?” pinta Mas Raga setelah kami berada di dalam kamarku.

Pria itu tadi mengikuti dengan tanpa pakaian. Dia hanya mengenakan celana pendek tak peduli dengan pandangan orang lain.

“Sudah berapa kali kamu meminta maaf, dan sudah berapa kali kamu berjanji untuk menghentikannya, Mas?” ucapku dingin.

Aku duduk di sofa dengan kaki bersilang. Tak lupa kupasang wajah dingin sebagai puncak kekesalanku padanya.

“Ini bukan kali pertama, tapi aku akan meyakinkanmu kalau ini yang terakhir kalinya. Aku mohon sekali lagi, maafkan aku, ya.”

Pria itu hendak mendekat dan menyentuh pipi, tapi buru-buru kudorong dadanya dengan kasar.

“Jangan sentuh aku dengan tangan jijikmu itu. Sebaiknya kamu mandi dan bersihkan diri,” hardikku kasar. Lalu melengos melihat wajahnya yang tanpa rasa bersalah.

“Oke, aku tahu kamu sedang marah sekarang. Tapi tidak apa-apa, aku sering minta maaf padamu. Jadi tolong lupakan kejadian barusan.”

Dengan entengnya pria itu berucap, lalu pergi mandi dan meninggalkan kamarku.

Aku mencebik dan meremas rambut berulang. Untuk kesekian kalinya hatiku dicabik-cabik oleh pria bernama Raga yang sudah menikahiku selama 6 tahun tersebut.

Apa kurangku dan apa salahku? Aku sudah memberikan putra-putri yang tampan dan cantik. Aku juga sudah menjadi wanita yang baik dan hanya diam di rumah. Resign dari tempat kerja yang sama-sama seorang pramugari.

Dulu kami berkenalan saat Mas Raga training menjadi co-pilot. Waktu itu sikapnya yang santun dan hangat membuatku tertarik. Tak membutuhkan waktu lama untuk kami berkenalan hingga akhirnya melangsungkan pernikahan dengan tanpa paksaan.

Kami saling mencintai dan rumah tangga kami pun terbilang harmonis. Tapi satu kebiasaannya yang sulit untuk aku maafkan adalah berselingkuh. Dan parahnya lagi dengan wanita yang sama.

Shevaya, tak pernah lelah mengejar suamiku setelah ancaman dan makian yang terlontar dari bibirku. Wanita itu malah semakin menjadi-jadi saat berulang kali kuminta untuk menjauhi suamiku.

Tak terhitung pertemuan diam-diam mereka di bawah pengawasan orang yang kubayar. Meski tidak sampai ngamar tapi mereka sering menghabiskan makan malam berdua.

Untuk kesekian kalinya inilah titik jenuh yang kurasakan sekarang, dan anehnya aku belum bisa melepaskan pernikahan ini. Dua buah hati yang menjadi pikiranku. Selain itu dua keluarga akan sama-sama kecewa jika aku memilih untuk bercerai.

Pintu diketuk dari luar. Aku suruh orang itu masuk. Sedikit terkejut ketika langkah stiletto itu mendekat dengan penampilan yang cukup seksi.

Shevaya dengan gaun merah darah ditambah dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam, membawanya mendekat ke arahku dengan dagu terangkat. Angkuh!

“Untuk apa kau menemuiku gundik? Apa kau tidak memiliki harga diri, atau kau tidak memiliki rasa malu sedikitpun, hingga kau mendatangi istri dari sah selingkuhanmu?” tanyaku emosi. Mati-matian kutahan kekesalan ini, tapi nyatanya aku tak bisa. Melihat mereka bercumbu tadi membuatku geram dan rasanya otakku hampir gila.

“Ck! Kamu cepat sekali emosi, Zea. Pantas saja Mas Raga berkali-kali kembali ke pelukanku.”

“Itu karena wanita gatal sepertimu tak pernah bisa lepas dari buaya buntung seperti suamiku,” bentakku membalikkan ucapannya. “Lagian kenapa kau bangga, hah?! Kau itu hanya ditunggangi bukan dinikahi!” lanjutku dengan gigi bergemerak.

“Heh, itu cuma anggapanmu. Tapi, biar kukatakan padamu. Zea, sampai kapan kamu akan mempertahankan pria yang jelas-jelas sudah tidak menginginkanmu lagi, hm? Dan apa kamu tidak lelah jadi istri tak dianggap?!”

“Apa kau bilang? Hati-hati kalau bicara.”

“Oke, coba tanyakan pada hatimu. Kenapa Mas Raga berulang kali selingkuh dan berpaling darimu, bahkan tak memperdulikan perasaanmu dan anak-anak. Bukankah itu artinya dia sudah lelah dan jenuh padamu? Lalu sampai kapan kau akan mempertahankan pria itu, hm?”

Sheva semakin menantang dengan dagu terangkat. “Ingat Zea, Mas Raga tidak akan pernah berhenti berselingkuh karena itu sudah wataknya. Dia hanya menuntut maaf padamu lalu semuanya kembali seperti semula. Apa kau tidak lelah, Zea? Apa kamu pikir dengan maaf maka dia merasa menyesal? Tidak. Dia mungkin berada di sisimu, tapi hati dan perasaannya sudah kugenggam dengan erat. Jadi berhenti membuang waktu untuk mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah lepas dari tanganmu.”

Mataku panas, hatiku terbakar. Merasa tertampar akan kebenaran ucapan dari wanita binal itu.

Ya, aku bukannya tidak tahu semua fakta ini. Hanya saja hatiku selalu berkilah dan berpikir semuanya akan baik-baik saja setelah kata sakral itu terucap. Sebuah kata maaf untuk mengembalikannya ke sisiku, lalu semua terulang dan terulang.

Sheva mendekat dengan sudut bibir terangkat. Dari jarak sedekat ini bisa kuhidu aroma Clive Christian milik suamiku menempel di raganya.

Dia menyentuh ujung rambutku dan memainkannya. Aku terdiam dengan emosi meluap tapi kalah dengan fakta dan kenyataan.

“Dan ya, aku mengatakan ini karena aku kasihan padamu. Selama ini kamu terus-terusan dikhianati dan dibohongi, sementara kami bermain-main dengan leluasa. Melepaskan rindu, mengadu asmara, dan bergelut di atas tempat tidur tanpa sepengetahuanmu. Jadi, daripada kau terus-terusan hidup dalam halusinasi dan rasa sakit, sebaiknya lepaskan saja dia dan biarkan dia bersamaku. Karena meskipun sekarang kami ketahuan olehmu, akan ada waktu lain, jam lain atau tempat lain dimana kami akan menghabiskan malam bersama tanpa memperdulikan keberadaanmu. Bukankah kau terlihat menyedihkan di sini?”

Deg!!

Sialnya gundik itu berkata benar. Aku tak lebih dari wanita yang sangat menyedihkan sekarang. Tapi baiklah, jika itu keinginannya. Mungkin inilah saatnya kulepaskan Mas Raga untuk gundiknya dan melepas rasa sakit.

“Sheva, kenapa kamu di sini?” Lamunanku buyar melihat Mas Raga dengan koper yang digeretnya. Pria itu mungkin bingung melihat pasangan mesumnya berani menghadapiku.

“Aku sedang mengingatkan istrimu, Mas. Dan aku sudah selesai.” Wanita itu melirik jumawa. “Dah, sampai jumpa lain kali, Zea.”

Bisa-bisanya Sheva berkedip sambil menyentuh dada suamiku, lalu melenggang pergi dengan senyum puas. Sedangkan di sini, di dalam dadaku sesuatu yang bernama hati sedang terbakar.

“Apa yang dikatakan oleh Sheva barusan? Kau tidak menanggapinya dengan serius, ‘kan?”

“Sayangnya apa yang dikatakan oleh wanita itu sepenuhnya benar. Hanya aku saja yang bodoh, yang terus-terusan memintamu untuk kembali ke sisiku padahal tak ada lagi yang bisa kita pertahankan.”

“Apa?!”

“Tapi aku tak mau hancur sendirian, Mas. Kamu dan gundikmu juga harus merasakan hal yang sama,” ucapku dingin seiring ponsel yang terus-terusan bergetar, yang kutahu sedang membawa kabar buruk.

Bab 2

(Bu Aisyah meninggal dunia. Kalian diminta segera datang ke rumah duka.)

Kubaca pesan dari pengurus rumah tangga. Seseorang yang selama ini dipercaya oleh keluarga besar ibu mertua, mengurusi tetek bengek seisi rumah mewahnya.

Aku menghela nafas, lalu merapikan koper dan hendak pergi. Tak kupedulikan seseorang yang masih memperhatikan dengan kening berlipat-lipat.

Menyesal di saat-saat terakhir kehidupannya aku tidak berada di sisi ibu mertua. Kalau saja beliau tidak menyuruhku untuk menelusuri dan menjemput putra tersayangnya, mungkin saat ini di sana tangisku sedang pecah melepas kepergiannya.

“Mau ke mana kamu, Ze? Kamu tidak berniat pulang malam ini juga, ‘kan? Perjalanan Surabaya—Bandung sangat melelahkan. Kita pulang besok sore.” Pria yang menyentuh wanita lain beberapa saat lalu itu menyentuh lenganku. Tapi, lekas aku menepisnya dengan kasar. Jijik rasanya bersentuhan dengannya sekarang.

“Jangan mendikte kapan aku boleh dan tidak boleh pulang. Bersiaplah untuk pemakaman ibumu, itupun kalau kamu masih menghormati dia sebagai wanita yang melahirkanmu.”

“Ap-apa kamu bilang?!” Mas Raga menganga tak percaya. Dia meremas rambutnya kasar. Teriakannya lalu menggema pada ruangan yang kutempati tak kurang dari tiga jam ini.

Aku berlalu, tak peduli. Tak punya waktu untuk melihatnya meratapi kepergian ibunya. Ibu yang selalu berpesan agar anak kebanggaannya ini bisa melindungiku dan dua cucunya. Tapi nyatanya, bahkan dalam hembusan nafasnya yang terakhir, anaknya tengah mereguk dosa zina dengan wanita yang selalu dibencinya.

Sheva.

Wanita itu tak memiliki tempat di hati keluarga besar suami. Saat dia dan Mas Raga kepergok untuk kesekian kalinya, keluarga besar Mas Raga menyumpah serapah dirinya.

Gundik, pelakor, jal*Ng, pezina, dll.

***

Perjalanan ini terasa sangat panjang. Hati kelojotan ingin segera sampai di tujuan, tapi kemacetan meraja menutup akses kendaraan, menahan di tengah jalan lalu berhimpitan dengan pengguna jalanan lainnya.

Di sampingku, Mas Raga tentu yang paling gelisah. Disaat-saat terakhir ibunya, kenapa dia memilih fly di udara dan jatuh di ranjang Sheva.

Miris, najis, kamu Mas.

Terlambat. Ketika kendaraan sampai di muka rumah, para pelayat sepi, sanak saudara sudah pergi, semua mengantar kepergian ibu mertua ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Di atas gundukan tanah merah, pria yang bergelar suami menangis tersedu melepas wanita yang sudah melahirkannya ke dunia namun berkali-kali dikecewakan.

Ribuan kali petuah dan nasehat agar Mas Raga menjadi pria sempurna; sebagai seorang ayah, suami dan pemimpin untuk dirinya sendiri, tapi nyatanya ribuan kali ibu berwasiat, pria itu mangkir dan hidup sesuka hatinya.

Maka beribu ucapan penyesalan yang dia lantunkan, semua sudah terlambat. Seiring jasad tertimbun tanah, seperti itulah kata maaf dari seorang ibu pupus untuknya.

“Kita pulang, Ma?” ajak Afni dan Dika, dua buah hatiku. Arvan—bodyguard kesayangan mereka setia menemani keduanya kapan saja.

“Iya, kita pulang sekarang.”

“Dadah nenek. Baik-baik di sini ya, kami akan sering berkunjung.” Celotehan Afni membuat hatiku nyeri. Ah, anak usia empat setengah tahun ini masih belum mengerti arti kematian.

Aku mengulas senyum dan menyentuh kepala mereka. Kugenggam tangan keduanya sambil meninggalkan jajaran pemakaman yang tertata rapi pada sebuah TPU ternama kota ini.

Sampai ke rumah, aku masuk ke kamar dan mencari-cari bukti perselingkuhan mereka. Karena semuanya sudah berakhir, maka sekarang saatnya kubalas semua sakit hatiku.

Maaf Bu Aisyah, aku tak mau memendam ini sendirian, dan terpaksa anakmu juga harus merasakannya.

Kubuka ponsel, lalu mencari mana saja yang mesti kusebar, untuk kemudian berlayar pada para pengguna jejaring sosial.

Aku tersenyum setelah kutemukan apa yang kucari dan simpan. Ternyata disaat seperti ini, banyak gunanya juga.

Berkali-kali berzina dengan suami orang. Dia tak pernah jera bahkan seakan menantang dan merasa bangga. Silahkan nilai sendiri pasangan seperti apa mereka.

Klik … kling .…

Belasan chat, bukti pertemuan, juga belasan foto vulgar kebersamaan Mas Raga dan Sheva langsung kusebar di media sosial. Tak sampai disana, kupesan buzzer untuk semakin menyebarkan ke berbagai aplikasi agar Mas Raga dan Sheva semakin terkenal.

Tak sampai satu jam, ribuan notifikasi masuk membuatku puas sekaligus bertepuk tangan dengan perasaan bebas.

Beribu makian, kata-kata hinaan, termasuk hujatan membanjiri kolom komentar yang di setting publik. Tak lupa tag yang membanjiri notifikasi di layar atas, sebagai wujud simpati dan kepedulian padaku yang dirugikan.

Selamat bekerja dan mencari tahu, wahai para netizen. Tugas kalian dimulai. Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang aktris dan aktor yang mendadak viral lewat jalur perselingkuhan.

***

Dentuman suara pintu terdengar. Mas Raga masuk ke dalamnya dengan nafas memburu. Dia terengah-engah menghampiri dengan pandangan paling tajam. Secepat ini ternyata kabar berita masuk ke telinganya.

“Apa yang sudah kamu lakukan, hah? Apa?! Tega ya, kamu. Hanya gara-gara sakit hati lantas berani mempermalukan suami sendiri?!”

“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu marah-marah, Mas?” tanyaku pura-pura polos.

Mas Raga mengeluarkan ponsel dan memperlihatkannya padaku. Deretan berita dan gosip makin memanas, saat akun keduanya berhasil ditemukan publik. Wah, hebat sekali mereka. Dan aku puas mendengarnya.

Aku menjawab dengan beroh ria.

“Semua ini perbuatanmu, ‘kan? Ayo, ngaku dan tak usah berkilah!” bentaknya.

Aku mengangguk pelan. Sedikitpun tidak merasa menyesal apalagi sedih. Sebaliknya, kunikmati wajah pias suamiku saat ini.

“Kenapa kau berani mempermalukan suamimu sendiri, Zea? Kenapa? Apa tak cukup aku meminta maaf dan menyesali semuanya?! Licik!!” geramnya dengan suara menggelegar. Pria itu hampir membanting ponsel ke dinding seandainya tak memikirkan harganya.

“Kenapa kau masih bertanya? Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Itulah konsekuensi untuk pria yang tidak setia, mengumbar nafsu, melegalkan zina, tanpa pernah memikirkan dosa dan dampak akibatnya. Jadi, tak usah bertanya-tanya kenapa aku melakukannya, sama seperti halnya kamu yang tidak pernah memiliki jawaban atas kelakuanmu yang diluar batas itu,” balasku dingin.

Ingin tahu sejauh mana dia melampiaskan amarahnya padaku. Bodoh, jika aku terus-terusan diam sementara dia enak-enakkan ngamar. Dasar!!

“Dan kau tak takut kalau suamimu ini tak punya kerjaan, dipecat, atau bahkan jadi olok-olokkan semua orang?!”

“Takut? Hanya sedikit. Selebihnya hanya rasa puas melihatmu tak berdaya dan terlihat frustasi.”

“Zea!!”

“Diam, karena aku tak peduli lagi sekarang!!”

Arghh!!

Mas Raga melempar barang-barang di nakas untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi bodo amat. Nasi sudah jadi bubur, silahkan dinikmati. Karena aku tak peduli.

“Setelah ini aku pasti mendapat konsekuensi dari berbagai pihak. Aku juga tidak yakin atasan akan diam saja melihat kelakuanku. Argghhh … kenapa kau tega melakukan hal ini padaku, Zea? Kenapa?!” Mas Raga mondar-mandir gelisah. Aku masih menatapnya puas.

Rasakan, itulah buah yang kalian semai atas perbuatan hina kalian. Aku mungkin tidak bisa membalas perbuatan kalian secara langsung, jadi biarkan mereka ikut bekerja dan memberi sanksi, Mas.

Aku kembali tersenyum. Memilih duduk dan menjauh, lalu melihat deretan panggilan masuk ke nomorku dari puluhan orang yang sedang panas kuping.

Wanita itu pasti kelabakan sekarang karena dia dan suamiku mendadak viral di sosial media.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Lihat saja nanti! Aku hanya perlu diam. Biar Tuhan yang bekerja dengan caranya sendiri. Menghukum dua orang yang sudah kelewatan batas. Sampai akhirnya mendapatkan konsekuensinya sendiri.

Bab 3

Gegas kutinggalkan kamar, meninggalkan Mas Raga sendirian dengan emosinya yang menggebu. Terdengar suara benda-benda yang dibanting setelahnya. Mungkin dia melampiaskannya pada barang-barang yang ada di dalam. Dan sekali lagi, aku tidak peduli. Bagiku yang terpenting sekarang adalah pergi jauh darinya. Aku juga akan segera mengakhiri biduk rumah tangga kami. Tak guna mempertahankan seorang pengkhianat seperti dia.

Afni sedang bermain di tengah rumah bersama dengan para sepupunya. Tak kulihat keberadaan Dika di sana. Mungkin dia sedang bersama baby sitter dan bodyguard-nya di tempat lain, entah.

Mbak Anisa—kakaknya Mas Raga sedang menutup mulut. Tatapannya melihat ponsel di depannya dengan wajah terkejut. Heh, dia pasti sudah melihat kabar terbaru tentang adiknya.

Wanita itu mengangkat wajah begitu mendengar langkah kakiku yang mendekat.

“Apa ini, Zea? Ini pasti ulahmu, ‘kan? Ayo, ngaku!” Mbak Anisa melotot, “Mbak nggak percaya kamu setega itu pada Raga? Atau jangan-jangan ponselmu di retas oleh orang lain dan ia yang menyebarkan aib suamimu sendiri ke khalayak?!” tanya Mbak Anisa yang sepertinya tak percaya. Aku terkekeh membuatnya keheranan.

“Kenapa heran begitu, Mbak? Lambat laun bukankah semua orang harus mengetahui tentang perbuatan Mas Raga dan wanita itu? Jadi, ketika saatnya datang, kenapa Mbak justru sangat terkejut?!”

“Iya, tapi nggak begitu juga caranya. Kamu bodoh atau apa sih, Ze. Kelakuan nggak pake otak!” tudingnya geram. Belum selesai ucapannya, Mas Beni—kakak pertama Mas Raga juga ikut geram dan menatapku kesal.

Kuraih kaos kaki milik Afni dan memakaikannya. Mbak Anisa meraih bahu membuatku berbalik menatap cepat ke arahnya.

“Iya, tapi tidak begini juga, Zea. Kalau seperti ini caranya kau hanya akan mempermalukan semua orang. Bukan hanya Raga dan Sheva yang kena imbasnya, tapi pekerjaan suamimu, keluarga besar kita, termasuk kamu dan anak-anakmu,” serang Mas Beni turut campur, tapi tak kupedulikan.

“Ze, kenapa diam?!” tanya wanita itu lagi. Aku berbalik cepat. Kupasang wajah garang menatap keduanya.

“Aku tidak akan bertindak sejauh ini kalau tidak pernah memikirkan konsekuensi yang akan kudapatkan setelahnya.”

“Sebenarnya kamu pasti tidak memikirkan hal itu terlebih dahulu, atau jangan-jangan karena emosi dan cemburu, makanya kamu gelap mata sampai menyebarkan semuanya, termasuk bukti chat dan foto-foto mesum mereka?!” Mas Beni bertanya lagi. Mungkin aneh dengan sikapku yang sekarang.

“Iya, Zea. Kenapa tega kamu melakukan hal itu pada suamimu sendiri. Setidaknya jika kamu sakit hati, pikirkan anak-anakmu juga. Orang akan menilai buruk kamu dan juga orang-orang di sekitarmu, termasuk kami juga,” timpal Mas Beni. Kakak pertama Mas Raga itu selalu membela adiknya yang salah.

Aku menghela nafas dan masih menatap tenang.

“Sudahlah Mbak, Mas, aku tahu konsekuensi yang harus kuhadapi dan aku sudah siap. Lagi pula aku tidak mau hancur sendirian. Mas Raga dan gundiknya harus merasakan konsekuensinya juga.”

“Zea, ini—” Ucapan Mas Beni terhenti saat Afni tiba-tiba bersuara.

“Ma, kita mau pergi ke mana, sih? Dan kenapa semua orang marah-marah?” tanya Afni begitu kuraih tangannya dan bersiap pergi.

“Kita pulang ke rumah, ya. Mereka nggak marah, cuma lagi becanda.”

“Tunggu, Zea. Obrolan kita belum selesai. Setidaknya kamu harus mendengarkan pendapat semua orang. Suruh Raga dan yang lainnya kumpul, kita bicarakan baik-baik.”

Mbak Anisa mencoba menahanku, tapi aku menggeleng.

“Bahkan setelah semuanya terjadi, Mbak Anisa masih menyuruh kami untuk kumpul. Buat apa, Mbak? Dan kenapa kalian masih ingin membela pria yang jelas-jelas salah itu?!”

“Zea, kok kamu ngomongnya gitu sih. Ya ‘kan semuanya harus diselesaikan dengan kepala dingin. Seenggaknya kamu harus minta maaf dan menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai.”

“Maaf Mbak, tidak ada lagi yang harus kujelaskan dan aku juga tak peduli dengan pendapat dari kalian. Bagiku semuanya sudah selesai. Aku akan kembali ke rumahku. Maaf, aku tidak ikut mendoakan ibu di sini.”

“Lalu kamu akan angkat tangan begitu saja, hah?! Bagaimana dengan Raga, dia pasti mendapatkan banyak masalah setelah ini,” ucap Mas Beni kembali bersuara cemas.

Mereka berdua hanya memikirkan tentang adiknya saja, dan tidak pernah memikirkan bagaimana hatiku yang terus-terusan dikhianati. Miris.

Aku menatapnya datar dan mengangkat bahu, “Aku tidak peduli, yang jelas tugasku sudah selesai. Setelah ini aku akan segera mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan. Semoga Mbak Anisa dan Mas Beni bisa membujuk Mas Raga untuk mempercepat semuanya dan tak perlu mengundur waktu.”

“Apa kau bilang?! Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Zea. Kau dengar, kita tidak akan pernah bercerai!! Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi istriku!!”

Aku dan dua orang yang tengah berdebat melempar tatap ke arah kiri. Entah sejak kapan Mas Raga mendengar pembicaraanku dengan dua kakaknya, tapi aku tidak peduli dan memilih membuang muka.

“Itu urusanmu sendiri! Berani berselingkuh tentu berani bertanggung jawab dengan perbuatanmu, dan pada akhirnya jalan yang kupilih adalah perpisahan! Permisi!!”

Gegas aku pergi ke arah pintu. Mencari Dika yang pasti sedang diajak main oleh Arvan. Keduanya sangat dekat setelah papanya tak peduli dengan anak itu.

“Zea, kau tidak mendengar ucapanku barusan? Kita tidak akan pernah bercerai, tidak sampai kapanpun! Jadi, pikirkan lagi kata-katamu itu!!”

Mas Raga memburu ke halaman. Berulang kali menarik tangan tapi berkali-kali juga kutepis kasar. Aku menatapnya jijik dan malas bersentuhan lagi dengannya. Bodohnya kenapa baru sekarang aku sadar kalau semuanya tak guna kupertahankan.

“Zea, kau dengar aku, hah?!” Mas Raga yang kesal menahan bahu dan meremasnya. Rasa perih seketika terasa. Tenaga besar pria itu bertambah dengan emosi mampu meremukkan tulangku.

“Papa! Jangan sakiti Mama!!” Afni yang melihat papanya marah sontak berteriak histeris.

Mas Raga buru-buru melepaskan tangannya dan menyuruh anak itu untuk bermain dengan sepupunya.

“Maaf Afni, Papa nggak sengaja. Sekarang main dulu sama Winda, ya.” Mas Raga melihat kepergian anaknya sekilas lalu tatapannya kembali jatuh padaku.

“Kau lihat bagaimana anak-anak akan terluka atas keputusan sepihakmu ini? Pikirkan lagi. Kalau perlu aku akan minta maaf. Jadi pikirkan itu baik-baik, Zea.” Mas Raga bicara setenang mungkin tapi aku menanggapinya dengan sinis.

“Itu urusanmu, yang jelas keputusanku sudah final. Aku tidak akan kembali apalagi memaafkanmu. Sudah cukup sakit hati yang kualami selama ini. Terima juga semua yang sudah kau lakukan. Tidak usah pikirkan pernikahan kita, karena saat aku berada di sisimu pun, kamu menganggapku tidak ada, dan lebih memilih berlabuh pada wanita lain,” ucapku dingin sambil terlalu.

Kucari dua anakku di belakang rumah. Rupanya Arvan dan Dika sedang berada di halaman. Ada Afni juga yang langsung mendekat dengan wajah bingung.

“Bu Zea, Anda mau kemana?” tanya Arvan.

“Kita pergi dari sini, Arvan. Tugasku sudah selesai dan tak ada lagi yang harus diurusi di sini. Kau pastikan saja Afni dan Dika berada di bawah perlindunganmu. Karena setelah ini aku yakin Mas Raga tidak akan diam saja,” ucapku menjelaskan.

Pria yang sudah menjadi bodyguard selama 2 tahun itu mengangguk dengan cepat, kemudian berjalan ke sisi mobil. Dia membuka pintu samping, aku dan dua anakku masuk ke dalam, dia dan baby sitter duduk berdampingan, sementara kulihat Mas Raga mengumpat di halaman.

“Mama, papa marahan sama Mama ya, atau apa kalian bertengkar lagi?” tanya Afni yang lebih peka daripada adiknya.

Aku menggeleng dengan hati meringis, berusaha tersenyum meskipun hatiku nyeri.

“Nggak kok, Afni. Cuma mulai sekarang mungkin kita akan sedikit jarang bertemu dengan papa. Afni tahu ‘kan kalau papa sangat sibuk?!” Gadis kecilku mengangguk dengan cepat.

“Iya, Ma. Aku juga nggak apa-apa, kok. Lagian ‘kan aku memang jarang sekali ketemu sama papa.”

“Makasih udah ngertiin keadaan Mama, ya?”

“Iya, Mama.”

Aku mengusap kepala gadis kecilku, sampai ketika tiba-tiba mobil mengerem mendadak dan kepalaku hampir membentur jok di depan.

Arghhh!!

Ada apa ini?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED