Bab 1

BAB 1

[Percuma punya perut rata, kalau nggak bisa goyang patah-patah, buat apa?🤪]

Mataku membelalak seketika saat melihat satu pesan yang muncul di ponsel Mas Rengga, suamiku.

Memang sudah menjadi rutinitas bagiku, memeriksa isi ponsel Mas Rengga ketika ia pulang berdinas.

Oh, ya. Kita kenalan dulu. Namaku Keysa Anindita, umurku baru saja menginjak 28 tahun. Aku sudah menikah selama 5 tahun dengan Mas Rengga, ketika usiaku masih 23 tahun. Namun, di usia pernikahan kami tersebut, Allah belum juga mempercayakan buah hati untuk melengkapi kehidupan kami.

Aku bekerja sebagai dosen di Universitas yang cukup ternama. Sesekali, juga mengisi acara seminar sebagai narasumber maupun motivator. Kegiatanku itulah yang menjadikan namaku sering bertebaran di sosial media. Padahal, aku hanya membagikan aktivitas ku saja. Ternyata, media dan netizen melebihkannya dan seringkali memviralkan nya, sehingga kerap kali jika aku mendapatkan endorse dari beberapa skin care atau mungkin busana yang sering aku gunakan tiap kali acara. Awalnya, aku bekerja karena ingin mengisi waktu luang. Sekedar sebagai pengisi waktu luang, mengingat Mas Rengga sebagai abdi negara harus sering bertugas ke luar kota, bahkan luar pulau dengan jangka waktu yang tak menentu. Namun, lambat laun aku merasa nyaman dan betah mengajar di sana, hingga tak terasa aku mengabdi selama 3 tahun di Universitas tersebut. Posisiku pun berubah, dari yang awalnya biasa saja kini menjadi luar biasa. Aku menjadi dosen favorit para senior yang sudah bergelar profesor. Bahkan, mereka mengacungi jempol kemampuanku. Bisa dikatakan saat ini, posisiku di sana sangatlah membanggakan dengan gaji dan tunjangan yang menjanjikan.

Menjadi wanita karir rupanya tidaklah mudah, namun juga tidak bisa dikatakan susah. Asal bisa menempatkan sesuai porsi, semuanya akan terasa indah.

Ah, aku sampai lupa. Siapa pengirim pesan singkat barusan?

Pesan itu dikirim melalui pesan SMS biasa, bukan melalui aplikasi chatting. Pengirimnya pun tidak ada dalam daftar kontak, hanya nomer asing yang belum disimpan.

Kenapa dia mengirimi suamiku pesan seperti itu? Apa maksud dari perkataannya?

Aku yang diliputi rasa ragu dan cemas, dengan segera menghubungi nomor tersebut melalui panggilan biasa.

Deringan kedua, panggilanku diangkat. Gercep juga, aku semakin penasaran, dengan siapa aku terhubung.

"Assalamualaikum, maaf ... ini dengan siapa?" tanyaku hati-hati.

Klik!

Sambungan terputus karena dimatikan ....

Aneh, apa mungkin hanya orang iseng? Lagian juga tak jelas pesan itu ditujukan kepada siapa? Kata-katanya hanya seperti ungkapan lelucon ala pantun kekinian anak jaman sekarang. Hanya saja maknanya terlalu vulgar untuk ku cerna. Apa juga maksudnya dengan menuliskan goyang patah-patah? Ah ... pikiran negatif mulai bermunculan di kepalaku.

Baru saja hendak menyalin nomor asing tersebut, balasan pesan lain pun datang.

[Maaf, Mbak. Salah sambung🙏]

Ah ... dasar orang iseng. Aku sudah yakin itu pasti kerjaan orang iseng yang gabut, lagi pula ... di zaman semodern dan secanggih ini, apa iya masih ada orang kurang kerjaan? Tak sadar, aku menggelengkan kepalaku sembari tersenyum simpul.

Aku kembali berselancar ke akun sosial media milik Mas Rengga. Tidak ada yang aneh, bahkan histori pencarian dan galeri pun tak luput dari jariku yang lincah. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, semua tampak biasa saja.

Tapi, kenapa aku penasaran dengan orang iseng tadi, ya? Siapakah gerangan?

Meskipun iseng, kenapa bukan mengajak kenalan seperti orang jaman dulu pada umumnya. Kenapa harus memakai kata dengan makna yang tidak senonoh seperti itu? Memangnya wanita itu akan berkirim pesan kepada siapa, hingga melakukan body shaming seperti itu?

Ah ... kepalaku jadi berdenyut kencang memikirkan ini. Padahal hanya satu pesan nyasar yang masuk, tapi sanggup membuatku melayang memikirkannya.

"Kenapa Sayang? Kok mukanya lecek?" tanya Mas Rengga yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma sampo dan sabun menguar dari tubuhnya yang sixpack.

Suamiku memang tampan, bahkan sepertinya dia terlihat beberapa tahun lebih muda jika dibandingkan dengan usia yang sebenarnya.

Aku tak menanggapi pertanyaan dari Mas Rengga, tanganku dengan cekatan hendak menyalin nomor tersebut untuk ku kirim ke nomorku.

Lalu, aku tekan perintah tempel, dan berhasil terkirim dengan sukses ke ponselku. Dengan satu kali gerakan saja, ku hapus dengan cepat histori pesan yang masuk ke ponsel suamiku dari nomor asing tadi. Aku juga sudah menghapus jejak nomor yang berhasil ku kirim ke dalam ponsel pribadiku. Bertepatan dengan menekan tombol kembali dari ponsel Mas Rendra, tiba-tiba saja tangan kekar suamiku langsung merebut ponselnya dari tanganku. Aku terkejut, dadaku terlonjak begitu saja rasanya karena kaget. Hampir beberapa tahun menikah, seingat ku dia tak pernah berlaku seperti ini. Biasanya juga dia tenang-tenang saja. Tak akan keberatan jika aku meminjam ponselnya, bahkan jika harus berjam-jam sekalipun atau mengutak-atik aplikasi apa pun di dalam sana.

"Kamu masih aja jadi detektif, ya. Apa nggak bosen gini terus? Apa, sih, yang kamu cari? Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Mas Rengga dengan mata memicing.

Sorot matanya terlihat tak suka.

Ini aneh!

Sungguh, bukan seperti Mas Rengga biasanya.

Baru juga dia pulang beberapa jam yang lalu setelah hampir empat bulan dinas di luar pulau.

"Loh, Mas? Kok kamu aneh, sih? Bukannya udah biasa, ya, kalau aku seperti ini. Kita 'kan sudah sepakat dari dulu untuk saling terbuka satu sama lain. Bahkan kita sudah saling berjanji, tidak akan menyimpan rahasia apa pun. Tak ada yang namanya privasi dalam rumah tangga. Lalu, kenapa sekarang kamu keberatan?" tanyaku dengan sedikit jengkel.

Jujur saja aku tak terima jika kesepakatan yang sudah disetujui bersama tiba-tiba harus dilanggar dengan alasan privasi.

"Aku bosen, Key. Kamu curiga terus sama aku. Aku udah hidup dengan bener, nggak aneh-aneh apalagi macem-macem, tapi masih aja kamu curiga sama aku. Nggak percaya banget sama aku, kamu meragukan kesetiaan ku?" tanya Mas Rengga seraya menatap manik mataku.

"Lah, emang apa salahnya, sih, Mas? Wajar, dong, aku curiga, aku cuma jaga-jaga aja. Karena kita LDR, kita saling berjauhan. Rasa percaya aja nggak cukup buat aku untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis dan sakinah. Kalau sudah sah jadi suami istri, ya, ngapain pakai acara privasi lagi. Bukannya semua hal sudah ditunjukkan dengan terbuka dan terang-terangan. Apa juga fungsi dari privasi dalam suatu hubungan pernikahan?" tanyaku tak kalah tajam.

"Alah, ribet kamu lama-lama! Suami pulang bukannya disiapin makan enak, atau sambutan yang hangat. Malah ditodong dengan kecemburuan yang tak ada ujung. Kamu itu terlalu lebay! Perasaan istri-istri temanku santai aja, tuh. Nggak ada yang rewel kayak kamu! Harus lapor ini itu, ijin dulu kalo mau ke sini ke situ, bosen tau nggak lama-lama.

Hidupku udah terlalu banyak laporan, eh ... bini di rumah juga minta laporan. Nggak sekalian sambil ditulis berita acaranya?" sindir Mas Rengga yang membuatku semakin sebal.

"Kamu kenapa, sih, Mas? Kenapa jadi berubah gini? Empat bulan lalu pas kamu mau balik juga nggak kayak gini deh. Kamu santai-santai aja. Kenapa sekarang berubah?" tanyaku seraya merendahkan sedikit nada bicaraku.

***

Bab 2

"Alah, ribet kamu lama-lama! Suami pulang bukannya disiapin makan enak, atau sambutan yang hangat. Malah ditodong dengan kecemburuan yang tak ada ujung. Kamu itu terlalu lebay! Perasaan istri-istri temanku santai aja, tuh. Nggak ada yang rewel kayak kamu! Harus lapor ini itu, ijin dulu kalo mau ke sini ke situ, bosen tau nggak lama-lama.

Hidupku udah terlalu banyak laporan, eh ... bini di rumah juga minta laporan. Nggak sekalian sambil ditulis berita acaranya?" sindir Mas Rengga yang membuatku semakin sebal.

"Kamu kenapa, sih, Mas? Kenapa jadi berubah gini? Empat bulan lalu pas kamu mau balik juga nggak kayak gini deh. Kamu santai-santai aja. Kenapa sekarang berubah?" tanyaku seraya merendahkan sedikit nada bicaraku.

"Ya karena aku bosan hidup selalu terkekang. Nggak bisa bebas kayak temen-temen aku! Padahal mereka juga udah berkeluarga. Apalagi punya anak, tapi istrinya nggak ribet bin rempong yang banyak aturan kayak kamu!" kata Mas Rengga pedas.

"Apa tadi Mas bilang? Ribet bin rempong? Kenapa baru kerasa sekarang? Kemarin-kemarin ke mana aja?" tanyaku ketus.

"Makanya, jadi istri itu nggak usah kebanyakan nonton drama sinetron, apalagi ditambah baca novel-novel nggak berbobot yang isinya nggak jauh dari orang ketiga. Bikin kamu jadi terpengaruh tahu, nggak!" ujar Mas Rengga sembari beranjak menjauh dariku.

Dia membuka lemari, memakai atasan kaos polos dipadu dengan celana pendek selutut. Tak lupa menyemprotkan parfum beberapa kali, hingga aromanya menyebar ke penjuru kamar.

"Cuma itu satu-satunya hiburanku setelah penat bekerja. Kamu kira aku kerja nggak capek apa? Nggak butuh hiburan? Meskipun cerita juga diambil dari kisah nyata, makanya dikemas dalam bentuk sinetron! Terus kalau aku nggak boleh nonton dan baca cerita gituan, apa hiburanku? Disuruh diem aja di rumah, goleran di kasur sendirian kayak orang beg0? Ngomong itu dipikir dulu, dong, Mas!" ujarku dengan napas tersengal-sengal karena berbicara dengan sedikit emosi.

Dadaku naik turun, napasku memburu. Mas Rengga benar-benar keterlaluan, tak biasanya juga dia protes pakai acara menyindir hobiku untuk melepas lelah.

"Kamu, ya, ngeyel terus kalau dibilangin. Kenapa sih nggak bisa sedikit aja manut dan nurut gitu? Seperti istri-istri temanku! Makanya kamu cepetan hamil, dong. Punya anak gitu kek, biar ada hiburan di rumah. Jadi biar bisa nambahin semangatku juga buat lebih giat berlayar mencari nafkah! Pulang juga jadi nggak berasa lelahnya, karena disambut buah hati!" kata Mas Rengga.

Dadaku terasa sesak seketika bagaikan diketuk palu berkali-kali.

Aku tak terima jika harus dibanding-bandingkan dengan ibu jalasenastri lainnya. Aku, ya, aku, tak bisa disamakan dengan yang lain. Dan apa tadi dia bilang? Kenapa aku juga tak kunjung hamil?

Nyes sekali rasanya, mengetahui suami sendiri berkata seperti itu.

Apa itu salahku?

"Apa tadi Mas bilang? Aku? Tak kunjung hamil? Mau hamil sama set@n? Sendirinya aja kalau dinas nggak tanggung-tanggung tuh waktunya. Sekalinya pulang cuma tiga sampai empat hari. Paling lama cuma sepuluh hari, belum lagi jika pas pulang ternyata kondisiku sedang menstruasi. Mas ini sebagai abdi negara apa dulunya di sekolah nggak belajar tentang reproduksi? Butuh waktu berapa lama kira-kira untuk membentuk janin, belum lagi jika cairan sperm@ Mas mati di tengah jalan, belum sampai sel telur udah KO duluan. Bukannya dulu kita pernah periksa kesehatan total sebelum menikah? Mas tahu sendiri kan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisiku, aku subur dan baik-baik saja. Memang Allah saja yang belum berkehendak, karena niat, usaha, dan doa kita kurang kencang. Jadi nggak usah nyalahin aku! Lagian, ya, aku nggak suka dibanding-bandingkan! Emangnya Mas mau aku bandingkan sama Mas Alif? Mantanku waktu sekolah dulu? Nggak suka kan?" jelas ku panjang kali lebar.

Kulihat mata Mas Rengga semakin melotot, emosinya tersulut, hidungnya kembang-kempis dan giginya gemeletuk.

Ah ... mending aku berangkat senam dulu saja ke tempat GYM langganan ku, kebetulan hari ini jadwalnya untuk zumba. Ada mentor favoritku juga di sana. Setidaknya dengan zumba, aku bisa sedikit merilekskan pikiran yang semrawut ini.

Aku pun tak peduli lagi pada sahutan Mas Rendra, setelah bersiap aku bergegas mengendarai mobilku menuju ke sanggar senam.

Sesampainya di sana, masih sepi. Belum genap rasanya jika formasi belum lengkap, jadi aku memutuskan untuk berselancar saja di sosial media. Baru saja membuka password dengan menggunakan sidik jari, aku teringat jika harus menyelidiki nomor tersebut. Oke, aku berusaha menyalin nomor tersebut lalu menyimpannya ke dalam daftar kontak dengan nama 'XX' untuk memudahkan kontak random.

Setelah nya aku mencoba untuk membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak tersebut. Alangkah terkejutnya aku, saat menemukan fakta bahwa ternyata poto profil yang digunakan olehnya merupakan seorang wanita yang cukup ku kenali. Bukankah dia seorang pengusaha muda yang namanya selalu bersiweran di headline surat kabar ataupun sosial media? Apa orang ini iseng menggunakan poto profil seorang yang terkenal karena mungkin sedang mengidolakannya? Ah, tanpa basa-basi, aku segera mencari informasi terkait nama lengkap dan identitas tersebut.

Tanganku dengan lincah bergulir kian kemari, membaca artikel tentang bagaimana pengusaha muda dengan jenis kelamin perempuan itu bisa meraih kesuksesan di usia dini. Aku begitu kagum dibuatnya. Hingga rasa penasaran ku memuncak dan berniat untuk menghubungi nya. Setidaknya, aku bisa tahu nanti. Benarkah pemilik nomor ini seorang Risa Andromeda, pemilik tambang dari Pulau seberang? Seorang gadis bertajuk Crazy Rich yang digandrungi para manusia.

Aku berusaha menetralkan perasaan sebelum akhirnya memberanikan diri untuk meneleponnya. Deringan keempat, panggilan pun akhirnya diangkat.

"Assalamualaikum, maaf, mau tanya. Apa benar saat ini saya tersambung dengan nomor pribadi milik saudari Risa Andromeda?" tanyaku dengan suara nyaris tercekat karena gugup.

"Iya, Mbak Keysa. Ini saya. Ada apa?" sahut suara lembut dari seberang membuat jantungku nyaris melompat dari tempatnya.

"Loh. Kok tau kalau saya bernama Key–"

"Bahkan, semua tentang suami Mbak Keysa saja saya tahu. Termasuk isi celana dalamnya, ukurannya, bahkan ... erangan kenikmatannya. Saya paham sekali, loh, Mbak!" ujar suara wanita itu terdengar begitu mendayu-dayu di telingaku.

"Ap–apa maksud kamu?" tanyaku dengan emosi yang sudah memuncak.

"Maksud aku, suami Mbak Keysa, yakni Mas Rengga. Jago banget mengambil alih permainan di atas ranjang. Suaranya ketika menyerukan nikmat begitu membuatku candu, Mbak! Hahaha!"

"Katakan saja dengan jelas, kamu pasti iseng kan? Ingin mengerjaiku?" tanyaku dengan kesal. Rupanya, dia wanita sinting yang sedang mencoba bermain-main denganku.

"Oh, tidak. Aku tidak level bergurau dengan dosen murahan yang gajinya dalam sebulan saja tidak ada menyentuh penghasilanku selama sehari! Udah, ya, Mbak! Salam buat Mas Rengga, miliknya nikmat sekali dan aku suka!"

Tut!

Panggilan terputus begitu saja.

"Sial ...!" Aku merutuk dengan kesal.

Baru saja aku hendak menghubunginya kembali, wanita itu mengirimiku sebuah foto yang seketika membuat mataku terbelalak lebar.

***

Bab 3

"Ini kan ...."

Mataku cukup lebar untuk melihat gambar yang kini sudah berhasil aku unduh. Bukan ... bukan foto bugil ataupun foto tidak senonoh seperti yang ada di dalam bayangan kalian saat ini, bukan foto itu yang berhasil aku zoom beberapa kali dari ponsel keluaran Apple terbaru dengan harga yang begitu fantastis dalam genggamanku kali ini. Foto itu hanya berupa kedua tangan yang saling bertautan dan menggenggam dengan mesra. Jika saja tidak ada hal yang mencurigakan di dalam tangan kekar itu, tentu aku sudah menilai dan berpikiran bahwa foto itu mungkin bisa saja diambil dari Google atau aplikasi gambar lainnya yang saat ini sedang marak untuk diedit.

Tapi, gelang yang melingkar di pergelangan tangan milik lelaki itu berhasil membuat mataku nyaris meloncat keluar dari tempatnya. Ya, gelang tali model bracelet berwarna hitam legam itu mempunyai liontin dengan lambang jala dan huruf KA. Yang berarti inisial namaku. Keysa Anindita. Itu sudah pasti milik Mas Rengga. Jelas saja aku mengenalnya, karena kita membeli sesuai request waktu liburan ke Jogja setahun yang lalu. Dan yang membuatku sangat yakin, cincin kawin di jari manis tangan lelaki itu pun sama persis dengan cincin yang tersemat dalam jariku saat ini. Ada hubungan apa sosok XX ini dengan suamiku?

Aku berusaha untuk menghirup napas dalam-dalam, agar oksigen lebih banyak masuk ke dalam rongga dada dan sedikit melegakan perasaanku. Baru saja hendak ku ketikkan rangkaian kalimat untuk membalas kiriman foto tersebut. Terlihat si kontak XX ini sedang mengetik. Aku berniat untuk menunggunya saja. Aku juga ingin tahu, apa lagi yang akan dia kirimkan setelah ini.

Cukup lama aku menunggu, mungkin sekitar satu menit, tulisan di bawah foto profil wanita cantik dengan rambut berwarna keemasan itu masih menampilkan 'mengetik' seteah sekian detik hilang, lalu muncul lagi dengan kata 'mengetik' begitu terus hingga dua menit lamanya. Aku jadi curiga, apa sebenarnya yang ingin dia katakan sehingga dirinya harus menghapus dan menuliskan ulang? Begitu terus dari tadi.

Hampir saja aku keluar dari aplikasi dengan lambang ponsel berwarna hijau tersebut, ketika kemudian aku mendapatkan notifikasi di atas layar yang menunjukkan bahwa si pengirim XX telah mengirimkan sesuatu.

[See? Indah sekali bukan? Tangan yang saling menggenggam begitu erat, tak ingin melepaskan. Itu berarti tandanya? Cinta dan takut kehilangan!] begitulah pesan yang aku dapatkan.

Tak lupa, dia juga mengirimkan satu emoji sedang tertawa terbahak-bahak seolah meremehkan.

Aku pun berusaha untuk tidak tersulut emosi. Menghadapi dirinya yang kurang waras hanya akan membuat diriku ikut sakit jiwa.

[Apa kamu halu dan tidak percaya diri? Sehingga memasang foto profil orang lain di balik topeng mu!] Aku memutuskan untuk membalas pesannya setelah kucoba telepon beberapa kali, namun malah ditolak olehnya.

[Temui aku di roof top Jalan Tunjungan nanti jam 7 malam. Mari, kita bersaing secara terang-terangan!] balasan yang kurasa cukup berani itu kembali ku terima.

Aku hanya menghela napas, sebenarnya aku tidak ingin meladeni wanita ini. Namun, jiwa kewanitaan ku ini terasa terhempas begitu saja. Harga diriku sebagai seorang istri dengan status Jalasenastri merasa dipertaruhkan. Maka, aku berniat untuk mengiyakan ajakannya. Hanya sekedar penasaran saja, sejauh mana dia dan Mas Rengga menjalin hubungan?

Bukan menjadi rahasia lagi, jika seorang abdi negara yang sedang berlayar di berbagai kota maupun pulau menikmati keindahan wanita lain, meskipun hanya untuk berkencan atau mencicipi gundukan daging tebal. Bahkan, tak jarang juga, sering kali mendapati selingan yang dinikahi secara siri. Namun, aku rasa ... jika melihat gaya bicara dari pesan yang disampaikan oleh wanita itu. Terkesan, sudah terlampau jauh dan aku harus memastikannya. Aku tidak mau kecolongan lebih dalam lagi, akan ku pastikan mereka menyesal jika menjadikanku sebagai lawan.

[With pleasure, Bestie! Jangan lupa untuk dandan secantik mungkin, karena aku ingin tahu, secantik apa dirimu sehingga berniat menyaingi diriku!] Begitu lah isi pesan yang aku kirim padanya. Tak lupa, aku juga membubuhkan tiga emoticon tertawa lebar sebagai penutup.

Hanya centang dua berwarna biru, rupanya dia hanya membaca pesanku tanpa berniat membalasnya. Oke, aku pun bersiap untuk menemuinya. Jika mungkin kalian berpikir aku akan marah, tersulut emosi, mencak-mencak atau bahkan memaki-maki suamiku saat di rumah nanti, maka kalian salah. Aku tidak suka keramaian, atau keributan. Karena aku rasa itu bukan cara hormat yang diberikan oleh wanita elegan.

*

Mas Rengga yang sedang menonton Televisi di ruang tengah, tiba-tiba terpaku menatapku dengan pandangan tak berkedip. Entahlah, seperti takjub, kagum ... atau mungkin ingin? Karena setelah kepulangannya tadi malam, kami belum 'melakukannya' selama hampir empat bulan lamanya. Aku juga malas untuk menawarinya, karena insiden pesan misterius itu rupanya mampu membuatku tak bergairah.

Aku mengenakan outer dipadu dengan kulot berwarna pastel, pakaian ini ku beli dari butik ternama dengan harga yang lumayan, bukan hasil endorse. Hijab pun aku mengenakan bahan premium seharga ratusan ribu, anti lepek dan mudah diatur dengan bahan anti gerah dan tidak menerawang. Ah, jadi promosi. Untuk tas, tentunya bertengger secara elegan di lenganku dengan logo H. Heels pun senada, make up ku poles tipis dalam wajah dengan bingkai natural. Tentunya dengan memakai lipstik Dior yang baru launching beberapa hari yang lalu. Aku rasa, penampilanku saat ini sudah cukup sempurna.

"Mau ke mana, Key?" tanya Mas Rengga yang kini mulai mengalihkan pandangannya ke layar Televisi, mungkin dia gengsi karena terpergok olehku.

"Ada acara sebentar, ketemu temen di Jalan Tunjungan," jawabku singkat. Yang penting, aku tidak bohong kan?

"Malam-malam begini? Bukannya kamu terbiasa menyudahi kegiatan off air setiap pukul 5 sore? Kenapa malah keluar jam segini?" tanya Mas Rengga seraya memperhatikan jam dinding yang bertengger dengan manis di atas Televisi.

"Dadakan, honornya lumayan. Lagi pula, aku nggak ada kegiatan di rumah kan? Sebentar saja. Tak sampai jam 9 aku usahakan sudah berada di rumah!" ujarku seraya menyunggingkan senyum terbaik.

"Ya sudah. Hati-hati. Jangan pulang malam-malam! Kamu ini, ya, suami lagi cuti. Bukannya diam di rumah menemani, malah sibuk sendiri!" omel Mas Rengga yang hanya kudengar di telinga.

Aku tidak berniat untuk berdebat dengannya, karena tenaga ini akan ku simpan untuk nanti. Mana tahu aku butuh, nggak ada yang tau ya, kan?

"Assalamualaikum!" ucapku seraya menghambur ke pelukannya. Ku raih tangan Mas Rengga dan kucium dengan takzim. Berhasil kan? Dia sudah tidak mengomel lagi, malah mengusap keningku dengan lembut, lalu tersenyum.

Aku bersiap meluncur membelah jalanan di jantung kota. Mobil tipe sport keluaran enam bulan lalu, menjadi pilihanku malam ini. Ternyata, gaji menjadi influencer lebih fantastis jika dibandingkan dengan gaji dosen. Aku selalu bersyukur, dengan kehidupanku yang sekarang.

Aku memastikan bahwa tak salah tempat. Karena roof top di atas Mall yang disulap menjadi konsep Restoran ini begitu sepi.

Seorang pramusaji yang berdiri di depan ruang bertuliskan VIP menghampiriku seraya mengangguk sopan.

"Maaf, dengan Nyonya Keysa? Ibu sudah ditunggu Nona Risa di dalam!" ujar lelaki berseragam hitam putih dengan celemek khas merah bertajuk nama Restoran pun menyambut ku dengan ramah.

Aku hanya mengangguk, cukup membuat ku berdecak kagum juga. Apa benar seseorang yang akan aku temui ini Risa Andromeda? Crazy Rich Kalimantan yang memiliki tambang batu bara dan segudang perusahaan lainnya?

Aku berjalan dengan anggun, melangkahkan kakiku dengan perlahan seraya membusungkan dada. Kekuatanku seakan terbentuk sempurna, yakin dan tekad di dalam hatiku begitu kuat. Siapa pun dia, tetap aku lah yang lebih berhak dan pantas menang untuk hal ini, karena aku lah Ratu yang sesungguhnya.

Langkahku semakin dekat. Bisa kulihat dari belakang. Seorang wanita sedang duduk memunggungi ku.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED