Siang itu aku sedang istirahat di kamar. Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah rasanya badan ini sangat lelah dan ingin sejenak untuk merebahkan diri di kasur yang tak terlalu empuk namun sangat nyaman untukku itu.
"Punya mantu nggak tau diri, udah numpang malah seenaknya sendiri," ucap ibu mertuaku di luar sana yang sengaja mengeraskan suaranya agar aku dapat mendengarnya.
Seketika jantungku berhenti berdetak. Memang itu bukan kali pertama ibu mertuaku berkata jahat dan menyindirku seperti itu. Sejak aku menikah tiga tahun yang lalu dengan Mas Miko, ibu mertuaku memang sangat membenciku.
Aku hanya bisa ngelus dada tiap kali ibu mertua menyindirku seperti itu.
"Coba kalo dulu Miko mau dengerin aku dan mau dijodohkan dengan Salma, pasti hidupnya akan lebih bahagia. Pasti sekarang sudah punya anak. Nggak mandul kayak istrinya itu," ucap ibu mertuaku yang membuatku sangat sakit hati.
Mengenai apapun aku bisa menahan hinaan ibu mertuaku, tapi tentang anak apalagi sampai mengataiku mandul, aku tak bisa untuk tak menangis. Di dalam kamarku, aku menangis sejadi-jadinya.
Bukannya mengakhiri hinaannya padaku, namun ibu mertuaku masih terus melontarkan kata-kata yang membuatku sangat sakit hati. Meski aku tidak berhadapan langsung dengannya, tapi aku bisa mendengar dan merasakan semua hinaan yang ibu mertuaku tujukan kepadaku.
"Punya istri miskin, nggak bisa diandelin. Bisanya cuma ngabisin uang suaminya saja," ucap ibu mertua yang masih melanjutkan hinaannya padaku.
Aku hanya bisa menangis di kamar mendengar hinaan demi hinaan yang ibu mertuaku lontarkan padaku. Di rumah ini hanya ada Mas Miko yang sangat mengertiku, tapi siang itu Mas Miko sedang bekerja, sehingga tak ada siapapun lagi yang bisa menguatkanku.
"Ada apa sih Bu?" ucap ayah mertuaku yang baru datang entah darimana.
"Itu lo Pak, saya benci banget sama istri Miko. Coba aja dulu dia mau dijodohkan sama si Salma, pasti sekarang kita sudah punya cucu," jawab ibu mertuaku kepada ayah mertua.
"Iya Bu, emang jauh sekali sama si Salma. Selain berpendidikan tinggi dia juga anak orang kaya, jadi lebih selevel sama keluarga kita. Lha yang ini, udah lulusan SMA dari keluarga miskin lagi," balas ayah mertuaku yang membuat tangisanku semakin pecah.
Bukannya menasehati istrinya, ayah mertuaku malah ikut menghinaku. Betapa sangat hancur hatiku saat itu. Tak ada tempatku untuk mengadu.
"Coba Bapak lihat, baru jam sebelas loh ini, dia malah sudah masuk ke kamarnya dan itu nanti sampai sore baru keluar setelah Miko pulang bekerja, bener-bener menantu tak tau diri," lanjut ibu mertuaku yang masih terus mencari kesalahanku.
Mendengar tentang penuturan ibu mertuaku yang mengatakan aku hanya di dalam kamar sampai sore, aku tak terima. Aku segera mengusap air mataku dan memutuskan untuk keluar dari dalam kamar.
Ternyata ayah dan ibu mertuaku sedang duduk di sofa yang tak jauh dari kamarku. Mereka melihatku yang baru keluar dari dalam kamar dengan tatapan sinis.
"Itu dia benalu keluarga kita," celetuk ibu mertua yang ditujukan padaku.
"Bu maaf, bukanya saya ingin menjadi menantu durhaka. Tapi saya hanya ingin mengingatkan Ibu jika sejak pagi saya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mengepel lantai, mencuci baju bahkan mencuci semua baju Kakak ipar dan suaminya yang seharusnya bukan tugas saya," ucapku dengan sangat sopan.
Ibu dan ayah mertuaku tersentak melihatku yang sudah mulai berani melawan hinaan mereka.
"Kamu berani membantah ya?" balas ibu mertuaku sambil berdiri dengan mata melotot dan suaranya memekakkan telingaku.
"Saya tidak membantah Bu, saya mengatakan yang sebenarnya," balasku yang tetap bergeming, meski sebenarnya aku sangat takut.
"Kamu pikir kamu siapa. Kamu mau tinggal disini gratisan haa? bisa makan tidur seenaknya. Apa yang kamu lakukan itu sebagai bayaran karena kamu bisa tinggal di rumah saya ini," balas ibu mertuaku dengan mata yang masih melotot.
"Saya ikhlas melakukan semua pekerjaan itu Bu, tapi tolong hargai saya selayaknya menantu Ibu," ucapku yang masih terus mengungkapkan isi hatiku yang sudah aku pendam selama tiga tahun ini.
"Apanya yang perlu dihargai, kamu sama sekali tak ada harganya di mata keluarga kami. Semua anggota keluarga kami sarjana, sedangkan kamu hanya lulusan SMA, benar-benar malu-maluin keluarga kita kamu ini," ucap ibu mertuaku yang masih terus-terusan menghinaku.
"Jika disuruh memilih, saya lebih memilih tinggal di kontrakan Bu, meskipun kecil tapi saya dan Mas Miko bisa hidup tenang," balasku yang semakin membuat amarah ibu mertuaku memuncak.
"Jadi kamu merasa tidak tenang tinggal disini, kamu pikir kamu bisa merebut Miko dari kami, jangan harap. Bahkan aku akan berusaha untuk membuat Miko menceraikanmu," ucap ibu mertua yang membuatku kaget bukan kepalang.
Bagaimana bisa seorang ibu menginginkan kehancuran rumah tangga putranya sendiri.
"Bu sadarlah dengan apa yang Ibu katakan, nggak baik mendoakan hal buruk kepada anak Ibu sendiri. Berdoalah yang baik untuk kebahagiaan anak Ibu," ucapku yang terus mencoba menyadarkan ibu mertuaku yang sudah kesetanan.
"Ngak sudi aku mendoakan Miko bahagia jika dia masih bersama kamu," balas ibu mertua yang membuatku hanya bisa mengelus dada.
Aku memutuskan untuk mengakhiri perdebatanku dengan ibu mertuaku, karena jika aku terus meladeninya, maka urusannya akan bertambah panjang. Ayah mertua yang melihat perdebatanku dan ibu hanya diam tanpa ikut bergabung, tapi juga tak berusaha melerai kami.
Akhirnya aku menuju ke dapur untuk membuatkan kopi hitam untuk ayah mertua.
Sudah menjadi kebiasaanku, setelah jam sebelas siang aku harus membuatkan kopi hitam untuk ayah mertuaku. Meski ia juga membenciku, tapi aku tak pernah menaruh dendam padanya.
"Ini Pak kopinya, ucapku dengan sopan saat meletakkan secangkir kopi hitam di meja untuk ayah mertuaku.
Ayah mertuaku tak menggubrisku sama sekali, ia hanya sibuk membaca koran yang kebalik itu. Jangankan mengucapkan terimakasih, membalasnya saja tidak. Perlakuan itulah yang selalu aku terima, bahkan sudah seperti makanan sehari-hariku.
"Ibu mau dibuatkan minum apa?" tanyaku dengan lembut.
"Nggak sudah sok baik kamu, apa kamu mau meracuniku?" balas ibu mertuaku yang membuat aku sangat syok. Bagaimana bisa ibu mertuaku berpikir seburuk itu dengan menantunya sendiri.
Akhirnya aku kembali masuk ke kamar. Hari itu aku bisa istirahat dan tidur siang karena Lala anak Mbak Dina sedang berada di rumah orangtua Mas Dani yaitu suami Mbak Dina. Biasanya setiap hari aku yang selalu menjaga anak Mbak Dina.
Di dalam kamar aku memutar musik yang bisa memenangkan jiwaku yang sangat terguncang ini. Ragaku memang terlihat baik-baik saja, tapi jiwaku rasanya sudah sakit komplikasi akut.
Siang itu aku sedang istirahat di kamar. Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah rasanya badan ini sangat lelah dan ingin sejenak untuk merebahkan diri di kasur yang tak terlalu empuk namun sangat nyaman untukku itu.
"Punya mantu nggak tau diri, udah numpang malah seenaknya sendiri," ucap ibu mertuaku di luar sana yang sengaja mengeraskan suaranya agar aku dapat mendengarnya.
Seketika jantungku berhenti berdetak. Memang itu bukan kali pertama ibu mertuaku berkata jahat dan menyindirku seperti itu. Sejak aku menikah tiga tahun yang lalu dengan Mas Miko, ibu mertuaku memang sangat membenciku.
Aku hanya bisa ngelus dada tiap kali ibu mertua menyindirku seperti itu.
"Coba kalo dulu Miko mau dengerin aku dan mau dijodohkan dengan Salma, pasti hidupnya akan lebih bahagia. Pasti sekarang sudah punya anak. Nggak mandul kayak istrinya itu," ucap ibu mertuaku yang membuatku sangat sakit hati.
Mengenai apapun aku bisa menahan hinaan ibu mertuaku, tapi tentang anak apalagi sampai mengataiku mandul, aku tak bisa untuk tak menangis. Di dalam kamarku, aku menangis sejadi-jadinya.
Bukannya mengakhiri hinaannya padaku, namun ibu mertuaku masih terus melontarkan kata-kata yang membuatku sangat sakit hati. Meski aku tidak berhadapan langsung dengannya, tapi aku bisa mendengar dan merasakan semua hinaan yang ibu mertuaku tujukan kepadaku.
"Punya istri miskin, nggak bisa diandelin. Bisanya cuma ngabisin uang suaminya saja," ucap ibu mertua yang masih melanjutkan hinaannya padaku.
Aku hanya bisa menangis di kamar mendengar hinaan demi hinaan yang ibu mertuaku lontarkan padaku. Di rumah ini hanya ada Mas Miko yang sangat mengertiku, tapi siang itu Mas Miko sedang bekerja, sehingga tak ada siapapun lagi yang bisa menguatkanku.
"Ada apa sih Bu?" ucap ayah mertuaku yang baru datang entah darimana.
"Itu lo Pak, saya benci banget sama istri Miko. Coba aja dulu dia mau dijodohkan sama si Salma, pasti sekarang kita sudah punya cucu," jawab ibu mertuaku kepada ayah mertua.
"Iya Bu, emang jauh sekali sama si Salma. Selain berpendidikan tinggi dia juga anak orang kaya, jadi lebih selevel sama keluarga kita. Lha yang ini, udah lulusan SMA dari keluarga miskin lagi," balas ayah mertuaku yang membuat tangisanku semakin pecah.
Bukannya menasehati istrinya, ayah mertuaku malah ikut menghinaku. Betapa sangat hancur hatiku saat itu. Tak ada tempatku untuk mengadu.
"Coba Bapak lihat, baru jam sebelas loh ini, dia malah sudah masuk ke kamarnya dan itu nanti sampai sore baru keluar setelah Miko pulang bekerja, bener-bener menantu tak tau diri," lanjut ibu mertuaku yang masih terus mencari kesalahanku.
Mendengar tentang penuturan ibu mertuaku yang mengatakan aku hanya di dalam kamar sampai sore, aku tak terima. Aku segera mengusap air mataku dan memutuskan untuk keluar dari dalam kamar.
Ternyata ayah dan ibu mertuaku sedang duduk di sofa yang tak jauh dari kamarku. Mereka melihatku yang baru keluar dari dalam kamar dengan tatapan sinis.
"Itu dia benalu keluarga kita," celetuk ibu mertua yang ditujukan padaku.
"Bu maaf, bukanya saya ingin menjadi menantu durhaka. Tapi saya hanya ingin mengingatkan Ibu jika sejak pagi saya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mengepel lantai, mencuci baju bahkan mencuci semua baju Kakak ipar dan suaminya yang seharusnya bukan tugas saya," ucapku dengan sangat sopan.
Ibu dan ayah mertuaku tersentak melihatku yang sudah mulai berani melawan hinaan mereka.
"Kamu berani membantah ya?" balas ibu mertuaku sambil berdiri dengan mata melotot dan suaranya memekakkan telingaku.
"Saya tidak membantah Bu, saya mengatakan yang sebenarnya," balasku yang tetap bergeming, meski sebenarnya aku sangat takut.
"Kamu pikir kamu siapa. Kamu mau tinggal disini gratisan haa? bisa makan tidur seenaknya. Apa yang kamu lakukan itu sebagai bayaran karena kamu bisa tinggal di rumah saya ini," balas ibu mertuaku dengan mata yang masih melotot.
"Saya ikhlas melakukan semua pekerjaan itu Bu, tapi tolong hargai saya selayaknya menantu Ibu," ucapku yang masih terus mengungkapkan isi hatiku yang sudah aku pendam selama tiga tahun ini.
"Apanya yang perlu dihargai, kamu sama sekali tak ada harganya di mata keluarga kami. Semua anggota keluarga kami sarjana, sedangkan kamu hanya lulusan SMA, benar-benar malu-maluin keluarga kita kamu ini," ucap ibu mertuaku yang masih terus-terusan menghinaku.
"Jika disuruh memilih, saya lebih memilih tinggal di kontrakan Bu, meskipun kecil tapi saya dan Mas Miko bisa hidup tenang," balasku yang semakin membuat amarah ibu mertuaku memuncak.
"Jadi kamu merasa tidak tenang tinggal disini, kamu pikir kamu bisa merebut Miko dari kami, jangan harap. Bahkan aku akan berusaha untuk membuat Miko menceraikanmu," ucap ibu mertua yang membuatku kaget bukan kepalang.
Bagaimana bisa seorang ibu menginginkan kehancuran rumah tangga putranya sendiri.
"Bu sadarlah dengan apa yang Ibu katakan, nggak baik mendoakan hal buruk kepada anak Ibu sendiri. Berdoalah yang baik untuk kebahagiaan anak Ibu," ucapku yang terus mencoba menyadarkan ibu mertuaku yang sudah kesetanan.
"Ngak sudi aku mendoakan Miko bahagia jika dia masih bersama kamu," balas ibu mertua yang membuatku hanya bisa mengelus dada.
Aku memutuskan untuk mengakhiri perdebatanku dengan ibu mertuaku, karena jika aku terus meladeninya, maka urusannya akan bertambah panjang. Ayah mertua yang melihat perdebatanku dan ibu hanya diam tanpa ikut bergabung, tapi juga tak berusaha melerai kami.
Akhirnya aku menuju ke dapur untuk membuatkan kopi hitam untuk ayah mertua.
Sudah menjadi kebiasaanku, setelah jam sebelas siang aku harus membuatkan kopi hitam untuk ayah mertuaku. Meski ia juga membenciku, tapi aku tak pernah menaruh dendam padanya.
"Ini Pak kopinya, ucapku dengan sopan saat meletakkan secangkir kopi hitam di meja untuk ayah mertuaku.
Ayah mertuaku tak menggubrisku sama sekali, ia hanya sibuk membaca koran yang kebalik itu. Jangankan mengucapkan terimakasih, membalasnya saja tidak. Perlakuan itulah yang selalu aku terima, bahkan sudah seperti makanan sehari-hariku.
"Ibu mau dibuatkan minum apa?" tanyaku dengan lembut.
"Nggak sudah sok baik kamu, apa kamu mau meracuniku?" balas ibu mertuaku yang membuat aku sangat syok. Bagaimana bisa ibu mertuaku berpikir seburuk itu dengan menantunya sendiri.
Akhirnya aku kembali masuk ke kamar. Hari itu aku bisa istirahat dan tidur siang karena Lala anak Mbak Dina sedang berada di rumah orangtua Mas Dani yaitu suami Mbak Dina. Biasanya setiap hari aku yang selalu menjaga anak Mbak Dina.
Di dalam kamar aku memutar musik yang bisa memenangkan jiwaku yang sangat terguncang ini. Ragaku memang terlihat baik-baik saja, tapi jiwaku rasanya sudah sakit komplikasi akut.
Saat aku baru saja ingin menutup mataku, tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan ibu mertuaku yang memanggilku.
"Istri Miko ...," suara teriakan ibu mertuaku yang sangat memekakkan telinga.
Sontak aku langsung terbangun dengan jantung yang masih tak beraturan karena saking kagetnya. Yah benar sekali, ibu mertuaku tak pernah memanggilku dengan namaku ataupun panggilan menantu.
Dengan tergopoh-gopoh aku keluar kamar dan menghampiri ibu mertuaku.
"Iya Bu, ada apa?" tanyaku dengan suara lembut.
"Kamu itu ya, kalo dipanggil mbok ya cepetan nyaut. Lelet banget sih," ucap ibu mertua yang lagi-lagi memakiku.
"Maaf Bu, saya tadi ketiduran," jawabku dengan nada yang serendah mungkin agar ibu mertuaku tidak semakin marah.
"Enak banget ya, kerjaannya hanya makan tidur. Kerja tuh kayak si Salma, jadi wanita karir," lagi-lagi ibu mertuaku membandingkan aku dengan si Salma, wanita yang menjadi idamannya untuk dijodohkan dengan Mas Miko.
Aku hanya diam saja mendengar penuturan ibu mertua yang serasa merobek ulu hatiku itu.
"Untung saja dia belum menikah, jadi masih ada kesempatan," celetuk ibu mertuaku yang membuatku terkejut.
"Maaf Bu, maksud Ibu apa?" tanyaku yang penasaran dengan maksud perkataan ibu mertuaku itu.
"Ya kan kalo dia belum menikah, masih ada kesempatan buat jodohin Miko dengan Salma," balas ibu mertuaku yang benar-benar tak punya hati.
Ternyata hingga usia pernikahanku dengan Mas MIko menginjak 3 tahun, ibu mertuaku masih berambisi untuk menjodohkan Mas Miko dengan Salma yang rumahnya tak jauh dari rumah kita.
Sebenarnya aku ingin menangis mendengar penuturan ibu mertuaku itu, tapi aku berusaha tetap tegar.
"Maaf Bu, ibu tadi memanggil saya untuk apa?" tanyaku yang berusaha melupakan apa yang dikatakan ibu mertuaku tadi, padahal sebenarnya kalimat itu masih terngiang di telingaku.
"Kamu sekarang juga pergi ke warung bakso Kang Maman di desa sebelah, belikan saya dua bungkus," ucap ibu mertuaku yang menyuruhku namun seperti sedang berbicara dengan budaknya.
"Tapi Bu, di Kang Mimin kan ada," balasku yang merekomendasikan bakso di warung Kang Mimin yang jaraknya lebih dekat dari rumah.
"Saya nggak mau ya dibelikan disana, baksonya kurang enak. Udah jangan membantah, ayo belikan sekarang juga," ucap ibu mertua sambil mendorongku.
"Pake duit kamu ya, jangan perhitungan sama mertua. Nanti kamu kualat, jangan jadi menantu durhaka kamu," ucap ibu mertuaku sambil berlalu ke kamarnya.
Aku hanya bisa menambah kesabaranku untuk menghadapi ibu mertuaku itu.
Akhirnya aku kembali ke kamar untuk mengambil uang dan juga jaket. Siang itu cuaca sangat terik dan jarak yang aku tempuh lumayan jauh.
Saat aku akan menaiki sepeda motor metic milik ayah mertuaku, tiba-tiba ayah mertuaku keluar dari kamar dan memanggilku.
"Eh, kamu mau kemana? Jangan bawa motor saya?" tanya ayah mertua kepadaku.
"Eh Bapak, maaf ya Pak Gendis mau pinjam motor Bapak untuk ke kampung sebelah membelikan bakso untuk Ibu," balasku dengan raut muka yang sangat teduh.
"Nggak bisa. Saya juga mau pergi. motornya mau saya bawa. Kamu pergi naik sepeda saja," balas bapak mertuaku yang membuatku benar-benar tak habis pikir dengan keluarga Mas Miko ini.
Jika di luar sana ayah mertua akan lebih sayang dan menghargai menantunya, tapi tidak dengan ayah mertuaku.
"Tapi Pak, Gendis cuma pinjam sebentar saja," aku masih berusaha agar dipinjami sepeda motor bapak mertuaku agar lebih cepat sampai rumah.
"Nggak bisa, minggir-minggir saya mau pergi," ucap ayah mertuaku yang langsung meraih sepeda motornya yang sebelumnya aku pegang.
Tanpa memiliki hati nurani, ayah mertuaku pergi begitu saja menaiki sepeda motornya. Akhirnya aku memutuskan untuk naik sepeda mini mahal yang sering digunakan ibu mertuaku pergi ke pasar.
Dengan perasaan yang berkecamuk aku menaiki sepeda mahal milik ibu mertuaku itu. cuaca siang itu benar-benar sangat panas, tapi untungnya aku mengenakan hoodie sehingga kepalaku bisa terlindungi dari panas yang sangat membakar kulit itu.
Di sepanjang jalan aku terus membayangkan masa-masa indah saat bertemu dengan Mas Miko suamiku. Aku dan Mas Miko bertemu pertama kali saat menghadiri sebuah acara pernikahan di kampungku, yaitu kampung yang akan aku datangi untuk membeli bakso.
Saat itu yang menikah adalah saudara perempuanku dengan teman Mas Miko, saat itu pula Mas Miko jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku. Sejak saat itulah kami mulai dekat.
Karena Mas Miko sudah berumur, jadi ia tak butuh waktu lama untuk menjalin hubungan denganku. Tepat setelah satu tahun kami dekat, Mas Miko langsung mengajakku menikah.
Karena aku juga mencintai Mas Miko, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan ajakan Mas Miko untuk menikah.
Saking terhanyutnya ke dalam lamunan, aku sampai tak sadar jika sudah melewati warung bakso Kang Maman. Akhirnya aku memundurkan sepedaku yang sudah kebablasan.
"Gendis apa kabar kamu?' tanya Arum yang juga sedang membeli bakso.
Arum adalah sahabatku. Rumahnya bersebelahan dengan rumah ibuku, namun semenjak aku menikah, kita menjadi jarang bertemu.
Aku segera menstandarkan sepedaku.
"Arum, kamu disini juga," balasku yang kemudian memeluk Arum. Beberapa saat kami berpelukan untuk melepas rindu karena lama tak bertemu.
"Kabarku baik Rum, kamu gimana?" tanyaku kepada Arum yang juga sudah lebih lama menikah dan sudah memiliki anak berusia 2 tahun.
"Kabarku baik Ndis. Udah lama banget ya kita nggak pernah ketemu, padahal rumah kita jaraknya nggak terlalu jauh, cuma beda kampung doang," balas Arum sambil terus memegang tanganku.
"Iya Rum," balasku kepada Arum.
"Kamu kok siang-siang gini naik sepeda ngapain? Nanti gosong lo," balas Arum sambil mengarahkan pandangannya ke sepeda yang aku parkirkan disamping warung Kang Maman.
"Hehe nggakpapa Rum, sekalian cari keringat karena aku kurang gerak," balasku yang berbohong kepada Arum sahabatku. Padahal aku naik sepeds karena terpaksa.
Aku hanya tidak ingin jika Arum sampai mengetahui penderitaanku. Apalagi jika kabar itu sampai terdengar di telinga kedua orangtuaku.
"Oh, iyalah kan kamu jadi istri orang kaya, pasti dirumah kerjaannya cuma ongkang-ongkang kaki, pasti punya pembantu kan, makanya sampai kurang gerak," balas Arum yang menganggap aku diratukan dirumah Mas Miko.
"Hem," aku hanya tersenyum merespon perkataan Arum yang sangat tidak benar itu.
"Kamu kok nggak ada main ke rumah bulek sih?" tanya Arum kepadaku. Bulek adalah panggilan Arum kepada ibuku.
"Iya Rum, Mas Miko masih sibuk, jadi tiap kali aku ajak sowan kerumah Ibu dia belum bisa," balasku, padahal sebenarnya aku tidak berani mengajak Mas Miko karena takut dengan ibu mertuaku.
Jika aku sering-sering mengunjungi ibuku, ibu mertuaku menganggap jika aku selalu memberikan uang kepada mereka. Makanya aku menghindari hal itu agar kedua orangtuaku tidak difitnah oleh ibu mertua dan ayah mertuaku.
"Oh iya ya, suami kamu kan kerjanya di Bank ya, makanya sibuk banget," balas Arum yang menganggap hidupku sekarang sangat bahagia.
Saking asyiknya mengobrol dengan Arum, aku sampai lupa jika belum memesan bakso.
"Kang, saya pesen baksonya enam bungkus ya," ucapku kepada Kang Maman.
"Siap Mbak," balas Kang Maman yang masih sibuk menyiapkan pesanan orang-orang.
"Gimana kamu sudah isi apa belum Ndis?" tanya Arum sambil memegang perutku.
"Hem, belum Rum," balasku dengan senyum getir.
"Kamu yang sabar ya. Tetap semangat dan jangan pantang menyerah," balas Arum sambil mengusap pipiku dengan lembut.
"Iya Rum, aku akan selalu sabar," balasku singkat.
"Kamu ini kok kelihatannya tambah gemuk, apa jangan-jangan?" ucapku yang kemudian menyentuh perut Arum yang terlihat membuncit.
"Hehe iya Ndis, aku hamil lagi," balas Arum dengan raut muka bahagia.
"Wahh selamat ya, aku ikut seneng dengernya," balasku sambil memeluk Arum sahabatku. Tanpa kusadari, ternyata air mataku terjatih.
Aku memang sudah sangat menginginksn buah hati, makanya aku sering menangis jika melihat orang-orang yang hamil dengan mudahnya.
"Semoga nular ke kamu ya. Oh iya Ndis, katanya kalo jempol kaki kamu diijak sama orang hamil, kamu akan tertular hamil Ndis. Sini jempol kakimu aku injak, siapa tau manjur," ucap Arum yang aku ikuti saja.
Arum langsung menginjak jempol kakiku.
"Nular-nular, semoga Gendis segera hamil," ucap Arum saat menginjak jempol kakiku.
Ada-ada saja memang ulah Arum ini.
"Baksonya sudah siap Mbak Arum, Mbak Gendis," ucap Kang Maman yang menghentikan keseruan kami.
"Eh iya Mang, pesanankku dijadikan dua bungkus ya isinya tiga-tiga," ucapku yang dituruti oleh Kang Maman.
"Iya Mbak," balas Kang Maman yang kemudian memberikan dua plastik berisi masing-masing tiga bungkus bakso itu padaku.
"Berapa semuanya Kang, pesanan Arum sekalian ya Kang," ucapku kepada Kang Maman.
"Eh nggak usah Ndis, aku ini beli banyak loh. Ada tamu soalnya," balas Arum yang melarang Gendis untuk membayar pesanan baksonya.
"Enggakpapa Rum, sekali-sekali kok," balasku yang tetap kekeh akan membayar pesanan Arum.
"Ya udah kalo gitu makasih ya," balas Arum kepada Gendis.
"Totalnya seratus enam puluh lima ribu ya Mbak Gendis," balas Kang Maman yang menerima uang dariku. kebetulan saat itu aku membawa uang dua ratus ribu untuk berjaga-jaga saja.
"Rum aku bisa minta tolong nggak?" tanyaku kepada Arum.
"Iya Ndis, minta tolong apa?" tanya Arum dengan raut muka serius.
"Tolong berikan bakso ini kepada Ibuku ya," balasku yang kemudian memberikan plastik berisi tiga bungkus bakso untuk diberikan kepada ayah, ibu dan adikku di rumah.
"Kenapa kamu nggak mampir dulu sebentar sekalian memberikan sendiri kepada Bulek?" tanya Arum kepadaku, apa yang dia katakan memang benar.
"Hehe untuk sekarang aku nggak sempet Rum, Ibu mertuaku sudah menunggu, jadi aku harus segera pulang," balasku yang beralasan.
Sebenarnya aku menahan tangisan kala Arum mengingatkanku untuk sowan ke rumah ibuku. Betapa durhakanya diriku, untuk memberikan makanan kepada orangtuaku saja harus dititipkan ke orang.
"Oh, ya udah kalo gitu. Sekali lagi makasih ya. Aku pulang dulu, nanti tamunya keburu kabur lagi karena keasyikan ngobrol sama kamu," ucap Arum yang kemudian melajukan sepeda motornya.
"Ini kembalinya Mbak Gendis," ucap Kang Maman sambil memberikan uang kembalian kepadaku.
"Oh iya Kang, makasih ya. Saya pamit pulang dulu ya Kang," balasku yang kemudian menaiki sepeda mahal itu.
Di sepanjang perjalanan yang sangat panas itu aku terus mengayuh sepeda. Keringat bercucuran membasahi tubuhku. Rasanya sangat panas dan gerah.
Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Arum agar aku sowan ke rumah ibuku. Sudah satu bulan lebih aku tidak mengunjungi kedua orangtuaku. Akhirnya akau memutuskan untuk mengajak suamiku sowan ke rumah ibuku nanti malam, apapun yang terjadi aku tidak perduli.
Saat aku baru saja ingin menutup mataku, tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakan ibu mertuaku yang memanggilku.
"Istri Miko ...," suara teriakan ibu mertuaku yang sangat memekakkan telinga.
Sontak aku langsung terbangun dengan jantung yang masih tak beraturan karena saking kagetnya. Yah benar sekali, ibu mertuaku tak pernah memanggilku dengan namaku ataupun panggilan menantu.
Dengan tergopoh-gopoh aku keluar kamar dan menghampiri ibu mertuaku.
"Iya Bu, ada apa?" tanyaku dengan suara lembut.
"Kamu itu ya, kalo dipanggil mbok ya cepetan nyaut. Lelet banget sih," ucap ibu mertua yang lagi-lagi memakiku.
"Maaf Bu, saya tadi ketiduran," jawabku dengan nada yang serendah mungkin agar ibu mertuaku tidak semakin marah.
"Enak banget ya, kerjaannya hanya makan tidur. Kerja tuh kayak si Salma, jadi wanita karir," lagi-lagi ibu mertuaku membandingkan aku dengan si Salma, wanita yang menjadi idamannya untuk dijodohkan dengan Mas Miko.
Aku hanya diam saja mendengar penuturan ibu mertua yang serasa merobek ulu hatiku itu.
"Untung saja dia belum menikah, jadi masih ada kesempatan," celetuk ibu mertuaku yang membuatku terkejut.
"Maaf Bu, maksud Ibu apa?" tanyaku yang penasaran dengan maksud perkataan ibu mertuaku itu.
"Ya kan kalo dia belum menikah, masih ada kesempatan buat jodohin Miko dengan Salma," balas ibu mertuaku yang benar-benar tak punya hati.
Ternyata hingga usia pernikahanku dengan Mas MIko menginjak 3 tahun, ibu mertuaku masih berambisi untuk menjodohkan Mas Miko dengan Salma yang rumahnya tak jauh dari rumah kita.
Sebenarnya aku ingin menangis mendengar penuturan ibu mertuaku itu, tapi aku berusaha tetap tegar.
"Maaf Bu, ibu tadi memanggil saya untuk apa?" tanyaku yang berusaha melupakan apa yang dikatakan ibu mertuaku tadi, padahal sebenarnya kalimat itu masih terngiang di telingaku.
"Kamu sekarang juga pergi ke warung bakso Kang Maman di desa sebelah, belikan saya dua bungkus," ucap ibu mertuaku yang menyuruhku namun seperti sedang berbicara dengan budaknya.
"Tapi Bu, di Kang Mimin kan ada," balasku yang merekomendasikan bakso di warung Kang Mimin yang jaraknya lebih dekat dari rumah.
"Saya nggak mau ya dibelikan disana, baksonya kurang enak. Udah jangan membantah, ayo belikan sekarang juga," ucap ibu mertua sambil mendorongku.
"Pake duit kamu ya, jangan perhitungan sama mertua. Nanti kamu kualat, jangan jadi menantu durhaka kamu," ucap ibu mertuaku sambil berlalu ke kamarnya.
Aku hanya bisa menambah kesabaranku untuk menghadapi ibu mertuaku itu.
Akhirnya aku kembali ke kamar untuk mengambil uang dan juga jaket. Siang itu cuaca sangat terik dan jarak yang aku tempuh lumayan jauh.
Saat aku akan menaiki sepeda motor metic milik ayah mertuaku, tiba-tiba ayah mertuaku keluar dari kamar dan memanggilku.
"Eh, kamu mau kemana? Jangan bawa motor saya?" tanya ayah mertua kepadaku.
"Eh Bapak, maaf ya Pak Gendis mau pinjam motor Bapak untuk ke kampung sebelah membelikan bakso untuk Ibu," balasku dengan raut muka yang sangat teduh.
"Nggak bisa. Saya juga mau pergi. motornya mau saya bawa. Kamu pergi naik sepeda saja," balas bapak mertuaku yang membuatku benar-benar tak habis pikir dengan keluarga Mas Miko ini.
Jika di luar sana ayah mertua akan lebih sayang dan menghargai menantunya, tapi tidak dengan ayah mertuaku.
"Tapi Pak, Gendis cuma pinjam sebentar saja," aku masih berusaha agar dipinjami sepeda motor bapak mertuaku agar lebih cepat sampai rumah.
"Nggak bisa, minggir-minggir saya mau pergi," ucap ayah mertuaku yang langsung meraih sepeda motornya yang sebelumnya aku pegang.
Tanpa memiliki hati nurani, ayah mertuaku pergi begitu saja menaiki sepeda motornya. Akhirnya aku memutuskan untuk naik sepeda mini mahal yang sering digunakan ibu mertuaku pergi ke pasar.
Dengan perasaan yang berkecamuk aku menaiki sepeda mahal milik ibu mertuaku itu. cuaca siang itu benar-benar sangat panas, tapi untungnya aku mengenakan hoodie sehingga kepalaku bisa terlindungi dari panas yang sangat membakar kulit itu.
Di sepanjang jalan aku terus membayangkan masa-masa indah saat bertemu dengan Mas Miko suamiku. Aku dan Mas Miko bertemu pertama kali saat menghadiri sebuah acara pernikahan di kampungku, yaitu kampung yang akan aku datangi untuk membeli bakso.
Saat itu yang menikah adalah saudara perempuanku dengan teman Mas Miko, saat itu pula Mas Miko jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku. Sejak saat itulah kami mulai dekat.
Karena Mas Miko sudah berumur, jadi ia tak butuh waktu lama untuk menjalin hubungan denganku. Tepat setelah satu tahun kami dekat, Mas Miko langsung mengajakku menikah.
Karena aku juga mencintai Mas Miko, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan ajakan Mas Miko untuk menikah.
Saking terhanyutnya ke dalam lamunan, aku sampai tak sadar jika sudah melewati warung bakso Kang Maman. Akhirnya aku memundurkan sepedaku yang sudah kebablasan.
"Gendis apa kabar kamu?' tanya Arum yang juga sedang membeli bakso.
Arum adalah sahabatku. Rumahnya bersebelahan dengan rumah ibuku, namun semenjak aku menikah, kita menjadi jarang bertemu.
Aku segera menstandarkan sepedaku.
"Arum, kamu disini juga," balasku yang kemudian memeluk Arum. Beberapa saat kami berpelukan untuk melepas rindu karena lama tak bertemu.
"Kabarku baik Rum, kamu gimana?" tanyaku kepada Arum yang juga sudah lebih lama menikah dan sudah memiliki anak berusia 2 tahun.
"Kabarku baik Ndis. Udah lama banget ya kita nggak pernah ketemu, padahal rumah kita jaraknya nggak terlalu jauh, cuma beda kampung doang," balas Arum sambil terus memegang tanganku.
"Iya Rum," balasku kepada Arum.
"Kamu kok siang-siang gini naik sepeda ngapain? Nanti gosong lo," balas Arum sambil mengarahkan pandangannya ke sepeda yang aku parkirkan disamping warung Kang Maman.
"Hehe nggakpapa Rum, sekalian cari keringat karena aku kurang gerak," balasku yang berbohong kepada Arum sahabatku. Padahal aku naik sepeds karena terpaksa.
Aku hanya tidak ingin jika Arum sampai mengetahui penderitaanku. Apalagi jika kabar itu sampai terdengar di telinga kedua orangtuaku.
"Oh, iyalah kan kamu jadi istri orang kaya, pasti dirumah kerjaannya cuma ongkang-ongkang kaki, pasti punya pembantu kan, makanya sampai kurang gerak," balas Arum yang menganggap aku diratukan dirumah Mas Miko.
"Hem," aku hanya tersenyum merespon perkataan Arum yang sangat tidak benar itu.
"Kamu kok nggak ada main ke rumah bulek sih?" tanya Arum kepadaku. Bulek adalah panggilan Arum kepada ibuku.
"Iya Rum, Mas Miko masih sibuk, jadi tiap kali aku ajak sowan kerumah Ibu dia belum bisa," balasku, padahal sebenarnya aku tidak berani mengajak Mas Miko karena takut dengan ibu mertuaku.
Jika aku sering-sering mengunjungi ibuku, ibu mertuaku menganggap jika aku selalu memberikan uang kepada mereka. Makanya aku menghindari hal itu agar kedua orangtuaku tidak difitnah oleh ibu mertua dan ayah mertuaku.
"Oh iya ya, suami kamu kan kerjanya di Bank ya, makanya sibuk banget," balas Arum yang menganggap hidupku sekarang sangat bahagia.
Saking asyiknya mengobrol dengan Arum, aku sampai lupa jika belum memesan bakso.
"Kang, saya pesen baksonya enam bungkus ya," ucapku kepada Kang Maman.
"Siap Mbak," balas Kang Maman yang masih sibuk menyiapkan pesanan orang-orang.
"Gimana kamu sudah isi apa belum Ndis?" tanya Arum sambil memegang perutku.
"Hem, belum Rum," balasku dengan senyum getir.
"Kamu yang sabar ya. Tetap semangat dan jangan pantang menyerah," balas Arum sambil mengusap pipiku dengan lembut.
"Iya Rum, aku akan selalu sabar," balasku singkat.
"Kamu ini kok kelihatannya tambah gemuk, apa jangan-jangan?" ucapku yang kemudian menyentuh perut Arum yang terlihat membuncit.
"Hehe iya Ndis, aku hamil lagi," balas Arum dengan raut muka bahagia.
"Wahh selamat ya, aku ikut seneng dengernya," balasku sambil memeluk Arum sahabatku. Tanpa kusadari, ternyata air mataku terjatih.
Aku memang sudah sangat menginginksn buah hati, makanya aku sering menangis jika melihat orang-orang yang hamil dengan mudahnya.
"Semoga nular ke kamu ya. Oh iya Ndis, katanya kalo jempol kaki kamu diijak sama orang hamil, kamu akan tertular hamil Ndis. Sini jempol kakimu aku injak, siapa tau manjur," ucap Arum yang aku ikuti saja.
Arum langsung menginjak jempol kakiku.
"Nular-nular, semoga Gendis segera hamil," ucap Arum saat menginjak jempol kakiku.
Ada-ada saja memang ulah Arum ini.
"Baksonya sudah siap Mbak Arum, Mbak Gendis," ucap Kang Maman yang menghentikan keseruan kami.
"Eh iya Mang, pesanankku dijadikan dua bungkus ya isinya tiga-tiga," ucapku yang dituruti oleh Kang Maman.
"Iya Mbak," balas Kang Maman yang kemudian memberikan dua plastik berisi masing-masing tiga bungkus bakso itu padaku.
"Berapa semuanya Kang, pesanan Arum sekalian ya Kang," ucapku kepada Kang Maman.
"Eh nggak usah Ndis, aku ini beli banyak loh. Ada tamu soalnya," balas Arum yang melarang Gendis untuk membayar pesanan baksonya.
"Enggakpapa Rum, sekali-sekali kok," balasku yang tetap kekeh akan membayar pesanan Arum.
"Ya udah kalo gitu makasih ya," balas Arum kepada Gendis.
"Totalnya seratus enam puluh lima ribu ya Mbak Gendis," balas Kang Maman yang menerima uang dariku. kebetulan saat itu aku membawa uang dua ratus ribu untuk berjaga-jaga saja.
"Rum aku bisa minta tolong nggak?" tanyaku kepada Arum.
"Iya Ndis, minta tolong apa?" tanya Arum dengan raut muka serius.
"Tolong berikan bakso ini kepada Ibuku ya," balasku yang kemudian memberikan plastik berisi tiga bungkus bakso untuk diberikan kepada ayah, ibu dan adikku di rumah.
"Kenapa kamu nggak mampir dulu sebentar sekalian memberikan sendiri kepada Bulek?" tanya Arum kepadaku, apa yang dia katakan memang benar.
"Hehe untuk sekarang aku nggak sempet Rum, Ibu mertuaku sudah menunggu, jadi aku harus segera pulang," balasku yang beralasan.
Sebenarnya aku menahan tangisan kala Arum mengingatkanku untuk sowan ke rumah ibuku. Betapa durhakanya diriku, untuk memberikan makanan kepada orangtuaku saja harus dititipkan ke orang.
"Oh, ya udah kalo gitu. Sekali lagi makasih ya. Aku pulang dulu, nanti tamunya keburu kabur lagi karena keasyikan ngobrol sama kamu," ucap Arum yang kemudian melajukan sepeda motornya.
"Ini kembalinya Mbak Gendis," ucap Kang Maman sambil memberikan uang kembalian kepadaku.
"Oh iya Kang, makasih ya. Saya pamit pulang dulu ya Kang," balasku yang kemudian menaiki sepeda mahal itu.
Di sepanjang perjalanan yang sangat panas itu aku terus mengayuh sepeda. Keringat bercucuran membasahi tubuhku. Rasanya sangat panas dan gerah.
Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Arum agar aku sowan ke rumah ibuku. Sudah satu bulan lebih aku tidak mengunjungi kedua orangtuaku. Akhirnya akau memutuskan untuk mengajak suamiku sowan ke rumah ibuku nanti malam, apapun yang terjadi aku tidak perduli.
Setelah terus mengayuh sepeda di bawah terik matahari yang sangat membakar kulit itu, akhirnya aku sampai di rumah orangtua suamiku.
Aku segera menstandartkan sepeda dan meletakkan plastik berisi tiga bungkus bakso itu di meja. Karena badanku sangat berkeringat, akhirnya aku memutuskan untuk mandi. Meski mertuaku tergolong orang kaya di kampungnya, tapi kamar mandi di rumahnya hanya ada satu, yang dipakai untuk bersama.
Jadi bisa dibayangkan, gimana antrinya jika ada acara keluarga yang dimana semua anggota keluarga mertuaku harus datang. Yang pasti aku selalu mendapat giliran mandi paling belakang.
Kadang Mas Miko yang mengalah untukku, agar aku bisa bermake-up.
Pasti sangat mantul, habis mandi makan bakso yang masih anget, minumnya air dingin, pikirku yang sudah berada di dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti baju aku pergi ke kamar untuk memakai body lotion. Tipe kulitku memang kering jadi setiap kali selesai mandi, aku harus selalu memakai body lotion.
Setelah membalurkan body lotion marina biru yang wanginya sangat aku sukai, aku segera keluar kamar untuk memberikan bakso yang telah aku beli kepada ibu mertuaku sekalian memakan bakso yang kubeli untukku sendiri, karena tadi aku melebihinya satu bungkus.
Aku mendekati meja makan, dimana aku meletakkan bakso yang aku beli tadi. Namun, saat aku melihat ke meja, aku tak melihat ada bakso disana. Aku segera mencari ke kolong meja barangkali dijatuhkan oleh kucing.
Namun aku tidak melihat apapun di kolong meja, dan tak ada bekas kuah bakso sama sekali. Seharusnya jika bakso itu memang jatuh pasti pecah, kuah dan isinya pasti berceceran di lantai, namun ini tak ada bekas sama sekali.
Kulihat ibu mertuaku keluar dari dapur dan langsung masuk ke kamarnya. Ayah mertuaku yang entah sejak kapan sudah berada di rumah juga keluar dari dapur.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan kepada ibu mertuaku, apakah baksonya memang sudah mereka makan atau hilang digondol kucing.
"Tok ... tok ...," aku mengetuk pintu di kamar ibu mertuaku.
"Ada apa?" balas ibu mertua yang ada di dalam kamar tanpa mau keluar untuk menemuiku yang sedang menunggu di depan pintu. Aku seperti seorang budak yang berbicara dengan tuannya saja.
"Maaf Bu, saya mau tanya. Apakah Ibu sudah memakan bakso yang saya belikan tadi, saya taruh di meja Bu," ucapku dengan sangat hati-hati, karena takut ibu mertuaku tersinggung.
"Iya, memangnya kenapa?" Jawab ibu mertuaku dengan suara yang kasar hingga membuatku tersentak, karena aku tak melihat wujudnya.
"Itu Bu, tadi saya belinya saya lebihkan satu bungkus untuk saya sendiri. Ibu simpan dimana ya?" tanyaku dengan nada yang sangat lembut sekali.
"Oh jadi yang satu bungkus tadi untuk kamu?" jawab ibu mertua dari dalam kamar.
"Iya Bu, saya mau memakannya. Ibu simpan dimana baksonya?" tanyaku yang sudah tak sabar untuk memakan bakso Kang Maman yang terkenal enak itu.
"Sudah habis," balas ibu mertuaku dengan ketus, namun aku pikir ia sedang bercanda.
"Loh memangnya yang satu bungkus untuk siapa Bu? Apakah Ibu simpan untuk Mas Miko?" tanyaku yang masih berpikir positif mengenai ibu mertuaku itu. Aku pikir ia hanya bercanda.
"Dibilangin sudah habis ya sudah habis, satu porsi untuk suami saya dan yang dua porsi untuk saya," balas ibu mertua yang membuatku terkejut.
Betapa rakusnya ibu mertuaku itu. Ia tak memikirkan diriku yang panas-panasan membelikan bakso untuknya, ia malah memakan jatahku. Boro-boro mengingatku, sekedar mengucapkan terimakasih saja tidak.
Dengan perasaan penuh kekecewaan dan kekesalan terhadap ibu mertuaku, aku meninggalkan kamar ibu mertuaku. Aku memutuskan untuk makan nasi dengan lauk yang tersisa yaitu tumis kangkung, tempe dan kerupuk.
Sebenarnya tadi pagi aku juga masak ayam, tapi sudah habis untuk sarapan dan bekal untuk suami, kakak iparku dan suaminya. Bahkan akupun tak kebagian, tapi tak apa aku ikhlas.
Padahal yang belanja aku dan suamiku, tapi yang makan seluruh keluarga. Kadang-kadang Mas Dani, suami Mbak Dina diam-diam memberiku uang sekedar untuk menambah uang belanja seluruh anggota keluarga. Mungkin ia sungkan harena harus numpang makan dengan kami.
Mas Dani memang baik. Meski ia adalah menantu yang sangat dibanggakan oleh kedua mertuaku, namun ia tetap menghargai aku. Ia bekerja di kantor dengan jabatan yang cukup tinggi, namun Mbak Dina enggan untuk diajak tinggal di rumah sendiri.
Untuk membeli rumah, mereka sudah pasti mampu, tapi Mbak Dina lebih senang tinggal bersama kedua orangtuanya, dan kedua adiknya di rumah mertuaku ini.
Karena sangat lapar, aku makan sangat lahap dengan lauk seadanya yang masih tersisa. Kebiasaan di rumah ini, aku harus masak dua kali yaitu pagi dan sore dengan menu yang berbeda. Bisa dibayangkan, berapa pengeluaran untuk biaya makan kami sekeluarga setiap bulannya.
Meski gaji Mas Miko tujuh juta, tapi jika segala kebutuhan keluarga besar mertuaku semua Mas Miko yang menanggung, mulai dari makan, keperluan sehari-hari seperti keperluan mandi, keperluan kebersihan rumah dll, bagaimana aku dan Mas Miko memiliki tabungan. Bekum lagi ibu mertuaku selalu minta jatah bulanan, dengan alasan sebagai imbalan karena telah menyekolahkan Mas Miko hingga S2.
Untuk masalah itu aku tak masalah, tapi setidaknya mereka menghargi ku selayaknya menantu. Tapi hal itu sama sekali tak pernah terjadi. Kebencian meetua dan iparku sepertinya sudah mendarah daging.
Namun meski begitu, aku tetap berusaha untuk menabung, dengan gaji yang Mas Miko berikan kepadaku. Aku lebih mengesampingkan belanja baju dan skincare agar aku bisa menabung.
Tapi tabunganku itu sangat rahasia, tidak ada seorangpun yang tau, termasuk Mas Miko, suamiku sendiri. Aku rela berhemat dan mengesampingkan kebutuhanku demi menabung. Tabungan itu bisa digunakan saat ada kebutuhan mendesak, seperti saat melahirkan atau apapun.
Setelah selesai makan aku ingin masuk ke kamar, tempat yang paling nyaman untukku. Aku membuka social media untuk melihat-lihat postingan-postingan teman-temanku yang sangat bahagia dan sering jalan-jalan bersama suami dan anak-anaknya itu. Tak bisa dipungkiri, aku iri dengan mereka.
Belum sempat aku istirahat ternyata waktu sudah menunjukkan jam empat sore, akhirnya aku bergegas untuk pergi ke dapur dan memasak untuk makan malam seluruh anggota keluarga.
Sore ini aku akan memasak gulai kambing kesukaan ibu mertuaku. kebetulan masih ada sisa daging kambing di freezer, namun karena membeku, jadi aku harus menunggu lama agar daging kambing itu mencair.
Satu persatu anggota keluarga yang bekerja sudah pulang, pertama Mas Dani dan Mbak Dina, dan yang terakhir suamiku. Namun aku masih sibuk mencairkan daging kambing yang masih keras itu.
Aku sudah pasrah jika nanti akan kena amukan oleh ibu mertua ataupun kakak iparku karena telat menyiapkan makan malam. Biasanya di keluarga ini, jam enam kurang mereka sudah makan malam.
Aku mengulek bumbu sambil menunggu daging kambing itu mencair, tapi karena sangat lama yang akhirnya aku memutuskan untuk merebusnya, padahal sebenarnya tidak boleh daging dari frezzer direbus, tapi peduli amatlah. Yang penting nggak kena marah sama keluarga suamiku.
Aku terus melirik ke arah ponselku untuk melihat jam, aku seperti dikejar waktu. Aku bagaikan mengikuti kompetisi masak yang akan dinilai oleh juri yang lebih garang daari cheff Juno.
"Halo Sayang," ucap Mas Miko yang mendatangiku ke dapur.
"Mas, maaf ya aku belum bisa buatin teh untuk kamu. Aku dikejar waktu nih," balasku kepada Mas Miko yang baru saja pulang dari kantor dan masih berpakaian lengkap dengan kemeja dan dasinya.
"Iya Sayang nggakpapa, kamu selesaikan dulu masakannya, masalah kopi gampang, nanti aku bisa buat sendiri," balas Mas Miko yang sangat pengertian padaku.
Aku sangat beruntung karena memiliki suami seperti Mas Miko, yang sangat baik dan pengertian, itulah alasanku masih tetap bertahan sampai saat ini ditengah genpursn mertua dan ipar yang jahat.
"Kamu mandi dulu gih Mas, habis mandi aku buatkan kopi," ucapku yang masih menumis bumbu gulai.
"Iya Sayang," ucap Mas Miko sambil menowel pipiku.
Hal seperti itulah yang membuatku semakin bersemangat. Perlakuan Mas Miko yang sangat manis padaku, mampu mengobati luka hatiku akibat hinaan dan makian mertua dan kakak iparku.
Mas Miko pergi ke kamar untuk meletakkan barang-barang sebelum mandi. Tiba-tiba Mbak Dina memanggilku dengan kencang.
"Gendis ...," teriak Mbak Dina yang memanggilku.
"Bentar Mbak, aku masih masak," sahutku dari dapur, aku belum bisa menghampirinya karena takut masakanku gosong.
"Ngapain aja sih sok sibuk banget," ucap Mbak Dina yang menghampiriku di dapur.
"Aku masak Mbak,"balasku sambil terus mengerjakan sesuatu.
"Ya ampun, ini udah jam setengah enam tapi kamu belum juga kelar masak? Ngapain aja kamu seharian di rumah ha?" bentak Mbak Dina yang sudah sering aku dengar.
Aku tak menghiraukan perkataan Mbak Dina dan segera mengaduk nasi yang baru saja matang.
"Kamu ini ya bener-bener deh, diajak ngomong malah nggak didengerin," Mba Dina terus ngoceh padaku.
"Maaf Mbak, aku lagi sibuk banget. Apa Mbak bisa bantuin aku untuk mengaduk sayur di panci itu?" tanyaku dengan penuh harapan.
"Heh, enak aja kamu. Tanganku bisa lecet kalo harus pegang alat dapur," balas Mbak Dinia yang malah marah-marah.
"Kalo nggak mau ya udah Mbak, nggak usah marah-marah," balasku yang kemudian mengaduk sayur gulai yang sudsh meletup-letup itu.
"Kamu buatin teh untuk suami saya sekarang," ucap Mbak Dina yang menyuruhku seenaknya.
"Nanti ya Mbak, aku masih sibuk," balasku dengan lembut.
"Heii, kamu udah berani melawan sama saya ya," teriak Mbak Dina padaku.
"Bukannya aku melawan atau nggak mau menjalankan perintahmu Mbak, tapi Mbak bisa lihat sendiri kan kalo aku lagi sibuk. Kalo Mbak nggak sabar nungguin saya, Mbak bisa buatkan sendiri tehnya untuk suami Mbak, nggak akan membuat tangan Mbak lecet kok kalo sekedar membuat teh," balasku yang membuat Mbak Dina melotot dan semakin emosi.
"Kamu berani nyeramahin saya, mau saya tampar kamu?" ucap Mbak Dina yang sudah mengangkat tangannya dan bersiap untuk menamparku, tapi tiba-tiba ada tangan yang menghentikannya.
"Mas ...," ucap Mbak Dina yang sangat syok kala ia mengetahui jika yang memegang tangannya adalah Mas Dani, suaminya.
"Kenapa kamu harus ribut hingga mau menampar Gendis hanya masalah teh Din, kamu kan tau dia lagi sibuk menyiapkan makanan untuk kita semua. Kamu yang tidak ada kerjaan seharusnya membantunya, dan untuk membuatkanku teh, itu kan sebenarnya tugas kamu sebagai istriku, bukan malah kamu menyuruh orang lain untuk melayaniku," ucap Mas Dani menasehati istrinya dengan sangat bijaksana.
Mendengar Mas Doni yang malah memihakku, Mbak Dina semakin marah.
"Mas, kamu kok malah jadi bela orang miskin ini sih. Aku ini istri kamu loh," ucap Mbak Dina dengan amarah yang meledak-ledak.
Aku yang masih sibuk dengan pekerjaanku tidak menggubris pertengkaran mereka.