Bab 1

Mahesa tertunduk menatap secarik kertas tagihan yang ada di tangannya saat ini. Berapa pun lamanya dia menatap, jumlah digit di bagian ‘total’ itu tidak akan berubah menjadi nol, ataupun berstempel lunas. Tidak ada larangan bagi pria menangis, karena saat ini Mahesa sudah kehabisan cara untuk mencari uang. Bahkan sejak bulan lalu, dia sudah cuti kuliah demi menjaga bapak di rumah sakit. Padahal tinggal dua semester lagi dia akan lulus. Gaji paruh waktunya yang semula akan digunakan untuk membayar kuliahnya, terpaksa dialihkan untuk berobat bapak.

Bapak masuk rumah sakit bukan tanpa sebab. Beliau menjadi korban tabrak lari sebulan lalu. Minimnya informasi dan saksi mata di tempat kejadian, membuat penabrak yang tidak bertanggung jawab itu sulit untuk dilacak.

Sudahlah, berapa kalipun Mahesa menyumpahi si penabrak, toh tetap tidak ada yang berubah dengan kondisinya sekarang. Jika sampai besok malam tagihan ini belum lunas, pihak rumah sakit terpaksa menghentikan pengobatan bapak. Darimana Mahesa bisa mendapatkan uang sebanyak 20 juta dalam waktu semalam?

Mahesa merogoh saku celannya, ponselnya berdering.

“Ya, Ga? Beneran?!” seru Mahesa tak percaya. “Ok, gue ke sana sekarang.”

Sebuah telepon dari Raga, kawan lamanya saat SMP yang memilih cuti kuliah, karena kondisi keuangan keluarganya. Mahesa melangkah mendekati ranjang bapak untuk pamit pergi sebentar. Setelah itu, Mahesa dengan motornya meluncur ke tempat kerja Raga.

Setengah jam perjalanan, Mahesa sampai di tempat kerja Raga—kelab malam. Berbekal nama Raga, satpam yang menyeleksi tamu kelab langsung mempersilakan Mahesa masuk. Hingar bingar musik EDM dan lampu membuat Mahesa mengerjap beberapa kali. Ini adalah kali kedua dia pergi ke kelab malam seperti ini. Pengalaman pertamanya tidak mengenakan, sehingga membuat Mahesa lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan daripada menerima ajakan kawan-kawannya untuk berpesta tiap malam.

Mahesa mengedarkan pandangannya, lalu menemukan sosok Raga sedang berdiri di balik meja bar melayani pelanggan yang memesan minuman.

“Ga!” sapa Mahesa dengan terpaksa setengah berteriak.

“Oi, udah nyampe lo?”

Mahesa mengangguk, lalu duduk di kursi di depan meja bar.

“Bentar ya, gue kelarin satu pesanan ini dulu.”

Mahesa kembali mengangguk, sembari tatapannya tidak lepas dari Raga yang lincah meramu minuman untuk pelanggan. Setelah menyajikan segelas cocktail, Raga kembali menghampiri Mahesa.

“Gimana kabar bapak?”

“Mendingan. Lusa operasi tulang kaki, biar bisa jalan normal lagi.”

Raga mengangguk. Kini dia mengerti kenapa sahabatnya ini sangat membutuhkan pekerjaan.

“Bos bilang lo bisa mulai malam ini kalau mau. Tapi lo yakin mau kerja ginian? Maksud gue, sayang kan sarjana lo?”

“Gue belum sarjana, Ga. Udah enggak apa-apa. Yang penting gue ada kerjaan.”

Raga mengangguk, tapi juga menatap nelangsa sahabatnya. “Soal gaji di muka itu …”

Mahesa terdiam mendengarkan kalimat Raga, ini adalah kabar yang paling dinantikannya.

“Bos bisa sih kasih lo, tapi cuma setengah.”

Mahesa tersenyum. Tidak apa, setidaknya dia bisa membawa gajinya yang dibayar di muka ke rumah sakit.

“Enggak apa-apa. Setengahnya nanti gue cari ke yang lain. Santai aja.”

Raga tersenyum. “Nih, apron lo. Terserah lo mau beresin meja atau nyuci gelas dulu.”

Mahesa menerima apronnya, lalu mengenakannya sembari berujar, “Gue beresin meja dulu aja.”

Mahesa mulai mengumpulkan gelas, piring kotor, dan membuang puntung rokok dari meja kelab. Lalu membawa piring kotor ke dapur, sedangkan untuk gelas wine ataupun cocktail dicuci di bak cuci bar.

“Baru ya?”

“Main sama kita, yuk!”

“Dih, ganteng tapi kok bisu.”

Mahesa tidak meladeni mereka para wanita yang sengaja menggodanya sejak detik pertama dia datang ke meja ini. Dirinya tetap fokus membersihkan meja, tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh wanita-wanita dengan pakaian seksi di sekelilingnya.

“Digodain ya?” tanya Raga saat Mahesa sudah selesai mencuci gelas di bak cuci. “Ntar juga lo biasa kok.”

Mahesa tahu resiko seperti ini akan terjadi padanya saat dia memutuskan menerima pekerjaan di kelab malam. Digoda—kalau tidak mau disebut pelecehan verbal—oleh banyak pelanggan bar, terutama wanita. Tidak salah memang jika para wanita itu melihat Mahesa dan akhirnya merasa gemas sendiri. Mahesa tidak jelek, tapi juga tidak tampan, ya manislah—itu yang dulu yang sering diucapkan oleh teman-teman wanita di kampusnya. Tubuhnya yang tinggi dengan massa otot ideal sangat menunjang penampilannya.

“Biasalah, kayak anak-anak di kampus.”

“Mereka itu langganan di sini.”

Mahesa menoleh kembali ke arah kumpulan wanita yang memilih duduk di meja paling pojok dekat dengan ruang VIP.

“Sering ngadain pesta di sini.”

“Orang kaya?”

Raga mengangguk. “Bos pernah bilang kalau mereka itu sekumpulan, hem … apa ya istilahnya. Ah, intinya mereka itu cewek-cewek yang prinsip hidupnya you only live once. Kebanyakan juga masih single, kalaupun ada yang bawa cowok, palingan cuma dijadiin ONS atau enggak gigolo yang disewa mereka buat bachelorette party, atau buat ngejamu klien-klien mereka yang udah tante-tante.”

“Kok enggak nyewa private room aja?”

Raga mengedikkan bahunya tak tahu.

“Lo cocok tuh, jadi gigolo mereka.”

“Ogah!”

***

Arloji Mahesa sudah menunjuk ke angka tiga, suasana kelab sudah sepi. Hanya menyisakan beberapa tamu yang masih asyik mengobrol dan seorang wanita yang sedari satu jam lalu duduk dengan kepala menunduk di meja bar. Mabuk.

“Mbak?” panggil Mahesa yang kegiatan mengelap meja barnya sedikit terganggu. Dia perlu agar wanita itu bergerak dari duduknya, atau lebih baik pulang sekalian.

“Apa panggil-panggil?!” seru wanita mabuk itu sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Mahesa.

“Maaf, Mbak. Saya mau bersihin meja, dan Mbak ngalangin saya.”

“Kamu jahat! Kenapa kamu pergi? Aku tuh nungguin kamu balik!” teriak wanita itu, lalu sedetik kemudian dia tergugu. “Papa sama mama nanyain kamu terus,” isaknya di tengah tangis.

Seorang yang sedang mabuk, memang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Seperti sekarang, Mahesa hanya memilih mengelap sisi meja lainnya dan membiarkan wanita itu menangis hingga lega. Mungkin dia memang perlu mengeluarkan sesak di dadanya, entah apapun itu masalahnya. Namun, orang mabuk juga bisa nekat melakukan banyak hal, bahkan yang membahayakan hidupnya. Oleh karena itu, sesekali Mahesa masih menoleh untuk memastikan bahwa wanita tadi tidak melakukan hal bodoh.

Setelah selesai mengelap meja dan hendak kembali menghampiri wanita mabuk tadi, Mahesa tidak menemukannya di tempat semula. Mahesa panik. Dia tahu, dirinya dan wanita itu adalah dua orang asing yang tidak saling mengenal, tapi Mahesa merasa memiliki tanggung jawab pada pelanggannya. Dirinya bergegas berlari keluar mencari wanita itu, tapi nihil. Mahesa kembali lagi ke dalam, dan menemukan wanita itu terduduk di salah satu bilik toilet dengan napas terengah.

“Mbak baik-baik aja?”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Sebuah senyum sinis tercipta di wajahnya. “Baik-baik aja? Setelah apa! Yang! Kamu! Lakuin! Kamu pikir aku akan baik-baik aja?” geramnya sambil memukul tubuh Mahesa dengan tas.

Mahesa berusaha menghindar, tapi wanita itu tetap bisa menjangkaunya—meski dengan tubuh sempoyongan. Entah pukulan yang ke berapa, Mahesa akhirnya menangkap tangan si Pemabuk, lalu menyatukan kedua tangannya di balik punggung wanita itu.

“Lepasin!” rontanya.

Mahesa bisa mencium bau menyengat dari mulut wanita ini, karena wajah mereka begitu dekat. Berapa gelas alkohol yang diminum sampai bisa semabuk ini? Wanita itu terus meronta, membuat Mahesa terpaksa menyeretnya keluar toilet.

“Ga, kasihan nih mbaknya mabok.”

Raga tertegun saat mendapati Mahesa datang dari arah toilet bersama seorang wanita. Dia pikir Mahesa sudah lebih dulu pulang.

“Kasih duduk di depan aja. Ada sekuriti yang jagain, biasanya ntar subuh atau pagi gitu ada yang jemput orang-orang mabuk kayak gini. Ya, paling apes mereka nyadar terus pulang pake taksi.”

“Tapi ini cewek, Ga.”

“Banyak kok cewek yang kayak gitu. Udah biarin aja di depan sana. Gue balik dulu, ya,” pamit Raga, lalu berlalu meninggalkan Mahesa yang menatap bingung wanita dalam pelukannya.

Mahesa menuruti apa kata Raga. Dia yakin Raga lebih tahu bagaimana menghadapi situasi seperti ini, karena pasti dia sudah sering menemukan orang-orang teler sampai pagi.

“Tolong jagain ya, Pak,” pesan Mahesa pada sekuriti, lalu memastikan bahwa wanita mabuk ini sudah tenang, barulah Mahesa menuju parkiran motor.

Dalam perjalanan kembali menuju rumah sakit, Mahesa tidak henti-hentinya memikirkan wanita mabuk yang dia tinggalkan di sana. Ada rasa bersalah dan tidak tega menggelayutinya. Akhirnya Mahesa memutar motornya kembali menuju kelab.

Wanita itu masih di sana, tak sadarkan diri. Mahesa melepaskan jaketnya, lalu menyelimutkannya ke tubuh wanita mabuk. Mahesa menghela napas, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan.

“Ntar juga ada yang jemput, Mas.”

“Kasihan, Pak. Dia langganan di sini atau bukan ya?”

Pak Satpam yang sedari tadi asyik mengisi TTS melongok sejenak memperhatikan wajah wanita di depan Mahesa. Kemudian menggeleng sebagai jawaban.

“Baru lihat malahan.”

Mahesa kembali menghela napas. Masih memandangi wajah lelap di hadapannya, hingga tatapannya bertemu dengan tas hitam milik si wanita. Mahesa tahu, membongkar tas milik orang adalah perbuatan salah. Namun bisa jadi ada kartu identitas di sana, sehingga Mahesa bisa mengantarkan wanita ini pulang.

“Pak, tolong Bapak jadi saksi saya buka tas mbaknya ini ya. Saya cuma mau lihat KTP-nya aja.”

Pak Satpam kembali menoleh, lalu mengangguk.

Mahesa membuka tas hitam itu, lalu mengambil dompet warna cokelat dan membukanya. Mengambil KTP dan sekilas membacanya. Alamatnya lumayan jauh dari sini, naik motor mungkin butuh satu jam. Mahesa kembali melihat ke dalam tas, ditemukannya sebuah kartu akses salah satu unit apartemen yang tidak jauh dari kelab. Mungkin sekitar 15 menit perjalanan. Tapi Mahesa tidak mungkin membonceng wanita mabuk ini, apalagi keadaan masih gelap.

“Pak, bisa tolong panggilin taksi?”

“Taksi jam segini susah, Mas. Nunggunya lama.”

Mahesa terdiam sejenak. Ya sudah, tidak ada pilihan lain. Memang dia sendiri yang harus membonceng wanita ini. Mahesa memakaikan jaketnya untuk si wanita, lalu menggendongnya, menuju motor. Diikuti oleh Satpam yang membawa seutas tali—entah dia dapat darimana—lalu mengikat tubuh Mahesa dan wanita itu.

Mahesa kembali melaju menuju apartemen si wanita. Entah itu apartemen miliknya atau tidak, tapi setidaknya di dalam apartemen lebih baik daripada di teras kelab dan kedinginan. Setelah sampai, dibantu seorang satpam Mahesa melepaskan ikatannya.

“Lho, Mbak Indira kenapa, Mas?”

“Bapak kenal sama dia?”

Satpam apartemen mengangguk, “Dia tinggal di sini. Lagian siapa yang enggak kenal sama—”

“Maaf, Pak. Bisa kasih tahu unitnya nomer berapa? Biar saya antar.”

“Lantai paling atas, Mas,” jawab Satpam apartemen seraya menahan pintu lift.

Setelah mengucapkan terima kasih dan pintu lift menutup, Mahesa menekan tombol lift dengan sikunya. Mahesa tidak tahu lantai berapa yang paling atas, karena setelah angka 20, tidak ada lagi angka. Hanya ada petunjuk penthouse. Mahesa takjub dengan wanita dalam gendongannya ini. Dia terlihat masih muda, cantik, dan sukses. Terbukti dia tinggal di penthouse.

Dua menit kemudian Mahesa sudah sampai di lantai teratas. Saat keluar dari lift, Mahesa hanya mendapati satu pintu yang terletak di sisi kirinya. Mahesa melangkah menuju pintu itu, lalu menggesek kartu akses ke panel kunci. Muncul di layar pilihan untuk membuka pintu, dengan sidik jari atau dengan pin. Tentu saja Mahesa memilih pilihan sidik jari, karena mana mungkin dia tahu pin kunci pintunya.

Bunyi bip terdengar begitu sidik jari jempol Indira selesai diidentifikasi oleh panel. Mahesa mendorong pintu di depannya. Takjub! Penthouse ini sangat luas, tapi kosong. Mungkin lebih cocok disebut minimalis. Ruang tamu dengan sofa minimalis dan dinding kaca menyambut Mahesa. Membuatnya terpesona dengan keeleganannya, terlebih pemandangan kerlip lampu kota dan bintang di kejauhan, menambah kekagumannya.

Erangan pelan Indira menarik kembali Mahesa dari lamunannya. Buru-buru Mahesa menuju sofa dan membaringkan Indira di sana.

“Jangan pergi,” racau Indira.

Mahesa menunduk untuk lebih jelas mendengar racauan Indira, tapi ternyata wanita itu sudah kembali lelap. Detik berikutnya, dengan hati-hati Mahesa membuka jaketnya yang dipakai oleh Indira. Sepelan mungkin agar Indira tidak terbangun dan meracau lagi. Namun saat Mahesa hendak berhasil melepas keseluruhan jaketnya, Indira mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Bahkan tanpa sadar memeluk sebelah tangan Mahesa. Dan pelukan Indira semakin erat setiap kali Mahesa mencoba melepaskan diri.

Baiklah, mungkin Mahesa harus menunggu sesaat sebelum melepaskan diri. Mungkin setengah jam lagi Indira akan mengubah posisi tidurnya. Mahesa akhirnya duduk di lantai, di samping sofa Indira. Membiarkan lengannya dipeluk erat Indira, sedangkan Mahesa menyandarkan kepalanya di sofa dengan tatapan yang masih menikmati kerlip bintang dan lampu di luar sana. Hingga tanpa terasa, Mahesa turut lelap, mengistirahatkan tubuhnya yang selama sebulan ini meringkuk di kursi di sebelah ranjang rawat bapak.

***

Bab 2

Mahesa mengerjap dan menyipit beberapa kali karena silau matahari yang menerpa wajahnya. Namun bukan itu yang membangunkan dirinya dari dunia mimpi, melainkan teriakan melengking Olive—sahabat Indira.

“Lo siapa?” tanya Olive yang memandang Mahesa dengan ngeri.

“Saya Mahesa.”

“Kenapa lo bisa di sini? Sama Indira lagi!”

“Saya cuma nganter Mbak Indira yang semalem mabuk, Mbak.”

“Pake nginep?”

“Maaf, saya enggak bermaksud begitu. Saya hanya ketiduran, karena Mbak Indira terus meluk tangan saya. Saya jadi enggak bisa pergi.”

“Dir! Dira! Indira!” teriak Olive sembari menggoyangkan tubuh Indira.

Indira mengerang, mencoba membuka matanya. Kepalanya pening sekali, belum lagi matanya yang masih terasa berat. Namun, ocehan sahabatnya tidak bisa dihindari. Indira berusaha membuka matanya, menatap ke sekeliling dan terkejut saat mendapati Mahesa ada di hadapannya.

“Siapa lo?!”

“Lo enggak kenal sama dia?”

Indira menggeleng, lalu segera melompat dari sofa.

“Maaf, Mbak. Semalem saya yang nganterin Mbak pulang. Saya Mahesa,” jelas Mahesa sambil mengulurkan tangan. Namun, kedua wanita di hadapannya membiarkan tangan itu mengambang sampai pemiliknya menarik kembali.

“Sepertinya Mbak Indira sudah sadar, dan udah ada temannya. Jadi saya bisa pamit pulang kalau begitu.”

Mahesa tersenyum sebelum akhirnya berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat dia kesulitan membuka pintu, hingga akhirnya teman Indira menghampirinya dan menekan enam angka pin dan bunyi bip kembali terdengar. Mahesa kembali tersenyum, lalu buru-buru keluar meninggalkan penthouse Indira.

“Lo sih, sok-sokan mabuk. Eh, sekalinya mabuk malahan bawa cowok balik. Hebat juga lo.”

“Apaan, sih? Gue juga nggak kenal tuh cowok,” sahut Indira seraya mengambil sebotol air mineral kemasan dari dalam kulkas dan menenggaknya. “Tumben pagi-pagi ke sini, ada apa?”

“Ada apa, ada apa! Om sama tante nyariin lo dari kemarin. Khawatir sama kondisi lo.”

Indira menghela napas, lalu kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa dan menyalakan teve. Olive kemudian bergabung dengan membawa dua mangkok dan dua botol air, beserta dua bungkus bubur ayam yang dibelinya saat perjalanan menuju apartemen Indira.

“Om sama tante mau nanya keputusan lo tentang pernikahan lo. Gimana jadinya?”

Olive melirik sahabatnya yang diam dan menatap kosong pada semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan asap, mengabaikan teve yang sedang menayangkan acara gosip. Olive tahu, ini masih terlalu awal untuk mengungkit masalah pernikahan Indira. Namun, kedua orang tua Indira juga bingung harus berbuat apa, terlebih lagi ketika putrinya tiba-tiba saja memutuskan pindah ke apartemennya lagi.

“Dir.”

“Hem?”

“Kenapa enggak angkat telepon Om dan tante?”

“Gue enggak tahu harus ngomong apaan soalnya. Gue udah ngecewain mereka,” ucap Indira dengan suara seraknya, berusaha menahan air matanya lagi.

“Hei.” Olive beringsut memeluk Indira yang mulai terisak. Mencoba memberi dukungan sekecil apapun itu, agar sahabatnya ini bisa menghadapi masalahnya. “Ini bukan salah lo, kok. Si Goblok itu aja yang beneran bego karena udah ninggalin lo.”

“Gue mesti gimana, Live? Sampai kapan kita bisa tutupin semua ini? Media pasti lama-lama bakalan tahu, dan—”

“Dan si Bego itu bakalan nyesel.”

Indira mengusap air matanya. Sudah seminggu dia tidak berhenti menangis, sejak Adrian membatalkan pertunangan mereka sepihak. Sejak malam itu, Indira tidak berani pulang ke rumah menemui orang tuanya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Yang orang tuanya tahu, dua minggu lagi Indira akan menikah.

Serapat mungkin Indira menyimpan masalahnya. Hanya pada Olive dia menceritakannya. Efeknya akan fatal, terutama bagi papa, jika tahu Indira batal menikah. Namun sampai kapan rahasia ini akan disimpan, apalagi kehidupannya sebagai model sangat dekat dengan media.

“Lebih baik om dan tante tahu sekarang dari lo daripada dari media, kan? Ngomong pelan-pelan.”

Indira menggeleng. “Gue takut papa ntar kepikiran dan malah bikin jantungnya kumat.”

“Terus mau sampai kapan lo kayak gini? Dua minggu lagi tanggal pernikahan lo, kan? Kalau sampai saat itu lo enggak bilang yang sebenarnya, malahan parah ntar.”

“Apa gue minta balikan aja ya sama Adrian?”

Olive menghela napas. “Lo yakin? Adrian aja enggak bilang apa alasannya batalin pertunangan kalian. Sekarang lo minta balikan?”

“Terus gue mesti gimana, Live?”

“Saran gue, tetep lo ngomong ke om sama tante. Jelasin ke mereka pelan-pelan, atau ntar gue temenin deh.”

“Enggak. Gue—”

“Pikirin aja dulu,” potong Olive, lalu mulai menyantap bubur ayamnya.

Sedang Indira hanya bisa menghela napas dan juga ikut menyantap buburnya sembari pikirannya tetap mengembara mencari cara bagaimana mengabarkan dirinya yang sudah putus hubungan dengan Adrian.

***

Setelah Olive pulang, Indira kembali sendirian di apartemen papanya ini. Tempat ini menjadi pelariannya di kala penat, karena masalah pekerjaan. Siapa yang menyangka, tempat ini kini menjadi pelariannya untuk bersembunyi, karena sikap pengecutnya.

Indira baru saja selesai mandi saat ponselnya yang ada di sofa berdering. Panggilan dari mama. Sudah tiga hari ini dia mengabaikan panggilan telepon orang tuanya. Indira masih bingung harus menjawab apa jika mama atau papa bertanya tentang progress acara pernikahannya dengan Adrian yang sudah batal seminggu lalu. Namun apa yang dikatakan Olive ada benarnya, lebih baik dirinya yang memberitahukan kegagalan ini daripada mereka tahu dari berita gosip di teve.

“Ya, Ma?” sapa Indira setelah menggeser tombol hijau dan menelakupkan ponselnya ke telinga.

“Kamu ke mana aja? Kok tiga hari ini enggak angkat telepon Mama sama Papa?”

“Maaf, Ma. Indira lagi ada pemotretan di luar kota. Agak susah sinyal gitu. Makanya, Indira belum sempet hubungi Mama,” bohong Indira.

“Kok Olive enggak bilang apa-apa?”

“Aku emang enggak kasih tahu Olive tentang ini, Ma.”

“Kamu ada masalah sama Olive?”

“Enggak ada kok. Kita baik-baik aja, cuma emang proyek ini aku pengen tangani sendiri,” bohong Indira lagi, dia semakin ahli.

“Ya udah kalau gitu. Terus kabar kamu sama Adrian gimana? Udah pastiin lagi ke katering sama dekor buat dua minggu lagi?”

Akhirnya topik pembicaraan yang paling ditakutkan Indira diungkit oleh mama. Indira menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Menyiapkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya pada mama.

“Aku sama Adrian—”

Indira kembali menelan kalimatnya saat kedua matanya menangkap benda asing di atas sofa. Sebuah jaket pria. Jaket milik Mahesa yang dipakainya dini hari tadi. Entah bagaimana, Indira tiba-tiba saja mendapatkan ide untuk mengatasi masalahnya.

Mungkin akan terdengar gila, tapi Indira hanya punya waktu kurang dari dua minggu untuk menyakinkan pemilik jaket mengikuti rencananya.

“Ma, nanti aku telepon lagi ya. Aku harus pergi.”

“Tapi, Dir. Mama pengen tahu soal acara kamu.”

“Iya, ini aku juga mau ngurus. Nanti kalau udah selesai, aku janji bakalan langsung telepon Mama. Ok?”

“Ya sudah, jaga kesehatan ya.”

“Iya, Ma.”

Indira menatap lekat jaket di tangannya, sembari menyakinkan diri bahwa rencananya kali ini demi membahagiakan orang tuanya. Bukan demi dirinya. Baiklah, mungkin juga demi citranya sebagai public figure, yang harus terlihat sempurna di mata banyak orang. Tapi itu tidak masalah, kan?

***

Bab 3

Mahesa menghela napas lega, saat lampu tanda operasi sudah padam. Seorang dokter mengabarkan operasi tulang bapak sukses. Mahesa langsung mengucap syukur berkali-kali dan mengucapkan terima kasih pada dokter yang telah mengoperasi bapak.

Setelah dari ruang operasi, bapak kembali beristirahat di kamar rawat. Mahesa terus menatap wajah bapak yang masih terlelap karena obat bius. Hingga lamunan Mahesa buyar oleh dering telepon ponselnya, dari Raga.

“Iya, Ga. Sukses kok. Setelah bapak sadar, gue langsung ke kelab. Iya, hah? Siapa yang nyariin? Duh, sumpah, Ga, gue enggak ngapa-ngapain dia. Gue beneran cuma nganterin dia. Lo bisa tanya satpam malam yang liat gue buka tasnya. Oke, setelah bapak sadar, ya?”

Mahesa memandang nanar ponselnya. Raga baru saja memberitahu bahwa pelanggan wanita yang semalam mabuk berat mencari Mahesa. Sejauh Mahesa mengingat, dia sama sekali tidak melakukan hal aneh atau kurang ajar dengannya. Malah sebaliknya, wanita itu yang tanpa izin memeluk lengan Mahesa.

Mahesa kembali menoleh pada bapak yang mengerang. Orang tua itu tersenyum melihat putranya yang senantiasa menunggunya. Sungguh, bapak sangat bangga dan bersyukur memiliki Mahesa dalam hidupnya.

“Tadi temen kamu yang telepon?”

Mahesa mengangguk.

“Bapak udah mendingan kok. Kamu berangkat kerja aja. Enggak enak sama temen kamu yang udah bantuin nyari kerjaan.”

Mahesa mengangguk, lalu setelah memastikan semua keperluan bapak ada dalam jangkauan, Mahesa bergegas pamit pergi. Sepanjang perjalanan, dalam kepala Mahesa, terus berputar banyak pertanyaan tentang pelanggan wanita yang semalam diantarnya pulang. Dalam hati, Mahesa juga takut jika dituntut karena hal-hal yang tidak dia lakukan, apalagi Mahesa sama sekali tidak memiliki bukti.

“Beneran, Ga, gue enggak ngapa-ngapain mbaknya.”

Raga mengerutkan keningnya melihat kepanikan di wajah Mahesa.

“Iya, gue percaya. Orang kayak lo mah, mana berani macem-macem. Lurus kayak bambu pokoknya.”

“Sialan, lo! Beneran ini, gue enggak bohong.”

“Iya-iya, santai aja, Sa. Pak Rudi yang ditelepon tadi, trus katanya tuh mbak-mbak nyariin orang yang nganterin ke apartemen. Emang lo beneran nganterin dia sampai apartemennya?”

Mahesa mengangguk.

“Udah gue bilang, tinggalin aja di depan.”

“Ya, gue kasihan sama dia. Subuh gitu kan dingin, Ga.”

“Lha, kalau kayak gini? Apa lo enggak malahan kepikiran?” Raga menata satu per satu gelas ke mini bar. “Salah satu aturan di sini biar enggak kena masalah, jangan pernah ikut pelanggan pulang.”

Mahesa menghela napas, tahu akan terkena sial seperti ini, lebih baik kemarin dia menuruti ucapan Raga.

“Udah, sana siap-siap. Bentar lagi mau buka. Ntar gue temenin lo kalau tuh mbak-mbak dateng.”

“Thank’s, Ga,” ucap Mahesa, lalu menuju dapur untuk membantu keperluan pembukaan kelab.

***

Sudah hampir tengah malam, tapi Mahesa belum mendapatkan panggilan ke ruangan Pak Rudi. Sepertinya wanita yang kemarin Mahesa tolong mengurungkan niatnya. Mahesa sedikit lega mendapati pikirannya itu, tapi tidak di detik berikutnya. Saat ekor matanya menangkap sinyal dari Raga untuk mengikutinya.

“Halo, lo yang namanya Mahesa? Yang nganterin gue pulang, kan?”

Mahesa mengangguk mendengar pertanyaan Indira.

“Kalau begitu, kami keluar dulu, Mbak,” pamit Pak Rudi seraya melangkah keluar meninggalkan ruangannya. “Raga, ayo! Kamu juga keluar dari sini.”

“Tapi, Pak—”

Raga mengatupkan kembali bibirnya dan melirik sekilas Mahesa yang menatapnya nanar, tapi tidak punya pilihan lain selain mengangguk, mengiyakan permintaan Pak Rudi.

“Gue Indira.”

“Maaf, sebelumnya, Mbak. Saya bukannya bermaksud lancang, kurang ajar, dengan mengantar Mbak Indira pulang. Saya cuma—”

“Gue tahu. Gue ke sini bukan untuk urusan itu.” Indira bangkit dari duduknya, mengambil sebuah paper bag di sofa dan memberikannya pada Mahesa. “Udah di-laundry. Gue ke sini mau kembaliin jaket.”

Setitik rasa lega hadir di dada Mahesa mendengar kalimat Indira, tapi kemudian rasa lega itu kembali direnggut darinya, bersamaan dengan Indira menarik kembali paper bag dan mengatakan bahwa dirinya perlu bantuan Mahesa.

“Kalau saya bisa, pasti saya bantu, Mbak.”

“Lo pasti bisa, kok.”

“Katakan, Mbak.”

“Nikah sama gue.”

“Ya?”

“Nikah sama gue.”

“Maksudnya, Mbak?”

“Lo tahu siapa gue, kan?”

Mahesa mengangguk. “Mbak Indira?”

Indira menggeram gemas mendengar jawaban polos Mahesa. “Maksud gue, kerjaan gue. Lo tahu, kan?”

Mahesa menggeleng, membuat Indira melotot tak percaya. Indira mengambil ponsel di tasnya, lalu mengetik namanya sendiri di mesin pencari, kemudian menyodorkan ponselnya untuk Mahesa.

Mahesa membaca dengan saksama artikel di ponsel Indira. Ah, Indira ternyata seorang selebritis, lebih tepatnya model, yang sesekali menjadi kameo di film atau FTV.

“Di sini katanya Mbak Indira mau nikah. Terus kenapa malahan sekarang ngajak saya nikah? Memangnya calon suaminya Mbak, ke mana?”

Indira mengambil kembali ponselnya. Lalu duduk dengan menyilangkan kaki di sofa.

“Tunangan gue kabur.”

“Hah? Terus kenapa saya yang—Mbak kan artis, pasti media tahu—”

“Media enggak ada yang tahu siapa tunangan gue. Mereka tahunya gue mau nikah doang.”

“Kalau gitu, batalin saja, Mbak. Masih ada waktu, kan?”

“Kalau segampang itu, gue juga mau. Masalahnya, mau ditarok mana muka gue? Belum lagi bokap gue bisa kumat jantungnya.”

“Tapi kenapa saya, Mbak? Maksud saya, Mbak cantik, artis, pasti banyak yang mau gantiin posisi jadi tunangan Mbak, kan?”

“Justru saking banyaknya itu, gue jadi enggak percaya mereka beneran cinta sama gue atau enggak. Laki-laki yang dulunya bilang cinta aja, bisa ninggalin gue gitu aja, kok.”

“Maaf, Mbak. Tapi saya enggak berani.”

Mahesa tersenyum kecil, lalu berbalik hendak melangkah meninggalkan Indira saat wanita itu menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan Mahesa saat ini.

“Berapa? Lo minta berapa buat jasa lo ini? Gue bakal bayar lo dengan harga tinggi.”

Mahesa menoleh. Dia tidak munafik, Mahesa sangat membutuhkan uang untuk kesembuhan bapak saat ini, meskipun kemarin dia sudah mendapatkan gaji dimuka untuk biaya operasi bapak. Namun, jika dia menerima tawaran Indira, bukankah itu berarti dia harus membohongi banyak orang, termasuk bapak? Lalu, apa Mahesa tega menggunakan uang yang ditawarkan Indira untuk membiayai pengobatan bapak nanti? Batin Mahesa berperang.

“Gue denger, lo minta gaji dimuka buat bayar pengobatan bapak lo?”

Mahesa mengangguk.

“Gue bisa bantu biaya pengobatan itu. Sampai sembuh, bahkan bapak lo bakalan dapet fasilitas kesehatan yang lebih baik. Gimana?”

“Tapi—”

“Tentu saja selain itu, lo juga dapet duit bulanan dari gue. Lo masih boleh kerja di sini buat ngelunasi gaji dimuka lo juga. Atau lo bisa kerja di kantor papa gue?”

“Kalau misal … ini misal ya, Mbak.”

Indira mengangguk, tapi dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi dan senyum kemenangan yang sempat mampir di wajahnya. Indira mulai berhasil membujuk laki-laki di hadapannya ini.

“Katakanlah saya setuju. Lalu bagaimana dengan orang tua Mbak Indira. Meski media tidak tahu siapa tunangan Mbak, saya yakin orang tua Mbak adalah sebaliknya.”

“Lo tenang aja, tanggal nikahan masih dua minggu lagi. Selama itu, lo bisa kenalan sama keluarga gue, begitu juga sebaliknya. Kita sama-sama menyakinkan orang tua kita, kalau kita emang udah kenal lama.”

Mahesa terdiam mendengarkan tiap kata yang keluar dari bibir merah Indira. Melihat keterdiaman Mahesa, Indira semakin gemas. Sedikt takut jika bujukannya tidak berhasil. Indira sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa agar tetap menikah.

Pilihan membatalkan pernikahannya yang masih dua minggu lagi, memang sempat dia pikirkan. Namun, mengingat papa dan mama yang begitu menginginkan Indira segera berumah tangga—karena mantan tunangannya adalah tipe husband material banget—membuat Indira menyetujuinya.

Bermain kucing-kucingan dengan media selama lima tahun berpacaran dengan Adrian bukanlah hal yang menyenangkan. Papa, mama, dan Olive hanya bisa mengelus dada, melihat gaya berpacaran Indira yang lebih sering menghabiskan waktu di dalam apartemen bersama mantan tunangannya daripada pergi jalan-jalan. Bahkan Olive sampai tidak habis pikir, bagaimana Indira bisa tahan?

Dan saat rasa kasihan mereka memuncak, akhirnya mama menginginkan pernikahan Indira terjadi. Bagi Indira, dia tidak masalah untuk nanti-nanti saja menikah, toh, dia sedang meniti karirnya. Tapi tidak dengan mantan tunangannya yang langsung menyetujui usul mama. Namun, lihat kenyataannya, lelaki pengecut itu akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Indira yang kebingungan.

Mahesa dan jaketnya yang tiba-tiba muncul di hadapannya, menjadi harapan Indira untuk tidak mengecewakan papa dan mama. Setidaknya untuk beberapa tahun pernikahan yang akan Indira dan Mahesa setujui.

***

“Lo masih waras, kan?”

Olive menyambar segelas air di hadapannya, menatap tak percaya pada Indira yang malah terlihat tak acuh.

“Lo pikir nikah itu gampang? Bohongan lagi!”

“Ya gimana lagi? Gampanglah, ntar gue tinggal kenalin Mahesa ke papa sama mama. Terus ntar Mahesa juga ngenalin gue ke bapaknya.”

“Wait! Mahesa? Mahesa yang mana ini?”

Indira mencebik. “Mahesa yang kemarin lo lihat pagi-pagi di sini.”

Olive menutup wajahnya dengan sebelah telapak tangannya, menggeleng tak percaya, lalu memijat pangkal hidungnya. Dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Indira yang ingin menikahi pemuda yang baru saja dikenalnya. Bahkan pemuda itu kerja di kelab malam! Olive tidak bisa membayangkan berapa banyak konferensi pers yang harus dia jadwalkan untuk Indira, jika wanita yang kini asyik bermain ponselnya, benar-benar menjalankan rencananya.

“Gue tanya sama lo. Siapa nama lengkapnya Mahesa?”

Indira menatap Olive, lalu menggeleng.

“Rumahnya? Kerjanya selain di kelab? Keluarganya?”

Indira lagi-lagi menggeleng, sedangkan Olive langsung memijat pelipisnya.

“Bagus! Lo enggak tahu apa-apa tentang dia, tapi mau nikahin dia?”

“Siapa bilang gue enggak tahu apa-apa tentang dia?”

Kali ini Olive yang menatap penasaran pada Indira.

“Ini.” Indira mengangkat ponselnya ke depan wajah Olive. “Gue punya nomor teleponnya kok.”

“Dir—”

“Udah, lo tenang aja. Lo cukup urusin tentang gosip di media, kalau-kalau nama mantan sialan itu tiba-tiba nongol di artikel bareng gue.”

Olive menghela napas berat.

“Ayolah, Live. Kita udah berapa lama kenal sih? Bukannya lo manajer artis paling kece?”

“Dir, syuting FTV lo yang judulnya Kepentok Cinta Kang Cilok, udah kelar, kan? Ini kehidupan nyata, nikah kontrak, nikah bohongan, atau apapun itu namanya yang kemudian berakhir happy end, happily ever after, itu cuma ada di teve.”

Indira tergelak mendengar ucapan Olive. Sahabat sekaligus manajernya ini memang sangat sayang pada Indira. Bahkan Olive yang seumuran dengannya ini, menganggap Indira sebagai kakak perempuan yang tidak pernah Olive punya, begitu juga dengan Indira—karena mereka sama-sama anak tunggal. Indira tidak akan protes dengan kecemasan yang Olive tunjukkan saat ini, tidak ada yang salah.

“Memangnya apa sih yang bisa terjadi dalam sebuah pernikahan bohongan yang cuma bakal gue jalanin bareng Mahesa selama tiga tahun?”

“Hah?! Terus? Ntar setelah tiga tahun, kalian cerai?”

Indira mengangguk. “Mahesa setuju kok. Dan dia bilang, dia yang bakalan ambil peran tukang selingkuh.”

“Sinting kalian berdua!”

***

Mahesa duduk termenung menatap kosong pada helm baru di tangannya. Helm yang dibelinya khusus untuk Indira, karena Mahesa memaksa naik motor menuju rumah Indira untuk bertemu dengan orang tuanya. Bisa saja Mahesa mengikuti saran Indira, menyewa sebuah mobil agar terlihat sekelas dengan Indira. Namun, Mahesa tidak mau. Jika Mahesa tidak datang melamar sebagai dirinya sendiri, maka ke depannya akan semakin sulit dan mahal bagi Mahesa untuk menutupi kebohongannya sebagai suami Indira. Setidaknya, jika orang tua Indira tahu bahwa calon suami anaknya ini hanya bisa membonceng putrinya yang seorang selebritis dengan motor warisan bapak, Mahesa tidak akan berkecil hati jika tiba-tiba suatu waktu papa dan mama Indira mendapati putrinya sedang merayakan ulang tahun pernikahan di warung lamongan pinggir jalan.

“Hei, kenapa bengong?”

Mahesa mendongak dan mendapati Indira sudah siap berangkat, kedua tangannya menengadah meminta helm.

“Maaf ya, Mbak. Saya punyanya cuma motor.”

“Aduh, lo jangan manggil gue pake mbak dong,” protes Indira, sambil memasang pengait helm warna merah muda dengan gambar kuda poni di bagian belakangnya. “Awas kalau nanti pas di rumah malah keceplosan.”

“Maaf, Mbak, eh Indira.”

Indira mengangguk kecil, lalu segera naik ke motor Mahesa, begitu dipersilakan oleh si empunya. Mahesa menarik gas pelan, bahkan lajunya tidak lebih dari 30 km/jam. Mahesa takut, boneka porselen yang sekarang sedang memeluk pinggangnya itu ketakutan.

“Motor lo enggak bisa cepetan dikit?” teriak Indira tepat di samping telinga kiri Mahesa yang tertutup helm.

“Maaf, Indira. Motor ini kemarin baru selesai diservis, karena abis kecelakaan sama bapak. Masih dalam tahap penyembuhan.”

“Tahap penyembuhan? Emang lo pikir ini motor abis operasi?” sungut Indira.

Mahesa melirik sekilas wajah kesal Indira dari pantulan spion, tidak pernah sekalipun dia berani bermimpi akan membonceng seorang selebritis—meskipun awalnya dia tidak tahu—menuju rumahnya, untuk melamarnya pula!

“Apa lihat-lihat? Ntar naksir, lho!”

Mahesa buru-buru mengalihkan fokusnya pada jalanan di hadapannya.

“Inget ya, walaupun enggak ada hitam di atas putih, kalau lo berani macem-macem, gue tabok lo!”

Setengah jam kemudian, motor Mahesa sudah berhenti di depan pagar sebuah rumah yang tampak asri. Pekarangannya luas, di sana tumbuh banyak pohon—kebanyakan buah-buahan—lalu di sisi kirinya juga ada kolam ikan dengan air terjun mini yang suara gemericiknya menambah asri suasana.

Mahesa melangkah mengikut Indira yang mempersilakannya menunggu di ruang tamu. Mahesa memperhatikan keadaan rumah Indira. Sangat luas dengan perabotan yang Mahesa yakini harganya lebih mahal daripada rumah bapak beserta isinya, ditambah dengan kebun teh bapak yang tidak terlalu luas.

Ragu kemudian menyergap batinnya bersamaan dengan rasa bersalah yang teramat saat mengingat bapak. Kemarin Mahesa sudah memberitahu bapak tentang Indira dan niatnya untuk melamar anak gadis orang. Reaksi bapak? Tentu saja kaget, ternyata bapak lebih gaul daripada Mahesa. Bapak tahu siapa Indira, tentu saja karena selama di rumah sakit, bapak sering menonton teve. Dari sanalah bapak tahu tentang Indira.

“Bapak ngikut kamu aja. Daripada zina, kalau memang kalian sudah kenal lama dan pengen banget nikah, bapak merestuinya. Enggak nyangka, bapak bakal punya mantu artis.”

Itu yang diucapkan bapak sebagai penutupnya, setelah selama hampir dua jam menginterogasi Mahesa, bahkan curiga bahwa dirinya sudah lebih dulu menghamili Indira. Sedih hati Mahesa mengingat semua yang diucapkannya pada bapak kemarin adalah kebohongan.

Mahesa segera mengusir segala pikiran buruknya yang membuatnya kehilangan fokus, saat Indira sudah kembali ke ruang tamu bersama kedua orang tuanya. Seorang pria yang umurnya sedikit lebih tua dari bapak, berkumis, dan uban yang hampir memenuhi kepalanya tersenyum pada Mahesa.

“Apa kabar, Mahesa?”

“Baik, Om.”

Mahesa membalas senyuman papa dan mama Indira yang sudah duduk di hadapannya. Mereka terlihat ramah dan tidak heran melihat kedatangan Mahesa. Ini berarti, Indira sudah lebih dulu menceritakan tentang maksud kedatangannya kemari.

“Mahesa lagi sibuk apa sekarang?” tanya Mama Indira, sambil membantu seorang pembantu untuk meletakkan gelas di depan papa.

“Kerja, Tante. Sebenarnya kuliah sambil kerja, hanya saja saya cuti untuk semester ini.”

“Kamu masih kuliah? Belum lulus?”

Mahesa menggeleng. “Sedang skripsi, Tante.”

Sedetik kemudian setelah Mahesa selesai menjawab, dia bisa melihat sekejap tatapan tidak percaya dari mama. Lalu menoleh pada putrinya yang tersenyum.

“Mahesa ini lagi sibuk ngembangin start-up company, Ma, bareng temen-temennya. Makanya kuliahnya keteteran.”

Mahesa mendesah pelan. Indira melanggar satu perjanjian tidak tertulis mereka. Tidak ada kebohongan pada orang tua mereka, kecuali tentang pernikahan mereka.

“Di keluarga kami, menyelesaikan pendidikan itu penting.”

Mahesa mengangguk. “Tahun ini keluarga saya mengalami banyak musibah, yang mengharuskan saya untuk cuti sementara, Tante. Tapi tahun depan, kalau tidak ada halangan, saya akan menyelesaikannya.”

Mama Indira mengangguk mengerti, lalu mempersilakan Mahesa untuk menyantap kudapan dan teh hangat yang sudah tersaji.

Perkenalan Mahesa dan kedua orang tua Indira berjalan dengan baik. Meski di awal mama sempat ragu, tapi setelah melihat papa begitu senang mendapat lawan main catur yang bisa mengimbanginya, mama berubah pikiran.

“Dira, Mama tahu bukan Mahesa yang seharusnya mendampingi kamu. Ada apa ini?” tanya mama saat beliau bersama Indira menyiapkan makan siang dibantu oleh Bik Harsi.

Indira menghela napas, wajahnya menunduk menatap wortel yang sedang dikupasnya. “Enggak ada. Aku sama dia udah selesai, Ma. Lalu Mahesa datang menawarkan hatinya. Mama enggak yakin sama Mahesa?”

Mama menggeleng. “Mahesa anak yang baik. Meski belum selesai kuliahnya, tapi dia berhasil menyakinkan Mama, kalau dia enggak patah semangat di tengah musibahnya. Dia pemuda yang baik.”

Indira tersenyum.

“Bodohnya dia, mau sama kamu yang lebih tua,” kekeh Mama. “Tuh, lihat aja, ngupas wortel yang tadinya gemuk malahan tinggal selidi.”

Indira cemberut mendengar cibiran mamanya dan Bik Harsi yang tergelak.

Selepas makan siang, Mahesa kembali melaju mengantarkan Indira kembali ke apartemennya.

“Kamu kenapa bohong sama mama?” tanya Mahesa saat mereka sampai di lobi apartemen.

“Bohong gimana?” bingung Indira sambil masih berusaha melepaskan kaitan helmnya.

“Bilang kalau aku lagi bangun start-up company sama temen-temen. Kamu tahu sendiri kalau aku—”

“Ya gue terpaksa. Mama sama papa enggak akan setuju kita nikah kalau tahu lo cuti kuliah, kerja di kelab lagi. Ih! Susah banget sih ngelepasinnya!”

Mahesa menghela napas. Dalam hati menyetujui ucapan Indira. Di dunia ini, orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Terlebih lagi, Indira yang anak perempuan tunggal dan sudah terbiasa hidup enak. Mana mungkin orang tuanya akan menyerahkan Indira begitu saja pada Mahesa kalau tahu dirinya bekerja di kelab.

“Sini,” ujar Mahesa sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Indira melepas helmnya. Lalu sempat merapikan sedikit rambut Indira yang berantakan dan menyerahkan helmnya pada Indira. “Bawa aja.”

“Ya udah, ati-ati di jalan.”

Mahesa mengangguk, lalu mulai menghidupkan kembali mesin motornya.

“Besok jam berapa kamu jemput?”

“Kayak tadi, dan tolong besok kalau ketemu bapak jangan bohong pada beliau.”

Indira tergelak keras sekali mendengar permintaan Mahesa. “Lo ini lucu banget! Kita pura-pura pacaran, terus nikah, itu aja udah bohongin bapak lo.”

“Setidaknya jangan nambah kebohongan. Aku enggak mau saat ini berakhir nanti, bapak kecewa terlalu dalam sama aku.”

“Enggak. Bapak lo enggak akan kecewa, beliau pasti ngerti, lo ngelakuin ini semua juga demi kesehatan beliau, kan?”

“Ya udah, aku balik dulu.”

Mahesa mengangguk sebelum akhirnya menarik tuas gas di tangan kanannya dan mulai melaju menjauh meninggalkan Indira yang tersenyum lega.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED