"Yak…. Oke…. Tahan…. One. Two. Three," ucap Andreas sambil mengintip dari balik lensa kameranya. Cekrek! Sebuah gambar hot pun langsung terbentuk di dalam kamera Digital SLR canggih itu.
Bayangkan saja. Aruna, sang Model tengah memakai kostum ala Sailor Moon yang sangat pendek dan hampir membuat gunung kembarnya yang masih terlihat kenyal dan ranum itu meloncat dari bra yang berukuran satu tingkat dibawah ukuran biasanya ia pakai. Belum lagi posenya yang semakin menggairahkan. Pantas saja jika para lelaki hidung belang langsung terangsang tiap kali memandangi foto tekuk tubuhnya yang aduhai.
"Nice!" ucapnya lagi sambil memandangi foto-foto yang berhasil dijepretnya tadi. "Oke. Kita sudahi dulu sampai disini! Udah larut malam juga. Kita bisa lanjutin lagi besok," titahnya pada semua kru yang ada di ruangan itu.
"Oke," balas mereka sambil sibuk merapikan tugasnya masing-masing. Begitu pun dengan Aruna yang langsung berjalan ke arah ruang ganti. Namun, belum sempat ia keluar dari ruangan itu Andreas kembali menahannya.
"Aruna," panggil Andreas yang seketika mengurungkan niat Aruna untuk membuka pintu. Gadis cantik nan sexi itu pun segera menoleh.
"Iya. Kenapa Mas?" tanya Aruna sambil menatap lelaki tampan itu berlari kecil mendekat.
"Nggak papa sih. Cuma... gue pengen nganterin loe pulang. Loe mau, kan?" Aruna pun tersenyum manis mendengar ucapan sang fotografer sekaligus pemilik perusahaan majalah dewasa tempatnya bekerja.
"Tapi kan gue bawa mobil sendiri?" balas Aruna sambil tersenyum malu-malu. Sebenarnya sejak awal kali bertemu. Aruna sudah memendam perasaan lebih pada lelaki itu.
"Haha. Tinggal saja disini. Besok biar gue yang jemput elo lagi? Mau ya?"
"Oke deh. Kalau gitu gue ganti baju dulu ya."
"Oke. Gue tunggu sini. Jangan lama-lama ya."
"Siap, Bos," balas Aruna sambil memberikan hormat. Wanita cantik nan bahenol itu pun berjalan ke arah ruang ganti. Tanpa ia sadari Andreas kembali mengambil gambarnya yang sedang berjalan menjauh.
"Hanya berjalan saja dia terlihat sexi," gumamnya sambil melihat hasil jepretannya tadi.
*********
Kehidupan mewah kini selalu membayangi Aruna Jezima. Semenjak wanita berkelahiran dua belas April tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh lima itu menjadi model di majalah 'Amazing Adult'. Dunia seakan selalu berpihak kepadanya. Mulai dari bayarannya yang tidak tanggung-tanggung, barang-barang branded, mobil mewah dan apartemen kelas atas pun sudah berada di dalam genggamannya. Bahkan, tak sekali dua kali Andreas memberinya hadiah berupa perhiasan berharga selangit dengan alasan sudah meningkatkan penjualan di perusahaan tempatnya bekerja.
Whatever lah, itu benar atau hanya alibi karena sebenarnya Andreas sudah jatuh hati padanya. Namun, yang jelas Aruna hanya bisa menikmatinya saja.
'Pantesan semua lelaki suka sama elo, Aruna. Loe sangat mengagumkan,' batinya sambil mengamati refleksi dirinya di dalam cermin datar yang berada di dalam genggamannya. Lalu ia pun menautkan kedua bibirnya agar lipstick merah maroon yang baru saja dioleskan ke atas permukaan bibirnya bisa menempel dengan rata.
"Wah. Warna itu cocok di bibir loe. Pas sama warna kulit wajahnya loe yang putih bersih," ujar Denada. Rekan seprofesi Aruna. Meskipun nasibnya tak sebaik Aruna tentunya.
Aruna pun tak langsung menjawab. Ia malah kembali mengamati bayangannya yang semakin mempesona.
"Oke deh. Gue ambil yang ini. Loe pilih aja mau ambil yang mana. Ntar gue yang bayar," balasnya pada teman yang sudah memasukkannya ke dalam dunia modeling plus plus itu.
"Loe emang temen gue. Gue ambil ini semua ya?" sahut Denada sambil meraup beberapa jenis alat make-up yang sudah dipilihnya sejak tadi.
"Iya. Kayak nggak sering aja deh loe. Yuk, ke kasir!"
Mereka berdua pun segera berjalan ke arah kasir untuk membayar semua barang yang akan mereka berdua beli. Setelah itu mereka pun melanjutkan acara shopping mereka.
"Eh, itu distro baru. Yuk, cepetan kita kesana!" ajak Denada dengan penuh semangat. Sambil menarik tangan Aruna agar mengikuti langkahnya.
"Oh, iya bener. Ayo kita kesana." Aruna tak kalah antusias.
Mereka berdua pun bergegas masuk ke dalam salah satu distro yang menyediakan baju bermerek itu. Walau berdesakan mereka berdua tetap saja keukeuh untuk masuk ke dalam. Maklum, masih buka diskon. Jadi, banyak orang yang datang untuk berbelanja atau sekedar cek harga saja.
"Permisi. Permisi. Permisi," ujar Aruna dan Denada sambil menyeruak orang-orang yang menghalangi jalan mereka berdua. Walau terlihat jengkel, tapi tetap saja mereka memberikan jalan untuk kedua cewek cantik itu.
Tak butuh waktu lama Aruna dan Denada pun sudah tenggelam di antara ribuan gantungan gaun-gaun modis nan seksi. Cocok sekali untuk menunjang penampilan mereka yang harus selalu tampil cantik dan menarik. Saat mereka sibuk memilih tak terasa mereka berdua pun berjalan kian berjauhan.
Hingga di ujung gantungan dress yang berisi ibu-ibu. Tiba-tiba seseorang ada yang berani meremas bokong Aruna dari belakang. Tentu saja, wanita asli keturunan Jawa-Belgia itu langsung menoleh. Mencari tau siapa gerangan yang sudah melecehkan martabatnya sebagai kaum hawa seperti ini. Namun, ia tak menemukan siapa-siapa kecuali para ibu-ibu yang masih sibuk memilih baju sesuai selera mereka. 'Mungkin ada yang tidak sengaja menyenggol bokong gue,' batin Aruna lalu ia kembali memusatkan perhatian pada baju-baju di depannya.
Dengan telaten ia pun membuka satu persatu gantungan yang berada di depannya. Sampai ketika pandangannya fokus menatap baju-baju di depannya. Kejadian tak mengenakkan itu kembali terulang. Seketika Aruna pun membalikkan badannya. 'Kalau cuma sekali. Mungkin ini bisa disebut tak sengaja. Tapi, kalau sudah dua kali. Kayaknya gue harus waspada,' ujarnya dalam hati sambil menatap curiga satu per satu wanita yang ada di sekitarnya. Dan sesaat kemudian seseorang memeluk pinggangnya tanpa permisi.
"Eh, elo breng…." Aruna pun membatalkan makiannya. Saat menyadari siapa orang yang sudah memeluknya itu.
"Kenapa sih loe? Kok malah teriak gitu?" tanya Denada bingung dengan sikap temannya itu. Orang-orang di sekitar pun kembali melanjutkan aktivitasnya setelah kaget dan menatap ke arah Aruna sejenak.
"Ye…. Elo tuh yang kenapa? Kenapa suka banget bikin gue kaget," balas Aruna sambil menoel hidung mancung Denada. Walau tetap saja tak semancung dirinya.
"Hehe. Sorry deh. Gimana? Loe udah pilih baju berapa? Mumpung ruang coba lagi sepi. Kita cobain yuk!" ajak Denada.
"Ayuk!" balas Aruna kemudian. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menceritakan kejadian tadi pada sahabatnya itu.
Lalu keduanya segera berjalan ke arah ruang coba. Karena di tempat itu memang sedang terlihat sepi. Kedua cewek itu pun bisa masuk ke dalam ruang yang hanya ditutupi kelambu dan letaknya yang berjejeran.
Aruna menggantung baju-baju yang akan dicobanya ke tempat yang sudah disediakan. Kemudian ia pun membuka jaket jeansnya lalu selanjutnya ia memegang ujung tanktop yang melekat erat di tubuh indahnya untuk segera dilepaskan. Baru saja ujung itu sampai di atas gundukan kenyal di tubuh bagian depannya. Tak sengaja dari cermin besar di depannya. Ia menatap gerakan kelambu yang terlihat seperti ada yang menyenggolnya dari luar.
"Siapa ya?" gumamnya mengira-ira. Aruna pun langsung menghentikan gerakannya. Ia ksegera mengembalikan posisi tanktop berwarna hitam itu seperti semula.
Kemudian dengan jantung yang berdebar kencang. Ia berjalan pelan-pelan, nyaris tak bersuara ke arah kelambu itu. Dug. Dug. Dug. Jantungnya pun terasa ingin meloncat saat kedua tangannya dengan hati-hati menggenggam kelambu itu. 'Satu…. Dua….' Dia pun menghitung dalam hati. 'Tiga.'
Aruna menggantung baju-baju yang akan dicobanya ke tempat yang sudah disediakan. Kemudian ia pun membuka jaket jeansnya lalu selanjutnya ia memegang ujung tanktop yang melekat erat di tubuh indahnya untuk segera dilepaskan. Baru saja ujung itu sampai di atas gundukan kenyal di tubuh bagian depannya. Terlihat sebuah kejanggalan dari cermin besar di depannya. Ia menatap gerakan kelambu yang terlihat seperti ada yang menyenggolnya dari luar.
"Siapa ya?" gumamnya mengira-ira. Aruna pun langsung menghentikan gerakannya. Ia mengembalikan posisi tanktop berwarna hitam itu seperti semula.
Kemudian dengan jantung yang berdebar kencang. Ia berjalan pelan-pelan, nyaris tak bersuara ke arah kelambu itu. Dug. Dug. Dug. Jantungnya pun terasa ingin meloncat saat kedua tangannya dengan hati-hati menggenggam kelambu itu. 'Satu…. Dua….' Dia pun menghitung dalam hati. 'Tiga.' Hingga akhirnya….
Srek! Kelambu pun ia buka dan menampakkan sosok Denada ada di depannya.
"Yah, elo. Gue kira siapa?" ucap Aruna sambil bernafas lega.
"Emang loe pikir siapa?" tanya Denada balik dengan kening berkerut sempurna.
"Nggak. Enggak. Ya, udah yuk, ah! Kita pulang saja!" ajak Aruna tiba-tiba. Sambil meraih baju-baju yang tadi sempat ia gantung di ruang coba itu lalu mengembalikannya di gantungan yang dilewatinya.
"Eh. Eh. Eh. Tunggu gue!" balas Denada setengah berteriak. Sambil melakukan hal yang sama dengan baju-baju yang belum sempat dicobanya itu.
Dengan langkah tegap Aruna bergegas keluar dari pusat perbelanjaan itu. Ia tak lagi memperdulikan sahabatnya yang sedari tadi mengejarnya sambil mengomel tak jelas.
"Aruna, tunggu. Runa tunggu. Loe kenapa sih aneh banget deh," ujar Denada yang sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Aruna.
Wanita yang tingginya seratus tujuh puluh enam sentimeter tersebut terus menggerakkan kaki jenjangnya ke depan. Rok span jeans yang hanya sepanjang jengkal orang dewasa itu pun tak mampu menutupi gerakan paha mulus Aruna yang bergoyang kesana-kemari. Belum lagi tanktop hitam yang ia pakai memiliki belahan dada yang cukup lebar. Sehingga mau tak mau sepasang daging kenyal Aruna yang masih ranum itu terlihat menari-nari dari sela-selanya. Walaupun, Aruna sudah menutupi tanktop itu dengan jaket jeans belel yang sedang jadi trend fashion saat itu.
Di sepanjang Aruna berjalan, puluhan pasang mata memperhatikannya. Mulai dari tatapan sinis para cewek yang iri, sampai mata jelalatan cowok-cowok mata keranjang yang tak mampu berkedip melihat kemulusan tubuh Aruna yang menggetarkan jiwa lelaki mereka. Aruna pun merasa risih juga dengan hal tersebut. Makanya ia melebarkan langkah agar cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Hingga beberapa menit kemudian….
Bruk!
Aruna tak sengaja menabrak seseorang yang kebetulan tengah melintas di depannya. Sehingga semua barang belanjaannya pun berserakan.
"Sorry. Sorry. Sorry," ucap Aruna berulang sambil membenarkan letak kacamata hitamnya yang sedikit merosot. Ia pun segera berjongkok untuk membantu lelaki itu memunguti barang-barangnya.
"Iya, nggak papa. Lain kali hati-hati ya kalau…. Astaghfirullah hal 'adzim." Si lelaki pun langsung beristighfar saat tak sengaja melihat paha Aruna yang berjongkok di depannya.
"Kenapa? Gue ngelakuin kesalahan?" tanya Aruna bingung. Lelaki itu pun tak langsung menjawab. Ia segera beranjak. Lalu merogoh salah satu paper bag yang ada di tangannya.
"Pakai ini untuk menutupi auratmu!" ujar ai lelaki sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Aruna. Aruna pun kaget dengan tindakan si lelaki, tapi ia segera menggapai benda yang terlihat seperti kain itu. "Saya permisi. Assalamualaikum," lanjutnya kemudian pergi. Meninggalkan Aruna yang masih terdiam di tempatnya sambil memandangi bungkusan di tangannya.
"Woi!" kata Denada sambil menepuk pundak Aruna. Jelas saja Aruna langsung terlonjak kaget.
"Ih. Apaan sih loe? Ngagetin gue aja deh kerjaannya," protes Aruna mengomel.
"Hehe. Lagian elo gue panggil-panggil dari tadi juga. Nggak nyaut-nyaut. Oh, ya. Yang tadi siapa? Fans elo ya? Boleh liat nggak dia kasih apaan?" cerocos Denada sambil menaikkan sebelah alisnya. Aruna pun menoleh ke arah teman akrabnya itu.
"Wuuu. Dasar tukang kepo!" balas Aruna sambil memukul Denada dengan benda itu. "Udah, yuk! Pulang!" Aruna pun merangkul pundak Denada lalu menyeretnya pergi dari tempat itu.
"Eh. Eh. Tapi elo belum jawab pertanyaan gue tadi."
"Udah. Kapan-kapan gue ceritain sama elo."
****
Di sebuah ruangan berukuran lima kali delapan meter. Andreas menatap gambar-gambar sexy Aruna dengan gaya yang semakin menggairahkan. Senyumnya pun mengembang mengingat tingkat penjualan tabloid berisi semua informasi tentang dunia orang dewasa itu semakin melejit akhir-akhir ini.
'Nggak salah juga gue ngorbitin Aruna jadi top model Amazing Adult. Heh. Ternyata dia bisa meningkatkan penjualan melebihi ekspektasi gue,' ujar Andreas dalam hati.
Tok. Tok. Tok. Tiba-tiba pintu ruangannya pun diketuk dari luar. Perhatian Andreas pun segera berpindah. Ia sudah bisa menebak siapa gerangan yang sudah berani mengusik ketentraman ruang kerjanya itu. Segera majalah yang sedari tadi dipegangnya ia lempar ke atas meja.
"Masuk!" ucapnya sambil membenarkan posisi duduknya.
Cekrek! Bunyi decitan pintu ruang kerja Andreas yang dibuka dengan pelan-pelan.
"Selamat siang, Mas Andreas. Ehms…. Mas Andreas manggil gue?" kata Aruna dengan malu-malu. Sebenarnya ia memang memiliki perasaan lebih pada atasannya itu. Apalagi setelah semua perhatian yang Andreas berikan. Aruna benar-benar klepek-klepek rasanya. Namun, tentunya ia tak berani bertingkah lebih. Sebab, dia sadar diri jika umur karirnya di tempat ini masih seumur jagung.
"Oh, iya Aruna. Silahkan masuk!" Aruna pun langsung menuruti titah sang fotografer ganteng itu. "Silahkan duduk!" lanjut Andreas saat Aruna sudah berada di depannya.
"Terima kasih," sahut Aruna lirih. Sambil menurunkan tubuhnya hingga menyentuh kursi di belakangnya.
"Jadi, begini. Besok malam gue mau mengadakan acara spesial di hotel Bintang."
"Oh, iya. Gue juga sudah dengar kalau Mas Andreas sekarang ulang tahun ke tiga puluh sembilan ya. Selamat ya Mas," sela Aruna sambil mengulurkan tangannya pada Andreas. Lelaki berlesung pipit itu pun tersenyum manis.
"Iya, terima kasih," timpalnya sambil membalas uluran tangan halus Aruna. "Untuk sebab itu…. Gue sudah mengundang semua rekan kerja gue semua.... Kecuali kamu," lanjut Andreas yang membuat Aruna langsung menundukkan kepalanya. Menutupi senyum kecutnya yang tak ingin dilihat oleh Andreas.
"Iy… iya. Gue pun merasa heran karena itu. Gue pikir Mas Andreas sudah lupa sama gue," ujar Aruna. Lalu ia menggigit bibir bawah. Andreas pun kembali tersenyum.
"Iya. Gue memang sengaja nggak mengundang elo," kata Andreas mantap. Aruna pun langsung mengangkat kepalanya. Tak percaya dengan apa yang barusan didengar telinganya.
"Tapi kenapa, Mas? Apa gue melakukan kesalahan?" tanya Aruna cepat.
"Nggak. Nggak. Nggak dong. Bukan karena itu. Tapi, karena…. Kedatangan loe adalah hadiah buat gue. Jadi, mana mungkin gue undang hadiah gue ke acara ulang tahun gue sendiri. Siapa tau dia nggak mau dateng lagi," jawab Andreas yang langsung membuat Aruna tersipu malu. Aruna pun kembali menundukkan kepalanya dengan malu-malu. Menyembunyikan pipinya yang kini merona. "Jadi? Gimana? Loe mau dateng?" tanya Andreas pelan. Aruna pun langsung mengangguk dengan cepat. Tanda setuju.
Malam yang dinantikan Aruna pun datang juga. Dengan perasaan yang bahagia, ia pun memandangi refleksi bayangan yang terbentuk di cermin datar yang ada di depannya. Sesekali ia menautkan bibirnya atas dan bawah. Agar lipstik merah yang baru saja dioleskan ke permukaan bibirnya itu bisa menempel dengan rata. Lagi-lagi ia pun tersenyum setelah melihat gambarnya yang terlihat sempurna. Ketika Aruna tengah asyik mematut diri di depan meja riasnya, seseorang tiba-tiba memencet bel pintu Apartemen mewah itu.
Ting. Tong.
Bunyi pintu Apartemen Aruna yang berhasil merebut perhatian pemiliknya. Aruna pun meletakkan lipstick yang ada di tangannya, lalu ia segera berlari mendekati pintu ruangan mewah itu. Tanpa membuang waktu lebih lama, Aruna segera membuka pintu itu. Sehingga menampakkan sosok Denada lengkap dengan wajah tengil.
"Eh, elo. Gue kirain siapa?" ujar Aruna terdengar sedikit kecewa.
"Emang loe mikirnya siapa?" tanya Denada balik sambil berusaha menahan senyumnya. Alisnya pun ia naik-naikkan sebelah. Seakan bisa membaca apa yang sempat dipikirkan Aruna tadi.
"Ih, apaan sih. Udah ayo masuk!" ajak Aruna sambil menarik tangan sahabatnya itu, agar segera masuk ke dalam Apartemen pribadinya. Dengan senang hati Denada pun segera melakukan apa yang diinginkan teman karibnya itu. Sampai di dalam Denada segera meletakkan tas dan paper bag yang dibawanya ke atas sofa yang ada di ruang tamu Apartemen.
"Eh, tunggu. Kok loe pakai baju kayak gini sih?" ujar Denada sambil memperhatikan penampilan Aruna yang sebenarnya sudah terlihat cantik dengan dress biru langit selutut dan belahan dada yang sangat turun. Hingga menampakkan sebagian gunung kembarnya yang masih terlihat padat berisi.
"Emang, apa salahnya dengan dress gue? Gue pikir bagus kok? Gue suka?"
"Emang loe nggak baca dress code yang ada di kartu undangan?"
"Yah, gimana? Gue kan nggak dapet undangan kayak kalian," balas Aruna sambil cemberut. Denada pun tersenyum. Lalu ia mendekati Aruna.
Puk. Puk. Puk. Denada pun menepuk-nepuk pundak Aruna beberapa kali.
"Aduh kasihan. Jangan nangis ya? Gue punya sesuatu untuk elo," kata Denada. Seakan ingin memberinya semangat. Namun, ucapan Denada yang terakhir tadi membuat Aruna langsung melepaskan pelukan sang teman akrab..
"Loe mau kasih gue apa?" tanya Aruna cepat. Denada pun tak menjawab, tapi senyum dan sorot matanya membuat Aruna langsung mengerutkan kening. Bingung.
"Sini ikut gue." Denada pun menarik tangan Aruna. Sampai di sofa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Denada langsung meraih paper bag yang tadi ia bawa. "Nih, buat elo." Denada pun menyerahkan benda itu ke hadapan Aruna.
"Ini apaan?" tanya Aruna bingung. Sambil menggapai paper bag itu dari tangan Denada.
"Buka aja sendiri. Loe pasti suka," balas Denada sok misterius. Karena memang rasa penasaran Aruna sudah memuncak. Ia segera membuka paper bag itu.
"Hah?! Ini apaan?" pekik Aruna sambil mengangkat kain yang ada di dalam bungkusan dari kertas itu.
Denada pun tak menjawab. Ia hanya berdiri lalu membuka cardigan lengan panjang yang menempel di badannya. Saat cardigan itu melorot ke lantai raut wajah Aruna pun langsung terkejut. Lihat saja matanya yang hendak meloncat keluar serta bibirnya yang menganga lebar.
"Nggak. Enggak. Maksud loe dress codenya itu lingerie?" ucap Aruna dengan nada setengah tidak percaya.
"I… yup. Kenapa sih? Kok tegang gitu? Kan udah biasa juga. Tubuh sexi loe ditonton banyak orang. Iya, kan?"
"Iy… iya juga sih. Cuma…." Aruna pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sedang ekspresi wajahnya benar-benar tak enak dilihat. Sungguh, mungkin jika di dalam ruangan pemotretan ia sudah mulai merasa terbiasa untuk mempertontonkan kemolekan badannya, tapi kalau di depan umum. Kayaknya entar dulu deh. 'Lagian tamu undangan ulang tahun Andreas pasti banyak deh. Aduh, gue kok jadi gugup gini ya,' ucap Aruna dalam hati.
"Udah. Nggak usah banyak mikir. Ini lingerie hadiah dari Andreas lho. Dia ingin loe pakai ini kesana," kata Denada yang langsung membuyarkan lamunan Aruna.
"Tap…. Tapi, Den…."
"Udah. Udah. Sana pakai. Santai saja. Semua orang yang dateng juga pakai pakaian kayak gini kok. Jadi loe nggak sendirian. Oke?"
"Oke deh," balas Aruna dengan nada yang tak bersemangat.
"Nah gitu dong."
****
Di Rooftop hotel Bintang, perayaan ulang tahun Andreas digelar dengan megah, walaupun perayaan itu dirayakan dengan cukup tertutup. Maklumlah, jika semua orang tahu bagaimana para tamu undangan yang datang. Ternyata tak hanya terlihat cantik tapi juga sangat seksi dan menggoda iman. Tentu akan menimbulkan masalah tersendiri nantinya. Makanya, Andreas niat banget membooking seluruh lantai dua belas itu demi kelancaran acaranya malam itu.
Ia pun memesan berbagai jenis wine dengan harga selangit sebagai salah satu jamuan yang sudah disediakan. Di samping berbagai hidangan lezat dengan bandrol tak kalah mahal. Seperti salad, cheeseburger, chocolate cake dan masih banyak lagi.
Di antara sinar lampu taman yang berjajar menghiasi sekeliling kolam renang. Andreas berdiri di samping salah satu meja yang berisi berbagai jenis makanan. Ia pun terlihat asyik mengobrol dengan salah satu klien bisnisnya. Sedang seorang waitress cantik berdandan ala pelayan nakal dengan baju yang sangat ketat dan minim. Terlihat wara-wiri sambil membawa nampan di tangannya. Tanpa segan ia pun mendatangi satu per satu tamu yang sudah datang. Lalu menuang wine yang ada di atas nampan itu ke gelas mereka.
"Mau tambah minumannya, Bos?" tanya si waitress dengan nada yang dibuat genit.
"Boleh," balas Andreas sambil menyodorkan gelas yang sudah kosong di tangannya. Si waitress pun langsung mengangkat botol wine jenis Cabernet Sauvignon. Kemudian menuangnya ke dalam gelas.
"Tuan, mau tambah juga?" tanya si waitress pada lawan ngobrol Andreas.
"Terima kasih. Nanti saya panggil kamu jika saya butuh," balas lelaki setengah baya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah masuk kepala lima itu.
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu," kata si waitress kemudian berlalu. Lelaki paruh baya itu pun terus memandangi langkah si cewek waitress yang semakin menjauh. Matanya tak berkedip menatap paha mulus wanita itu yang bergerak kesana-kemari seakan melambai-lambai minta dibelai.
Andreas pun tersenyum licik melihat lelaki mata keranjang di depannya. Ia tahu betul apa yang sedang ia pikirkan otak mesum yang selalu gila wanita cantik nan bahenol itu.
"Gimana Om? Jadikan investasi di Amazing Adult?" tanya Andreas yang langsung membuyarkan bayangan nakal lelaki itu.
"Oh…. Iya. Iya. Ehms…. Tapi saya masih penasaran dengan wanita yang kamu bilang tadi malam. Apa dia sudah datang?" tanya lelaki yang dipanggil Om oleh Andreas itu cepat-cepat.
"Sebentar lagi dia juga datang," balas Andreas sambil tersenyum penuh kemenangan. Dan setelah menyelesaikan perkataannya. Tak sengaja mata Andreas menangkap sosok wanita yang sedari tadi ditunggunya. "Nah, Om. Itu dia datang," ucap Andreas sambil menggerakkan dagunya untuk menunjuk ke belakang lelaki yang tiga puluh tahun lebih tua darinya itu. Jelas saja lelaki itu segera membalikkan badannya dengan cepat. Dan ketika kedua matanya memandang sosok wanita yang baru saja keluar dari lift matanya pun langsung melotot sempurna.
"Wow. Legit banget!"