2 hari sebelum berangkat;
Afifa mempunyai tubuh lurus dan ideal. Dia tinggal di Jawa Tengah, di kota Solo. Dia seorang karyawan di sebuah perusahaan fashion, sebagai Leader jabatannya saat itu. Dia orang yang disiplin dan pendiam. Karena kepribadian Afifa selain cantik, tapi juga solehah dan sederhana, banyak pria yang mendekatinya, tapi dia memilih untuk berteman karena masih ingin sendiri. Mengingat kerja keras orang tuanya untuk membiayai dia kuliah dan masih memikirkan karir untuk masa depan. Pekerjaan orang tuanya, bapak Afifa bekerja sebagai petani dan ibunya, penjahit dan pedagang. Terkadang bapaknya mengantikan ibunya berdagang di pasar. Dia mempunyai adik bernama Alvian masih sekolah di Pondok Pesantren dan SMA sekaligus, kelas 2 waktu itu.
Di PT tempat Afifa bekerja, cuma 5 hari kerja, saat itu tanggal merah di hari Jum'at.
"Yay, sebentar lagi, 2 hari libur. Kenapa teman-teman sepi, biasanya mengajak berkemah?" Pikiran Afifa karena merasakan jenuh. Dia setiap hari berangkat pagi pulang sore bahkan malam kalau lembur, hari liburlah untuk mencari udara segar, dan untuk refreshing.
Malam kamis Afifa bermimpi. Saat itu mimpi yang sangat aneh. Dia bermimpi bertemu pria asing, tidak jelas wajahnya, di sebuah desa yang asing baginya, dan dia digigit ular.
"Astaghfirullah," ucap kaget Afifa saat bangun.
"Kenapa aku bermimpi digigit ular dan tempat apa itu, dari seluruh saat aku berkemah tidak ada tempat seperti itu?" gumam Afifa dalam hati.
Dia bangun pagi hari biasa jam 03.00. Dia melakukan aktifitas seperti biasa, beres-beres rumah, dan lainnya sebelum bekerja. Setelah selesai, dia pun berangkat kerja. Dia masih teringat dengan mimpi anehnya dan mengatakan tentang mimpinya kepada Benesh. Karena dia teman seperjuangan saat kuliah dan bekerja, juga teman masa kecilnya. Waktu SMP dan SMA mereka berdua beda sekolah, tapi tidak menjadikan mereka jauh, tetap saja masih saling berkomunikasi, dan bersama. mereka semakin seperti saudara saat menginjak di bangku kuliah. Benesh bertubuh tinggi, berkulit kuning langsat, berbadan seperti berlian, menasehatinya bahwa mimpi adalah bunga tidur dan menyuruhnya jangan terlalu dipikirkan. Benesh terkenal ceroboh, kocak, bijaksana, dan berpikir logis.
Afifa masih memikirkan mimpi tersebut. Karena kata orang jaman dulu mimpi tersebut mempunyai arti dia bertemu dengan jodoh, dekat dengan jodohnya, atau bahkan menikah. Karena Afifa tinggal di sebuah desa yang masih banyak orang yang berpikiran kuno, meski dia sudah lulus kuliah, tapi dia masih sedikit percaya dengan pemikiran tersebut.
"Ah, mungkin benar kata Benesh. Aku tidak seharusnya memikirkan yang belum pasti," kata Afifa untuk menghibur diri sendiri.
Udara dingin di malam hari membuat Afifa, gadis berwajah oval, bermata sipit, berkulit putih, bertubuh tinggi itu tertidur. Suara getar handpone mengusik telinganya.
"Malam-malam siapa yang call?"
kesal Afifa yang hampir terlelap tidur.
"Oh, Andrian, pria berwajah bulat, bermata bulat, bentuk tubuh seperti buah pir. Kenapa malam begini kamu call?" tanya Afifa dengan suara lirih."
"Afifa, besok kami mengadakan kemah ke Pulau Sempu (Segara Anakan). Kamu ikut, kan?" jawab Andrian pria berkulit sawo matang dan bertubuh tinggi.
Mata Afifa terus melebar dan bergegas duduk.
"Daerah mana Pulau Sempu tersebut dan bersama siapa saja?" tanya Afifa.
"Bersama Ivar, dia pria betubuh sedang, berwajah persegi, bermata kecil, bibir lebar, Eben berwajah segitiga mempunyai mata cekung, bibir bulat, dan Benesh bermata belo berwajah diamond mempunyai bibir seperti busur cupid. Di Malang selatan, Jawa Timur," jawab Andrian.
Karena Benesh teman yang selalu berada disisi Afifa. Dia menjadi akrab dengan teman-teman Afifa.
"Oke Andrian, tepatnya jam berapa aku harus bersiap-siap?" tanyanya
"jam 7 pagi," jawab Andrian.
Afifa langsung meneliti wilayah tersebut lewat media sosial. Karena wilayah tersebut masih terdengar asing baginya. Dia pun juga semakin penasaran dengan tempat tersebut, karena sepertinya sangat menantang, dan bagus untuk berpetualang.
Mereka Andrian, Ivar, dan Eben adalah teman SMA. Keculi Benesh teman kuliah Afifa dan rumahnya tidak jauh dari rumah Afifa.
Afifa sering berkemah bersama Benesh dan teman kuliahan, selain untuk reoni juga menyambung silaturrahmi. Tidak terpikirkan oleh Afifa, kenapa Andrian mengajaknya, dan memilih tempat tersebut.
Sumilir angin dan mentari pagi yang menghangatkan tubuh. Afifa membawa barang berkemah dan pamit sama orang tuanya. Rasheed bapaknya, dia pria berwajah kotak dan bermata sipit, bibir tipis, bertubuh tinggi dan bentuk tubuh seperti mentimun dan Fahama ibunya, berkulit putih, berwajah oval, bermata bulat dan sedikit gemuk dengan bentuk badan seperti buah tomat. Mereka dengan berat hati mngizinkan putrinya. Baru pertama kali orang tua Afifa menasehati Afifa, agar tidak berkemah di Pulau Sempu tersebut. Karena belum jadi wisata, masih asing bagi mereka juga, dan rumor banyak orang hilang disana. Tapi Afifa yang keras kepala saat itu dan terus membujuk orang tuanya, mereka pun menyetujui keinginan Afifa.
"Kenapa Afifa yang tadinya penurut sekarang keras kepala, ya Pak?" tanya Fahama, ibunya Afifa kepada suaminya. Mungkin ibunya punya firasat yang tidak seperti biasa terhadap Afifa.
"Anak kita sudah dewasa, Bu? Biarkan saja, meski kita melarang, dia tetap akan pergi. Mungkin karena dia sudah terlanjur janji sama teman-temannya. Berdoa saja, tidak akan terjadi apa-apa terhadap putri kita, Bu?" jawab Bapak Afifa.
"Tapi, ibu memiliki perasaan tidak enak, seperti gelisah tetang putri kita yang akan berkemah disana, Pak?"
"Ah, mungkin cuma firasat ibu saja? Toh, anak kita juga sudah berangkat kan, Bu? Kamu melarang juga dia bersikeras. Sudah jangan memikirkan hal yang buruk tentang anak kita. Dia akan mampu melindungi dirinya sendiri, jika dalam bahaya."
Bapak Afifa menenangkan istrinya dan agar tidak berpikir lebih. Dan mendoakan Afifa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Bapak Afifa seorang Indigo dan juga memiliki perasaan tidak enak tentang Afifa. Tapi karena rasa kasih sayang yang membuat bapak Afifa berpikir yang penting anaknya bahagia.
Setelah itu orang tua Afifa menyibukkan diri melakukan aktifitas keseharian seperti biasa. Bapak Afifa membawa cangkul untuk ke sawah dan ibu Afifa pergi ke pasar untuk berjualan. Ibu Afifa menanyakan tentang Pulau Sempu tersebut kepada teman yang sedang berjualan di kios sebelahnya.
"Bu Ani, kamu tahu tentang Pulau Sempu?"
"Dimana itu, Bu Fahama? Aku baru tahu namanya pun sekarang?"
"Oh, kirain tahu. Ya sudah, aku cuma penasaran tentang wilayah itu. Soalnya puteriku sedang berkemah disana."
"Ibu tenang saja, kita kurang paham pemikiran anak-anak. Pengetahuan anak sekarang berbeda dengan kita. Melihat kekhawatiran kamu, aku sebagai orang tua bisa merasakan, tapi biarlah anak-anak yang memilih jalan sendiri, yang penting untuk kebaikannya."
Mendengar perkataan teman berdagangnya, Ibu Afifa melanjutkan jualan. Meski orang tua Afifa hidup sederhana, tapi mereka tergolong keluarga harmonis.
Dengan bibir tipis berwarna merah seperti buah berry, Afifa tersenyum. Dia keluar dari rumahnya dan membawa barang-barang keperluannya. Disusul Andrian dengan menawarkan agar dia yang membawa barang-barang Afifa, Afifa menyetujui Andrian. Mereka beranjak naik mobil dan berangkatlah mereka.
Andrian yang menyetir mobil miliknya saat itu, sebelahnya Eben, dan belakang Afifa. Benesh dan Ivar berada paling belakang sendiri, dalam perjalanan mereka berempat bersukaria saling menanyakan kabar dan pengalamannya, karena sudah lama tidak bertemu, kecuali Afifa.
"Kamu kenapa, Afifa?" tanya Andrian yang melihat Afifa terdiam dari kaca spion tengah dalam mobil.
"Baru kali ini orang tua sedikit tidak ikhlas saat aku pamitan tadi, padahal aku sering berkemah tidak hari ini saja," jawab Afifa.
"Orang tua terkadang begitu, yang penting kita happy, ya tidak, teman-teman?" sahut Eben yang berbadan brick dan berkulit sawo matang, menengahi percakapan Andrian dan Afifa. Eben terkenal akan humor, sedikit berperasaan, dan agak kocak .
"Ya ya ya !" teriak ivar pria berbadan kurus seperti kacang panjang, berkulit putih dan benesh gadis bertubuh tinggi dan berkulit kuning langsat. Suara musik dikeraskan dan memberi suasana gembira, mereka bernyanyi dan tertawa, mengenang masa-masa saat mereka masih remaja.
"Teman-teman, nikmati saja kebersamaan kita, jarang-jarang kita berkumpul!" kata Benesh dengan nada semangat dengan tujuan agar Afifa beralih dari pikiran yang membuat dia diam dan terhiburlah Afifa.
Afifa bertanya, "Andrian, kenapa kamu tiba-tiba mengajak kami ke Pulau Sempu?"
"Kita sudah lama tidak berkumpul bersama, dan sekarang waktu yang baik. Karena masing-masing libur. Dan aku penasaran dengan Pulau tersebut, maka dari itu aku memiliki ide untuk kita pergi bersama," jawab Andrian dengan melirik Afifa lewat kaca spion tengahnya. Karena fokus menyetir Andrian tidak bisa berbicara panjang dan menutupi tujuan hati membawa Afifa kesana.
Musik titanic terdengar menjadikan semua terhanyut dalam suasana.
"Sudah pernah nonton kisahnya, aku sangat tersentuh hati saat menontonnya. Kisah penuh dengan tantangan, ketegangan, dan paling utama sangat romantis. Cinta sejati ada dalam film tersebut," kata Afifa yang sangat senang dengan musik dan nyanyian tersebut.
" Oh rose?" sahut Eben dengan humornya.
" Oh jack?" sahut Benesh pula.
Menjadikan semua tertawa. Andrian tertawa sambil melihat Afifa dari kaca spionnya, Afifa yang ikut tertawa menjadi terdiam, karena melihat Andrian yang memandangnya.
"Kenapa Andrian bersikap tidak seperti biasa hari ini. Dia seperti terus memperhatikan aku. Ah, kenapa q jadi percaya diri gini?" gumam Afifa dalam hati.
Di tengah perjalanan Afifa mengambil handponenya dan mengajak Benesh untuk selfie. Kebiasaan anak muda masa kini selfie untuk di post ke media sosial. Ivar yang duduk di belakang pun ikut-ikutan selfie.
"Aku juga ikut selfie dong?" pinta Eben .
Andrian menghentikan mobilnya, untuk ikut mereka berfoto-foto dan video kebetulan pemandangan saat di situ sangat eksotis. Dari pohon-pohon rindang, sungai yang mengalir, dan sawah. Lumayan untuk post ke media sosial dan membuat kenangan dalam perjalanan.
Setelah selesai mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Mereka membuka handphone sendiri-sendiri, keculai Andrian. Karena dia sedang menyetir. Mereka memamerkan perjalanannya ke media sosial. Dari Instragram sampai di youtube kebetulan Eben youtuber. Yang lain selfie, dia video sendiri untuk mengupload ke youtube, dengan judul "Perjalanan Menuju Pulau Sempu."
Handphone Afifa bergetar dan berbunyi. Dia melihat notifikasi ada pesan di whatsapp dan membukanya.
"Siapa, Afifa?" tanya Benesh.
"Ini pesan dari ibuku, menanyakan sudah sampai mana, dan sering-sering mengabarinya," jawab Afifa.
"Perhatian benar ibu kamu, Fif. Kalau orang tua aku, kalau hilang kayaknya baru di cari, he he he," sahut Eben.
"Eh, kalau ngomong yang bener, Ben! Mana ada orang tua tidak memperhatikan kita, hanya diungkapkan sama tidak?" sergah Benesh yang sedikit menasehati Eben.
Afifa dengan senyum manis dan menengahinya agar tidak jadi perdebatan di antara mereka berdua. Dia pun membalas whatsapp ibunya dan menyetujui permintaan ibunya, agar sering-sering memberikan kabar.
Karena perhatian orang tuanya, Afifa kembali termenung akan teringat kata-kata orang tuanya. Afifa berpikir inikah arti mimpinya dan tempat tersebut adalah Pulau Sempu. Tapi logikanya menyadarkan semua hanya mimpi yang tidak mesti jadi kenyataan.
"Andrian, kita pulang sabtu sore, kan? Karena perjalanan yang lama ditakutkan senin tidak bisa masuk kerja, dan juga untuk beristirahat karena pasti cape saat berpetualang?" tanya Afifa dengan suara lembut.
"Santai saja Afifa. Kita meski jarang bersama. Kita sudah pernah berkemah bersama. Jadi jangan khawatir. Kita akan tepat waktu baik sampai di Pulau tersebut dan pulang, kalau pun meleset hanya sedikit," jawab Andrian.
"Afifa, Kita belum sampai, tapi kamu bicara tentang pulang?" tanya Ivar.
"Afifa hanya mengingatkan Andrian. Karena dia orang yang disiplin dan tidak bisa kalau tidak bekerja, alias pekerja keras dia?" sahut Benesh.
"Wah, cocok kalau nih, jadi bini aku," sahut Eben dengan melihat ekspresi Andrian.
"Afifa masih ingin sendiri dan mengejar karir. Lagi pula mana mau Afifa bersama kamu," sahut andrian dengan nada cemburu.
"Cie-cie ada yang dibakar api cemburu nih. Wah panas-panas, badan aku terasa panas," kata Benesh untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ada apa, Nesh?" tanya Ivar.
"Panas karena aku cemburu, ha ha ha!" sindir Benesh kepada Andrian.
Eben, Benesh, Ivar jadi tahu perasaan Andrian terhadap Afifa. Mereka sadar perlakuan Andrian dari tadi berbeda dengan Afifa.
Pipi berwarna merah muda nampak dari wajah Afifa. Dia tersenyum dan berkata, "Kita semua adalah sahabat. Andrian bersikap seperti itu karena dia adalah teman dan sahabat terbaik dari masih SMA."
Andrian tersenyum setengah, mengerutkan keningnya, dan mengatakan semua yang dibicarakan Afifa adalah benar.
Andrian menghormati keputusan Afifa saat itu dan masih menutupi niatnya. Perjalanan cukup panjang untuk sampai dari Solo, Jawa Tengah ke Malang Selatan, Jawa Timur.
"Andrian, berapa lama lagi untuk sampai ke Pulau Sempu, sudah tidak sabar nih?" tanya Benesh dengan rasa penasaran. Tidak hanya Benesh yang lainya juga sama-sama penasaran. Karena mereka semua hanya tahu dari media sosial, dan salah satu dari mereka belum pernah ke sana.
"Sabar, benesh? Kamu dari dulu masih sama, tidak sabaran. Kita ke Pantai Sendang Biru dulu terus ke pulau kita naik perahu boat," jawab Andrian dengan nada tegas. Kepribadian Andrian memang keras, tegas, dan disiplin, tapi juga bijaksana. Karena dia adalah seorang pemimpin perusahaan.
Terik mentari membuat mereka kelelahan karena perjalanan cukup jauh.
Tiba-tiba ...
Teriak Eben mengagetkan semua, "Andrian awas!" Dengan menarik setir yang dipegang Andrian, usaha Eben menghindari yang tidak diinginkan, dan rem mendadak.
"Ada apa, Eben?" tanya Afifa, Ivar dan Benesh dengan serentak karena kaget .
"Ulaarr! Aku melihat ular cukup besar tadi di depan mobil. Mungkin ular tersebut tertabrak oleh mobil kita," teriak Eben dengan mata melebar dan membuka mulut.
Andrian langsung turun dari mobil untuk melihat ular tersebut. Dia meneliti dan mencari ular tersebut di sekitar mobilnya.Tapi dia tidak melihat dan menemukan apa-apa. Agar tidak merusak suasana yang tadinya semua ceria akan berubah jadi suasana yang menegangkan, jika dia berkata jujur. Jadi dia memutuskan untuk berbohong dan mengatakan, "Hanya ular lewat, kita tidak menabraknya."
"Oh, kirain apa. Eben biasa saja kali, bikin jantung ku mau copot saja. Kita pergi untuk bersenang-senang, karena kamu suasana jadi tegang!" teriak Benesh dengan menggigit bibirnya .
"Beneran Benesh, aku melihat ular!" jawab Eben dengan wajah terkesiap.
Afifa melihat ekspresi wajah Andrian yang memerah, berkeringat, dan menghela nafas panjang, dan gelisah. Afifa tahu Andrian sedang berbohong. Afifa pernah membaca buku Psikolog, jadi Afifa sedikit tahu pikiran dan sifat orang.
"Kenapa Andrian berbohong? Ah, dia mungkin sengaja berbohong agar teman-teman tidak khawatir," gumam Afifa dalam hati.
Afifa jadi teringat kembali tentang mimpinya, tapi dalam mimpi dia digigit ular, sedangkan dalam nyata dia baik-baik saja. Dia jadi sedikit tenang.
"Sudah ... sudah, kita sebentar lagi sampai ke Pantai Sendang Biru?" kata Ivar agar mereka menjadi rukun.
Begitulah perjalanan yang mereka lalui, banyak peristiwa terjadi, namun Afifa tidak menghiraukannya, dan tetap pada pendiriannya. Tetapi hati Afifa tetap merasa tidak tenang.
Hati Afifa sering berdebar-debar tidak seperti biasanya, tapi dia selalu mengalihkan perasaan yang abnormal itu dengan teman-temannya. Karena Afifa berpikir dia terbawa ilusi dalam mimpinya.
Kruk, kruk, kruk ...
"Suara perut siapa ini yang keroncongan?" tanya Eben.
" Ha ha, kamu kali Ben yang lapar?" tanya Benesh balik.
"Andrian, kita belum makan siang, ada warung di depan kita berhenti. Karena aku pun juga sudah lapar," sahut Afifa.
Andrian menyetujuinya. Makanan yang mereka bawa kebetulan khusus dimakan di Pulau Sempu ( Segara Anakan), karena disana tidak ada penjual makanan.
"Eben, fokuslah kalau makan? Makan juga kamu video. Kita mengejar waktu biar tidak kesorean tiba disana tahu!" protes Benesh.
Eben mematuhi perkataan Benesh. Karena dia tidak ingin mengganggu suasana dengan debat dan perkataan Benesh yang masuk akal, tapi setelah selesai dia melanjutkan untuk video agar bisa di upload.
Benesh pun menggelengkan kepala, karena heran sama tingkah laku Eben.
Mereka melanjutkan perjalanannya yang semakin dekat dengan Pantai Sendang Biru.
Mereka tampak gembira ketika angin sudah membawa bau laut kehidung mereka.
Mereka bergegas keluar menuju perahu, dengan menikmati desiran suara angin, melihat ombak menggulung ketepian, merasakan setiap butiran pantai dengan jejak langkah kaki mereka. Mereka terbawa suasana dan semangat menggebu-gebu untuk segera sampai ke Pulau Sempu.
"Wah, belum sampai juga ke Pulau Sempu. Pantainya saja sudah begini indahnya!" teriak Eben dengan wajah yang tampak kagum.
Rumah yang berada di pesisir pantai, mayoritas menjadi nelayan. Mereka pun menyewa perahu boat, sekitar 15-20 menit untuk sampe ke Pulau sempu. Mereka membawa pemandu lokal juga untuk menjadi penunjuk jalan. Nahkoda tersebut menasehati berjalan di jalan berlumpur, agar mereka tidak tersesat.
Mereka dimanjakan dengan pemandangan Samudera Hindia saat di perahu menuju Pulau. Panorama yang menakjubkan membuat wajah mereka berbinar.
Air laut yang tenang dan juga angin berhembus lembut membuat perahu yang mereka tumpangi meluncur dengan lancar. Akhirnya mereka sampai di Pulau Sempu dengan selamat.
"Oh, ini yang dinamakan Pulau Sempu. Dimana Segara Anakannya?" tanya Benesh dengan wajah yang tampak penasaran, kepada pemandu jalan.
"Petualangan baru akan di mulai mba? Kita harus berjalan menelusuri jalan setapak dan masuk hutan kurang lebih 2-3 jam, untuk menuju Blue Lagoon Sempu," jawab pemandu tersebut dengan ramah.
"Hah, jauh benar! Ini baru yang dinamakan petualang, cuma 3 jam tidak apalah. Kita dulu juga sering mendaki gunung," sahut Eben untuk menyemangati mereka.
Afifa tersenyum, karena dia sudah mengetahuinya. Tapi dia memilih diam dan pura-pura tidak tahu, kalau berkemah hari ini akan memakan waktu dan tenaga. Khawatirnya membuat teman-teman pesimis, karena dia juga sangat ingin tahu tentang misteri, dan keindahan alam yang ada disitu. Karena tidak banyak orang yang sering berkunjung. Teman-temanya juga sudah mengetahui lewat media sosial, tapi hanya sepintas, dan tidak secara mendetail.
Setelah itu Nelayan kapal memberitahukan mengenai penjemputan, tidak boleh lewat dari jam 17.00 sore. Mereka pun membawa barang-barangnya. Karena mereka sering berkemah, jadi mengerti akan barang yang harus di bawa, terutama air minum. Sebelum masuk ke pulau Sempu, bersama pemandu tersebut mereka meminta izin ke BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam).
Setelah diizinkan mereka menyusuri hutan. Dan melanjutkan perjalanan yang akan menguras tenaga.
"Wah benar-benar menantang, banyak batu karang berserakan, dan juga licin. Hujan oh hujan, kenapa kemaren di sini kehujanan," gurau Benesh.
Perjalanan mereka menyusuri hutan yang berliku, menanjak, dan curam harus mereka lalui. Mereka harus melompat atau menerobos, karena banyak batang pohon yang berada dijalan tersebut. Dan harus sangat hati-hati karena medan jalannya yang berlumpur dan licin akibat hujan.
"Haruskah kita melewati jalan beginian. Apa tidak ada jalan lain, Pak?" tanya Eben sambil membalikkan badan karena pemandu berada dibelakang. Tujuan dia dibelakang untuk memantau. Dan juga untuk antisipasi, jika terjadi yang tidak diinginkan. Karena tanggung jawab dia sebagai pemandu.
"Patuhilah peraturan yang ada Eben, agar kita selamat. Kita berkemah kali ini bukan ke tempat wisata, tapi cagar alam. Masih banyak binatang buas dan lainnya. Berjalan di jalan yang berlumpur ini, agar kita tidak tersesat," sahut Afifa dengan sopan.
Tatapan Andrian ke Afifa dengan senyuman lebar seperti bunga. Tidak hanya dengan bibirnya seolah dengan jiwanya, dan mempunyai sejuta arti dilihat oleh Afifa. Dan tak lama mereka menundukan pandangan masing-masing.
Setelan rok biru laut motif yang lebar dan baju kemeja biru laut polos yang pas dengan ikat pinggang dengan tubuh yang lurus dan ideal membuatnya semakin anggun. Jilbab segi empat biru laut polos yang syar'i, dari cara dia berpakaian menjadikan dia terkenal akan agamanya n berpengetahuan luas. Andrian pun sangat menghormati Afifa.
Jalanan yang penuh liku, naik turun telah mereka lalui.
Gedebuk ...
"Aaaaarghhh!" teriak ivar si badan kurus seperti kacang panjang. Dia terpeleset di jalan yang licin tersebut. Karena itu seluruh tubuhnya dipenuhi dengan lumpur. Teman-temannya antara kasihan dan tertawa, mereka memilih menahan tawa.
"Dah tau jalan licin. Kenapa kamu tidaka hati-hati?" kata Benesh dengan wajah sedikit senyum dan tawa yang ditahan. Sambil menolong Ivar yang penuh dengan lumpur. Lalu Afifa menghampirinya dengan memberikan sapu tangannya, agar Ivar bisa mengelap wajah yang berlumpur.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanannya.
"Teman-teman berhenti sebentar," pinta Eben sambil mengeluarkan handphonenya, dengan tujuan foto-foto. Mereka meminta pemandunya untuk memotret mereka. Karena dalam hutan tidak ada sinyal sehingga mereka hanya bisa save foto mereka di Handphone Eben. Afifa termenung memikirkan orang tuanya karena tidak bisa memberi kabar. Tapi karena terbawa suasana yang menjadikan Afifa tidak begitu memikirannya. Karena rasa lelah, mereka berhenti sejenak .
Kriuk kriuk kriuk ...
Bunyi makanan ringan Eben yang lagi di makan. Dan mereka semua menikmati makanan yang di bawa Eben. Setelah melepaskan sedikit kelelahan, mereka pun melanjutkan perjalanannya.
Uuk aaa, uuk aaa
Suara hewan terdengar oleh mereka.
"Suara apakah itu, Ben?" tanya Benesh.
Mata Eben berkeliling untuk mengamati sekitar. Dia melihat monyet bergelantungan diatas dahan-dahan pohon.
"Teman-teman coba lihatlah keatas," ajak Eben.
Mereka terperanjat dan Ivar berkata," Teman-teman, disini beneran banyak hewan liar. Bagaimana jika ada harimau atau hewan buas lain kemari. Kita tidak membawa persiapan senjata.
"Jaga bicara kamu, Var! Di alam liar tidak boleh bicara macam-macam. Apalagi bicara dengan nyawa taruhannya," tegur Benesh dengan tegas.
"Kita berdoa saja itu sudah cukup jadi senjata. Kita bukan ketempat wisata, melainkan Cagar Alam yang dilindungi. Bukankah kita sudah melanggarnya? Bukankah ada larangan yang seharusnya tempat ini tidak boleh dikunjungi?" sahut Afifa dengan lembut.
Muka Andrian berbinar dengan tutur kata Afifa. Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali.
"Tunggu !" Spontan Andrian menutup rapat mulut dengan jari telunjuk, kode untuk tidak bersuara dan bergerak, diambillah ranting sedikit besar yang ada di depan. Dengan mata berkeliling dan membalikan badan ke kanan, kiri, atas, dan bawah, didapatilah
seekor ular hitam yaitu ular cobra. Termasuk hewan yang berbisa dan mematikan jika digigit.
"Andrian jangan dibunuh. Kita masuk juga sudah dilarang tadi, apalagi membunuh mereka. Kita akan menyalahi kode etik. Biarlah ular itu pergi, jika tidak menyerang kita," kata Afifa dengan memegang ranting yang mengarahkan pelan ke ular tersebut. Dan juga dengan doa yang Afifa lantunkan, agar ular tersebut pergi tanpa disakiti.
"Wah, Afifa? Ular tersebut takut dengan kamu," gurau Eben.
Tingkah laku Afifa ternyata tidak sengaja dilihat dan diperhatikan oleh Aqeel. Sosok tak kasat mata dengan wajah berbentuk hati dengan tatanan rambut slick pompadour, mata upturned ( mata kucing), berkulit putih pucat. Aqeel melewati hutan tersebut, karena untuk keluar dan pergi dari tempat tinggalnya memang lebih suka melewati jalan tersebut.
Bulu kuduk Afifa menegang dan membuatnya tidak nyaman. Dia mencium bau yang khas, merasakan ada orang yang terus memperhatikannya. Namun Afifa mengacuhkan apa yang dia rasakan, karena akan merusak suasana.
Perjalananpun dilanjut lewat petunjuk pemandu. Mereka harus hati-hati saat hampir sampai, masih ada tantangan yang menegangkan lagi. Karena harus melewati jalan setapak yang langsung berbatasan dengan jurang kurang lebih 10 meter yang menjadi pembatas dengan Segara Anakan.
Jalan tersebut tidak ada pagar pembatas dan tali tambang yang bisa jadi pegangan, hanya ada akar-akar pohon yang harus mereka pegang.
"Huh, sungguh perjalanan yang sangat menegangkan?" kata Benesh dengan tangan gemetar dan jantung berdebar kencang karena takut jatuh.
"Tetap tenang Benesh, fokus dan pegangan yang kuat, dan jangan salah pilih akar," sahut Eben karena takut temannya terjatuh.
Mereka Akhirnya berhasil melewati jalan tersebut. Aqeel pun mengikuti mereka karena penasaran dengan Afifa.
Pemandu telah memenuhi tugasnya dengan menunjukan tempat yang menjadi tujuan yaitu, Segara Anakan. Dan dia harus kembali, karena tugasnya telah selesai menunjukkan arah jalan.
"Wow, Amazing! Sungguh indah ini tempat. Tidak menyesal perjalanan jauh jadi terobati. Ini yang dinamakan berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian!" teriak Benesh dengan kagum.
Mata Afifa dan lainnya juga berbinar. Dan juga Eben terkinja / terkejut atau melompat-lompat kegirangan saat melihat pemandangan yang menawan. Diiringi hembusan angin yang menyejukan hati dan pikiran. Warna air yang hijau kebiru-biruan dan percikan hempasan ombak yang masuk melalui lubang. Ombaknya yang tenang memberikan suasana tentram dan bersahaja.
Segara Anakan dikelilingi bukit-bukit karang yang menjulang tinggi ke atas sehingga tidak bisa diterjang ombak ganas. Segara Anakan tercipta karena air laut yang terjebak disebuah cekungan, setelah masuk melalui lubang karang.
Kurang lebih jam 04.00 sore sampai di Segara Anakan.
Byurr byurr byurr
Para laki-laki langsung melepas pakaian atas dan melompat berenang, terutama Ivar yang penuh dengan lumpur.
"Afifa, Benesh. Kenapa kalian masih berdiri disitu? Kemarilah, ikut bersama kami!" teriak Eben dengan menikmati kesejukan air Segara Anakan. Lalu mereka bertiga menyelam menikmati pemandangan bawah yang belum pernah mereka lihat.
Eben naik ke atas dengan mengatakan keelokan bawah segara tersebut. Dia mengajak mereka berdua, agar tidak melewatkan momen yang begitu indah.
Benesh yang memakai setelan jumpsuit kuning dan jilbab kuning mengajak Afifa, agar ikut berenang bersama mereka. Afifa pun setuju, disaat itu tidak ada alasan Afifa untuk menolak.
Mereka berlima akhirnya berenang bersama-sama. Angin yang bertiup sepoi-sepoi dan kesejukan air yang benar-benar menyegarkan badan, mereka bersenang-senang menikmati alam yang akan menjadi kenangan dalam hidup mereka.
Setelah selesai berenang, mereka langsung bergegas mendirikan tenda dengan pakaian yang masih basah, untuk berganti pakaian. Karena disana tidak ada kamar mandi. Setelah semua selesai dari mendirikan tenda dan ganti pakaian. Mereka mendaki karang yang berada di daerah situ. Mereka tidak lupa dengan Handpone untuk mengabadikan momen berharga bagi mereka.
Mereka sampai di tempat yang dituju.
"Luar biasa! Sungguh luar biasa! Ini adalah momen yang sangat luar biasa!" teriak Benesh karena merasa senang dan puas akan pemandangan yang menakjubkan.
"Subhanallah, begitu indah Ciptaan Allah?"
kata Afifa karena kagum akan keagungan Sang Pencipta.
Ganas ombak dan birunya laut Samudera Hindia dilihat oleh mereka. Mereka terus selfie sendiri-sendiri dan saling begantian untuk berfoto.
"Eben, tolong fotoin aku dan Afifa?" pinta Andrian dengan sopan terhadap Eben, sekaligus mengharapkan Afifa untuk menyetujuinya. Afifa menyetujui keinginan Andrian.
Aqeel yang dari tadi mengikuti mereka, melihat perasaan Andrian terhadap Afifa, dan Afifa pun begitu, dari sudut pandang Aqeel Andrian adalah kekasihnya.
Batu di depan Afifa membuatnya hampir terjatuh, tapi ditangkap oleh Andrian. Mereka saling berpelukkan dan memandang. Kesan romantis tersebut difoto oleh Eben dengan posisi berbeda-beda saat memfoto mereka berdua.
"Terima kasih, Andrian?" ucap Afifa dengan melepaskan pelukannya dan dengan suara lembut.
"Oh, ya Afifa?" jawab Andrian dengan senyum lebar, jantung bedegup kencang, dan hati berbunga-bunga.
Si Wajah Pucat yang terus mengikuti Afifa, melihat tingkah laku mereka berdua terlihat ada kekecewaan di hatinya.
"Kenapa aku tidak senang melihat mereka berdua. Bukankah para manusia sudah terbiasa melakukan hal itu. Bahkan aku sering melihat yang lebih, yang membuat syahwat aku naik?" kata Aqeel untuk menghibur diri sendiri.
Afifa pun mendengar apa yang dibicarakan Aqeel. Dia tersenyum, tapi terus menerus mengabaikannya. Afifa mempunyai kepekaan yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Afifa seorang indigo. Dia bisa melihat, mendengar, dan berbicara dengan makhluk astral seperti dengan manusia. Namun untuk menghindari yang tidak diinginkan, dia hanya bisa berpura-pura dari segala hal.
Terdengar desiran angin yang menampar-nampar tubuh mereka. Mereka yang sedang melihat dan menikmati pemandangan, sampai membuat mereka lupa waktu. Karena angin yang semakin kencang, mereka jadi sadar hari semakin sore.
"Wah, wah, Andrian. Benar-benar kamu ini! Yang lain melihat keelokan panorama, sedangkan kamu dari tadi melihat Afifa?" ucap Benesh saat berjalan menuju tenda.
"Apa yang kamu bicarakan, Nesh. Dia bukan melihat aku, tapi pemandangan yang di sebelah aku memang memukau!" sahut Afifa untuk mengalihkan perhatian Benesh.
"Ya, ya, ya," sindir Benesh untuk Afifa. Karena Benesh juga peka apa yang disampaikan Afifa untuk membungkam mulut Benesh.
Selang beberapa waktu mereka berjalan, sampailah mereka ketenda masing-masing. Mereka menutup tendanya, karena maghrib akan segera tiba. Mereka melakukan aktifitasnya yaitu, solat. Meski tidak ada masjid-masjid, tapi mereka tetap bepegang teguh dengan keimanan mereka. Afifa melihat Si Wajah Pucat ( Aqeel ) ikut bersama rombongan para pria di tenda. Dia hanya bisa terdiam saat itu.
Setelah maghrib lewat dan ibadah pun sudah dilakukan. Mereka semua keluar dengan membawa barang-barang keperluan mereka seperti tikar, gitar, senter, terutama makanan. karena disitu alam liar, jadi dilarang menyalakan api, takut ada binatang buas yang akan mendekati mereka. Mereka saling menyantap makanan dengan lahap. Karena melihat ekspresi wajah mereka menyantap makanan, Aqeel juga ikut mencicipi makanan mereka.
"Inikah rasa dari makanan manusia? Dari dulu aku selalu melihat mereka makan, tapi tidak membuat aku penasaran, dan ternyata rasanya bukan rasa yang aku suka. Tapi kenapa mereka begitu menikmati makanan ini? Atau karena mereka sudah terbiasa dengan makanan mereka di dunia mereka seperti aku di duniaku?" Aqeel berbicara seolah tidak ada yang mendengarkan. Afifa melihat tingkah makhluk ini, membuatnya tersenyum.
"Ada apa, Afifa? Kenapa kamu tersenyum? Adakah yang lucu dari makanan ini?" tanya Andrian. Afifa tidak tahu kalau Andrian selalu memperhatikan dia.
"Oh, tidak Andrian? Aku tersenyum karena kita bisa berkumpul bersama lagi setelah sekian lama. Mungkin ini momen yang sangat indah untuk kita kenang?" jawab Afifa.
Aqeel mendengar pembicaraan mereka berdua membuatnya berhenti makan dan memperhatikan Afifa.
Setelah itu Andrian memainkan gitarnya. Eben, Benesh, Ivar berjoged, dan bernyanyi. Afifa bernyanyi di sebelah Andrian. Aqeel terus menatap Afifa, melihat keelokan rupanya. Dan daya tarik Afifa, membuat Aqeel lupa akan tujuannya, mencari kelinci untuk di makan bersama keluarganya.
Afifa tahu makhluk itu sedang memandangnya, namun Afifa terus melakukan sandirawanya, berpura-pura tidak melihat Si Muka Pucat, dan membiarkannya berbaur bersama mereka. Karena makhluk tak kasat mata tersebut tidak mengganggu teman-temannya. Afifa terkenal pintar, tapi juga polos. Karena kepolosan Afifa yang akan membawa bencana bagi dirinya sendiri.
"Aaaaaaaa ...! A ... pa itu!" teriak Benesh. Dia membuat kaget semua. Benesh dengan mulut menganga, wajah pucat, dan badan lemas, terjatuh ke tanah, namun ditangkap oleh Eben.
"Kamu kenapa, Benesh? Bikin kita khawatir saja?" tanya Eben.
"Aku melihat wanita dengan pakaian putih dan rambut terurai. Dia sangat pucat seperti tidak ada darah, muka hancur, sangat menyeramkan. Di ... sana ... di ... bawah pohon itu." Tangan Benesh menunjukan arah makhluk tersebut. Dan dengan nada suara yang bergetar karena takut.
"Mana, tidak ada apa-apa? Kamu halu kali, Nesh? Karena kamu kecapean, pikiran jadi kacau?" sahut Ivar.
Arah mata Afifa mengarah ke pohon yang disebutkan Benesh. Dia melihat memang banyak makhluk disitu, karena mungkin itu rumahnya. Mungkin makhluk itu menampakkan diri karena terasa terusik. Afifa lalu menghampiri pohon tersebut. Dia menemukan beberapa plastik makanan ringan. Lalu Afifa memungutnya. Dan bau menyengat, air kencing.
"Teman-teman, Siapa yang membuang bungkus jajanan dan kencing disitu?" tanya Afifa sambil menunjukan bungkus jajan tersebut.
"Aku yang kencing disitu ..." jawab Eben.
"A ... ku yang buang bungkus jajan," sahut Ivar.
Afifa menaruh sampah keplastik besar, plastik sampah yang sudah disiapkan. Dan menyuruh Eben menyiram air kencing dengan air danau sampai baunya hilang.
"Malam-malam begini aku disuruh nyiram! Besok juga bisa, Fif!" protes Eben.
"Jika tenda kamu bau kencing, apa kamu tetap bisa tidur, Ben? Sudah nurut saja. Tinggal siram apa susahnya, tidak sampai satu jam, kan?" timpal Andrian. Andrian memahami apa yang disampaikan Afifa. Jadi dia ikut membantu Afifa apa yang jadi tujuannya.
"Huh, ya ya!" Eben mengambil plastik besar dan mulai menyiram dan permintaan maaf pun Eben ucapkan. Didengarlah oleh penunggu pohon, disusul Aqeel agar makhluk tersebut melepaskan mereka, jangan mengganggunya. Makhluk tersebut mana berani sama Aqeel, melihat mata Aqeel saja makhluk itu langsung mengerti bahwa Aqeel istimewa. Dia pun menyetujui untuk memaafkan mereka.
Semua perilaku Afifa dicermati oleh Aqeel. Aqeel tidak tahu kalau Afifa tahu kekesalan makhluk yang terusik karena Afifa melihatnya dan tahu semua itu perbuatan temannya. Karena yang ada disitu memang mereka, tidak ada pengunjung lain. Aqeel hanya mengerti kalau Afifa bijaksana dan memahami etika. Dia semakin penasaran dengan Afifa. Baru kali ini ada manusia yang membuat hati Aqeel tergerak.
Afifa juga mengamati dan melihat apa yang dilakukan Si Muka Pucat kepada wanita yang disebutkan Benesh, membuat Afifa tersenyum, namun Afifa masih pada sandiwaranya.
"Sudah, tenangkan dirimu, Benesh. Kita hidup berdampingan tidak hanya sama manusia, makhluk gaib yang kita tidak lihat juga pasti ada disekitar kita. Jadi teman-teman untuk lebih hati-hati lagi dalam bertindak. Jaga kebersihan. Kalian pernah dengar ada yang kesurupan karena hal sepele. Bagi kita sepele, tapi bagi makhluk yang tidak kita lihat menjadi besar, karena terusik kenyamanan mereka," nasehat Afifa di dengar semua. Tidak hanya teman-teman. Aqeel dan seluruh makhluk tak kasat mata yang ada disitu juga mendengar.
"Siapa manusia ini? Bagaimana dia bisa memahami semua? Apakah dia melihat kita? Jika tidak melihat, bagaimana dia mengerti kondisi kita," ungkap salah satu mahkluk yang mendengarkan.
"Ah, mungkin dia manusia yang istimewa. Meski tidak melihat, namun memahami seluruh bangsa," sahut mahkluk yang ada disebelahnya.
Aqeel mendengar percakapan mereka tersenyum lebar dengan wajah pucatnya bersinar. Semakin dalam Aqeel penasaran terhadap Afifa. Dia sekarang seperti penguntit. Dimanapun Afifa berada, disitulah ada Aqeel. Afifa hanya bisa diam agar makhluk tersebut tidak curiga bahwa dia kesal dengan Si Muka Pucat, karena terus mendampinginya.
Setelah Benesh menenangkan diri karena takut, dia pun bertanya kepada Afifa, "Apa yang kamu lihat tadi? Aku tahu kamu melihat juga karena dari kecil kamu sudah terbiasa ..."
"Benesh! Mari kita lanjutkan untuk membuat suasana yang tadi tegang menjadi tenang.
Lanjutkan Andrian?" Afifa memotong pembicaraan Benesh, karena akan menguak jadi dirinya dihadapan teman-teman dan Si Muka Pucat.
"Oke, Fif?" Andrian kembali memegang gitar. Mereka duduk berdampingan melanjutkan nyayian yang kompak dan membuat susana kembali riang.
Benesh terus menatap Afifa. Afifa juga membalas tatapan Benesh dengan menggelengkan kepala kekanan dan kekiri. Isyarat bahwa jati dirinya tidak boleh terbongkar. Aqeel melihat mereka berdua, namun tidak paham yang manusia sampaikan dengan isyarat seperti itu, hanya menambah rasa penasaran Aqeel.
Afifa dan Benesh melanjutkan nyanyian mereka sampai Benesh benar-benar merasa tenang. Dan mereka pun akhirnya menikmati suasana yang riang. Tidak hanya Aqeel, Andrian juga memperhatikan Afifa dari tadi. Andrian orang bijaksana apa yang tidak boleh Afifa ungkapkan, dia hanya menghormati keputusan Afifa.