"Cepat tutup pintu dan jendela rumah kalian. Ini titah Raja Edward!" Para prajurit penunggang kuda meneriakkan peringatan keras kepada penduduk Centurion Land sembari berpatroli agar tak ada seorang pun yang berada di jalanan.
Suara angin ribut berdesau kencang dengan awan kelabu bergulung-gulung di langit seolah badai hebat akan melanda bumi. Barang-barang yang ada di luar bangunan berserakan di jalanan kota Highmerciful, sebagian terbawa oleh tiupan angin topan.
"Jenderal Derrick, apakah kita bisa kembali ke istana sekarang? Paduka Raja Edward Forester mungkin membutuhkan kita di sana!" seru Oliver Davis. Dia cemas melihat percikan api dengan cahaya mistis yang nampak dari kejauhan berasal dari pelataran istana.
Namun, sebaliknya justru jenderalnya tertawa seraya menjawab, "Biarkan saja sang raja menghadapi Amaraca dan pengikutnya sendirian!"
Kernyitan di antara kedua alis Oliver Davis nampak dalam, sesaat dia merasa Jendral Derrick Karpac bermaksud mengkhianati raja mereka. Dia pun tanpa izin atasannya, segera memacu kudanya menuju ke arah istana sendirian meninggalkan pasukan prajurit yang jumlahnya ratusan di tengah kota Highmerciful.
Sementara itu di pelataran depan Palazzo Vrindavan, seorang pria dengan baju zirah berjubah ungu dengan ornamen benang emas berinisial F di dadanya sibuk menyabetkan pedang saktinya ke udara untuk menghalau kekuatan sihir jahat yang menyerang ke arahnya. Di permukaan tanah sekitarnya para pengawalnya bergelimpangan tak lagi bernyawa.
"HA-HA-HA. Menyerahlah Raja Edward Forester! Kau hanya sendirian sekarang, tak ada yang bisa membantumu untuk melawan aku dan pengikutku!" ujar Amaraca, penyihir perempuan yang ingin menguasai Kerajaan Centurion Land.
Namun, sambil mengerahkan segenap kekuatannya yang tersisa, Raja Edward mengirimkan lightning thunder belt ke arah Amaraca dan kroni-kroninya hingga menggelepar. "Hiyaa!" teriaknya dengan tangan yang gemetaran menggenggam pedang sakti Amethyst Draco di tangannya.
Dengan napas terengah-engah kelelahan bertarung sendirian selama berjam-jam, paduka raja berkata, "Amaraca, tinggalkan negeriku! Kau tak akan pernah bisa merebutnya dariku. Tanah kami yang subur akan menjadi padang tandus bila kau berkuasa di sini. Aku tak akan membiarkanmu membuat rakyatku menderita!"
"Severus Serpentine datanglah!" panggil Amaraca. Sedangkan, para pengikutnya berlarian menjauhinya karena tahu sosok yang dipanggil penyihir itu sangat ganas.
Seekor naga api bersisik merah melayang cepat mendekati Amaraca dan menyemburkan napas apinya ke sekeliling. Dengan sigap penyihir wanita itu terbang ke atas punggung naga peliharaannya lalu berseru kepada Raja Edward Forester, "Kau harus mati agar keinginanku tercapai!"
"Alamus Eldoran datanglah, aku memanggilmu!" teriak Raja Edward dengan kencang. Dia tak bisa menghadapi Amaraca sendirian di atas kaki yang memijak permukaaan bumi.
Seekor naga bersisik emas terbang dari angkasa menuju ke hadapan sang raja dan tunduk menyembahnya. "Hamba siap melayani, Your Majesty!" jawab Alamus Eldoran yang terbang rendah hingga pria yang memiliki kekuasaan atas Centurion Land itu dapat melompat naik ke punggungnya.
Pertarungan sengit dua kekuatan magis yang sama kuatnya pun tak terelakkan di angkasa. Raja Edward Forester sengaja membawa Amaraca agar menjauh dari istana dan pemukiman penduduk. Mereka saling melemparkan mantra sakti penghancur di atas deretan gunung batu yang ada di fyord.
"BUMM!" Ledakan api menghancurkan sebuah karang besar karena sang raja mengelak serangan berbahaya dari Amaraca.
"Hyaaahh!" teriak Raja Edward melepaskan serangan api merah dari telapak tangannya yang mengumpulkan panas bumi ke arah Amaraca.
Penyihir wanita berambut hitam dengan sepasang mata biru cobalt itu memekik saat dia terjatuh dari punggung naga piaraannya yang terkena serangan api merah. "Aaaarrrgghhh!" teriak Amaraca saat melayang terjun ke bawah.
Raja Edward menghela naga emasnya untuk memastikan musuhnya binasa kali ini. Dia terbang menukik rendah bersama Alamus Eldoran. Namun, Severus Serpentine, sang naga merah yang telah pulih dari serangannya tadi mengejarnya dan membalas dengan menyemburkan api ke arah paduka raja.
"Berpegangan padaku, Your Majesty. Kita akan terbang melewati hutan rimba!" ujar naga emas itu lalu terbang rendah menghindari kejaran naga merah yang mengamuk di belakangnya.
Ternyata penyihir Amaraca berhasil diselamatkan oleh naga peliharaannya itu dan ikut mengejar mereka. "Severus Serpentine, kita harus binasakan raja tak berguna itu agar Centurion Land bisa kukuasai!" ucapnya sambil tertawa mengerikan.
Karena hutan rimba itu terlalu rapat pepohonannya, Alamus Eldoran segera terbang menuju ke angkasa kembali. Di belakangnya naga merah dan Amaraca terus mengejar hingga pertarungan sengit kembali terjadi.
Lightning Thunder Belt dilepaskan oleh Raja Edward Forester dan melecut lengan kiri Amaraca hingga terluka lebar. "Menyerahlah, Amaraca atau aku harus melenyapkanmu selamanya!" teriak sang raja di atas punggung naga emasnya.
"Baiklah, aku menyerah!" seru penyihir wanita itu. Dia lalu berkata, "Tinggalkan saja aku di sini, kita berdamai, Raja Edward!"
"Jangan pernah menampakkan dirimu di Centurion Land lagi!" titah paduka raja sebelum dia berbalik arah untuk kembali ke istananya.
Namun, ternyata itu hanyalah muslihat licik dari Amaraca. Penyihir wanita yang berada di punggung naga merah tadi merapal sebuah mantra lalu mengirimkannya kepada Raja Edward.
"Jadilah kucing!" teriak Amaraca seusai merapal mantra sihir saktinya.
Sang raja sebelum terkena pengaruh mantra transfigurasi itu membuat perisai sihir untuk menutupi Centurion Land agar aman. Lapisan kristal es berbentuk seperti tempurung kelapa menaungi negeri tercintanya. Akan tetapi dia harus oleng dan terjatuh dari punggung naga emasnya dan masuk ke pusaran lubang hitam yang dibuat oleh Amaraca.
"Alamus Eldoran, cari Master Estefan dan ceritakan kejadian ini. Cepatlah pergi sekarang!" titah Raja Edward yang tak lama kemudian terkena mantra sihir dari Amaraca dan menjadi seekor kucing berbulu oranye.
Pusaran lubang hitam yang menyedot tubuh sang raja pun membawanya berputar-putar tanpa tahu di mana ujungnya hingga Raja Edward Forester hilang kesadaran dan merasakan semua gelap dalam pandangannya.
"Ohh, sial sekali, Severus Serpentine. Raja Edward telah menutup akses ke Centurion Land. Para pengikutku masih di dalam pelataran istana, tetapi aku justru tak bisa masuk ke sana karena perisai kristal magis ini!" gerutu Amaraca yang tak berdaya menembus lapisan kristal es tebal yang melingkupi kerajaan milik Raja Edward Forester.
Naga api itu menjawab, "Coba kubakar dengan hembusan apiku, Yang Mulia Amaraca!" Makhluk bersisik merah itu menyemburkan api sekuat-kuatnya, tetapi sayang sekali kriatal es tebal itu tak meleleh sedikit pun.
"Huh! Menyusahkan sekali, kita kembali ke Gua Darkness Tapestry untuk memikirkan penyerangan selanjutnya, Severus Serpentine!" titah Amaraca.
Di sisi lainnya, naga emas pelayan raja itu terbang menuju ke sebuah tebing tinggi di sebelah selatan Centurion Land untuk mencari sahabat Raja Edward yaitu Ksatria Estefan Riddler.
Pria muda itu sedang memecah kayu untuk kayu bakar di halaman belakang rumahnya. Dia melihat sosok naga emas milik sahabatnya itu dari kejauhan. Estefan menaungi matanya dengan telapak tangannya dari silau cahaya matahari yang terpantul di sisik naga emas tersebut.
"Alamus Eldoran, ada apa kau ke mari?" tanya Estefan Riddler tak dapat menebak alasan kedatangan makhluk magis itu di rumahnya.
Naga emas itu terbang rendah di hadapan sang ksatria dan berkata, "Raja Edward Forester membutuhkan bantuanmu, Master Estefan!"
"Stefany, aku pulang duluan ya. Jangan lupa matikan lampu kalau kau sudah selesai bekerja!" pamit Gwen kepada rekannya yang terkenal paling rajin di Houston Public Library.
Gadis berkaca mata bening berbentuk bulan separuh itu pun melambaikan tangan kanannya seraya berseru, "Hati-hati di jalan yoo, Bestie!"
Gwen memang bekerja di bagian yang berbeda dari Stefany sehingga dia bisa pulang tepat waktu ketika jam kerja berakhir. Sedangkan, pustakawati yang rajin itu harus menghabiskan lebih banyak waktunya mengembalikan buku-buku yang telah ditinggalkan pengunjung perpustakaan di meja baca ke rak asalnya lagi.
"I'm dreaming of a white Christmas. Just like the one I used to know. Dumm ... dumm ... dumm!" Senandung lagu itu terdengar merdu dan bergema di ruangan yang telah sepi pengunjung di petang hari.
Dengan langkah-langkah kaki lincahnya, Stefany menata buku-buku tebal terbitan Elsivier Publishing ke rak empat susun. "William MacGriffin, hmm dia banyak sekali menulis buku-buku tebal!" gumam gadis itu sembari meletakkan tiga buah buku berjejer di lajur rak kedua dari bawah.
Setelah tiga troli penuh berisi buku-buku berhasil dia rapikan kembali ke rak, Stefany pun mengambil tas ransel merahnya di loker karyawan Houston Public Library lalu mematikan semua lampu kecuali lampu penerang wajib yang memang harus menyala di malam hari hingga pagi. Dia pun melangkah keluar sembari mengenakan mantel tebalnya, musim dingin telah tiba jelang akhir tahun.
"Bernie, aku pulang sekarang. Sampai jumpa besok!" pamit Stefany dengan riang sambil melambaikan tangannya kepada petugas sekuriti perpustakaan yang berjaga malam di tempat kerjanya.
"Kerja yang bagus, Stefy. Jaga kondisimu, jangan sampai kau sakit, okay? Berhati-hatilah di jalan, ini sudah gelap!" balas Bernard Akon kepada gadis remaja berambut hitam sepunggung seperti bulu gagak tersebut.
Stefany menanggapinya dengan tawa ringan, dia lalu mulai berjalan cepat dengan sepatu bot cokelatnya melewati trotoar yang basah. Serpihan bulir salju putih jatuh perlahan dari angkasa malam yang gelap. Hidungnya terasa dingin membeku, dia menyembunyikan sebagian wajahnya di balik syal dari bahan kain flanel warna merah bermotif garis kuning dan hitam.
"Aku lapar sekali, semoga ibu menyiapkan makan malam yang lezat di rumah!" gumam Stefany sembari mempercepat langkahnya ketika menyeberangi zebra cross perempatan besar menuju ke arah rumahnya.
Dia berangkat dan pulang kerja dengan berjalan kaki karena rumahnya hanya berjarak sekitar lima belas menit dari perpustakaan. Menurutnya berjalan kaki jarak dekat lebih sehat dibanding naik kendaraan bermotor, lagi pula dia telah seharian duduk menjaga di perpustakaan.
Ketika hampir sampai di rumahnya, Stefany melihat sebuah benda berwarna oranye teronggok di trotoar. "Hey, apa itu? Kuharap bukan kotoran berbau busuk!" serunya sedikit curiga sambil perlahan mendekati bentukan di tengah jalan itu.
"Ohh ... poor kitty, apa dia pingsan?" ucap Stefany menyentuh perlahan seekor kucing berbulu oranye yang tertelungkup dengan bulu setengah basah oleh salju yang turun. Dia mencoba menggoyang-goyang punggung kucing itu untuk memastikan kondisinya. "Hmm ... nampaknya aku harus membawa kucing ini pulang, kasihan sekali kalau kutinggalkan di jalanan. Dia bisa mati karena hipotermia!" ujar Stefany lalu menggendong kucing oranye yang pingsan itu di depan perutnya.
"Kau pasti lapar dan sakit ya sampai pingsan begini, Little Kitty?" tanya Stefany sekalipun dia tahu yang diajak berbicara pasti tak bisa menjawabnya.
Setelah berjalan dua puluh meter, gadis remaja dan kucing oranye itu sampai di sebuah rumah berwarna hijau tua dan berpagar kayu yang lampu terasnya menyala. Pintu depan terkunci jadi Stefany menekan bel agar dibukakan oleh ibunya.
"Yes, coming!" sahut suara wanita dari dalam rumah dan tak lama pintu kayu berpelitur cokelat tua itu mengayun terbuka. Kening ibunya berkerut melihat benda yang dipeluk oleh Stefany. "Kau membawa pulang seekor kucing liar, Sayang. Apa dia tidak menggigit?" tanya Nyonya Victoria Rowland kuatir.
"Setidaknya belum untuk saat ini, Bu. Mungkin nanti akan kubawa ke dokter hewan untuk divaksin rabies bila perlu. Sekarang aku akan merawatnya hingga kucing ini sadar, kasihan sekali dia pingsan di jalanan. Umm ... kuharap dia baik-baik saja setelah kuhangatkan!" jawab Stefany sembari mengambil keranjang rotan di gudang lalu melapisi alasnya dengan handuk. Dia menaruh kucing oranye itu di situ dan menyelimutinya agar hangat.
Akhirnya Nyonya Victoria pun membiarkan saja kucing itu tinggal sementara di rumahnya, dia bukan pecinta binatang, tetapi dia juga tidak alergi bulu hewan. Kemudian wanita itu menyiapkan makan malam di meja makan dapur untuk mereka berdua dan menunggu Stefany selesai mandi sebentar.
Menu makan malam kali ini adalah steak ikan Salmon kesukaan puterinya dengan tumis asparagus dan kentang tumbuk. Aroma ikan yang sedap menguar di dalam rumah dan membangunkan spesies pecinta ikan yang bertamu di rumah ibu dan anak itu.
"Meeooonggg!"
"Aaaaahh!" teriak nyaring Nyonya Victoria Rowland menanggapi kucing yang terbangun itu.
Paduka Raja Edward Forester yang baru saja terbangun dalam bentuk transfigurasi seekor kucing pun tertegun menatap wanita tua yang histeris menatap ke arahnya. 'Siapa dia? Apa ketampananku luntur sehingga dia ketakutan dan berteriak 'aaaa' begitu tadi?!' ucapnya dalam hati, sedikit tersinggung.
"Ibu, ada apa? Apa ada kecoak lagi di dapur?" tanya Stefany menuruni tangga yang mengarah ke lantai dapur dari lantai dua di mana kamarnya berada.
"Kucing itu sudah bangun. Akan kau apa 'kan dia sekarang? Atau lepaskan saja dia ke jalan, Stefy!" ujar Nyonya Victoria tak nyaman sambil memperhatikan si kucing bergelung dalam keranjang rotan.
Namun, Stefany berjongkok di dekat kursi tempat keranjang rotan berisi kucing oranye itu lalu menyapanya, "Hello Kitty, sudah bangun rupanya. Apa kamu lapar? Kita bisa berbagi makan malam, semoga kau baik-baik saja dan tidak sakit atau besok aku harus membawamu ke dokter hewan untuk diperiksa!"
'Hah? Apa? Kitty, siapa? Aku?' batin Raja Edward masih kebingungan dan tak mengerti penampilan barunya hingga Stefany mengangkat tubuhnya dengan mudah lalu memangkunya ke meja makan.
"Meeoooongg!" serunya terkejut karena diangkat tiba-tiba dan dibawa berpindah tempat oleh manusia yang berukuran besar di pandangan matanya. 'Apa aku di negeri raksasa? Ohh tidak!' batinnya heboh sendiri.
"Kamu harus makan supaya tidak sakit, Kucing Manis. Ikan? Kamu pasti suka ini!" Stefany menyisihkan potongan steak ikan Salmon ke piring kosong lalu menaruhnya di hadapan si kucing yang dia pangku.
Nyonya Victoria pun segera menegurnya, "Stefy, kau terlalu memanjakannya. Masa dia berbagi steak lezat itu denganmu? Ibu membuatnya spesial untukmu!"
Namun, Raja Edward sangat kelaparan setelah melintasi pusaran lorong waktu. Dia menyantap saja hidangan istimewa di hadapannya tanpa mengindahkan wanita tua yang memprotes tindakan gadis yang dipanggil Stefy itu. Dia pun membatin, 'Okay, kau puteri cantik yang baik hati. Aku menyukaimu, tetapi apa dia ibu tirimu, menyebalkan sekali!'
Stefany pun tertegun dan menatap ke wajah kucing yang dia pangku. Dia bisa mendengar perkataan Raja Edward baru saja dan menjawab dalam hatinya, 'Hey, siapa kamu? Apa kucing bisa bicara bahasa manusia?'
'Kucing? Siapa yang kucing?' sahut Raja Edward masih tak mengerti dirinya memang berbentuk kucing saat ini.
'Siapa lagi? Kau tentunya, ayo kita bercermin sebentar sebelum aku makan malam dengan sisa steak yang tadi kau santap, okay?' ujar Stefany lalu bangkit dari kursi menuju ke cermin lemari pajang hiasan keramik di ruang tengah. Dia berdiri di seberang cermin menggendong kucing oranye itu. 'Lihatlah siapa yang kucing di sini!' batinnya geli.
"MEEOOOOONGG!" teriak histeris Raja Edward atau lebih tepatnya si raja kucing saat menatap pantulan bayangan dirinya.
'Astaga, aku ingat sekarang. Ini pasti kutukan sihir Amaraca sebelum aku masuk ke pusaran lubang hitam itu!' ucap Raja Edward dalam hatinya. Dia merasa cukup terganggu dengan suara kucing yang dihasilkan oleh pita suaranya sendiri.
Matanya memicing sembari duduk nyaman di keranjang rotan berlapis handuk lembut milik Stefany. Dia mengamati situasi dengan tenang. Ibu gadis tersebut ingin membuangnya ke jalanan, sungguh terlalu. Di luar kaca jendela salju mulai turun dengan deras, suhu udara pasti di bawah nol derajat. Itu tidak baik untuk seekor kucing ... seperti dirinya!
"Jadi, apa kamu ingin memelihara kucing oranye kumal itu di rumah kita, Stefy Sayang?" tanya Nyonya Victoria menyebutkan identitas baru Raja Edward dengan sangat tidak hormat sehingga kucing jantan itu menggeram kesal.
'Kalau Anda berada di Centurion Land dapat kupastikan algojo memancung kepala Anda yang berkonde itu, Nyonya!' gerutu Raja Edward. Seumur hidup dia belum pernah dikatai kumal, itu sungguh menyakiti harga dirinya.
Stefany yang membantu ibunya membereskan piring kotor dari meja makan pun menjawab, "Biarkan kucing lucu itu tinggal di rumah ini, Bu. Aku janji akan merawat kebersihannya dan membawa kucing itu ke dokter hewan besok pagi sebelum berangkat kerja!"
"Ohh ... baiklah kalau memang kau bertanggung jawab untuk merawatnya karena Ibu tak ingin bulu-bulunya menempel di bajuku, Stefy!" balas Nyonya Victoria sembari melemparkan lirikan tajamnya ke kucing berbulu oranye di keranjang rotan itu.
'Well, apakah salahku hingga memiliki bulu sebanyak ini seumur hidupku? Ini bencana nasional, Nyonya! Rakyatku akan sangat merindukan raja mereka yang dikutuk oleh Amaraca yang jahat, tolong sensitiflah sedikit!' cerocos Raja Edward seraya membalas lirikan tajam Nyonya Victoria dengan sepasang mata kuning keemasannya yang memipih pupilnya.
Gadis itu mendengar setiap patah kata yang diperkatakan raja kucing itu dengan jelas. Dia terkikik sendirian sambil mencuci peralatan makan di wastafel dapur.
"Apa ada yang lucu, Stefy?" tegur ibunya cemas Stefany berhalusinasi dan tertawa sendiri tanpa sebab.
"Ohh ... hanya teringat buku dongeng lucu yang kubaca di perpustakaan tadi. Ibu pasti tahu kalau aku gemar membaca bukan?" kelit Stefany dengan cerdik. Dia tak mungkin menceritakan bahwa kucing yang ditemukannya di jalan bisa bertelepati dengannya dan ternyata adalah sosok jelmaan seorang raja dari Centurion Land yang dikutuk penyihir, konon katanya.
Kemudian Nyonya Victoria pun berpelukan dengan puterinya sebelum berpisah untuk beristirahat di kamar masing-masing. Stefany menunggu pintu kamar ibunya tertutup rapat lalu dia berbicara dengan sang raja kucing sembari berlutut di depan kursi tempat keranjang rotan itu berada.
"Hai, siapa namamu? Kita belum berkenalan dengan benar. Sungguh aneh tapi nyata, kita bisa saling mendengar dan berbicara melalui bahasa pikiran yang sama. Aku Stefany Rowland, kau boleh memanggilku Stefy!" Gadis itu meraih kaki kanan depan si kucing untuk berjabat tangan dengan cara yang imut.
Raja Edward tertawa geli dengan situasi konyol yang dihadapinya bersama gadis manis di hadapannya itu. Tak ada pilihan lain, sosok itu satu-satunya yang dapat menolongnya untuk kembali ke Centurion Land atau setidaknya bertahan hidup di kota antah barantah yang begitu asing sekaligus aneh di pandangan matanya.
'Baiklah, Nona Manis. Namaku Raja Edward Forester, negeri asalku bernama Centurion Land yang terletak di sebelah selatan Samudera Atlantis. Apa kau tahu di mana itu? Aku ingin kembali ke negeriku yang sedang terancam oleh serangan penyihir jahat dan pengikutnya!' jawab Raja Edward melalui telepati.
"Bukankah Atlantis itu hanya mitos saja? Hmm ... menarik, rupanya memang ada dahulu kala. Dan artinya juga kau berasal dari masa lampau, bisa jadi ribuan tahun yang lalu. Ohh my God!" ujar Stefany mulai tertarik dengan asal usul raja kucing itu. Dia lalu berkata, "Raja Edward Forester, aku lelah sekali bekerja seharian, mungkin kau bisa menceritakan segalanya di kamarku saja sambil aku berbaring di kasur."
Raja Edward pun menyetujui permintaan Stefany, dia melompat turun dari keranjang rotan tempat duduknya ke lantai kayu yang berpelitur cokelat muda lalu mulai melangkah dengan keempat kakinya yang kokoh.
'Ohh yeaah ... aku melakukan catwalk sekarang dengan keempat kaki yang ramping ini dan dilengkapi cakar tajam berbahaya!' Dia mengoceh sendiri seolah mengabaikan fakta bahwa gadis yang berjalan di depannya menaiki tangga kayu ke lantai dua itu juga bisa mendengarkannya.
Stefany membuka pintu kamar tidurnya dan tertawa cekikikan. "Kau sangat imut sebagai seekor raja kucing. Ngomong-ngomong, apa wujud aslimu memang kucing?" tanya gadis itu sembari menghempaskan tubuhnya yang penat ke atas kasur yang empuk.
Kucing oranye itu mengedarkan pandangannya dan menemukan satu-satunya tempat yang nyaman untuknya hanya kasur Stefany. Maka dia pun melompat naik lalu duduk di samping gadis itu di atas kasur berseprai merah muda dengan motif stroberi besar-besar.
'Okay, mari kita bercerita tentang kisah hidupku. Aku juga tadinya manusia sepertimu, wajahku sangat tampan menurut rakyat di negeriku. Mungkin kau pun akan jatuh hati bila melihatku dalam versi manusia, percayalah!' ujar Raja Edward dengan penuh percaya diri.
"Baiklah, aku percaya. Kau pun seekor kucing yang tampan dan menggemaskan saat ini, jangan berkecil hati!" hibur Stefany dengan tulus. Dia merebahkan kepalanya miring di bantal sambil tetap menghadap ke Raja Edward yang duduk santai dalam posisi khas kucing.
Kemudian Raja Edward kembali bercerita, "Aku sedang bertarung dengan Amaraca di angkasa bersama naga tunggangan kami masing-masing. Seharusnya aku tak berbelas kasihan dan melenyapkannya saja saat itu. Dia menyerangku saat lengah dan mengirimkan mantera kutukan agar aku berubah menjadi kucing lalu tersedot ke pusaran lorong waktu. Mungkin ini adalah masa depan. Oya kita berada di kota mana?"
"Ini kota Houston, negara bagian Texas, Amerika Serikat. Kebetulan aku bekerja di perpustakaan, mungkin besok akan kucoba mencari keterangan tentang Centurion Land. Terus terang, aku belum pernah mendengarnya di pelajaran sejarah saat dulu bersekolah," jawab Stefany. Dia tertarik dengan kisah bak dongeng yang diceritakan oleh kucing oranye itu.
'Jadi kau bekerja sebagai pustakawati? Baguslah, itu awal yang baik untuk menolongku kembali ke Centurion Land, kau pasti suka membaca!' tebak Raja Edward dengan cerdik. Dia mulai merasakan sedikit optimisme dalam hatinya sekalipun belum dapat melihat adanya jalan keluar sama sekali atas semua persoalannya.
Gadis itu pun menguap karena kantuk dan letih yang menguasai tubuhnya. "Sudah malam, sampai besok pagi, Rajaku. Nampaknya aku satu-satunya rakyatmu saat ini. Beristirahatlah dan mimpi indah!" ujar Stefany lalu menutup matanya untuk tidur.
Raja Edward Forester justru gelisah memikirkan nasibnya hingga sulit tidur. Kucing pun alaminya hewan nocturnal yang terjaga di malam hari. Dia melompat ke meja belajar Stefany dan mengamati jalanan di depan rumah melalui kaca bening jendela kamar.
Centurion Land terasa begitu jauh baginya saat ini. Dia bertanya-tanya, apakah Alamus Eldoran berhasil menemui Estefan Riddler, sahabatnya yaitu ksatria Holly Water Mountain. Pria itu tahu kepada siapa dia harus bertanya tentang situasi yang dihadapinya saat ini; Oleander Newton, The Highpriest.