Bab 1

"Dasar perempuan tidak tahu diri!"

Seorang wanita berumur tiga puluhan datang menghampiri seorang gadis yang sedang melayani di meja pengunjung. Sontak, kejadian itu membuat semua pengunjung di sebuah restoran menatapnya.

Wanita yang sedang naik darah itu lalu menjambak rambut gadis itu. Tak hanya menjambak, tetapi tamparan demi tamparan dilayangkan padanya. Sang gadis berusaha melepaskan tangan wanita itu dari rambutnya, tetapi usahanya sia-sia.

"Lepaskan! Aku tidak mengerti apa maksudmu!" seru gadis itu memberi pembelaan.

Wanita itu tidak menghiraukannya. Bahkan, dia akan kembali menampar gadis itu. Namun, dia tertahan saat seorang lelaki datang menghentikannya.

"Lepaskan aku!" teriaknya pada lelaki itu. Dia tersenyum kecut saat melihat lelaki itu yang tidak lain adalah suaminya.

"Bukankah, dia adalah gadis simpananmu itu? Apa sekarang kamu masih ingin mengelak?"

"Hentikan! Apa kamu tidak malu?" Lelaki itu berusaha menarik tangan istrinya. Dia melirik ke arah gadis itu yang kini telah berdarah di bagian sudut bibirnya.

Gadis itu menatapnya. Ada tatapan benci dan marah yang merasukinya. Dia beralih menatap wanita itu. "Kalau tidak mau suamimu berselingkuh, maka jaga dia. Berikan apa yang dia inginkan. Jangan salahkan wanita lain! Apa kamu pikir, aku suka dengan suamimu? Tanyakan padanya, apa yang sudah dia lakukan? Apa aku yang merayunya? Ataukah dia yang ternyata lelaki mata keranjang?"

"Apa katamu? Jadi, kamu menyalahkan suamiku?"

Gadis itu membuka celemek yang dipakainya dan membantingnya di atas meja. "Lalu, kamu ingin menyalahkanku? Apa kamu pikir aku tertarik dengan suamimu itu? Aku masih punya harga diri. Aku bekerja dengan cara halal. Kalau untuk mendapatkan uang dengan cara seperti itu, aku bisa mencari lelaki yang lebih kaya dari suamimu, tapi aku bukan perempuan seperti itu. Mulai saat ini, aku berhenti! Dan ingat, perhatikan suamimu karena dia tidak hanya menggodaku, tapi juga karyawan yang lain. Camkan itu!"

Gadis itu kemudian pergi. Dia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh. Rasanya terlalu sakit saat dipermalukan di depan banyak orang hanya karena fitnah yang ditujukan padanya.

Dia pergi dengan mengangkat wajahnya karena dia merasa tidak bersalah. Untuk apa dia harus menunduk jika tuduhan itu tidaklah benar? Namun, ketegarannya akhirnya runtuh saat dirinya keluar dari restoran. Di sudut halaman, dia terduduk sembari menangis.

Gadis itu menunduk dengan isak tangis yang terdengar pilu. Hatinya begitu sakit saat dituduh sebagai perebut suami orang. Padahal, dia tidak pernah melakukan hal sebejat itu.

Di antara isakannya, dia merasa sentuhan lembut di kepalanya. Sontak, dia mengangkat wajahnya.

"Kakak kenapa menangis?"

Gadis itu terkejut saat melihat seorang gadis

kecil yang berusia sekitar empat tahun berdiri di depannya. Gadis kecil itu bahkan menyeka air matanya.

"Kamu dengan siapa? Mana orang tuamu?" tanya gadis itu.

Gadis kecil itu menunduk sedih. "Aku datang bersama papa dan juga tante. Tadi aku ingin pipis dan tante mengantarku ke toilet, tapi saat aku keluar, aku tidak melihat tante lagi," jelasnya.

Gadis itu lantas membelai rambutnya. Gadis kecil itu sangat pintar dan menggemaskan. Untuk sesaat, dia terhibur dengan kehadiran gadis kecil itu.

"Ayo, Kakak antar cari papa dan tante, ya."

Gadis kecil itu mengangguk. Gadis itu lantas menggendongnya dan berniat untuk mencari ayah dan tante gadis kecil itu. Dia ingin masuk ke dalam restoran, tetapi dia enggan. Karena itu, dia meminta bantuan pada salah satu security untuk mencari tahu apakah ada pengunjung yang kehilangan anak.

Security itu lantas masuk dan menemui bagian informasi. Sementara gadis itu menunggu di luar. Tak lama, seorang wanita datang dan menarik gadis kecil itu dari gendongannya.

"Kamu mau menculiknya, ya?" tanya wanita itu dengan kasar. Sontak, gadis kecil itu pun menangis.

Seorang lelaki tiba-tiba datang menghampiri mereka.

"Papa," panggil gadis kecil itu yang kini menangis. Lelaki itu kemudian mengambilnya dari wanita itu.

"Ada apa ini? Kenapa Indah menangis?" tanya lelaki itu.

"Perempuan ini rupanya tak hanya pandai merayu suami orang, tapi dia juga pandai merayu anak kecil. Kalau tidak ada aku, Indah pasti sudah dibawa kabur olehnya. Ziyan, ayo laporkan dia pada polisi!" serunya dengan tatapan kebencian.

"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin menculiknya. Apa kamu pikir aku tega melakukan hal itu?"

"Ah, jangan banyak alasan! Gadis murahan sepertimu memang pantas untuk masuk penjara. Jangankan anak kecil, suami orang pun kamu tega mengambilnya."

Walaupun membela diri, nyatanya dia selalu disudutkan. Dia akhirnya memilih untuk pergi, tetapi wanita itu menarik lengannya dan melayangkan tamparan ke pipinya. Kembali dia harus merasakan nyeri dan panasnya pipi karena tamparan itu.

"Rina, sudahlah! Jangan buat masalah lagi. Lagi pula, Indah baik-baik saja," ucap lelaki yang bernama Ziyan itu.

"Tidak! Gadis sepertinya harus diberi pelajaran!"

Tiba-tiba, security datang menghampiri mereka. "Maaf, ada apa ini?"

"Pak, tangkap gadis ini! Dia hampir saja membawa kabur keponakanku," jawab Rina.

"Sepertinya ini hanya salah paham," ucap security itu.

"Apa maksudnya, Pak?" tanya Ziyan.

"Nona Amira tadi sudah melapor padaku kalau ada anak kecil yang lepas dari tantenya. Karena itu, dia meminta padaku untuk memberitahukan melalui ruang informasi, siapa tahu ada orang tua yang kehilangan anaknya,'" jelas security itu.

Lelaki yang bernama Ziyan itu terkejut. Dia lalu menatap gadis yang masih menunduk itu.

"Maafkan kami. Kami tidak tahu, kalau ...."

Gadis itu kemudian pergi. Dia tidak ingin mendengar penjelasan apa pun dari mereka. Hatinya sudah telanjur sakit karena tuduhan bertubi-tubi.

"Maafkan aku, Ziyan. Aku ...."

"Seharusnya kamu meminta maaf pada gadis itu. Kamu sudah salah sangka padanya. Lalu, kenapa kamu bisa terpisah dari Indah? Bukankah kamu bilang akan menjaganya?"

Wanita itu terdiam. Ziyan kemudian pergi meninggalkannya.

"Ziyan, aku bisa jelaskan semuanya. Aku tidak sengaja meninggalkan Indah karena aku ...."

"Sudahlah, Rina. Aku tidak bisa melanjutkan semuanya. Bagaimana bisa aku memercayakan putriku pada wanita yang tidak bisa menjaganya? Rina, Indah itu keponakanmu. Bagaimana bisa kamu seceroboh itu? Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan pernah memaafkanmu." Ziyan kemudian masuk ke mobilnya. "Kamu pulang sendiri saja. Aku pergi."

Lelaki itu kemudian melajukan mobilnya dan meninggalkan Rina yang terlihat marah dan kesal. Sementara Indah, duduk bersandar sambil memperhatikan ayahnya.

"Papa, apa Papa marah pada Indah?"

Ziyan lalu menghentikan mobilnya di sisi jalan.

"Tidak, Nak. Papa tidak marah pada Indah. Indah tidur saja, nanti Papa gendong kalau sudah sampai di rumah," ucapnya sambil mengecup dahi putrinya itu.

Tampak hujan gerimis membasahi jendela. Ziyan berniat untuk menutup jendela mobil, tetapi pandangannya tertuju pada seorang gadis yang belum lama ini dijumpainya.

"Itu kakak yang tadi 'kan, Pa?" tanya gadis kecil itu. Ziyan mengangguk.

"Kakak itu tadi juga menangis. Indah kasihan padanya. Padahal, Kakak itu sangat baik padaku. Tadi, saat aku menangis, Kakak itu memelukku dan akan mengantarkanku pada Papa, tapi Tante Rina datang dan memarahinya," jelas gadis kecil itu sambil menatap gadis yang duduk seorang diri di salah satu bangku taman.

Gadis yang bernama Amira itu sedang duduk menumpahkan tangisnya yang tertahan. Di depan orang, dia berusaha tegar walau hatinya hancur penuh luka. Dia berusaha tabah walau hatinya kini hancur berkeping-keping.

Bab 2

Ziyan masih menatapnya. Ada rasa bersalah saat melihat gadis itu menangis. Dia lantas ingin mendekati gadis itu, tetapi hujan turun semakin deras, hingga membuatnya tertahan.

Amira lantas pergi sambil berlari meninggalkan tempat itu. Dia menyusuri jalanan yang diguyur hujan lebat. Tanpa peduli dengan kondisinya yang kini telah basah kuyup.

Di kamar kostnya, Amira berbaring sekadar melepaskan lelah dan kegelisahannya. Dia menatap langit-langit kamar yang remang-remang.

"Ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa membahagiakanmu."

Air matanya seketika jatuh saat mengingat ibunya. Ibu yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit karena penyakit yang menderanya.

Amira, gadis berusia 23 tahun itu terlihat sedih. Di usianya yang masih muda, dia harus menanggung beban kehidupan yang cukup berat. Ibunya menderita sakit yang memaksanya untuk mencari uang. Biaya pengobatan ibunya membuatnya harus bekerja siang dan malam. Bahkan, untuk mengurus keperluannya saja dia tidak sempat.

Amira memiliki wajah yang cantik. Karena itulah, mantan bosnya yang memiliki restoran sangat menginginkannya. Dia dirayu dengan segala macam cara agar bisa menjadi kekasih gelap lelaki itu.

Walau sudah menolak, tetapi lelaki mata keranjang itu sama sekali tidak memedulikan penolakannya. Bahkan, dia melapor pada istrinya kalau Amira-lah yang merayunya. Karena itu, wanita pemilik restoran itu marah besar padanya.

Amira mengembuskan napas dengan kasar. Setidaknya, hanya itu yang bisa dilakukan untuk menenangkan hatinya. Tak lupa, dia selalu berdoa pada Sang Khalik agar selalu diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ujian dari-Nya.

Sementara itu, Ziyan baru saja menidurkan putrinya. Dia lalu duduk di ruang kerjanya sambil menatap foto seorang wanita yang sedang tersenyum. Wanita yang mengenakan gaun pengantin sembari menggandeng tangan mempelai pria yang tidak lain adalah dirinya.

"Rani, aku merindukanmu," ucapnya lirih.

Dia menyentuh foto itu dengan lembut. Kenangan bahagia di masa lalu kembali hadir. Kenangan yang membuatnya sulit untuk menemukan pengganti.

Rani adalah istrinya yang empat tahun lalu meninggal dunia karena melahirkan buah cinta mereka. Wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta dengan kelembutan dan juga kecantikannya.

Mereka bertemu dan berpacaran selama dua tahun dan memutuskan untuk menikah. Namun, kebahagiaan mereka dalam mengarungi rumah tangga hanya berlangsung satu tahun saja. Karena tidak lama, istrinya meninggal dunia.

Tak terasa, air matanya jatuh saat mengingat istrinya itu. Dan kini, dia dihadapkan pada permintaan mertuanya untuk menikahi adik kembar Rani yang tidak lain adalah Rina. Namun, hati kecilnya menolak karena dia sama sekali tidak menyukai adik iparnya itu.

Kedua wanita itu memang memiliki wajah yang identik. Namun, sifat dan perangai keduanya sangat jauh berbeda. Rani sangat lembut dan perhatian. Sementara Rina, sangat susah diatur dan tentu saja kurang menyukai anak-anak. Karena itu, Ziyan sudah berniat untuk menolak permintaan mertuanya.

Keesokan harinya, Amira menjenguk ibunya di rumah sakit. Wanita itu terlihat lemah.

"Bu, aku datang," ucapnya sambil menggenggam tangan ibunya. Wanita paruh baya itu hanya diam karena dia telah dinyatakan koma sejak dua hari yang lalu.

"Ibu baik-baik saja, kan? Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Aku akan mengeluarkan Ibu dari sini dan kembali ke rumah. Aku ingin merasakan masakan Ibu lagi."

Amira menahan air matanya. Rasanya begitu sakit saat melihat orang yang disayang lemah tak berdaya.

Setiap pagi, Amira selalu datang menemui ibunya untuk membersihkan wajah dan tubuhnya. Setelah itu, dia harus pergi bekerja untuk mengumpulkan uang. Biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Dia optimis kalau suatu saat nanti, ibunya bisa kembali pulih dan tinggal bersamanya lagi.

Pagi ini, dia harus mencari pekerjaan baru. Selama bekerja di restoran, gajinya belum cukup untuk menutupi biaya rumah sakit. Karena itu, dia menyusuri setiap jalan dan bertanya pada beberapa toko atau kafe yang membutuhkan karyawan. Namun, selama sehari itu dia hanya mendapat penolakan demi penolakan. Keesokan harinya, dia melakukan hal yang sama. Namun, lagi-lagi dia harus kecewa.

Di bangku taman, Amira duduk sambil memperhatikan selembar kertas. "Mohon selesaikan semua tunggakan ini. Jika tidak, dengan berat hati, ibumu akan dikeluarkan dari rumah sakit," ucap dokter padanya sesaat sebelum dia pergi.

Amira merasa putus asa. Dia merasa takdir terlalu kejam padanya. Di saat dia berlaku jujur, orang-orang malah menuduhnya dengan keji.

"Apa aku harus benar-benar melakukannya agar mereka puas? Apa salahku hingga takdir begitu kejam padaku?"

Dia menangis meratapi nasib diri. Tidak ada tempat baginya untuk meminta bantuan. Walau tak jemu memohon dan meminta pada Sang Pencipta, nyatanya cobaan demi cobaan selalu saja menghampirinya. Dia kini lelah. Dia putus asa.

Dengan langkah tak pasti, dia berjalan menyusuri jalanan yang ramai, tetapi baginya terasa sepi. Hingga tiba-tiba, dia terkejut saat seorang gadis menepuk pundaknya.

"Amira! Kamu Amira, kan?"

Amira menatapnya sesaat. "Maaf, apa kamu mengenalku?"

"Aku Irene. Apa kamu lupa? Kita 'kan satu sekolah waktu SMA dulu," jelas gadis itu.

Amira menatapnya sekadar mencari kebenaran dari ucapan gadis itu. "Ah, aku ingat," jawab Amira sambil tersenyum.

"Kamu mau ke mana?" tanya gadis itu.

Amira hanya tersenyum kecut. "Aku ...."

"Apa kamu sudah bekerja?" tanya gadis itu lagi.

"Aku ...."

Gadis itu lantas tersenyum. "Apa kamu sedang mencari pekerjaan?"

Amira lalu mengangguk pelan.

"Apa kamu mau bekerja di tempatku? Aku memiliki sebuah kafe. Dengan wajahmu yang cantik, aku rasa tamu-tamuku akan senang," ucapnya pada Amira.

Mendengar tawaran kerja, Amira mengangguk. Dia lantas mengikuti Irene menuju ke sebuah tempat.

Sebuah kafe dengan dekorasi yang unik menjadi tujuan mereka. Kafe itu terlihat ramai, tetapi bukan kafe yang menjadi tujuan bagi anak-anak muda. Kafe itu disediakan khusus untuk para eksekutif muda yang ingin bersenang-senang ataupun ingin membicarakan bisnis mereka.

Amira lantas dibawa ke salah satu ruangan. Irene menyodorkannya seragam yang harus dikenakan saat bekerja. "Gunakan pakaian ini. Aku akan membayarmu di muka. Karena kita berteman, aku tidak ingin menyulitkanmu."

Gadis itu memberikannya uang sebesar lima juta rupiah. Amira terkejut.

"Ambillah, itu gajimu. Kamu bisa mendapatkan lebih dari tamu-tamuku. Karena itu, kamu harus selalu tersenyum. Mengerti!"

Amira mengangguk. Irene kemudian pergi. Amira memegang uang lima juta itu sembari tersenyum. Setidaknya, biaya rumah sakit bisa terselesaikan.

Setelah mengenakan seragam, Amira lantas keluar menuju ruangan di mana terlihat ramai dengan pengunjung.

Ternyata, itu bukan hanya kafe, tetapi juga menjadi tempat karaoke. Banyak pengusaha yang datang ke sana.

Setelah Irene menjelaskan tentang tugasnya, Amira lantas mulai bekerja. Dia membawa sebuah nampan yang berisi beberapa kaleng minuman dingin ke salah satu meja. Dia menganggap pekerjaannya kali ini sama seperti sebelumnya. Hanya menjadi pelayan dan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik. Namun, semua itu berbanding terbalik. Seorang lelaki dengan mudahnya menyentuh bagian belakang tubuhnya. Tak terima, Amira lantas menamparnya.

Bab 3

Mendapat tamparan, lelaki itu geram. Dia lantas ingin membalas tamparan Amira, tetapi Irene datang dan menahannya.

"Maafkan dia, Pak. Dia baru bekerja di sini. Jadi, dia belum tahu dengan situasi di tempat ini," jelas Irene.

Lelaki itu menatap Amira dengan kesal. "Untung ada Irene, kalau tidak aku akan menghajarmu," ucap lelaki itu sambil menyentuh pipi kirinya yang ditampar Amira.

Irene lantas membawa Amira ke ruangannya. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menamparnya?" tanya Irene marah.

"Dia telah menyentuhku. Itu pelecehan!"

Irene tersenyum sinis. "Amira, jangan membuatku tertawa. Di tempat ini, itu hal yang biasa. Mereka itu adalah mesin pencetak uang buat kita. Jika pelayananmu bagus, mereka akan memberikanmu uang. Bahkan, kamu bisa menjadi wanita mereka. Apa kamu tidak mengerti akan hal itu?"

Ucapan Irene membuat Amira merasa kalau dirinya telah salah langkah. Dia terduduk memikirkan nasib diri yang kini berada dalam dunia yang sangat berbeda. Dunia yang ingin dihindarinya.

"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berada di lingkungan kerja seperti ini? Kalau aku meninggalkan tempat ini, apa aku bisa mendapatkan pekerjaan untuk membayar biaya rumah sakit ibu?" batin Amira dalam kebimbangan.

Amira dihadapkan pada pilihan yang sulit. Hati kecilnya ingin dia pergi meninggalkan tempat itu. Namun, akalnya masih mengharapkan pekerjaan yang belum tentu bisa dia dapatkan setelah pergi dari tempat itu.

Dengan berat hati, dia kembali memulai pekerjaannya. Kali ini, dia bertekad untuk menjaga dirinya. Dia tidak akan terjerumus seperti karyawan yang lain.

Gadis-gadis itu begitu senang saat dipeluk oleh lelaki yang berpenampilan necis dengan dompet yang tebal. Amira hanya tersenyum miris saat melihat mereka diajak keluar entah ke mana.

Sebagai karyawan baru, dia belum terlalu paham dengan keadaan tempat itu. Namun, hari demi hari dia makin menyadari kalau tempat itu tak lebih seperti sebuah tempat pelacuran berkedok kafe.

Sudah hampir sebulan Amira bekerja di tempat itu. Sebaik mungkin, dia memberikan pelayanan yang wajar. Walau dia menyadari, tidak semua pelanggan memiliki tujuan yang buruk saat berkunjung ke sana. Bahkan, ada beberapa orang yang dengan tulus memberikan tip padanya.

"Ambil uang ini. Sayang, gadis baik sepertimu harus bekerja di tempat ini," ucap salah satu pelanggan sambil memberikan beberapa lembar uang padanya.

Amira lalu menerimanya seraya tersenyum.

"Terima kasih, Pak."

Lelaki paruh baya itu mengangguk dan beranjak pergi. Amira tersenyum melihat uang itu. Setidaknya, uang yang dihasilkannya selama ini hampir mencukupi untuk membayar biaya pengobatan ibunya.

"Bagaimana, kerja di tempatku enak, bukan? Aku perhatikan, kamu mulai disukai oleh pelangganku. Ternyata aku tidak salah mengajakmu bekerja di sini," ucap Irene sambil duduk di salah satu kursi.

Amira hanya tersenyum. "Terima kasih, tapi aku tidak akan bekerja di sini dalam waktu yang lama. Aku ingin mencari pekerjaan lain. Maaf, aku tidak ingin menyinggungmu, tapi ...."

"Aku mengerti. Ah, sudahlah. Lakukan saja apa maumu." Irene lantas bangkit dan meninggalkan Amira.

Saat waktu luang, Amira berusaha mencari pekerjaan lain. Dia tidak ingin bekerja di kafe selamanya. Dia merasa kalau pekerjaan itu tidaklah cocok untuknya. Walau begitu, dia hanya bisa bersabar karena penghasilan dari sana sangat menggiurkan. Namun, hati kecilnya selalu berontak dan ingin meninggalkan tempat itu.

Walau sudah mencari pekerjaan, nyatanya nasib baik belum juga menghampirinya. Dengan hanya bermodalkan ijazah SMA, dia tidak mungkin bisa mendapatkan pekerjaan kantoran.

Amira duduk di bangku taman sambil memperhatikan buku tabungannya. Yang tersisa hanya beberapa ratus ribu saja. Dia juga sudah berusaha menghemat. Bajunya hanya beberapa lembar dan tidak pernah membeli yang baru. Beruntung, Irene memberikannya beberapa potong baju.

Amira sudah membayar tunggakan biaya rumah sakit dari uang pemberian Irene dan tip dari pelanggan. Itu pun masih kurang. Bahkan, dia tidak merasakan uang hasil jerih payahnya sendiri. Semuanya habis untuk biaya rumah sakit ibunya. Walau begitu, dia tidak mengeluh. Semua dilakukannya dengan ikhlas sebagai bakti pada wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya sejak lahir ke dunia.

Saat ini, Amira tengah bersiap di ruang ganti. Dia ditugaskan untuk melayani pelanggan yang akan datang untuk mengadakan pertemuan di sana.

"Kamu harus melayani mereka dengan baik. Mereka adalah para pengusaha muda. Ingat, jangan ceroboh," ucap Irene mewanti-wanti.

Bersama dua orang gadis lainnya, Amira menyuguhkan beberapa pesanan. Di dalam ruangan khusus, pertemuan itu dilaksanakan. Sudah ada dua orang lelaki di tempat itu. Sepertinya, mereka masih menunggu salah satu teman yang masih dalam perjalanan.

"Kalian bertiga jangan keluar dari sini. Aku ingin kalian melayani kami," ucap salah satu lelaki pada Amira dan dua temannya.

"Baik, Pak!" jawab dua gadis dengan kompak. Sementara Amira hanya diam.

"Hei, kamu dengar 'kan apa yang aku bilang tadi?" tanya lelaki itu pada Amira.

"Iya, Pak!"

Lelaki berusia tiga puluh tahunan itu menatap Amira. Dia memperhatikan Amira saat menghidangkan beberapa pesanan di atas meja. "Ternyata dia sangat cantik. Malam ini aku harus bisa bersamanya," batinnya dengan tatapan tak biasa.

"Maaf, aku terlambat," ucap seorang lelaki yang baru saja datang.

"Ah, silakan duduk. Tidak apa-apa, Pak. Itu tidak jadi masalah," jawab seorang lelaki seraya tersenyum ramah.

Lelaki yang baru datang itu lantas duduk. Dia melihat hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Dia tersenyum.

"Jadi, apa kita bisa mulai pembicaraan kerjasamanya?" tanya seorang lelaki sambil mengeluarkan sebuah map.

"Baiklah, kita mulai," jawab lelaki yang baru datang. Dia lantas membaca lembaran yang ada di dalam map. Kepalanya tampak manggut-manggut saat membaca kata demi kata di kertas itu. Tak lama, dia pun meletakkan map di atas meja.

"Baiklah, aku setuju dengan kerjasama kita. Aku akan menandatanganinya sekarang."

Tanpa ragu, dia lantas menandatangani lampiran kerjasama antar dua perusahaan. Kedua lelaki itu tersenyum lebar saat lelaki itu menyetujui kerjasama mereka. Setelah selesai, ketiga gadis lantas dipersilakan untuk ikut bergabung.

"Maaf, tapi aku tidak butuh dengan pelayanan ini." Lelaki itu menolak halus saat rekan kerjanya menawarkan seorang wanita padanya. "Karena urusannya sudah selesai, maka aku akan pergi," lanjutnya sambil menyimpan surat perjanjian kerjasama di dalam tasnya.

"Kenapa buru-buru? Kita nikmati saja malam ini. Apa Bapak tidak suka gadis-gadis ini? Aku akan meminta untuk membawakan gadis yang lebih cantik dari mereka."

"Tidak perlu!"

Lelaki itu lantas bangkit dan berniat pergi. Akan tetapi, langkahnya tertahan saat mendengar suara seorang gadis yang menolak saat disentuh. Sontak, dia pun berbalik. Tatapan matanya tertuju pada Amira yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman salah satu rekan bisnisnya.

"Apa kamu ingin dia menyentuhmu?" tanyanya pada Amira. Amira lantas menggeleng. "Lepaskan dia! Jangan buat malu di tempat ini," lanjutnya sambil menatap lelaki itu.

Lelaki itu tersenyum sinis. Dia kemudian melepaskan tangan Amira dengan kasar.

"Jangan munafik! Bukankah, kamu juga menginginkannya? Katakan saja, jangan malu. Empat tahun menduda bukanlah perkara gampang. Seharusnya, kamu ...."

"Cukup!"

Lelaki itu terdiam. Dia menatap wajah lelaki yang berdiri di depannya dengan lekat.

"Ah, untung saja aku belum beranjak dari tempat ini. Jadi, aku bisa tahu kelakuan rekan bisnisku yang tidak bermoral. Baiklah, aku rasa kerjasama kita berakhir sampai di sini."

Tanpa ragu, dia lalu merobek kertas perjanjian mereka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED