Bab 1

Bab 1

"Apa? Kamu mau ikut ke acara ulang tahun perusahaan! Jangan mengada-ada. Nggak sadar apa, badan mu berlemak di mana-mana. Yang ia aku malu! Sudahlah! urus saja rumah dan jaga Anggia!" cerocos Ryan tanpa memikirkan perasaanku kala itu, dengan wajah kesal diiringi senyum cemooh.

Ya, setelah melahirkan Anggia anakku, aku lebih memilih memberi Anggia ASI dari pada minum susu formula. Inilah yang membuat nafsu makanku tak bisa terkontrol, akibatnya berat badanku naik diikuti perubahan bentuk tubuhku yang langsing menjadi sebesar karung beras.

Aku harus fokus merawat, memberi asi dan membesarkan anak kami Anggia dengan tanganku sendiri. Bahkan untuk memasak dan membersihkan rumah besar ini pun kulakukan sendiri disela-sela Anggia tertidur. Dengan alasan masakan dari tangan istri lebih nikmat, karena dimasak dengan cinta. Kata-kata mutiara itu yang membuatku terbuai dan mau melakukan semua ini sendiri. Bodohnya aku!.

Padahal, bukannya aku nggak sanggup membayar baby sister satu atau dua orang untuk menjaga anakku, namun keinginan Mas Ryan yang ingin anaknya diasuh dan dididik olehku sendiri tanpa campur tangan baby sister. Aku yang dasarnya istri yang penurut merasa senang diberi kepercayaan besar seperti itu, meski kutahu akan terasa sangat merepotkan. Bodohnya aku kala itu, yang begitu mencintainya dan membuatnya berlindung dari harta kekayaan orang tuaku.

Rupanya itu semua hanya alasan dan rencana busuknya saja, agar aku tetap berada di rumah dan ia dengan leluasa bertindak semaunya dengan uang dan aset perusahaan yang dibangun orangtuaku dengan susah payah. la hanya meneruskan saja tanpa harus bekerja keras memutar otak bagaimana perusahaan bisa maju dan berjalan terus. Ia lakukan itu agar bisa leluasa bermain dengan kenikmatan dan kemewahan yang kuberi untuknya.

Untungnya, aku tak pernah melepas

pengawasanku terhadap perusahaan begitu saja. Sesuai amanat papaku dahulu.

"Bagaimanapun dan apapun alasannya jangan terlalu mudah percaya begitu saja, meski ia adalah pasanganmu." Ternyata, ucapan almarhum Papa ku terbukti.

Dengan bantuan orang dalam yang masih menjadi tangan kananku, akhirnya aku harus menelan pil pahit saat mendapat kabar tentang perselingkuhannya. Sesaat lalu duniaku terasa runtuh mendengarnya. Lutut ku bergetar dan air mata keluar deras dari kedua netra yang membulat saat mendapatkan kiriman Vidio suamiku duduk mesra dengan seorang wanita yang tidak terlihat jelas wajahnya karena dihalangi pot bunga besar, di cafe yang digunakan sebagai pajangan semata. Air mataku lolos begitu saja membasahi pipi yang memang belum sempat tersentuh make up.

Bisa saja aku bertanya pada orang kepercayaan ku itu, siapa wanita simpanan suamiku. Tapi kala itu aku kalut dan syok. Hingga aku lupa menanyakannya.

Sakit hatiku kala itu jangan ditanya. Dunia ku seakan berhenti berputar, cinta yang ku jaga dan dia yang ku puja berubah menjadi rasa benci yang membuncah. Laki-laki bergelar suami itu berhasil meluluh lantakkan semuanya. Terlalu dalam luka ini, luka tak berdarah tetapi meradang parah.

Pantas saja, dua bulan belakangan ini suamiku sangat berubah. Tak ada kecupan mesra atau ucapan manis yang keluar dari bibirnya saat berangkat kerja maupun disaat bangun pagi, seperti dulu. Tatapan yang dulu teduh kini bagai belati yang siap menghujam ke arahku setiap waktu. Bahkan kini, selalu cemoohan dan umpatan kasar yang membuat indera pendengaran ku panas dan sesak dihati.

Aku akan diam saja? Tentu tidak. Akan ku buat ia dan selingkuhannya itu menyesal sampai nangis darah. Aku nggak akan bersikap bar-bar pada suami pengkhianatku itu. Akan kucari tau, siapa wanita yang membuatmu melupakan janji suci pernikahan kita. Aku akan bermain cantik membalas dendam sakit hatiku dikhianati.

***

Ku pandangi tubuh tinggi tegap, berbadan elastis dengan rambut klimis yang selalu tersentuh Pomade. Jam tangan bermerk hadiah yang kuberikan saat ulang tahun pernikahan kami yang pertama melingkar di pergelangan tangannya, gaya yang dulu sederhana kini terlihat parlente. Kini suami pengkhianat ku sedang tertidur pulas dikamar tamu. Ya, sudah hampir empat Minggu ia lebih memilih tidur di kamar tamu.

Akhir-akhir ini setiap ucapannya berhasil membuat indera pendengaran ku panas saat mulutnya dengan mudah menghina bobot tubuhku yang dijadikannya alasan nggak betah berlama-lama di rumah. Ya, bayangan Vidio perselingkuhan suamiku kembali melintas di pikiranku.

Ku menghela napas panjang, mengingat kejadian beberapa jam lalu. Setelah buang air kecil jiwa kepoku berontak, ingin mengintip kekamar sebelah apa suamiku itu sudah pulang atau belum.

Aku keluar kamar menuju kamar tamu di sebelah kamarku. Ku buka pelan pintu kamar tamu. Kini lelaki itu sudah teronggok tidur disana. Entah jam berapa ia tiba di rumah. Aku tidak tahu. Suami pengkhianat ku itu leluasa keluar masuk rumah peninggalan orangtuaku yang kini kami tempati karena ia juga memiliki kunci duplikat yang sengaja dibuat. Katanya dulu, agar tidak mengganggu aku tidur saat ia pulang larut malam.

Sudah tak ada lagi saling bicara atau komunikasi seperti dulu, aku dan Mas Ryan bagai orang asing di rumah tangga kami.

Teringat akan Vidio kiriman orang kepercayaan ku kemaren. Tak terasa air mata bening meluncur begitu saja di pipi. Ku usap cepat air bening yang sempat singgah di wajah yang jarang tersentuh make up dan skincare. Bukan nggak sanggup membeli, hanya kadang nggak sempat menyapukannya di wajah karena badan yang terlalu lelah.

Ponsel pintarnya teronggok di atas nakas sebelah ranjang tidurnya. Jujur, aku penasaran isi pesan WhatsApp dan siapa saja yang menghubunginya. Ponsel pintar itu seakan menggodaku untuk terus melihat isi dalamnya.

Ku beranikan diri menyambar ponsel suami pengkhianat ku itu, dengan langkah pelan aku bawa keluar ponselnya. Dengan mudah ku buka kunci layar ponsel, karena memang aku yang dulu membuatkannya.

Layar depan yang dulu adalah potret pernikahan ku dan Mas Ryan. Kini berubah menjadi potret dirinya yang berdiri gagah di depan mobil Fortuner milikku. Aku hanya bisa mendengus kesal.

"Akan ku urus nanti saja yang ini," lirihku.

Aplikasi berlogo hijau sasaran utama ku. Nama tak asing bertengger paling atas di aplikasi WhatsApp dilayar ponsel suamiku bahkan tersematkan. Syntia Darling' nama depan yang cukup familiar dimata dan ingatanku.

Jantungku berdegup kencang. Nafasku sesak. Tapi aku aku harus bertindak cepat sebelum suamiku sadar kalau ponselnya berpindah tangan. Ia terlihat menggeliat, membelakangi ku dan memeluk guling. Dadaku sempat kembang kempis, karena takut kepergok.

Suami tampan yang ku angkat derajatnya ternyata sedang bermain api di belakangku. Parahnya lagi ternyata perempuan selingkuhannya adalah sahabat yang ku angkat derajatnya dari kemiskinan. Kedua manusia sampah itu, seakan lupa siapa aku ini?.

Tanganku mengepal kuat, dadaku terasa bergemuruh, sungguh tidak menyangka suami yang ku puja dan kucinta ternyata berselingkuh dengan sahabatku sendiri. Sahabat yang sudah seperti saudara buatku. Sahabat tempat aku berkeluh kesah. Ternyata.....

Bab 2

Hati yang sakit tidak membuat aku lupa berpikir. Aku tersenyum sinis saat ide di kepala tiba-tiba muncul begitu saja. Aku meng_kloning isi ponselnya.

Ku pastikan ia masih terlelap, aku buru-buru mengeluarkan ponsel yang ada disaku baju tidurku. Meng_kloning serta menyalin nomor verifikasi dan berhasil. Aku lega karena aksiku berhasil sebelum manusia brengs*k dihadapanku ini terjaga dari tidurnya.

Aku tersenyum sinis, meletakkan kembali ponsel pintarnya dan meninggalkan kamar tamu dengan rasa yang campur aduk. Ku tutup pelan pintu kamar hingga tertutup rapat. Kembali ke kamarku dan melihat anakku masih tertidur pulas.

Sedih, tak kupungkiri itu yang kurasa saat melihat tubuh mungil anakku tertidur pulas. Tubuh kecil yang belum tahu apa-apa, harus menerima takdir yang begitu tak adil buatnya. Disaat anak-anak lain mendapatkan kasih sayang penuh dari sosok ayah. Anggia malah tak tersentuh sekalipun kasih sayang yang harusnya ia dapatkan. Dimana anak perempuan lebih dekat dengan sosok ayah yang menjadi cinta pertamanya. Sayangnya laki-laki bergelar suami sekaligus ayah itu kini sedang dibutakan oleh nikmat dunia yang salah arah.

Aku menarik napas panjang, meredam amarah dan mengendalikan emosi agar tak sampai merajai diri.

**

Namaku Alexa Wardana. Memilih menikah dengan pria pilihanku Ryan Gunawan. Cinta butaku padanya menuntunku menjadi istri yang penurut, entah karena aku terlalu cinta atau terlalu oon untuk mengetahui kebusukannya di belakangku.

Aku anak tunggal, orang tuaku merupakan pemilik salah satu perusahaan Kontraktor yang cukup ternama di kota kelahiran ku. Sepeninggal mereka karena suatu peristiwa kecelakaan tunggal membuatku menjadi yatim piatu. Di balik kesedihanku kala itu, rasa syukur juga ada karena saat itu aku sudah menikah dengan pria pilihanku Ryan Gunawan.

Matahari pagi masuk dari sela-sela gorden kamar. Pagi ini aku sudah mandi begitupun anakku Anggia. Mas Ryan suamiku, jangan ditanya. Sudah bangun atau belum, aku nggak mau tahu, karena dia tidur di kamar tamu.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Aku keluar dari kamar setelah memberi Anggia ASI. Anakku sangat baik lakunya. Setelah minum ASI ia kembali tertidur di ranjangnya.

Aku keluar kamar, menuju dapur membuat roti bakar dan susu pelancar ASI. Secangkir teh panas sudah lebih dulu aku letakkan di atas meja makan untuk suamiku. Karena bagaimanapun melayaninya masih tugasku sebagai istri.

Ku jatuhkan bobot tubuhku ke kursi makan. Menikmati sarapan pagi yang ku buat untuk diriku sendiri.

Mungkin kalian bertanya, kenapa nggak buatkan untuk suami juga?

Percuma, tidak akan ia sentuh dan hanya akan menjadi mubasir terbuang.

"Alexa! Kenapa tidak kau bangunkan aku, hah! Padahal pagi ini aku ada janji dengan klien. Dasar istri tidak berguna!" Pekiknya dengan tergesa-gesa keluar dari kamar tamu, suami pengkhianat ku sudah mengenakan pakaian kerja yang memang sudah ia angsur pindahkan dari kamar utama ke kamar tamu yang kini ia tempati.

Aku tak lagi terkejut bila ia berteriak seperti itu. Aku sudah kebal dengan mulutnya kini, hingga teriakannya tidak terlalu ku anggap. Dengan santai aku tetap melahap sarapan di meja makan. Menikmatinya hingga habis dan perutku terasa kenyang.

"Kau budeg, ya!" matanya nyalang melihat ke arahku.

"Maaf, Mas. Aku juga baru terbangun," ucapku bohong dan tak memperlihatkan rasa bersalah.

"Kau...."

Ucapannya terpotong karena nada dari pesan WhatsApp dari ponselnya berdering berkali-kali.

Perhatiannya teralih pada ponsel pintar di tangannya. Wajahnya yang tadi tanpak kesal padaku, berubah melunak setelah pandangan terfokus pada layar ponsel yang sedang ia lihat.

Bibirku terangkat sebelah keatas, memutar bola mataku malas.

"Pasti gundiknya yang mengirim pesan." umpat ku dalam diam.

Tanpa menyentuh teh panas yang sudah kubuatkan untuknya, suamiku itu berlalu begitu saja. Meninggalkan ku seolah tidak menganggap ku ada.

Suara deru mesin mobil terdengar meninggalkan halaman rumahku. Memastikan laki-laki itu sudah menjauh, aku mengeluarkan ponsel pintar dari saku celana. Ku usap layarnya menuju aplikasi WhatsApp yang ku cloning.

"Mas, kok lama sih. Katanya mau jemput aku." Isi pesan gundiknya.

"Iya sayang, nih Mas udah mau jalan. Tunggu ya." Jawaban dari si bajing*n itu.

"Ku tunggu ya, aku dah dandan cantik nih! Sekalian kita cari sarapan pagi di tempat biasa ya, see you."

Sumpah, aku merasa jijik. Ku buka semua pesan yang sudah terbaca. Menunjukkan fakta yang mengejutkanku. Selain tergiur akan harta yang kupunya, ternyata bentuk dan bobot tubuhku lah yang menjadi alasan untuknya berselingkuh.

Suami tampan yang ku angkat derajatnya selain bermain api di belakangku, menduakan cintaku dan berusaha merebut semua warisan peninggalan orang tuaku.

Ternyata! Dia tak sendiri. Dibantu sekretaris yang tak lain juga selingkuhannya, sahabat karibku. Mereka bermain dengan keuangan perusahaan, selain sahabatku menjadi duri dalam daging di tengah rumah tanggaku, wanita itu juga musuh dalam selimut di hidupku. Entah siapa yang mulai lebih dahulu, namun yang pasti, namanya pengkhianat dan sampah bagaimanapun baunya akan tercium juga.

Pesan mesra mereka, ku screenshot untuk bukti dimeja hijau saat mengajukan perceraian nanti. Permainannya yang memanipulasi data keuangan juga akan ku jadikan bukti untuk menjebloskannya ke dalam bui. Sementara Sintya, akan ku depak dia dari perusahaan ku agar kembali menjadi gembel, akan ku buat namanya masuk daftar hitam, agar tidak bisa diterima diperusahaan manapun.

Tanpa pikir panjang, ku hubungi orang kepercayaan Papa. Tanpa sepengetahuan Ryan, aku meminta Om Wijaya yang merupakan tangan kanan orangtuaku hingga saat ini, memindahkan kembali nama hak kuasa kepemilikan perusahaan kembali menjadi namaku Alexa Wardana. Anak tunggal dari Tio Wardana yang merupakan pemilik perusahaan yang sebenarnya.

Setelah sedikit berbasa basi, aku utarakan tujuanku menghubunginya.

"Satu lagi Om, tolong carikan dua Asisten Rumah Tangga dan Baby Sister, kirim segera kerumah," pintaku pada Om Wijaya.

"Baik. Akan Om urus semuanya. Kapan mau beraksi," tanyanya lagi.

"Aku butuh waktu tiga Minggu, masih ada yang ingin ku kerjakan Om. Sementara itu, Om persiapkan semuanya. Jangan sampai ada yang tahu. Aku ingin memberi kedua pengkhianat itu mendapat kejutan dariku."

Sambungan telepon seluler pun putus.

Tidak sampai setengah hari, tiga orang yang ku pinta, sudah diantarkan supir Om Wijaya ke rumahku. Satu khusus membersihkan rumah, yang satunya khusus di dapur dan satu lagi sebagai baby sister tambahan untuk Anggia yang mulai aktif.

Aku tersenyum puas dengan mata menyipit.

"Kau lupa siapa aku, Mas?"

Asisten rumah tangga dan Baby Sister sudah menjalankan tugasnya masing-masing sesuai bidangnya.

Bab 3

Bab 3

Karena Ryan pergi pagi dan pulang sampai tengah malam bahkan sering juga tak pulang, membuatnya tak menyadari adanya orang yang bekerja di rumah.

Aku juga memberi arahan pada kedua Asisten Rumah Tangga dan Baby Sister, agar jangan menampakkan diri sebelum suamiku berangkat kerja atau selama suamiku berada di rumah. Agar rencana balas dendam ku tak terbaca oleh suamiku. Tiga Minggu berlalu tanpa terasa.

Selama itu pula aku olah raga rutin, senam, lari pagi dan yoga. Makanan yang masuk ke dalam perutku pun dalam pengawasan ahli gizi yang membantuku untuk dapat menurunkan berat badan. Aku pun mulai rajin kesalon dan skincare_an.

Aku mematut diri di depan cermin dan tersenyum puas, melihat perubahan drastis penampilan dan berat badanku. Meski belum mencapai hasil maksimal tapi sudah lumayan cukup untuk membuat dua manusia pengkhianat itu support jantung.

Aku tersenyum puas dengan mata menyipit. Ku pastikan suamiku itu akan menyesal telah menduakan ku dan menghina bobot tubuhku.

Drrrt

Drrrt

Suara ponsel yang kuletak di atas ranjang berdering minta di angkat.

Ternyata orang kepercayaan ku mengabarkan kalau beliau baru mengirimkan suara rekaman antara Sintya dan Ryan, yang nggak sengaja terdengar olehnya dari balik pintu ruangan utama suamiku, ruangan yang dulu sempat ku tempati saat masih memimpin perusahaan sebelum jabatan ku serahkan pada suami bejad ku tersebut.

"Mas, mau sampai kapan aku menunggumu menceraikan Alexa? Aku ingin menjadi wanitamu satu-satunya," terdengar suara manja Sintya.

"Sabar sayang! Aku masih butuh waktu sebentar lagi. Lagipula, aku kan sudah hampir dua bulan ini tak lagi menyentuh Alexa. Ya, walau sepertinya dia sedang berusaha menurunkan berat badannya. Tapi aku sudah nggak berselera menjamahnya. Jangan buru-buru, nanti dia curiga. Aku akan menguras semua uang perusahaan pelan-pelan. Setelah itu kita akan pindah keluar kota dan menikah," ujar Ryan dengan percaya diri, tanpa menyadari ada yang merekam pembicaraan mereka.

Sintya sahabatku bukannya senang dengan apa yang ku lakukan untuk menurunkan berat badan, malah ia jelas-jelas mencemooh.

"Apa! Alexa diet agar kurus! Yakin banget dia bakal berhasil. Kalau udah bongkar mesin, ya tetap bakal gembrot seperti karung beras," ucapnya seiring suara tawa mengejek keluar dari mulut sahabatku itu.

Suami yang seharusnya menjaga dan menutup aibku pun malah ikut tertawa. Membuat nyeri dan sakit hati di dada ini. Sungguh, laki-laki itu sudah bergeser otaknya.

Namun suara tawa itu seperti di sumpal dengan perbuatan tak pantas yang mereka lakukan di ruang kerja suamiku. Karena dari rekaman tersebut sekilas terdengar desahan manja.

"Jangan disini, nanti ada yang melihat Mas. Kita ke Hotel aja yuk," pinta Sintya dengan tak tahu malu.

"Ok, lagipula pekerjaan sudah selesai semua, tak apalah meninggalkan kantor sejam dua jam. Ya, kan sayang," ujar Ryan seolah mendukung kelakuan bejad mereka.

"Kita ke Hotel Amartha saja, gimana? Maukan?" Ajak Sintya lagi.

Aku yakin suamiku itu setuju akan permintaan wanita murahan itu. Karena setelah itu yang terekam adalah suara gresek-gresek dan derap langkah kaki ikut terdengar diakhir Vidio, menandakan Pak Saipul yang merekam suara tersebut menjauh dari depan ruangan Ryan yang akan keluar untuk melanjutkan perbuatan busuk mereka disebuah tempat.

Kalau dulu, saat pertama kali mengetahui ia berkhianat, aku menangis sejadi-jadinya, sampai-sampai nggak selera makan bahkan cenderung mengurung diri di dalam kamar. Tapi untungnya itu tidak berlangsung lama, hanya tiga hari aku meluapkan kekesalan, rasa kecewa, sakit hati dan murka karena kepercayaanku di khianati dan disalahgunakan. Hatiku sakit dan meraung meratapi diri. Berpikir akan dibawa kemana rumah tangga yang dulunya dilandasi sebuah kepercayaan dan janji suci.

Kini, aku sudah membulatkan tekad untuk bangkit dari keterpurukan sesaat karena sebuah perselingkuhan dan pengkhianatan.

Dengan semua rencana yang sudah ku susun, kini senyum licik terukir jelas di wajahku. Ku simpan rekaman Vidio dan ku buka GPS ponselku yang terhubung dengan GPS yang ku pasang di mobil yang digunakan suamiku. Mobil yang juga dibeli dengan uangku.

Ku tarik nafas panjang, mempersiapkan diri untuk apa yang akan ku lihat nanti.

Melihat pergerakan GPS yang berjalan keluar perusahaan. Aku berencana menyusul untuk mengumpulkan bukti yang banyak agar mudah mengurus perceraian nantinya.

"Dasar laki-laki nggak tahu diri! Kacang lupa kulitnya. Bisa-bisanya di jam kerja mereka keluar hanya untuk berzina." Gerutu ku yang masih fokus memperhatikan gerak GPS di ponsel pintar milikku.

Mobil ku parkirkan tepat disebelah mobilnya. Mengikuti langkah kaki yang mengayun menuju lift, tapi sayang aku lupa menanyakan lantai dan kamar nomor berapa mereka berada saat ini.

Lagi pula bila ku tanya pada bagian resepsionis, belum tentu mereka akan memberitahuku. Lift terhenti di lantai lima. Entah kenapa kaki bergerak keluar dari lift, kedua netra ku liar menelusuri tiga lorong di depan lift.

Ternyata keberuntungan masih berpihak padaku. Tak jauh dari tempatku berdiri, Ryan suamiku sedang berbicara melalui ponselnya dan membelakangi ku.

Mungkin kalian bertanya-tanya. Bagaimana bisa aku tahu kalau itu dia? Karena kemeja bewarna abu-abu yang ia kenakan hari ini adalah kemeja yang sengaja aku keluarkan dari dalam lemari pakaianku pagi tadi. Entah karena filing seorang istri yang teraniaya, sehingga sedikit demi sedikit kebusukan suamiku itu mulai tercium dan kartu hitamnya mulai terbuka. Antara senang dan sedih aku tersenyum miris.

Bagaimanapun aku masih istrinya dan masih kewajiban ku melayani keperluannya. Termasuk menyiapkan pakaian kerja yang akan ia gunakan untuk ke kantor tiap hari. Meskipun ia tak meminta.

Vidio ponsel sudah ku nyalakan. Dengan langkah pasti ku ayunkan kaki mendekati dia yang membelakangi ku. Berdiri tidak jauh di belakangnya. Karena ia masih fokus dengan percakapannya di ponsel pintar miliknya, suamiku sampai tidak menyadari kehadiranku.

Tempatku berdiri juga tidak jauh dari depan bingkai pintu kamar hotel yang mereka sewa.

Pintu kamar tempat mereka akan berbuat zina itu terbuka sedikit. Membuatku bisa melihat pakaian Sintya tergantung di sebelah lemari kaca. Sakit hati sudah pasti, karena bagaimanapun aku wanita normal yang punya perasaan.

Ku tarik napas panjang, menetralisir dan menenangkan debaran jantung yang sempat nggak beraturan. Mengendalikan diri dari emosi yang mencoba menguasai diri. Aku kembali

fokus melihat punggung suami yang dulu sangat ku cintai ini masih tegap dan gagah. Pantas saja kalau Sintya mau menjadi selingkuhannya.

Beberapa menit aku menunggunya sampai mengakhiri percakapan di ponsel pintarnya.

Ryan yang tak menyadari keberadaan ku membalikkan tubuhnya bersiap akan memasuki kamar. Bola matanya membulat dan wajahnya terlihat pucat pasi, saat melihatku berdiri di belakangnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED