Bab 1

KETIKA HUJAN TURUN

Oleh. R. Susanti Pelangi Senja

Bab.1. Kenangan Saat Hujan

Saat itu senja telah tiba. Sinar sang surya yang panas menyengat segera meredup. Tampak di barat, Matahari terbenam dengan sinarnya yang kemerah-merahan. Pemandangan itu sangat indah, namun tiba-tiba langit mendung dan hujan turun.

Tampak Ira terpaku disudut kamarnya. Pikirannya pun kembali mengingat sesuatu yang sulit untuk ia lupakan. Ia ingat segalanya, semua tentang Ryan. Perlahan-lahan Ira menghampiri jendela kamarnya dan memandangi hujan yang turun. Ia mencoba mengingat kembali memori itu. Memori tentang seseorang yang sangat berarti baginya. Seseorang yang sangat ia cintai dan mengajarkannya apa itu arti kehidupan. Apa arti hujan dan cinta.

Dia adalah Ryan, sosok laki- laki yang sangat sempurna di mata Ira. Laki- laki baik dan penuh cinta. Dialah yang mengajarkan tentang semangat untuk masa depan. Sungguh Ryan sudah banyak mengajarkannya tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Ira sangat bersyukur bisa mengenal Ryan, mencintai dan dicintai olehnya. Ira sangat beruntung bisa mendapatkan laki- laki sebaik Ryan, meskipun kenyataannya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Namun dia bersyukur bisa berbagi kebahagiaan bersama laki- laki itu.

Dua tahun yang lalu, ia berjumpa dengan Ryan. Kala itu Ryan dan dirinya sama-sama terperangkap dalam hujan. Seusai mengikuti ekstra kulikuler basket di sekolah, Ira beristirahat dan bermaksud untuk pulang ke rumah namun tiba-tiba langit mendung dan hujan deras pun turun. Ira segera berlari dan berlindung di sudut bangunan sekolah.

Lama Ira dan teman-temannya menanti hujan reda. Hujan deras pun kini mulai mereda, tinggal titik-titik gerimis yang berjatuhan membasahi dedaunan. Tak terasa ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya. Dia adalah Ryan, anak baru pindahan dari Yogyakarta. Ryan tergolong anak yang baik dan pintar di sekolahnya.

“Belum pulang, Ir?” tanya Ryan menyapa.

“Eh, kamu Ryan. Belum nih soalnya masih gerimis,” sahut Ira perlahan seraya melempar senyum ke arah Ryan.

“Ah, gerimis sedikit kan enggak apa-apa.”

“Iya sih, tapi kalau aku kena hujan bisa-bisa penyakit demamku kambuh,” jawab Ira singkat.

Ryan tersenyum mendengar jawaban itu. Ira tidak tahu apa maksud dari senyuman itu tapi ia yakin Ryan cukup puas mendengar jawabannya. Ryan memandangi langit. Tak terasa gerimis pun mulai mereda dan waktu tidak memungkinkan mereka untuk berlama-lama di sana. Ryan mengajak Ira untuk pulang.

Ryan, Ira dan teman – teman lainnya berjalan ke arah gerbang sekolah. Perlahan Ryan menuju area parkir di samping gerbang sekolah itu. Ia bermaksud mengambil kuda besinya yang sejak tadi berada di sana.

Sementara itu, Ira yang akan pulang ke rumahnya berdiri di luar gerbang sekolah, bermaksud mencari taksi yang lewat di jalan itu. Namun sayang sejak tadi ia berdiri di sana, ia belum menemukan satu taksi pun yang lewat. Kebanyakan motor dan mobil pribadi yang lewat di jalan itu. Hatinya sedikit cemas, tersenyum kecut seperti jeruk purut.

“ Bagaimana aku akan pulang kalau begini,” ujarnya perlahan.

Di tengah kecemasan hatinya, tiba – tiba Ira dikejutkan dengan suara klakson motor. Ia pun menoleh. Dilihatnya Ryan yang sedang mengendarai motor, berhenti di sampingnya. Ryan tersenyum pada Ira, bermaksud memberinya tumpangan.

“ Lagi nunggu taksi ya, Ir?” tanya Ryan perlahan.

“ Eh, iya nih! Aku lagi nunggu taksi. Kamu mau pulang ya, Ryan?” ujar Ira balik menanya.

“ Iya, aku mau pulang sekarang. Yuk bareng aku aja, biar aku antar?” tawar Ryan pada Ira.

Ira tertegun. Berpikir sejenak, apakah akan menerima atau tidak tawaran dari Ryan. Ira tampak bingung karena ia belum mengenal dekat laki – laki itu.

“ Enggak usah kok, Ryan. Biar aku naik taksi saja nanti,” ujarnya menolak ajakan Ryan itu.

“ Ayolah, Ir! Kamu naik motorku saja. Enggak apa – apa kok, aku siap mengantarkanmu pulang. Apa kamu takut padaku?”

“ Tenang, Ir! Aku enggak akan bawa lari anak gadis orang kok,” kata Ryan mantap. Mencoba meyakinkan Ira yang tampak ragu – ragu.

“ Eh, bukan begitu maksudku Ryan,” ucap Ira tidak enak. Ia tidak ingin Ryan berpikir yang bukan – bukan tentangnya.

“ Aku enggak mau merepotkanmu,” sahut Ira pelan.

“ Aku enggak merasa kerepotan kok, Ir! Justru aku senang bisa membantumu. Lagian hari hujan begini, jarang loh ada taksi yang lewat.”

Ira berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Ryan barusan. Sebaiknya aku terima saja tawarannya, pikirnya kembali.

“ Iya deh, kalau kamu memaksa. Aku mau diantar sama kamu.”

“ Nah gitu dong! Ayo naik ke motorku,” ajak Ryan pada Ira.

Ira melangkah perlahan, ia mulai naik ke motor itu. Setelah ia duduk, Ryan pun melajukan motor itu perlahan. Siap mengantar Ira pulang ke rumahnya.

Mereka berdua menyusuri jalan demi jalan di kota Bandung. Berjalan di tengah gerimis yang mulai mereda. Di sanalah awal percintaan itu dimulai. Percintaan yang murni dan penuh kasih.

**

Hari- hari pun berlalu, benih- benih cinta semakin tumbuh dan bersemi. Kini mereka berdua menjadi sepasang sekasih. Keduanya sangat serasi, paras Ira yang cantik dan lembut begitu pas dipadukan dengan Ryan yang berwajah tampan dan berkarisma. Tak hanya itu tubuh atletis Ryan juga sangat mendukung. Postur tubuhnya yang tinggi dan bagus, sangat enak dipandang. Maklumlah Ryan rajin berolahraga. Tak hanya olahraga kesukaannya saja yang ia kerjakan tapi ia juga melakukan olahraga lain.

Pagi itu, Ryan menjemput Ira dengan motor RX King kesayangannya, pemberian ayahnya semasa muda dulu. Di depan pintu pagar, ia membunyikan klakson motornya sambil memanggil Ira.

“ Ira... Ira...,” terdengar suara Ryan dari depan pintu pagar.

Mendengar suara klakson motor di depan pagar, Ira yang saat itu sedang sarapan segera menyudahi sarapannya. Ia menghambur ke luar rumah namun tak lupa untuk berpamitan pada ibu serta neneknya. Sedangkan ayahnya sudah tidak ada lagi, meninggal lantaran tertembak saat bertugas di Palestina. Ayahnya adalah seorang tentara di salah satu kesatuan di Indonesia yang ditugaskan ke luar negeri dalam misi perdamaian. Kala itu, Ira masih sangat kecil. Ia belum mengerti arti sebuah kehilangan. Saat itu Ira berumur satu tahun, ia hanya merengek di pangkuan ibunya. Tanpa tahu, ayahnya sudah tiada.

Ira membuka pintu pagar, tampak di jumpainya Ryan sedang menunggunya di sana. Segera ia menghampiri Ryan.

“ Akhirnya tuan putriku keluar juga,” tukas Ryan pada Ira.

Ira hanya tersenyum mendengar perkataan Ryan itu. Ia pun berkata,” Iya pangeran! Pangeran sudah lama menunggu kah?” tanya Ira pada Ryan.

“Apakah Pangeran tidak bosan menunggu tuan putri ini?” tanya Ira kembali.

“ Untuk tuan putri, tentu saja tidak!” tegas Ryan.

“ Hamba akan selalu sabar menunggu tuan putriku yang cantik ini!” goda Ryan sembari tersenyum. Senyumnya sangat manis, memperlihatkan barisan gigi putih yang rapi bak pualam.

“ Apa benar begitu ? Pangeran akan selalu sabar menunggu ku?”

“Tentu saja . Tuan putri tidak perlu ragu akan hal itu.”

“ Kalau begitu, ayo kita segera pergi pangeran. Nanti kita terlambat,” ajak Ira pada Ryan.

“ Baiklah tuan putri, tuan putri naik ya ke kuda putihku ini,” ujar Ryan menyuruh Ira untuk naik ke motornya.

Ira pun segera naik ke motor Ryan, ia duduk di belakang.

“ Tuan putri sudah siap?” tanya Ryan sembari menghidupkan motornya, bermaksud untuk pergi dari tempat itu.

“ Sudah pangeran. Pangeran jalan saja,” pinta Ira agar segera berangkat.

“ Oke... kalau begitu kita berangkat sekarang. Pegang yang kuat ya tuan putri,” ujar Ryan sembari tertawa kecil.

“ Siap pangeran!” tegas Ira membalas perkataan Ryan.

Akhirnya mereka berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan banyak hal yang mereka bicarakan salah satunya tentang perguruan tinggi mana yang akan mereka tuju selepas tamat dari SMU nanti.

“Ir, kamu nanti mau masuk perguruan tinggi mana?” tanya Ryan perlahan sambil tetap fokus melajukan motornya di jalan beraspal itu.

“ Kalau aku inginnya bisa masuk UI di Jakarta tapi Ibu ingin aku kuliah di Bandung saja. Kamu kan tahu Ryan, aku anak tunggal di keluarga Imran Cik Nang, sedangkan ayahku, sudah meninggal saat misi perdamaian di Palestina. Ibu tidak mau aku meninggalkannya. Ibu takut kehilanganku,” ucap Ira menjelaskan semuanya.

“Hmm, ibumu sangat sayang padamu ya, Ir! Sampai- sampai tidak menyuruhmu pergi jauh meskipun itu untuk sebuah pendidikan,” gumam Ryan.

“ Ya, begitulah. Ibuku takut terjadi sesuatu padaku. Rupanya peristiwa kematian ayahku sudah membekas di hati ibuku. Mungkin ia sedikit trauma akan hal itu. Menjadi posesif dan takut kehilangan orang yang sangat dicintai untuk kedua kalinya,” ucap Ira sedih.

“ Iya, aku tahu, Ir! Itulah sebabnya ibumu melarang kamu untuk kuliah di tempat jauh,” kata Ryan

“ Iya Ryan. Aku pun maklum dengan keputusannya itu.”

Ira menghela nafas panjang. Jauh di lubuk hatinya, ia ingin sekali bisa kuliah di UI. Hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Namun impiannya itu harus ia kubur dalam – dalam karena ia yakin ibunya pasti tidak akan mengizinkannya kuliah ke luar kota.

“ Oh iya, kamu sendiri nanti mau kuliah di mana? Apa mau kuliah di sini juga?” tanya Ira.

“ Entahlah Ir, aku sendiri pun enggak tahu. Kalau aku sih mengikuti ke mana ayahku. Soalnya ayahku kerja di sini. Kalau tahun depan beliau masih kerja di sini, kemungkinan besar sih kuliah di sini,” ujar Ryan pada Ira. Ryan sendiri pun tidak tahu entah berapa tahun dia akan tinggal di kota Varis Van Java itu.

“ Kalau kamu kuliah di sini, mau kuliah di universitas mana Ryan?” tanya Ira perlahan.

“ Aku maunya sih di ITB, Ir! Aku suka teknik soalnya.”

“ Wah... bagus itu, Ryan. ITB kan kampus terbaik dan terkenal di Bandung. Ternyata pilihan universitasmu sama ya, kayak si Cecep.”

“ Cecep? Cecep siapa, Ir?” Ryan bertanya pada Ira tentang siapa Cecep itu.

“ Cecep itu teman sekelasku, Ryan. Orangnya polos dan lucu. Dia tipikal yang humoris. Kalau kamu dekat dengannya, kamu pasti akan tertawa mendengar banyolannya.”

“ Oh, ya! Wah... aku jadi penasaran dengan sosok yang bernama Cecep itu. Kapan – kapan kamu kenalkan aku dengan temanmu yang lucu itu ya, Ir!”

“ Beres... nanti aku kenalkan kok!”

“ Oh ya, ngomong – ngomong Ayahmu kerja apa di sini Ryan?”

Tampaknya Ira penasaran sekali dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Ayah kekasihnya itu.

“ Ayahku kerja di perusahaan farmasi di Yogya yang dipindah tugaskan ke sini. Ayahku seorang kepala cabang di perusahaannya.”

“ Oh... gitu! Memang Ayahmu tugas di sini berapa tahun, Ryan?”

“ Aku juga belum tahu pastinya, Ir! Bisa setahun, dua tahun, lima tahun atau selamanya. Mudah - mudahan saja, ayahku kerja di sini lama. Biar kita bisa sama- sama terus, Ir!” tegas Ryan.

“ Aamiin, semoga saja begitu ya Ryan,” ucap Ira berharap.

Tanpa terasa motor yang di kendarai Ryan kini mulai memasuki gerbang sekolah. Mereka sudah sampai di sekolah yang dituju. Segera Ryan memarkirkan motornya, lalu mereka berdua pun berjalan menuju ruang kelas.

Bab 2

KETIKA HUJAN TURUN

Bab.2. Suasana di Sekolah

Ryan dan Ira berjalan berdampingan saat memasuki area sekolah. Mereka berjalan santai sambil bercerita. Di persimpangan koridor gedung sekolah itu mereka berdua berpisah. Ira menuju ruang kelasnya begitu pun dengan Ryan. Mereka berdua berjalan ke ruang kelasnya masing - masing.

Tampak mata teman- temannya tertuju pada Ira. Terdengar juga suara bisik- bisik di antara teman- temannya yang berkerumun di sana. Sekilas Ira mendengar kalau mereka sedang membicarakannya. Namun ia tak ambil pusing dengan perkataan itu. Dengan pasti ia melenggang santai masuk ke ruang kelas.

Di sana, di jumpainya Maya teman sekaligus sahabat kentalnya. Mereka bersahabat sejak dari SMP sampai sekarang menginjak kelas tiga SMU. Sungguh persahabatan yang kental dan sejati. Keduanya saling berbagi, baik suka dan duka. Terkadang Maya sering bercerita tentang masalah hidupnya dengan Ira, begitu pun sebaliknya Ira juga sering berbagi cerita dan meminta pendapat dari sahabatnya ini.

Melihat kedatangan Ira, sahabatnya, Maya pun tersenyum. Ia pun berkata pada Ira,” Baru datang, Ir?” tanya Maya menyapa.

“ Iya, May! Tadi diantar sama Ryan,” ujar Ira pada Maya.

“ Duh, yang lagi kasmaran diantar terus sama sang pangeran. Ceritanya mau pamer nih, mentang- mentang sudah pacaran sekarang,” ucap Maya menggoda Ira.

Ira tertawa kecil mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia pun duduk di samping Maya. Setelah meletakkan tasnya di laci meja, ia pun berkata pada Maya.

“ Kamu kok jadi sensitif, May! Bukannya pamer, tapi memang kenyataannya seperti itu, mau bagaimana lagi coba.”

Ira menjelaskan hal itu pada sahabatnya. Agar Maya tidak salah paham padanya.

“Maaf kalau kamu tersinggung, bukan maksudku untuk pamer loh. Makanya buruan cari pacar, May! Biar enggak sendiri, memang kamu betah ngejomblo terus?” tanya Ira pada Maya, menyuruhnya untuk mencari pacar.

“ Memangnya gampang cari pacar? Mau cari di mana coba?” ujar Maya sambil mengerucutkan bibirnya.

“ Ya cari di mana aja, May! Di lubang semut juga boleh,” ucap Ira sembari tertawa lepas.

“ Duh sialan kamu, Ir! Masa cari pacar di lubang semut. Memangnya pacarku semut apa,” ujar Maya cemberut. Ia sedikit kesal dengan perkataan Ira barusan.

“ Kamu sih enak, dapat pacar ganteng , baik, berkarisma, dan pintar lagi.”

Maya memberikan pandangannya terhadap Ryan. Menurutnya Ryan sosok laki – laki yang sempurna, idaman para wanita di sekolah itu. Beruntung sekali Ira bisa dimiliki oleh sosok laki – laki seperti itu. Andai saja aku bisa mendapatkan pacar seperti Ryan, pikir Maya perlahan. Ah, sudahlah, mana mungkin aku bisa mendapatkan pacar seperti itu, pikir Maya kembali.

“ Tenang, masalah itu kamu jangan khawatir, May ! Nanti aku bantu carikan kamu pacar ya,” bujuk Ira pada sahabatnya itu.

“ Hmm, tapi aku maunya yang ganteng dan berkarisma seperti Ryan. Bisa kan, Ir!” ucap Maya.

“ Kamu bisa kan? Please...!”Maya tampak memohon sambil menyentuh tangan Ira. Ia ingin agar Ira mau menuruti keinginannya kali ini, mencarikannya pacar sesuai kriterianya.

“ Oke lah, nanti aku bantu carikan, yang terpenting itu orangnya baik, May! Masalah ganteng atau tidak itu sih relatif menurutku,” ucap Ira memberikan argumennya.

“ Ya...tapi setidaknya jangan jelek- jelek amat, Ir! Nanti aku takut lihat wajahnya. Bagaimana mau kenal dekat kalau seperti itu,” ujar Maya perlahan.

“ Tenang... pilihanku pasti baik kok! Lagian aku juga nggak tega, menjodohkanmu dengan orang yang berwajah jelek!” tegas Ira.

Mendengar perkataan sahabatnya itu, netra Maya perlahan membulat. Ia tidak menyangka Ira akan serius mencarikannya pacar sesuai kriterianya. Ia pun tersenyum lebar dan berkata,” Yakin nih? Emang enggak tega kenapa, Ir?” tanya Maya menyelidik. Ia tampak penasaran dengan kata – kata yang dilontarkan Ira barusan.

“Ya... enggak tega aja, May! Aku kan tahu laki- laki idamanmu seperti apa. Setidaknya enak dipandang, orangnya bersih dan rapi, itu sudah cukup kan!” tegas Ira pada sahabatnya itu.

Maya tampak mengangguk – angguk tanda setuju. Tak berapa lama bel pun berbunyi. Menandakan semua siswa harus masuk ke kelasnya masing- masing. Begitu juga dengan kelasnya Ira. Tampak ketua kelas menyuruh mereka semua berbaris terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas.

Ira dan Maya bergegas keluar dari kelas bersama teman- teman lainnya. Mereka harus mematuhi perintah itu. Mereka pun akhirnya berbaris dengan rapi. Satu barisan untuk laki- laki dan satu barisan untuk perempuan. Akhirnya mereka pun masuk ke kelas dengan tertib dan duduk di bangkunya masing- masing.

Tak berapa lama suasana tampak riuh, rupanya salah satu teman mereka berteriak kalau Bu Eriska sedang menuju kelas. Ketua kelas meminta mereka semuanya untuk duduk dengan tenang. Tak berapa lama Bu Eriska masuk ke ruang kelas itu. Ia masuk ke ruangan 3 IPS 1. Siap memberikan pelajarannya kali ini. Ia pun menyapa anak didiknya dengan ramah.

“ Selamat pagi anak- anak,” sapa Bu Eriska pada mereka semua. Matanya pun berpendar menatap wajah anak didiknya yang sedang duduk dengan tenang dibangkunya masing – masing.

“ Pagi, Bu...!” ucap mereka serentak.

“ Kalian siap menerima pelajaran pagi ini?” tanya Bu Eriska.

“ Siap, Bu...!” terdengar suara riuh anak – anak di kelas itu. Mereka menjawab pertanyaan Bu Eriska secara bersamaan.

“ Baiklah kalau sudah siap, Ibu akan memulai pelajarannya. Coba kalian buka bab.13 tentang

Seni Budaya Nusantara. Kalian pelajari dulu, nanti Ibu akan memberikan pertanyaan pada kalian,” kata Bu Eriska menyuruh anak didiknya untuk mempelajari bab.13.

Ira, Maya dan semua orang yang berada dikelas itu tampak membuka bab.13. Mereka mempelajari dengan serius. Bu Eriska tampak berkeliling, memeriksa kalau- kalau anak didiknya tidak mempelajari bab.13 itu. Setelah waktu yang diberikan cukup, Bu Eriska pun mulai mengajukan pertanyaan pada mereka. Matanya kini tertuju pada Ira. Ia pun memberikan pertanyaan pada Ira.

“ Ira, apakah kamu tahu apa arti seni budaya itu?” tanya Bu Eriska pada Ira.

Ira pun menjawab pertanyaan itu. Dengan mantap ia berkata,“ Seni budaya adalah segala hal yang diciptakan oleh manusia berkaitan dengan cara hidup dan berkembang secara bersama- sama pada suatu kelompok yang mempunyai unsur keindahan ( estetika ) secara turun temurun dari generasi ke generasi,” ujar Ira menjelaskan.

“ Oke, jawaban yang cukup bagus,” kata Bu Eriska.

“ Seni budaya ini terbagi dari bermacam- macam bentuk. Bisakah kamu sebutkan Maya?” tanya Bu Eriska pada Maya yang tampak melamun. Bu Eriska pun lalu mengulangi pertanyaannya. “ Maya... ?Maya...? Bisakah kamu sebutkan, Nak!” ujar Bu Eriska.

Melihat itu Ira pun menyenggol tangan Maya, bermaksud menyadarkannya. Ira pun berkata,” May, kamu ditanya Bu Eriska tuh! Sebutkan macam- macam bentuk dari seni budaya,” ujar Ira dengan berbisik pelan.

“ Oh, iya Ir!” ucap Maya gelagapan. Ia pun segera menjawab pertanyaan dari Bu Eriska tadi.

“ Macam- macam bentuk dari seni budaya yaitu seni tari, seni rupa, seni teater, seni musik dan seni kriya,” ucap Maya dengan mantap.

“ Ya, benar!”

“Coba siapa yang bisa menyebutkan fungsi dari praktis dan estetis dari seni budaya. Ada yang bisa menjelaskan?” tawar Bu Eriska pada anak didiknya. Mata Bu Eriska pun berpendar, menatap mereka semua.

“ Saya Bu!” kata Yoga sambil mengacungkan jari telunjuknya. Seketika padangan Bu Eriska tertuju pada Yoga yang berada di sudut ruangan kelas. Bu Eriska pun menatap Yoga dengan netranya yang bulat itu. Ia mempersilahkan Yoga untuk menjelaskan.

“ Ya, silakan Yoga!”

“ Fungsi praktis artinya fungsi karya seni yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia dalam segi fungsional. Contohnya kursi dan meja yang dibuat oleh masyarakat Jepara. Bukan hanya enak untuk dipandang, tapi karya seni budaya ini juga bisa berguna untuk kehidupan masyarakat. Sedangkan fungsi dari estetika yaitu fungsi karya seni yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan manusia dalam segi hiasan. Contohnya lukisan, patung, dan lain- lain. Terkadang karya seni budaya tersebut juga digunakan untuk ritual keagamaan,” ujar Yoga menjelaskan secara terperinci.

“ Oke... kamu benar, Yoga!” kata Bu Eriska.

“Satu lagi, ada yang bisa menyebutkan contoh seni budaya yang berkembang di Indonesia. Ayo... siapa yang bisa menyebutkan!” kata Bu Eriska kembali memberikan pertanyaan pada anak didiknya.

“ Kamu bisa, Santi? Coba kamu sebutkan!” perintah Bu Eriska pada Santi Rahayu. Seorang gadis keturunan Jawa yang dibesarkan di Bandung.

“ Bisa Bu, “ ujar Santi perlahan. Mulailah ia menyebutkan contoh dari seni budaya seperti apa yang dipinta oleh Bu Eriska barusan.

Bab 3

KETIKA HUJAN TURUN

Bab.3. Guru Muda yang Memesona

Pertanyaan dari Bu Eriska berhasil di jawab dengan baik oleh Santi. Akhirnya mata pelajaran Antropologi yang di ajarkan Bu Eriska berakhir sudah. Dengan perlahan Bu Eriska mengakhiri pelajarannya. Ia pun kini memberikan tugas untuk anak didiknya.

“ Baiklah anak- anak, pelajaran kita kali ini hanya sampai di sini. Ibu akan memberikan tugas pada kalian. Nanti tugas itu bisa kalian kerjakan di rumah. Kalian menjawab soal yang berada di halaman 17. Lusa kalian kumpulkan, saat bertemu pelajaran Antropologi. “Apa kalian mengerti?” tanya Bu Eriska pada anak didiknya.

“ Mengerti, Bu...” ucap mereka serentak. Mereka pun paham dengan apa yang dikatakan Bu Eriska.

“ Baiklah kalau begitu, ibu akan mengakhiri perjumpaan kita kali ini dan jangan lupa untuk mengerjakan tugasnya!” tegas Bu Eriska memperingatkan mereka semua. Dengan perlahan Bu Eriska meninggalkan ruang kelas itu. Ia berjalan keluar. Langkahnya cepat menuju ruang kelas lain, siap untuk memberikan pelajaran.

Sementara itu suasana di ruang kelas agak sedikit gaduh setelah ditinggalkan oleh Bu Eriska. Namun suasana itu tidak berlangsung lama karena pelajaran kedua sebentar lagi akan di mulai. Pelajaran kedua ini tentang Pendidikan Agama Islam. Guru yang mengajar kali ini adalah Pak Fahmi. Seorang guru muda yang pernah mondok di pesantren Tebu Ireng. Dia merupakan sosok guru yang disegani oleh murid – muridnya.

Suasana agak tenang setelah Pak Fahmi memasuki ruang kelas. Tak lupa Pak Fahmi mengucapkan salam ketika memasuki ruangan kelas itu. Anak didiknya pun membalas salam itu. Segera Pak Fahmi duduk di mejanya. Ia pun kini siap memberikan pelajaran di pagi itu.

“ Anak- anak, apa tugas yang Bapak berikan kemarin sudah selesai kalian kerjakan?” tanya Pak Fahmi membuka percakapan. Mata Pak Fahmi pun mulai berpendar menatap wajah murid – muridnya. Ia ingin tahu apakah tugas yang diberikannya kemarin sudah selesai dikerjakan atau belum.

“ Kalau sudah selesai, ayo kumpulkan di meja barisan depan. Setelah itu kalian tukarkan pada meja teman kalian di barisan lain. Kita akan koreksi bersama- sama,” ucap Pak Fahmi memerintah.

Dengan segera mereka mengumpulkan tugas itu di meja depan. Seorang murid yang berada di barisan depan pun segera membawa tugas- tugas itu dan menukarkannya di barisan lain. Tampak murid di bagian depan membagikan tugas itu pada teman- temannya. Setelah selesai dan mereka menerima tugas itu, pengoreksian itu pun berlangsung. Pak Fahmi menyuruh muridnya untuk membacakan soal dan menjawabnya secara bergiliran.

Dimulai dari murid yang berada di barisan depan. Hingga tibalah giliran Ira membacakan soal itu, ia pun membacanya dan memberikan jawaban seperti apa yang ada di buku tugas temannya itu. Untungnya jawaban itu benar. Ira pun merasa lega. Akhirnya pengoreksian itu pun selesai.

Mereka membuat jumlah salah dan benar di buku tugas yang mereka koreksi. Pak Fahmi menyebutkan satu persatu nama muridnya, meminta jumlah benar dari tugas yang mereka koreksi tadi. Setelah selesai, Pak Fahmi menyuruh murid di bagian depan untuk mengembalikan buku tugas itu. Tampak murid di meja barisan depan mengambil buku tugas itu dan mengembalikan ke meja temannya yang lain.

Kini pelajaran Pendidikan Agama Islam pun di mulai. Pak Fahmi menyuruh murid- muridnya untuk membuka bab.15 tentang Hukum Menikah. Pak Fahmi menjelaskan secara terperinci hukum menikah dan wanita yang haram untuk dinikahi. Pak Fahmi menjelaskan pelajarannya secara gamblang dan mudah dimengerti. Ia menjelaskan pelajarannya dengan efektif, tidak bertele – tele, dan langsung pada inti permasalahan sehingga penjelasan itu tepat pada sasaran.

Tampak sedari tadi Maya memperhatikan Pak Fahmi. Ia menatap lekat wajah laki- laki itu. Rupanya ia terpesona akan karisma dan kelembutan yang dipancarkan oleh Pak Fahmi. Ia pun mengkhayal seandainya ia menjadi kekasih halal Pak Fahmi, mungkin dia akan menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. Seandainya aku jadi istri pak Fahmi, aku sangat bahagia sekali, batinnya perlahan.

Aku akan selalu membuatnya bahagia dan akan melakukan kewajiban ku sebagai istri dengan sebaik mungkin. Taat dan patuh terhadapnya, bukankah surga seorang istri itu terletak pada ridha suami. Sebisa mungkin aku akan patuh padanya karena dia adalah imamku. Imam yang menuntun dunia dan akhiratku, bisik hatinya kembali. Maya masih saja asyik dengan khayalannya sendiri.

Tingkah Maya yang tampak melamun sembari menatap dirinya lekat, diketahui oleh Pak Fahmi. Ia pun merasa risih dipandangi seperti itu oleh anak muridnya. Pak Fahmi berinisiatif menyadarkan Maya dengan memberinya pertanyaan. Mungkin dengan ini, Maya akan tersadar, pikirnya perlahan. Ia pun segera memberikan pertanyaan pada Maya.

“ Maya, apakah kamu mengerti dengan apa yang bapak jelaskan barusan?” tanya Pak Fahmi perlahan. Pertanyaan itu tertuju pada Maya yang sedari tadi tampak melamun. Namun, tidak ada reaksi dari Maya. Maya terus saja menatap dirinya lekat.

“ Hmm, sebenarnya apa yang gadis ini pikirkan,” gumam Pak Fahmi perlahan. Pak Fahmi pun memutar otaknya. Ia mencari cara untuk membuyarkan lamunan Maya.

“ Sebaiknya kudekati saja Maya, aku yakin dia pasti akan tersadar dari lamunannya,” gumam Pak Fahmi lagi.

Maya masih saja melamun. Ia sibuk dengan khayalannya sendiri, tanpa di sadari, kini Pak Fahmi sudah berada di dekat mejanya. Segera Pak Fahmi mengulangi pertanyaannya,” Maya, apa kamu mengerti?” tanya Pak Fahmi kembali.

“ Mengerti Abi, nanti Ummi persiapkan segala kebutuhan Abi,” jawab Maya tanpa sadar dan mengerti pertanyaan apa yang diajukan oleh Pak Fahmi. Rupanya ia mengkhayal berumah tangga dengan guru muda itu dan memanggil Abi Ummi.

Sontak perkataan Maya mengundang gelak tawa teman- temannya. Suasana riuh sekali di kelas itu, sebagian ada yang mengolok- olok Maya dan sebagian lagi mengejeknya. Mereka semua menertawakan dan membicarakan Maya yang bertingkah konyol itu.

Seketika itu juga Maya tersadar dari perkataannya. Dengan polosnya ia pun meminta maaf.

“ Maaf, Pak,” ujar Maya perlahan sembari menundukkan wajahnya. Bermaksud menyembunyikan rasa malunya. Tampak wajah Maya seketika memerah seperti buah tomat masak. Ia sangat malu sekali dengan apa yang ia ucapkan pada Pak Fahmi barusan. Ia pun menyesali mengapa ia bertingkah seperti itu tadi, dan karena tingkahnya itu ia ditertawakan oleh teman – temannya.

“Iya, tidak apa- apa,” kata Pak Fahmi sembari tersenyum.

Teman- temannya pun menyorakinya. Mendengar teriakan itu, Maya semakin malu. Ia pun terus saja menundukkan wajahnya dalam – dalam.

“ Huh...,” ujar mereka serentak.

Mendengar itu, Pak Fahmi mencoba menenangkan.

“ Sudah... Sudah... Kalian diam! Kalian diam semua, ini bukan bahan lelucon!” tegas Pak Fahmi pada murid- muridnya di kelas itu.

“ Apa kalian senang menertawakan teman kalian ini? Kalian senang di atas penderitaan Maya yang menahan malu!” ujar Pak Fahmi dengan nada tegasnya.

Seketika itu, suasana hening. Mereka tampak diam dan berhenti berbicara. Perkataan Pak Fahmi tadi sungguh membuat mereka takut. Rupanya wibawa Pak Fahmi cukup besar terhadap murid- muridnya.

Pak Fahmi pun berkata dengan perlahan pada Maya,” Maya, nanti pas jam istirahat, kamu ke ruangan Bapak, ya! Ada hal penting yang ingin Bapak bicarakan!” perintahnya pada Maya. Maya pun hanya bisa mengangguk perlahan. Mengiyakan perkataan dari Pak Fahmi.

Pak Fahmi segera melanjutkan pelajarannya. Kali ini suasana cukup tenang dan murid- murid mendengarkan dengan serius. Hingga pada sesi pertanyaan, Pak Fahmi mempersilahkan murid- muridnya bertanya jika ada penjelasannya yang belum di mengerti atau kurang jelas. Ira pun bertanya,” Pak Fahmi, saya ingin bertanya tentang hukum menikahi saudara sepupu?”

“ Baiklah Bapak akan menjawab, hukum menikahi saudara sepupu adalah boleh karena sepupu bukanlah mahram. Sedangkan wanita yang haram dinikahi itu salah satunya adalah masih adanya ikatan mahram. Untuk sepupu, dia bukan mahram jadi dihalalkan untuk menikah dengan saudara sepupu dekat maupun jauh,” kata Pak Fahmi menjelaskan secara terperinci.

Ira mengangguk, tanda mengerti. Ia cukup puas dengan jawaban dari Pak Fahmi tadi. Selain Ira ada juga teman satu kelasnya yang bertanya. Selain tentang pernikahan mereka juga bertanya tentang perceraian. Membahas seputar pernikahan dan perceraian merupakan topik yang selalu baik untuk di perbincangkan. Salah satu topik yang tidak membosankan bagi sebagian besar orang pada umumnya. Ada saja hal – hal yang dikulik seputar dunia pernikahan dan perceraian.

Mengingat angka perceraian di Indonesia sangatlah tinggi. Umumnya kawin cerai ini terjadi di kalangan artis- artis Indonesia. Kita juga tidak tahu ada masalah apa di antara keduanya, yang kita lihat hanya kebahagiaan di luarnya saja tanpa tahu masalah pelik apa yang terjadi dalam keluarganya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED