Pagi itu, seperti pagi-pagi yang lain, adalah sebuah pertunjukan yang sunyi. Aroma kopi Arabika tercium dari dapur, namun tidak ada kehangatan yang mengiringinya. Yang ada hanyalah keheningan dingin yang menyelimuti meja makan marmer, memisahkan Arkana dan Rania lebih jauh dari jarak fisik di antara mereka. Rania membolak-balik majalah dengan gerakan mekanis, matanya menatap halaman-halaman yang penuh dengan gaun-gaun indah dan perhiasan berkilauan, tetapi pikirannya melayang jauh.
Dua tahun. Sudah dua tahun ia menjalani sandiwara ini. Sandiwara yang sempurna di mata dunia, namun hampa di dalam. Arkana, suaminya, duduk di seberangnya, tersembunyi di balik layar tabletnya. Garis wajahnya yang tegas dan rahangnya yang kokoh menjadi ukiran patung yang dingin, tidak bergerak, tidak menunjukkan emosi. Arkana adalah prototipe pria idaman dalam novel romansa-tinggi, tampan, kaya raya, dan pewaris salah satu perusahaan real estat terbesar di Jakarta. Namun, bagi Rania, Arkana hanyalah sebuah bayangan, sebuah kehadiran yang nyaris tidak ada.
"Hari ini ada acara?" suara bariton Arkana memecah keheningan, suaranya kering seperti kerikil yang bergesekan. Ia tidak menatap Rania, matanya tetap terpaku pada layar.
Rania menurunkan majalahnya, senyum tipis terpaksa terukir di bibirnya. "Tidak ada. Mungkin nanti sore aku akan mengunjungi Tuan Hadi."
Arkana mengangguk, tanpa menunjukkan ketertarikan. "Kakekmu. Iya, aku ingat." Ia kembali fokus pada layarnya, seolah percakapan itu tidak pernah terjadi.
Tuan Hadi. Kakeknya. Satu-satunya alasan mengapa Rania masih berada di rumah megah ini, di sisi pria ini. Pernikahan mereka adalah sebuah kesepakatan bisnis yang pahit, sebuah pengorbanan yang Rania lakukan untuk menyelamatkan kekayaan dan kehormatan keluarga. Perusahaan kakeknya, yang telah dibangun dari nol dengan darah dan keringat, berada di ambang kebangkrutan. Arkana datang sebagai penyelamat, menawarkan modal dan koneksi yang sangat dibutuhkan, dengan satu syarat: Rania harus menjadi istrinya. Arkana menginginkan nama baik keluarga Rania untuk menaikkan citra perusahaannya, dan Rania, yang tidak tega melihat kakeknya jatuh sakit karena memikirkan perusahaannya, menerima perjanjian itu.
Namun, yang ia dapatkan hanyalah sangkar emas. Dinding-dinding rumah ini, marmer yang dingin, dan jendela-jendela yang membingkai pemandangan kota, terasa seperti jeruji penjara. Rania adalah manekin yang dipajang, istri yang sempurna di depan publik, tetapi di belakang pintu, ia adalah sosok yang tidak terlihat. Cinta? Perasaan itu tidak pernah menjadi bagian dari perjanjian mereka. Yang ada hanya janji-janji kosong dan kebohongan yang diselubungi kemewahan.
Setelah Arkana pergi ke kantor, Rania segera bangkit. Ia tidak peduli dengan sisa sarapannya yang dingin. Langkahnya membawanya ke lantai dua, menuju satu-satunya tempat di rumah ini yang terasa seperti rumah sungguhan: kamar kakeknya.
Pintu terbuka dan Rania disambut dengan aroma minyak kayu putih dan wewangian bunga melati yang menenangkan. Kakeknya terbaring di ranjangnya, wajahnya yang keriput terlihat damai dalam tidurnya. Usia dan penyakit telah menggerogoti tubuhnya, tetapi tatapan matanya selalu memancarkan kehangatan yang tulus. Tuan Hadi adalah orang yang membesarkan Rania, menggantikan peran orang tua yang hilang dalam sebuah kecelakaan saat Rania masih kecil. Baginya, kakeknya adalah segalanya.
Rania duduk di samping ranjang, menggenggam tangan kakeknya yang kurus. Kulitnya terasa dingin dan lembut. "Kakek," bisiknya pelan, "Maaf, aku terlambat datang."
Mata kakeknya perlahan terbuka. Sebuah senyum tipis merekah di wajahnya. "Kamu tidak pernah terlambat, Nak," katanya dengan suara serak. "Kamu selalu ada di sini."
Air mata Rania menggenang. Kata-kata kakeknya adalah obat penenang yang paling ampuh. Ia menceritakan hari-harinya, berusaha membuatnya terdengar lebih ceria dari kenyataan. Ia bercerita tentang taman, tentang pelayan yang lucu, tentang hal-hal sepele yang bisa membuat kakeknya tersenyum. Ia tidak pernah bercerita tentang kesepiannya, tentang hati yang hancur, atau tentang suami yang dingin. Semua itu ia telan sendirian.
Tuan Hadi menepuk tangan Rania pelan. "Aku tahu kamu bahagia, Nak. Arkana pria yang baik."
Mendengar nama itu, hati Rania terasa seperti disengat. Ia hanya bisa mengangguk, memaksakan senyum lain. Ia tahu kakeknya mengucapkan itu untuk meyakinkan dirinya sendiri, untuk membenarkan pengorbanan yang Rania lakukan. Sejak awal, kakeknya selalu merasa bersalah. Ia sering meminta Rania untuk mengakhiri pernikahan ini, untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Tetapi Rania selalu menolak. Ia tidak bisa. Tidak setelah melihat kakeknya jatuh sakit parah karena memikirkan perusahaan yang hampir runtuh. Ia tidak bisa menghancurkan harapan terakhir kakeknya, yang melihat Arkana sebagai satu-satunya jalan keluar.
"Kakek, jangan khawatir. Aku baik-baik saja," kata Rania, mencium tangan kakeknya dengan lembut. "Istirahatlah lagi. Nanti sore aku datang lagi membacakan buku kesukaan Kakek."
Ia keluar dari kamar kakeknya dengan hati yang berat. Janji-janji Arkana untuk menjaga kakeknya dan membangun kembali perusahaan itu adalah ikatan yang menjeratnya. Sebuah janji manis di atas kertas yang tidak pernah benar-benar ia rasakan.
Siang itu, Rania memutuskan untuk pergi ke butik, mencari gaun yang akan ia kenakan untuk acara amal malam nanti. Ia membutuhkan alasan untuk keluar dari rumah ini, meskipun hanya sebentar. Saat di perjalanan, teleponnya berdering. Itu nomor ponsel Arkana. Rania mengerutkan kening. Arkana jarang sekali menghubunginya.
"Ya, Arkana?"
"Batalkan acara malam ini. Aku ada rapat mendadak di luar kota," jawab Arkana tanpa basa-basi, suaranya terdengar terburu-buru. "Jangan menungguku."
"Rapat mendadak?" Rania bingung. Jadwal Arkana tidak pernah mendadak. Semuanya direncanakan dengan sangat matang. Namun, ia tidak berani bertanya lebih jauh. "Baiklah. Aku akan memberitahu pihak penyelenggara."
"Bagus. Sampai jumpa." Sambungan terputus.
Rania menatap ponselnya dengan perasaan tidak enak. Ada sesuatu yang janggal. Cara bicaranya, nada suaranya yang tidak biasa. Arkana tidak pernah terburu-buru. Ia selalu mengendalikan segalanya. Ini adalah pertama kalinya ia membatalkan acara penting tanpa alasan yang jelas. Sebuah firasat buruk merayap di hatinya. Firasat yang sudah lama ia coba abaikan kini kembali datang.
Ia memutuskan untuk tidak pergi ke butik. Sebaliknya, ia menyuruh supirnya untuk berhenti di sebuah kafe di daerah Menteng. Sambil minum kopi, Rania membuka akun media sosial Arkana. Ia menemukan beberapa foto dari acara-acara yang ia datangi bersama Arkana, foto-foto yang diposting oleh teman-teman mereka, menunjukkan pasangan yang sempurna. Namun, di balik senyum yang ia paksakan, ada sebuah kesedihan yang tersembunyi.
Saat ia sedang asyik dengan pikirannya, sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya. Sebuah unggahan dari salah satu kenalannya di media sosial. Sebuah foto yang menautkan nama Arkana. Rania membuka foto itu, dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Foto itu diambil di sebuah restoran mewah. Arkana duduk di sebuah meja, tertawa lepas dengan seorang wanita cantik berambut sebahu. Wajah wanita itu tidak asing. Rania pernah melihatnya di beberapa acara, seorang model muda yang sedang naik daun. Caption foto itu berbunyi, "Makan siang yang indah dengan Arkana. Terima kasih untuk traktirannya!"
Hati Rania serasa hancur berkeping-keping. Itu adalah foto yang diambil beberapa jam yang lalu. Bukan di luar kota. Bukan di rapat. Arkana berbohong. Sebuah kebohongan yang menyakitkan, diumbar terang-terangan di depan matanya. Firasat buruk itu menjadi kenyataan. Ini bukan hanya masalah jadwal yang dibatalkan. Ini adalah pengkhianatan.
Tanpa berpikir panjang, Rania segera meminta supirnya untuk mengantarnya ke alamat restoran yang tertera di unggahan tersebut. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan, tetapi ia harus melihatnya sendiri. Ia harus memastikannya. Ia harus menghadapi kenyataan ini, seburuk apa pun itu.
Saat tiba di lokasi, mobil Rania melaju pelan. Dari jendela mobil, Rania bisa melihat restoran mewah itu. Di dekat pintu masuk, seorang wanita berambut sebahu sedang berbicara dengan seorang pria. Pria itu adalah Arkana. Mereka tidak hanya berbicara, mereka tertawa. Tawa yang tulus, yang Rania belum pernah dengar dari bibir Arkana. Wanita itu meraih tangan Arkana, dan Arkana membalas genggaman tangannya. Lalu, dengan gerakan yang lembut, Arkana mencondongkan tubuhnya dan mencium kening wanita itu.
Dunia Rania runtuh. Bukan karena ciuman itu, tetapi karena tatapan di mata Arkana. Ada kehangatan di sana. Ada kasih sayang. Ada cinta. Sesuatu yang Arkana tidak pernah berikan padanya. Ia telah melihatnya, dengan mata kepalanya sendiri. Pria yang ia nikahi, pria yang seharusnya menjadi pelindungnya, adalah seorang pembohong dan pengkhianat.
Air mata Rania mengalir, bukan karena marah, tetapi karena kekosongan yang amat dalam. Ia menyadari, selama ini ia telah hidup di sebuah ilusi. Ia berpikir bahwa pernikahan mereka, meskipun tanpa cinta, setidaknya memiliki kehormatan. Ia percaya Arkana adalah pria yang setia, meski hanya dalam perjanjian. Namun, ternyata ia salah. Janji-janji yang Arkana berikan, janji untuk menjaga nama baik keluarga, janji untuk membangun kembali perusahaan kakeknya, semuanya terasa hampa. Hancur lebur seperti reruntuhan hati yang ia rasakan saat ini.
Rania menyuruh supirnya untuk putar balik. Ia tidak ingin Arkana melihatnya. Ia tidak ingin ia tahu bahwa Rania telah menyaksikan pengkhianatan ini. Ia kembali ke rumah, ke sangkar emasnya, dengan langkah-langkah yang gontai. Rumah yang semula terasa hampa kini terasa seperti kuburan. Kesunyiannya terasa seperti jeritan.
Ia berjalan ke kamar kakeknya. Kakeknya masih tertidur pulas. Wajahnya yang damai membuat hati Rania terasa lebih sakit. Mengapa ia harus berkorban begitu banyak untuk kebohongan ini? Untuk apa ia menderita jika pada akhirnya semua akan hancur?
Dalam keputusasaan, Rania membuka lemari buku tua milik kakeknya, yang dipenuhi dengan buku-buku usang yang Rania sering bacakan untuknya. Ia mencari sebuah buku lama yang selalu ia simpan di rak paling bawah. Saat ia mengambil buku itu, sebuah foto yang sudah menguning terjatuh. Rania mengambilnya.
Foto itu buram dan warnanya pudar, tetapi ia bisa melihatnya dengan jelas. Itu adalah foto kakeknya, saat ia masih muda, duduk di sebuah bangku taman. Di sampingnya, seorang wanita muda dengan wajah yang mirip dengan Rania, tersenyum cerah. Ibunya. Namun, di samping ibunya, ada seorang pria muda. Wajahnya tidak asing. Rambutnya hitam legam dan matanya memancarkan kehangatan yang tulus. Ada sesuatu tentang matanya yang membuat hati Rania bergetar. Seperti kenangan lama yang ia coba lupakan, kenangan yang tersembunyi jauh di lubuk hatinya.
Rania menatap foto itu, air matanya jatuh membasahi wajah-wajah yang kini terasa asing itu. Siapa pria ini? Mengapa ia ada di foto itu bersama kakek dan ibunya? Sebuah perasaan aneh merayap di hatinya. Perasaan yang bercampur aduk antara kesedihan, kekecewaan, dan sebuah harapan kecil yang ia rasakan saat melihat mata pria muda itu.
Dalam keheningan malam, di tengah reruntuhan hatinya, sebuah rahasia masa lalu dan perasan yang tak pernah terucap, mulai terungkap. Sebuah perjalanan baru telah dimulai. Dan Rania, yang kini benar-benar terluka, harus menemukan kekuatannya untuk bangkit dari kehancuran ini.
Dingin. Kata itu menjadi satu-satunya deskripsi yang Rania miliki untuk malam itu. Bukan dingin karena udara di luar, melainkan dingin yang merambat dari dalam, dari reruntuhan hatinya yang baru saja hancur. Foto usang itu masih tergenggam erat di tangannya. Ia kembali menatapnya, membiarkan air mata mengering di pipinya. Wanita itu, ibunya, tersenyum dengan sorot mata yang penuh kehidupan. Di sebelahnya, sang kakek, terlihat gagah dan penuh ambisi. Tapi mata Rania terus kembali ke sosok pria muda di antara mereka. Senyumnya ramah, matanya teduh, dan entah mengapa, Rania merasa seolah ia mengenalnya.
Malam itu, Rania tidak bisa tidur. Ia tidak makan, tidak minum, hanya duduk di tepi ranjang, merenungi kebohongan yang kini menutupi seluruh hidupnya. Setiap sudut rumah mewah ini, yang ia yakini sebagai tempat perlindungannya, kini terasa seperti monumen kebohongannya sendiri. Janji yang hancur, hati yang terluka, dan kini, sebuah rahasia dari masa lalu yang muncul tiba-tiba.
Di tengah kegelapan, Rania mengambil ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Arkana. "Maaf, rapatnya sangat larut." "Aku akan pulang subuh." "Tidurlah, jangan menungguku." Pesan-pesan itu terasa seperti pisau tajam yang menusuk luka yang masih basah. Rania tidak membalas. Ia tidak ingin lagi berpura-pura.
Pagi menjelang, dan Rania terbangun dengan kepala pening. Ia tidak ingat kapan ia tertidur. Matanya bengkak dan merah, cermin di hadapannya memantulkan sosok yang lelah dan putus asa. Ia tahu ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus kuat, demi kakeknya. Demi janji yang sudah ia berikan. Rania membasuh wajahnya, menutupi matanya dengan riasan tipis, dan memakai pakaian yang sederhana namun elegan. Ia harus kembali menjadi Rania yang sempurna, meskipun di dalamnya ia sudah hancur berkeping-keping.
Saat ia turun ke bawah, ia melihat Arkana sudah berada di meja makan. Pria itu terlihat segar dan tampan, seolah malam sebelumnya ia benar-benar menghabiskan waktu di rapat. Arkana menoleh, menatap Rania sejenak, lalu kembali fokus pada tabletnya. "Kamu sudah bangun?" tanyanya datar, tanpa nada bersalah atau basa-basi.
Rania duduk di seberangnya, mengambil cangkir kopi. "Ya."
"Rapatnya berjalan dengan lancar. Ada beberapa proyek yang harus kita tinjau kembali," kata Arkana, mencoba memulai percakapan.
Rania hanya mendengarkan, membiarkan kata-katanya menguap di udara. Ia tidak bertanya tentang rapatnya, tentang proyeknya, tentang malamnya. Ia hanya menatapnya, memperhatikan setiap gerak-geriknya, mencari jejak kebohongan di matanya. Ia tidak menemukannya. Arkana adalah aktor yang ulung. Ia bisa menyembunyikan semuanya dengan sempurna.
"Gaunmu sudah siap?" Arkana bertanya lagi, mencoba mengisi keheningan yang canggung. "Untuk acara nanti malam."
"Aku sudah membatalkannya," jawab Rania.
Arkana mengernyitkan dahi, meletakkan tabletnya. "Kenapa?"
"Kamu bilang kamu tidak akan datang."
"Ah, iya. Lupa," katanya, seolah itu adalah hal kecil yang tidak penting. "Aku bisa datang. Rapatku sudah selesai."
Mendengar itu, hati Rania terasa mual. Ia menahan diri untuk tidak meledak. "Tidak perlu. Aku tidak ingin pergi."
Arkana hanya mengangguk, tidak memaksa. Ia mengambil tabletnya kembali, lalu berdiri. "Baiklah. Aku akan pergi ke kantor. Jangan lupa kunjungi kakekmu."
"Aku tidak akan pernah lupa," kata Rania, suaranya dingin dan menusuk. Ia menatap kepergian Arkana, dan saat pintu tertutup, Rania memejamkan mata, membiarkan rasa sakit itu kembali merayap di dadanya.
Rania menghabiskan pagi itu di kamar kakeknya. Kakeknya terlihat lebih baik hari itu. Mereka berbicara tentang masa lalu, tentang masa kecil Rania yang bahagia, tentang ibunya yang cantik dan ayahnya yang gagah. Rania dengan sengaja tidak menunjukkan foto itu. Ia tidak ingin kakeknya khawatir, atau sedih.
"Kakek," Rania memulai, suaranya pelan. "Kakek kenal dengan semua teman ibu dan ayah?"
Kakeknya tersenyum, matanya menerawang. "Tentu saja. Mereka adalah sahabat terbaik Kakek dan nenekmu. Kami sering menghabiskan waktu bersama."
"Ada seorang teman, Kakek," kata Rania, mencoba menggali informasi. "Seorang pria. Apakah Kakek ingat namanya?"
Kakeknya terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan tanda kebingungan. "Banyak sekali. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya?"
Rania terpaksa berbohong. "Tidak ada. Aku hanya teringat sebuah cerita yang pernah Kakek ceritakan."
Kakeknya kembali tersenyum, tetapi senyumnya terlihat lelah. "Mungkin lain kali, Nak. Kakek sudah lelah."
Rania mengangguk, mencium kening kakeknya. Ia tahu ia tidak bisa memaksakan ingatan kakeknya. Ia harus mencari tahu sendiri. Saat kakeknya tertidur, Rania kembali ke kamarnya. Ia mengeluarkan foto itu lagi, menatap wajah pria muda itu. Ia merasa ada ikatan yang tidak terjelaskan dengan pria ini. Seperti ia adalah bagian dari takdirnya, tetapi ia tidak pernah bertemu dengannya.
Sore harinya, saat Rania sedang membaca buku di ruang keluarga, suara ketukan pintu mengejutkannya. Ia tidak mengharapkan tamu. Ketika pintu terbuka, seorang pria berdiri di ambang pintu. Pria itu tinggi, gagah, dengan rahang yang kokoh dan mata yang teduh. Matanya, Rania menyadari, sangat mirip dengan mata pria muda di foto itu.
"Maaf, apakah ini rumah Tuan Arkana?" tanya pria itu, suaranya dalam dan tenang.
"Ya," jawab Rania, berdiri. "Saya istrinya, Rania. Ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu tersenyum. "Nama saya Satria. Saya... teman lama dari keluarga Rania," katanya, matanya menatap Rania dengan tatapan yang lembut, seolah ia mengenalnya.
Rania merasa jantungnya berdebar kencang. Satria. Apakah ini pria yang ada di foto itu?
"Silakan masuk," kata Rania, mengundang pria itu masuk.
Satria duduk di sofa, menatap sekeliling rumah mewah itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Rumahmu indah sekali."
"Terima kasih," jawab Rania, duduk di seberangnya. "Teman lama? Maaf, saya tidak ingat."
Satria tersenyum lagi. "Wajar. Saya sudah lama sekali tidak melihatmu. Kamu masih sangat kecil saat terakhir kita bertemu."
"Jadi, Anda teman ibu saya?" tanya Rania, mencoba menahan kegugupannya.
Satria mengangguk. "Ya. Teman baik ibumu." Ia menatap Rania dalam-dalam. "Kamu sangat mirip dengannya."
Rania merasa hatinya menghangat. Ia jarang sekali bertemu orang yang mengenal ibunya. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya hanya kebetulan lewat dan ingin mampir. Saya baru saja kembali dari luar negeri," kata Satria. "Saya ingin tahu kabar keluargamu. Terutama Kakekmu."
"Kakekku baik-baik saja," Rania berbohong, tidak ingin Satria tahu tentang kondisi kakeknya. "Dia... dia sedang istirahat."
"Baguslah," kata Satria, mengangguk.
Mereka terdiam, keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Rania merasa penasaran, ia ingin bertanya lebih banyak. Siapa dia sebenarnya? Mengapa ia baru datang sekarang? Apakah ia tahu tentang perjanjian pernikahannya dengan Arkana?
"Apakah... Anda mengenal Arkana?" tanya Rania akhirnya.
Satria mengangguk. "Ya. Kami pernah bertemu beberapa kali. Dia pria yang baik."
Hati Rania terasa dingin. "Ya," katanya, suaranya serak. "Dia pria yang baik."
Satria menatapnya, matanya tajam dan penuh arti. "Tapi kamu tidak bahagia," katanya, suaranya sangat pelan, seolah ia bisa membaca pikirannya.
Rania tertegun. Ia tidak bisa berbohong pada pria ini. Ada sesuatu di matanya yang menembus pertahanannya. Air matanya kembali menggenang. "Bagaimana Anda tahu?"
"Aku bisa melihatnya," kata Satria, suaranya penuh empati. "Di matamu, ada kesedihan yang dalam. Kesedihan yang sama seperti mata ibumu saat ia... saat ia menghadapi masalah."
Rania menunduk, membiarkan air matanya mengalir. Ia merasa nyaman di dekat Satria. Pria ini terasa seperti pelabuhan, tempat ia bisa meluapkan semua emosinya tanpa harus berpura-pura.
"Maaf," katanya, menghapus air matanya. "Saya tidak tahu kenapa saya begini."
"Tidak apa-apa," kata Satria, suaranya lembut. "Hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan." Ia berdiri, menatap Rania. "Aku harus pergi. Tapi... jika kamu butuh teman bicara, jangan ragu untuk menghubungiku."
Ia memberikan Rania sebuah kartu nama. "Aku akan pergi ke kantor. Jangan lupa kunjungi kakekmu."
Rania menatap kartu nama itu. Satria Adhitama, CEO sebuah perusahaan teknologi. Satria tersenyum, lalu pergi.
Setelah Satria pergi, Rania kembali ke kamarnya. Ia menatap foto itu lagi, lalu kartu nama Satria. Ada kemiripan yang tidak bisa ia abaikan. Wajah yang sama, senyum yang sama, tatapan mata yang sama. Apakah Satria adalah anak dari pria muda itu? Atau apakah dia pria itu sendiri?
Ia menyadari, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pernikahan hampa yang ia jalani. Ada sebuah rahasia yang tersembunyi di balik masa lalu keluarganya. Dan Satria, entah bagaimana, adalah kunci untuk mengungkapnya.
Beberapa hari berlalu, dan Rania kembali menjalani rutinitasnya. Namun, ada yang berbeda. Ia tidak lagi merasa sendiri. Ia kini memiliki seorang teman, seorang pria bernama Satria. Mereka sering bertemu di kafe, berbicara tentang buku, musik, dan hal-hal sepele yang membuat Rania merasa hidup kembali. Satria adalah pendengar yang baik. Ia tidak pernah menghakimi, ia hanya mendengarkan.
Suatu hari, saat mereka bertemu di kafe, Satria bertanya tentang pernikahan Rania. "Apakah kamu mencintai Arkana?" tanyanya, suaranya lembut, tidak menghakimi.
Rania terdiam. Ia menatap Satria, matanya penuh dengan kesedihan. "Tidak," bisiknya pelan. "Aku tidak pernah mencintainya."
Satria mengangguk, seolah ia sudah tahu jawabannya. "Lalu, mengapa kamu menikah dengannya?"
Rania menceritakan semuanya. Tentang perusahaan kakeknya yang hampir bangkrut, tentang kondisi kakeknya yang sakit, tentang perjanjian pernikahan dengan Arkana. Ia menceritakan semuanya, tanpa ada yang ia sembunyikan.
Satria mendengarkan dengan penuh perhatian. "Aku mengerti," katanya. "Kamu mengorbankan dirimu untuk keluargamu."
Rania mengangguk. "Aku tidak punya pilihan."
Satria terdiam sejenak. "Dulu, aku juga pernah mengira begitu. Mengorbankan diri untuk orang yang kita cintai adalah hal yang benar. Tapi, apa jadinya jika pengorbanan itu justru menyakiti diri sendiri?"
Rania menatap Satria. "Aku tidak tahu."
"Pengorbananmu itu mulia," kata Satria, suaranya penuh kekaguman. "Tapi kamu harus ingat, Rania. Kamu juga berhak bahagia. Kamu berhak untuk mencintai dan dicintai."
Mendengar kata-kata itu, Rania merasa hatinya bergetar. Ia merasa seperti ada seseorang yang akhirnya melihatnya, melihat penderitaannya, melihat pengorbanannya. Ia merasa ada seseorang yang akhirnya memahaminya.
Rania tidak tahu mengapa, tetapi ia merasa nyaman di dekat Satria. Ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Ia merasa bisa melupakan sejenak bahwa ia adalah istri dari pria yang mengkhianatinya. Ia merasa ada sebuah kebahagiaan kecil yang ia temukan di tengah reruntuhan hatinya.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu sore, saat Rania dan Satria sedang berjalan di taman, mereka bertemu dengan Arkana. Arkana terlihat terkejut melihat Rania bersama seorang pria.
"Rania?" panggilnya, suaranya tajam. "Siapa dia?"
Rania terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Satria maju, mengulurkan tangannya pada Arkana. "Satria Adhitama," katanya. "Teman lama Rania."
Arkana menjabat tangan Satria, tatapan matanya penuh kecurigaan. "Arkana. Suaminya."
Suasana menjadi tegang. Arkana menatap Satria, lalu beralih ke Rania. "Kamu tidak bilang kamu punya janji."
"Aku tidak ingin mengganggu 'rapat mendadak'-mu," jawab Rania, suaranya dingin.
Arkana mengabaikan sindiran itu. "Kita pulang sekarang."
Rania menatap Satria, lalu mengangguk. "Sampai jumpa, Satria."
Satria hanya tersenyum, matanya penuh dengan kekhawatiran. "Sampai jumpa, Rania."
Di dalam mobil, Arkana tidak berbicara. Rania juga tidak. Keheningan itu jauh lebih mengerikan dari pertengkaran. Rania tahu, Arkana kini mencurigainya.
Setibanya di rumah, Arkana menarik tangan Rania, menariknya ke ruang kerja. "Siapa pria itu?" tanyanya, suaranya marah.
"Aku sudah bilang, dia teman lama," jawab Rania, mencoba melepaskan tangannya.
"Teman lama apa? Aku tidak pernah melihatnya," kata Arkana. "Apakah dia pria yang menggodamu saat aku tidak ada?"
"Dia tidak menggodaku!" Rania membentak, kemarahannya meledak. "Dia jauh lebih baik darimu! Dia mendengarkan aku, dia memahami aku, dia tidak sepertimu, yang hanya peduli pada dirimu sendiri!"
Arkana terdiam. Ia menatap Rania, matanya penuh dengan amarah, tetapi juga ada sedikit rasa bersalah. "Apa maksudmu?"
Rania tertawa hampa. "Kamu tahu apa maksudku," katanya. "Kamu pikir aku tidak tahu? Kamu pikir aku bodoh? Aku melihatmu, Arkana. Aku melihatmu dengan wanita lain."
Mendengar kata-kata itu, wajah Arkana memucat. Ia menunduk, tidak bisa menatap mata Rania. "Aku..."
"Tidak perlu menjelaskan," Rania memotongnya. "Aku sudah tahu. Aku sudah melihat semuanya."
Ia keluar dari ruang kerja itu, meninggalkan Arkana yang terdiam. Ia kembali ke kamarnya, mengunci pintunya. Ia tidak peduli dengan apa yang akan Arkana pikirkan. Ia sudah hancur, dan ia tidak takut lagi.
Malam itu, Rania kembali menatap foto usang itu. Ia melihat wajah Satria, dan ia merasa seolah ada sebuah harapan. Harapan bahwa ia tidak sendirian. Harapan bahwa ia bisa menemukan kebahagiaannya sendiri.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menghadapi kenyataan yang tersembunyi di balik foto itu. Tetapi ia tahu satu hal: ia tidak akan menyerah. Ia akan berjuang, demi dirinya sendiri, demi kakeknya, dan demi kebahagiaan yang ia layak dapatkan.
Kini, bukan hanya pengkhianatan Arkana yang menjadi bebannya. Ada rahasia masa lalu yang harus ia pecahkan. Dan ia, yang perlahan bangkit dari reruntuhan, akan memulainya.
Malam itu, setelah pertengkaran dengan Arkana, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Kata-kata Rania, yang keluar dari lubuk hati yang terluka, telah menciptakan jurang tak terduga di antara mereka. Arkana tidak lagi bertindak dingin; ia terlihat terkejut dan mungkin, sedikit terluka. Namun, bagi Rania, semua itu tidak lagi penting. Pengkhianatan telah menutupi segalanya. Perasaannya kini adalah sebuah badai yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.
Rania mengunci diri di kamarnya. Bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk mencari kekuatan. Ia duduk di lantai, bersandar di pintu yang memisahkannya dari Arkana, dan kembali menatap foto usang di tangannya. Pria itu, Satria, adalah satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan ini. Senyumnya di foto itu dan senyumnya saat mereka bertemu terasa seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu yang samar dengan masa kini yang penuh misteri.
Keesokan paginya, Rania bangun dengan tekad baru. Ia tidak akan lagi menjadi istri yang pasif, yang hanya menerima nasibnya. Ia akan mencari kebenaran. Pagi itu, Rania tidak turun untuk sarapan bersama Arkana. Ia langsung pergi ke kamar kakeknya.
Kakeknya sedang duduk di kursi rodanya, menatap ke luar jendela. Sebuah senyum merekah di wajahnya saat Rania masuk. "Pagi, Rania. Hari ini udara terasa lebih segar."
"Pagi, Kakek," jawab Rania, mencium tangan kakeknya. "Hari ini kita jalan-jalan, ya. Ke taman belakang."
Taman belakang adalah tempat favorit kakeknya. Di sana, terdapat sebuah bangku tua di bawah pohon rindang, tempat kakeknya sering duduk bersama istrinya, nenek Rania. Rania mendorong kursi roda kakeknya perlahan. Mereka melewati hamparan bunga mawar, melati, dan krisan yang terawat dengan baik.
Saat tiba di bangku tua, Rania membantu kakeknya duduk. Ia duduk di sampingnya, menggenggam tangan keriputnya. "Kakek, Rania mau tanya sesuatu," bisik Rania.
Kakeknya menoleh, matanya teduh. "Tanya apa, Nak?"
"Tentang ibu dan ayah," kata Rania, mengeluarkan foto usang itu. "Siapa pria ini, Kakek? Aku menemukannya di buku lama Kakek."
Kakeknya terdiam, tatapannya terpaku pada foto itu. Wajahnya yang keriput menunjukkan emosi yang campur aduk: nostalgia, kesedihan, dan sedikit penyesalan. "Dia... dia adalah sahabat Kakek," jawabnya, suaranya serak. "Namanya Aditya."
"Aditya?" tanya Rania, jantungnya berdebar kencang. "Apakah ia ayah dari Satria?"
Kakeknya mengangguk pelan. "Ya. Satria adalah putranya."
"Mengapa Kakek tidak pernah menceritakan tentang dia?"
Kakeknya menghela napas panjang, menatap jauh ke depan. "Itu adalah masa lalu yang menyakitkan, Rania. Kami adalah sahabat yang sangat dekat. Aku dan Aditya mendirikan perusahaan bersama, dengan impian yang sama. Namun, suatu hari, sebuah kesalahpahaman besar terjadi. Kami bertengkar hebat. Setelah pertengkaran itu, Aditya pergi. Ia membawa keluarganya dan tidak pernah kembali."
Rania mendengarkan dengan saksama. "Kesalahpahaman apa, Kakek?"
Kakeknya menggelengkan kepala. "Kakek tidak ingin membicarakannya. Yang Kakek tahu, Kakek merasa sangat bersalah. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
"Bagaimana dengan ibu?" tanya Rania. "Apakah ibu juga dekat dengannya?"
"Sangat dekat," jawab kakeknya, senyum tipis terukir di bibirnya. "Ibumu dan Aditya adalah... sahabat yang sangat baik. Mereka berdua memiliki mimpi yang sama, mereka saling melengkapi. Kakek bahkan sempat mengira bahwa mereka akan..." Kakeknya terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya.
Rania merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata kakeknya. Sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. "Kakek, apakah ibu... mencintai Aditya?"
Kakeknya tidak menjawab. Ia hanya menatap Rania, matanya dipenuhi dengan kesedihan. "Mungkin saja. Tapi itu sudah lama sekali. Mereka tidak pernah bersama. Ibumu akhirnya menikah dengan ayahmu, dan Kakek... Kakek juga ikut campur tangan dalam pernikahan itu."
Mendengar kata-kata itu, Rania merasa dunia di sekitarnya runtuh untuk kedua kalinya. Ia melihat kesamaan antara nasibnya dan nasib ibunya. Apakah ibunya juga dipaksa menikah dengan pria yang tidak ia cintai? Mengapa?
"Mengapa Kakek melakukan itu?" tanya Rania, suaranya bergetar.
"Karena ayahmu adalah pria yang sangat baik. Dia bisa melindungi ibu, memberikan kehidupan yang layak," jawab kakeknya. "Kakek tidak ingin ibumu menderita karena Kakek."
"Tapi apakah ibu bahagia?" tanya Rania.
Kakeknya hanya menunduk, tidak bisa menjawab.
Mendengar pengakuan kakeknya, Rania merasa hancur. Ia tidak tahu harus merasakan apa. Marah? Sedih? Kecewa? Semua perasaan itu bercampur aduk. Ia menyadari, ia bukan satu-satunya yang menjadi korban dari pengorbanan yang tidak terucap. Ibunya juga. Dan kini, ia mengerti mengapa ia merasa ada ikatan yang tidak terjelaskan dengan Satria. Satria adalah bagian dari masa lalu yang Rania tidak pernah ketahui.
"Kakek, di mana Aditya sekarang?" tanya Rania. "Apakah ia masih hidup?"
Kakeknya menggelengkan kepala. "Kakek tidak tahu. Setelah pertengkaran itu, kami tidak pernah bertemu lagi."
Rania tahu ia tidak bisa memaksakan kakeknya lagi. Ia harus mencari tahu sendiri. Ia harus menemukan Satria.
Rania menghubungi Satria. Mereka bertemu di sebuah kafe. Rania menceritakan semuanya, tentang percakapannya dengan kakeknya, tentang foto itu, tentang Aditya, ayahnya.
Satria mendengarkan dengan saksama. "Jadi, ayahku dan kakekmu adalah sahabat?" tanyanya, matanya penuh dengan kekaguman. "Aku tidak pernah tahu."
"Ayahmu tidak pernah bercerita?" tanya Rania.
Satria menggeleng. "Tidak. Ayahku meninggal saat aku masih kecil. Ibuku juga. Aku hanya dibesarkan oleh nenekku."
"Jadi, kamu tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka?"
"Tidak. Nenekku hanya bilang, ada sebuah kesalahan besar di masa lalu yang membuat ayahku pergi," jawab Satria. "Aku tidak pernah tahu apa kesalahannya."
Rania merasa ada sebuah takdir yang menghubungkan mereka berdua. Mereka adalah dua orang yang sama-sama mencari jawaban dari masa lalu yang tersembunyi.
"Aku punya ide," kata Rania. "Aku akan mengajakmu bertemu dengan kakekku."
"Aku tidak yakin itu ide yang bagus," kata Satria. "Ayahku dan kakekmu memiliki masa lalu yang tidak baik."
"Tapi kakekku merindukan ayahmu," kata Rania. "Ia merasa sangat bersalah. Mungkin dengan bertemu denganmu, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan."
Satria terdiam. Ia menatap Rania, matanya penuh dengan keraguan. "Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan datang."
Hari itu, Rania membawa Satria ke rumahnya. Kakeknya sedang duduk di kursi rodanya, menatap ke luar jendela. Rania membawa Satria masuk.
"Kakek," kata Rania, "ada yang ingin bertemu denganmu."
Kakeknya menoleh, dan matanya langsung terpaku pada Satria. Ia terdiam, tatapan matanya dipenuhi dengan emosi yang tak terucapkan.
"Kakek," kata Satria, suaranya bergetar. "Saya Satria. Putra dari Aditya."
Mendengar nama itu, kakeknya langsung menangis. Ia berusaha berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Satria langsung memeluknya. "Kakek," bisiknya. "Tidak apa-apa."
Kakeknya menangis di pelukan Satria, tangisan yang penuh dengan penyesalan, kerinduan, dan rasa bersalah. Rania hanya bisa melihat mereka berdua, air matanya juga mengalir. Ia melihat bagaimana takdir menghubungkan mereka, bagaimana sebuah kesalahan di masa lalu telah menciptakan sebuah luka yang baru bisa sembuh sekarang.
Setelah kakeknya tenang, ia menceritakan semuanya pada Satria. Tentang persahabatannya dengan Aditya, tentang impian mereka untuk membangun perusahaan bersama, tentang kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"Aditya ingin membangun perusahaan dengan visinya sendiri," kata kakeknya. "Namun, aku terlalu ambisius. Aku ingin perusahaan itu menjadi besar dalam waktu singkat, dan aku mengambil jalan pintas yang tidak disetujui Aditya. Kami bertengkar, dan Aditya pergi."
"Apa jalan pintas itu, Kakek?" tanya Rania.
"Aku... aku berhutang dengan orang yang salah," kata kakeknya, suaranya bergetar. "Aku berhutang dengan seorang mafia. Aku tidak punya pilihan. Perusahaan kami bangkrut."
Rania terkejut. Ia tidak pernah tahu tentang ini. Jadi, ini alasan di balik kebangkrutan perusahaan kakeknya. Ia menatap Satria, matanya penuh dengan kekaguman. Satria hanya mengangguk, seolah ia sudah tahu semuanya.
"Jadi, mengapa kamu menikah dengan Arkana?" tanya Satria. "Apa hubungannya dengan kebangkrutan ini?"
"Arkana datang dan menawarkan modal," kata kakeknya. "Ia tahu tentang hutangku. Ia berjanji akan melunasi hutang itu dan membangun kembali perusahaan ini. Dengan satu syarat: Rania harus menjadi istrinya."
Rania menunduk, air matanya menetes. Ia merasa malu. Ia merasa bodoh. Ia merasa, ia adalah korban dari kebohongan yang rumit.
"Kakek," kata Satria, suaranya tegas. "Kakek harus tahu. Ayahku adalah orang yang menemukan tentang hutang ini. Ia mencoba untuk melunasi hutang ini, tetapi ia... ia dibunuh."
Mendengar kata-kata itu, kakeknya langsung pingsan. Rania dan Satria terkejut. Mereka berusaha membangunkan kakeknya, tetapi kakeknya tidak sadarkan diri.
Rania segera memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa kakeknya. "Kakeknya mengalami serangan jantung," kata dokter. "Jantungnya terlalu lemah untuk menerima berita yang mengejutkan. Ia harus dirawat di rumah sakit."
Malam itu, Rania dan Satria menemani kakeknya di rumah sakit. Arkana datang, tetapi Rania tidak ingin berbicara dengannya. Ia hanya ingin fokus pada kakeknya.
"Siapa pria itu?" tanya Arkana, menunjuk Satria.
"Dia adalah orang yang bisa dipercaya," jawab Rania.
Arkana menatap Satria, matanya penuh dengan kecurigaan dan amarah. "Aku tidak tahu kau punya teman seperti ini."
Rania hanya mengabaikannya. Ia tahu, Arkana kini merasa terancam.
"Kita perlu bicara," kata Arkana.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab Rania. "Kita tidak punya apa-apa lagi."
Malam itu, Rania menyadari, ia tidak lagi sendirian. Ia punya Satria, seorang pria yang membantunya mengungkap rahasia masa lalu. Dan di tengah reruntuhan hatinya, sebuah harapan baru telah lahir. Harapan untuk sebuah kehidupan yang baru, sebuah kehidupan yang tidak lagi dipenuhi dengan kebohongan.