Bab 1

Laila meremas seonggok kain lusuh di tangannya. Rasa sakit itu datang lagi, jauh lebih kuat dari yang sebelumnya, seolah-olah ada tangan raksasa yang meremas tulang punggungnya sampai hancur. Ia menggigit bibirnya, menahan suara jeritan yang tercekat di tenggorokan. Ini bukan lagi sakit biasa, ini puncaknya. Ia tahu. Setelah sembilan bulan menyangkal, setelah berbulan-bulan lari dari kenyataan, sekarang alam menariknya paksa untuk menghadapi segala konsekuensi dari pergaulan yang salah itu.

"Nggak, nggak sekarang," bisiknya pada dinding bata yang dingin dan berlumut.

Ia ada di lantai tiga sebuah gedung terbengkalai. Tempat ini dulunya mungkin akan jadi kantor mewah, tapi proyeknya berhenti lima tahun lalu. Sekarang, ia hanyalah kerangka beton tanpa jendela, berbau apek, lembap, dan menjadi rumah bagi laba-laba serta tikus-tikus. Laila memilih tempat ini, bukan karena ia punya pilihan, tapi karena di sini-di antara sisa-sisa kemewahan yang gagal-ia bisa menyembunyikan aibnya. Tidak ada yang akan mencarinya di sini, tidak ada yang akan mendengar suaranya, dan yang paling penting, tidak ada yang akan menghakimi.

Laila berusaha bangkit, lututnya gemetar. Ia harus pindah ke sudut yang lebih terlindung, tapi gelombang kontraksi berikutnya menghantam, membuatnya kembali terhuyung. Ia merangkak, menyeret perut besarnya melintasi lantai semen yang kasar. Setiap inci gerakan terasa seperti siksaan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh keringat dingin yang membasahi dahi. Ia tidak bisa menelepon siapa pun. Nomor teman-teman lamanya sudah diblokir, dan keluarganya? Ah, keluarganya. Ingatan itu datang seperti belati.

"Kalau kau keluar dari pintu itu, jangan pernah anggap kami orang tuamu lagi. Jangan pernah bawa aib ini kembali!"

Itu kata terakhir Bapaknya, diucapkan dengan suara yang berat dan mata yang memancarkan rasa malu sekaligus kekecewaan yang tak terhingga. Malam itu, tiga bulan lalu, Laila berjalan keluar, membawa tas ransel berisi beberapa potong baju dan beban penyesalan sebesar gunung. Sejak itu, ia hidup dari sisa uang tabungan, bekerja serabutan yang menerima ibu hamil, dan akhirnya, bersembunyi di sini.

Kontraksi kembali datang. Laila mencengkeram besi tua yang menjulur dari dinding. Kali ini, ia tidak bisa menahan suara rintihan yang lolos. Ia terengah-engah, merasakan sesuatu yang dingin dan basah mengalir di kakinya. Air ketuban pecah. Waktunya sudah habis.

Panik mulai merayap naik, menggantikan rasa sakit. Ia sendirian. Tidak ada bidan, tidak ada handuk bersih, tidak ada air hangat, apalagi obat pereda nyeri. Yang ada hanya kegelapan yang mulai turun, memeluk lantai semen, dan bayangan-bayangan seram dari besi-besi konstruksi di sekelilingnya.

"Ya Tuhan, tolong aku... Tolong aku," ratapnya, suaranya parau dan kecil, hilang ditelan ruangan besar yang kosong.

Ia mencoba mengingat-ingat film atau drama yang pernah ia tonton tentang melahirkan. Apa yang harus dilakukan? Mendorong? Menarik napas? Hanya ada satu insting yang tersisa: insting untuk bertahan hidup, dan insting untuk memastikan makhluk kecil di perutnya ini juga bertahan.

Laila memosisikan dirinya bersandar pada tumpukan karung bekas. Dinginnya semen menjalar cepat ke punggungnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan dorongan untuk menjerit. Otaknya bekerja keras, menyaring informasi di tengah kabut rasa sakit. Ia meraba sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dijadikan alas atau pembalut. Ia menemukan beberapa lembar koran bekas yang sedikit kering, dan sebuah plastik pembungkus makanan sisa. Tidak higienis, tapi ini satu-satunya yang ia punya.

Setiap sepuluh menit, rasa sakit itu datang, menguat seperti gelombang pasang, memaksa tubuhnya melakukan hal yang tidak pernah ia latih. Ia mendorong, bukan karena kemauan, tapi karena tubuhnya memerintahkannya.

Sambil merintih, pikirannya berkelana liar. Ia memikirkan Emon, si biang kerok yang membawanya ke lingkungan itu. Emon yang memberinya janji manis, yang menghambur-hamburkan uang sewa kos yang ternyata uang haram, dan yang meninggalkannya begitu tahu Laila hamil. Laki-laki pengecut. Laila tidak membencinya, ia sudah melampaui fase itu. Yang ia rasakan hanya penyesalan konyol. Kenapa ia bisa begitu bodoh, begitu rapuh, dan begitu mudah percaya?

Rasa sakit berikutnya datang lagi, kali ini disertai sensasi perih yang merobek. Laila berteriak, suara teriakannya memantul dari dinding ke dinding, terdengar asing dan menyedihkan di ruang kosong itu. Itu adalah jeritan keputusasaan dan penyerahan diri. Ia tidak lagi peduli jika ada gelandangan lain yang mendengarnya.

Ia merasakan ada tekanan luar biasa di bawah sana. Ia mendorong sekuat tenaga, memanggil semua energi yang tersisa dari tubuh yang sudah berhari-hari hanya makan mi instan. Ia mendorong lagi, dan lagi. Kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang.

Tiba-tiba, ada sensasi licin dan hangat, diikuti oleh suara pluk yang tidak disengaja.

Laila berhenti bernapas.

Dalam remang-remang senja yang masuk dari celah atap, ia melihatnya. Sosok kecil, ungu kemerahan, tergeletak di atas tumpukan koran bekas. Tangan mungilnya yang terkepal. Keheningan selama sepersekian detik terasa seperti keabadian. Hanya suara napas Laila yang tersengal-sengal yang memecah kesunyian.

Lalu, tangisan itu datang.

Bukan tangisan manja, bukan tangisan lembut. Itu adalah tangisan perjuangan, tangisan marah, tangisan nyaring yang mengisi seluruh ruangan kosong. Tangisan itu adalah konfirmasi. Konfirmasi bahwa ia berhasil. Konfirmasi bahwa ia adalah seorang ibu. Dan konfirmasi bahwa hidupnya, yang sudah hancur, kini akan menjadi jauh lebih rumit.

Air mata Laila akhirnya turun, bukan karena sakit lagi, tapi karena rasa lega, takut, dan cinta yang tumpah ruah dalam satu waktu. Ia mengulurkan tangan yang gemetar, menyentuh kulit basah bayi itu.

"Anakku..." bisiknya, suaranya pecah.

Ia menyeka pandangannya, mencari cara. Tali pusat. Ia harus memotongnya. Ia sudah menyiapkan sepotong pecahan kaca yang ia temukan dua hari lalu, ia cuci dengan air sisa minumannya. Ini bukan gunting yang steril, ini adalah benda tajam kotor yang harus ia gunakan, risiko infeksi ada di depan mata. Namun, ia tidak punya pilihan.

Dengan hati-hati, ia mengambil pecahan kaca itu. Tangannya gemetar hebat. Ia harus melakukannya sekali tebas. Jika ia gagal, bayinya akan terluka. Ia menarik napas panjang, menenangkan jantungnya yang berdebar seperti genderang perang.

"Aku nggak boleh salah. Demi kamu," ucapnya pada bayi itu, yang kini hanya menangis pelan, mencari kehangatan.

Cret!

Bukan tebasan bersih, tapi cukup. Laila segera membalut ujung tali pusatnya seadanya dengan sobekan kain yang ia siapkan, lalu segera memeluk bayinya ke dada. Kehangatan kulit bertemu kulit. Insting keibuan mengambil alih sepenuhnya.

Ia menggendongnya erat. Rasa dingin dari gedung, rasa sakit di tubuhnya, rasa lapar yang menusuk-semuanya seolah lenyap, digantikan oleh keajaiban kecil yang menggeliat di pelukannya. Ia menyandarkan punggungnya di dinding, memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat setelah perang yang panjang.

Bayi itu laki-laki. Ia meraba-raba wajah mungil itu, matanya masih tertutup. Ia melihat hidungnya, mirip dengan hidung Bapaknya. Ya, Bapaknya yang kini tak mau ia pandang. Tapi ia tak mau itu merusak momen ini.

"Siapa namamu, Nak?" gumam Laila, sambil tersenyum tipis-senyum pertama yang ia rasakan dalam waktu yang lama.

Di tengah keheningan, ia melihat ke sekeliling ruangan lagi. Kerangka-kerangka baja, debu tebal, bau kotoran burung. Ini adalah tempat kelahiranmu, Nak. Bukan rumah sakit bersih, bukan kamar berpendingin, tapi gudang penuh aib dan kesendirian.

Penyesalan itu kembali. Bukan penyesalan memiliki anak ini, tidak. Anak ini adalah harta dan anugerahnya. Penyesalannya adalah kenapa ia bisa membuat masa depan anak ini begitu sulit bahkan sebelum ia sempat menghirup udara bersih. Anak ini lahir dari kesalahan dan kini harus membayar harga yang mahal.

Laila tahu, malam ini hanya permulaan. Begitu matahari terbit, ia harus membuat keputusan besar. Apakah ia harus meninggalkan anak ini di panti asuhan agar mendapat hidup yang layak? Atau ia harus menggenggamnya erat, menghadapi dunia yang kejam sendirian, dan membuktikan bahwa ia mampu menjadi ibu yang baik, meskipun dari awal ia sudah salah jalan?

Ia memeluk bayinya lebih erat. Beratnya bayi itu di lengannya adalah berat tanggung jawab yang luar biasa. Ia adalah satu-satunya pelindung bagi jiwa kecil ini.

"Aku nggak akan kasih kamu nama yang berat, Nak. Kamu sudah bawa beban yang cukup besar. Namamu... Aku akan kasih kamu nama Arka. Pelangi yang melengkung. Harapan," bisik Laila, menamai putranya di bawah atap langit-langit yang bocor.

Arka. Harapan.

Laila menatap mata Arka yang kini terbuka, sepasang mata gelap dan polos. Mata yang tidak menghakimi. Mata yang hanya membutuhkan ibunya.

Ia harus kuat. Demi Arka, ia harus bertahan. Rasa sakit fisik bisa hilang, tapi rasa sakit kehilangan anak akan membunuhnya. Ia memilih untuk berjuang. Ia memilih jalan yang paling terjal.

Malam itu, di antara dinginnya beton dan bau apek, Laila tidur, bukan sebagai gadis bodoh yang terjerumus, melainkan sebagai seorang ibu yang baru lahir, memeluk harapan kecilnya erat-erat, siap menghadapi badai ujian yang akan datang sebentar lagi. Ujian itu akan jauh lebih besar daripada rasa sakit melahirkan tadi.

Bab 2

Laila terbangun, atau lebih tepatnya, tersentak dari tidur singkatnya, saat cahaya pagi pertama mulai menyusup lewat celah-celah di atap gedung. Kepalanya terasa berat, dan seluruh badannya seperti habis dilindas truk. Rasanya sakit sekali, sakit yang menusuk sampai ke tulang. Ia melirik ke dadanya. Arka. Putra kecilnya masih ada di sana, tidur nyenyak, mulutnya sedikit terbuka, tangannya mengepal di dekat pipi Laila. Momen damai itu hanya bertahan sepersekian detik.

Ketakutan langsung menghantamnya.

Pagi. Artinya sebentar lagi orang-orang akan mulai beraktivitas. Mungkin ada pekerja konstruksi yang datang mengecek bangunan, atau mungkin saja petugas keamanan patroli. Kalau sampai ada yang menemukan ia dan bayinya di sini, skenarionya hanya ada dua: Laila ditangkap karena dianggap membuang anak (meski ia melahirkannya sendiri), atau anaknya diambil paksa. Keduanya sama-sama mengerikan. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Arka adalah satu-satunya miliknya.

"Kita harus pergi, Nak," bisik Laila, suaranya serak. Ia mencoba menggerakkan kakinya. Rasa perih luar biasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya. Ia menggigit bibir, menahan erangan. Luka-luka itu masih basah, kotor, dan ia hanya punya selembar kain yang tidak layak untuk membersihkannya.

Ia meletakkan Arka perlahan di atas tumpukan kain kering seadanya. Arka menggeliat sedikit, tapi tidak bangun. Laila mengambil kesempatan itu untuk mencoba membersihkan diri secepat mungkin. Ia menggunakan sisa air minum terakhirnya-hanya beberapa teguk-untuk membasuh tangannya. Ia tahu ini sia-sia, tempat ini kotor sekali, tapi setidaknya ia mencoba.

Masalah terbesar sekarang adalah logistik. Bagaimana cara membawa bayi ini turun dari lantai tiga tanpa terlihat? Dan ia tidak punya tas bayi, gendongan, atau apapun yang pantas. Ia hanya punya ransel lusuh yang isinya cuma pakaian kotor dan beberapa lembar uang receh.

Laila mencari akal. Ia merobek bagian lengan dari satu-satunya jaket tebal yang ia punya. Jaket itu sudah kusam, tapi bahannya cukup kuat. Dengan tangan yang masih gemetar dan nyeri, ia mulai mengikat potongan kain itu menjadi simpul-simpul darurat. Ia membuat semacam kantong gendongan dadakan. Jaket itu berfungsi ganda: sebagai gendongan untuk mengamankan Arka, dan sebagai penutup, agar tidak ada yang bisa melihat bayinya secara langsung.

Setiap gerakan, entah membungkuk, mengikat, atau bahkan hanya bernapas dalam-dalam, terasa seperti jarum yang menusuk. Ia merasa mual, lemas, dan pandangannya sering berkunang-kunang. Ia kehilangan banyak darah, ia tahu itu. Tapi adrenalin dan ketakutan mengalahkannya.

Setelah beberapa menit perjuangan yang terasa seperti jam, Arka akhirnya terbungkus aman di dada Laila. Wajahnya yang mungil terlindungi di balik lipatan jaket. Arka mulai rewel sedikit, mungkin lapar, tapi Laila hanya bisa menenangkannya dengan sentuhan dan bisikan. "Tahan sebentar ya, Sayang. Kita harus keluar dari sini."

Ia mengambil ranselnya. Rasanya ringan, terlalu ringan. Mengingat semua yang ia tinggalkan di gedung itu-sisa-sisa persalinan yang kotor, pecahan kaca, bau darah-rasa bersalah menusuknya. Ia tidak bisa membersihkan semuanya. Ia hanya bisa berharap tempatnya cukup tersembunyi. Ini bukti keberadaan mereka. Bukti bahwa Laila ada di sini, dan ia harus menghilang sebelum bukti itu ditemukan.

Laila memosisikan dirinya di dekat tangga darurat. Tangga ini adalah kerangka besi terbuka, curam, dan berkarat. Ini adalah cara tercepat turun, tapi juga yang paling berbahaya. Tergelincir sedikit saja, semuanya selesai. Ia akan jatuh, dan bayinya... ia tidak berani memikirkannya.

Ia mulai melangkah. Satu langkah. Ia menumpukan seluruh berat tubuhnya pada sisi tangga yang paling kokoh. Kakinya gemetar hebat, bukan hanya karena kelelahan tapi karena ketakutan. Ia harus membungkuk sedikit, membuat langkahnya pendek-pendek.

Di lantai dua, ada area terbuka yang langsung menghadap ke jalanan sepi. Laila merapat ke dinding, menahan napas. Ia bisa mendengar suara knalpot motor yang lewat sesekali. Jantungnya berdebar-debar liar. Ia merasa seperti seorang buronan, padahal ia hanya seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya. Paranoia mulai menguasainya. Setiap bayangan yang bergerak, setiap suara burung, terasa seperti langkah kaki yang mendekat.

"Pelan-pelan," gumamnya pada dirinya sendiri.

Tangga berikutnya lebih sulit. Ada bagian yang berlubang, hanya menyisakan kerangka besi tipis. Laila harus berpegangan pada balok beton di sebelahnya. Rasanya seperti mendaki gunung, padahal ia hanya turun dua lantai. Ia ingat betapa lincahnya ia dulu, melompat-lompat di antara bebatuan saat mendaki gunung bersama teman-teman sekolahnya. Sekarang, tubuhnya adalah penghalang terbesar. Lemah, sakit, dan tak berdaya.

Sampai di lantai dasar. Di sini, kegelapan masih mendominasi karena bangunan lain menghalangi matahari. Udara jauh lebih dingin, menusuk kulitnya yang masih berkeringat. Laila bersembunyi di balik tumpukan karung semen, menunggu. Ia harus memastikan area keluar aman.

Ia melihat ke arah gerbang proyek. Gerbang besi tinggi yang harus ia panjat. Memanjat. Dalam kondisinya sekarang? Itu mustahil.

Laila mulai merangkak, mencari celah. Ia ingat ada lubang kecil di pagar kawat di sisi belakang gedung, yang biasanya digunakan para gelandangan untuk keluar masuk. Perutnya harus bergeser di atas tanah kotor. Rasa perih di lukanya kembali menjadi-jadi, tapi ia harus tahan. Bayinya tidak boleh tahu betapa menderitanya ibunya saat ini.

Ia sampai di lubang itu. Lubangnya sempit. Laila harus memiringkan badannya dan mendorong ranselnya terlebih dahulu. Ia merasakan kain gendongan Arka tersangkut. Panik. Ia menarik perlahan, berdoa agar jahitan daruratnya tidak lepas. Akhirnya, dengan desahan lega, ia berhasil keluar, tubuhnya tergeletak di rumput liar di balik pagar.

Ia berhasil. Laila dan Arka kini berada di luar.

Dunia luar terasa asing. Udara pagi yang lembap dan dingin menusuk paru-parunya. Gedung kosong itu kini ada di belakangnya, sebuah monumen bisu yang menyimpan rahasia kelahirannya.

Laila memaksakan diri bangkit. Ia berjalan merayap di pinggir jalan yang belum ramai, sebisa mungkin tetap berada di bawah bayangan pohon atau tiang listrik. Ia berjalan tanpa tujuan, hanya tahu satu hal: ia harus sejauh mungkin dari gedung itu, dari area yang bisa menghubungkannya dengan masa lalunya.

Di kejauhan, ia melihat deretan ruko yang masih tutup. Di depan salah satu ruko, ada trotoar lebar dengan beberapa pot tanaman besar. Itu tempat yang lebih baik. Ada atap yang bisa sedikit melindunginya dari embun pagi, dan pot tanaman bisa sedikit menyembunyikannya dari pandangan orang yang mulai lalu lalang.

Laila berjalan, atau lebih tepatnya, menyeret dirinya ke sana. Lima puluh meter terasa seperti lima kilometer.

Tepat saat ia tiba di depan ruko, kakinya tak mampu lagi menahan beban. Ia ambruk, terduduk di pinggiran trotoar, bersandar pada tembok dingin. Ia terengah-engah, mencium aroma rambut Arka yang kini terbangun dan mulai merengek pelan.

Laila membuka sedikit lipatan jaketnya dan menatap Arka. Bayi itu tampak kedinginan, bibirnya pucat. Insting Laila sebagai ibu membawanya pada satu tindakan: menyusui.

Ia tidak yakin apakah ia bisa. Ia belum pernah melakukannya, dan tubuhnya baru saja melewati trauma besar. Dengan tangan gemetar, ia mencoba memosisikan Arka. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan kehangatan dan keajaiban saat Arka mulai menyusu. Mata Laila terpejam.

Saat Arka menyusu, ada rasa lega yang luar biasa. Ia berhasil melindungi anaknya, ia berhasil memberinya kehidupan dan kini ia berhasil memberinya makanan. Namun, rasa lega itu segera disusul oleh kesadaran yang menusuk: ia adalah seorang tunawisma, seorang ibu muda yang ditinggalkan, dan bayinya lahir dari aib, kini mereka duduk di trotoar yang dingin.

Sebuah sepeda motor lewat, pengendaranya melirik sekilas, tanpa peduli. Bagi mereka, Laila hanyalah sampah kota. Ini konflik barunya: menjadi tidak terlihat, menjadi asing, menjadi bagian dari keterasingan yang dipilih masyarakat.

Laila memeluk Arka erat. Ia menangis tanpa suara, air matanya menetes di kepala Arka. Ia harus bertahan. Untuk Arka. Ia harus mencari tempat yang aman. Ia harus mencari pekerjaan yang tidak menghakiminya. Ia harus mencari kehidupan yang layak.

"Arka," bisiknya, sambil menatap wajah putranya. "Aku janji. Aku janji, kita akan dapat kebahagiaan itu. Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan."

Matahari kini mulai meninggi, menerangi jalanan. Laila harus segera bergerak lagi, mencari tempat persembunyian yang lebih terjamin sebelum ruko-ruko itu buka. Ia harus menyembunyikan diri dari dunia yang siap menghakiminya kapan saja, sambil membawa harapan kecil yang menggeliat di dadanya.

Bab 3

Setelah dua hari tidur di emperan toko dan bersembunyi di toilet umum pasar, Laila tahu ia tidak bisa begini terus. Arka mulai rewel. Tangisannya bukan lagi tangis lapar biasa, tapi tangis bayi yang kedinginan, yang tidur di alas keras, yang tidak mendapatkan perawatan yang layak. Laila sendiri sudah demam ringan, tubuhnya kelelahan dan lukanya mulai terasa nyeri yang berbeda-rasa nyeri yang mengisyaratkan infeksi.

Keputusan itu datang dengan rasa pahit di lidah. Ia harus pulang.

Bukan pulang untuk menetap, tapi pulang untuk memohon. Memohon sedikit kehangatan, sedikit makanan yang benar, dan mungkin, sedikit ampunan. Ia harus menelan harga dirinya, rasa malu yang ia bawa, dan menghadapi Bapak serta Ibunya. Ia tahu risikonya besar, tapi demi Arka, ia akan lakukan apa saja.

Rumah orang tuanya ada di pinggiran kota, jauh dari tempatnya sekarang. Laila harus menumpang angkot sekali, lalu berjalan kaki sekitar satu jam. Ia tidak punya cukup uang untuk naik ojek sampai depan rumah.

Perjalanan itu adalah siksaan. Laila berjalan terseok-seok, langkahnya kaku. Setiap getaran dari jalanan yang tidak rata menembus kakinya, naik ke punggungnya, dan menghantam lukanya. Arka ia gendong erat-erat di balik jaket lusuh. Ia sering berhenti, duduk di halte bus yang sepi, menenangkan Arka, dan mencoba menarik napas panjang untuk mengusir rasa pusing yang terus mendera.

"Bertahan, Nak. Sebentar lagi. Kita sampai," bisiknya pada Arka, lebih seperti menyemangati dirinya sendiri.

Ketika akhirnya ia sampai di kompleks perumahan sederhana tempat ia dibesarkan, lutut Laila terasa seperti jelly. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena kelelahan, tapi karena ketakutan. Rumah itu. Rumah kecil dengan pagar kayu putih yang dicat ulang. Jendela dapur yang selalu terbuka, tempat Ibu selalu menyambutnya dengan aroma masakan.

Laila berhenti di depan pagar. Ia ragu. Kenangan akan kata-kata terakhir Bapaknya menggema di telinganya. "Jangan pernah bawa aib ini kembali."

Ia menarik napas, mengatur ekspresinya. Ia harus terlihat tegar, tapi juga rentan. Ia harus memohon belas kasihan, tapi tidak boleh terlihat seperti pengemis yang sudah menyerah total.

Laila membuka gerbang, suaranya yang berderit terdengar memekakkan telinga dalam keheningan sore itu. Ia melangkah ke teras.

Ia mengetuk pintu. Pelan. Satu ketukan, lalu jeda. Dua ketukan lagi.

Sunyi.

Ia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam. Jantung Laila melompat ke tenggorokan. Ia merasakan Arka menggeliat, seolah ikut merasakan ketegangan yang ia rasakan.

Kenop pintu berputar perlahan.

Wajah Ibu yang pertama kali muncul. Wajah yang sudah lebih tua, lebih lelah dari yang Laila ingat. Kerutan di sudut mata Ibu tampak lebih dalam. Tapi begitu mata Ibu melihat siapa yang berdiri di depan pintu-melihat Laila yang kurus kering, pucat, dan membawa bungkusan besar di dada-ekspresi itu langsung berubah.

Bukan kebahagiaan. Bukan lega. Tapi terkejut yang berujung pada kengerian.

"Laila...?" Suara Ibu nyaris tak terdengar, seperti bisikan hantu.

"Ibu," Laila mencoba tersenyum, tapi yang keluar hanyalah tarikan bibir yang gemetar. "Aku... aku pulang."

Ibu melihat ke sekeliling, matanya bergerak panik, seolah takut ada tetangga yang melihat. Lalu matanya kembali tertuju pada gendongan di dada Laila.

"Apa itu?" tanya Ibu, suaranya mulai naik satu oktaf, penuh ketegangan.

Laila membuka sedikit lipatan jaketnya, memperlihatkan wajah Arka yang tertidur pulas. "Ini Arka, Bu. Cucumu."

Suara krak kecil terdengar dari dalam rumah, seolah ada benda jatuh. Itu Bapak.

Ibu Laila langsung memucat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menatap nanar wajah Arka, lalu wajah Laila. Matanya penuh air mata, tapi bukan air mata haru. Itu air mata keputusasaan.

"Tutup, Bu! Tutup pintunya!" Suara Bapak menggelegar dari dalam, lebih keras, lebih menakutkan dari yang Laila ingat.

Ibu terkesiap, seperti baru sadar. Ia mendorong pintu, mencoba menutupnya. Tapi Laila menahan dengan kakinya.

"Tunggu, Bu! Sebentar saja! Aku cuma mau minta tolong. Arka sakit, Bu. Aku nggak punya apa-apa lagi. Aku cuma butuh tempat istirahat sebentar, aku janji besok pergi lagi." Air mata Laila tumpah ruah, mengalir tak tertahankan.

Pintu itu didorong lebih keras dari dalam. Kini Bapak muncul, berdiri di belakang Ibu. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menegang. Ia mengenakan kaus rumahan dan sarung, tapi auranya seolah membawa palu godam yang siap menghantam Laila.

"Pergi. Sekarang!" bentak Bapak. Suaranya rendah dan mengancam.

"Bapak, tolong. Dia cucu Bapak! Dia nggak salah apa-apa. Aku yang salah, aku yang berdosa. Hukum aku, tapi jangan hukum anak ini, Pak!" Laila memohon, suaranya sudah berubah menjadi isakan histeris. Ia menunduk, mencium kemeja Bapaknya, memohon belas kasihan.

Bapak menarik tangannya dengan kasar. "Aku bilang jangan bawa aib ini kemari! Kau sudah mencoreng nama baik kami di lingkungan ini. Kau tahu betapa malunya kami? Aku harus menghadapi tetangga setiap hari! Anak haram itu... bukan cucuku! Dia adalah bukti kesesatanmu!"

Kata-kata itu. Anak haram. Kata-kata itu lebih tajam dari pecahan kaca yang ia gunakan untuk memotong tali pusat Arka. Kata-kata itu membunuh harapan terakhirnya.

Ibu kini ikut menangis, tapi tangannya tetap memegangi pintu, menghalangi Laila masuk. "Nak... kau tahu bagaimana Bapakmu. Kami nggak bisa. Kami nggak punya apa-apa lagi. Kami malu. Kami sudah tua, Nak. Biarkan kami hidup tenang. Pergilah... cari jalanmu sendiri."

"Tapi, Bu," Laila mendongak, matanya memohon, "Aku demam. Arka butuh susu. Aku nggak bisa lagi jalan, Bu. Tolong... cuma semalam saja."

Bapak mengambil langkah maju, wajahnya sudah penuh amarah yang dingin. "Kau mau kami dihakimi? Setelah kau pergi, tetangga-tetangga itu menyindir kami, Laila! Kau pergi tiga bulan lalu, dan sekarang kau kembali, membawa makhluk kecil ini. Kau mau kami bilang apa? 'Oh, anak kami yang kami banggakan sudah melahirkan di jalanan?' Kau menghancurkan kami!"

Laila terdiam. Ia melihat matanya di mata Bapaknya. Tidak ada cinta, tidak ada belas kasihan, hanya rasa malu yang meluap-luap. Di mata mereka, Laila bukan lagi putri mereka, melainkan virus yang membawa aib.

"Baiklah," ucap Laila, suaranya datar, semua air mata dan energinya terkuras habis. Ia mendongak, menatap Bapaknya tepat di mata. "Aku mengerti. Aku pergi. Aku nggak akan kembali lagi. Jangan khawatir, Bapak dan Ibu tidak akan pernah malu lagi karena aku. Aku akan menghilang dari hidup kalian."

Ia membalikkan badan, memunggungi rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungannya. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang menghantam ulu hatinya. Itu adalah rasa sakit dikhianati oleh darah daging sendiri.

Laila berjalan menjauh dari rumah itu. Tidak lagi terseok-seok, tapi langkahnya kini berat, mati rasa. Ia berjalan seolah tubuhnya hanya digerakkan oleh tali. Di gendongan Laila, Arka mulai menangis keras, seolah merasakan penderitaan ibunya.

Laila akhirnya ambruk di bawah pohon beringin besar, dua blok dari rumahnya. Ia memeluk Arka erat-erat, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Ia menangis terisak-isak, meratapi nasibnya yang kini benar-benar sebatang kara. Keluarga sudah membuangnya. Ia resmi menjadi tunawisma.

"Aku janji, Nak. Mereka nggak butuh kamu, tapi aku butuh kamu. Kita berdua saja. Kita akan buktikan kita bisa. Kita nggak butuh siapa-siapa," sumpahnya, kata-kata itu diucapkan dengan keyakinan baru yang lahir dari keputusasaan.

Ia menggendong Arka, mengatur kembali gendongan daruratnya, dan bangkit. Kakinya kini berjalan ke arah yang berlawanan dari rumah itu, berjalan menuju pusat keramaian kota, mencari tempat untuk memulai segalanya dari nol. Ia harus mencari uang. Ia harus menstabilkan dirinya.

Laila berjalan sepanjang jalan, wajahnya kini terlihat keras. Anak ini, Arka, adalah satu-satunya alasan ia tidak bunuh diri saat itu juga. Ia tidak akan membiarkan penolakan ini menghancurkannya. Penolakan ini adalah api yang akan membakar semangatnya untuk bangkit.

Pada malam itu, Laila menemukan sebuah pos keamanan kecil yang sudah lama tidak terpakai, di samping bangunan proyek baru. Di sanalah ia memutuskan untuk bermalam. Ia harus mencari pekerjaan besok pagi, apa pun itu, pekerjaan yang bisa menerima ibu dengan bayi. Ia harus mendapatkan uang untuk membeli susu formula dan obat-obatan.

Saat ia membaringkan Arka di pangkuannya, ia menyentuh kantong jaketnya. Ia hanya punya sisa Rp20.000. Hanya itu yang ia punya untuk menghidupi Arka. Konflik berikutnya sudah menanti: perjuangan melawan kemiskinan dan eksploitasi. Laila memejamkan mata, memeluk Arka, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bertahan, sampai kebahagiaan itu datang menjemput mereka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED