Dengan tergesa-gesa, aku keluar dari sebuah cafe ternama di daerah jakarta pusat. Kota tempat aku di lahirkan dan dibesarkan. Sebenarnya hari ini acara reunian di dalam sana sedang berlangsung, tetapi sayangnya aku sudah harus segera pulang. Bahkan aku hidup seperti Cinderella yang punya batas waktu untuk ke luar rumah. Begitulah pengajaran Umi dan Abi dari dahulu mereka selalu menjaga aku dengan sangat ketat.Namun, Ini sebenarnya masih mending karena aku diperbolehkan ke luar rumah sampai jam lima sore, karena kata mereka aku sudah mulai dewasa. Tidak seperti Zaman sekolah dahulu, aku selalu di antar-jemput ke sekolah dan ke mana-mana mesti ditemani Umi atau Abi.
Aku menerobos rintik gerimis yang mulai jatuh ke bumi. Melindungi kepala dengan tas selempang tipis yang sedang kupakai sambil setengah berlari menuju parkiran.
"Hei! Tunggu!" Aku mendengar suara seorang laki-laki dari arah belakang. Sedikit pun tak kuhiraukan karena aku buru-buru. Lagian, belum tentu juga suara itu ditunjukan pada ku, jadinya aku melanjutkan langkah kakiku agar cepat sampai parkiran.
"Hei! Aku memanggilmu!"
Sumber suara makin dekat. Membuatku spontan menghentikan langkahku dan menoleh pada sumber suara. Sosok laki-laki tinggi, berkulit putih dengan wajah tang tampan dan tangan kanannya memegang payung hitam yang melindungi dirinya dari gerimis, sedangkan tangan kirinya memegang novelku. Seketika aku menyadari bahwa panggilan itu memang ditujukan kepadaku karena dia menemukan novelku yang ketinggalan di dalam sana.
"Ini milikmu?" tanyanya setelah berhadapan denganku.
Kini jarakku dan dia begitu dekat. Entah mengapa jantungku tiba-tiba bergemuruh saat menatap maniknya yang berwarna abu-abu. Mungkin karena aku sudah lama tidak merasakan sedekat ini dengan laki-laki. Sehingga membuat jantungku bergemuruh dengan sangat kencang bahkan saat ini aku berada di bawah payung yang sama dengannya. Aku benar-benar grogi. Apalagi cowok yang sepertinya seusia denganku itu begitu tampan. Semua cewek normal pasti terkagum melihat parasnya dan siapa yang tidak mau jadi pacarnya, kalau cowoknya tampan seperti opah opah korea.
"Iya, terima kasih," sahutku tersenyum sambil menengadah ke arahnya yang kira-kira 20 sentimeter lebih tinggi dariku. Kemudian kuambil buku itu dari tangannya.
" Aku pergi dahulu, ya. Aku buru-buru," sambungku sambil menganggukkan kepala pertanda menghargainya.
"maaf, kamu dapat dari mana season dua buku itu? Aku sangat menyukai buku itu, karena novel itu membuat aku terbawah dengan alur cerita itu," tanyanya ketika aku membalikkan tubuh hendak meninggalkannya. "Kita bisa terap ngobrol sambil jalan kalau memang kamu buru-buru," sambungnya lagi sambil terus memayungiku dan kita terus berjalan beriringan berjalan di bawah payungnya, Namun, aku juga sambil berpikir apa yang sedang terjadi. Mimpi apa aku semalam sampai harus dipayungi lelaki seperti opah-opah korea ini apalagi dia juga sangat tampan sekali.
"Kamu tahu buku ini?" aku balik bertanya sambil menoleh sesaat ke arahnya sambil berjalan pelan ke arah parkiran. Setelah itu pandanganku fokus ke kaca toko yang ada di samping parkiran cafe ini. Ada pantulan kami berdua di sana. Ternyata aku yang begitu pendek darinya sedangkan dia yang tinggi dan gagah dengan kaus putih berbalut Jaket yang resleting depannya dilepas membuat dan itu membuat aku makin terposona dengannya dan jika dilihat-lihat, rasanya kami cocok juga andai aku lebih tinggi lagi dari ini.
"Kamu tahu kan judul bab pertama buku itu, itu sama halnya yang aku rasakan karena aku juga pengagum rahasia tetapi itu kepada penulisnya.Namun, sayang sekali, penulisnya lebih rahasia lagi. Bisa-bisanya dia menyembunyikan identitasnya. Padahal aku sudah mencari tentang penulisnya di mana-mana, tetapi sampai sekarang aku belum menemukannya. Dan aku benar-benar tidak tahu jika novel ini sudah ada season duanya,itu yang membuat aku makin menyesal mengapa aku ketinggalan ceritanya، mungkin aku terlalu fokus mencari siapa penulis tersebut, sehingga aku ketinggalan informasi," paparnya.
Mendengar ucapannya, seketika itu membuat aku seakan melayang mendengar pengakuannya. Ingin sekali rasanya aku terbang setinggi-tingginya yang kubisa. Karena ternyata cowok tampan ini pengagumku? Indah sekali. Bukan? Ini bukan mimpi kan? Aku sadar kan? Bibirku langsung terbit dengan tersenyum begitu saja karena aku sangat bahagia dengan semua ini. Ini akan menjadi kenangan yang terindah di bawah payung hitam ada seseorang yang tampan yang teryata mengagumiku.
"Kok senyum?" tanyanya menyadarkanku dari lamunan. Cepat-cepat kutarik lagi senyumku. Bisa-bisanya aku ketahuan dan itu sangat membuat aku makin malu denganya.
"Emmm, kamu mau tahu gak mengapa aku senyum, dan aku hari ini merasa sangat bahagia sekali karena ada yang mengangumiku saat ini penulisnya sudah berada didepanmu," sahutku. Akhirnya kulepaskan juga senyum yang sempat tertahan tadi.
"Ha? Maksudnya? Benarkah?" suaranya naik dua oktaf saking semangatnya.
Matanya berbinar-binar menatapku. Kami serentak berhenti ketika sudah sampai di parkiran. Dia meletakkan payung di lantai dan merogoh tas selempangnya. "Kalau begitu, berikan tandatanganmu pada buku ini," pintanya sambil membuka sampul buku novel Doaku Dalam Sujudku season satu. Buku yang pertama kutulis dan saat ini tepat sudah setahun yang lalu dan memang sudah kujanjikan akan ada seoason duanya jika buku itu banyak pembacanya.
"Pulpennya?" tanyaku karena aku pun tidak membawa pena ditambah aku sangat grogi sekali.
"Oh, Iya, maaf lupa, karena aku sangat senang sekali hari ini, ini bukan mimpi kan,"sahutnya sepertinya dia juga gugup,dia langsung merogoh tasnya lagi, karena aku sangat bahagia hingga itu membuat aku melupakan waktu yang sudah mendesakku untuk pulang.
Aku kemudian menerima pena yang dia sodorkan dan mendatangani buku yang menceritakan kisahku itu.
"Buku season dua itu apakah sudah bisa kupesan?" tanyanya ketika aku mengembalikan buku dan penanya.
"Sebenarnya belum terbit. Aku baru mencetaknya satu saja, karena tadi mau aku perlihatkan pada teman reuniku di cafe itu. Ini masih ada perbaikan. Mungkin bulan depan," sahutku.
"Aku menunggu buku itu sudah dari lama, dan aku saat ini senang sangat sudah bertemu penulisnya langsung, dan aku akan menunggu buku yang season 2 aku akan bersabar.Emmm, maaf sebelumnya tambah satu lagi, apakah aku boleh tahu medsos kamu?" tanyanya lagi.
Aku seperti orang yang terhipnotis aku menuruti semua keinginannya atau apakah ini sebab aku terpesona ketampanannya. Ah aku tidak tahu، Namun, Aku langsung mengeluarkan dompet dari tas dan mengambil salah satu kartu namaku dan memberikan itu padanya.
"Ini, aku pergi dahulu," pamitku sambil menunggu responnya.
"Oke, terima kasih," sahutnya sambil memandangi kartu namaku.
Aku meninggalkannya dengan berat. Bahkan aku belum mengetahui namanya. Ingin rasanya aku menoleh lagi ke arahnya, hanya melihat wajah tampan itu lagi untuk terakhir kalinya. Aku malu jika aku menoleh kebelakang lagi. apalagi di sana dia masih menatapku sehingga Aku langsung masuk ke mobil saja daripada aku makin malu dan terposona dengannya sehingga saat masuk aku mobil aku langsung mencari-carinya laki laki itu lewat kaca spion dan teryata saat berbelok, hitungan detik aku melihat pantulannya di kaca itu, ternyata dia memang masih memperhatikan mobilku. Astaga, aku benar-benar melayang dengan sikapnya.
Setelah keluar dari area parkir, segera kupacu mobilku dengan kecepatan tinggi.karena aku harus segara sampai ke rumah dengan cepat. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena aku udah sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya abi jika aku pulang terlambat. Dari dahulu Abi memang tidak begitu setuju dengan acara-acara reunian seperti tadi. Nongkrong-nongkrong di cafe, bertemu dengan banyak lawan jenis. Abi tidak menyukai itu. Semua itu aku melakukanya diam diam tanpa sepengetahuannya karena memang saat ini aku yang terbawa arus lingkungan sehingga sering kali melanggar nasehatnya.
Mobil terus melaju, rumahku tinggal beberapa menit lagi. Sementara saar mengendari mobil, pikiranku tidak bisa pergi dari cowok tampan yang entah siapa namanya itu. Wajahnya masih jelas dalam ingatanku bagaimana cara dia , senyum nada bicaranya dan itu membuat ku langsung menghapalnya tanpa disadari pertemuan singkat itu ternyata menimbulkan rasa untukku. Tetapi bagaimana dengannya?
Ha, apa tadi kubilang? Menimbulkan rasa? Rasa apa? mengapa saat bersamanya seketika aku lupa dengan sebuah luka yang selalu teringat dalam ingatan ku dan sangat membuat hatiku sakit itu sebab luka dari seorang Dimas yang sakitnya masih terasa hingga kini dan saat pria itu sudah langsung mencuri separuh hatiku hingga sakit hati itu terasa hilang seketika. Aku memang saat ini sudah trauma dengan cinta, tetapi kali ini berbeda aku langsung bisa menyukai dan senang bertemu dengannya padahal biasanya aku tidak semudah ini menyukai seseorang. tetapi saat ini sangat berbeda sekali.
"Aaaaaarrghhh!!!" Aku meluapkan kesalku. "Aku benci! Aku benci kamu, Dimas!!!" teriakku lagi.
mengapa setiap aku menyukai seseorang, bayangan penghianat itu muncul. Sehingga itu membuat aku makin trauma dengan cinta lagi, tetapi saat ini berbeda Kekagumam dari cowok yang kusebut tampan itu rasa sakit hilang seketika bahkan itu langsung membuat aku sangat bahagia. Namun, bersama turunnya air mata. Kisahku dan Dimas selalu menyadarkanku bahwa cinta itu hanyalah kata jika memang belum waktunya.
Aku menyeka air mata ketika sadar sebentar lagi sampai. Aku harus bisa melupakan cowok tak dikenal itu. Aku tidak akan memberikan hatiku pada siapa pun lagi untuk mereka sakiti. Akulah yang akan menyayangi hatiku sendiri, bukan siapa pun. Karena dibalik kata cinta pasti ada sebuah pengkhianatan, dan itu aku gak mau terjadi di dalam diriku lagi, aku harus bahagia. Tanpa cinta dari siapa pun.
Mobil kesayanganku beristirahat di dalam garasi. Aku turun dari mobil dengan langkah yang berat, pikiran berkecamuk. Dalam benakku, bayangan laki-laki misterius itu masih terus menghantui, entah siapa dia. Dia hanyalah seorang pembaca novel yang ku tulis. Dia mengaku sebagai pengagum ku, tetapi mungkin maksudnya tidak lebih dari sekadar mengagumi tulisanku. Ah, rasanya aku terlalu cepat berimajinasi.
Namun, pada saat itu juga aku sempat menangkap kilauan matanya. Seolah-olah dia sedang berada dalam kebahagiaan yang tak terhingga. Apakah dia bahagia karena akhirnya bertemu dengan penulis yang telah lama dia cari di dunia maya? Ataukah ada sesuatu yang lebih? Dia menunggu-nunggu terbitnya season 2 novelku, dan mungkin itulah yang membuat hatinya berdebar-debar.
Namun, aku merasa gugup. Apakah ini hanya perasaan biasa antara penulis dan pengagumnya, ataukah ada sesuatu yang lebih? "Bodoh!" aku mengejek diriku sendiri. Aku membuka pintu rumah dengan perlahan, sambil memeriksa situasi dan melirik jam dinding. Untungnya, aku hanya terlambat lima menit.
"Kenapa terlambat? Kamu ini kenapa sih susah sekali disiplin," suara abi terdengar dari arah kamar. Ternyata, abi sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan kaus lengan pendek dan sarung.
"Hehe, lima menit saja, Bi. Tadi di jalan macet," aku menjelaskan dengan senyuman.
"Lain kali jangan terlambat lagi. Abi sudah memberimu izin, tetapi kamu masih beraninya melanggar peraturan abi. Kamu ini anak perempuan abi satu-satunya. Jadi kamu harus tahu diri, Nak! Menjaga anak perempuan itu sulit, Nak, jadi jangan pernah meremehkan Abi jika Abi menjaga kamu dengan ketat. Abi mengatur dan melarang semua ini bukan karena tidak sayang, justru Abi sangat sayang sama kamu. Apakah kamu masih ingat nasihat Abi pada waktu itu?" Abi mulai memberi nasihat.
"Iya, Bi. Maaf sebelumnya, tapi tadi tidak hanya macet kok, Bi. Tadi juga buku Nabila sempat ketinggalan saat reuni. Sehingga aku kembali lagi, eh ternyata saat Nabilla kembali ke tempat itu, ada seseorang yang menemukan buku Nabila. Dan Abi tahu apa? Ternyata dia adalah seseorang yang sangat kagum dengan tulisan ku. Bahkan, orang itu juga sudah lama menunggu buku season 2 yang akan aku terbitkan nanti. Jadi, kita berbincang sebentar, sekitar lima menit itu," aku menjelaskan kepada Abi dengan semangat.
"Cewek atau cowok?" tanya Abi dengan tatapan serius.
"Cowok, Bi. Tapi kita hanya ngobrol aja kok, Bi. Tenang saja, percaya saja pada Nabilla, ya?" pintaku dengan nada memelas.
"Hmm, terserah lah. Ya sudah, Abi percaya," jawab Abi.
"Terima kasih, Bi. Atas kepercayaannya. Tapi maaf ya Bi, Nabilla pamit ke kamar dulu,"
Sebenarnya, menurut perspektif ku di usia yang sudah memasuki dua puluhan ini, seharusnya bukan lagi usia untuk dibatasi seperti ini. Jika Abi memang ingin membatasi, mungkin jam delapan malam atau sebelum magrib sehingga aku merasa tidak terbebani. Tapi ini? Jam lima sore aku sudah disuruh pulang, kesal sudah pasti, tapi apa boleh buat, daripada Abi lebih marah lagi, lebih baik aku menurutinya. Bahkan terlambat lima menit saja, Abiku memberi nasihat panjang kali lebar. Lalu bagaimana jika tadi aku terlambat satu jam? Namun, apakah pantas jika aku merasa seperti anak kecil, karena untuk bermain saja dibatasi? Terasa rumit dan menyakitkan sekali, padahal Cinderella saja batas waktunya jam dua belas malam. Sedangkan aku gimana? Selalu dibatasi saat keluar, rasanya aku saat ini ingin menjadi Cinderella.
Sesampainya di kamar, aku melemparkan diri ke kasur. Tapi itu hanya sebentar, setelah itu, wajah tampan pria tadi kembali menghantui pikiranku.
Aku membalikkan tubuh, berusaha menyingkirkan bayangan itu. Aku yakin, melupakannya tidak akan lama. Karena dia hanya pengagum tulisan ku saja. Sehingga aku tidak sepatutnya terbawa arus perasaan seperti ini. Untuk mengusir wajahnya dari pikiranku, aku menyalakan komputer di samping ranjang untuk menyelesaikan novel ketujuh ku. Tapi dalam beberapa waktu, aku teringat kembali pada laki-laki itu, dan ini tidak seperti biasanya. Ketika menulis, aku pasti fokus, tapi kali ini berbeda, karena aku masih terbayang-bayang kepada sang pengagum tulisan ku.
Untuk menghindari itu, aku mengambil aktivitas yang lain lagi. Kebetulan malam ini malam Jumat, dan tepat saat ini ada acara istigosah yang bergilir di rumahku. Jadi, aku lebih memilih untuk melayani ibu-ibu yang ikut istigosah di rumahku.
Karena siapa tahu dengan kesibukan malam ini membuatku mulai lupa dengan orang asing itu. Tapi kenapa bisa-bisanya di tengah kesibukan ku aku kembali mengingatnya. Sempat-sempatnya aku meminta pada Allah, jika aku berjodoh dengannya, maka dekatkanlah. Namun jika dia bukan jodohku, maka jauhkanlah. Hmmm, dasar aku.
Waktu berlari begitu cepat, hingga kesibukan malam ini pun telah berlalu. Namun, seperti ritual malamku, sebelum tidur aku selalu menyempatkan diri untuk mengecek media sosialku. Setiap pesan yang masuk di kotak masukku, aku balas satu per satu. Ada yang menanyakan tentang paid promote, ada yang hanya sekadar menyapa, dan ada juga yang menawarkan jasa mereka. Semuanya terasa biasa saja, sampai akhirnya aku membuka pesan dari sebuah akun dengan nama yang aku tidak kenal.
"Jungkok?" Nama itu cukup unik dan menggemaskan, namun sayangnya aku tidak mengenalinya. Meski begitu, aku memutuskan untuk membuka pesannya.
[Terima kasih, ya. Maaf, aku tadi lupa mengucapkan terima kasih atas tanda tangan dan pengalamannya. Aku tunggu season dua terbit, ya. Maaf, saking gugupnya aku tadi, aku lupa semuanya.] Pesan itu diakhiri dengan emotikon senyum.
He? Siapa dia ini? Mengapa dia bilang 'tadi'? Apakah dia...? Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku penasaran dan merasa tertarik untuk membuka profilnya. Ternyata benar, namanya Jungkok. Senyumku semakin lebar. Aku membuka fotonya satu per satu. Dia sangat tampan. Untuk kedua kalinya, aku merasa seolah melupakan sakit bersama Dimas. Apakah mungkin ini pertanda bahwa dia adalah obatku?
"Kembalilah untuk mendalami cinta, dia akan menjadi mutiara di hatimu," bisik hatiku. Aku pun tergoda. Soal Abi, selama aku bisa menjaga rahasia dan tidak keceplosan, kurasa aman. Berpacaran dengan Dimas selama sembilan bulan, tidak ada satu pun orang di rumah ini yang tahu.
"Emmmm, terima kasih kembali. Kamu orang yang di kafe tadi, kan?" Aku membalas pesannya seolah-olah belum melihat profilnya.
Setelah membalas pesan itu, aku kembali menjelajah. Menyusuri fotonya satu per satu. Dari sekian banyak foto, tidak ada satupun foto dia berduaan dengan cewek. Yang ada hanyalah foto dia sendiri, dengan keluarga, dan teman-temannya.
Notifikasi pesan muncul di sisi kanan atas layar ponselku saat aku masih tengah mengamati foto-foto yang terpajang. "Apakah ini balasan darinya? Aku rasa iya!" gumamku. Dan benar saja, dengan senyum yang tak pernah pudar, kubuka lagi pesan darinya.
[Iya. Kamu sibuk ndak? Kalau kamu nggak sibuk, aku mau nanya. Rasanya belum puas bertemu dengan idola yang hanya beberapa menit saja.]
Aku merasa seperti terbang. Dia menyebutku idola? Cowok berkelas dia? Rasanya masih belum percaya. Aku pun mulai berhalusinasi. Bagaimana kalau dia jadi pacarku, lalu aku ajak ke acara reuni selanjutnya. Tak terbayang bagaimana nanti reaksi teman-teman cewekku. Melihat ketua kelas yang tak ada apa-apanya dibanding Jungkok, pasti teman sekelas ku akan terkesima.
"Nggak sibuk kok, mau tanya apa?" balasku dengan tenang, meskipun sebenarnya aku ingin sekali melompat kegirangan. Inilah aku, sehebat apa pun cowok itu, aku tetap mempertahankan martabat dan harga diriku. Jangan sampai aku menjatuhkan harga diri hanya karena wajah tampannya.
[Rasanya aku tidak sabar menunggu buku itu terbit. Bagaimana kalau aku pinjam buku yang tadi saja? Aku tetap akan membeli buku itu nanti, ketika buku itu diterbitkan dan sudah diperjualbelikan] janjinya.
Aku berpikir sejenak. Dia meminjam buku ini? Ah, rasanya aku ingin terbang menyusuri seluruh dunia ini. Aku sangat senang mendengarnya, apalagi melihat kejujurannya yang akan membeli buku yang aku terbitkan nanti.
"Ya udah, nggak apa-apa. Besok aku pinjemin," balasku setelah mempertimbangkan dengan matang.
[Wah, terima kasih banyak. Bisa kita bertemu?] Hanya beberapa detik saja dia langsung membalas pesanku.
"Besok akan ku kabari lagi. Aku besok akan berangkat ke Jakarta, tapi belum tahu jam berapa. Karena aku jarang online di sini, nanti silakan chat saja ke nomor telepon yang ada di kartu nama kemarin," ucapku dengan nada halus, berharap bisa segera mendapatkan nomor teleponnya.
Ternyata, aku juga memiliki bakat dalam memancing perhatian cowok. Seketika, seolah-olah setan berhasil merayuku malam ini. Aku menarik napas panjang sejenak setelah percakapan itu berakhir. Lalu, aku melanjutkan misi untuk mengetahui semua hal tentangnya yang bisa kudapatkan dari akunnya.
[Satu pertanyaan lagi, apakah kamu punya pacar?] tanyanya lagi. Serr, darahku seolah beredar dengan lebih cepat. Dia menanyakan statusku?
"Tidak," jawabku singkat.
Perlahan, senyumku semakin lebar tanpa kusadari. Sosoknya yang tadi tidak sengaja bertemu denganku, terbayang di pikiranku.
Dalam kekacauan perasaan ini, aku melanjutkan penyelidikan pada deretan foto-fotonya. Tiba-tiba, aku terkejut dengan sebuah foto yang diunggah beberapa bulan lalu. Dengan cepat, aku mengklik foto itu, dan seketika mulutku terbuka lebar dan mataku tidak bisa berkedip lagi.
Terlihat di sana Jungkook dan beberapa orang lainnya sedang merayakan Natal dengan topi Santa Claus di kepala mereka. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan Jungkook. Aku mengingat wajahnya dari pertemuan kami beberapa hari yang lalu. Aku mulai curiga apakah Jungkook adalah seorang non-Muslim. Namun, daripada terus memikirkan hal itu, aku memutuskan untuk melihat media sosialnya. Aku menggulir foto-fotonya dengan perlahan, tidak pernah bosan mencari tahu tentangnya. Entah mengapa, aku merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentangnya dan selalu ingin membuka media sosialnya setiap kali membuka ponselku. Aku mencari semua informasi yang ada di pikiranku tentangnya. Aku menemukan beberapa foto baru, di mana Jungkook tidak lagi menggunakan topi Natal, tapi berfoto dengan teman-temannya yang berbalut hijab. Hal ini semakin membuatku penasaran tentangnya. Meskipun aku melihatnya berada di tempat ibadah yang bukan tempat ibadah orang Muslim, melihat foto-fotonya belum cukup untuk memastikan apakah dia seorang non-Muslim. Aku tidak bisa memastikan apakah dia memiliki keyakinan yang sama denganku. Jika tidak, aku harus melepaskan semua perasaan ini. Umi dan Abi pasti akan menentang hubungan seperti itu.
Aku menyadari bahwa aku telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari tahu tentang Jungkook. Padahal, aku tahu bahwa ini mungkin bukan perasaan cinta atau obsesi. Mungkin saja perasaan Jungkook pada saat itu hanya kagum, bukan cinta. Dia juga bisa melakukan hal yang sama dengan teman-temannya. Namun, aku menyadari bahwa ini adalah kesalahan yang fatal. Aku harus menghilangkan semua perasaan ini agar tidak terus berlanjut. Aku mencoba mengusir bayangan Jungkook yang tak kunjung hilang. Aku berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku harus mencari jalan agar perasaanku tidak semakin dalam. Aku heran dengan hatiku yang tiba-tiba terbuka setelah sekian lama tertutup rapat. Mengapa perasaan ini muncul setelah satu pertemuan saja? Aku mencoba melupakan kesakitan yang pernah aku alami dengan Dimas.
Pagi-pagi usai sholat Subuh, aku bersiap-siap untuk pergi ke Jakarta. Aku harus mengurus ijazahku agar segera diterima. Baru saja seminggu yang lalu aku merayakan wisuda S1, dan masih ada beberapa hal yang harus aku urus di kampus. Bagiku, antara Jakarta dan Bandung sudah tidak ada jarak lagi, karena aku selalu siap jika ada hal mendadak dari kampus. Umi sedang sibuk menyiapkan bekal untukku, sedangkan Abi mengulang nasehat-nasehat yang sama setiap kali aku pergi. Mereka mengingatkan aku untuk tidak pacaran, tidak bergaul sembarangan, dan jangan melupakan salat dan mengaji. Setelah sarapan, aku pamit pada Umi dan Abi. Aku mencium pipi mereka bergantian dan melangkah pergi.
Mobilku mulai meninggalkan rumahku. Aku mengendarainya dengan santai, menikmati udara pagi. Rasanya seperti sudah lama aku tidak merasakan hal ini. Aku merindukan keheningan dan keindahan alam di sepanjang perjalanan. Namun, di tengah keheningan itu, aku terus berputar otak untuk mencari cara agar bisa memberikan buku itu padanya tanpa harus bertemu lagi. Jawabannya muncul saat aku sedang melaksanakan salat malam. Aku sudah memantapkan diri semalam. Dalam tahajud, aku meminta pada Allah agar menghilangkan semua perasaan ini. Sebaiknya aku memberikan buku ini padanya agar tidak ada lagi pertemuan berikutnya. Tetapi, bagaimana caranya?
Pagi tadi, aku menerima pesan darinya di aplikasi pesan hijau di ponselku. Pesannya berisi nomornya. Aku merasa senang, tapi dia hanya membalas dengan stiker jempol saja. Setelah itu, tidak ada percakapan lagi di antara kami. Aku berhenti di salah satu rest area untuk mencari beberapa ide tentang bagaimana cara agar tidak bertemu dengannya lagi. Sambil menenteng jajan, aku mencari solusi di ponselku. Akhirnya, aku menemukan ide yang sangat cemerlang. Aku segera mengambil ponselku yang tergeletak di sampingku dan mencari nomornya sebelum ide ini hilang.
Aku mengirim pesan kepadanya, "Assalamualaikum. Maaf jika aku memberitahumu secara mendadak, tapi aku tidak bisa bertemu denganmu hari ini karena aku harus kembali ke Jakarta pagi-pagi. Aku sedang buru-buru, jadi tidak bisa menemui. Bagaimana jika buku ini ku titipkan di kafe tempat kita bertemu kemarin?" Aku mengirim pesan dengan sedikit senyum kemenangan di bibirku. Pesan terkirim dan terlihat centang biru. Hatiku kembali risau menunggu balasannya. Aku melihat keterangan bahwa dia sedang mengetik balasan untukku. Aku berdoa semoga dia setuju dengan usulku.
[Waalaikumsalam. Iya, nggak apa-apa. Kamu boleh menitipkan buku itu kepada satpam saja, karena kafenya belum buka jam segini. Terima kasih!] balas Jungkok dengan cepat. Aku tidak membalas pesannya dan segera menuju kafe dengan mobilku. Ketika sampai di sana, benar saja, kafe masih tutup. Hanya ada satpam dan seorang pegawai yang sedang bertugas. Aku turun dari mobil dan disambut dengan senyuman oleh satpam tersebut.
"Pagi, Pak," sapaku dengan ramah.
"Pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam tersebut setelah berhadapan denganku.
"Maaf, Pak. Bolehkah saya menitipkan buku ini? Nanti teman saya akan mengambilnya ke sini," ucapku sambil menunjukkan buku di tanganku.
"Oh, iya. Tentu saja boleh," jawabnya sambil mengulurkan tangannya untuk menerima buku tersebut.
"Terima kasih banyak, Pak," ucapku sambil memberikan novel itu kepadanya. Kemudian aku menundukkan kepala dan bergegas untuk pergi.
"Sebentar, Kak. Nama temannya siapa? Takutnya nanti salah orang," tanya satpam tersebut, menghentikan langkahku.
"Oh iya, namanya Jungkok, Pak!" jawabku.
"Oh, pak Jungkok baik kalau begitu. Pemilik kafe ini, kan?" tanya satpam tersebut, yang membuatku kaget.
"Hah? Kok Pak sih? Dia masih muda, bukan bapak-bapak. Bapak ini ada-ada saja. Atau mungkin namanya sama," balasku, terkejut karena dia menyebut cowok yang masih muda itu dengan sebutan "Pak".
"Memang masih muda, Kak. Saya memanggilnya Pak karena menghargainya sebagai atasan saja, sebagai tanda penghormatan kepada beliau," tambah satpam tersebut.
"Loh, beliau itu yang punya kafe ini, Pak? Tapi, sebentar," kataku sambil mencari ponsel di dalam tas. Kemudian aku mencari media sosialnya dan membuka salah satu foto yang ada di sana. "Apa ini orangnya?" tanyaku sambil memperagakan wajah Jungkok.
"Iya, dia pemilik kafe ini. Memangnya kakak tidak tahu?" tanya satpam tersebut.
"Nggak, perkenalan kami begitu singkat. Kemarin aku ada acara di kafe ini, lalu bukuku ketinggalan. Dan dia menemukannya lalu meminjamnya," jelas ku.
"Wah, kakak beruntung sekali," ucap satpam itu membuatku bingung.
"Beruntung? Kenapa beruntung, Pak? Biasa saja, Pak. Tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan," kataku, ingin mencari tahu lebih banyak sebelum memutuskan apa yang harus kulakukan.
"Gimana sih, Mbak? Hehehe, Pak Jungkok itu orangnya sangat dingin sekali. Banyak cewek-cewek yang datang ke sini hanya karena ingin melihatnya atau ingin dilayani olehnya. Tapi Jungkok hanya menjawab mereka dengan singkat. Dia memang irit bicara dan cuek orangnya seperti kulkas 1000 pintu, tapi walaupun begitu, dia sangat rendah hati. Terkadang dia bahkan ikut mengantarkan makanan jika kafe sedang ramai. Kadang Pak Jungkok juga bekerja sebagai kasir. Tetapi karena sikap dingin dan cueknya, belum ada satu wanita pun yang berhasil meluluhkan hatinya, meskipun banyak yang mencoba," papar satpam tersebut panjang lebar.
Wah, dia dingin seperti kulkas 1000 pintu, tapi mengapa aku tidak menemukan sikap dingin itu ketika bertemu dengannya kemarin? Apakah ini benar-benar keberuntunganku seperti yang dikatakan satpam ini? Kenapa tiba-tiba rasa kagum ku kembali muncul? Beliau benar-benar sempurna. Ah, kenapa aku memikirkan hal yang jauh seperti ini? Kenapa aku begitu terpesona olehnya? Oh, dari mana sih Jungkok ini? Tidak mungkin aku bisa bersanding dengannya, tapi mengapa perasaan ini kembali muncul?
"Oh, begitu ya, Pak. Aku benar-benar tidak nyangka. Kalau Jungkok termasuk orang yang sukses dan mandiri di usianya yang masih sangat muda. Oh iya, maaf nih pak aku tidak bisa lama lama, aku pamit dulu pak. Terima kasih banyak," ucapku sambil berpamitan untuk melanjutkan kegiatanku.
Sebelum berangkat dan memikirkannya lagi, aku mengirimkan pesan padanya. Aku memberitahunya bahwa buku yang dipinjamnya sudah ku titipkan pada satpam. Aku pura-pura tidak tahu bahwa kafe itu miliknya.
"Terima kasih ya. Nanti aku akan mengambilnya ke sana. Berapa hari nih aku boleh meminjamnya?" balasannya langsung masuk beberapa detik setelah pesan itu terkirim.
"Terserah, kamu boleh meminjamnya sesuka hati kamu. Tapi maaf ya, bolehkah aku tanya sesuatu? Tapi ini mungkin akan menyinggung perasaan kamu," akhirnya ku beranikan diri untuk memancingnya. Aku akan mengemudi cukup jauh, dan biasanya jika ada pikiran yang mengganjal, aku akan sulit fokus saat berkendara.
"Tanya apa? Tanya saja, bebas kok. Nggak bayar. Kamu mau menyinggung seribu kali pun aku tidak akan sakit hati, apalagi kalau sama kamu," balasnya.
"Maaf, sebelumnya kalau aku lancang. Kalau boleh tahu, apakah kamu muslim atau bukan? Maaf ya," ku akhiri kalimatku dengan emoticon maaf.
Aku melihat pesan yang telah ku kirim sudah berubah menjadi centang biru. Namun, belum ada tanda-tanda apapun bahwa dia sedang mengetik balasan. Ada apa? Apakah benar dia non-Muslim? Jika dia benar non-Muslim, habislah harapanku, bahkan jika benar dia non muslim pastinya aku tidak bisa dekat dengannya lagi, dan sudah pasti Abi melarang keras untuk aku dekat dengannya. Seagama saja belum tentu abi menyetujuinya, apalagi berbeda.