Bab 1

Seorang sekertaris cantik dengan bentuk tubuh yang seksi tengah berjalan menuju salah satu ruangan di perusahaan iklan terbesar milik group Limson. Netra Hilton berusia 36 tahun, merupakan sekertaris sekaligus kekasih dari CEO di perusahaan iklan tersebut bernama Steiner Limson.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk,"

Ceklek..

Dengan berjalan dengan gaya seksinya Netra memasuki ruangan CEO sekaligus ruangan yang sudah satu tahun terakhir ini menjadi tempat Netra dan Steiner menumpahkan segala hasrat keduanya jika sedang tidak kuat menahan.

Terlihat punggung laki-laki berusia 36 tahun itu yang begitu tegap dengan tubuh yang tinggi dan kekar sempurna. Steiner Limson dan Netra telah menjalin hubungan satu tahun lamanya sejak Netra diterima sebagai sekertaris pribadinya.

"Hai sayang,"

Kedua tangan Netra menelusup dari belakang tubuh kekar Steiner.

"Kau darimana saja sayang?"

"Tentu saja menggantikanmu meeting dengan klien yang kau sebut tidak penting itu!"

Steiner membalikkan badannya menghadap Netra kemudian membelai wajah cantik Netra dengan sentuhan tangan besarnya.

"Kenapa kau tetap mengurus klien kecil seperti itu, sudahlah akhiri saja kerjasama dengan perusahaan itu,"

"Sutt, jangan begitu Stein semua klien itu berharga untuk perusahaan kita sayang,"

Jari tangan Netra mengusap lembut bibir Steiner membuat Steiner langsung menyesap jari telunjuk kecil milik Netra.

"Oh my God, jangan sekarang sayang aku sedang tidak bisa,"

"Ayolah sebentar saja!"

Inilah kegilaan Steiner pada Netra dia tidak pernah bisa menahan gairahnya setiap kali berdekatan dengan kekasihnya itu, meskipun Netra bukan lagi gadis muda bahkan Netra adalah seorang single mom dengan memiliki satu orang anak, akan tetapi tubuh Netra masih seperti tubuh gadis berusia dua puluh tahun.

Kencang dan gesit itulah yang membuat Steiner memilih Netra sebagai wanita yang akan dia nikahi dalam waktu dekat. Bibir Steiner sudah mendarat dileher jenjang Netra untuk meminta hal seperti biasanya.

"Jangan Stein, aku baru dari luar dan tadi itu panas tubuhku berkeringat sayang,"

Netra sedikit mendorong tubuh kekar Steiner untuk menolak ajakan laki-laki itu disiang hari begini. Netra merasa tubuhnya sedang berkeringat karena dia sibuk mondar-mandir mengurus meeting dengan klien-klien yang tidak mau didatangi Steiner.

Begitulah Steiner sikapnya sebagai seorang CEO sekaligus salah satu pewaris group Limson, membuat hidupnya sebagai milayder kaya raya yang bisa melakukan apapun sesuka hatinya, tetapi sikap lembut dan kasih sayang Netralah yang mampu menaklukkan seorang Steiner Limson.

"Ayolah sayang, layani aku!"

Tanpa menunggu persetujuan dari Netra langsung saja Steiner mengangkat tubuh Netra dibawanya keatas meja kerjanya.

"Stein stop, nanti malam saja please,"

"Tidak bisa sayang kau tau kan gairahku selalu meledak-ledak ketika melihat tubuhmu ini,"

"Ya, aku tau kau memang sangat buas,"

Keduanya sudah mulai berciuman kedua tangan Netra melingkar dileher Steiner sementara kedua tangan Steiner melingkar dipinggul Netra.

Kring.

Kring.

Dering handphone milik Netra membuat Netra menghentikan ciumannya dengan Steiner.

"Netra, ayolah rijek saja!"

"Tunggu sayang, ini dari putriku,"

Meskipun hubungan keduanya sudah berjalan selama satu tahun, tetapi tidak pernah sekalipun Steiner bertemu dengan putri satu-satunya Netra dari laki-laki lain.

Semua itu sengaja Netra lakukan karena putrinya sangat galak dan tidak mudah didekati dengan orang baru, apalagi jika mengetahui Netra akan segera menikah dengan Steiner sudah pasti putrinya itu akan menolak dengan tegas memiliki ayah tiri.

Sebenarnya Netra tidak pernah menikah, putrinya itu lahir akibat pergaulan bebas Netra dengan teman SMAnya dulu, membuat Netra harus membesarkan putrinya sendiri karena laki-laki itu tidak bertanggungjawab dan memutuskan hubungan dengan Netra begitu saja.

Sebagai singel mom dari putri cantik yang sedang tumbuh menjadi remaja, Netra sangat menjaga hubungan dan komunikasi dia dengan putrinya, Netra tidak mau putrinya itu mengalami hal yang sama dengan dirinya dulu.

Karena itu kapanpun putrinya menelpon, Netra akan buru-buru mengangkat teleponnya.

"Halo Lau,"

"Halo mom, mom please aku bosan libur sekolah tapi hanya menghabiskan waktu di rumah ataupun mall,"

"Lalu kau maunya kemana Lau? Kau kan tau momy sedang kerja,"

"Cuti saja mom, gampang kan lalu kita pergi berlibur,"

Huhh.

Netra menghembuskan nafas panjangnya, memang selama ini Netra hanya sibuk kerja dan kerja terus tanpa pernah memberikan perhatian lebih pada putrinya yang bernama Laura Hilton, gadis yang biasa disapa Laura itu berusia 17 tahun dan sudah memasuki semester kedua kelas 3 SMA.

Laura Hilton mewarisi wajah cantik Netra bahkan kecantikan Laura jauh berkali-kali lipat kecantikan Netra saat Netra masih muda, jangan ditanya apakah Netra kewalahan memiliki putri secantik Laura? Tentu saja jawabannya iya, karena setiap malam Minggu akan selalu ada teman sekolah prianya yang datang mengajak Laura untuk kencan.

Tetapi dari banyaknya laki-laki yang mengajak kencan Laura, tidak ada satupun yang diterima oleh Netra tekadnya kuat Laura harus lulus sekolah dulu.

"Ya sudah nanti coba momy izin pada atasan momy ya Lau,"

"Oke mom, bye!"

Panggilan telepon terputus dan Steiner yang sejak tadi menguping pembicaraan Netra dengan putrinya, langsung paham apa yang akan Netra bicarakan dengannya.

"Stein, aku,"

"Aku setuju sayang, kita pergi liburan kali ini ajak putrimu,,"

"Kau yakin?"

"Sudah waktunya dia mengenalku bukan? Aku mencintaimu Netra, dan itu artinya aku juga harus bisa menyayangi dan mencintai putrimu,"

Cup..

Steiner kembali mendaratkan ciuman dibibir Netra.

"Oughttt sit manis sekali sayang," kata Steiner.

"Apa keluargamu bisa menerima statusku yang merupakan single mom?"

"Tidak akan ada masalah bagi keluargaku, asalkan aku bahagia orangtuaku pasti merestui pernikahan kita,"

"Oke, aku akan bicara pada Laura tentang liburan yang dia mau,,"

"Oke sayang, tapi sekarang layani aku dulu!"

Dengan sigap Steiner langsung menyingkap dress berwarna hitam yang digunakan oleh Netra, tanpa menunggu lama Steiner secepat kilat menurunkan penutup bagian favoritnya itu dan detik selanjutnya.

Didalam ruangan itu hanya ada suara-suara dari kedua insan yang sedang sama-sama hanyut dalam kenikmatan-kenikmatan duniawi, tidak ada kata yang bisa keduanya ungkapkan dalam mengekspresikan apa yang sama-sama mereka rasakan saat ini.

Kedua tangan Netra mencengkram erat ujung meja kerja Steiner, sementara Steiner masih sibuk dengan hentakan-hentakan luar biasanya.

Sungguh kegiatan inilah yang setiap hari Steiner inginkan, rasanya dia tidak pernah puas apalagi bosan Netra mau melayaninya setiap jam pun Steiner tidak akan menolaknya.

Sebegitu kekarnya tubuh Steiner sampai-sampai Netra sering kali kewalahan mengimbangi permainan dahsyatnya, wanita mana yang akan menolak jika memiliki kekasih setampan dan sekekar Steiner Limson.

Netra begitu pasrah dibawah penguasaan tubuh kekar Steiner, dilihatnya oleh Netra wajah Steiner yang terlihat sangat menikmati permainan yang dia ciptakan disiang hari ini.

Bab 2

Gerakan penyatuan itu semakin dipercepat oleh Steiner hingga Netra pun semakin dibuatnya menggila, Netra terus menjerit nakal dalam penguasaan Steiner.

"Stein ahhh,"

Bahkan Netra berhasil mencapai puncak kenikmatannya lebih dulu dibandingkan dengan Steiner, barulah setelah Netra sampai beberapa menit lalu Steiner mengerang kencang pertanda dirinya telah berhasil mencapai puncak nirwana.

Sore itu seperti biasanya Netra pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah, sore ini dia senang sekali karena Steiner akan mengajak dirinya dan putrinya untuk berlibur bersama. Biasanya hubungan ini selalu Netra sembunyikan dari Laura tetapi kali ini Netra berharap Laura sudah bisa bersikap dewasa dengan menerima jika Ibunya akan menikah dengan laki-laki baik seperti Steiner.

"Welcome home,".

Laura menyambut kedatangan Netra yang baru saja tiba di halaman rumah mereka, Netra turun dari mobil lalu menghampiri putrinya yang sudah menunggu didekat mobil. Dipeluknya Laura oleh Netra.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dulu Laura masih digendong oleh suster kemana-mana, sekarang tubuhnya sudah tinggi bahkan melebihi tinggi badan Netra, tubuh Laura pun nyaris sama seperti Netra.

Dia sangat seksi, putih, mulus dan yang pasti Laura masih berkulit kencang dengan bokong yang bulat dan padat. Bagi anak seusia Laura jelas ukuran tubuhnya itu jauh lebih seksi dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, mungkin karena gen yang diturunkan oleh Netra.

"Tumben menyambut momy di halaman,"

"Ayolah jangan pura-pura lupa mom, bagaimana apa atasan momy memperbolehkan momy cuti?"

"Hmm,, diberi izin tidak ya?"

Netra malah ingin mengerjai putrinya agar dia terlihat kesal.

"Mom,"

Laura hampir merajuk karena Netra bersikap seolah tidak diberi izin cuti oleh atasannya.

"Iya sayang, tentunya kita akan pergi berlibur!"

"Yeay,"

Langsung saja Laura lompat kegirangan karena dia akan berlibur dengan ibunya, tanpa dia ketahui jika momen liburan ini adalah momen Netra akan memperkenalkan Laura pada Steiner Limson, laki-laki yang dalam waktu dekat akan segera menikahinya.

Pagi harinya!

Netra dan Laura sudah bersiap-siap dengan membawa dua ransel besar yang berisi beberapa pakaian ganti dan satu buah kotak makanan untuk makan mereka selama camping. Tempat liburan yang dipilih Laura adalah berkemah disalah satu gunung yang memiliki danau indah didalamnya.

"Ayo mom!" Menggandeng tangan Netra menuju mobil, tetapi Netra masih tetap diam.

"Lau, tunggu!"

"Ada apa mom?"

"Kita pergi tidak berdua,"

"Tidak berdua? Apa momy mengajak Bibi Jolie (tetangga mereka)?"

Netra menggelengkan kepalanya dan masih sangat takut jika Laura akan marah ketika tau jika kekasihnya akan ikut bersama mereka camping di gunung.

"Lalu?"

Belum selesai Netra menjelaskan, mobil Steiner sudah datang memasuki halaman rumah Netra dan Laura, kedua mata Laura mendelik melihat mobil mewah yang baru saja memasuki halaman rumahnya.

Steiner pun keluar dari dalam mobilnya, tubuhnya yang gagah serta wajahnya yang terlihat sangat tampan dan kharismatik berjalan menghampiri Netra dan Laura.

Untuk beberapa saat Laura belum mengedipkan kedua matanya menatap laki-laki tampan dan kekar yang menghampirinya itu! Laura berpikir siapa laki-laki tampan berusia matang ini?

Begitu juga dengan Stainer ini adalah kali pertama dia melihat wajah Laura, jika biasanya Steiner hanya mengetahui cerita tentang Laura dari Netra kini Steiner akhirnya bisa melihat Laura dengan kedua matanya sendiri.

Steiner menatap sekilas wajah Laura, rasa kagum itupun muncul karena ternyata Laura memiliki paras yang sangat cantik, kekaguman itupun terpaksa harus buru-buru ditepis oleh Steiner, dia sadar Laura adalah calon anak tirinya.

Selanjutnya Steiner pun mencium pipi kiri dan kanan Netra.

"Lau, kenalkan ini Paman Steiner,"

Kekaguman Laura pada sosok laki-laki kekar ini pun perlahan sirna, Laura sudah memiliki perasaan tidak enak karena Netra terlihat malu-malu.

"Dia siapa mom?"

Tanpa ragu Steiner mengulurkan tangannya pada Laura.

"Kenalkan, aku Steiner Limson aku dan Ibumu adalah sepasang kekasih!"

"Apa? Kekasih momy? Mom, kau tau kan aku tidak mau memiliki ayah tiri! Tidak! Pokoknya aku tidak setuju!"

Apa yang ditakutkan Netra akhirnya terjadi juga, dia sudah menduga jika Laura pasti akan menolak siapa pun calon ayah tirinya.

"Lau, tidak ada yang salah dengan hubungan kami,"

"Aku benci momy,"

"Selama ini Momy membesarkanmu seorang diri tanpa pernah memikirkan lagi kebahagiaan momy, tapi kali ini please izinkan momy bahagia Lau,"

"Jadi jika kita hanya berdua, momy tidak bahagia?"

"Bukan, bukan itu maksudnya!"

"Aku berjanji tidak akan menyakiti momy mu!" sahut Steiner.

"Diam kau! Aku tidak akan menyetujui kau menikah dengan momyku!"

"Lau, sekali ini saja kau lihat ini dari sisi positifnya! Kita tidak mungkin hidup hanya berdua, umur momy pun semakin hari semakin tua bagaimana jika momy mati? Kau akan sendiri!"

"Momy tidak akan pernah mati dan kita tidak butuh laki-laki itu!" Laura menunjuk wajah Steiner.

"Baiklah Lau, jika ini yang membuatmu bahagia! Tapi ingat kau merenggut kebahagiaan momy jika kau tidak mengizinkan momy menikah dengan Steiner!"

Deg..

Hati Laura tersentak mendengar kalimat yang terlontar dari bibir ibunya itu, apalagi saat ini Netra menangis dalam pelukan Steiner. Saat ini Laura diambang kebimbangan, dia tidak mau Netra sampai bersedih dan menangis seperti ini.

"Mom, sudah jangan menangis!"

"Jadi bagaimana nona? Kau setuju jika aku menikah dengan ibumu? Aku ini laki-laki kompeten dan bertanggungjawab jadi kau tidak perlu khawatir, ibumu akan aku bahagiakan bahkan kau pun juga!" kata Steiner.

"Tidak usah terlalu melebih-lebihkan dirimu Paman, aku setuju hanya karena momy bukan karena kau yang kompeten itu!"

Perdebatan itupun berakhir damai dengan Laura yang menyetujui hubungan Netra dengan Steiner, ketiganya kemudian pergi melakukan perjalanan menuju salah satu gunung yang menjadi favorit warga di negara ini untuk berkemah.

Dibawah kaki gunung tersebut telah disediakan parkiran mobil untuk para pendaki yang akan melakukan tracking ataupun yang akan berkemah disini selama beberapa hari.

Mereka turun dari mobil dan mengeluarkan ransel serta kotak makanan dan tenda untuk berkemah!

"Sini aku bantu!" kata Steiner saat dia melihat Laura kesulitan menurunkan kotak makanan dari bagasi.

"Tidak perlu, sana minggir," dengan ketus.

"Astaga kau galak sekali nona,"

Steiner pun membiarkan Laura yang berusaha sendiri mengeluarkan kotak makanan, sementara Netra terlihat sedang memotret terlebih dahulu pemandangan disekitar.

Karena kotak makanan itu cukup berat membuat Laura harus extra menarik kencang kotak makanan yang tersangkut itu hingga saat kotak makanan itu berhasil dia tarik, tubuh Laura pun terdorong kebelakang.

Beruntung satu tangan Steiner berhasil menangkap pinggul Laura sehingga Laura tidak jadi terjatuh.

"Lepaskan aku!"

"Sudah ditolong masih saja ketus,"

"Jangan harap ya aku akan bersikap baik pada laki-laki yang sudah mencuri momy dariku," kata Laura sambil melengos pergi dari hadapan Steiner.

Membuat Steiner pun garuk-garuk kepala padahal tidak ada yang gatal, baru kali ini Steiner bertemu dengan gadis muda tapi galaknya minta ampun seperti Laura.

Bab 3

Semua barang-barang yang diperlukan untuk berkemah sudah dikeluarkan dari dalam mobil. Ketiganya bekerjasama untuk memasang tenda besar yang akan menjadi tempat tidur mereka selama berkemah.

Terkadang Steiner tersenyum pada Laura tetapi yang dilakukan oleh gadis itu hanyalah memasang wajah jutek dan kesalnya pada Steiner, melihat hal itu Netra jadi tidak enak hati terhadap Steiner.

Saat Laura sedang menyiapkan alat masak untuk membuat makan siang, Netra menghampiri Steiner yang baru saja selesai mengurusi bagian terakhir pemasangan tenda.

Cup.

"Hei sayang," sapa Netra sambil mencium pipi Steiner.

Membuat Laura yang memperhatikan tingkah ibu dan calon ayah tirinya itu langsung memalingkan wajah, Laura sangat kesal sekali pada Steiner karena didalam hatinya dia tetap menolak keras Netra menikah lagi.

"Sayang, kau lelah?" tanya Steiner sambil menyeka keringat Netra.

"Tidak, justru aku merasa sangat bersemangat dan senang sekali!"

"Tapi wajahmu kenapa pucat sayang?"

"Pucat? Mana mungkin wajahku pucat, oh aku tau, ini pasti karena aku mengganti warna lipstikku,"

"Pakai yang seperti biasa kau pakai saja sayang, aku tidak suka melihat wajahmu yang pucat!"

"Oke sayang, hei aku mencintaimu,"

Netra memeluk Steiner kemudian Steiner pun mengusap pundak Netra.

"Stein,"

"Hmm,"

"Maafkan sikap Laura ya, aku yakin cepat atau lambat dia pasti bisa menerimamu,"

"Tidak masalah sayang lagipula Laura masih sangat muda untuk mengerti situasi ini, tapi yang jelas aku akan menjadi ayah tiri yang baik untuknya,"

"Terimakasih Stein, kau adalah laki-laki terbaik dan terakhir dalam dlhidupku!"

Sungguh Laura yang melihat Ibunya dan calon ayah tirinya itu bermesraan sangat tidak suka, selama ini kasih sayang Netra hanya untuk Laura tetapi gara-gara Steiner hadir dalam kehidupan mereka, kasih sayang Netra jadi terbagi.

Didalam hatinya, Laura sangat mengutuk laki-laki bernama Steiner itu. Karena muak melihat Steiner menempel terus pada ibunya, Laura pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sendirian untuk menghirup udara segar dikaji gunung itu.

Setidaknya pemandangan hijau didepan matanya bisa mengurangi emosi Laura yang saat ini sedang tinggi-tingginya! Tanpa terasa sudah sekitar satu jam lebih Laura memasuki kawasan gunung yang semakin dalam, dia melihat banyak burung-burung yang duduk didahan-dahan pohon-pohon tinggi! Laura juga melihat ada sungai yang airnya sangat jernih karena langsung dari mata air di gunung tersebut.

Heum...

"Sepertinya aku sudah berjalan cukup jauh, apa aku tersesat?" gumam Laura.

Buru-buru Laura kembali berjalan untuk kembali ke tenda, tetapi dia pun kesulitan mengingat jalan yang tadi dia lalui, padahal dia sudah memberikan beberapa tanda oleh coretan ranting pohon yang dia bawa, akan tetapi Laura masih tidak bisa mengingat.

Di tenda tempat mereka berkemah! Netra yang menyadari sejak tadi putrinya tidak kunjung kembali, merasa sangat khawatir.

"Stein, kenapa Laura tidak kunjung kembali ya? Aku takut dia jalan-jalan terlalu jauh dan tersesat didalam hutan!"

"Kau benar, ini sudah satu jam lebih Netra,"

Karena Laura tidak kunjung kembali, Netra pun mencoba menghubungi ponsel Laura tetapi sayangnya tidak ada sinyal diarea ini.

"Kita harus mencari Laura, Stein disini tidak ada sinyal!"

Aaa...

Netra meringis merasakan sakit dikepalanya.

"Sayang, kau baik-baik saja? Kau kenapa Netra?" tanya Steiner.

"A-aku baik-baik saja hanya kecapean,"

"Kalau begitu kau istirahat ditenda saja biar aku yang mencari Laura!"

"Iya Stein aku rasa sebaiknya aku istirahat, Stein aku mohon temukan Laura aku sangat takut terjadi sesuatu padanya,"

"Iya sayang aku janji akan menemukannya,"

Steiner pun memeluk Netra kemudian setelah itu mulai pergi untuk mencari Laura, setelah Steiner pergi barulah Netra masuk kedalam tenda, hidung Netra pun terlihat mengeluarkan darah cukup banyak.

"Mulai lagi," gumamnya lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan darah yang keluar.

Didalam hutan Steiner terus meneriakkan nama Laura dan mencoba mencari jejak sepatu Laura yang mungkin tertinggal ditanah.

"Laura! Laura dimana kau?"

Sementara itu, Laura yang sejak tadi mencoba menghubungi Netra melalui ponselnya tetapi kesulitan mendapatkan sinyal, mencoba naik keatas salah satu pohon.

Tetapi hasilnya nihil, handphonenya tetap tidak mendapatkan sinyal! Laura mulai semakin panik karena harus sudah mulai sore, tidak lucu sekali jika sampai malam hari dia tersesat didalam gunung ini, bisa-bisa dia menjadi santapan makan siang penghuni gunung ini.

"Ya Tuhan, bagiamana ini? Aku takut,"

"Tolong!!? Siapapun tolong aku!"

Laura mulai kebingungan karena sejak tadi dia terus berputar-putar dijalan yang sama tanpa menemukan jalan keluar, wajahnya sudah pias dan putus asa.

"Apa perlu aku berjanji pada diriku sendiri seperti di film-film?"

Karena pernah menonton salah satu film yang berisi tentang sang raja yang kehilangan putrinya, kemudian sang raja menjanjikan bagi siapapun yang menemukan putrinya jika dia laki-laki maka akan dijadikan suami dari putrinya dan jika yang menemukannya perempuan maka akan dijadikan saudara putrinya.

"Oke sepertinya aku harus mencoba!" kata Laura berbicara sendiri sejak tadi.

"Siapapun yang bisa menolongku keluar dari hutan ini, jika dia laki-laki maka akan aku jadikan suamiku dan jika dia perempuan maka akan aku jadikan saudaraku!" teriak Laura, berharap alam dapat mendengar ucapan dan janjinya.

Tap.

Tap.

Tap.

Terdengar bunyi ranting yang diinjak oleh sesuatu, Laura mulai waspada dia takut jika itu beruang hutan, macan atau serigala liar.

"Oh tidak! Please jangan makan aku!" kata Laura lalu pasrah dan menutupi wajah dengan kedua tangannya.

Laura sama sekali tidak mau menengok kearah belakang melihat apa yang sedang mendekat kearahnya.

"Jadi bagaimana?"

Suara yang terdengar familiar ditelinga Laura, perlahan Laura membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya.

"Itu seperti suara manusia, aku yakin itu suara manusia bukan serigala," gumam Laura.

Secara perlahan Laura membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berhasil menemukannya.

"Ka-kau,"

"Lalu bagaimana? Apa kau akan menjadikan aku suamimu seperti dengan janji yang kau ucap!" tanya Steiner.

"Kenapa kau bisa ada disini?"

"Tentu saja untuk menolongmu dan menagih janji yang kau teriakan tadi,"

Ckckckck..

Senang sekali Steiner melihat wajah gugup dan penyesalan Laura yang terlanjur meneriakkan janji untuk menjadikan laki-laki yang menemukannya sebagai suami.

"Cih, jangan harap ya dan tidak usah peduli padaku,"

"Tentu saja aku tidak berharap nona, karena yang akan aku nikahi itu ibumu jadi bersikap baiklah padaku setidaknya sampai kita keluar dari hutan ini!"

"Aku tidak butuh bantuanmu,"

"Yakin?"

"Tentu saja, dengar ya aku bisa keluar dari sini tanpa bantuanmu sebaiknya yang kau pedulikan cukup ibuku saja tidak usah peduli padaku dan anggap aku tidak ada, karena aku pun menganggapmu tidak ada dalam hidupku!"

Padahal sudah kepepet tapi gengsi Laura mengalahkan segalanya, dia kekeh tidak mau ditolong oleh Steiner.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED