Stevi yang berada di taksi, memikirkan kata-kata yang dibicarakan ibu kandungnya. Wanita ini duduk termenung di taksi. Dengan pakaian kerja yang rapi dan celana panjang kain serta rambutnya yang tidak diikat.
"Stevi, kamu harus rajin bekerja ya. Ingat, ibu sebentar lagi tidak akan ada."
Wanita paruh baya yang tidur di kasur memegang kerah, keringatnya membasahi pakaian. Tak lama setelah beberapa jam, Stevi yang menggengam tangan ibu kandungnya berlinang Air mata. Wanita paruh baya itu yang memakai baju batik pakaian tidur pucat.
"Non, sudah sampai di Keraton Pontianak. silakan turun."
"Makasih banyak pak."
Ibu, aku sudah kerja dan menikah. Tolong ibu jangan jemput Stevi, karena Aria sendirian butuh Stevi.
Sementara itu Aria ada di fakultas. Banyak mahasiswa dan mahasiswi lalu lalang. Ada satu mahasiswi yang di kantor Aria sedang menghadap untuk konsultasi makalah yang akan diseminarkan.
"Jadi, makalahnya jika diambil dari buku harus ada nama pengarang supaya tidak ada plagiat. Dan harus 10 persen dari plagiat," ucap Aria.
"Baik, saya akan menulis. Terima kasih atas pembetulannya."
Setelah mahasiswa dan mahasiswi ke luar. Pandangan Aria begitu tertuju pada foto Aria dan Stevi. Sementara Stevi yang kerja dan sampai di Keraton Pontianak masuk dan berjalan-jalan di Keraton.
"Wah, nona anda tepat sekali datang ke sini," ucap pemandu keraton Pontianak itu.
"Saya ke sini karena ingin mengetahui sejarah keraton Pontianak."
"Apakah nona sedang menulis blogger dan vlogger?" tanya pemandu keraton dengan sopan.
"Iya, saya tertarik dengan sejarah di Indonesia. Dan saya juga sering memposting di vlogger dan blogger saya." Stevi berjalan sambil melihat foto-foto pangeran yang di keraton dia terus melihat dan memprotet rekaman.
Aku berpikir untuk tidak memakan obat epilepsi lagi karena penyakitku tidak separah pada tahun lalu saat aku harus membuang obat nyawa anak yang ku kandung dan diriku terancam karena penyakit epilepsi, pikir Stevi. dia melihat-lihat foto pangeran keraton Pontianak, namun tidak bisa menahan air mata.
Tiba-tiba saja Stevi terjatuh, dan penyakit ayannya kambuh. Sehingga tubuh stevi kejang-kejang, mulutnya berbusa, dan mengompol karena tidak bisa menahan kencing ketika sakit ayannya kambuh. Pemandu yang menunjukkan, kaget dan langsung berteriak.
"Tolong, ada nona yang sakit ayan. Tolong bantu."
Seketika orang-orang yang berdatangan ada yang melihat, yang satunya membantu dan yang lainnya ikut mengangkat.
"Bu, coba telepon ambulans. daripada menonton orang yang kena ayan. Ini penyakit tidak menular tetapi penyakit yang mematikan."
Akhirnya ibu itu merasa bersalah dan memanggil ambulans untuk menjemput Stevi yang masih belum sadar dari kejang-kejang. Saat beberapa detik kemudian, pemandu di keraton menelepon suami Stevi.
"Halo apakah ini suami ibu Stevi, saya pemandu di keraton. Ibu Stevi kejang-kejang dan Stevi kambuh."
Di kantor.
"Oh, baik pak saya akan ke sana." Suami stevi langsung mengemaskan barang-barang dan bergegas menuju lift untuk ke keraton Pontianak, karena penyakit Stevi bisa membahayakan Stevi dan berujung kematian. Saat lift terbuka, Aria segera ke lift. dia terbayang pernah menemukan Stevi di apotek.
"Stevi, bangun. Bangun Stev, tolong. Apakah ada yang bisa membawa Stevi ke dokter."
Waktu itu di pontianak masih sore, Aria yang baru kenal dengan Stevi terkejut. Kejadian itu saat Stevi membeli obat untuk dirinya. Beberapa menit kemudian Stevi sadar dari kejang-kejang, dia bisa menahan sakit kejang karena sudah terbiasa dengan penyakit ayan yang diderita.
"Nona, tidak apa-apa?" tanya pemandu di keraton. Meskipun tugas Stevi masih belum selesai, dia sekarang hanya bisa memegang kepala karena pusing. Sebagai seorang blogger dan Vlogger yang punya penyakit saraf. Pekerjaan yang dilakukan di kota Pontianak sebagai vlogger dan blogger membuatnya menjadi lebih mengenal budaya Pontianak.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya suaminya yang berlarian menuju Stevi.
"emas, mengapa cepat sekali mengajar? Bukankah ini ada ujian untuk mahasiswa reguler A semester pertama?" tanya balik Stevi.
"Aku ditelephone sama pemandu, kamu ayannya kambuh. Aku cepat-cepat ke keraton menuju jalan raya. Kan naik kapal Veri bisa sampai keraton. Jadi sampai lah ke sini dengan cepat. Mobil ku titipkan di parkiran."
"Mbak, ambulans sudah datang. Mbak ke mobil ambulans." Sinar matahari di kota pontianak yang menyengat membuat mata Stevi susah melihat karena silau.
Stevi, mengapa kamu ga mau nurut sih. Aku sudah tahu kamu ga makan obat. tetapi jadi parah lagi penyakit mu ini, pikir Aria. dia mencium kening istrinya dan membantu berjalan, Stevi berjalan terpincang-pincang setelah ayannya sembuh. Hal ini biasa terjadi saat Stevi ayan, dia yang sering ayan harus merelakan suaminya karena usia Stevi tidak lama lagi dan dia sering mendapat pesan di hape dari nomor yang tidak dikenal.
Jam sepuluh malam, saat Stevi sedang mengetik naskah untuk vlogger dan blogger tentang keraton pontianak.
"Hari ini capai sekali, rasanya sudah berapa lama ya aku menikah dengan Aria. dosenku yang melamar."
Ingatan itu tiba-tiba teringat dan melekat di kepala Stevi.
Saat Stevi masih menjadi mahasiswa, 19 tahun dan saat itu Stevi sering absen di kampus tempat dia belajar dan tidak lagi meneruskan kuliah.
"Stevi, mengapa kamu tidak melanjutkan kuliah dan sengaja absen?"
"maaf pak, saya bantu orang tua jadi vlogger dan blogger. Karena orang tua saya kerja jadi tukang pijit dua-duanya, dan tidak bisa melihat. Sekarang saya sendirian. Karena kemarin orang tua saya dua-duanya meninggal, sakit jantung saya tidak bisa membayar uang kuliah. Karena uang saya sebagai vlogger dan blogger pemula belum masuk."
"Stevi, mau kamu menikah dengan saya. Saya tidak punya kekasih sudah lama single dan pekerjaan saya menjadi dosen banyak orang tidak suka sama saya."
Stevi tersenyum di kasur saat mengetik naskah buat Vlogger dan Blogger. Pernikahan itu membuat dia makin menjadi wanita yang paling bahagia karena Aria menolongnya. Namun belakangan ini, saat dia sibuk jadi Vlogger dan Blogger ada sms atau pesan dengan nomor tak di kenal.
No telepehone : 0821 sekian sekian
Kamu puas ya sudah merebut Aria dari aku. Kamu tahu tidak hubungan orang tuaku dengan keluarganya Aria retak gara-gara kamu.
ingatan yang indah saat bersama Aria menjadi ancaman buat Stevi, saat diapotik pas berbicara Stevi menyusahkan Aria karena penyakit ayannya. Hanya itu yang Stevi ingat, dia tidak ingat lagi. Hanya lamaran Aria dan Stevi merasa pusing. dia tidak pernah membuat orang lain terluka. Di kasur, masih malam dia terpaksa menulis surat wasiat.
Dear emas Aria
Aku sebagai istrimu ingin berpesan bahwa usiaku singkat karena penyakit epilepsi atau ayan
Saat sedang menulis, Stevi tiba-tiba memegang kepalanya karena kepala Stevi sakit seperti ada sesuatu. Stevi lalu kejang-kejang di kasur, mulutnya berbusa, dan tidak sadarkan diri di kasur. Naskah buat vlogger dan blogger yang dia ketik buat paginya juga belum selesai, bahkan surat wasiat yang Stevi tulis juga belum dilanjutkan karena penyakitnya kambuh.
"Stev, kamu tidak apa-apa?" tanya suami Stevi.
"emas Aria, maafkan Stevi. Tadi malam Stevi merepotkan emas lagi. Dan terima kasih emas sudah bantuin buat naskah untuk vlogger dan blogger." Stevi memeluk Aria, dia sangat sedih dan air mata tidak dapat ditahan lagi.
"Stev udah, jangan dipikirkan. Nanti penyakit kamu kambuh lagi."
Stevi, aku juga tahu kamu menulis surat wasiat. Tetapi mengapa kamu menulis surat wasiat seperti itu, aku ingin kamu mempunyai cita-cita sebagai vlogger dan blogger tercapai. Aku juga sudah menikahi kamu demi menyelamatkan kamu dari kemiskinan dan menjaga kamu saat sedang sakit, pikir Aria.
Batin Aria terluka karena Stevi jarang minum obat, tidak memberitahukan mengapa Stevi menulis surat wasiat itu, lalu mengapa Stevi malah tersenyum saat Aria menanyakan kesehatannya.
Aria melupakan hal itu karena tidak ingin Stevi sakit lagi, dia membantu Stevi menuju ambulans dengan perlahan-lahan.
"emas, maaf ya. emas jangan marah lagi deh." Stevi memegang pipi Aria. Stevi memegang tangan Aria.
"Iya, aku tidak marah kok. Tenang saja."
Namun, saat di ambulans Stevi kejang-kejang lagi. Dan petugas medis menolongnya serta memberikan oksigen dan memasang infus, lalu Stevi dipasang alat pendeteksi jantung dan pendeteksi otaknya.
"Stev, kamu harus kuat. Ada sesuatu yang ingin aku mau kamu kasih tahu."
"Stevi sadarlah sayang, aku mohon." Aria memegang tangan Stevi, dia menangis dan cemas. "Dokter, apakah Stevi baik-baik saja?" tanya Aria yang memegang tangan Stevi di ambulans. dia cemas karena setiap hari melihat Stevi di kamera cctv untuk mengawasi Stevi saat di rumah.
Aria sangat sedih dan sekarang dia melihat sang istri yang dipasang alat untuk mendeteksi jantung, otak, dan tangannya dipasang infus. Semua yang ada ditubuh Stevi membuat Aria terasa seperti ditusuk duri, karena sang istri yang tadi pagi sehat menjadi sakit. Aria yang menjadi dosen di fakultas negeri terpaksa izin, bagaimana mungkin dia tega meninggalkan sang istri yang mengetahui surat wasiat istrinya sudah ditulis namun belum selesai.
Stevi sadar, dia memegang pipi Aria. Wanita yang terbaring di mobil ambulans tersenyum, demi membuat lelaki yang dicintainya tidak menangis.
"Aria, maafkan aku lagi. Aku tidak bisa menjadi istri seutuhnya. "
Perkataan Stevi membuat Aria berlinang air mata. Wanita yang terbaring lemah adalah mahasiswi yang ditolongnya dan sekarang menjadi istri tercinta. Surat wasiat itu membuat Aria masih berpikir untuk kesekian kalinya. mengapa Stevi meninggalkan surat wasiat itu? Padahal mimpinya mempunyai seorang anak sudah terkabul dan sekarang anaknya berada di rumah sakit.
Perjalanan yang lama membuat Aria makin sedih.
"Dok, kapan kita sampai di rumah sakit? Aku tidak tahan melihat Stevi seperti ini."
"Sabar, pak. Jarak rumah sakit sangat jauh dari keraton Pontianak."
"Berapa meter jaraknya kalau ke klinik dok?"
"Jaraknya 1,8 km. Tetapi kita perlu putar arah pak karena kalau naik kapal Feri, kita tidak tahu apakah masih bisa atau tidak."
"Stevi bertahanlah, kamu jangan seperti ini." Aria mencium tangan Stevi yang pucat itu dengan kasih sayang.
Aria sangat menyesal dia tidak pernah pulang tepat waktu karena jadwalnya yang padat, setiap kali dia ingin berjalan bersama Stevi selalu saja banyak urusan rapatlah, proyek dari Universitas, menguji mahasiswa skripsi, dan bahkan ke luar kota.
Bagi Aria kehilangan istri tercinta adalah hal yang membuatnya patah semangat untuk bekerja. Untunglah, hari ini dia bisa menemui sang istri dan tinggal mengirim pesan ke rektor untuk tidak mengikuti rapat.
"emas Aria, aku baik -baik saja. emas kalau menangis jelek deh."
Stevi yang masih lemah memaksakan dirinya untuk menghibur Aria. Sore kemarin, Stevi juga kejang-kejang namun tidak parah seperti ini.
"Stevi, kamu tidak apa-apa?" tanya Aria. Aria melihat Stevi yang kejang-kejang, dia bergegas dan mengambil tisu. Aria menolong Stevi dengan mengarahkan ke samping, liur yang berbuih dimulut Stevi di bersihkan oleh Aria.
"emas, aku pusing." Stevi sudah membuka mata, namun masih lemas. Niat Aria yang ingin membawa Stevi ke rumah sakit tidak jadi karena istrinya sadar. Aria sadar, Stevi yang sekarang terbaring lemah memakai oksigen dan dipasang kabel dan slang infus. Seluruh tubuh Stevi makin lama makin pucat.
Aria memijat kaki Stevi, monitor ECG atau monitor pendeteksi jantung berbunyi cepat seperti jam peledak bahwa akan meledak cepat, namun monitor itu kembali berbunyi lambat dan teratur kondisi Stevi masih saja lemas.
Aria merasa sedih sekali. Apa yang membuat Stevi menuliskan surat wasiat karena kondisinya makin tidak sehat? Pikir Aria yang merasa curiga dengan pesan yang masuk di hanphone Stevi.
Tante yang merawat Stevi pernah bilang, bahwa ayah dan ibunya bukan mengidap penyakit keras melainkan penyakitnya sama dengan penyakit Stevi.
"Aria, sebenarnya ada yang ingin tante bicarakan. Stevi terlahir dengan keadaan cacat otak sejak lahir. Stevi mengidap ayan. Ibu dan bapaknya juga mengidap ayan."
Tante meneteskan air mata ketika berbicara dengan Aria. Saat itu Aria merasa bersalah karena tidak mengerti kondisi Stevi yang sebenarnya.
"Tante, Aria merasa bersalah dengan Stevi saat pertama kali bertemu. Dan waktu itu Aria tidak bisa menanyakan langsung karena kami belum menikah. Kalau saja Aria kerumah tante dan melihat kondisi Stevi saat kecil pasti Stevi tidak akan separah ini."
"Nak Aria, kamu dan Stevi baru menjadi pengantin muda. Kamu sebaiknya yang sabar. Stevi mungkin masih malu dan belum bisa terbuka sama kamu yang sekarang menjadi suaminya."
"Aku merasa benar-benar bersalah, tetapi aku tidak tahu kalau Stevi merahasiakan penyakitnya. Aku sudah bilang dengannya untuk cuti kerja karena kesehatannya kadang-kadang menurun."
Aria yang memikirkan perbincangan dengan keluarga istrinya itu baru menyadari bahwa Stevi sosok yang pendiam, dia bahkan tidak mau Aria mengetahui penyakit Ayannya yang makin parah.
Aria bertanya ke petugas medis.
"Pak, apakah sudah sampai ke rumah sakit? Istri saya kesakitan?"
"Sebentar lagi sampai, pak. Bapak tenang saja. Dan kita sudah sampai ke klinik."
Beberpa menit kemudian Stevi sadarkan diri setelah kondisinya memburuk, namun dia belum bisa menjawab atau berbicara karena masih lemas.
"Stevi, apakah kamu baik-baik saja. Aku cemas kamu tidak sadar setelah berbicara denganku."
Stevi masih belum membuka matanya, dia masih sulit berbicara karena sakit Ayan yang membuat kepalanya pusing. Aria memegang tangannya dan memijat perlahan-lahan karena Stevi masih belum bisa diajak bicara.
Sesampainya Stevi di rumah sakit, Aria melihat bahwa Stevi menahan sakit karena ayan. Petugas medis turun dari mobil dan membawa Stevi menuju ke ruang unit gawat darurat untuk diberi pengobatan.
Aria menelepon keluarga Stevi. Suara telepeon berdering dan belum ada yang mengangkatnya.
"Aria, mengapa?"
"Tan, Stevi kritis tante. Dia masuk rumah sakit. Tante tahu tidak mengapa Stevi menulis surat wasiat?"
Aria mondar-mandir menelepon keluarga Stevi, tante yang selama ini mengurus Stevi untuk sekolah, pergi kerja, dan mengurus kebutuhannya. Siapa lagi, karena Stevi hanya punya tante yang merawat sejak orang tuanya meninggal.
Stevi juga jarang bercerita ke tantenya, Aria sampai bertanya-tanya mengapa Stevi tidak membahas masalah dengan tante atau Aria, malah menuris surat wasiat. Padahal Stevi adalah Vlogger yang lagi naik daun dan blogger yang udah sampai ke seluruh indonesia.
mengapa Stevi harus merahasiakan teror pesan dari nomor tak dikenal, jika begini kan Aria tidak kerepotan dan tantenya juga tidak sedih. Stevi setelah pernikahan ceria sekali bahkan semenjak bulan madu dia tidak seperti orang yang menyembunyikan masalah.
Setelah acara resepsi, saat itu Stevi tersenyum dan tidak diam jika ada masalah.
"emas, aku mau bicara boleh tidak?"
"Bicara saja sayang, kita kan sudah suami istri harus terbuka jangan sembunyi jika ada masalah."
"emas, aku ingin program bayi tabung. Tetapi kalau emas tidak mengijinkan aku tidak apa-apa."
Di rumah sakit Aria kini hanya memikirkan percakapan Stevi dengan dirinya. dia yang memegang telepon dan menunggu tante kandung Stevi yang mengurusnya sejak kedua orang tua Stevi meninggal, karena satu-satunya jalan adalah dengan berbicara tante Namira Aira. dia adalah orang yang tahu sifat Stevi selama merawatnya, Stevi bahkan jarang sekali melewatkan jam makan obat penyakit ayan.
Suara telepon genggam atau hape Aria berbunyi.
"Halo, maaf saya sedang di rumah sakit menunggu Stevi sadar karena kritis. Dan menunggu tantenya datang. Saya izin besok tidak masuk ke kampus, pak Teguh bisa ke rumah sakit bawakan absensi kehadiran saya? Kalau bisa nanti saya bagikan nomor hape atau ketik di ponsel."
Pak Teguh yang menelepon menjawab bahwa Pak Aria tidak usah cemas, Karena Nanti malam dia akan ke rumah sakit atau ke rumah Pak Aria untuk mengantar Absensi kehadiran dosen.
Aria sering kali mengingatkan Stevi jika ada masalah berbicara baik-baik, karena Aria dan Stevi sudah menikah dan menjalin rumah tangga. Tidak ada yang disembunyikan di rumah harus saling terbuka. Namun Stevi tidak memberi tahu jika dia sekarang diteror oleh orang gila yang menyimpan rasa suka oleh Aria.
"Dok, ada apa dengan Stevi?" tanya Aria. dia kaget karena dokter dan suster keluar dari rumah sakit secara tiba-tiba. Baru saja Stevi masuk ICU setelah di UGD, dokter keluar begitu saja. Aria sempat bingung dari tadi dia ingin ke rumah untuk istirahat, namun belum ada perkembangan dari Stevi.
"Stevi mengalami koma, tadi kejang-kejang lagi dan dia mengalami jantung bocor." Aria shock mengapa Stevi tidak pernah bercerita tentang penyakit jantung bocor malah bercerita tentang penyakit ayan, seandainya saja Stevi tidak tertutup mungkin sekarang dia tidak koma seperti ini.
Aria hari ini penuh dengan suasana yang sedih, mukanya kusut karena menerima kenyataan bahwa Stevi tidur lama karena koma, belum pernah Aria melihat Stevi di rumah sakit koma seperti ini. apalagi sekarang Stevi merahasiakan sesuatu yang Aria tidak tahu. Aria merasa seperti dia sudah membuat Stevi bersalah, karena selama ini Aria pergi kerja dan pulang malam tidak menanyakan bagaimana suasana hati Stevi.
Aria bangun, dia tidak ingin membuat Stevi terus sakit-sakitan. Meskipun Aria harus menahan sakitnya dada karena sedih menerima kenyataan sang Istri yang bernama Stevi terbaring koma.
Stevi, apa yang harus aku lakukan. Aku sudah mencari siapa pelaku yang membuat kamu murung dan sakit seperti ini tetapi tidak menemukan pelakunya. Aku ingin membuat kamu bahagia saat pertama kita jadi pengantin. Saat bulan madu, kata-katamu saat pertama kali bulan madu membuat aku bahagia. Aria berdiri dalam pikiran yang kacau dan cemas karena Stevi masih belum sembuh.
Stevi saat bulan madu wajahnya bersinar dan selalu tertawa bahkan Aria yang melihatnya merasa bersyukur karena dia tidak salah pilih.
"emas Aria, terima kasih udah bawa aku ke pantai dan nginap di hotel bulan madu. Aku juga berterima kasih bisa merasakan pemandangan di pantai."
Aria juga perhatian waktu itu saat Stevi di hotel kejang-kejang, dia menjaga Stevi dan memberi obat supaya Stevi tidak kambuh ayannya.
"Dek, kamu ga apa-apa? emas, sudah belikan bubur dan buah. Kalau masih sakit kita ke rumah sakit. bulan madu di tunda kan ga apa-apa. Kita bisa lanjutkan sekarang," ucap Aria yang menyisir rambut Stevi.
"emas. Apa emas meremehkan aku sebagai wanita lemah. Apa aku tidak baik buat emas?" tanya Stevi.
"Bukan begitu, dek. Aku tahu kamu tidak ingin seperti ini."
"Lalu aku harus apa, emas? Aku sudah muak dibuat oleh ibu angkatmu."
"Maksudmu, apa Stev? Ceritakan kepadaku, tolong! Siapa yang membuatmu sakit?" tanya Aria dengan sedih.
Ingatan itu membuat Aria makin meneteskan air mata. Kenangan yang indah saat bulan madu, namun Stevi tidak pernah bilang kalau dia punya penyakit jantung dan menyimpan rahasia. Seorang wanita yang pintar dan pengertian merahasiakan penyakit parah untuk mencoba membahagiakan Aria. Stevi memang orang yang tidak besar mulut, wanita itu jika ada masalah selalu disimpan di dalam hati.
Aria masuk ke ruang intalasi care unit atau ruang rawat di mana tempat orang dipasang alat medis dan dijaga kondisinya oleh petugas medis. Aria memakai baju alat pelindung diri yang disediakan oleh rumah sakit, lalu masuk ke ruang di mana Stevi terbaring dan belum membuka mata.
Kini di mata Aria, hanya seorang wanita yang terlihat tegar di luar namun rapuh atau lemah.
"Stev, aku datang menjenguk kamu. emas sudah minta izin dengan orang kantor untuk izin cuti merawat kamu di ruang yang khusus untuk ruang orang dewasa, karena kondisi Stevi bisa mengancam jiwa, dokter meminta emas tidak dimasukkan ke IGD. Tadi sempat di UGD setelah itu emas menyuruh coba ke IGD. Kamu sekarang malah di ICU." Aria menyisir rambut Stevi dan membenarkan rambut istrinya yang menghalangi wajah Stevi yang cantik. "
Stevi, aku tahu kamu pasti menyimpan sesuatu dan malah membuat kamu koma. mengapa ga bilang sama emas. emas juga suamimu. Kita sudah sepakat buat terbuka," ucap Aria meneteskan mata ke pipi Stevi.
Aria sempat kebingungan saat Stevi dibawa kerumah sakit. Pertama dia memilih UGD di rumah sakit yang hanya ada dokter umum meskipun di rumah sakit besar terdapat IGD yang lebih khusus menangani penyakit Stevi. dia tidak ingin membuat Stevi marah karena menghabiskan uang buat Stevi, namun Aria ingin Stevi ditangani dengan tuntas sampai sadar. Aria ingin Stevi sembuh dan bangun dari koma lalu Stevi jujur padanya untuk mengungkapkan rahasia yang dipendam Stevi.
Aria mencium kepala Stevi. dia mencium tangan istrinya yang terlihat pucat.
"Dek, setelah kamu sembuh. emas akan membawa kamu ke tempat yang membuat kamu terharu. Seseorang menunggumu, dia sudah ingin memeluk kamu karena sudah lama di rumah sakit."
Situasi seperti ini membuat Aria harus bersabar, karena Stevi tidak pernah jujur dan berbicara sesuatu mengenai surat teror dan wasiat yang ditulis Stevi. Kondisi Stevi sekarang terbaring, seluruh tubuh penuh alat medis yang memantau kesehatannya. Mulai dari jantung, otak, dan infus untuk memberi asupan makanan dan obat supaya Stevi tetap sehat. Namun Stevi masih tidak merespon bahkan dia koma dan tidak membuka mata sama sekali.
Aria sedih, Stevi sekarang memakai ventilator untuk bernapas. Hanya dengan alat ventilator yang Stevi isap untuk bernapas, karena tanpa ventilator oksigen yang dia isap membuat Stevi kesulitan bernapas. Seorang yang mengalami koma tidak bisa bernapas seperti manusia normal, dia harus membutuhkan oksigen dari rumah sakit karena masih dalam keadaan tidak sadar. Aria yang melihat Stevi harus dipasang Ventilator, sekarang tampak lemas karena memikirkan surat wasiat namun Stevi sekarang masih belum sadar dan seluruh tubuhnya memakai alat medis untuk membuat Stevi tetap hidup.
Diceritakan Stevi perlu oksigen untuk tetap hidup dengan alat ventilator. Aria memegang tangan Stevi penuh harap, karena sang istri masih belum sadar dan merespon perkataan Aria.
Aria tuh bingung sekali, dia memejamkan mata supaya keajaiba datang ke Stevi. Hanya Stevi yang dia miliki, Aria mencintai Stevi bukan karena kasihan. Tetapi Stevi seorang mahasiswi yang berprestasi saat semester satu. Nilai ulangannya selalu bagus dan jawaban-jawabannya memuaskan dosen. Aria bukan hanya dosen untuk Stevi, melainkan dosen konsultasi mengenai masalah mata kuliah.
Setelah menikah Aria mengetahui bahwa Stevi butuh waktu untuk rekreasi karena kehidupannya yang keras. Stevi menerima Aria saat dilamar bukan karena merasa bersalah, melainkan Aria satu-satunya harapan bagi Stevi agar tetap semangat hidup.
Namun karena sekarang Stevi menerima pesan teror di telepon genggam, dia tertutup dan tidak mau jujur ke suaminya. Siapa lagi kalau bukan emas Aria yang Stevi cintai.
Stevi sampai membuat nyawanya dalam bahaya, dia memikirkan cara untuk berterus terang atau menyimpan rahasia namun penyakit Ayan malah membuatnya terbaring lemas di rumah sakit dan koma.
"Stevi, aku mencintaimu. Ketika kamu sadar, tolong jujur kepadaku untuk memberitahukan maksud surat wasiatmu dan siap yang mengirim sms teror di hape kamu."
Aria sekarang hanya bisa menahan tangisannya, karena dengan ketegaran dan kesabaran Stevi akan sembuh. Jika Aria menangis, mungkin Stevi malah kritis dan membuat penyakitnya memakan usianya. Stevi yang koma, hanya bisa mendengar suara Aria dan tertidur lagi. Tubuhnya yang koma masih lemas.