"Mas, tolong bawa ibu ke rumahmu dong. Aku capek kalo begini terus ...." keluh Eliza di sambungan telepon pada Edo, Mas-nya yang tinggal beda kota dengannya.
Eliza sudah memikirkan hal ini sejak awal. Walau sebenarnya ia tidak ingin melewatkan bakti pada sang ibu, tapi ia tidak sanggup lagi menjalaninya. Tubuhnya benar-benar remuk. Lelah tidak hanya menerpa raganya, tapi juga membelit hati dengannya sangat erat.
Bagi Eliza, wajar saja jika ia meminta Edo untuk menjaga sang ibu. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari orang tuanya, Edo cukup sukses dengan hidupnya sekarang. Sejak menikah dengan anak tunggal bos tempatnya menjadi karyawan dulu, hidupnya nyaris berubah seratus delapan puluh derajat. Ia awalnya hanya ditugasi untuk mengurus perusahaan milik sang mertua. Akan tetapi, setelah mertuanya berpulang, otomatis perusahaan itu menjadi tanggung jawab Edo sepenuhnya.
Eliza hanya mendengar helaan napas panjang dari Edo. Beberapa saat menunggu, ia tidak kunjung mendapat jawaban.
"Mas ...." panggil Eliza lagi.
"Mas kerja, El. Gimana bisa Mas ngurus ibu?" elak Edo.
Eliza memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja sakit. Semua itu karena jawaban Edo yang tidak masuk akal. Semua orang tahu, kalau Edo memang bekerja. Seorang pekerja kantoran yang selalu sibuk. Akan tetapi, bukankah ia mempunyai istri? Rasanya wajar saja, seorang menantu perempuan mengurus mertuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Kalaupun sang istri tidak sanggup melakukan semua itu, mereka adalah orang kaya. Tidak akan mengurangi hartanya sedikitpun. Jika sedikit saja disisihkan untuk menyewa seorang pembantu, untuk mengurus ibu.
"Tapi, Mas. Gak mungkin juga semua ini dibebankan sama aku seorang. Meski tidak bekerja, tapi aku punya dua balita yang supee aktif. Aku benar-benar kewalahan mengurus ibu, Mas." Lagi-lagi Eliza berusaha membujuk. Ia masih berharap, Edo memikirkan lagi semuanya.
"Kamu coba hubungi Mbak Eva deh. Mana tahu, ia mau bawa ibu ikut dengannya. Anak-anaknya udah pada besar. Pasti gak masalah baginya untuk ngurus ibu." Hening beberapa saat. "Udah ya, El. Mas lagi sibuk nih!" Sambungan telepon dimatikan begitu saja.
Eliza membanting ponselnya ke arah ranjang dengan kasar. Ia benar-benar stres dua hari ini. Ibunya, Minah, yang memang sudah nyaris lumpuh, hari ini menguras emosi Eliza. Sejak pagi, ia bolak-balik minta diantar ke kamar mandi. Alasannya sakit perut. Padahal belum beberapa detik sampai di kamar mandi, ia minta ke kamar lagi. Begitu seterusnya, sampai berulangkali.
Jika Eliza bersuara keras sedikit karena kesal, ia akan menangis tersedu-sedu lalu akan mogok makan. Apapun yang disediakan Eliza di meja kecil samping ranjangnya, tidak akan disentuh. Lalu, ujung-ujungnya, ia akan mengeluhkan sakit perut.
Kalau saja, tugas Eliza hanya mengurus ibunya, mungkin ia bisa berupaya lebih sabar. Akan tetapi, dengan mengurus dua balita super aktif, seluruh tenaga Eliza benar-benar terkuras. Rasanya ia sudah tidak memiliki kemampuan lagi. Sementara, jika dipikir-pikir, ibunya itu bukanlah tanggung jawabnya seorang. Masih ada dua saudara, yang memiliki kewajiban yang sama.
Eliza merasa keadaan ini tidak adil untuknya.
---
"Kan hanya kamu yang dapat warisan dari ibu, ya kamu lah yang ngurus ibu," ujar Eva waktu pertama kali Minah divonis stroke.
"Warisan apa maksud Mbak? Rumah ini?"
Setelah menikah dengan Agung, suaminya, Eliza memang tidak pernah pindah dari rumah Minah. Minah sendiri yang memintanya untuk tetap tinggal bersama. Saat ini, Minah masih sehat. Ia kuat, dan bahkan masih aktif berjualan sarapan pagi di depan rumahnya. Usaha yang sudah ia geluti bertahun-tahun, untuk menghidupi anak-anaknya setelah suaminya meninggal.
Eliza menurut. Lagipula, ia tidak tega meninggalkan ibunya tinggal sendiri. Beliau pasti akan kesepian.
Begitulah yang ada dalam pikiran Eliza. Akaj tetapi, bukan berarti dia enak-enak saja menerima harta satu-satunya yang dianggap warisan oleh Eva. Rumah tua milik orang tuanya itu, sudah rusak di sana ini. Eliza dan Agung pun, sudah mengeluarkan banyak uang untuk merenovasi.
"Ya, begitulah ...."
"Jika memang begitu yang kalian inginkan, baiklah," jawab Eliza, sembari menatap dua saudara yang ada di hadapannya. Keduanya sama saja. Hanya menampilkan wajah yang datar, tanpa ekspresi rasa bersalah sedikitpun.
---
Sudah tiga tahun berlalu, sejak peristiwa itu. Hanya Eliza yang selalu sabar mengurus Minah. Kedua kakaknya, tidak pernah berinisiatif untuk menggantikan tugas Eliza. Semua beban yang berat itu, hanya terbeban di pundak Eliza seorang. Bahkan, ketika anak keduanya lahir, tidak sedikitpun mengubah keadaan. Edo dan Eva tetap bertahan pada keadaan yang membuat mereka nyaman. Tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana Eliza menjalani beratnya hidup.
Yang mereka berikan hanyalah berbentuk uang, untuk keperluan sang ibu. Membeli diapers, susu, hingga vitamin dan obat-obatan. Itupun tidak rutin. Terkadang, jika tidak diingatkan, Edo dan Eva akan lalai.
Yang mereka berikan hanyalah berbentuk uang, untuk keperluan sang ibu. Membeli diapers, susu, hingga vitamin dan obat-obatan. Itupun tidak rutin. Terkadang, jika tidak diingatkan, Edo dan Eva akan lalai.
Sebagai istri dari seorang karyawan perusahaan kecil, Eliza jelas tidak sanggup untuk membiayai kebutuhan ibunya sendiri. Oleh sebab itu, ia terpaksa harus menebalkan muka untuk mengingatkan kedua kakaknya pada kewajibannya.
Dan, saat ini, Eliza telah sampai pada titik jenuh. Ia terlalu lelah. Bayi kecil yang ia lahirkan dua tahun yang lalu, benar-benar super aktif, hingga menguras energi Eliza setiap hari. Jika ditambah dengan urusan ibunya, Eliza nyaris ambruk, tidak bertenaga. Ia terlalu lelah. Tidak hanya tubuhnya yang lelah, tapi juga pikiran. Jika stres yang ia rasakan sangat berlebihan, maka dua balitanya yang akan jadi sasaran amuk. Amarahnya bisa membuncah dengan cepat.
Maka dari itu, malam ini, Eliza sengaja menghubungi Edo. Ia hanya butuh ketenangan beberapa saat saja. Untuk memberikan ruang pada otaknya agar bisa berpikir normal. Jika kondisi lebih memungkin, ia akan dengan senang hati mengurus ibunya kembali. Bukanlah ada ladang pahala, dari kondisi ibunya sekarang?
Akan tetapi, pada Edo, lelah itu tidak bisa ia adukan. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Edo melalaikan tanggung jawabnya. Ia mengelak untuk mengurus ibu, sejenak saja. Eliza tidak habis pikir pada pikiran mas-nya itu. Tidakkah ia ingat pada masa kecilnya dulu, ketika masih ada dalam rengkuhan kedua lengan ibunya?
Sekarang harta dan kesibukan, membuat Edo lupa pada segalanya. Padahal dulu, ia adalah anak kebanggaan ibunya. Tidak ada kata tidak, untuk segala keinginannya. Eliza saja sebagai anak bungsu, tidak jarang merasakan cemburu pada Edo.
"Gimana, Dek?"
Munculnya Agung dari balik pintu, mengagetkan Eliza. Ia segera menyapu sudut matanya yang entah sejak kapan basah. Perlahan, ia menggeleng. Hati Eliza nelangsa. Pada siapa lagi, akan ia adukan semua ini? Pada Eva pun, ia juga tidak yakin mendapatkan penawar pada problema dalam dadanya. Sikap Eva selama ini, bahkan lebih parah dari Edo. Anak sulung Minah itu, jangankan untuk pulang untuk melihat kondisi sang ibu, sekadar bertanya saja dalam telepon, bisa dihitung dengan jari sepanjang tahun.
"Aku akan hubungin Mbak Eva ...." lirihnya.
Agung hanya menatap Eliza dalam diam. Ia tidak bisa membantu apa-apa, atas permasalahan istrinya. Awalnya, ia menyarankan Eliza untuk bersabar. Merawat orang tua di masa sepuhnya adalah pekerjaan mulia. Akan berbalas surga, jika ia bisa ikhlas. Akan tetapi, kondisi Eliza terlihat sangat tidak memungkinkan belakangan ini. Dia terlihat stres mengurus segalanya sendiri. Hampir setiap Agung pulang dari bekerja, Eliza mengeluhkan banyak hal. Lelah fisik dan juga batin membuat emosi Eliza tidak terkendali.
Agung tidak habis pikir. Ternyata Edo tidak bisa memberikan solusi atas kondisi adik bungsunya itu. Sebagai laki-laki, seharusnya ia bisa mencarikan jalan keluar untuk semua ini. Tetapi, ia memilih untuk lepas tangan.
Eliza mendengkus dengan kasar. Panggilan teleponnya pada Eva, sudah dua kali tidak mendapatkan jawaban. Entah ada dimana kakaknya itu? Jelas sekali, kalau ia belum tidur. Masih terlalu senja. Jam dinding baru menunjuk ke pukul delapan. Apa jangan-jangan Eva sengaja tidak mengangkat telepon darinya? Benar-benar keterlaluan kakaknya itu! Gumam Eliza kesal.
"Gak diangkat?" Lagi, Agung bersuara.
Eliza mengangguk lemah.
"Coba lagi ...."
Eliza menuruti saran suaminya. Mencoba untuk menghubungi Eva kembali.
"Ada apa, El?" Nada ketus Eva terdengar dari seberang sana.
"Mbak, aku mau bicara ...." Mendengar nada tidak bersahabat dari Eva, Eliza jadi ragu untuk mengungkapkan semuanya. Rasanya ia sudah dapat membaca penolakan yang akan diterimanya.
"Katakanlah, ada apa?"
Eliza mengusap dadanya, berusaha agar emosinya tidak terpancing oleh nada bicara Eva.
"Mbak, kita gantian ngurus ibu ...."
"Apa?" Kalimat Eliza belum usai, tapi Eva sudah terdengar menyela.
"Iya. Kondisi aku lagi gak memungkinkan Mbak. Zaydan lagi aktif-aktifnya. Belum lagi si kakak. Sementara aku hanya sendiri tanpa ART. Aku benar-benar drop." Eliza menghela napasnya. "Mbak bawa dulu ibu ke sana. Beberapa bulan aja. Nanti, kalau kondisi memungkinkan, kami akan jemput ibu kembali ...."
"Gak bisa, El!" tandasnya seketika. Eliza cukup yakin, penolakan itu spontan, tanpa melalui pertimbangan sedikitpun. Benar sekali tebakan Eliza. Pasti lagi-lagi penolakan yang ia terima.
"Tapi, Mbak. Tolonglah .... Aku benar-benar gak sanggup, Mbak. Tubuhku remuk mengurus segalanya sendiri. Mencari ART, keuangan kami gak memungkinkan, Mbak. Kalau Mbak, kedua anak Mbak sudah besar. Mengurus ibu saja, jelas gak akan begitu merepotkan. Lagipula, sementara saja, Mbak. Gak akan selamanya ...." bujuk Eliza, dengan harapan kakaknya itu luluh, dan mengubah keputusan.
"Gak bisa, El. Mbak sibuk. Lagipula Shella dan Gilang gak akan betah tinggal bareng ibu yang sakit-sakitan," tambahnya lagi.
"Astaghfirullahal adziim, Mbak. Tega Mbak ngomong kayak gitu tentang ibu?" Setetes butiran bening dari mata Eliza mengalir begitu saja. Hatinya sakit mendengar penolakan yang tidak masuk akal dari Eva.
"Udah dulu ya, El. Mbak lagi sibuk. Assalamualaikum ...." Ia menutup telepon begitu saja. Tanpa menunggu Eliza menjawab salam yang ia ucapkan.
Tubuh Eliza luruh. Air matanya mengalir begitu saja. Ia tidak habis pikir sama isi kepala kedua kakaknya. Kehidupan duniawi telah menarik dan menenggelamkan mereka terlalu jauh. Hingga melupakan apa yang seharusnya menjadi kewajiban dan sebuah bakti di atas dunia ini.
Brug!
Ketika Eliza baru mendekat ke kamar Minah, membawakan makan siang untuk ibunya itu, terdengar seperti sesosok tubuh yang jatuh menimpa lantai. Ia mempercepat gerak, membuka pintu dengan gegas. Dan, benar saja, Minah sudah tergeletak di sisi ranjangnya. Wajah tuanya terlihat meringis menahan sakit.
"Ya Allah, Bu. Ibu kenapa?" Eliza meletakkan nampan berisi makanan di meja kecil di depan jendela. Lalu segera membantu Minah bangkit.
Keadaan Minah sebenarnya sudah lumayan baik, daripada ketika ia pertama kali terkena stroke dulu. Ia sudah bisa bicara dengan lancar. Fisiknya pun sudah lebih kuat. Tetapi, untuk berjalan, Eliza masih harus memapah tubuhnya. Jika Minah masih bersikeras melakukannya sendiri, beginilah yang akan terjadi. Ujung-ujungnya Minah pasti akan terjatuh menimpa lantai.
Minah sudah didudukkan Eliza di tepian ranjang.
"Ibu mau kencing," bisiknya kemudian.
"Kalau mau kencing, ibu kan bisa panggil aku," jawab Eliza. "Lagipula, ibu pakai diapers koq. Nggak perlu bolak-balik ke kamar mandi." Ia bergerak ke arah piring makan Minah. "Ibu ngeyel terus sih, jadinya gini ...." Tangan Eliza mengaduk-aduk nasi ibunya yang sengaja dimasakkan sedikit lembek. Kata Minah, ia tidak selera lagi pada nasi yang keras. Seluruh gusinya sakit karena menguyah. Jadi Eliza harus memasakkan khusus untuknya makan.
"Ibu ndak mau merepotkanmu ...."
Eliza tidak menjawab. Ia masih terus mengaduk nasi yang sudah disiram kuah sayur itu. Sebagai penderita hipertensi, Minah harus menjaga betul asupan makanannya. Salah sedikit, tensinya akan segera melesat naik.
"Ibu ndak suka kencing di sini," tunjuknya ke arah selangkangan. "Gatal ...."
Eliza masih saja diam.
"Ibu tahu, kamu capek ngurus ibu. Belum lagi anakmu ...." Terdengar suara desahan keluar dari mulut Minah.
Tangan Eliza berhenti mengaduk. Ia mengangkat wajah, menatap ke arah Minah yang ternyata sedang menatapnya dengan matanya yang berkabut. Tidak biasanya, sang ibu berkata seperti itu. Eliza berpikir satu hal, Apa jangan-jangan ibunya mendengar pembicaraan di telepon dengan kakak-kakaknya tadi malam?
"Ibu nggak usah mikir macam-macam. Ayo, makan dulu ...." Eliza mengalihkan pembicaraan. Ia bergerak mendekat, lalu duduk di sisi kiri sang ibu. Tangannya mengaduk lagi, memastikan nasi itu tidak lagi panas. Satu sendok disodorkan ke mulut Minah.
Minah membuka mulutnya, menerima suapan dari Eliza dengan hati yang gamang. Matanya tidak henti menatap pada anak bungsunya itu. Setelah isi mulutnya habis ditelan, Minah ingin bersuara lagi. Banyak hal yang berhimpitan dalam kepalanya.
Sudah lebih dari tiga tahun, ia harus bergantung sepenuhnya pada Eliza. Ia tidak lagi bisa melakukan apapun, setelah pingsan di kamar mandi pagi itu. Dokter memvonisnya terkena stroke.
Hanya Eliza yang bersedia merawatnya. Padahal kala itu, Eliza sudah punya anak berusia tiga tahun. Dua anaknya yang lain, menolak untuk melakukannya. Ada dua alasan yang berbeda dari Eva dan Edo. Mungkin Eva dan Edo tidak menyangka, Minah mendengar apa yang mereka bicarakan kala itu. Hati Minah sakit mendengar penolakan anaknya. Walaupun sebenarnya ia enggan meninggalkan rumah yang penuh kenangan itu.
Minah sangat nyaman berada dalam perawatan Eliza. Eliza merawatnya dengan sangat baik. Apalagi Agung, menantunya, juga tidak mempermasalahkan waktu Eliza yang juga terkuras untuk mengurus segala keperluannya.
Tetapi, akhir-akhir ini, Minah menjadi kasihan pada Eliza. Anaknya itu terlihat lelah dan seperti dibebani rasa stres. Ia dihinggapi rasa bersalah yang menyelubungi sebagian hatinya. Seharusnya, di masa-masa seperti ini, Minah bisa lebih berharga bagi anak-anak dan cucunya. Menjadi seorang nenek yang bisa dijadikan teman bermain bagi cucu-cucunya. Akan tetapi, gara-gara penyakit yang ia derita, masa indah itu terlewatkan begitu saja. Namun, mau apa lagi? Takdir Allah yang menjadikannya begini.
"Apa ada panti jompo yang gratis, Nduk? Tanpa bayar gitu?"
Eliza mengerutkan kening, mendengar pertanyaan ibunya. Hal apa yang membuat ibunya bertanya soal panti jompo?
"Kenapa ibu nanyain itu?"
Minah menghela napas panjang. Tatapannya kosong ke arah jendela yang terbuka. Gorden tipis berwarna putih tulang itu bergoyang ditiup semilir angin dari balik jendela.
"Ibu kasian padamu, Nduk. Kamu pasti lelah ngurus ibu bertahun-tahun. Apalagi, saat ini, cucu-cucu ibu semakin aktif, dan pasti menguras seluruh energimu." Lagi, Minah kembali menghela napas. "Lebih baik, carikan saja ibu panti jompo yang gratis, El. Dari yayasan contohnya. Pasti ada ...."
Hati Eliza bagai diremas, mendengar perkataaan ibunya yang pelan, tapi ulu jantung yang ditujunya. Ingin rasanya Eliza menangis. Akan tetapi, ia berupaya untuk tenang, dan menetralkan rona wajah. Rasa bersalah menyeruak dari rongga dada Eliza yang terdalam. Segala bentuk keluhan dan sikap-sikap Eliza yang penuh emosi, mungkin berbentuk menjadi luka di hati ibunya. Pasti saja begitu kondisinya. Tidak mungkin rasanya, ibunya bisa tiba-tiba berpikiran seperti ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Padahal selama ini, ibunya terlihat nyaman-nyaman saja tinggal bersama Eliza dan keluarganya.
"Ibu punya tiga anak. Panti jompo hanya untuk orang-orang yang sebatang kara. Nggak punya keluarga, jadi memang nggak ada yang bisa mengurusnya," pungkas Eliza.
"Tapi, Nduk ...."
"Udah, Bu. Jangan mengada-ada. Lebih baik, ibu lanjutkan makannya ya .... El mau liat Zaydan dulu."
Eliza berlalu, tanpa menunggu jawaban ibunya. Sebenarnya, ia berusaha menghindar dari Minah, hanya tidak ingin Minah melihat rasa bersalah yang tampak dalam matanya. Tidak seharusnya ia begini, melampiaskan rasa lelah dan stres pada segala hal. Hingga rasa tidak nyaman itu terasa oleh ibunya yang sudah menderita karena sakit.
Seharusnya ia bisa menjaga diri dan emosi. Kalaupun sesak cukup menghimpit dada, ia masih bisa menahan diri. Setidaknya di hadapan ibunya itu. Hanya dia seorang tempat sang ibu bergantung. Jika ia terus begini, apa bedanya ia dengan Eva dan Edo? Bisa jadi ia lebih buruk dari kedua kakaknya itu, yang jelas-jelas memberikan penolakan. Ia seperti menjadi manusia yang munafik.
---
Zaydan, Anak bungsunya, tadi Eliza tinggal sedang tidur di kamar. Pun begitu dengan kakaknya, Zea. Keduanya terlihat begitu lelap, sehingga Eliza tidak ragu untuk meninggalkan mereka, sementara ia menyiapkan makan siang untuk ibunya.
Betapa terkejutnya Eliza, ketika ia sampai di kamar, hanya ada Zea yang berbaring di matras yang sengaja ia gelar tanpa ranjang itu. Zaydan tidak ada di sana. Eliza terkesiap. Dimana Zaydan? Langkahnya gegas ke arah kamar mandi, satu-satunya tempat yang paling ia takutkan untuk dimasuki Zaydan. Tetapi, satu-satunya kamar mandi di rumah mereka itu kosong. Tubuh Eliza gemetar. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada anak dua tahun yang belum mengerti akan bahaya itu.
Awalnya Eliza berpikiran kalau Zaydan bisa saja keluar rumah. Seperti kebiasaannya yang selalu kabur jika ada kesempatan untuk bermain ke luar. Tetapi, hati Eliza sedikit tenang. Pintu depan tertutup rapat. Pun begitu dengan pintu samping, yang menyatu dengan dapur. Satu-satunya tempat yang belum diperiksa Eliza adalah kamarnya sendiri.
Dan, benar saja. Anak itu sedang ada di sana. Di sisi ranjangnya, dengan tumpukkan peralatan kosmetik Eliza, yang nyaris membuat sang ibu histeris karenanya. Tiga buah lipstik miliknya sudah nyaris hancur, setelah meninggalkan beberapa coretan di dinding dan juga lantai. Bedak dan krim-krim milik Eliza juga sudah berhamburan memenuhi lantai.
"Ya Allah, Nak!" teriak Eliza.
Karena kaget, Zaydan spontan melempar botol parfum berbentuk bulat telur yang ada di tangannya. Dan ....
Braaakkk ....
Botol kaca itu pecah!