Bab 1

“Dara, maukah kau menjadi pasanganku untuk sisa hidup yang akan kita jalani ini?” Jeremy berlutut di depan Dara, membuka cincin dari kotak kecil berwarna merah.

Wajah Dara langsung memerah melihat Jeremy yang dengan takzim berlutut, isu-isu tentang lamaran itu sudah terdengar beberapa hari sebelumnya. Tapi dia tidak menyangka kalau dia akan dilamar di salah satu restoran termahal di ibukota. Dengan pemandangan yang memperlihatkan gemintang di langit, duduk di samping kolam air mancur. Ditonton oleh puluhan pengujung yang datang, juga ada beberapa kolega kerja Dara dari kantor, dan kembarannya, Dira.

Dara mengangguk, lantas berkata. “Aku siap dan mau, Jeremy.” Kemudian memberikan tangan kecilnya untuk dipasangkan cincin.

Jeremy yang melihat itu langsung melepas cincin dari kotak kecil berwarna merah dan memasangkannya di tangan Dara.

Tepat ketika cincin itu dipasangkan, kerumunan yang menonton bertepuk tangan.

“Cium…cium… cium….”

Mendengar seruan itu Jeremy sang pria keturunan inggris itu langsung menarik tubuh langsing Dara. Menempelkan bibirnya di bibir lembut Dara, menutup mata, menikmati setiap detik ciuman itu.

Kerumunan kembali bersorak-sorak.

“Let’s party begin….” Rayyan, teman kerja Jeremy berseru kencang sembari membuka tutup champagne, menyemburkan air berbusa dari dalam botol kaca tersebut.

Musik dihidupkan, merayakan keberhasilan lamaran Jeremy.

“Selamat, Jer.”

“Jeremy, selamat, kawanku. Kau mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik.”

“Waduh, waduh, ternyata Jeremy si paling tampan di kantor yang sekarang menjabat sebagai Direktur akan menikah.”

Bermacam-macam tanggapan dari kolega kerja Jeremy atas lamarannya malam itu.

Dara juga mendapat pujian serupa, mereka adalah dua orang paling beruntung malam itu. bak pangeran dan putri, dua insan itu terlihat cantik dan menawan.

“ADara Cahyana, selamat.” Suara berat itu menyapa.

“Zidan, hai,” Dara tersenyum lebar menyambut sahabatnya itu.

“Aku tidak menyangka kau akan menyukai pria blasteran. Kukira seleramu lokal,” ucap zidan sembari menatap Jeremy yang sedang bersalaman dengan beberapa orang berjas hitam.

“Jodoh itu tidak ada yang tahu, Zid. Semua bisa terjadi.” Dara membalas lembut.

“Oh, ya, kembaranmu mana? Si Dira.” Zidan memerhatikan sekitar melihat beberapa tumpukan kerumunan.

“Dira tadi ke kamar mandi. Dia makan banyak sekali kepiting, untung saja aku makan sedikit. Tidak lucu juga ketika Jeremy sedang berlutut perutku sakit, apalagi kalau kentut.” Dara tertawa kecil. Perutnya ada masalah pribadi dengan kepiting, tapi dia dan adiknya, Dira, sangat tergila-gila dengan binatang laut bercapit tersebut.

Beberapa menit kemudian yang ditanyakan banyak orang akhirnya sampai.

“Dir, kok lama kali di toiletnya?” bisik Dara ketika melihat wajah pucat Dira.

“Kak, aku menyerah makan kepiting. Sangat menyiksa.” Nafas Dira terengah-engah.

“Eleh, kita sudah mendeklarasikan menyerah puluhan kali, Dir. Tapi tidak ada yang berhasil. Nanti akhirnya itu jadi omong kosong,” cetus Dara.

Dira yang di sampingnya tak lagi mempedulikan.

“Oh, selamat Dara.” Salah seorang dari kolega kantor Dara memeluk Dira, yang wajahnya masih pucat.

“Kau tahu, Kawan. Kau baru saja memeluk orang yang salah,” ucap Dira. Membuat wajah pria tersebut memerah malu.

Dara yang disamping sudah menahan tawa.

“Oh, maaf.” Pria itu menatap Dara. “Kalian mirip sekali. Aku tidak bisa membedakannya.”

Dara hanya membalas senyum, dan pria itu langsung melangkah meninggalkan mereka berdua.

SauDara kembar ini sangat identik satu sama lain. mulai dari bentuk wajah, tinggi badan, cara berbicara, model rambut, selera makanan dan minuman, candaan, tidak ada yang berbeda dari mereka berdua. Semuanya identik, orang lain hanya bisa membedakan mereka hanya di dalam foto. Setiap kalia mereka berdua berfoto, maka Dara akan menampakkan giginya, dan adiknya, Dira akan menutup mulutnya, menyimpulkan senyum selebar-lebarnya. Selain itu, hampir mustahil membedakan mereka berdua.

Itulah kenapa dua sauDara itu bekerja di tempat yang berbeda, sang kakak, Dara bekerjadi perusahaan digital ternama. Sedangkan adiknya, Dira, bekerja di perusahaan arsitek. Pada hakikatnya mereka berdua menjabat sebagai jabatan yang sama di perusahaan yang berbeda, yaitu desaigner, hobi mereka sama-sama menggambar.

Malam itu adalah malam bahagia bagi sang kakak, tapi tidak adiknya. Dia baru saja putuh cinta dari mantan tunangannya sehari sebelum Dara dilamar. Itulah kenapa saking stresnya, Dira memakan lima kepiting besar-besar. kesal dengan hidupnya, tapi tidak dengan kakaknya.

“Honey, abis ini aku akan pulang lama ke rumah, ada beberapa kerjaan di kantor.” Di ujung pesta Jeremy menghampiri Dara, menyampaikan kabar buruk. Padahal malam itu dia ingin menghabiskan waktunya bercinta dengan calon suaminya tersebut.

“Iya, tidak apa-apa. Aku akan pulang sama Dira nanti.” Dara berusaha tersenyum.

“Kau yang terbaik.” Jeremy mengecup pipi Dara lantas melangkah kembali menemui kumpulan pria berjas.

Dara menatap lamat-lamat.

“Kak, jangan lama-lama ditatap begitu, nanti bosan pula.” Dira mengejutkan lamunan Dara.

“Apaan, sih, Dir. Aku tuh gak akan pernah bosan dengan Bang Jeremy, dia itu selalu punya kejutan.” Dara tersenyum lebar.

Setelah itu pesta selesai. Tamu-tamu undangan sudah berlalu pulang, tinggal beberapa lagi yang masih tinggal, termasuk Dara, Dira dan zidan.

“Mana si Jeremy?” tanya zidan sembari memerhatikan sekitar.

“Bang Jeremy ada kerjaan mendadak,” jawab Dara. Mereka berjalan menuju luar restoran, ke parkiran.

Zidan mengangguk-angguk.

“Kalian pulang berdua? Mau aku antarkan?” tawar zidan setelah melihat tidak ada siapa-siapa lagi di parkiran.

“Tak usah, Zid. Kami bisa pulang sendiri, lagi pula kau besok akan ada pertemuan besar, kan, di gedung DPR.” Dara tersenyum hangat, membuat zidan langsung mengalah. Zidan bekerja di Gedung DPR, menjadi ketua Departemen Administrasi disana. juga sering diundang ke televisi dalam beberapa bulan terakhir ini.

“Kalau begitu, aku aja yang pulang sama zidan. Siapa tahu kami bisa bersenang-senang.” Dira berucap genit, matanya sayu, bau alkohol tercium jelas di mulutnya.

“Tidak usah dihiraukan, Zid. Adikku jatah mabuk hari ini, dia pasti banyak kali minum champagne tadi.” Dara menarik tangan adiknya menuju ke dalam mobil, Dira melawan lembut, tidak punya lagi energi.

Mereka berdua langsung masuk mobil, memasang sabuk pengaman dan langsung berangkat membelah jalan. Meninggalkan zidan yang berdiri mematung disana.

Bukan hanya Dira yang sakit hati malam itu, tapi zidan juga ikut tersakiti. Dia juga mencintai Dara, tapi itu semua terlambat. Dia duluan masuk ke dalam friend zone yang buat Dara beberapa tahun lalu ketika pertama kali mereka bertemu.

“Dir, hari ini memang jadwal gantian mabuk kita. Tapi, jangan menyusahkan begitu dong,” ucap Dara pada adiknya di dalam mobil.

Dira menggaruk kepalanya. “Kak Dara mangnya tahu apa tentang sakit hati, heh? Seharusnya malam ini juga malam bahagiaku.”

Dara terdiam, iya, seharusnya malam ini mereka berdua akan dilamar oleh pujaan hatinya.

Bab 2

“Salma, ini adalah akhir dari hubungan kita. Aku tidak bisa melakukan ini lagi.” Jeremy duduk di ujung kasur, bertelanjang dada, hanya memakai boxer pendek.

Salma yang terbaring di belakang mulai terduduk setelah mendengar kalimat Jeremy.

“Jer, kita berdua tahu kalau hubungan ini tidak pernah terjadi, tapi sayangnya, kau yang meminta hubungan ini terjadi.” Salma terkekeh, dadanya terekspos, tidak ditutup oleh satu helai benang. Besar dan menonjol, apalagi kulitnya yang eksotis, membuat dua bola itu terlihat menawan.

“Itu dulu, Sal, aku baru saja melamar Dara dan kami akan segera menikah.” Jeremy berbalik badan, menatap Salma yang telanjang dada sedang bersender di kepala kasur. menelan ludahnya, dua gunung indah itu membuat ‘jhoni’ nya sedikit bangkit.

“Ah… Dara sang bidadari. Aku ingat sekali kalau aku yang memperkenalkan kalian berdua. Di McDonalds kalian saling mengenal, tertawa pulas, aku bagaikan obat nyamuk di meja makan itu. semakin lama semakin hilang.” Salma terkekeh.

“Iya, aku berterima kasih padamu karena telah mempertemukan kami. Itu adalah momen paling indah dalam hidupku. Bisa menatap wajah cantik Dara, tidak terbayangkan.” Jeremy senyam-senyum sendiri.

“Sama-sama, Jer.” Salma merangkak menuju Jeremy, dua gundulan itu bergoyang-goyang. “Itulah kenapa, malam ini ayo kita lakukan untuk yang terakhir kalinya. sepuasnya.” Tangan Salma sudah memegang ‘jhoni’ Jeremy yang mulai bangun kembali.

Jeremy menahan nafas. Tangan Salma menyentuh lembut rudalnya, dadanya besar itu juga menempel di punggunya.

“Ingat, Jer. Kau tidak akan pernah merasakan ini lagi dari Dara, dia itu terlalu patuh. Aku yakin kau akan rindu hubungan kasur yang liar seperti yang akan kita lakukan malam ini.”

Salma langsung melumat bibir Jeremy, beradu mulut, saling berganti saliva. Jeremy menyambut mulut seksi tersebut, menggigit lembut bibir Salma. Salma adalah wanita keturunan campuran meksiko, jadi kulitnya sangat eksotis. Dipadu lagi dengan tubuhnya yang bahenol, dada dan bokongnya sama-sama besar, impian segala lelaki.

Mulut Salma kemudian menjalar menuju badan sixpax Jeremy hingga ke jamur yang tumbuh di selangkangannya. Rudal itu sudah berdiri tegak, padahal beberapa menit lalu baru saja ronde satu. Salma membuka mulutnya lebar-lebar, memasukkan ‘jamur’ besar itu, tangannya mengocok batang rudal, juga meremas lembut dua telur di bawahnya.

“Ahh… nikmat sekali,” lenguh Jeremy, nafasnya tertahan.

Salma terus memasukkan mulutnya, semakin dalam, lantas kembali mengeluarkannya. Terkadang juga dia memasukkan dan mengeluarkan dalam tempo cepat, membuat Jeremy memukul-mukul kasur, merasakan kenikmatan tiada tara.

“Ahh….” Salma melepas hisapannya. “Sekarang, giliranmu, Jer.” Salma membuka pahanya lebar-lebar. Jeremy bisa melihat liang terlarang itu yang basah, beberapa menita lalu, liang itu sudah dipenuhi oleh lavanya.

Wajah Jeremy bagaikan ditarik oleh magnet, langsung menempel. Lidahnya keluar, menjilat lembut klitori Salma.

“Ahhh… emmm…” Salma menggigit bibirnya, gantian merasa nikmat.

Tidak puas dengan mulut, Jeremy memasukkan kedua jarinya ke dalam lubang tersebut. mengocoknya perlahan hingga tempo itu semaki cepat.

“Aaaa… emmm…. Aaa…” Salma melenguh tak beraturan, tubuhnya bergetar dan dalam beberapa detik kemudian, dia menggenggam sprei dan berteriak kencing. “I’m coming….”

Mendengar itu Jeremy langsung menenggelamkan kepalanya, di antara dua paha itu. menyambut kedatangan cairan cinta dari lubang terlarang Salma.

Salma terengah-engah, entah sudah berapa kali dia ‘keluar’ malam itu.

Tidak menunggu lama, apalagi teman Jeremy di bawah sana tidak sabaran. Jeremy langsung memasukkan rudalnya yang sudah gagah perkasa ke dalam lubang yang mulai basah itu.

“Emm…” lenguh Salma.

Jeremy langsung menggenjot pinggulnya, Salma yang masih terengah-engah kembali masuk ke dalam lapangan pergumulan. Dia hanya terbaring di kasur sedangkan Jeremy di atasnya terus menggoyang pinggul. Keluar masuk, keluar masuk, menyentuh bagian terdalam dari lubang.

Desahan Salma semakin besar ketika Jeremy menaikkan tempo. Lantas berhenti ketika dia lelah dan merasakan getaran di rudalnya. Nafasnya juga mengap-mengap.

Salma yang sudah kembali energinya tidak mau menunggu lama, langsung mendorong badan tubuh Jeremy di atas kasur. lantas duduk di atas tubuh kekarnya tersebut.

“Kau akan selalu meningat ini, Jer,” ucap Salma. Kemudian memasukkan rudal Jeremy ke dalam liang. Menggoyangkan pelan pinggulnya.

“Ahhhh… itu tepat menyentuh G spot ku.” Salma menggigit bibir.

Gaya cowgirl itu membuah gairah Jeremy naik, dia hendak kembali duduk tapi Salma langsung mendorong.

“Kau istirahat dulu, biar aku yang bekerja kali ini.”

Salma mulai menggoyangkan pinggulnya, dibantu dengan dua tangan Jeremy yang memegang bokong lembutnya.

Plak… plak… plak… sentakan bokong empuk itu terdengar berirama. Sembari menggoyangkan pinggulnya, Salma memberikan dua gunungnya tepat di depan wajah Jeremy.

“Tolong, isap dua gunungku. Buat aku melayang,” ucap Salma memohon.

Melihat putting coklat itu mulut Jeremy langsung melakukan pekejerjaannya. Menggigit lembut puting yang menyembul, bergantian dari kanan ke kiri.

“Aahhh…. Ohhh….” Salma kembali melenguh. Mendesau kencang. “I’m coming, again.” Tubuh Salma bergetar hebar, ‘jhoni’ Jeremy terasa tersedot ke dalam lubang terlarang tersebut. kemudian dilumuri cairan cinta hangat. Tubuh Salma langsung terjatuh ke atas Jeremy, pinggulnya sedikit bergetar, nafasnya kempas-kempis.

“Are you good?” tanya Jeremy memastikan.

“Tunggu sebentar, biarkan aku isitirahat,” balas Salma.

“Kau tahu apa itu keadilan, Sal?” tiba-tiba Jeremy bertanya pertanyaan yang masuk akal.

“Apa maksudmu?” dahi Salma mengernyit.

“Keadilan itu kalau kedua belah pihak mendapatkan porsi yang sama.”

Jeremy langsung menyentakkan pinggulnya, membuat rudalnya keluar masuk, menghamtam kencang ‘gua’ Salma.

“Aaahhh….” Salma mendesah kencang. “Tunggu, dulu, Jer. Aku masih sensit—”

Belum habis kalimatnya Jeremy langsung kembali menggoyangkan punggungnya. Gaya cowgirl itu adalah posisi favoritnya, dari sana dia bisa melihat dengan jelas dua gunung dan wajah erotis Salma. Membuat gairahnya naik.

Plak… plak…

“Kan sudah kubilang, Sal. Kita itu belum adil.” Jeremy terus menggoyangkan pinggulnya, Salma mendesah tak karuan. “Kau sudah keluar dua kali, dan aku belum sekali pun,” sambung Jeremy.

“Ahhh… maafkan aku, Jer. La-in ka-li a-ku ak-an ber-sikap ad-il.” Suara Salma terbata-bata karena tusukan rudal.

“Baiklah kalau begitu, Salma, Sayang, kau mau aku keluar dimana, heh?” Jeremy berseru kencang.

“Penuhi aku, penuhi lubangku dengan lava panasmu, aaa…” seru Salma.

“Apa? aku tidak dengar.” Jeremy balas berseru.

“PEUHI LUBANGKU DENGAN LAVAMU, BABY.” Salma berteriak kencang.

Menengar itu Jeremy langsung menuju puncaknya, badannya begetar hebat, rudalnya juga sudah mencapai batasnya.

“Aaahh… I’m coming.” Lava panas itu menyembur keras, membasahi setiap sudut ‘gua’ gelap nan indah tersebut. beberapa tetes ada yang mengalir keluar, tapi nafas mereka berdua sudah kempas kempis. Saling berpelukan.

“Kau yakin akan menikah akhir bulan ini?” tanya Salma.

“Sudah kubilang, Sal. Ini adalah yang terakhir.” Jeremy menjawab tegas.

Bab 3

Musik-musik terdengar merdu, lantunan irama terdengar syahdu. Berbondong-bondong manusia masuk ke dalam ruangan besar yang menampung lebih dari saribu orang. Di atas podium tepat di ujung ruangan, sepasang kekasih dengan dandanan paling tampan dan cantik berdiri. Menyalami setiap tamu yang mengantre.

“Congrat, Dar. Selamat senang seumur hidup.”

“Makasih.”

“Selamat, Dar.”

“Samawa, Dar.”

“Selamat, Jer.”

Satu persatu mengucapkan selamat, dengan senyum lebar-lebar, apalagi sudah tercium bau gulai kambing di meja prasmanan, makin menggoda untuk senyum lebar-lebar.

Pernikahan itu langsung dilaksanakan seminggu setelah lamaran, tidak menunggu waktu lama. Apalagi uang yang dimiliki Jeremy bisa dibilang sedang banyak-banyaknya, jadi acara dibuat semeriah mungkin. Semua biaya, Jeremy yang tanggung, tidak keluar sedikit pun dari kantong Dara.

“Kak, pasti pegal tangannya, kan?” bisik Dira yang berdiri di samping Dara.

“Iya, Dir. Dari tadi salam mulu, malah ada yang kenal lagi.” balas Dara, tangannya terus bersalaman.

“Bisa jadi itu ada gelandangan yang diluar lalu masuk ke dalam, Kak. Mau makan enak aja.” Mereka berdua tertawa tipis hingga akhirnya muncul perempuan yang mempertemukan takdir mereka.

“Selamat, Dara dan Jeremy.” Salma dengan gaun panjang berwarna ungu berdiri anggun di depan mereka. dia bahkan hampir sama cantiknya degan pengantin wanita yang memakai gaun putih, juga dari kembarannya yang memakai gaun krem.

“Salma, hai,” Dara langsung memeluk Salma.

“Maaf, Dar, tidak sempat pergi ke acara lamaranmu. Malam itu aku harus lembur. Kudengar itu sangat romantis.” Salma menatap Jeremy yang sudah wanti-wanti.

“Tidak apa-apa, Sal. Yang penting kau datang hari ini, aku takut juga kalau kau tidak datang. Tidak mungkin aku tidak berterima kasih sama orang yang telah mempertemukanku dengan suamiku yang tampan ini.” Dara melingkari tangan suaminya, Jeremy.

Jeremy tersenyum kaku menatap tatapan sinis Salma.

“Iya, kuharap kehidupan kalian berjalan lancar,” ucap Salma. “Dan Dara, tunjukkan kekuatan terbaikmu di kasur,” sambung Dara seraya berbisik di telinga Dara. Wajah Dara langsung merah malu.

Sejenak, Salma melewati mereka berdua tanpa menyalami Jeremy.

“Kak, apa yang dia bisik tadi?” tanya Dira penasaran.

“Adalah, Dir. Kau pasti tidak mau tahu.” Dara tersenyum lebar.

Selama lima jam lebih acara berlalu. Zidan tidak hadir, semalam dia sudah menelpon Dara kalau sekarang di kantor DPR sedang banyak permasalahan keuangan, jadinya zidan harus turun tangan. Memang Dara kecewa, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. tapi zidan janji akan mengirim hadiah, itu sudah cukup membuat Dara tenang.

“Lelah sekali,” Dara menghempaskan punggung di kursi panjang di atas panggung, beberapa tamu ada yang masih menetap, melahap apa yang ada di meja prasmanan. Jeremy bertemu dengan petinggi-petinggi perusahaannya di ujung panggung.

“Ternyata secapek ini, ya, menikah. Pantesan duit yang dihabiskan banyak.” Dira juga ikutan duduk, sama sifatnya seperti kakaknya.

Sejenak, lengang.

“Dir, Rindra tak kamu ajak?” tanya Dara, basa-basi. rindra adalah mantan menuju tunangan Dira.

“Enggak. Males, lagipula kami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.” Dira menjawab ketus, masih kesal dengan patah hatinya.

“Eleh, kan bukan berarti kalian tidak berteman, Dir.” Dara tertawa tipis.

Dira menatap wajah cantik kakaknya—dia juga sama cantiknya.

“Padahal waktu kecil dulu kita membuat janji akan mencintai satu pria hingga kita menikah dengan pria itu. dan sekarang, yang memenuhi janji itu cuma Kak Dara. Sedangkan aku gagal, pilihan kakak selalu tepat.” Dira menatap kakaknya hangat.

“Tak masalah, Dir. Itu hanya janji-janji konyol masa kecil. Tak usah dipedulikan begitu. Lagi pula putus cinta itu tidak harus direnungi tiap hari. Nanti-nanti juga kamu akan dapat yang baru lagi.” Dara berusaha menenangkan adiknya.

Tapi tidak dengan Dira, dia iri sekali dengan kakaknya. Hari itu berpakaian anggun, bahkan dia merasakan, kali ini adalah awal mula perbedaan mereka terlihat.

Dira merasakan ada yang berbeda dari setiap kelakuan Dara sepanjang seminggu ini. Dara semakin anggun saja, entah apakah karena Dira yang jarang tidur, atau Dara yang selalu beraura positif. Kekonyolan-kekonyolan mereka bersama terasa memudar, tidak ada lagi candaan-candaan yang keluar dari mulut Dara, hanya tinggal Dira sendiri.

“Dir, Dir…”

Panggilan itu memecah lamunan Dira. Lantas tersenyum.

“Acara sudah mau selesai, bukannya kau mau ke rumah hari ini untuk ambil barang?” tanya Dara.

“Iya, iya.” Dira langsung berdiri dan melangkah.

Jeremy dan Dara memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Dara dan Dira, dulunya. Sedangkan rumah baru mereka sedang dalam tahap finishing. Dira sebagai adik mengalah, mempersilakan pasangan baru suami istri itu menginap disana selama beberapa hari, kemudian lanjut honeymoon entah dimana.

***

Dira balik ke rumah—dulu— mengambil beberapa barang penting. Kamarnya di lantai dua, dan kamar sebelah di lantai tersebut sudah disulap menjadi kamar pengantin dengan kasur dan ranjang baru. Padahal dulunya itu adalah kumpulan barang-barang berharga milik si kembar. Dira menatapi ruangan yang telah berubah itu, tersenyum tipis. Dia masih tidak percaya kalau mulai kedepan dia dan kakaknya akan tinggal di rumah yang berbeda setelah bertahun-tahun bersama.

Dira turun dari tangga, pergi ke dapur, membuka kulkas. Di dalam kulkas dulunya hanya ada kotak jus jeruk kini ada tambahan baru, jus mangga, kesukaan Jeremy. Berbeda sekali rasanya.

Entah apakah Dira akan memutuskan untuk tinggal disana setelah kakaknya bulan madu, dia masih tidak tahu.

Pandangan Dira terhenti di wastafel dapur yang dipenuhi piring kotor, menghembus nafas pelan. dia dan kakaknya adalah orang yang suka bebersih, setiap ada piring kotor pasti ada kesaDaran dari mereka berdua untuk membersihkannya.

Lantas Dira menaruh tas besar berisi baju, menyingsingkan lengan gaun panjangnya, mengikat ujung gaun yang menjuntai, dan mengambil saru tangan cuci piring. Menghidupkan musik—kebiasaan si kembar ketika mengerjakan pekerjaan rumah, tangan Dira mengikuti irama lagu.

Ruangan itu dipenuhi dengan suara musik, dia sama sekali tidak sadar ketika tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

“Istriku rajin sekali. Padahal tadi sudah lelah berdiri, sekarang malah cuci piring.” Adalah Jeremy yang memeluk Dira, kemudian mencium lehernya yang jenjang.

“Bukankah ada yang lebih penting dari mencuci piring sekarang? kasur di atas menunggu, kita bisa melakukannya sampai nanti malam, loh.” Jeremy berbisik di telinga Dira, yang membuatnya sedikit terangsang.

Jeremy melepaskan sarung tangan cuci piring dari tangan Dira. Membalikkan badannya, tersenyum lebar. Lantas sejenak kemudian langsung mencium bibir Dira tanpa pikir panjang.

Mata Dira melotot ketika menerima ciuman dari Jeremy. Lidah Jeremy memaksa masuk ke dalam mulut Dira. Tangan Jeremy sudah memegang dua gunung standar milik Dira, meremasnya lembut.

Jantung Dira berdegup kencang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED