Bab 1

Sebelum baca jangan lupa subcribe Kak, kritik dan sarannya sangat NQ harapkan...

"Mana suamimu. Kok aku lihat tidak ada di sampingmu?" Pertanyaan dari temanku membuatku menelan saliva saja.

"Dia lagi menemui temannya Mbak. Sebentar lagi pasti datang kok." Aku tersenyum kecut menimpalinya, seraya tersenyum.

"Ya Allah, pernikahan bagaimana ini. Suamiku tidak berdiri di sampingku." Batinku.

Manaku tahu sekarang suamiku di mana, yang aku tahu, aku lagi sendirian tersenyum kala ada tamu, menjawab jika ditanya. "ah... Pengantin macam apa aku ini," gumamku lagi dalam hati. "kayak orang dakdung saja," Pikirku lagi sejenak sambil memilin-milin bunga yang ku pegang.

***

Pernikahan yang diinginkan orang tuaku, membuatku bingung sendiri, dan ini pernikahan yang tidak pernah diinginkan olehku.

"Kenapa harus aku yang berkorban?" lirihku dalam hati.

Tiba-tiba aku dirangkul seseorang dari belakang. Aku terperangah bukan kepalang. "apakah ini suamiku?" tanya batinku menerka-nerka.

"Sayang, kenapa hanya berdiri di sini?" Tanya suara perempuan membuatku sedikit lega dan kecewa. Aku mengharap suamiku datang memberi kejutan, tapi ternyata mertuaku yang datang, dan menuntunku menemui teman-temannya. Memperkenalkan mantu kesayangannya kepada mereka rekan-rekan busnisnya.

"Jeng. Cantik kali mantu kau." Puji salah seorang yang bergaun merah, tapi tatapan matanya membuatku pesimis. Mama yang melihat aura wajahku berubah tidak senang langsung merangkul dan menenangkannya.

"Jangan di pikir sayang. Biasa, orang yang merasa di bawah kita akan seperti itu."

Aku tersenyum mendengar penuturan Mama. "terima kasih Ma," balasku sambil memegang kedua tangannya.

"Yuk Mama kenalkan sama teman Mama yang lain."

Sambil menyapa teman mama juga kolega-kolega bisnisnya aku masih terus mengedarkan pandangan kesana-kemari, mencari sosok laki-laki berjas Tuksedo hitam. Ekor mataku berhenti ke arah sosok yang asik bercanda dengan temannya.

Diujung koridor sana aku melihat Mas Fairuz tersenyum berbicara dengan koleganya. Kelihatannya pembicaraan mereka santai dan seru. Sekali-kali teman-temannya melihatku dan tersenyum, Mas Fairuz hanya tersenyum tanpa menoleh kepadaku. Tangan kanannya memegang gelas, tangan kirinya dimasukkan kedalam saku celananya. "cool banget Mas Fairuz," gumamku. Hanya bisa melihat dari jauh tidak bisa berdekatan, hanya bisa berharap ia datang dengan gagahnya menghampiriku, tersenyum, meeaih tanganku dengan mesra, tapi sayang itu hanya berandai-andai.

***

Acara berlangsung dengan lancar, para undangan sudah banyak yang beranjak pergi, karena acara telah usai, hanya tinggal kerabat saja untuk menyempurnakan pertemuan bahagia malam ini.

Malam bahagia menurut mereka, tapi apakah bagiku ini kebahagianku, sedangkan sejak tadi aku tidak melihat suamiku, seperti apa dia sekarang, bagaimana penampilannya atau dia akan sama sepertiku mencari-cari pasangannya yang tidak muncul batang hidungnya.

Aku terdiam sendiri dalam kamar, memandang pantulan diriku di cermin. Bertanya-tanya, apakah aku istri yang diharapkannya, apakah aku istri idamannya.

"Aku sudah menikah. Aku sudah bersuami. Sekarang statusku berubah menjadi seorang istri. Istri dari Muhammad Fairuz Azam." Batinku sambil menarik nafas dalam-dalam.

Senyum terlihat jelas di kedua bibirku, senyum seorang puteri kecil yang tumbuh dewasa dengan menjadi seorang istri, bukan karena sudah menikah, akan tetapi semua ini dilakukan hanya karena demi Ayah dan Ibu, demi kebahagiaan mereka aku akan melakukan semuanya. Mungkin baktiku dengan mengikuti keinginan mereka.

"Demi kalian berdua aku korbankan perasaan, menikah dengan orang yang tidak dikenal dan aku pun tidak tahu seperti apa dirinya, namun aku bahagia bisa menolong kedua orang tuaku dalam kesulitan," pikirku sembari melangkah untuk ke luar kamar, namun langkahku terhenti dengan percakapan seseorang.

"Bukannya Zahwa nikah karena terpaksa?" Suara seorang prempuan membuka percakapannya.

"Pernikahan ini sudah direncanakan jauh sebelum Zahwa berumur lima tahun." Suara perempuan berikutnya menimpali.

"Apakah sejak tragedi itu?" Tanya perempuan yang membuka percakapan pertama kali.

"Iya. Tragedi itu sangat memukul Pak Halimi, untuk menjaga aset-aset yang sudah menjadi incaran orang-orang yang tidak menyukai Pak Halimi, maka Pak Rahmad dan Pak Halimi mengambil keputusan ini."

Percakapan dua perempuan itu menghentikan langkah kakiku. Mataku berkaca-kaca seketika mendengar kenyataan bahwa aku menikah sudah rencana dari awal.

"Terus. Hutang Ayah dan Ibu yang bermiliaran itu kabar apa?" Teriak batinku.

"Apakah aku telah di bohongi?" Tanyaku resah. "Apakah ayah dan ibuku rela membohongiku?" Tanyaku lagi. Air mata yang berusaha ku bendung tumpah ruah juga. Hatiku begitu sakit mendengar kebenarannya. Tidakkah dua perempuan itu sadar bahwa di balik pintu pemilik nama yang mereka bicarakan sedang mendengarkan pembicaraannya.

"Pernikahan apa ini." Lirihku pelan sambil bersimpuh di lantai, karena tidak kuat akan mendengar kebenarannya, aku kuatkan batinku, ragaku serta jiwaku. Akan aku ikuti apa jalan rencana mereka, meski pun kenyataannya mereka menyangka aku tidak tahu apa-apa, tapi aku punya rencana lain untuk mengetahui kebenarannya tanpa mereka sadari.

***

Aku kaget dengan suara ketokan pintu dari luar kamar. Hatiku was-was, ragu dan bimbang. Bertanya-tanya siapa yang datang. Selang dua langkah dari tempat ku berdiri seorang laki-laki dengan berpakaian jaz masuk. Ia sedikit pun tak menoleh kepadaku.

"Apakah ini Fairuz? Apakah ini suamiku? Tapi kenapa tidak menyapaku selayaknya pengantin baru. Kenapa ia bergerak seenaknya tanpa mempedulikan aku yang menatapnya." batinku bertambah ragu dan gusar.

Awalnya aku merasa deg degkan, gemetar karena dia masuk, namun melihat tingkahnya yang sangat cuek seperti itu membuatku dongkol dan menahan amarah.

"Mas Fairuz" dengan intonasi setenang mungkin ku menyapanya. Dia menoleh tapi tak menjawab panggilanku serta langsung pergi ke kamar mandi.

Aku bagaikan patung. Sontak ku hembuskan nafas pelan-pelan agar tidak marah, ku tahan amarahku sebisa mungkin.

"Mungkin seperti itu sifatnya ya?" Tanyaku pada diri sendiri. Mencoba berdamai dengan diri.

Pikiranku pun kemana-mana mendengar guyuran air dari kamar mandi membuatku tidak fokus saja.

"Apa yang akan dia perbuat setelah mandi? Apakah akan mendatangiku dan-- atau----. Ahhh! Aku tidak bisa membayangkannya. Tapi kenapa aku takut. Dia kan suamiku" tegasku lagi, menyemangati diri sendiri.

Tujuh menit usai. Mas Fairuz keluar dari kamar mandi. Dia benar-benar mendatangiku yang berdiri di depan cermin. Ia melangkah tanpa ragu. Bau wangi badannya mulai tercium dari jarak yang lumayan dekat. Kakinya dengan santai terus mendekat. Aku gemetar dan hatiku sudah tidak tahu apakah berada di tempatnya atau masih bisa bersuara.

"Mas Fairuz menghampiriku" batinku, seketika itu ku persiapkan diri sekuat aku berdiri.

"Aku tidak boleh menolak. Aku kan istrinya" kataku lagi, batinku berperang sendiri.

"Apa kau hanya akan mematung di sini?!" Katanya dengan dingin.

Sontak aku kaget mendengar perkatannya. Tatapan yang tajam menusuk hatiku, membuatku takut. Aku bergeser dua langkah kesamping menghindarinya.

Ternyata Mas Fairuz bukan menghampiriku, akan tetapi ia hanya berniat mengambil sisir yang berada tepat di belakangku. Ia menyisir rambutnya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ku definisikan.

Malam pertama yang tertunda mungkin. Menerka-nerka sendiri, bertanya sendiri dan menjawab sendiri. Aku bak orang linglung tak tahu arah saja kala berhadapan dengan Mas Fairuz, sedangkan Mas Fairuz melihat pun tidak, dia hanya fokus pada dirinya sendiri tanpa menghiraukan aku yang di sini, seorang istri yang hanya bisa mengharap dan mengharap dari sang suami.

Untuk menghindari, aku pergi ke kamar mandi membersihkan sisa-sisa make up. Bukan kesenangan dan bahagia ku dapat, tapi malam pengantin di mulai dari ketakutan kepadanya dan rasa malu yang amat mendera.

Apakah seperti ini hubungan pernikahan tanpa ada ikatan yang baik antara suami istri. Aku termangu di cermin fastafel dan terus berkaca dan bertanya-tanya sendiri.

"Apakah arti pernikahan ini?" Batinku.

"Apakah kebenarannya akan lebih sakit dari ini?" Tanyaku lagi dalam tangis pilu mendera.

***

Apakah Zahwa kuat dengan pernikahan yang tidak harmonis. Bertahankah kekagumannya yang selama ini di sembunyikan di pupuk dan ditanam akhirnya pupus juga. Suara hati istri yang tak dianggap.

😀🙈

Bagaimana ceritanya Kak. Yuk kita baca selanjutnya 😍

Bab 2

Jam 05:00 saya turun ke bawah ingin bantu-bantu pekerjaan di dapur. Aku melihat sekeliling sepi.

"Bukannya sekarang sudah pagi, tapi keluarga di sini tidak ada yang keluar untuk melakukan kegiatan pagi." Gumamku dalam hati sambil melangkah ke dapur menghampiri Bik Ijah.

"Bi. Ada yang bisa saya bantu?" Seraya menghampirinya.

"Tidak usah Non. Ini sudah pekerjaan Bibik, Non Zahwa olah raga pagi saja biar tambah sehat" sambil tersenyum. Aku tersenyum juga mendengar perkataan Bibik

"Bik. Mama dan yang lainnya kenapa masih belum keluar?" Tanyaku.

"Non. Tuan dan Nyonya akan turun jika sudah jam tujuh, Non Lidia dan Den Fairuz akan turun jika sudah waktunya sarapan"

"Pagi-pagi begini biasanya apa yang dilakukan Bik?"

"Biasanya keluarga ini sibuk dengan aktifitas pribadi Non, jadi selama Bibik kerja di sini tidak pernah melihat ada yang olah raga pagi atau baca koran seperti orang kebanyakan"

"Ya sudah Bik. Zahwa tinggal dulu. Nanti jika Bibik butuh bantuan Zahwa jangan sungkan-sungkan. Zahwa siap membantu"

"Iya Non terima kasih"

Bik Ijah kembali lagi dengan kegiatan masak-memasaknya. Lihat dari caranya memasak Bik Ijah tidak akan kalah jika di bandingkan dengan Chef, lincah dan tangkas serta raut wajahnya terpancar Bik Ijah sangat fokus. Aku pun tersenyum dan pergi ke halaman belakang.

"Pagi yang sangat indah" batinku

Memang keindahan di sini tidak seperti keindahan di kampung atau Desa tempat nenek dan kakek ku hidup.

Di sana nuansa alami dari alam masih sangat terjaga dengan asri, tapi jika sudah di kota malah banyak polusi di mana-mana. Rasa kehidupan kebersamaan tidak sekental di Desa.

Memang benar adanya pepatah "Hidup di Kota tebalkan dompet. Hidup di Desa tebalkan telinga" aku tidak memungkiri itu. Jika di kota serba beli dari bahan yang terkecil sampai barang besar sekali pun.

Tidak bisa dipungkiri juga, hidup di kotq itu nafsi-nafsi (sendiri-sendiri), keluarga pun jarang bersilaturahmi, semuanya sibuk dengan kerjaannya sendiri. Pukul tujuh sudah tidak ada di rumah, pulangnya sore, bahkan malam masih baru pulang.

____

Suasana pagi memang sangat indah ditambah kicauan burung dan kembalinya energi baru. Usai sholat shubuh setelah tadarrusan biasanya bantu-bantu ibu di dapur, tapi di sini semua pekerjaan rumah ditangani Bik Ijah dan Pak Ramlan. Mereka berdua memang tangguh. Rumah besar seperti ini mereka bisa mengatasi pekerjaan rumah. Aku lihat sekeliling dan menarik nafas dalam-dalam.

Perempuan sepertiku mungkin akan takjud dengan bagusnya rumah ini, tapi rasa takjudku mulai hilang karena sikap Mas Fairuz yang mengabaikanku, mengabaikan malam pertama yang harus di lakukan oleh sepasang pengantin.

"Non. Ayo sarapan. Semua lagi menunggu di meja makan"

"Oh. Ia Bik. Terima kasih" sahutku.

Aku berjalan ke meja makan dan sudah mendapati semua keluarga sudah duduk di sana. Aku canggung dan malu, tapi jika terus canggung aku akan lapar nantinya.

"Eh... Menantu Mama sudah bangun. Mama pikir belum bangun lelah karena aktifitas malam"

"Ma..." Fairuz memanggil dengan nada larangan. Aku terdiam dan masih berdiri.

"Sini. Duduk di sebelah suamimu, dan suguhi apa yang dia pinta" seraya menepuk sandaran meja kursi.

"Pagi Ma, Pa"

"Kok hanya Papa sama Mama?" Tanya Papa sambil mengambil menu makanan.

"Hah. Em pagi semua?" Sapaku kaku.

"Pagi Kak" jawab Lidia.

"Sapa suamimu dulu baru setelah itu yang lainnya ya?"

"Iya Ma"

"Pagi Mas"

Tak ada jawaban dari Mas Fairuz. Aku tidak ambil pusing dengan sikapnya yang penting Zahwa akan melakukan tugas sebagai seorang istri kepadanya. Aku mengambil menu makanan untuknya dan Mas Fairuz masih diam tidak mengatakan sepatah kata pun.

Aku masih bisa menahan diri waktu salah satu menu makanan yang ku ambilkan buatnya dikembalikan hanya menyisakan satu menu. Aku menarik nafas sepelan mungkin kuatkan hati.

"Kuatkan hatimu Zahwa" lirih batinku.

"Bismillah" batinku menenangkan diri dan berusaha tersenyum kepada lainnya.

Aku memperhatikan mereka satu persatu. Mama yang selalu sigap jika Papa menginginkan menu yang yang lain. Mama sangat perhatian kepada Papa. Apa karena ini mereka sudah 35 tahun bersama penuh dengan keharmonisan.

Papa manja dihadapan Mama. Apa-apa yang diinginkan, harus Mama yang melakukan bukan tangan orang lain yang melayaninya, tidak ada pengaruhnya jika orang lain melayani kebutuhan Papa, akan tetapi Mama adalah prioritas utama yang Papa selalu inginkan. Papa tidak pernah mengesampingkan Mama dalam segala urusannya, karena di lihat dari cara interaksi kedua mertuaku ternyata memiliki peran penting dalam diri keduanya.

Lidia paling cerewet di meja makan. Banyak yang dibicarakan, apa lagi menu pagi tidak sesuai dengan keinginannya. Ada-ada saja cerita yang menjadi topik hariannya. Setiap cerita memiliki temanya tersendiri.

Beda dengan Ma Fairuz ia lebih banyak diam. Meminta menu makanan yang diinginkan. Jika sudah selesai cepat pergi tanpa berkomentar apa pun.

Mama dan Papa biasa selalu ada momen romantis diantara keduanya. Sebenarnya aku iri melihat kedua mertuaku, tapi mau gimana lagi, memenangkan hati Mas Fairuz saja butuh kerja keras apa lagi main romantis-romantisan.

"Ah... keluarga ini memang unik juga." Batinku sambil tersenyum.

Mama memang pantas buat contoh. Mama selalu perhatian kepada Papa dan itu harus Zahwa contoh agar selalu perhatian kepada suami.

"Mas Fairuz" aku menahan langkah kakinya yang beranjak pergi ke kantor. Mas Fairuz menoleh namun raut wajahnya tidak secerah pertama kali aku melihatnya ia berangkat ke kantor.

"Tunggu Mas. Makan siang nanti Zahwa akan antar ke Kantor." Suaraku tertahan.

"Tidak perlu." Suara ketusnya pun keluar.

Mas Fairuz pergi meninggalkan ku yang masih ingin mengatakan satu hal lagi, tapi dia sudah keburu pergi. Aku hanya memandangnya dari belakang, yang membuatku tambah tidak mengerti kenapa Mas Fairuz melarangku membantu menyiapkan keperluan kantornya.

"Zahwa jangan diambil hati ya Nak. Fairuz sifatnya sudah seperti itu, tapi jika nanti sudah terbiasa Fairuz tidak akan bersikap seperti itu." perkataan Mama menenangkan diriku meskipun masih banyak pertanyaan yang tidak bisa ku jawab.

Pertama kali aku datang ke rumah besar ini dan pas melihat Mas Fairuz mau berangkat dengan raut wajah yang segar, sumringah serta tatapannya yang tajam membuatku selalu tersenyum padanya.

Pada akhirnya Pak Hamili Kakek Mas Fairuz memberi wasiat kepada keluarga besarnya bahwa Mas Fairuz harus menikah dengan putri Pak Hasan yaitu Zahwa Malikan Nufus.

Aku tidak percaya jika bisa bersanding dengan pria yang aku sukai, tapi pernikahanku tidak seindah yang ku bayangkan. Aku harus belajar dan belajar mau di bawa kemana tujuan dari pernikahan ini.

Semuanya menjadi teka-teki yang tak terbantahkan, dan aku selalu berharap suatu hari nanti aku bisa membawa hubungan ini sebagaimana mestinya.

Dear Zahwa Malikan Nufus

🤗 Hai Shobat Nq bagaimana kabar kalian semua? Semoga sehat semua dan selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin💖

Yuk kita lanjut ke bab berikutnya semoga lebih kreatif. Aamiin

Bab 3

Hai semua. Bagaimana kabar semua. Yuk terusan baca kisah Zahwa dan Fairus 😍 jangan lupa komentarnya ya dan jangan lupa ikutin terus KEMBALI DALAM SENJA 😍💪

Kala Senja sudah menampakkan dirinya, maka semua makhluk pun akan mengerti bahwa waktu itu mereka harus pulang bahkan sebelum sang Senja datang manusia pun harus kembali di mana tempat ia menjalin kasih dan sayang bersama keluarga.

Senja menjadi keindahan alam yang tidak bisa dipungkiri lagi. Lukisan Sang Pencipta di langit memang sangat menakjubkan, indah dipandang, bahkan kata-kata pun tidak bisa menyamai ciptaan-Nya.

Kala Senja Menampakkan Diri

Burung-burung pulang ke peraduannya dengan memenuhi paruhnya dengan makanan untuk anak-anak yang ada di sarangnya. Semua makhluk akan menyadari Senja akan datang dan Senja juga akan pergi menandakan sang Ratu Malam sudah mulai mengitari bumi dengan sayap-sayap gelapnya membuat malam menjadi dingin dan gelap.

"Zahwa. Suami mu belum pulang?" Tanya Mama membuat lamunanku tentang senja hilang.

"Lagi ngelamun?" Tanya Mama lagi

"Tidak Ma"

"Fairuz belum pulang?"

"Belum Ma. Ini Zahwa lagi menunggunya. Sebentar lagi akan maghrib"

"Hubungi Fairuz dan suruh cepat pulang" seraya berlalu pergi ke ruang tengah.

"Iya Ma" Aku menekan nama Mas Fairuz di layar hp tersambung, namun nada sambung terputus.

"Kenapa dimatikan"

"Mas. Jika pulang malam telpon kami atau sms saja" aku menekan kirim di layar hp. Selang lima detik pesan balasan masuk.

"Y"

Aku terperangah dan tidak percaya Mas Fairuz hanya membalas huruf "Y"

"Tidak apa-apa. Setidaknya Mas Fairuz membalas pesan Zahwa"

Aku pergi ke kamar dan siap-siap melaksanakan sholat maghrib. Sholat maghrib ada tiga roka'at dan setelah sholat maghrib diteruskan sholat ba'diah maghrib.

Menunggu memang bisa membuat orang membosanka. Aku berusaha menghindari itu dengan mengaji dan baca-baca buku. Sebagai pencinta buku aku sangat senang jika sekelilingku penuh dengan buku yang tertata rapi di rak-rak yang berjejer. Intinya Zahwa menyukai peepustakaan dan toko buku, karena di sana banyak ilmu yang bisa di dapat dengan gratis tinggal baca.

Jam sudah menunjukkan 10:25 Mas Fairuz belum juga datang. Ia tidak meninggalkan pesan kenapa harus pulang malam.

Dari ruang keluarga Mama memerhatikanku yang dengan setia masih menunggu Mas Fairuz datang. Sampai-sampai tidak tersadari aku tertidur.

"Zahwa. Semoga kamu menjadi perempuan yang sabar menghadapi Fairuz" batin Mama

"Zahwa"

Aku terbangun terperanjak kaget.

"Ada apa Ma? Apakah Mas Fairuz sudah datang?"

"Biarkan Fairuz. Mungkin dia masih lembur, labih baik kamu tidur saja sekarang di kamar. Fairuz pasti akan pulang. Mama lihat kamu tertidur di sini"

"Tidak apa-apa Ma. Sebentar lagi Mas Fairuz pulang, biar Zahwa menunggunya di sini"

Tidak selang dua menit Mas Fairuz datang. Tidak ada senyum dibibirnya untukku, tapi ketika Mama menyambutnya senyum itu pun mengembang. Zahwa tertunduk lesu.

"Tidak apa-apa. Aku kuat. Zahwa bisa melewati semua ini"

"Mas. Zahwa buatkan teh hangat ya?"

"Tidak usah! Aku sudah minum tadi di rumah Meliana"

Mendengar nama prempuan di sebut aku terkejut dan berusaha melihat di wajahnya.

"Apakah prempuan itu berarti untuknya?"

Tapi Mas Fairuz melewatiku begitu saja tanpa menghiraukan diriku yang berusaha melayaninya dengan baik.

"Tidak apa-apa Nak" kata Mama sambil menepuk bahuku.

"Nanti Fairuz akan menyadarinya kalau kau adalah pelengkap dalam hidupnya"

Mataku berkaca-kaca, bening-bening air ku tahan agar tidak keluar dihadapan Mama. Aku tidak ingin Mama mengetahui begitu tersiksanya hidup tanpa pengakuan sebagai seorang istri oleh suaminya sendiri.

"Apakah sudah sholat isya'?" Tanya Mama lagi.

"Belum Ma"

"Sana sholat isya' dan pergi tidur"

Aku beranjak pergi meninggalkan Mama sendiri di ruang tamu.

Senja sudah pergi dua jam yang lalu. Apakah ketika senja kembali lagi suasana akan seperti ini lagi.

Harapan menjadi istri yang baik pupus sudah karena sikap Mas Fairuz yang mengabaikanku

Biarkan aku menangis dalam diam 😢

***

Kau selalu mendiamiku tanpa ku tahu apa salahku, tapi biarlah sudah. Zahwa sudah pasrah apa maumu dan zahwa juga tidak akan pernah mengejar kasih sayangmu.

Jika Mas Fairuz bisa seenaknya saja padaku, maka aku pun bisa juga sama, jangan sekali-kali meminta bantuan jika itu hanya akan menyakitkan.

Aku berusaha untuk selalu diam, tapi maaf Zahwa tidak serendah dan semudah itu di bodohi dan dibiarkan. Zahwa masih punya hati jugq perasaan makq biarkan saja sekarang terserah maumu Mas.

"Aku tidak akan mengejar kasih sayangmu lagi Mas. Kamu tak membutuhkanku, maka Zahwa juga bisa berbuat hal yang sama"

Pagi-pagi aku bangun dan tidak membangunkan Maz Fairuz seperti biasa yang aku lakukan, karena setiap membangunkannya Mas Fairuz pasti marah-marah. Sekarang Zahwa tidak akan mengurus seperti awal Zahwa berusaha memgurusnya.

"Sahwa akan mempersiapkan apa yang kamu butuhkan Mas, tapi jangan pernah bertanya lagi Zahwa pergi kemana setiap pagi, karena Zahwa sudah mempunyai kehidupan sendiri sama seperti halnya Mas"

Aku pergi keluar kamar meninggalkan Maz Fairuz yang masih tertidur pulas.

"Zahwa"

Langkahku terhenti karena suara Mama yang tiba-tiba.

"Kamu mau kemana Nak sepagi ini?"

"Ma. Bukannya Zahwa sudah meminta izin kepada Mama tadi malam, kalau sekarang Zahwa sudah mendapat pekerjaan mengajar di sekolah Al-Ikhlas yang ada di ujung jalan melati Ma"

"Ya Allah. Mama lupa Nak, tapi harus sepagi ini berangkat?"

"Zahwa mau jalan kaki Ma"

"Loh! Jangan biar nanti Fairuz yang mengantarmu Nak. Jalan bareng sama Fairuz kan searah"

"Tidak Ma. Zahwa tidak ingin merepotkannya"

"Kalau begitu minta antar ke Pak Danu, jangan jalan kaki"

"Ma. Tidak usah"

"Pak Danu....... Pak Danu......"

Pak Danu datang dengan masih memakai sarung dan taqwa serta kopiahnya masih bertengger di atas kepalanya.

"Pak Danu. Tolong antar Zahwa ke-"

"Ma. Tidak usah, zahwa ingin jalan kaki sambil melihat pemandangan dipagi hari. Mama jangan khawatir. Jika nanti Zahwa kesulitan atau ada apa-apa, Zahwa akan segera hubungi Pak Danu untuk menjemputnya. Mama jangan khawatir ya"

"Benar kamu tidak mau diantar Nak?"

"Tidak Ma. Zahwa berangkat dulu. Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam. Hati-hati Nak"

"Iya Ma" aku tersenyum dan terus melangkah keluar gerbang sambil menikmati keindahan pagi serta sepinya jalan, karena orang-orang masih sibuk di rumahnya masing-masing.

Biarlah menjadi momenku, semua cerita dalam hidupku adalah alur kisah perjalananku menemui kebahagiaan bersama keluarga tercintaku.

Aku tidak perduli apa kata mereka, karena bagiku perjuanganku untuk keluarhaku. Ingat hempaskan semua pikiran yang membuat kita terpuruk, biarkan itu semua terjadi, kita jalani jalan tengah tidak mengalah dan tidak maju, melainkan menantangnya untuk terus bergerak maju menuju apa yang audab direncanakan.

Yuk shobat kasih sarannya 😍

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED