Bab 1

"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimatul Izzah Binti Abdul Hasan, dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

S A H!!

Para tamu undangan yang ada di acara akad nikah Izzah dan Alif itu terlihat bahagia, apalagi keluarga dari si mempelai pria yang terdiri dari Ibu, adik, dan keluarga kakaknya itu.

"Akhirnya karena wasiat Bapak, kita semua akan segera pindah ke rumah gedongan itu, Bu. Ah Bapak memang pintar sekali dulu saat SMA berteman baik dengan Pak Hasan itu. Hingga kini saat Bapak pergi kita bisa menyicipi rasanya hidup jadi orang kaya!" ucap Desi, kakak dari Alif yang teihat amat bahagia.

"Iya, bener-bener pinter Bapak kamu itu. Semoga saja Pak Hasan yang sakit-sakitan itu, cepet menyusul Bapakmu di surgga, sehingga kita bisa menyetir adik iparmu itu, hehehe," ucap Bu Citra, Ibunya Alif.

"Asyik, sebentar lagi aku bisa kuliah di kampus yang mahal nih, Bu. Ternyata Bapak memang pintar, meski tak meninggalkan warisan apapun saat meninggal, tapi Bapak mengantarkan kita ke gerbang kekayaan ini. Aku sudah bisa mencium aroma harta yang melimpah dari sekarang, Bu.

Hemmm nasib Mas Alif juga lagi mujur nih, dari tukang ojek online, sebentar lagi dia akan menjadi CEO, eh bos aja deh sekalian, hehehe. Duh bahagianya aku, mulai sekarang tak akan ada lagi teman di sekolah yang bilang kalau aku ini, Vena si gadis miskin!" ucap adik Alif sambil tersenyum licik.

"Pokoknya kita harus buat si Izzah itu takluk pada kita, dan kalau bisa sih, si Alif itu jangan sampai jatuh cinta pada istrinya. Agar kita bisa melancarkan aksi pemindahan kekayaan itu secepatnya," ucap Widodo, suami Desi yang hobinya tiap hari hanya mancing.

"Gampanglah itu, Mas. Tuh lihat si Izzah, dia kan gadis yang sangat kalem, baik, lembut dan sabar. Pasti dia akan takut dengan kita, dan menurut deh apa kemauan kita. Perlahan tetapi pasti semua harus menjadi milik kita, sambil kita nikmati bagaimana rasanya hidup bergelimangan harta itu," kata Desi sambil memangku putrinya yang berumur enam tahun itu.

Sementara itu di sisi lain, Pak Hasan, sang besan, menatap haru pada pernikahan anak dan putra dari sahabatnya itu, diatas kursi rodanya. Betapa hal ini memang sudah direncanakan sejak dia dan almarhum Pak Herman, sejak mereka bersahabat karib saat SMA. Saat itu, Pak Hasan adalah seorang yatim piatu, yang hidup bersama neneknya yang miskin.

Pak Herman yang merupakan anak bos tahu itu, selalu membantu Pak Hasan dalam berbagai hal. Mereka berdua bersahabat baik hingga lulus SMA dan berjanji akan menikahkan anak mereka nantinya.

Lama sekali tak bertemu, akhirnya enam bulan yang lalu kedua sahabat karib itu di pertemukan kembali, dengan keadaan yang berubah tiga ratus enam puluh derajat. Pak Hasan adalah pengusaha property dan peternakan sapi yang kaya raya, sedangkan Pak Herman hanyalah seorang tukang becak, memang nasib seseorang tak ada yang bisa ditebak.

Mereka berdua di pertemukan di ruang ICU yang sama di rumah sakit. Pak Hasan menderita stroke ringan, sedangkan Pak Heman mengalami kecelakaan ringan.

Di situlah mereka kemudian berusaha mewujudkan impian mereka dahulu, menjodohkan kedua anak mereka. Meski kemudian, Pak Herman meninggal dunia sebulan sebelum acara akad nikah ini digelar.

Sesungguhnya Pak Hasan merasa sedikit bersalah pada putri tunggalnya itu. Karena sebenarnya Izzah tak setuju dengan perjodohan ini, dia ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negeri dahulu. Tetapi karena kepatuhannya, akhirnya Izzah pun menyetujui perjodohan itu.

Harapan Pak Hasan adalah, agar dia tak salah pilih dengan keputusannya itu, mengingat hutang budinya pada Pak Herman muda dulu. Dan dia pun yakin Izzah bisa melewati segala rintangan dalam keluarganya nanti.

Izzah, si pengantin wanita, tak merasakan kebahagiaan sama sekali saat itu. Baginya pernikahan ini hanyalah wujud baktinya pada Papanya, yang saat ini tengah sakit itu. Namun sekuat hati, Izzah akan belajar ikhlas menjalani semua ini. Satu hal juga yang membuatnya harus menjalani pernikahan ini, adalah karena almarhum Pak Herman sebelum meninggal telah menitipkan keluarganya pada Izzah. Dia menceritakan sikap kurang baik mereka dan meminta agar Izzah bisa membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Hal itu membuat Izzah bertekat dengan bagaimanapun caranya akan membawa keluarga itu kerumahnya dan pelan-pelan merubah sikap mereka. Meski Izzah tau, akan banyak resiko untuknya. Meski nantinya Izzah akan hidup dikelilingi para benalu yang setiap saat akan bisa menyakitinya dan berusaha mengambil alih hartanya, namun dia tak gentar sama sekali.

Sesungguhnya keluarga Pak Herman salah sangka, jika mereka mengira Izzah adalah seorang wanita lemah yang bisa di kendalikan. Justru merekalah yang akan takluk pada kendali Izzah.

Lalu seperti apa sebenarnya perasaan Alif pada Izzah, si cantik jelita itu? Kira-kira dia ada di pihak Izza atau keluarganya sih?

Next?

Bab 2

Part 2

Senyum Palsu Di Acara Resepsi

Sesungguhnya keluarga Pak Herman salah sangka, jika mereka mengira Izzah adalah seorang wanita lemah yang bisa di kendalikan. Justru merekalah yang akan takluk pada kendali Izzah.

Sementara itu, tak ada yang tahu betapa hancurnya hati Alif saat ini, dia sesungguhnya tak dapat menerima perjodohan ini, namun demi berbakti dengan orang tuanya, dia rela melakukannya. Alif sebenarnya telah memiliki seorang kekasih hati, Bella namanya, mereka sudah berpacaran lebih dari setahun. Meski Bella adalah gadis yang matre, namun Alif sangat mencintainya, bahkan dia rela banting tulang demi menuruti semua keinginan kekasihnya itu.

Namun, Alif juga sedikit kecewa dengan ucapan Bella, saat terakhir kali mereka bertemu empat hari kemarin, sebelum acara ijab qobul ini berlangsung. Kala itu, Alif mengajak ketemuan Bella di sebuah cafe langganan mereka.

"Yank, maaf ya aku tak bisa meneruskan hubungan ini, karena Ibu terus memaksaku menikah dengan anak temannya almarhum Bapakku..." ujar Alif lirih.

"Ya, sudah...putus saja. Nggak masalah kok buat aku, masih banyak kok diluar cowok yang lebih kaya dari kamu! Dan bisa menuruti apa yang aku mau!" Jawab Bella sewot.

"Jadi kamu ikhlas kan melepas aku? Maaf ya Yank..." ucap Alif lagi.

"Ya ampun...lebay banget sih! Yah ikhlas banget dong! Nih kuberitahu sebuah rahasia ya, sebenarnya selain pacaran dengan kamu, aku ini juga pacaran dengan Boby, anaknya bos sayuran itu! Dan kamu pasti pahamkan, kalau dia lebih bisa ngimbangin aku dari pada kamu? Jadi kamu ada atau nggak itu sama aja bagiku, kalau kamu ada sih lumayanlah buat ojek gratis!" sahut Bella asal.

Mendengar perkataan Bella itu, hati Alif makin mencelos, tak disangka gadis yang si cintainya dengan sepenuh hati itu, tega berkata sekejam itu. Tapi seperti apapun ucapan dan perlakuan Bella, tak pernah membuat cinta Alif padam. Bahkan meski kini di jodohkan dengan Izzah yang bisa dibilang lebih cantik dalam segala hal dibanding Bella pun, tak membuat hati Alif terketuk.

Baginya, Izzah adalah istri pelebur bakti pada orang tua saja, dan dia pun tak tahu entah sampai kapan bisa melanjutkan pernikahan tanpa cinta ini. Dalam hati kecil, Alif masih tetap mengharapkan Bella mau kembali padanya.

"Selamat ya Lif, kini kamu sudah sah menjadi suami Izzah. Papa nitip ya, tolong jangan pernah sakiti hatinya dan jika suatu saat kamu sudah tak suka dengannya lagi, ceraikanlah dia," ucapan Pak Hasan, yang kini jadi mertuanya itu mengagetkan Alif.

Mendengar perkataan mertuanya itu, sesungguhnya Alif ingin sekarang juga,

karena memang dia tak menyukai Izzah sama sekali, namun tentu hal ini akan membuat gempar, dan juga melukai hati Pak Hasan. Dan tentu saja akan membuat Ibu dan keluarganya kecewa. Jadi akhirnya Alif mengiyakan saja perkataan mertuanya itu.

Perkataan Pak Hasan tadi, sebenarnya juga menjadi beban tersendiri untuk Alif, bukankah itu tadi menjadi sebuah amanat yang harus di jalankan? Jadi dia bertekad untuk mencoba menjalani perrnikahan ini.

Sementara itu, Izzah yang sejak ijab qobul tadi hanya berdiam, tiba-tiba mendatangi Pak Hasan dan memeluknya, air mata tak bisa lagi dibendung Izzah. Pak Hasan sebenarnya tahu apa yang kini dirasakan oleh putri semata wayangnya itu.

"Maafkan papa ya, Nak. Meski di awal semua terasa berat, tapi insyaallah ini adalah jalan terbaik untukmu. Kamu harus selalu sabar menghadapi semua ujian yang akan berdatangan nanti. Ingat pesan papa, jangan pernah menjadi orang yang lemah, jadilah orang yang cerdik yang akhirnya bisa membuat semua lawanmu menjadi temanmu. Sebisa mungkin jadikan pernikahan ini yang pertama dan terakhir dalam hidupmu, karena Allah sangat membenci perceraian," ucap Pak Hasan sambil menepuk punggung Izzah.

"Insyaallah Pa, Izzah akan selalu ingat semua wejangan dari Papa. Meski sulit, Izzah akan selalu berusaha, takdir Allah pasti lebih baik kan Pa, meski jalannya mungkin akan terasa menyakitkan. Tapi Izzah tetap selalu butuh dukungan dari Papa, Papa adalah sumber kekuatanku," ucap Izzah sambil terisak.

"Kamu harus bisa berdiri sendiri, Nak, jangan pernah bergantung dengan orang lain, karena tak selamanya orang itu bisa menemanimu, termasuk Papa. Maka jadilah orang yang punya pendirian, tegar dan cerdik, namun tetap rendah hati. Papa yakin kamu tidak akan mengecewakan Papa dan Pak Herman. Selalu ingat, jangan pernah menjadi lilin yang menyakiti dirinya sendiri demi menerangi kehidupan orang lain. Tetapi jadilah air, yang terlihat tenang dan tak berharga, namun selalu dibutuhkan oleh semua orang."

"Insyaallah Pa, Izzah akan selalu terapkan hal itu dalam kehidupan ini."

"Nah, sekarang jangan menangis lagi, ini hari bahagia, tutupi apa yang sedang berkecamuk di hatimu saat ini, biarlah semua orang hanya melihat rona kebahagiaan di wajahmu. Ayo Nak, ini hari spesial dan hanya sekali dalam hidupmu, jangan buat hari ini menjadi kelabu. Ingat senyum itu termasuk sedekah juga, Nak," ucap Pak Hasan memberi semangat lagi pada putrinya.

Tanpa menjawab, Izzah segera menghapus airmata dan menampakkan senyum termanis di wajah jelitanya itu, dia kembalu duduk di pelaminan bersama Alif, karena acara resepsi akan segera dilanjutkan hari ini juga.

Pasangan pengantin yang sesungguhnya amat serasi itu, selalu menampakkan senyum terbaiknya sepanjang acara resepsi, meski itu hanya sebuah kamuflase belaka.

Berbeda dengan keluarga Alif yang tersenyum bahagia, merasa seperti telah memenangkan sebuah sayembara.

"Lihatlah tawa si Izzah itu merekah sekali, pasti dia sangat bahagia mendapatkan si Alif yang ganteng itu," ujar Bu Citra dengan pongahnya.

Bab 3

Part 3

Malam Pertama Izzah dan Alif

Pukul sepuluh malam, Izzah masuk terlebih dahulu ke kamarnya, yang kini telah diubah menjadi kamar pengantin. Aneka hiasan dengan lampu temaram dan bunga mawar yang berserak rapi, sesungguhnya menimbulkan suasana yang romantis bagi pasangan pengantin baru yang tengah di mabuk cinta. Namun berbeda dengan apa yang kini di rasakan Izzah, justru dia sedikit risih dengan semua itu.

Gegas dia membersihkan diri kemudian melaksanakan salat isya, tanpa menunggu imam barunya yang masih menemani keluarganya di luar itu. Setelah itu, dia segera membaringkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya kini tengah berkecamuk, bertolak belakang antara hati dan pikirannya.

Hatinya mengingingkan dia untuk menolak malam pertama ini, namun pikirannya berkata meski bagaimanapun keadaanya, Alif kini telah secara sah menjadi imamnya, yang tentunya sangat berhak mendapatkan jatah malam pertama ini darinya.

Baru saja dia ingin memejamkan mata, pria yang baru saja menghalalkannya itu, telah masuk dan mengunci pintu. Gegas Izzah duduk dan memakai hijabnya.

Sementara Alif, sama sekali tak menoleh pada Izzah. Apa yang dirasakan Izzah, juga dirasakan olehnya. Perasaan kikuk dan tak enak karena berada di dalam kamar dengan seorang gadis cantik, meski kini telah sah menjadi istrinya.

Setelah membersihkan diri, Alif kemudian duduk di sofa panjang yang ada di dalam kamar itu, dia segera memejamkan mata tanpa menoleh sedikitpun pada Izzah yang tetap duduk di pinggir ranjang.

Izzah merasa tak nyaman dengan keadaan seperti ini, sampai kapan mereka akan terus diam satu-sama lain seperti ini. Dan bukankah pernikahan ini harusnya menjadi pernikahan pertama dan terakhir untuknya, jadi untuk saat ini, Izzah akan berusaha mencairkan suasana.

"Mas, apa kamu sudah makan?" ujar Izzah lirih.

Ada sedikit desir yang tak bisa dipungkiri oleh Alif, tatkala mendengar ucapan Izzah itu. Dia juga tak menyangka, bahwa gadis yang kelihatannya kalem itu, ternyata berani mengajaknya bicara duluan.

"Aku sudah makan tadi," jawab Alif singkat tanpa menoleh pada Izzah.

Mendengar jawaban dari suaminya itu, membuat Izzah bingung harus bertanya apa lagi untuk mencairkan suasana. Beberapa saat keduanya kembali terdiam. Hingga kemudian Izzah memantapkan hatinya, untuk menawarkan diri pada suaminya itu. Bukankah jika seorang istri menawarkan atau meminta duluan akan mendapat pahala yang besar?

"Mas apa malam ini kamu tak menginginkanku?" tanya Izzah yang kini telah berdiri di samping Alif.

Seharusnya sebagai seorang pria yang normal, Alif tentu akan langsung mengiyakan tawaran gadis secantik istrinya itu. Namun dia tak ingin melakukan hal itu tanpa didasari oleh rasa cinta, sesungguhnya dia juga tahu, bahwa Izza juga terpaksa menjalankan pernikahan ini.

"Duduklah di sini, tenang saja aku tak akan melakukan hal itu hingga kita berdua benar-benar merasakan cinta, saat itulah kita baru akan melaksanakan malam pertama ini," ucap Alif tanpa memandang wajah Izzah.

Demi mendengar ucapan suaminya itu, Izzah langsung tersenyum lega, "terima kasih atas pengertiannya Mas. Aku tahu saat ini kita sama-sama terjebak dalam perjodohan ini. Namun aku memberi kebebasan padamu, jika sekarang kamu ingin kita mengakhiri semua ini," ucap Izzah.

"Tidak, aku bukan lelaki pengecut, yang lari sebelum berperang, yang pasti juga aku akan menjalankan amanat dari Bapakku dan Papamu. Sudah sekarang kamu tidur saja Dek, aku tak janji tak akan mengganggumu," ujar Alif.

Izzah terdiam beberapa saat, memang dia suka dengan sikap Alif yang menghargainya. Namun jika besok Papanya melihat ada kecanggungan darinya dan Alif, pasti beliau akan kecewa, mengingat Papanya juga sangat ingin segera memiliki cucu. Sebuah ide terlintas dibenaknya, dan segera diungkapkan pada Alif.

"Mas, aku boleh meminta satu hal padamu?" tanya Izzah.

"Ya, katakan saja, jika aku bisa, maka akan kukabulkan, dan begitu juga sebaliknya."

"Aku ingin saat di depan orang lain, kita terlihat mesra seperti suami istri yang telah menikah umumnya. Agar orang tua kita, terutama Papaku, menjadi yakin kita bahagia dengan perjodohan ini. Bagaimana ?" tanya Izzah.

"Oke aku setuju dengan hal itu. Tapi apa kamu nggak marah jika mungkin nanti di depan orang-orang kamu kugandeng atau kupeluk?" ucap Alif yang kini telah menoleh kepada istrinya itu.

"Emmm...nggak apa-apa deh, Mas. Toh kita ini kan pasangan halal. Untuk awal anggap saja kita ini teman dekat atau sahabat," ucap Izzah sambil tersenyum.

"Oke-oke siap Dek. Semoga semua berjalan sesuai rencana kita. Ya sudah sana kamu pindah, aku ngantuk banget nih!" ujar Alif yang mulai tak canggung lagi.

"Iya...iya, pakai ngusir segala! Ingat loh ya, kamu nggak boleh macam-macam dulu!," ucap Izzah sambil mulai berbaring di kamar.

"Hemmm...aku itu laki-laki baik-baik nggak gampang tergoda oleh wanita. Ya sudah jangan ngajak ngomong lagi, ngantuk nih aku!" Alif kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Izzah tersenyum melihat tingkah suaminya itu. Dia senang ternyata Alif orangnya baik dan sopan, jauh dari perkiraannya kemarin. Hal ini tentunya akan membuat Izzah menjadi lebih nyaman menjalani kehidupan kedepannya itu.

Sementara itu, disebuah rumah kecil yang kotor, Bu Citra dan anak-anaknya kini mulai mengemasi pakaian mereka. Dengan percaya diri, mereka yakin bahwa mulai besok Izzah akan mengajaknya pindah kerumah bak istana itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED