Saat Jarum Jam menunjukan tepat jam empat sore, Nania segera membereskan barang barangnya komputer juga sudah di tutupnya, denan cepat ponsel di atas meja di ambil lalu di masukan ke tas. Mekupnya yang sudah luntur karena di bersihkan ketika waktu sholat Asar tadi , dia tambahkan dengan menggunakan foundation dan di alasi sedikit bedak. Lipstick yang berwarna pink di oles ke bibirnya, menambahkan cahaya pada wajah yang kelihatan sedikit pucat tadi , pucat bukan karena sakit tetapi disebabkan kurang mekup.
Setelah selesai, Dia bangun terus menyambar tas lalu keluar dari ruang kerjanya itu.
“Okay guys saya mau pulang dulu ya”
Nania sambil melambaikan tangannya ke sesama rekan kerjanya yang masih duduk di kursi kerjanya masing masing. Tidak ada balasan, hanya beberapa orang rekan kerja sejabatan Brand yang melambaikan tangannya.
Senyum manis menghias wajah Nania mengiringi langkah kakinya menuju parkiran. Ya, Hari ini dia akan di lamar oleh kekasihnya, Tuah.Tuah tidak memberi tahunya secara langsung. Hanya secara kebetulan saja beberapa hari lalu , Maya dengan ketidak sengajaannya melihat Tuah sedang memilah milih cincin bersama ibu dia. Yang menurut Maya, dia yakin sekali cincin yang sedang di pilih Tuah tersebut adalah untuk Nania, Karena di sepanjang mereka memilih cincin, ibu Tuah samasekali tidak mencoba cincin tersebut. Bukankah itu maknanya cincin tersebut buat wanita lain ? Dan wanita itu tentunya ya Nania , Soalnya hanya Nania wanita lain di dalam hidup Tuah Selain beliau ibunya.
Sangkaan Maya itu benar terbukti karena pagi tadi Tuah menghubunginya dan memintanya untuk bertemu sore ini setelah jam pulang kerja.
Ya, sebab itulah hari ini Nania pulang lebih cepat. Dia yakin Tuah akan melamarnya.
Sebetulnya berat untuk memenuhi permintaan Tuah itu, Sedangkan dua minggu ini mereka sangat sibuk menjadwalka Bisnis perusahaan yang Baru di mulai oleh Tim mereka, Setelah bekerja sama dengan sebuah perusahaan yang berpusat di Singapore, Sudah beberapa hari ini mereka over time, dan bergadang bersama sama Tim nya di kantor sampai tengah malam untuk mendesain brand logo terbaru , Slogan dan beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Dan bulan depan akan di adakan pameran pertama.
Dengan pemilik baru perusahaan ini dan mereka harus memamerkan rancangan mereka untuk brand perusahaan pertama mereka.Terlalu sibuk dan sangat tertekan karena bukan mudah untuk merancang kembali sebuah Bisnis brand, Yang sudah hampir punah karena kelengahan dalam pengurusan sebelumnya. Nania yang asalnya hanya staff di bagian bidang pemasaran dan sekarang ia sudah di angkat. Jabatan ke bagian Brand dan di lantik sebagai Menejer, mendapat jabatan ini setelah perusahaan ini di ambil alih dan bukan hanya Nania yang di pindahkan kebagian ini.Tetapi Ada juga beberapa staff lain ,Yang dari bagian pemasaran dan bagian penjualan juga di pindahkan. Kebagian Branding. Perusahaan tidak mau mengambil staff Baru untuk mengisi jabatan di bagian Brand yang kosong. Karena untuk menghindari pemborosan supaya bisa menghemat pengeluara, Dan syarikat memberi waktu tiga bulan kepada mereka untuk merancang strategi Brand Baru dengan menggunakan segala pengalaman dan keahlian mereka sewaktu bekerja di bagian pemasaran dan bagian penjualan.
Sangat melelahkan hingga waktu dia untuk bersama Tuah juga semakin berkurang, Sudah lama juga mereka nggak pernah keluar biarpun sekedar hanya keluar makan bersama. Karena kesibukan Nania, Tapi Nania tidak menyangka Tuah akan bikin keputusan seperti ini untuk melamarnya.
Sambil menghidupkan mesin Mobil, Bibir Nania masih tidak lekang dengan senyuman, Menghayalkan betapa romantisnya Tuah saat melamarnya nanti.
Nania melangkah masuk kedalam restoran yang sudah di pesan Tuah untuk pertemuannya malam ini . Dari pintu masuk dia sudah melihat punggung Tuah , Nania juga mempercepat langkah kakinya untuk ke arah pacarnya. Takut juga kalau Tuah sudah menunggunya lama .
“Haii…” Nania menyapa lalau melabuhkan punggungnya duduk di depan Tuah
“sudah lama nunggu? “. Tanya Nania lagi sambil membetulkan duduknya.
“Baru aja.”
Tuah menjawab dengan singkat dan nada suaranya juga tidak seperti biasanya terkesan dingin dan jauh.
Menjalani hubungan dengan Tuah dari Zaman persekolahan SD, Jadi Nania faham semuanya. Namun dia tidak mau terlalu memikirkan, mungkin juga Tuah gugup mau melamar fikirannya.
“Maaf tadi saya pulang dulu ke rumah, soalnya gak nyaman juga kalau datang masih memakai baju kantor “. Nania mencoba menjelaskan kepada Tuah biarpun raut di wajah Tuah tersirat tidak ingin mendengar.
“Tidak apa .”
Lagi lagi cuman jawaban singkat yang di lontarkan Tuah
Nania niatnya mau melanjutkan bicaranya . Tapi kedatangan Barista resto yang membawa buku menu membatalkan niatannya.
“ Pesan dulu “.Kata Tuah sambil membuka buku daftar menu di tangannya .
Nania pun manut. Merasa heran tapi dia masih mencoba berprasangka baik padanya, Mungkin ini hanya untuk prank yang sudah di rancang oleh Tuah untuk jalan melamarnya.
Nania memesan stick sapi mana Kala Tuah hanya memesan air mineral saja.
“Kenapa Tuah nggak makan ?” Tanya Nania
“Saya sudah Kenyang .”
“Ooh..” Nania hanya bisa tersenyum
‘Mungkin dia nervous mau propose aku ‘ . Gumamnya Di dalam hati.
“Tuah… Saya mau minta maaf karena beberapa bulan ini saya sangat sibuk, sampai sampai tidak ada waktu untuk kita bersama, Tuah tahu kan perusahaan…”
“Nania..” Tuah memotong pembicaraan Nania “ Saya Faham “. Jawabnya
Nania mengukir senyum manis di bibirnya, lega karena Tuah mengertikan situasi, Kalau nanti pembentukan Brand perusahaan yang dimana tempat dia bekerja, jika sudah di terima oleh bos Baru, Dia akan menebus semua waktunya untuk bersama dengan Tuah, mengingat umur mereka hampir menginjak ke angka tiga,membuat Nania mengingat untuk mengikat hubungan mereka kejenjang yang lebih serius.
Akhirnya makanan yang sudah di pesan Nania datang ke meja, Tidak ada obrolan ringan dari mereka, pria itu terlihat sangat sibuk mengutak atik ponselnya yang terlihat Dari jemarinya yang tidak ada jeda untuk berhenti mengetik layar
“Tuah, lagi sibuk ?Apa masih ada banyak lagi kerjaan ?” Tanya Nania apabila melihat Tuah tidak mengangkat mukanya samasekali.
“Kamu , makan aja dulu , Saya Ada sesuatu yang mau di bicarakan sama kamu. “ Tuah akhirnya meletakan ponselnya di tepi.
Sedangkan Nania hanya tersenyum dan mengangguk walau tidak di pungkiri, Debaran di dadanya benar benar tidak bisa di kendalikan sudah seperti drums yang di tabuh . Di Satu sisi , dia sangat merasa bahagia karena kemungkinan Tuah akan melamarnya. Tapi di Satu sisi lain dia merasa tida enak hati. Ya Tuah yang berada di depannya sekarang , tidaklah sama dengan Tuah yang sudah Duabelas tahun di kenalnya hingga saat ini. Duabelas tahun ! Bukanlah waktu yang singkat mengenal pria yang berada di depannya sekarang. Cara Tuah untuk mengedip mata pun Nania sudah faham apalagi soal raut wajah dan perubahan sikap seperti sekarang ini.Telah separo menghabiskan stik sapinya Nania mendorong piring nya ketengah.
“Mengapa nggak di habiskan” Tanya Tuah.
“Hilang sudah selera mau makan sendiri,apalah kata kamu yang suapin aku”. Nania memperlihatkan manjanya yang seringnya nggak pernah gagal untuk meluluhkan hati Tuah.
“Kalau memang sudah tidak ada selera untuk makan lagi, Lebih baik tidak usah di lanjutkan lagi makannya”.
Senyuman yan menghiasi di wajah Nania tiba tiba mulai memudar. Ada rasa perih yang menggores hatinya dikala mendengar ucapan yang keluar dari mulut Tuah barusan. Hampir saja banjir bandang menguasai matanya karena selama ini Tuah gak pernah bersikap sedemikian padanya.
Hening seketika menemani mereka. Nania dengan raut wajah yang bingung mencermati Tuah.
Dan Tuah yang nampak beberapa kali menarik nafasnya lalu menghebuskannya.
“Nania…” Dengan suara berat Tuah.
“Saya tahu apa yang akan saya beri tahu nantinya mungkin akan membuat kamu kaget”.
Nania tersenyum. Permulaan dari kata kata Tuah yang keluar dari mulutnya meneguhkan keyakinan bahwa pria itu mau melamarnya. Ya tentu saja Nania akan terkejut kalaunya ia akan menerima lamaran dari Tuah yang secara tiba tiba ini.
“Saya siapa mendengarkan apapun kata kata yang keluar dari mulut kamu” Nania dengan rasa senang memantapkan ucapannya.
Dan lagi lagi Tuah menarik nafasnya.
“Nania…. Aku mau kita akhiri hubungan kita ini.”
Senyuman yang sejak tadi teruntai di bibir Nania pelan pelan menghilang. Tapi ia masih mencoba untuk mempositifkan fikirannya, Nggak mungkin kan Tuah dengan semudah ini mengakhiri hubungannya yang sudah terlihat terjalin selama belasan tahun . Mungkin ini trik Tuah untuk membuat aku bersedih sebelum dia meluahkan kata kata untuk melamar ku .
“Kamu … lagi bercanda kan ?” Suara Nania sedikit bergetar. Ya,walaupun mencoba berfikir positif. Tetapi rasa tidak terima itu juga Ada. Dia mencintai Tuah, Cintanya yang tulus sepenuh hati. Karena hanya pria itu yang mamapu bertahta di hatinya sejak duabelas tahun yang lalu.
Tuah menggelengkan kepalanya “Saya sedang tidak bercanda dengan siapapun. Saya memang serius mau mengakhiri hubungan kita sekarang.”
“Tapi… tapi… kamu kan mau…melamar saya.” Dengan suara terbata bata Nania masih mampu menahan air matanya yang sudah menggenang di kelopak mata untuk tidak berguguran.
Berkerut kening Tuah “ Siapa yang Bilang?”
Bagaikan di hujam Bom nuklir yang memporak porandakan palestina menerjang hati Nania dan kemudian meruntuhkan tubuhnya. Betul betul dengan pertanyaan Tuah membuat harga dirinya hancur berkeping keping, yang kemudian melebur menjadi debu lalu hilang di terjang angin topan.
Mengerti lah dia dengan suara dan seraut wajah dingin yang di perlihatkan Tuah malam ini. Pria ini memang tidak sedang bersandiwara , dia betul betul mau mengakhiri hubungan bersamanya.
“Terus cincin itu untuk siapa?” Tanya Nania biarpun kenyataannya pahit, dia sekedar ingin tahu siapa perempuan yang mampu mengalihkan hati Tuah dan berpaling darinya.
“Dari mana kamu bisa tau soal cincin itu ?”
Nania tersenyum sinis “Jadi benerkan kamu Ada beli cincin . Buat siapa ?”
Tuah mematung lumayan lama bibir dan lidahnya terkatup katup seolah olah dia mencoba mengatakan sesuatu namun. Yang terdengar hanya alunan musik yang pelan yang terpasang di dalam restoran tersebut.
“Siapa dia ?” Nania mengulangi pertanyaannya.
“Naura . Pilihan Umi.”
“Why?” Suara Nania persis bergumam nyaris tidak terdengar. Sekuat dan setegar apapun hatinya, dia tetap terluka dengan perpisahannya yang mendadak. . Fikirannya jangka belasan tahun sudah cukup mampu meneguhkan hati mereka di dalam hubungan ini, Tapi dia salah arti. Tuah mampu membuang dirinya dan dengan mudah menerima perempuan lain dengan pilihan umi dia.
“Bunda gak suka sama wanita yang terlalu sibuk dengan karir. Bunda dia ingin saya menikah dengan wanita yang memfokuskan dirinya pada keluarga. Kamu terlalu sibuk dan fokus sama karir kamu. Sampai sampai kita tidak punya waktu langsung untuk merangkai kedepannya hubungan kita. Saya sudah berumur tigapuluh tahun Nania saya ingin membina rumah tangga . Mau sampai kapan kita menjalani hubungan yang tidak ada tujuan ini?”
“Hubungan yang tidak ada tujuan ?” Nania tersenyum sumbang. “Duabelas tahun… kenapa Baru sekarang kamu anggap hubungan kita ini tidak ada tujuan ?”
Mereka Terdiam
“Dirimu nggak pernah mengatakan sama saya soal pernikahan. Dan sekarang dirimu menyalahkan saya kalau saya ini terlalu sibuk dengan karir? Atau memang kamu tidak pernah ada niat untuk menjadikan saya ini istri kamu. Karena Bunda kamu tidak merestui hubungan kita kan.”
“Jangan pernah ikut campurkan bunda di dalam masalah kita.”
“ Kamu yang ngomong kan kalau kamu mau bertunangan dengan perempuan pilihan bunda. Kalau memang bunda bisa menrima saya, kenapa dia tidak menyuruh kamu untuk masuk melamar saya ? Dan dia juga bukan tidak tau soal hubungan kita ini dan kenapa juga dia harus mencarikan perempuan lain untuk kamu ?”
Tuah menghembuskan nafas kasar.
“ Sikap kamu yang membuat bunda enggak suka sama kamu. Dan kamu sedikitpun tidak berusaha apa apa biar bunda suka sama kamu. “
Nania menatap Tuah dengan raut wajah yang tidak percaya . Kenapa ini semua di putar balikan seakan semua kesalahan ada pada dirinya ? Kalau dia tidak berusaha ? Ya, mungkin hanya setan yang boleh percaya. Dia sudah melakukan berbagai macam Cara untuk melakukan bagaimana mengambil hati bundanya Tuah, Tapi semua itu tidak ada yang berhasil, bundanya Tuah jelas jelas menunjukan bahwa dirinya tidak menyukai Nania. Namun dia tidak ambil hati soal itu karena cintanya kepada Tuah di atas segalanya . Dia sangat yakin . Seiring dengan berjalannya waktu ,dia akan berhasil menaklukan hati bundanya Tuah. Tapi sangat di sayang kan dia salah . Dia bukan salah menilai hati bundanya Tuah ,tapi dia salah karena dia terlalu yakin dengan cintanya Tuah.
“Dan kamu pernah enggak berusaha supaya bunda menyukai saya ? Bunda kamu sendiri yang gak bisa terima saya ? Yang saya lihat, setiap kali kamu bawa saya untuk bertemu dengan dia, dia sendiri nggak pernah sedikit saja bisa beramah sama saya. Saya yang berulang ulang menyapa dia ,mencoba untuk ngobrol dengan dia. Jadi sekarang yang kamu lontarkan tuduhan itu ke saya apakah adil untuk saya yang gak pernah berusaha?”
“Sudahlah nania, saya mengajak kamu bertemu bukan untuk bertengkar.
Saya hanya….” Tuah memberi jeda “ Mau putuskan hubungan kita. Setelah ini jangan pernah untuk menghubungi aku lagi.”
Setibanya dia di Rumah, nania melemparkan tasnya ke sembarang tempat dengan tubuh longlai iya hempaskan ke kasur dengan satu tangan di kening, dan pandangan yang kosong menatap ke atas langit langit kamarnya. Tiba tiba saja matanya melihat semua kenangan yang dia lalui bersama tuah. Bagaikan layar di bioskop yang menayangkan sebuah filem.
Bagaimana perkenalan mereka dalam lomba badminton. Waktu itu dia masih duduk di kelas lima sedangkan Tuah duduk di kelas enam. Berawal dengan menjalankan latihan bersama setiap habis jam pelajaran, hubungan mereka semakin dekat lalu mengambil sebuah keputusan untuk menjadikan pacarnya. Ya mereka masih terlalu awal dan muda lagi saat itu . Tapi cinta tidak menghanyutkan mereka.
Waktu bertemu di gunakan untuk belajar bersama , sehingga akhirnya tuah berhasil melanjutkan pelajarannya ke matrikulasi dan di terima masuk ke UPM dengan bidang perakunan di Matrikulasi Bogor dan.
Setahun kemudian, dia juga melanjutkan pelajaran ke bidang pemasaran UTM jarak tidak menjadi penghalang bagi mereka.
Dua atau tiga minggu sekali tuah akan mengunjunginya ke UTM madura tapi kalau tuah yang sibuk nania yang akan ke bogor menemuinya . Hubungan mereka erat dan saling setia walaupun selama empat tahun di Universitas banyak pria lain untuk mendekati nania atau perempuan lain untuk mendekati tuah .
Bahwasanya mereka sudah berjanji satu sama lain yang mana mereka akan saling setia,untuk mempertahankan hubungannya, dan akhirnya berhasil sampai hari ini.
No ... No.... hingga jam 8.20 tadi sebelum tuah mengucapkan kata putus.
Dan pada akhirnya air matanya pun kembali membanjiri pipinya. Betapa sia sianya hubungan dia bersama Tuah selama duabelas tahun. Percuma mempertahankan kesetiaan selama ini terhadap lelaki itu , dan percuma juga selama ini berusaha untuk mengambil hati ibu tuah. Sedikitpun usahanya selama ini tidak di pandang apalagi di hargai. Dia sangat merasa terhina.
Ya terhina!!
Dia bangun, mencari tote bagnya yang tadi sempat dia lempar ke lantai. Tangannya masuk ke dalam tas mencari ponselnya. Di geser layar handphone nya.
Terpasang foto dia dan tuah di layar walpaper yang sempat dia ambil sebulan yang lalu terakhir kalinya mereka keluar makan bersama terlukis senyum tuah di bibirnya yang langsung senyuman itu tidak terlihat di malam ini tangisnya pun pecah kembali.
“Kamu jahat tuah.. jahat... jahat...”
Dengan mata yang kabur akibat banyaknya genangan air mata dia mencoba membuka hp nya menuju galeri yang berniat untuk menghapus foto foto tuah .
“Aku buang kau dari galeri hp aku”
Menyampah, sampai aku sanggup clen up memori hp aku dua hari sekali, menghapus semua foto foto aku bersama teman teman, aku beli memori cad . Semata mata mau menyimpan foto foto kamu. Namun kamu kini putuskan aku, tuah !!! Kau laki-laki tidak berguna !!!.”
“Vote Album!” Ada satu album yang berisi lebih dari 4000 foto dia bersama tuah di dalam galeri itu. Tetapi ketika jarinya mau mengklik hapus. Ada sesuatu yang menahan jarinya untuk tidak mengklik hapus.
“Huk... huk... huk... “
Dia tersedu 4000 foto cukup untuk mengartikan banyak sekali kenangan ketika bersamanya. Tidak termasuk dengan foto foto sebelum adanya hp . Foto yang di ambil menggunakan camera lalu di cuci di studio foto itupun masih terkesan rapi dalam album.
Orang lain ngomong gampang “Move on” , tapi menjalankan tidak semudah mengucapkannya. 12 tahun dia menghambakan hati dan perasaannya untuk tuah seorang saja sampai dia tidak pernah memandang laki-laki lain. Setianya, Cintanya dan Hatinya hanyalah milik tuah , Jadi tidak mudah pulak untuk dia bisa ‘Move on’ . Dalam satu malam ,namun perasaan sakit itu tetap ada.
Nania mengurungkan niatannya untuk menghapus foto fotonya. Lalu dia membuka aplikasi IG dimana tatakala sama juga di penuhi dengan foto foto bersama tuah. Bersamaan dengan itu juga dia melihat kotak pesan masuk dari IG nya pesan dari Sri, salah seorang teman akrabnya di sekolah dulu.
‘Nania kamu sama tuah baik baik saja kan ? Kenapa tuah menghapus semua foto foto kamu di IG nya.’
Bagaikan ada satu belati yang menghunus tangkai hatinya , dan menggores luka di sana saat ia membaca pesan dari Sri . Memang sih tidak aneh perbuatan tuah itu karena memandang kan mereka sekarang sudah berpisah dan tuah juga mau bertunangan dengan Naura. Namun apakah tidak terlalu cepat untuk mengambil tindakan tersebut. Mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu...
Tuah sudah menghapus semua foto fotonya? Apa memang dia sudah merencanakan dari jauh jauh hari tentang perpisahan ini ?
Ada rasa pilu, terbayang, Namun juga tidak kurang rasa marah dan Benci. Terlihat Tuah seakan akan membuangnya . Biarpun kenyataannya itu benar, tetapi dia seakan tidak terima.
‘Aku sudah broke up dengan dia’. Hanya itu Jawaban Nania, dan tidak lama dia melihat ‘ Sri is typing ‘ Dia malas untuk melayani pertanyaan selanjutnya dari Sri.
Namun ia mencari laman IG Tuah tapi sialnya dia tidak di temukan.
Ya jelas Tuah sudah memblokir nya , Nania mengeratkan giginya , tangannya menggenggam ponsel dengan kuat, dan menahan gejolak emosi seperti ingin menjerit sepuas hatinya.
“Tidak apa Tuah lakukan lah yang bisa bikin kamu bahagia. Allah lihat semua dan Allah tidak tidur. Kamu bukan suamiku. Tapi aku sudah menolak tiga kali lamaran pria lain yang membuat saya belum menikah walaupun umur saya sudah 29 tahun itu karena aku menunggu kamu !!”
Tangan Nania gemetar , Marah ,Sedih , Kecewa menjadi satu.
“ Nggak apa kamu hapus aku juga bisa menghapusnya. “
Akhirnya, satu demi satu foto dia bersama Tuah di IG di hapus. Tidak sedikit foto foto dia bersama Tuah ada 2834 foto dan sebagiannya adalah foto foto dia bersama Tuah .
“Apes bener . Setelah ini kalau punya pacar , Aku akan simpan di dalam hati saja , Gak usah di Up di IG. Jikalah nanti bubaran gak harus susah payah menghapus fotonya”
Sambil ngomel ngomel mulutnya menyumpahi,dan memaki Tuah, Tangannya cepat menghapus semua foto foto yang ada di laman IG . Tadinya mau nonaktifkan IG tapi sayang sudah banyak teman dan rekan rekan kerjanya yang lain di IG. Lagi juga , Di umur 29 tahun sangat tidak sepadan untuk dia menonaktifkan acoun nya hanya karena gara gara putus cinta. Putus sama Tuah bukan berarti harus putus juga bersama teman temannya.
Jam hampir menunjukan pukul dua pagi Nania baru selesai menghapus semua foto foto “Zero post” Dengan mata sayu memandang halaman IG nya yang sudah kosong .
‘Good bye,pig’.
Entah jam berapa Nania tertidur semalam , namun ketika alarm weker dia berbunyi matanya tidak dapat di bukanya, tangannya meraih jam weker dan di matikan, lalu mencoba mejamkan matanya semula , untuk menyambung tidurnya , tapi denyutan sakit di kepala dengan mata yang pedih saat dia mencoba memejamkan matanya kembali, akhirnya membuat dia bangkit dari tidurnya. Dan Nania menyadarkan tubuhnya ke kepala ranjang sambil iya pijat pijat pelipisnya. Akibat menangis yang terlalu lama dan rasa kecewa semalam membuat tidur dia tidak nyenyak. Beberapa kali dia terbangun dari tidurnya ketika mengingat kalau Tuah bukan pacar dia lagi dan dia akan menangis lagi. Setelah puas menangis, dia akan melanjutkan tidurnya lagi . Dan seterusnya dan pada akhirnya bunyi alarm yang membangunkan dia.
Dengan ras malas Nania beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki seakan terasa berat menuju ke kamar mandi . Biar seberapa besarnya rasa kekecewaannya pada Tuah , dia masih ada tanggung jawab yang harus kerja. Dan tidak mungkin dia harus terperangkap di dalam rumah dan mengikutkan rasa sedih untuk menangis sampai mengering air matanya.
Nania memandangi cermin yang terlihat wajah sembab dia . Yang mana kala Hidung merah, Mata Bengkak dan muka mengembang sudah benar benar seperti overdose botox.
Nania mengusapkan scrab pembersih wajah lalu dia membilasnya dengan air. Namun ketika dia menunduk, kepalanya terasa sakit. Dan berdenyut yang mana kala merasakan mukanya seperti kebas. Iya menepikan rasa sakitnya terlebih dahulu dan mengambil air wudhu, Mungkin sesudah selesai sholat nanti rasa sakit di kepalanya akan membaik.
Lalu iya melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar mandi . Dan setelah dua rakaat ia tunaikan dan dia berdoa agar dia dengan mudah untuk bisa melupakan Tuah dan dapat meneruskan jalan hidupnya seperti biasanya.
Rukuh yang di pakainya kini dia lepaskan,Tapi rasa sakit di kepalanya masih belum reda. Jangankan untuk berangkat bekerja. Mau menyetir mobilnya juga dia tidak yakin untuk sampai ke kantornya, jangan jangan malah di jemput dengan mobil ambulan karena mobil terbablas masuk got di depannya. Kepalanya betul betul terasa berat dan sakit.
Nania akhirnya menghubungi pihak kantor , dan untuk mengambil cuti sakit . Dia faham seharusnya dia tidak pantas untuk mengambil cuti sedangkan rekan rekan kerjanya sedang sibuk untuk merancang brand barunya, tetapi dia betul betul tidak bisa untuk bekerja hari ini.
Setelah dia melipat rukuhnya dia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju dapur , dan mengambil kotak obat di dalam lemari dapur lalu mengeluarkan dua biji panadol dan dia meminumnya sekaligus. Kalau saja Ibu dia tau dia meminum obat dengan keadaan perut kosong, bisa copot tuh telinga denger Ibunya mengomel, Dia tidak ada selera mau makan dan niatnya setelah minum obat mau tidur sepuas puasnya dan nyenyak se nyenyak nyenyaknya.
Nania melangkah balik lagi ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Tangannya meraih handphone di atas nakas lalu mengirimkan pesan kepada Maya sahabat sejatinya di Stillvol. Memberitahu bahawa dia sedang tidak enak badan dan mengambil cuti sakit.
Entah sudah berapa banyak notif DM ke IG nya dia memilih mengabaiknanya. Mungkin tidak lain dan tidak bukan, tentunya hanya untuk menanyakan masalah hubungan dia sama Tuah karena setelah semua foto foto di hapus semalam. Persetan !! Dia malas mau menjawab apa apa . Biarlah pintar pintar mereka untuk membuat kesimpulannya masing masing . Lagian tidak ada hal yang perlu di ceritakan juga, Hanya akan menjatuhkan harga dirinya aja di injak injak . Karena perpisahan ini juga kehendak Tuah. Tentu saja dia akan di olok olok dan di jadikan bahan tawaan. Karena sudah pacaran belasan tahun dan ujung ujungnya di campakkan.
Nania melemparkan Handphonenya ke samping. Dan mencoba memejamkan matanya , Namun ketika semakin matanya di pejamkan semakin terasa sakit juga kepalanya. Seingatnya kalau sudah meminum dua butir panadol bisalah untuk dia tidur seperti orang mati. Tetapi salah, malah wajah dan ucapan Tuah semalam lah yang lebih mendominasi fikirannya.
Dengan helaan nafas panjang ,Nania beranjak dari tempat tidur , dan berjalan sambil menyeret selimut tebalnya menuju ke ruang tamu . Dengan berselimut yang tebal Nania berbaring di sofa , Lalu meraih remot Tv di meja. Jarinya lincah menekan remot tersebut. Mencari Drama atau filem kegemarannya di Netflix . Drama santai yang tidak harus menguras otak dia untuk berfikir.
Akhirnya dia pun memilih filem Drama korea yang mengisahkan percintaan seorang bos dengan asistennya.
Menarik selimutnya ,dan berbaring di sofa dengan nyaman, mencoba menghayati Drama yang ditonton , dengan harapan supaya bisa membuang Tuah dari kotak fikirannya.
“Bestnya bercinta dengan Bos” Dia bergumam.
“Berangkat kerja lihat muka dia,Pulang kerja pun lihat muka dia lagi. Eleh kisah apa, Wajah Ganteng, 24 jam seharipun gak bosen”.
“Hhmmm ... aku nih jangankan mau menjatuhkan hati bos, berpacaran sama pegawai Bank juga di tinggalkan “.
“Dasar Tuah gak Berguna. “
Niat hati mau melupakan Tuah tapi perlakuan yang manis dan super hero di dalam drama tersebut malah mengingatkan nya sama Tuah . Tuah pria yang romantis, hari jadi pacaranpun dia pasti akan ngasih hadiah. Belum lagi pas hari ulang tahun selalu ada aja surprise dari Tuah.
Mengingat semua perlakuan manis itu,Nania menangis lagi. Meraung segalanya ibarat melepaskan keluh kesah yang ada di hati, Dia bukan lemah , namun dia hanya ingin melepaskan rasa perih yang mencekam di hatinya. Bukan mudah untuk mengatasi rasa kekecewaan akibat di sakiti oleh orang yang kita cintai dan kita harapkan untuk bisa hidup bersama . Dia butuhkan waktu, selama mana ? Dia tidak tahu.
Nania tidak tahu kapan dan sudah berapa lama dia tertidur sehingga dia mendengar bel pintu apartemen nya di tekan berkali kali. Dia mengerjapkan mata berkali kali untuk mencoba memulihkan ingatannya setelah bangun dari tidur yang nyenyak.
“Nania.. ooo... Nania. Apakah Kamu masih hidup ? “ terdengar suara Maya berteriak di depan pintu.
“Nania ... biarpun kamu putus cinta dengan Tuah, Jangan juga kamu gantung diri , pekerjaan tuh numpuk di kantor siapa yang mau ngerjakan woooy” . Suara Ajrul juga ikut terdengar
“Laki-laki seperti Tuah itu, ibarat kata kalau buah durian , orang jual timbunan, tiga kilo duapulu ribu saja soalnya mau menghabiskan stok. Tidak usah terlalu dalam mau frustasi Nania . Masih banyak pria tampan,gagah, berwibawa dan setia di luar sana tuh”. Lastri juga ikut bersuara
Nania , menghebus nafas jengkel. Teman temannya itu parah tidak bisa di ajak bincang. Kenapa nggak sekalian pinjam ampli di masjid saja buat pengumuman “Nania,habis putus cinta di mohon kepada ustad dan ustazah untuk sholat hajat buat beliau.”
Dengan melangkah malas Nania menuju pintu untuk membukakannya sebelum seluruh blok apartemen ini tahu kalau dia habis di tinggalkan pacarnya.
Setelah terbukanya daun pintu, terpampang wajah teman temannya itu dengan cengengesan seperti ikan busuk.
“Ya Allah ini Nania apa hantunya Nania nih ?” Lastri mengusap usap dadanya.
“Assalamualaikum nek.. maaf cucu mengganggu, Nania ada nek?”
Nania sungkan menanggapi . Dia tau kalau Lastri sedang meledek penampilannya sekarang. Manakala rambut acak acakan,muka sendu, Mata Bengkak dan selimut tebal di pundaknya tentulah sangat jelek sekali penampilannya.
“Ya Allah aku putus cinta. Tapi tidak usah lah isytihar supaya satu bangunan tau.” Kata Nania sambil tangannya membuka tralis pintu.
“Yang kamu sepi aja nggak buka bukakan pintu. Sudah lima menit ,kita semua gedor gedor pintu. Gak panik gimana . Aku membayangkan kamu sudah gantung diri dengan mata mlotot dan lidah menjulur keluar”. Balas Ajrul asal
“Hellooo Ajrul !!” Maya bersuara “ Tidak bernilai Nania gantung diri kalau setakad putus cinta dengan Tuah. Beda lah kalau dia putus cinta sama anak Sultan Brunai atau saudara dirja Britain, mungkin akan ada untungnya juga kalau bunuh diri. Masuk berita TV dan KORAN di halaman paling depan juga tidak di gosipkan. Kalau di gosipkan juga paling gosip yang baik baik."
Ajrul manggut manggut sambil memutar mutarkan telunjuknya ke arah Maya tanda setuju dengan sahabatnya itu.
Nania memutarkan bola matanya. Tralis pintu pun di buka lalu ketiga teman temannya pun masuk sambil menjinjing beberapa kantong plastik yang berisi makanan dan minuman.
“ Aku akan mati jika aku putus nafas saja, kalau hanya soal putus cinta, aku masih bisa hidup biarpun pusing sedikit lah.”
“Good ... good ... semangat yang seperti ini lah yang kita semua mau.” Kata Lastri
“Nania, aku mau pake dapur kamu sebentar iya mau tek jadikan seperti dapurku sendiri ?” teriak Ajrul dari arah dapur yang persis sebelah kiri pintu.
“Okey .. beb.”
Nania dan Maya melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu dan membiarkan Ajrul dan Lastri lah yang menyiapkan makanan yang di bawanya tadi.
“Kamu sudah mandi apa belum ? Muka kusut semrawut seperti tempe setengah matang.” Tanya Maya
Sambil melabuhkan duduk dan bersandar di atas sofa.
Nania berbaring semula di atas sofa. Dan drama korea yang di tontonnya tadi belum habis lagi entah sudah sampai episode berapa dia juga tidak tahu. Masih terpasang memerankan adegan romantis antara, pemain Lee Young-joon dan Kim Mi-so. Bibirnya gemetar. Menahan akan menangis ketika ia melihat adegan itu, Membayangkan kalau pria itu adalah Tuah dan perempuan itu adalah dirinya, suatu ketika dahulu.
Tap!!!....
Tiba tiba layar TVnya menghitam, Bukan karena mati lampu, Namun di matikan oleh Maya.
“Sudah tidak usah Nonton, lebih baik kamu ganti chanel nonton filem hantu. Daripada bersedih lebih baik lihat kamu ketakutan biar kamu cepat lupakan si Tuah tidak berguna itu.”
Nania terdiam , dia masih terbungkus dengan selimut tebalnya, kemudian bangun dan memeluk lututnya. Tidak menghiraukan kata kata Maya. Melamun lebih enak daripada mendengarkan omelan sahabatnya.
“Nih, aku Tanya lagi . Kamu sudah mandi belom ? Sudah jam Lima sore kak!”
Memang,jam lima sore hampir duabelas jam dia tertidur. Betul betul kaya orang mati sehingga dia tidak sholat dzuhur . Kalu tidak di bangunkan teman temannya, mungkin sampai subuh besok dia Baru bangun. Cacing cacing di dalam perut dia juga sudah berdemo karena kelaparan. Terakhir dia makan waktu sebelum Tuah mengatakan kata putus kemarin malam. Itu juga tidak habis.
“Belum. Aku tidur seperti orang mati , mulai dari pagi tadi. Semalam aku betul betul tidak bisa tidur.”
Maya, mengelengkan kepala. Dia mengerti kekecewaan Nania biarpun dia tidak mengalaminya . Malah dia juga rasa bersalah Karen dia yang membuat Nania mengharap dengan membuat andaian Tuah akan melamar Nania. Dia menafsir Nania putus dengan Tuah setelah dia melihat acoun IG sahabatnya itu sudah kosong. Ya lah. Atas dasar apa coba seseorang menghapus semua foto kekasihnya kalau bukan putus?
“Nania I’m Sorry. “...
“I’ts OK, kamu gak salah apa apa juga Maya “.
“Coba kamu cerita ke aku . Kenapa bisa jadi begini ?”
Nania akhirnya menceritakan semua apa yang sudah terjadi sewaktu pertemuan dia dengan Tuah semalam, tanpa Maya memotong pembicaraan.
“Aku gak tahu Maya, Aku kecewa, aku benci sama diri aku sendiri ,aku merasa...” Nania mendongak . “Sia sianya duabelas tahun. Kalau aku nikah dengan Rendy dulu ,kayanya anak aku sudah sekolah TK.”
Rendy ialah staf di bagian pemasaran di Stillvol yang pernah mengatakan perasaan kepadanya. Tapi ia tolak karena setianya sama Tuah . Rendy akhirnya menikah dengan zarimah di jabatan pemasaran dan yang kini sedang menanti kelahiran anak keduanya .
“Eleeeh, kalau kamu nikah sama Rendy pun kamu gak bakalan bahagia, Nania jodoh kamu bukan sama Rendy bukan juga dengan Tuah. Entah entah Tuhan sudah mempersiapkan seseorang pria yang prince charming, yang budiman dan yang sempurna buat kamu. Wanita gila seperti kamu, sesuai tau dapat pria yang baik. Supaya gila kamu gak merambat dan menjangkit ke orang lain.”
Nania menghela nafas kasar. Muka Maya di lirik sesaat dan bibirnya sengaja di manyunkan.
“Nania, listen to me. I’m Maya , your beautiful and loyal bestie. Nasehat aku nggak pernah dan gak menjahati kamu."
Maya yang tadinya duduk di atas sofa, kini dia sudah bersila di lantai , tepat di depan Nania, bersiap untuk berceramah motivasi kepada sahabatnya itu.
“Lebi bagus kamu berpisah sekarang sebelum kamu nikah sama dia, mak dia, tidak merestui, memaksa Tuah menikah dengan perempuan pilihan dia. Then kamu akan makan hati sendirian . At least kamu berpisah sekarang, you’re still a virgin, right.?”
Nania terdiam membuat Maya menatapnya dengan mata mlotot dan meluruskan telunjuknya ke muka Nania.
“ you’re still virgin, right? “
“Of course, I’m a virgin .” Nania menepis telunjuk Maya dari wajahnya.
“So, Kamu nggak rugi apapun, Hanya rugi belasan tahun saja gak apa apa. Coba kalau sudah nikah rugi banget, lalau kamu bercerai , sudah gitu keperawanan kamu gak bisa kembali.”
Nania terdiam. Tetapi betul juga kata kata Maya, Setidaknya putus sekarang itu lebih baik. Daripada nanti harus bercerai setelah menikah.
“Nania coba lihat sini...”
Maya memperlihatkan Gaya Jari tengah dan Nania melihat aksi temannya itu, Bantal smile dia lemparkan ke kepala Maya.
“Tidak pantas kamu tuh. Saya lagi bersedih kamu perlihatkan, jari tengah.”
“Kamu tau nggak kenapa. Allah cipatakan Jari tengah?” Maya bertanya dia tidak memperdulikan kemarahan Nania.
“Buat mengejek ku kan.”
“No !! Maya berdecak . “The purpose of middle finger is we can use it when words aren’t enough.”
“Bodoh..” Nania tertawa..
“Jika suatu hari nanti kamu bertemu dengan Tuah dan wanita itu. Just show your middle finger.”
“Eemmm, aku buang waktu aja untuk melayani kamu ngobrol. Aku mau mandi dan sholat dulu, kasih tau Ajrul dan Lastri , jangan makan dulu mereka. Suruh tunggu aku.”
Kata Nania kemudian bangun dan melangkah ke kamarnya sudah lengket badannya karena terakhir kali dia mandi sore kemarin , sebelum dia menemui Tuah.
Setelah selesai mandi, Kemudian ia menjalankan ibadah sholat Azhar dan mengqada’ sholat dzuhur. Kemudian dia bergabung bersama dengan teman temannya yang sedang bersantai nonton TV. Empat porsi nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi dan juga ada es teh yang sudah terhidang di meja makan.
Ajrul, Maya dan Lastri juga sering datang kerumahnya semenjak tiga bulan kebelakangan ini. Karena untuk mengerjakan sebuah projek brand pertama di perusahaan tempat mereka bekerja. Jadi tidak aneh sekarang kalau melihat mereka tengah bersantai seperti di rumah sendiri.
“Terimakasih beb karena sudah baik ,mau membawakan makanan untuk aku.” Kata Nania sembil menuangkan es teh kedalaman gelas. Es teh pak mamat kesukaannya. Yang rasa ternyata lebih pekat dan manisnya pas sehingga terasa ke ubun ubun.
“Ya Tuhan kita juga khawatir dong, sebab di telpon tidak di angkat, whatsapp juga enggak di balas balas nia nia. Pas lihat kamu sudah hapus semua foto di IG. Jadi kita semua kaget kalau kamu sudah putus sama Tuah."
“Sudahlah tidak usah di bahas lagi tentang dia, Perutku sudah Lapar gila nih, mana satu punyaku?” Tanya Nania
“Tuh... yang Ayamnya lebih banyak.” Maya menunjuk piring yang berisikan suwiran Ayam lebih dibandingkan dengan piring piring yang lain.
“Dan ini juga Cakwe favorit kamu. Cakwe bu romlah yang lengkap dengan saus pandan.” Lastri menyodorkan piring yang berisi Cakwe dan saus pandan.
Nanai tersenyum dengan Gaya mengunjukan giginya , mereka gak pernah lupa dengan kesukaannya. Nasi goreng yang ayamnya lebih banyak. Dia kehilangan Tuah, Namun dia masih memiliki sahabat sahabatnya yang baik dan perduli pada dia.
“Tadi ada bagian HR memberi tahu, kalau besok ada asisten Menejer datang masuk kerja.” Ajrul membuka suaranya ketika beberapa menit suasana sepi karena masing masing menikmati makan .
“Ya Tuhan, Alhamdulillah. Tidak sia sia aku bikin drama menangis di depan pak Jamil hari itu” Balas Nania
“Bagus dong , kamu Ada asisten setidaknya enggak begitu sibuk kamu tuh . At least bisa bagi bagi kerjaan Iya kan ? Nih semakin dekat due date ini Maka semakin takut juga aku. Takut kalau Bos Baru tidak sesuai . Matilah kita mau Stay back lagi di kantor sampai jam 2 jam 3 an pagi .” Maya mengeluh
“Pak jamil ada ngasih tau nggak kalau asistenya itu cewek apa cowok? “ Tanya Nania
“ Nggak dia cuman nyuruh aku untuk membereskan ruangan kerja kamu aja, soalnya nanti kamu dan dia satu ruangan , karena sudah tidak ada tempat buat menaruh meja di ruangan kita itu.”
Nania menganggukkan kepala. Nggak apa kalau harus terpaksa satu ruangan, asalkan dia mendapatkan asisten untuk membantu beban tunggung jawab yang Besar ini dan dapat di andalkan. Semua di bagian jabatan itu tidak mempunyai pengalaman dalam Brand dan banyak lagi yang perlu mereka pelajari yang membuat Cara kerja mereka bekerja lumayan agak lambat. Perusahaan juga tidak ada mengkhususkan . Untuk menghantar kan mereka menghadiri latihan berkaitan. Dan semuanya mereka kerjakan sendiri.
“Aku harap asisten itu cewek. Rajin komitmen dan bercita Cita tinggi seperti aku.” Nania.
Membuat Maya, Lastri dan Ajrul memutarkan Bola mata mereka dan memperlihatkan reaksi mau muntah.
.
.
.
Saat Ajrul lagi mengelap meja kerjanya sesampainya di kantor pagi ini, pak jamil dari bagian HRD memanggil namanya.
“Rul”..
Ajrul berdiri lalu pandangannya di edarkan ke arah pintu masuk ruangan brand.
“Ya. Pak Jamil ada yang bisa saya bantu ,di pagi hari yang cerah ini.?”
“Nania sudah sampai belum?”
Ajrul melihat arloji di pergelangan tangannya. Baru jam 7.30 pagi. Nania tidak mungkin nyampe sepagi ini , paling awal juga wajah dia akan muncul limabelas menit sebelum jam delapan.
“Belum . Pak jamil ada apa apa yang perlu saya sampaikan?” Tanya Ajrul dan matanya juga sambil mengerling pria yang berada di samping pak Jamil. Yang lumayan tampan dengan kemeja biru muda dan celana hitam yang tersarung di badannya.
“Tidak ada apa apa . Ini Adris asisten baru Brand Departemen. Sudah siapkan meja kerja untuk dia kan ?”
“Sudah pak Jamil.”
“Ok..” Jamil menganggukan kepalanya “Adris. Saya tinggalkan kamu di sini. Nanti Nania sampai dia akan Brief kamu. Tentang apa yang harus kamu kerjakan.”
Adris mengaggukan kepala dengan sopan sebelmu Jamil pergi meninggalkannya.
Ajrul mendekati asisten baru itu. Terlihat baik dan tidak sombong membuat ada rasa kasihan. Bagai mana pria sebaik Adris akan bekerja di bawah naungan Nania ? Semoga saja Allah melindungi mu.
“Hai Adris gue Ajrul . Tapi loe boleh panggil gue rul pakai bahasa indonesia supaya bunyinya Rul, Jangan pake bahasa Inggris nanti bunyinya ‘Rul”. Setelah panjang lebar Ajrul memperkenalkan dirinya kepada Adris sambil menghulurkan tangan.
Hulurannya di sambut.
“Adris” Adris memperkenalkan dirinya biarpun tadi sudah di perkenalkan oleh Jamil.
“Come , gue tunjukan ruang kerja loe.” Ajrul berjalan di depan Adris untuk menuju keruangan kerja Nania yang berada di bagian belakang dan Adris mengekorinya dari belakang.
“Loe satu ruangan dengan Nania, soalnya ruangan kantor ini tidak cukup. Ruang Menejer itu juga dulu ruangan fail. Tapi di renovasi jadi kantor. Lebih kurang, minta maaf iya. Memang tidak leluasa untuk berbagi ruangan,kan. Namun sebatas itu lah yang perusahaan mampu kasih, Mybe setelah Brand sale kita naik, boleh juga kita apply untuk upgrade departemen tempat kita kerja nih.”
Angguk lagi
“Menejer kita Cewek Hanania kamelia namanya, tapi cukup panggil dia Nania. Dia baik biarpun dia kadang kadang agak gila sedikit. Gak tau juga mau di bilang GILA beneran nggak juga, tapi time dia bikin gila, orang gila juga boleh hilang muka.”
Lagi lagi Adris hanya mengangguk, sambil dia membayangkan dalam benaknya bagaimana kegilaan Nania itu.
“Jika nanti loe lihat dia. Rambut acak acakan,Muka sendu,hidung merah, Mata Bengkak bukan karena dia habis Bela diri . Tapi dia habis putus cinta.”
Adris mengangguk angguk sampai sebegitunya dampak dari putus cinta,fikirnya.
Naik turun mata Ajrul melihat Adris dari atas kebawa . Sedari tadi pria itu hanya mangguk mangguk . Kesal juga dia. Bagaimana bisa lulus waktu tes HRD kalau jawaban dia cuman manggut manggut saja ?
“Anda memang tidak banyak bicara iya ?”
“Iya, Lebih kurang bicara. Tapi lebih banyak berfikir.”
“Aaahh..” Arjul mendesah penuh dengan dramatis sambil manggut manggut. Ternyata diamnya Adris bukan diam biasa.
“You’re right “.
“Okey , ini ruang kerja Nania . Dan yang itu meja kerja loe.” Ajrul menunjukan meja yang masih kosong. Berbeda dengan meja satunya yang sudah ada komputer dan beberapa fail.
“Thank you. “ Kata Adris
“You’re welcome.”
Ajrul pergi meninggalkan nya. Dan Adris menuju kemejanya ,Tas ransel yang berisi laptop, ponsel dan beberapa barang pribadi di letakan di atas meja lalu dia melabuhkan duduk. Pandangan matanya di edarkan keseluruh ruangan ini. Rapih dan bersih dengan susunan perabot yang tidak terlalu sesak sehingga terlihat elegan . Tidak menyangka ruangan fail bisa di ubah menjadi sebuah ruangan yang nyaman.
Adris,beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Dan menarik tirai supaya cahaya matahari bisa masuk, Lama dia mematung sambil kedua tangan di masukan ke saku celananya . Menikmati pagi hari dari atas gedung lantai lima ini , dan jendela ini menghadap ke bagian parkiran belakang. Ada beberapa buah mobil memasuki kotak parkirannya masing masing. Terlihat ramai karena para staf baru berdatangan.
Namun matanya tertarik kepada salah satu gadis yang keluar dari mobilnya, tanpa ia menutup pintu mobilnya. Gadis itu keluar melihat mobilnya dalam kotak parkir. Bertolak pinggang sebelum ia masuk kedalam mobilnya lagi, dan membetulkan kembali mobilnya. Kedepan,kebelakang, ketepi ketengah. Barulah dia masuk setelah melihat penempatan mobilnya. Adris menafsir, gadis itu memastikan penempatan mobilnya benar benar simetri.
Baru dia bisa puas hati. Dia tersenyum, kenapa perempuan harus begitu cerewet?
NANIA berlari kecil menuju Stillvol,tangannya merogoh dan meraba raba ke dalam tasnya demi mencari sebuah ID Card, untuk mengakses agar dia bisa masuk kedalam sebuah bangunan kantor ini. Tetapi dengan puas hati dia mencari di dalam tasnya namun tidak di temukan.
“Ya Tuhan , kemana nih ID Card aku ? bukannya selalu di dalam tas ini, gak pernah aku keluarin.” Nania bergumam
Nania berjalan menuju meja tamu dan mengeluarkan semua isi dalam tas nya tapi memang nahas id card nya nggak di jumpai juga.
“Aaaaaahhhh ... kemana id card aku ? Terus bagaimana aku mau masuk.” Nania menghentakkan tas nya. Dan kemudian memasukan kembali barang barangnya kedalam tas.
“Nania, kenapa ?”
Nania menoleh, lalu menarik nafas lega . Apabila ia melihat Lastri ada di belakangnya.
“ID Card aku hilang, tak tau dia ja...” Ucapan Nania terhenti . Tiba-tiba saja dia teringat waktu kejadian saat dia sedang marah marah dan membanting bantingkan tas ke mobilnya. Dan teringat waktu itu semua barang barang yang ada di dalam tas berhamburan ke luar.
Nania menutup mulut. Dengan kedua tangannya, apa mungkin terjatuh di area parkir hari itu ?
“Kenapa beb ?” Lastri bertanya lagi ketika dia melihat raut wajah Nania berubah lagi. Dari yang panik berubah ke yang lebih panik lagi.
Bagaimana nggak jika ID Card itu hilang akan kena denda Rp 1 juta 500. Sebelum bisa ganti card baru. Card itu di lengkapi dengan cip yang mana mereka bisa mengakses masuk ke bangunan ini dan menggunakan lif.
“Aku boleh pinjam ID Card kamu ? Card aku terjatuh.”
“Boleh boleh ayoo..”
Lastri masuk lebih dulu menggunakan pintu otomatis seperti yang ada di stasiun MRT . Kemudian menyerahkan cad nya pada Nania yang ada di luar pintu.
“Thanks beb”. Kata Nania yang berhasil bisa masuk
“No problem. “
ADRIS membalikan badan setelah gadis yang di perlihatkannya sudah tidak ada di tempat parkiran. Tapi setelah itu dia terpana dengan bingkai foto yang berada di tempat meja Nania . Foto seorang perempuan dan dia yakin kalau itu adalah Nania bersama seorang pria. Senyum bahagia dan saling berpandangan. Terlihat bahagia sekali. Dan tangan yang masih setia di dalam saku celana ,tiba tiba terhulur meraih bingkai foto itu.
“Okey nanti gue brief ..” pintu ruangan yang didorong terbuka tiba tiba membuat Adris kaget kemudian bingkai yang ada di tangannya .
Pranggg.... !!!
Adris tertegun begitu juga dengan Nania yang sedang berdiri di depan pintu ikut mematung.
“M ... Maaf” Kata Adris gugup ketika bingkai itu pecah berserakan di bawah, Ketika dia mau menunduk untuk mengutip pecahan itu.tiba tiba suara Nania menahannya.
“Jangann...!!”
Serta merata gerakannya terhenti dan badannya berdiri tegak seperti semula. Jangan tanya debaran di dadanya sekarang. Dimana Hari pertama masuk kerja sudah cari masalah dengan Menejer.
Nania melangkahkan kakinya perlahan sambil menatap bingkai foto yang sudah pecah.
“Saya minta maaf Mbak Nania...”
Nania mengangkat tangannya tepat di muka Adris, memberi isyarat supaya Adris diam.
Adris pun manut, beberapa kali dia menelan air liur. Teringat ucapan Ajrul tadi. Nania kalu sedang gila,orang gila pun bisa hilang muka, Serem juga kalu difikr fikir.
Nania berjongkok ,dan ujung foto itu lalu di tarik , mengeluarkannya dari bingkai.
“Ini pertanda.” Ucap Nania.
Kening Adris mengernyit Mau nanya , namun belum sempat ia bersuara . Nania merobek foto itu, yang mana bagian muka Tuah . Dia buang kembali ke lantai , bersama serpihan bingkai tadi. Lalu iya bangun dan beberapa saat kemudian. Adris melongo menyaksikan kegilaan Nania.
“Yang tempat dia bukan di dalam hati. Tapi di kaki..!!”
Gimana tidak, dia melihat Nania menginjak injak bingkai yang pecah bersama foto Tuah. Menggunakan sepatu hak tingginya sambil mulut dia mengomel ngomel tidak tau apa. Nggak cukup dengan itu,dia melompat lompat di atas foto dan bingkai sehingga serpiha kaca berganti menjadi debu kaca. Muka ganteng Tuah juga sudah tidak terlihat lagi.
“Huft .. puas hati aku.” Nania meniup rambutnya yang menjuntai ke kening akibat kegilaannya.
“Hai.. saya Nania.” Nania menghulurkan tangannya kepada Adris,dengan senyuman manis seolah olah tidak terjadi apa apa barusan.
Dengan ragu Adris menyambut huluran tangan Nania.
“Adris..”
“Nice to meet you, Adris. Welcome to the Branding Departemen, Anggap seperti ruangan kerja sendiri saja walaupun di depan pintu sana nama saya.” Ucapa Nania sambil menyepakkan serpihan kaca tadi ke tepi.
Adris mengangguk dan tersenyum canggung. Tidak enak karena berada satu ruangan tertutup bersama dengan seorang perempuan. Biarpun ruangan ini berdinding kaca dan orang yang di luar bisa melihat mereka di dalam.
“Mbak Nania, saya minta maaf tadi saya...”
“Not ... it’s ok. Never mind . Sampah memang tempatnya di tong sampah.” Jawab Nania santai sambil menyalakan komputernya.
Adris tidak berkata apa apa lagi. Betul ucapan Ajrul. Nania kalau lagi gila,orang gila pun boleh hilang muka. Dia juga hampir jantungnya copot menyaksikan kegilaan Nania. Begitu iya efek putus cinta. Tapi ucapan Ajrul yang Mata Bengkak, hidung merah muka sembab dan rambut acak acakkan itu sama sekali nggak bener. Nania terlihat cantik saja, muka segar dengan mekup tipis saja. Rambut panjangnya terurai . Memakai kemeja putih dan rok sepan pink yang di pakainya membuat Nania kelihatan lebih manis. Rapih dan nggak berlebihan di dalam gaya.
Dan melihat ke pakaian Nania. Dia yakin kalau Nania adalah gadis yang tadi membetulkan parkir mobil beberapa kali. Aaah dia sudah membayangkan bagaimana untuk menjadi asisten Hanania Kamelia nantinya.
Bersambung...
Awal awal sedih sedikit iya ....
Perkenalkan antara Nania dan Adris ....
Happy reading guys muahxxx...
Thanks....
Adris kamu coba lihat logo ini. What do you think ?” Nania bertanya sambil menunjukan layar laptop nya kepada Adris.
Waktu itu mereka sedang berada di ruang tengah bersama sama sedang menyiapkan kertas kerja untuk Brand pertama Stillvol. Adris meraih laptop dan akhirnya laptopnya berpindah tangan. Lama Adris memperhatikan bentuk logo baru Stillvol yang di perlihatkan oleh Nania. Logo LV dengan warna emas.
“Saya fikir warana gold ini kayanya outdate lah.” Adris membuka suara yang membuat semua mata menuju padanya.
“Warna silver lebih fresh , terlihat glamour ,mewah dan berkilau.”
“Hah!!” Nania tiba tiba bertepuk tangan dan bersorak senang.
“You know what, Adris? Saya memang mau warna silver waktu itu . Tapi mereka tuh bilang warna gold lebih exclusive.”
Maya,Ajrul, Lastri dan beberapa orang lain yang sedang berada di situ menatapnya dengan expresi wajah sebel.
“Tidak menduga akhirnya ada juga yang sepenadapat dengan saya.”
Adris tersenyum dan meletakan kembali laptop Nania ke atas meja.
“Mybe boleh mencoba masukkan warna silver pada logo itu. Then , kita compare,” kata Adris.
Mereka mengangguk setuju. Ajrul dan Heri yang di tugaskan pembuat logo. Mereka Mulai mengedit logo dengan memasukkan warna silver.
“Coba masukkan sparkle sedikit dekat logo itu, Baru terlihat Shining, “ Kata Nania.
Heri akur
“Kalu logo warna silver , saya ingat background biru tua lebih terlihat exclusive,” kata Adris.
“Yeee.. I thinksso.” Nania bersetuju dengan masukan Adris
Logo pertama yang di rancang oleh Ajrul dan Heri, menggunakan background berwarna hitam.
“Wah... wah.. kerja dalam satu ruangan , asyik sependapat aja Kalian Iya? Seperti sudah bisa baca fikiran masing masing. “ -Maya
Nania cuman tersenyum, nggak tersinggung dengan kata kata Maya itu. Berbeda dengan Adris yang sudah gugup, Ya. Dia memang selalunya gugup kalau berhadapan dengan wanita. Cuman dengan Nania rasa gugup itu sedikit hilang, karena sikap santai Menejer nya itu.
“Tuh namanya chemistr. Betul gak Adris?” -Nania sedikit menolehkan kepalanya, menatap Adris yang berdiri di belakang kursinya, masih melihat editing logo yang di kerjakan oleh Ajrul dan Heri.
Adris hanya menganggukan kepala sedikit tanpa ia memandang ke arah Nania.
“Nania ini Baru putus cinta. Jadi, dia error sedikit karena dalam proses mencari pengganti.” Kata Lastri.
Nania tidak menunjukan reaksi marah karena Adris sudah tau dia putus cinta setelah dia melihat menyobek dan menginjak injaka foto Tuah tadi pagi.
“Bagaimana kalau aku kasih tau di dalam meeting bersama Bos Baru nanti. Siapa tau dia masih lajang , lagi mencari calon istri, sekalian hantar proposal kita. Aku hantar proposal sekalian, bawa cincin.”
“Salah salah jangan proposal kita aja yang di reject. Proposal kamu sama kamunya sekalian di reject. Mampus.... bisa jadi Adris naik jabatan jadi Menejer, conquer ruang kerja tuh sendirian.”
Nania memanyunkan bibirnya.
“Yalah, wajah aku ini gak pantas jadi girlfriend bos. Mau jadi girlfriend bos kan harus lemah lembut, cantik, cekatan, bicara mesti sopan, suara aja pelan pelan. Kalau muka seperti aku ni jadi girlfriend kariawan Bank saja di tinggalkan.”
“Baguslah sadar diri.” Jawab heri sambil matanya masih fokus ke komputer.
“Kamu Heri jangan jadi pria bajingan. Pria bajingan sudah banyak di muka bumi ini. Semalam tambah lagi Tuah satu. Jangan kamu mau menambah statistics juga.” Kata Nania
“Aku Pria Bijaksana.”
“Bijaksana lagi Adris. Lihat, diam saja.”
Ucapan Lastri membuat semua mata menoleh ke Adris, membuat Adris tersenyum canggung.
“Adris sudah ada girlfriend? “ tiba tiba Maya bertanya
Adris menggeleng.
“Ya, kah?”
Angguk.
“Kamu jangan jadi pendiam banget, Adris. Kalau kamu suka yang mana satu wanita , kamu luahkan saja, kalau kamu malu untuk meluahkannya, bilang sama aku. Aku bisa sampaikan pesan kamu.” Ucap Maya.
Adris, tersenyum, nggak diambil serius ucapan Maya. Jika dia suka sama perempuan, dia akan berusaha sendiri untuk mendapatkannya, dengan membuang rasa malu dan rasa segannya itu. Biarpun susah dia akan mencoba.
“Ok. Sudah selesai. Bagaimana? “ Heri memperlihatkan perbandingan warna emas dan silver.
“Vote for the silver one. “ ucap Lastri.
“Yeaah me to. “ Kata Maya.
Nania mengangguk angguk sebelum menengok ke arah Adris.
“Adris, bagaimana? Silver kan?”
Adris mengangguk .”Iya. Silver terlihat eksklusif tapi terjangkau.”
“ Semboyan juga kita harus ganti. Harus fikir satu Semboyan yang bisa orang mengingat logo kita.” Nania mengeluarkan pendapat setelah editing logo itu selesai.
Suasana tiba tiba hening dengansemua terlihat sedang berfikir.
“Contoh seperti Honda, The Power Of Dreams. Toyota , they have ‘Let’s Go Places ‘. Rolex ,’ Live For Greatness ‘. KFC ...”
“it’s finger linkin’good...” Ajrul dan Maya bersamaan menyanyikan lagu Semboyan KFC itu.
“Yes like that. So, kita juga harus fikir satu Semboyan yang akan membuat orang familiar, dekat dan ingat brand kita.”
“I agree with you, “ kata Adris.
Senyuman Nania hadiahkan kepada Adris karen setuju dengan sarannya.
“So. Ada saran yang lain nggak apa Semboyan yang sesuai dengan produk kita. Jam Tangan yang terlihat mewah, tapi terjangkau.” Nania menambah.
“Apa semboyan sebelumnya?” Adris bertanya.
“Demi Masa.” Jawab Ajrul yang membuat semua gelak kecuali Adris.
Bukan dia sombong, tapi dia tidak tahu apa yang lucu sehingga mereka semua gelak. Tidak ada yang lucu dengan Semboyan tersebut hanya bunyinya aja kurang komersil.
“Kalau kita tidak ada ide, bagaimana kalau kita bikin contest. Minta Marketing Department announce di FB dan IG rasmi kita. Perbandingan mereka semboyan untuk Stillvol. Hadiahnya mungkin dalam bentuk uang tunai , atau jam tangan Stillvol keluaran terbaru setelah perubahan merek nanti.”
Saran Nania membuat mereka semua mengangguk angguk.
“Seperti serampang dua mata. Kita bisa promo tentang imej Baru Stillvol and pada waktu yang sama.kita akan dapat cari semboyan terbaik untuk Stillvol. Then, the use of Tagline created by customer,will bring us closer to them.”
Adris menatap Nania dengan rasa kagum. Dia suka dengan Cara Nania berfikir dan bekerja. Santai dan tidak tertekan biarpun setelah di kasih taklimat pagi tadi, terbelalak juga matanya melihat betapa banyak tugas yang harus mereka siapkan sebelum rapat bersama pemilik Baru Stillvol nanti. Nania juga tidak membataskan hubungan dengan pekerja pekerja bawahannya. Mesra dan sangat tenang suasana kerja sangat kondusif.
“That’s a very good idea.” Ucap Adris.
“Ok, Aku pergi dulu ke Bu Zesy sekarang. Kalau dia setuju, then kita bisa on kerja yang lainnya. Semboyan biar customer fikir. Hemat tenaga dan waktu kita.”
Nania beranjak dari tempat duduknya. Mengambil tote bag ke ruang kerjanya lalu dia pergi ke Jabatan Pemasaran di lantai tiga.
Setengah jam kemudian Nania kembali rekan kerjanya masih berada di rungan tengah tadi. Segera langkah kakinya di percepat ke arah itu.
Melihat Nania yang terengah engah , Adris bangun dari duduknya dan mendorong kursi itu ke arah Nania.
“Thanks .” Nania tersenyum Melihat perlakuan Adris itu . Dia membuat senaman Tarik dan hembus nafas kemudian duduk.
“Kamu kenapa terengah ngah ? Main kejar kejaran sama hantu ?” Tanya Ajrul muka Nania di lirik sebentar.
“Aku berlari karena aku excited banget mau ngasih tau kalian.” Nania Tarik nafas . Dia masih berusaha mengatur nafasnya yang setengah setengah.
Tidak ada siapapun yang bersuara semua menunggu Nania melanjutkan ucapannya.
“Bu Zesy bilang, dia tidak ada masalah dengan saran kita . Tapi kita harus buat paperwork dulu, kirim ke GM. GM approve , then on.”
“Harus bikin cepat, karena nanti mau present pada bos Baru,” ucap Lastri.
“Biar saya yang bikin. “ Adris menawarkan diri.
“Ok, kapan bisa selesai ?”Nania bertanya sebolehnya dia mau kertas kerja itu selesai secepatnya.
Adris menatap arloji di pergelangan tangannya . Jam duabelas tengah hari.
“Hari ini bisa selesai.”
“WooW” Nania memamerkan muka kagum. Dia suka pekerja yang giat dan tidak perhitungan.
“Okey, Nanti kalau sudah selesai berikan keoada saya untuk dilihat hasilnya.”
Adris mengangguk lalu kembali ke ruang kerjanya untuk menyiapkan kertas kerja yang di minta Nania.
“Wah... wah.. berguna juga asisten kamu.” Kata Maya setelah bayangan Adris hilang dari pandangan.
“Kan ? Aku suka orang seperti itu. Tidak usah nyuruh nyuruh, terus volunteer mau bikin. Seperti kalian.” Balas Nania.
“Dia juga seperti.... Bijak juga,kan ? Tapi pendiam sedikit.” Ucap Ajrul sambil Mata dia masih fokus ke layar komputer.
“Pendiam .. apanya? Dia juga ada ngomong terus barusan.” cela Lastri Membela
“Memang sih tadi dia ada ngomong. Tapi hanya beberapa patah saja, Kalu dia gak ada ngomong langsung itu bukan pendiam namanya tapi Bisu !!” Balas Ajrul.
“Baguslah tidak banyak bicara. Setidaknya mengurangi dosa untuk menyakiti hati orang.” Nania membidas tepat ke sasaran yang membuat semua orang langsung terdiam.
Adris masih menyiapkan kertas kerja. Kuis untuk menciptakan semboyan Stillvol, ketika tiba tiba melihat bayangan seorang perempuan pada layar laptopnya.
Dia menoleh dan terlihat Nania tepat di belakangnya sambil menyedot susu kotak.
“Kamu, enggak merasa bajet hadiah itu terlalu besar?” Nania menggigit bibirnya dengan raut muka sedang berfikir ketika setelah melihat anggaran bajet terlalu besar iyaitu Rp.30.000.000.
“Lebih besar anggaran,lebih banyak juga pernyataan dan lebih banyak juga pilihan yang kita akan dapatkan.” Penjelasan Adris.
“Tapi perusahaan sekarang ini lagi menghemat bajet. Lihatlah departemen kita ini staf aja tidak cukup.”
“Tidak apa apa kita taruh aja R.30.000.000 ini. Nanti kalau GM mau potong,at Least kita hanya dapat setengah nya saja paling dapat Sepuluh atau limabelas saja. Nanti kalu kita taruh sepuluh juta. Kena potong GM kita hanya dapat lima atau enam juta saja.”
Nania mengangguk angguk “Make sense.”
Adis tidak membalas ucapan apa apa karena dia kembali fokus ke laptopnya. Nania juga dia melihat kertas kerja yang sudah mulai masuk ke pringkat setingan.
“Berapa lama untuk waktu kuis itu? Tanya Nania.
Adris menggeser layar untuk mencari tempat bagian rancangan waktu kuis yang dia buat tadi.
“Saya ingat sepuluh hari juga sudah cukup, karena kita tidak punya banyak waktu lagi.” Dia menatap layar laptop.Nania mengangguk tanda setuju dengan saran Adris seperti ini kalau tidak ada hambatan, Kita lanjut dua tiga hari lagi.” Adris menyambung
“Jika hadiahnya tiga puluh juta mana mungkin ada hambatan.”
Adris hanya tersenyum.
“Mbak Nania bisa tunggu sebentar ? Setelah ini saya, print dan terus submit.” Adris bertanya karena jam sudah menunjukan jam setengah enam sore.
“ Bisa saya memang selalunya pulang lambat, malas kena macet di atas jalan.” Jawab Nania sambil berlalu ke meja kerjanya.
“Hadiahnya itu mau uang tunai ? atau something yang harganya 30.000.000.” Tanya Nania.
Adris nampak sedang berfikir biarpun matanya sedang fokus ke layar leptop.
“Saya,ingat bagaimana kalu kita kasih goldbar ? Adris mengalihkan pandangan ke arah Nania dan dia menjadi gugup tidak semena mena apabila menyadari yang Nania tengah memandangnya. Biarpun mungkin pandangan Nania tidak ada maksud apa apa, cuman minat dengan rancangannya saja.
“Logikanya?” Nania bertanya ketika Adris hanya diam saja dengan mata yang berkedip kedip memandangnya.
“Eerr... Eemm... karena.” Adris mengalihkan kembali pandangannya ke arah layar laptop.” Karena kalau kita beri uang, nilai uang jatuh pada masa depan. Assume jika pemenang menyimpan duitnya di bank. Tanpa kita ambil Jumlah bunga yang di peroleh setiap tahunnya. Nilai 30.000.000 sekarang nggak akan sama dengan 30.000.000 yang akan datang. Barang barang semakin mahal dan nilai uang akan turun.
“Eemmm... Benar...” Nania setuju.
“Jika kita kasih barangnya, for exsample jam keluaran baru Stillvol.belum tentu juga dia memerlukan jam tersebut.
Lagi lagi Nania hanya mengangguk sambil menyedot susu kotaknya.
“Jadi menurut saya kasih goldbar lebih masuk akal, karena emas tidak akan turun harganya. Kalu pun turun harga, Setelah itu harganya akan naik lagi. Dari 30.000.000 kalau ikut harga emas sekarang sudah dapat 40 grm plus plus and,Maybe kita bisa minta kepada pengeluar goldbar untuk merancang hadiah ini. In retrun kita bisa membantu promosikan goldbar yang di keluaran dari perusahaan mereka waktu kita promo lomba ini. Jadi kita hemat Rp.30.000.000.”