Tiara menarik napas dalam, udara lembap Jakarta terasa berat di dadanya. Bau knalpot dan sampah bercampur, menciptakan aroma khas ibu kota yang selalu ia benci namun kini harus ia hadapi setiap hari. Di tangannya, selembar surat peringatan berwarna merah terang terasa seperti bara api yang membakar. Tanggal jatuh tempo sudah lewat dua minggu, dan ancaman penyitaan yang tertera di sana bukan lagi isapan jempol belaka. Rumah kecil mereka, satu-satunya warisan berharga dari almarhum ayahnya, kini di ujung tanduk. Dan yang lebih menyayat hati, ibunya, wanita rapuh yang telah berjuang keras membesarkannya sendirian, kini terancam akan "dijual" - sebuah eufemisme kejam untuk dipaksa bekerja di tempat yang tak layak, atau bahkan lebih buruk, jika mereka tak mampu melunasi utang rentenir tersebut.
Pikirannya melayang pada ibunya, Kartika. Sejak kepergian ayahnya lima tahun lalu, Kartika telah memikul beban keluarga dengan segenap kekuatannya. Dari menjahit baju tetangga hingga membuat kue pesanan, tak ada pekerjaan halal yang Kartika tolak. Namun, penyakit paru-paru yang menggerogoti tubuhnya setahun terakhir telah merenggut tenaganya. Batuk-batuk yang semakin sering, napas yang memburu hanya dengan sedikit aktivitas, semua itu adalah pengingat betapa gentingnya situasi mereka. Tiara tahu, ibunya menyimpan kekhawatiran yang sama besarnya, mungkin lebih besar, namun selalu berusaha tersenyum demi dirinya. Senyum yang kini terasa seperti topeng.
"Tiara, kenapa kamu melamun di teras?" suara serak Kartika menyentaknya dari lamunan. Ibunya berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen dengan napas terengah. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat. Tiara buru-buru menyembunyikan surat itu di balik punggungnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Kartika.
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya... memikirkan pekerjaan." Tiara mencoba tersenyum, senyum yang terasa kaku di bibirnya.
Kartika mendekat, tatapan matanya yang cekung menelusuri wajah putrinya. "Ibu tahu kamu sedang memikirkan masalah ini, Nak. Jangan terlalu dipikirkan. Kita pasti menemukan jalan keluarnya." Nada suaranya penuh keyakinan, namun Tiara bisa mendengar getaran samar di baliknya. Getaran yang mengisyaratkan keputusasaan.
"Jalan keluar apa, Bu?" Tiara tak bisa menahan diri. "Utang itu semakin menumpuk. Mereka bilang, kalau besok tidak dibayar..." Suaranya tercekat. Ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Kartika memeluk putrinya erat. "Kita akan cari, Nak. Kita akan cari." Air mata mulai menetes dari mata Kartika, membasahi bahu Tiara. Ini adalah pertama kalinya Tiara melihat ibunya menangis selemah ini. Pemandangan itu bagaikan pisau yang mengiris hatinya.
Malam itu, tidur tidak mau menyambangi Tiara. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, wajah ibunya yang pucat dan surat ancaman itu selalu membayang. Apa yang harus ia lakukan? Semua tabungannya, hasil kerja serabutan dari menjadi pelayan kafe hingga penjaga toko kelontong, tidak cukup. Jumlahnya bahkan tak sampai sepersepuluh dari total utang. Meminjam uang dari kerabat atau teman juga bukan pilihan. Mereka semua sama-sama kesulitan, dan Tiara tak ingin merepotkan siapa pun.
Di tengah kegelapan malam yang pekat, sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya, bagai percikan api di tengah tumpukan jerami basah. Adrian Wiratama. Pria itu... pria yang dulu pernah menyatakan ketertarikannya padanya, dengan cara yang tak pernah Tiara pahami sepenuhnya. Adrian adalah putra dari pemilik jaringan hotel mewah di kota itu, seorang pria yang jauh di atas "liganya", seperti yang selalu teman-teman Tiara katakan. Mereka bertemu beberapa kali secara tidak sengaja di kafe tempat Tiara bekerja dulu. Adrian selalu sopan, selalu memberikan senyum ramah, dan entah mengapa, selalu menemukan cara untuk berbicara dengannya lebih lama dari sekadar memesan kopi. Tiara tak pernah menganggapnya serius. Baginya, Adrian hanyalah pelanggan istimewa, seorang pria dari dunia lain yang tak mungkin bersentuhan dengannya.
Namun, beberapa minggu yang lalu, saat Tiara masih bekerja di kafe, Adrian datang dan duduk di meja favoritnya. Setelah Tiara mengantar pesanannya, Adrian memanggilnya kembali.
"Tiara," suaranya lembut, namun tegas. "Saya tidak tahu harus berkata apa, tapi... saya sangat tertarik padamu. Bukan sekadar tertarik sebagai pelanggan, tapi lebih dari itu."
Tiara saat itu hanya terdiam, terkejut. Ia tak tahu harus merespons apa.
Adrian melanjutkan, "Saya tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi saya serius. Jika suatu hari kamu membutuhkan bantuan, apa pun itu, jangan ragu untuk menghubungi saya. Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa." Ia lalu meninggalkan kartu namanya, selembar kartu elegan dengan logo perusahaan besar yang Tiara hanya bisa impikan. Di sana tertulis nama Adrian Wiratama dan nomor ponsel pribadinya.
Saat itu, Tiara hanya menganggapnya sebagai rayuan gombal pria kaya. Ia tak pernah berpikir untuk menghubungi Adrian. Namun kini, di ambang kehancuran, janji Adrian itu terngiang-ngiang di telinganya. "Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa."
Apakah ini gila? Meminta bantuan pada seorang pria yang hampir tidak ia kenal, seorang pria dari dunia yang berbeda? Namun, pilihan apa lagi yang ia miliki? Harga diri? Kehidupan ibunya jauh lebih berharga daripada harga dirinya yang remuk. Dengan tangan gemetar, Tiara meraih ponselnya, mencari kartu nama yang telah lama ia simpan di dompetnya, entah mengapa ia tak pernah membuangnya. Jantungnya berdebar kencang saat jari-jarinya menekan nomor yang tertera di sana.
Sambungan telepon berdering dua kali sebelum sebuah suara berat, namun ramah, menyambutnya. "Halo?"
"Adrian... Adrian Wiratama?" Suara Tiara serak, nyaris tak terdengar.
Ada jeda singkat di ujung telepon. "Ya, ini saya. Siapa ini?"
"Ini Tiara. Tiara Lestari," Tiara menyebutkan nama lengkapnya, meski ia tak yakin Adrian akan mengingatnya.
"Tiara? Astaga, Tiara! Apa kabar? Saya tidak menyangka kamu akan menelepon. Ada apa?" Ada nada antusiasme yang jelas dalam suara Adrian, seolah Tiara adalah orang yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
Tiara menarik napas dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Adrian, saya... saya butuh bantuan. Sangat butuh."
Adrian langsung sigap. "Bantuan apa? Katakan saja. Di mana kamu sekarang? Saya bisa menjemputmu."
Tiara ragu sejenak. "Saya... saya bisa menemuimu besok. Di tempat yang tidak terlalu ramai." Ia tak ingin masalahnya menjadi tontonan.
"Baiklah. Bagaimana kalau di kafe biasa kita bertemu? Jam sepuluh pagi?" Adrian terdengar memahami keraguannya.
"Baiklah," Tiara menyetujui. "Terima kasih, Adrian."
"Jangan berterima kasih dulu, Tiara. Kita belum tahu apa-apa. Sampai besok." Suara Adrian terdengar menenangkan, namun Tiara tahu, ia sedang melangkah ke dalam jurang yang tidak ia pahami.
Keesokan paginya, Tiara mengenakan pakaian terbaiknya, sebuah blus sederhana berwarna pastel dan celana jeans yang sudah agak usang. Ia mencoba tampil serapi mungkin, meski hatinya terasa seperti kain yang baru saja diremas-remas. Ia meninggalkan ibunya yang masih terlelap, setelah sebelumnya menuliskan catatan kecil bahwa ia akan pergi mencari pekerjaan tambahan. Ia tak ingin ibunya khawatir.
Kafe itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Aroma kopi yang kuat menyambutnya di pintu masuk. Adrian sudah duduk di meja sudut, dekat jendela, menyeruput kopi sambil membaca tablet. Ia mengenakan kemeja biru muda yang rapi dan celana bahan yang mahal. Aura kemewahan dan kepercayaan diri terpancar jelas dari dirinya. Tiara merasa canggung, sangat canggung. Ia merasa seperti sebuah objek yang asing di lingkungan yang terlalu gemerlap untuknya.
Adrian mengangkat kepala saat Tiara mendekat. Senyum hangat merekah di wajahnya. "Tiara, kamu datang." Ia berdiri, menarik kursi untuk Tiara. "Duduklah. Mau pesan apa?"
"Air putih saja, terima kasih," jawab Tiara pelan, matanya menghindari tatapan Adrian. Ia tak ingin membuang-buang uang Adrian.
Setelah pelayan datang dan pergi, keheningan menyelimuti mereka. Tiara merasa tenggorokannya kering, kata-kata tercekat di lidahnya. Adrian menunggu dengan sabar, tidak mendesak. Keheningan itu justru membuatnya semakin gelisah.
"Adrian," Tiara memulai, suaranya nyaris berbisik. "Saya... saya datang ke sini karena saya benar-benar putus asa." Ia akhirnya mengangkat kepala, menatap mata Adrian yang teduh. "Rumah kami... akan disita besok. Dan ibu saya... mereka mengancam akan membawanya jika kami tidak melunasi utang." Air matanya mulai menumpuk di pelupuk mata.
Adrian mendengarkan dengan saksama, raut wajahnya berubah serius. "Berapa utangnya, Tiara?"
"Tiga puluh juta," jawab Tiara, kepalanya tertunduk lagi. Angka itu terasa begitu besar, tak terjangkau.
Tiga puluh juta. Bagi Adrian, angka itu mungkin setara dengan harga satu setelan jasnya, atau bahkan kurang. Namun bagi Tiara, itu adalah jurang tak berdasar yang mengancam menelan seluruh kehidupannya.
Adrian mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. "Tiga puluh juta, ya..." Ia terdiam sejenak, membuat Tiara semakin gelisah. Apakah ia akan menolak? Apakah ia akan mengatakan itu terlalu besar?
Kemudian, Adrian mengangkat kepalanya, menatap Tiara lurus di mata. "Saya bisa membantumu, Tiara."
Kata-kata itu bagaikan embun sejuk di tengah gurun. Tiara mengangkat kepalanya, tatapan penuh harap terpancar dari matanya yang sembap. "Benarkah?"
Adrian mengangguk. "Tentu saja. Tapi... ada syaratnya."
Degup jantung Tiara kembali berpacu. Ia sudah menduga ini. Tidak ada makan siang gratis di dunia ini. "Syarat apa?" tanyanya hati-hati.
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya lekat pada Tiara. "Saya akan melunasi semua utangmu, Tiara. Tidak hanya tiga puluh juta itu, tapi semua yang membebani keluargamu. Dan saya akan memastikan ibumu mendapatkan perawatan medis terbaik, sampai ia sembuh total."
Mata Tiara melebar. Itu... itu jauh lebih dari yang ia harapkan. Beban di pundaknya terasa sedikit terangkat, namun ia tahu, pasti ada harga yang harus ia bayar.
"Sebagai gantinya," lanjut Adrian, suaranya sedikit mengeras, "kamu harus menjadi wanitaku."
Napas Tiara tercekat. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Menjadi wanitanya? Apa maksudnya itu? Menjadi kekasih? Atau... lebih dari itu? Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna makna di balik kata-kata Adrian. Apakah ini berarti ia harus... menyerahkan dirinya? Harga dirinya, kehormatannya, demi keselamatan ibunya?
"Apa... apa maksudmu 'menjadi wanitaku'?" Tiara memberanikan diri bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Adrian tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Maksudnya, kamu akan tinggal bersamaku. Aku akan menyediakan semuanya untukmu. Pakaian, makanan, tempat tinggal yang nyaman. Kamu tidak perlu lagi bekerja keras atau mengkhawatirkan apa pun. Kamu hanya perlu menemaniku, kapan pun aku menginginkannya."
Tiara merasakan darahnya berdesir dingin. Penjelasannya gamblang. Ia bukan diminta menjadi istri, bukan kekasih dalam arti romantis, melainkan... seorang wanita simpanan. Sebuah kesepakatan gelap, barter antara kebebasan ibunya dan harga dirinya.
"Tapi... Adrian, aku tidak mencintaimu," Tiara berbisik, air mata kembali menggenang.
Adrian mengedikkan bahu. "Cinta itu bisa tumbuh, Tiara. Atau, mungkin tidak. Bagiku, itu tidak penting. Yang penting, kamu bersedia. Kamu akan mendapatkan semua yang kamu butuhkan, dan ibumu akan aman. Hidupmu akan jauh lebih baik daripada sekarang. Pikirkan ibumu, Tiara. Pikirkan kesehatannya."
Kata-kata Adrian menghantam Tiara telak. Pikirkan ibumu. Pikirkan kesehatannya. Benar. Ibunya. Ibunya yang batuk-batuk setiap malam, ibunya yang wajahnya semakin kurus, ibunya yang sebentar lagi bisa diusir dari rumahnya sendiri. Dibandingkan dengan penderitaan ibunya, apa artinya harga dirinya yang remuk ini? Apakah kehormatan bisa membayar utang? Bisakah kehormatan menyelamatkan ibunya dari kematian?
Tidak.
Tiara memejamkan mata. Ia bisa merasakan air mata mengalir di pipinya, membasahi kerudungnya. Ini adalah keputusan tersulit dalam hidupnya. Keputusan yang akan mengubah segalanya. Ia akan menjual dirinya sendiri, demi ibunya. Demi wanita yang telah mengorbankan segalanya untuknya.
"Baiklah," Tiara berbisik, suaranya pecah. "Aku setuju."
Adrian tersenyum lebar, senyum kemenangan. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, meraih tangan Tiara yang gemetar. "Bagus, Tiara. Kamu membuat keputusan yang tepat. Aku akan mengurus semuanya hari ini juga. Kita akan langsung pergi ke notaris untuk membuat surat perjanjian, dan aku akan melunasi utangmu. Setelah itu, kamu bisa segera pindah ke apartemenku."
Tiara hanya mengangguk, terlalu lelah untuk berbicara. Tangannya terasa dingin di genggaman Adrian. Ia tahu, mulai saat ini, hidupnya tidak lagi menjadi miliknya sendiri. Ia telah menyerahkan kendali, demi sebuah harapan palsu akan kebahagiaan bagi ibunya.
Sore itu, semua berjalan begitu cepat, nyaris seperti mimpi buruk yang mengerikan. Adrian membawa Tiara ke kantor notaris, sebuah kantor megah di pusat kota. Di sana, sebuah dokumen panjang disiapkan, berisi rincian "kesepakatan" mereka. Tiara membaca sekilas, namun otaknya terlalu kalut untuk mencerna setiap pasal. Yang ia pahami hanyalah bahwa ia akan menjadi tanggungan Adrian, dan sebagai imbalannya, Adrian akan menanggung semua kebutuhan finansialnya dan ibunya. Tidak ada batasan waktu, tidak ada klausul yang melindungi hak-haknya sebagai individu. Ia hanyalah... properti.
Setelah itu, Adrian langsung melunasi utang rentenir ibunya. Tiara tidak ikut serta, Adrian menyuruhnya menunggu di mobil. Ia hanya menerima kabar dari Adrian melalui telepon bahwa semuanya sudah beres. Sebuah rasa lega kecil muncul, namun segera tertindih oleh rasa hampa yang membuncah.
Kemudian, mereka langsung menuju apartemen Adrian. Sebuah unit mewah di salah satu gedung pencakar langit paling prestisius di Jakarta. Luas, modern, dengan pemandangan kota yang memukau. Jauh berbeda dengan rumah kecil Tiara yang sudah usang. Di dalam apartemen itu, seorang asisten rumah tangga menyambut mereka.
"Tiara, ini Bi Sumi. Bi Sumi akan membantumu dengan semua kebutuhanmu di sini. Anggap saja ini rumahmu sendiri," kata Adrian dengan nada ceria, seolah-olah ia baru saja memberikannya hadiah.
Tiara hanya bisa mengangguk kaku. "Terima kasih."
Adrian tersenyum tipis. "Sekarang, istirahatlah. Aku harus mengurus beberapa pekerjaan. Nanti malam, kita akan makan malam bersama." Ia menepuk pundak Tiara lembut sebelum pergi, meninggalkan Tiara sendirian di apartemen asing yang terlalu besar untuknya.
Bi Sumi, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah, segera menghampiri Tiara. "Non Tiara pasti lelah, mari saya antar ke kamar. Tuan Adrian sudah menyiapkan semuanya."
Tiara mengikuti Bi Sumi ke sebuah kamar tidur yang luas, dengan kasur empuk dan pemandangan kota yang indah dari jendela. Lemari pakaian yang besar sudah terisi penuh dengan pakaian-pakaian baru yang bukan gayanya sama sekali. Pakaian mahal, gaun-gaun cantik yang ia tahu tak akan pernah ia kenakan dengan nyaman. Semuanya terasa asing, terlalu mewah, terlalu asing baginya. Ia merasa seperti boneka yang baru saja dibeli, ditempatkan di sebuah rumah boneka yang indah.
Tiara membiarkan dirinya jatuh di atas kasur, menatap langit-langit yang tinggi. Ini adalah awal dari kehidupan barunya. Kehidupan yang telah ia pilih, demi ibunya. Namun, hatinya terasa begitu kosong. Apakah ia akan bisa bertahan? Apakah ia akan bisa berpura-pura bahagia di tengah kemewahan yang ia benci ini?
Ia merindukan rumahnya yang kecil, kamar sempitnya, bahkan bau knalpot yang selalu ia keluhkan. Ia merindukan pelukan ibunya, tawa ibunya yang renyah sebelum penyakit itu datang. Ia merindukan dirinya yang dulu, Tiara Lestari, seorang gadis sederhana yang bermimpi bisa bekerja keras dan mengangkat derajat keluarganya. Kini, ia adalah Tiara, wanita simpanan Adrian Wiratama. Identitas baru yang terasa asing, namun tak bisa ia tolak.
Malam harinya, Adrian mengajak Tiara makan malam di restoran mewah. Tiara merasa tidak nyaman dengan gaun yang ia kenakan, terasa terlalu terbuka dan asing di kulitnya. Tatapan orang-orang di restoran itu terasa seperti sorotan lampu panggung, membuatnya ingin bersembunyi. Adrian tidak peduli. Ia terus berbicara tentang bisnisnya, tentang rencananya, seolah Tiara adalah teman kencan biasa. Adrian terlihat bahagia, entah karena ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya atau karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Setelah makan malam, Adrian membawanya kembali ke apartemen. Di ruang tamu, Adrian duduk di sofa, menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan Tiara untuk duduk. Tiara duduk dengan canggung, menjaga jarak. Adrian meraih tangannya, mengelus punggung tangannya dengan ibu jari.
"Tiara," Adrian berucap, suaranya lembut, "Mulai sekarang, kamu tidak perlu khawatir lagi tentang apa pun. Hidupmu akan nyaman. Kamu bisa meminta apa pun yang kamu inginkan. Tapi ingat, kamu adalah wanitaku. Dan aku berharap kamu akan selalu ada untukku."
Tiara merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia mengerti apa yang Adrian maksud dengan "selalu ada untukku". Malam itu, Tiara merasakan kehormatannya terkoyak, bersamaan dengan tubuhnya yang tak berdaya. Ia hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir, dan berpegangan erat pada satu-satunya alasan mengapa ia ada di sana: ibunya. Setiap sentuhan Adrian, setiap bisikan Adrian, terasa seperti harga yang harus ia bayar.
Hari-hari berikutnya, Tiara hidup dalam kemewahan yang terasa seperti sangkar emas. Ia memiliki semua yang ia inginkan, namun tak memiliki kebebasan. Ia jarang keluar dari apartemen, kecuali jika Adrian mengajaknya. Hidupnya berputar di sekitar Adrian. Ia harus selalu siap ketika Adrian pulang, harus mendengarkan ceritanya, harus menemaninya makan malam, dan harus memenuhi semua permintaannya.
Adrian memperlakukannya dengan baik secara materi. Pakaian-pakaian mewah, perhiasan, makanan enak. Ia tak pernah kasar, tak pernah membentak. Namun, kebaikan Adrian terasa dingin, transaksional. Adrian tidak pernah bertanya tentang perasaannya, tentang mimpinya, tentang apa yang ia inginkan. Ia hanyalah figur pelengkap, sebuah aksesori cantik di samping Adrian Wiratama.
Ia sering menelepon ibunya, berbohong bahwa ia mendapatkan pekerjaan bagus dengan gaji besar, dan ia tinggal di mess perusahaan. Ia mengirimkan uang rutin, memastikan ibunya mendapatkan perawatan medis terbaik. Setiap kali ibunya bercerita tentang kesehatannya yang membaik, tentang senyum yang kembali merekah di wajahnya, Tiara merasa sedikit terhibur. Inilah alasannya. Inilah harga yang ia bayar. Dan selama ibunya baik-baik saja, ia akan menanggung semua ini.
Namun, di lubuk hatinya, Tiara tahu bahwa ini bukanlah kehidupan yang ia inginkan. Ia merindukan kebebasan, kemandirian. Ia merindukan pekerjaan sederhananya, meski gajinya pas-pasan. Ia merindukan identitasnya sebagai Tiara Lestari, bukan "wanita Adrian Wiratama".
Beberapa bulan berlalu. Tiara mulai terbiasa dengan rutinitasnya. Ia telah beradaptasi, atau lebih tepatnya, menyerah. Ia telah membangun dinding tebal di sekeliling hatinya, mencoba untuk tidak merasakan apa-apa. Ia selalu berusaha tersenyum di depan Adrian, berpura-pura bahagia. Namun, ada satu hal yang tak pernah ia sangka akan terjadi.
Ia hamil.
Awalnya ia tak percaya. Ia selalu menjaga diri. Tapi tanda-tanda itu semakin jelas. Mual di pagi hari, nafsu makan yang berubah, dan perutnya yang mulai membesar. Ketakutan luar biasa mencengkeramnya. Anak Adrian? Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana ia bisa menghadapi ini?
Tiara menyembunyikan kehamilannya dari Adrian selama mungkin. Ia takut. Takut akan reaksi Adrian, takut akan masa depannya sendiri, dan yang paling menakutkan, masa depan bayinya. Ia tahu, Adrian adalah pria yang tidak terikat. Ia hanya seorang simpanan. Apa yang akan terjadi jika Adrian tahu? Apakah ia akan diusir? Bagaimana dengan ibunya?
Ketakutan itu terus menghantuinya. Ia mulai mencari informasi secara sembunyi-sembunyi tentang pilihan yang ia miliki. Aborsi? Gagasan itu membuatnya mual. Mengandung bayi ini sendirian? Bagaimana mungkin? Ia tidak memiliki apa-apa, kecuali "bantuan" Adrian yang bersyarat.
Hingga suatu pagi, saat Tiara sedang sarapan sendirian, Adrian pulang dengan wajah ceria yang tak biasa. Ia langsung menuju Tiara, duduk di sampingnya, dan meraih tangannya.
"Tiara, ada berita bagus!" katanya, matanya berbinar. "Aku akan menikah!"
Jantung Tiara berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya hancur berkeping-keping. Menikah? Adrian? Dengan siapa? Ia tak perlu bertanya. Ia sudah tahu. Itu pasti tunangannya, wanita yang ia sering dengar disebut-sebut Adrian dalam percakapannya, wanita yang ia abaikan selama ini.
"Menikah?" Suara Tiara terdengar seperti bisikan hantu.
Adrian mengangguk, senyumnya semakin lebar. "Ya! Akhirnya aku bisa menepati janji pada orang tuaku. Tunanganku, Clara, dia wanita yang baik. Pernikahan kami akan dilangsungkan bulan depan. Persiapannya sudah hampir selesai."
Adrian terus berbicara, bersemangat tentang rencana pernikahannya, tentang bulan madunya, tentang masa depannya dengan Clara. Sementara itu, Tiara merasa seperti dicampakkan ke dalam jurang yang gelap. Ini adalah saatnya. Adrian akan menghempaskannya bak kertas, seperti yang ia duga sejak awal. Ia hanya wanita simpanan, bukan kekasih, apalagi calon istri. Ia hanya alat, hiburan sementara.
"Jadi... apa artinya ini untukku, Adrian?" Tiara memberanikan diri bertanya, suaranya bergetar.
Adrian berhenti bicara, menatap Tiara, seolah baru menyadari keberadaannya. Senyumnya sedikit memudar. "Oh, itu... Tentu saja, kamu tidak perlu khawatir, Tiara. Aku akan tetap memberimu dukungan finansial. Tapi, tentu saja, kamu tidak bisa tinggal di sini lagi. Aku akan mencarikan tempat tinggal yang layak untukmu, dan kamu bisa kembali ke sana."
Tiara merasakan nyeri yang menusuk di dada. "Kembali?" Ia mengulang kata itu, seolah tak percaya. "Kembali ke mana? Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Adrian. Aku sudah meninggalkan semuanya demi kamu!"
"Jangan berlebihan, Tiara," Adrian berkata dengan nada datar, sedikit ketidaksabaran mulai terdengar dalam suaranya. "Kamu masih punya ibumu. Dan aku tetap akan menanggung biaya pengobatan ibumu. Aku sudah menepati janjiku, bukan? Kamu sudah diselamatkan. Kamu sudah aman. Sekarang, aku butuh fokus pada pernikahanku."
Air mata Tiara kembali mengalir deras. Ia merasa bodoh, begitu naif. Ia telah menyerahkan segalanya, mengorbankan harga dirinya, merelakan masa depannya, semua demi sebuah janji yang kini terasa begitu kosong. Ia hanyalah wanita simpanan, dan ia baru menyadari betapa kejamnya kenyataan itu. Ia telah dibuang, seperti sampah yang tak lagi dibutuhkan.
Dan yang paling menyakitkan, ia membawa benih Adrian di dalam rahimnya. Bayi ini, buah dari pengorbanannya, kini terasa seperti beban yang tak terhingga. Bagaimana ia bisa membesarkan anak ini sendirian? Tanpa ayah, tanpa dukungan, tanpa siapa-siapa?
Di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sebuah tekad membara di dalam diri Tiara. Ia tidak akan meminta belas kasihan lagi. Ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lebih jauh. Ia akan pergi. Pergi sejauh mungkin dari Adrian dan semua kenangan pahit ini. Ia akan membesarkan bayinya sendiri, apa pun risikonya.
Tiara berdiri, matanya menatap Adrian dengan pandangan yang tak pernah Adrian lihat sebelumnya. Tatapan yang penuh luka, namun juga penuh keberanian.
"Baiklah, Adrian," Tiara berkata, suaranya rendah namun tegas. "Aku akan pergi. Dan aku tidak akan meminta apa pun darimu lagi. Kamu bisa menikah dengan siapa pun yang kamu mau. Aku tidak akan mengganggu hidupmu."
Adrian terlihat sedikit terkejut dengan reaksi Tiara. Ia mungkin menyangka Tiara akan memohon, menangis, atau memaksakan diri untuk tetap tinggal. "Tiara, aku tidak bermaksud..."
"Tidak perlu menjelaskan apa pun," potong Tiara. "Semua sudah jelas."
Ia berbalik, berjalan menuju kamarnya. Adrian memanggil namanya, namun Tiara tidak menoleh. Ia mengemas barang-barangnya secepat mungkin. Hanya sedikit pakaian dan beberapa barang pribadi yang ia punya. Semua gaun mewah dan perhiasan yang Adrian berikan, ia tinggalkan. Ia tidak ingin membawa apa pun yang mengingatkannya pada Adrian.
Sebelum meninggalkan apartemen itu, Tiara menulis sebuah pesan singkat di atas secarik kertas, meletakkannya di meja samping tempat tidur Adrian.
"Aku pergi. Jangan mencariku."
Tanpa menoleh ke belakang, Tiara meninggalkan apartemen mewah itu, meninggalkan semua kemewahan yang terasa menjerat. Ia melangkah keluar, kembali ke jalanan Jakarta yang hiruk pikuk, kini dengan beban baru di rahimnya, namun dengan tekad baja di hatinya. Ia tahu, ia harus berjuang. Demi dirinya, dan demi benih yang ia kandung. Ia tidak akan lagi menjadi Tiara yang pasrah. Ia akan mencari keadilan, meski harus merangkak dari dasar jurang.
Langkah Tiara terasa berat, namun tak ada keraguan dalam hatinya saat ia meninggalkan gemerlap apartemen Adrian. Ia tak menoleh, tak sekalipun tergoda untuk kembali pada kemewahan yang terasa seperti belenggu. Udara malam Jakarta yang pengap terasa dingin di kulitnya, seolah ikut merasakan kehampaan yang ia bawa. Di dalam tas kecilnya, hanya ada beberapa lembar pakaian dan satu-satunya harta berharga: kartu identitasnya. Segala perhiasan dan pakaian mahal yang Adrian berikan ia tinggalkan. Ia tak ingin membawa sehelai benang pun yang bisa mengingatkannya pada sangkar emas itu.
Tujuannya hanya satu: rumah kecilnya, tempat ibunya berada. Ia tahu ia harus menghadapi ibunya, menjelaskan mengapa ia kembali secepat ini setelah "mendapat pekerjaan bagus." Kebohongan yang ia rajut kini harus diurai, namun ia belum siap mengungkapkan kebenaran pahit tentang statusnya sebagai wanita simpanan. Terlalu memalukan, terlalu menyakitkan, dan ia tak ingin membebani ibunya lebih jauh.
Tiara tiba di rumah saat dini hari. Lampu di teras masih menyala redup, seolah menunggunya. Ia mendorong pintu gerbang yang sedikit reyot, melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Namun, ibunya, Kartika, sudah terbangun. Sosoknya yang kurus berdiri di ambang pintu, matanya yang cekung menatap Tiara dengan campuran kekhawatiran dan kelegaan.
"Tiara? Kamu sudah pulang? Kenapa tidak bilang?" Suara Kartika serak, namun ada nada syukur di dalamnya. Ia memeluk putrinya erat, pelukan yang terasa begitu hangat dan tulus, berbeda jauh dengan sentuhan dingin Adrian.
Tiara menahan air matanya agar tidak tumpah. "Maaf, Bu. Tadi mendadak ada lembur, jadi tidak sempat kabari Ibu." Kebohongan pertama meluncur mulus dari bibirnya, terasa begitu pahit.
Kartika menghela napas lega. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Ibu sempat khawatir." Ia melepaskan pelukannya, menatap Tiara dengan cermat. "Kamu terlihat pucat sekali, Nak. Apa pekerjaanmu seberat itu?"
"Mungkin hanya kelelahan, Bu," jawab Tiara, mencoba tersenyum tipis. "Besok saya izin tidak masuk kerja." Ia harus memikirkan langkah selanjutnya. Bagaimana ia akan memberitahu ibunya tentang kehamilannya? Dan bagaimana ia akan menjelaskan bahwa ia telah berhenti dari "pekerjaan bagus" itu?
Malam itu, Tiara tidur di samping ibunya. Aroma minyak angin dan obat-obatan yang biasa tercium di kamar itu kini terasa begitu menenangkan. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan fisik dan mental merayapi tubuhnya. Ia harus kuat. Demi dirinya, demi bayinya, dan demi ibunya.
Keesokan harinya, Tiara mencoba mencari cara untuk menjelaskan situasi kehamilannya. Ia tahu, ibunya adalah wanita kolot yang sangat menjunjung tinggi norma dan agama. Mendengar putrinya hamil di luar nikah pasti akan menjadi pukulan berat bagi Kartika, yang selama ini selalu membanggakan Tiara sebagai anak satu-satunya yang patuh.
"Bu," Tiara memulai, saat mereka sedang sarapan sederhana, "saya... ada yang ingin saya katakan." Jantungnya berdegup kencang.
Kartika meletakkan sendoknya, menatap putrinya dengan tatapan khawatir. "Ada apa, Nak? Wajahmu tegang sekali."
Tiara menarik napas dalam-dalam. "Saya... saya hamil, Bu." Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menutup matanya, menunggu reaksi ibunya.
Hening. Sunyi sekali. Bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Tiara membuka matanya perlahan. Kartika duduk terpaku, sendoknya terjatuh dari tangannya, matanya terbelalak tak percaya. Wajahnya yang semula pucat kini semakin memutih.
"Hamil?" bisik Kartika, suaranya tercekat. "Bagaimana bisa, Nak? Dengan siapa? Kamu... kamu belum menikah!"
Tiara merasakan air matanya kembali mengalir. "Maafkan saya, Bu. Saya... saya melakukan kesalahan." Ia tak sanggup menyebut nama Adrian. Ia tak sanggup menceritakan semua detail kotor itu.
Kartika bangkit dari duduknya, berjalan mendekat, dan memeluk Tiara erat. Bukan pelukan marah, melainkan pelukan putus asa yang campur aduk. "Astaga, Nak... kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana nanti? Apa kata orang?" Kartika mulai terisak. "Siapa ayah dari anakmu?"
"Saya tidak ingin membicarakannya, Bu," Tiara berbisik, membalas pelukan ibunya. "Yang penting sekarang, saya harus bertanggung jawab. Saya akan membesarkan anak ini, Bu."
Kartika melepaskan pelukannya, menatap Tiara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekecewaan, kesedihan, namun juga kasih sayang yang tak terbatas. "Tentu saja, Nak. Ibu akan selalu mendukungmu. Tapi kamu tidak bisa sendirian. Kita harus pikirkan ini."
Beberapa hari berikutnya, suasana di rumah terasa begitu berat. Kartika seringkali melamun, sesekali menghela napas panjang. Tiara bisa merasakan beban yang ia timbulkan pada ibunya. Namun, ia juga melihat kekuatan Kartika. Ibunya tidak mencaci maki, tidak menghakimi. Ibunya hanya berpikir keras mencari solusi.
Suatu sore, saat Tiara sedang membantu Kartika menyiapkan makan malam, Kartika berbicara. "Tiara," panggilnya lembut. "Ibu sudah memikirkan ini matang-matang. Kamu tidak bisa membesarkan anak tanpa ayah, Nak. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Akan sulit bagimu, dan juga bagi anakmu nanti."
Tiara menunduk. Ia tahu itu. Ia sudah memikirkannya berulang kali. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Ada... ada seorang pria yang sudah lama mengenal keluarga kita," lanjut Kartika, suaranya sedikit ragu. "Namanya Bagus. Dia pekerja keras, baik hati, dan sangat menghormati Ibu. Dia sudah lama menjodohkan diri denganmu, sejak dulu. Tapi Ibu tahu kamu tidak tertarik."
Bagus. Tiara ingat pria itu. Tetangga lama mereka, seorang tukang reparasi elektronik yang sederhana. Pria itu memang baik, selalu membantu jika ada kerusakan di rumah mereka. Ia memang pernah mendengar selentingan bahwa Bagus tertarik padanya, namun Tiara tidak pernah menganggapnya serius. Ia hanya menganggapnya sebagai teman baik.
"Bagus?" Tiara mengangkat kepala, terkejut. "Tapi, Bu... dia tahu saya hamil?"
Kartika mengangguk perlahan. "Ibu sudah memberitahunya. Ibu tidak berani berbohong. Dan dia... dia mau menerimamu, Nak. Dia mau menerima anakmu, bahkan jika itu bukan darah dagingnya."
Tiara terdiam, membeku. Menerima? Seorang pria yang tahu ia hamil di luar nikah, dan masih mau menikahinya? Ini sungguh mengejutkan. Apakah ini solusi yang terbaik? Menikah dengan pria yang tidak ia cintai, pria yang menerima dirinya dengan segala "kekurangan"nya, demi menyelamatkan nama baik keluarganya dan memberikan sosok ayah bagi anaknya?
Pilihan itu terasa pahit, namun realistis. Ia tidak bisa egois. Ia harus memikirkan bayinya, dan ibunya.
"Bagaimana, Nak?" tanya Kartika, suaranya penuh harap. "Pikirkan baik-baik. Ini demi masa depanmu dan masa depan anakmu."
Tiara memejamkan mata. Ia membayangkan Adrian, pria yang telah menghancurkannya. Ia membayangkan hidupnya sendirian, membesarkan seorang anak tanpa dukungan siapa pun. Lalu ia membayangkan Bagus, pria sederhana yang menawarkan sebuah rumah dan nama, meski tanpa cinta.
"Baiklah, Bu," Tiara akhirnya berucap, suaranya lemah. "Saya... saya mau menikah dengan Bagus."
Kartika langsung memeluk Tiara erat, air mata kelegaan membasahi pipinya. "Terima kasih, Nak. Terima kasih. Ibu tahu ini berat untukmu."
Pernikahan Tiara dan Bagus dilangsungkan secara sederhana. Tidak ada pesta besar, hanya akad nikah yang dihadiri oleh keluarga dekat dan tetangga. Tiara mengenakan kebaya sederhana, wajahnya terlihat pucat di balik riasan tipis. Bagus, di sisi lain, terlihat tulus dan bahagia. Ia mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan mantap, tatapannya penuh kasih sayang saat menatap Tiara.
Tiara tahu, Bagus benar-benar tulus. Pria itu memang baik. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba menjadi istri yang baik bagi Bagus, meskipun hatinya masih terasa hampa.
Setelah menikah, Tiara pindah ke rumah Bagus, yang tak jauh dari rumah ibunya. Rumah itu sederhana, namun bersih dan rapi. Bagus adalah pria pekerja keras. Ia selalu pulang malam, membawa sedikit uang dari hasil reparasi elektronik. Tiara berusaha menjalani perannya sebagai istri. Ia memasak, membersihkan rumah, dan merawat Bagus.
Beberapa bulan kemudian, Tiara melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Ia menamai putranya Rafan. Saat pertama kali melihat Rafan, hati Tiara luluh. Semua rasa sakit, semua pengorbanan, terasa sepadan. Rafan adalah segalanya baginya. Wajahnya yang mungil, tangisnya yang nyaring, jari-jari kecilnya yang menggenggam erat jarinya – semua itu mengisi kekosongan dalam hati Tiara.
Kartika adalah nenek yang sangat bahagia. Ia sering datang berkunjung, membantu Tiara merawat Rafan. Bagus juga berusaha menjadi ayah yang baik. Ia bekerja keras untuk menafkahi keluarga, dan sesekali ia menggendong Rafan. Namun, Tiara bisa merasakan, ada sekat tak terlihat antara Bagus dan Rafan. Tatapan Bagus pada Rafan, meskipun tidak kasar, terasa... jauh. Ada sesuatu yang hilang.
Seiring berjalannya waktu, sekat itu semakin terlihat jelas. Bagus tidak pernah bermain-main dengan Rafan. Ia jarang tersenyum pada putranya. Jika Rafan menangis di malam hari, Bagus seringkali menggerutu, menyuruh Tiara untuk segera menenangkan anak itu. Ia tidak pernah mendekati Rafan saat Rafan sakit, atau saat Rafan merengek minta digendong. Semua tanggung jawab merawat Rafan ada di pundak Tiara.
"Bagus," Tiara pernah mencoba berbicara lembut, suatu malam setelah Rafan tertidur. "Rafan anakmu juga. Kenapa kamu tidak pernah mengajaknya bermain?"
Bagus menghela napas. "Aku sibuk bekerja, Tiara. Lagipula, dia anak kecil. Kamu saja yang urus. Sudah jadi kewajiban ibu, kan?"
Hati Tiara mencelos. Kewajiban ibu? Apakah Bagus lupa bahwa ia telah berjanji untuk menerima Rafan sebagai anaknya sendiri? Tiara tahu, Bagus tidak mencintai Rafan seperti ayahnya sendiri. Mungkin karena Rafan bukan darah dagingnya, mungkin karena ada bayang-bayang masa lalu Tiara yang gelap. Ini adalah bagian dari "harga" yang harus ia bayar.
Meskipun demikian, Tiara tidak pernah menyerah. Ia berjuang seorang diri untuk membesarkan Rafan. Ia kembali bekerja serabutan, di sela-sela mengurus rumah dan Rafan. Dari mencuci baju tetangga, membuat kue untuk dijual di pasar, hingga menjadi buruh cuci piring di warung makan. Ia tak peduli dengan rasa lelah atau pandangan orang lain. Yang penting, Rafan harus makan, harus sehat, harus sekolah.
Rafan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan ceria, meski ia terlihat sering mencari perhatian dari Bagus yang dingin. Tiara selalu berusaha mengisi kekosongan itu dengan kasih sayang berlimpah. Ia adalah ayah sekaligus ibu bagi Rafan. Ia adalah dunia bagi Rafan.
"Mama, Ayah Bagus tidak sayang Rafan, ya?" tanya Rafan suatu sore, saat usianya menginjak lima tahun. Pertanyaan polos itu menusuk hati Tiara.
Tiara memeluk Rafan erat. "Tidak, Nak. Ayah Bagus sayang Rafan, kok. Ayah Bagus cuma sibuk bekerja untuk kita." Ia berbohong, lagi. Demi melindungi perasaan putranya.
"Tapi Ayah tidak pernah peluk Rafan seperti Mama," Rafan merengek, matanya berkaca-kaca.
Tiara mengusap rambut Rafan. "Ayah Bagus kan laki-laki, Nak. Laki-laki memang begitu. Yang penting, Mama sayang Rafan sekali."
Tahun-tahun berlalu, Tiara terus berjuang. Ia sering merasa lelah, sangat lelah. Fisiknya terkuras, hatinya terkadang hancur. Namun, melihat senyum Rafan, mendengar tawa Rafan, semua lelah itu terasa hilang. Rafan adalah sumber kekuatannya, satu-satunya alasan ia terus bertahan.
Kartika, yang kesehatannya mulai menurun lagi, sering menasihati Tiara. "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Nak. Jangan terus-menerus memikul semuanya sendirian."
"Kalau bukan saya, siapa lagi, Bu?" jawab Tiara lirih. Ia tidak bisa meminta lebih dari Bagus.
Suatu hari, saat Rafan menginjak usia tujuh tahun, sebuah insiden kecil terjadi. Rafan jatuh dari sepeda saat bermain di depan rumah, lututnya berdarah. Tiara panik, segera membopong Rafan masuk. Bagus yang sedang membaca koran di teras hanya melirik sekilas, tanpa menunjukkan reaksi berarti.
"Aduh, Rafan! Kamu kenapa, Nak?" Tiara membersihkan luka Rafan dengan hati-hati.
Rafan menangis. "Sakit, Ma... Ayah tidak mau tolong."
Hati Tiara terasa perih. Ia menatap Bagus yang kini sudah kembali fokus pada korannya. "Bagus, bisakah kamu bantu ambilkan obat merah di kotak P3K?" Tiara mencoba bersuara setenang mungkin.
Bagus mendengus. "Kamu saja, Tiara. Aku sedang membaca."
Tiara menahan amarahnya. Ini bukan pertama kalinya Bagus menunjukkan sikap dinginnya pada Rafan. Ia bangkit, mengambil kotak P3K sendiri, dan mengobati luka Rafan. Rafan hanya menatap Ayah Bagus dengan mata berkaca-kaca. Tiara bisa merasakan kekecewaan di mata putranya.
Malam itu, setelah Rafan tertidur, Tiara mendekati Bagus yang sedang menonton televisi. "Bagus, aku mau bicara serius."
Bagus menghela napas, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Apa lagi, Tiara? Aku lelah."
"Kamu tidak pernah menyayangi Rafan, kan?" Tiara bertanya langsung, ia sudah tidak bisa menahan diri. "Kamu hanya mau menikahiku karena kasihan pada Ibu, bukan karena kamu benar-benar mau menerima Rafan."
Bagus mematikan televisi, menatap Tiara dengan tatapan dingin. "Apa yang kamu harapkan, Tiara? Dia bukan darah dagingku. Aku sudah cukup baik menerimamu dan anakmu. Jangan menuntut lebih."
Kata-kata itu menghantam Tiara seperti pukulan telak. "Kamu berjanji, Bagus! Kamu berjanji akan menerimanya sebagai anakmu sendiri!"
"Janji itu hanya di mulut, Tiara!" Bagus membentak. "Aku hanya berusaha menolong. Tapi aku tidak bisa memaksakan perasaanku. Lagipula, dia anak dari pria lain, kan? Anak dari pria yang sudah mencampakkanmu!"
Tiara merasakan pipinya memanas. Air mata mulai menetes. "Jangan ungkit masa lalu itu! Itu bukan salah Rafan!"
"Ya, itu bukan salahnya," Bagus berkata datar. "Tapi itu salahmu! Salahmu yang sudah hamil di luar nikah! Aku sudah cukup berkorban untukmu dan keluargamu!"
Tangisan Tiara pecah. Ia tidak menyangka Bagus akan berbicara sekejam itu. Selama ini ia berusaha untuk menjadi istri yang baik, berusaha untuk melupakan masa lalu yang kelam, dan berusaha menciptakan keluarga yang utuh bagi Rafan. Namun, kata-kata Bagus telah meruntuhkan semua harapannya.
Malam itu, Tiara menangis dalam diam di kamarnya, memeluk Rafan yang terlelap. Ia merasa begitu sendirian. Ia telah mengorbankan segalanya, namun tetap saja, ia dan putranya tak pernah benar-benar diterima. Ia merasa bodoh karena telah percaya pada kesepakatan itu. Kesepakatan yang berujung pada penderitaan yang tak ada habisnya.
Beberapa tahun kemudian, hidup Tiara masih berputar pada rutinitas perjuangan. Rafan tumbuh menjadi anak yang pendiam di rumah, namun ceria di sekolah. Tiara selalu memastikan Rafan tidak pernah kekurangan kasih sayang darinya. Ia bekerja lebih keras, mengambil pekerjaan tambahan sebagai buruh cuci di beberapa rumah sekaligus. Tangannya seringkali melepuh, punggungnya pegal, namun ia tak peduli.
Suatu hari, saat Tiara sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu rumah tempat ia bekerja, Rafan tiba-tiba demam tinggi. Tubuhnya menggigil, dan ia mulai batuk-batuk. Tiara panik. Ia segera membawa Rafan ke puskesmas terdekat.
Dokter mengatakan Rafan terkena demam berdarah dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Tiara merasakan dunianya runtuh. Ia tidak punya uang sebanyak itu. Tabungannya sangat sedikit, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia mencoba menelepon Bagus, namun ponselnya tidak aktif.
Dengan putus asa, Tiara menelepon ibunya. Kartika segera datang, wajahnya pucat pasi. "Bagaimana ini, Nak? Kita tidak punya uang sebanyak itu."
Tiara menggenggam tangan Rafan yang panas. "Saya akan mencari pinjaman, Bu. Saya akan melakukan apa saja."
Ia mencoba menghubungi beberapa kerabat, namun hasilnya nihil. Semua memiliki kesulitan masing-masing. Ia mencoba meminta tolong pada tetangga, namun mereka juga tidak memiliki uang sebanyak itu. Waktu terus berjalan, dan kondisi Rafan semakin memburuk.
Di tengah keputusasaannya, pikiran Tiara kembali melayang pada masa lalu, pada nama yang pernah ia coba kubur dalam-dalam: Adrian Wiratama. Ia memaki dirinya sendiri karena memikirkan pria itu lagi. Pria yang telah mencampakkannya, pria yang telah menghancurkan hidupnya. Namun, ia tak punya pilihan lain. Hanya Adrian yang punya kekuasaan dan uang sebanyak itu.
Dengan tangan gemetar, Tiara mencari-cari di dalam dompet lamanya, tempat ia menyimpan kartu nama Adrian yang dulu. Ia masih menyimpannya, entah mengapa. Ia menemukan kartu itu, sedikit lusuh, namun masih terbaca jelas. Nomor ponsel Adrian. Ia menatap kartu itu, ragu. Apakah ia harus mengubur harga dirinya sekali lagi? Apakah ia harus kembali meminta belas kasihan pada pria yang telah menyakitinya?
Melihat wajah Rafan yang pucat dan napasnya yang terengah-engah, Tiara tahu ia tidak punya pilihan. Harga dirinya tidak sebanding dengan nyawa putranya.
Dengan air mata berlinang, Tiara meminjam ponsel ibunya, karena ponselnya sendiri sudah kehabisan pulsa. Jari-jarinya menekan nomor Adrian, nomor yang dulu ia hapus dari kontaknya, namun kini ia ketikkan lagi dengan gemetar.
Sambungan telepon berdering. Satu kali, dua kali, tiga kali... Tiara merasakan ketegangan menjalar di sekujur tubuhnya. Apakah Adrian akan mengangkatnya? Apakah ia akan menolaknya? Atau lebih buruk lagi, apakah ia akan mengejeknya?
Akhirnya, sebuah suara familier menyahut dari ujung telepon. "Halo?" Suara Adrian. Sama seperti yang ia ingat.
"Adrian... ini Tiara." Suara Tiara serak, menahan tangis.
Ada jeda singkat di ujung telepon. "Tiara? Ada apa? Tumben sekali kamu meneleponku." Nada suara Adrian terdengar dingin, tak ada lagi kehangatan yang dulu ia tunjukkan saat mereka pertama kali bertemu.
"Adrian, saya... saya butuh bantuanmu," Tiara berkata, menelan ludah. "Anak saya... Rafan... dia sakit parah. Demam berdarah. Dia butuh perawatan intensif. Saya tidak punya uang, Adrian. Tolong... tolong saya."
Hening lagi. Lebih lama dari sebelumnya. Tiara menunggu dengan napas tertahan. Ia bisa mendengar jantungnya berdegup kencang di telinganya.
"Anakmu?" Adrian akhirnya berbicara, nada suaranya terdengar... aneh. Ada sedikit nada terkejut, atau mungkin ketidakpercayaan. "Kau punya anak?"
"Ya, Adrian. Anakku," Tiara berkata, matanya menatap Rafan yang terbaring lemah. "Tolong, Adrian. Ini darurat. Dia butuh pertolongan sekarang juga."
"Baiklah," Adrian berkata tiba-tiba, nada suaranya berubah menjadi lebih tegas dan cepat. "Aku akan segera ke sana. Kirimkan alamat rumah sakitnya. Tunggu aku."
Tiara merasakan sedikit kelegaan, namun juga ketakutan. Adrian akan datang. Pria itu. Ayah biologis Rafan. Pertemuan ini pasti akan rumit. Tapi ia tak punya pilihan. Demi Rafan, ia akan menghadapi apa pun. Ia hanya berharap Adrian akan menolong putranya, dan setelah itu, ia akan kembali ke dunianya, dan Tiara akan kembali ke perjuangannya.
Tiara segera mengirimkan alamat rumah sakit dan nomor kamar Rafan kepada Adrian. Ia duduk di samping Rafan, mengusap dahi putranya, dan berdoa dalam hati. Semoga kali ini, ada keadilan untuknya. Semoga kali ini, ia tidak lagi dicampakkan. Ia hanya ingin putranya selamat.
Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Tiara di ruang tunggu rumah sakit. Setiap detik bagaikan jarum jam yang menusuk hatinya. Rafan, putranya yang berharga, terbaring lemah di dalam. Ibunya, Kartika, duduk di sampingnya, terus melafalkan doa-doa. Tiara mencoba menenangkan dirinya, namun cemas yang mendalam mencengkeram. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Adrian. Pria itu akan datang. Pria yang adalah ayah biologis Rafan, namun tak pernah mengetahui keberadaannya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang mantap mendekat. Tiara mengangkat kepala. Di ambang pintu bangsal, berdiri Adrian Wiratama. Aura dominasi dan kemewahan masih terpancar kuat darinya, seolah waktu tak mampu mengikisnya sedikit pun. Ia mengenakan setelan jas bisnis yang rapi, rambutnya tertata sempurna, dan tatapan matanya tajam. Ia memang terlihat lebih dewasa, mungkin sedikit lebih berisi, namun pesonanya tetap tak terbantahkan.
Jantung Tiara berdebar tak karuan. Ia merasakan perpaduan antara lega karena pertolongan yang datang, dan takut yang mencekam akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Adrian menatapnya, tatapan matanya menyiratkan keterkejutan, mungkin juga sebuah pertanyaan tanpa suara. Kartika, yang mengenali Adrian sebagai pria yang pernah "menyelamatkan" mereka dari utang, segera berdiri.
"Tuan Adrian," sapa Kartika sopan, sedikit membungkuk.
Adrian mengangguk tipis, pandangannya tak lepas dari Tiara. "Tiara, anakmu yang mana?" tanyanya tanpa basa-basi, suaranya dalam dan menuntut.
Tiara menunjuk ke arah kamar Rafan yang tirainya sedikit terbuka. "Di dalam, Adrian. Dia butuh penanganan segera."
Tanpa menunggu persetujuan, Adrian melangkah masuk. Tiara dan Kartika mengikutinya. Di dalam, Rafan terbaring di ranjang, wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan napasnya pendek-pendek. Sebuah infus terpasang di lengannya yang kecil. Melihat kondisi putranya, hati Tiara terasa perih.
Adrian mendekati ranjang Rafan, menatap anak itu dengan seksama. Ada kerutan di dahinya, seolah ia sedang memproses sesuatu. Ia lalu menoleh ke Tiara. "Siapa nama anak ini?"
"Rafan," jawab Tiara lirih.
Adrian tak berkomentar. Ia segera mengeluarkan ponselnya, menelepon seseorang. Suaranya terdengar tegas dan cepat, memerintahkan sesuatu yang Tiara tak bisa dengar jelas. Beberapa saat kemudian, seorang dokter dan beberapa perawat tergesa-gesa masuk ke kamar.
"Tuan Adrian," sapa dokter itu dengan hormat. "Ada yang bisa kami bantu?"
"Pasien ini, Rafan," kata Adrian menunjuk Rafan. "Saya ingin dia ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini. Lakukan semua yang diperlukan, tanpa memikirkan biaya. Saya akan menanggung semuanya. Jika ada kendala, laporkan langsung pada saya."
Dokter mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Kami akan segera mengurusnya."
Tiara menatap Adrian dengan takjub. Pria itu memang berkuasa. Dengan satu panggilan telepon, situasi Rafan langsung ditangani dengan prioritas tinggi. Rasa syukur memenuhi hatinya, namun juga rasa malu yang mendalam. Ia masih harus bergantung pada pria ini.
Adrian berbalik menatap Tiara. "Kamu tunggu di luar. Aku akan berbicara dengan dokter."
Tiara dan Kartika kembali ke ruang tunggu. Tak lama kemudian, Adrian keluar, raut wajahnya tetap tegar. "Dia akan baik-baik saja. Dokter mengatakan mereka akan melakukan yang terbaik."
"Terima kasih, Adrian," Tiara berkata tulus. "Saya... saya tidak tahu harus berterima kasih bagaimana."
Adrian hanya melambaikan tangan. "Tidak perlu. Sekarang, kita perlu bicara." Ia menatap Kartika. "Maaf, Bu, bisakah Anda meninggalkan kami berdua sebentar?"
Kartika mengangguk, memahami situasi, dan beranjak pergi. Tiara dan Adrian kini hanya berdua di ruang tunggu yang sepi.
"Jadi," Adrian memulai, tatapannya lekat pada Tiara. "Anak itu... Rafan. Apakah dia anakku?"
Pertanyaan itu menghantam Tiara seperti badai. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Ia bisa berbohong, mengatakan bukan. Tapi, melihat bagaimana Adrian telah bertindak cepat demi Rafan, dan juga menyadari kemiripan wajah Rafan dengan Adrian yang samar-samar, kebohongan itu akan sia-sia. Lagipula, Tiara sudah terlalu lelah dengan kebohongan.
"Ya, Adrian," Tiara menjawab, suaranya gemetar. "Dia putramu."
Adrian terdiam. Ada campuran emosi di matanya: terkejut, marah, dan... sesuatu yang lain, yang tak bisa Tiara identifikasi. "Kenapa kamu tidak memberitahuku? Kenapa kamu menyembunyikannya selama ini?" Nada suaranya dingin, menuntut.
"Untuk apa? Agar kamu mencampakkanku dan anak ini sama seperti kamu mencampakkanku saat aku hamil?" Tiara tak bisa menahan diri, nada suaranya berubah pahit. "Kamu pikir aku mau meminta belas kasihan darimu? Aku pergi karena aku tidak ingin menjadi beban bagimu. Aku tidak ingin anakku tumbuh dengan mengetahui bahwa ayahnya adalah pria yang bahkan tidak menginginkannya!"
Adrian mengepalkan tangannya. "Aku tidak mencampakkanmu, Tiara. Aku hanya... aku hanya harus menikahi tunanganku. Itu sudah menjadi komitmen sejak lama. Dan jika kamu memberitahuku tentang anak ini, semuanya akan berbeda."
"Berbeda bagaimana, Adrian?" Tiara tersenyum pahit. "Apa kamu akan meninggalkanku dan membiarkan anak ini tumbuh tanpa sosok ayah? Atau kamu akan menikah denganku dan merusak reputasimu? Jangan munafik, Adrian. Kamu sudah memilih hidupmu sendiri."
Adrian menghela napas panjang. "Baiklah, itu masa lalu. Yang penting sekarang adalah Rafan. Aku akan bertanggung jawab penuh atas anakku."
"Bertanggung jawab?" Tiara tertawa sinis. "Kamu bahkan tidak pernah tahu dia ada sampai sekarang! Aku yang membesarkannya sendirian, Adrian. Aku yang berjuang mati-matian agar dia bisa hidup layak. Kamu tidak punya hak untuk tiba-tiba muncul dan berkata akan bertanggung jawab!"
"Aku ayahnya, Tiara!" suara Adrian meninggi, ia bangkit dari duduknya. "Dan aku akan mengambil alih hak asuh anakku."
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar. "Apa?" Tiara melompat berdiri, matanya membelalak tak percaya. "Tidak! Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah menyerahkan Rafan padamu!"
"Kamu tidak punya pilihan, Tiara," Adrian berkata dengan dingin. "Kamu tidak punya uang, kamu tidak punya pekerjaan tetap. Bagaimana kamu bisa menjamin masa depan anakku? Aku bisa memberikan segalanya untuknya. Pendidikan terbaik, kehidupan yang layak, dan semua yang tidak bisa kamu berikan."
"Aku memang miskin, Adrian!" Tiara membalas, air mata mengalir deras di pipinya. "Tapi aku memberinya cinta! Aku memberinya kasih sayang! Sesuatu yang tidak pernah bisa kamu berikan! Kamu hanya ingin merebutnya dariku!"
"Aku akan memberinya masa depan yang lebih baik!" Adrian bersikeras. "Dia berhak mendapatkan yang terbaik. Dan itu bukan bersamamu, Tiara, dalam kemiskinan dan kesulitan ini."
Perdebatan mereka menarik perhatian beberapa perawat yang lewat. Tiara tak peduli. Hatinya sakit, marah, dan takut menjadi satu. Ia tidak akan pernah menyerahkan Rafan. Ia telah berjuang terlalu keras untuk putranya.
"Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu, Adrian," Tiara berkata tegas, suaranya penuh tekad. "Aku akan melawannya, sampai titik darah penghabisan."
Adrian hanya menyeringai tipis. "Kita lihat saja, Tiara. Ingat, aku punya segalanya. Kamu tidak punya apa-apa."
Percakapan itu berakhir tanpa solusi. Adrian tetap di rumah sakit, memastikan Rafan mendapatkan penanganan terbaik. Tiara hanya bisa melihatnya dari jauh, hatinya dipenuhi ketakutan akan ancaman Adrian.
Hari-hari berikutnya di rumah sakit terasa seperti neraka bagi Tiara. Rafan mulai membaik, namun Adrian tak pernah pergi. Ia selalu ada di sana, di samping Rafan. Adrian selalu membawa makanan enak, mainan baru, dan buku cerita untuk Rafan. Ia berbicara dengan Rafan, mencoba membangun ikatan. Rafan, yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari sosok ayah, tampak menikmati kehadiran Adrian. Melihat interaksi mereka, hati Tiara terasa tercabik. Ia bahagia Rafan mendapatkan perhatian, namun ia juga takut bahwa Rafan akan berpaling darinya.
Adrian memanfaatkan momen itu untuk mendekati Rafan, membangun koneksi, seolah ingin menunjukkan bahwa ia adalah "ayah" yang lebih baik. Ia bahkan seringkali membicarakan masa depan Rafan di depan Tiara, tentang sekolah-sekolah elit, tentang kursus-kursus yang mahal, semua hal yang Tiara tahu ia tak akan pernah bisa berikan. Itu adalah bentuk tekanan halus, pengingat akan ketidakmampuannya.
Suatu sore, saat Rafan sedang tertidur pulas, Adrian mendekati Tiara yang duduk di samping ranjang Rafan. "Aku sudah bicara dengan pengacaraku, Tiara," katanya pelan. "Kami akan mengajukan gugatan hak asuh."
Tiara merasakan darahnya berdesir dingin. "Kamu tidak bisa melakukan ini, Adrian!"
"Tentu saja bisa," Adrian menjawab santai. "Aku punya bukti bahwa kamu tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak punya aset, dan hidup dalam kemiskinan. Sementara aku bisa memberikan segalanya. Pengadilan pasti akan berpihak padaku."
"Itu tidak adil!" Tiara berbisik, suaranya serak. "Aku ibunya! Aku yang mengandungnya, melahirkannya, membesarkannya!"
"Hanya karena kamu melahirkannya, bukan berarti kamu pantas menjadi walinya jika kamu tidak bisa memberinya kehidupan yang layak," Adrian berkata tanpa empati. "Pikirkan masa depan Rafan, Tiara. Aku bisa memberinya kehidupan yang jauh lebih baik daripada yang bisa kamu bayangkan."
Kata-kata Adrian terus menghantui Tiara. Ia tahu Adrian tidak main-main. Pria itu punya uang, kekuasaan, dan pengacara yang handal. Sementara Tiara hanya memiliki cinta dan kasih sayangnya yang tulus. Cukupkah itu untuk melawan kekuatan Adrian?
Tiara mencoba mencari bantuan hukum. Ia mendatangi beberapa kantor bantuan hukum gratis, namun mereka semua mengatakan kasusnya akan sangat sulit dimenangkan mengingat kondisi finansialnya. Beberapa bahkan menyarankan untuk "mengalah demi kebaikan anak," saran yang membuat Tiara semakin frustrasi.
Setelah Rafan pulih dan diperbolehkan pulang, perang perebutan hak asuh dimulai. Adrian tidak membiarkan Tiara membawa Rafan pulang ke rumahnya. Ia mengirimkan pengacara yang datang dengan perintah pengadilan sementara untuk menempatkan Rafan di bawah pengasuhan Adrian sampai putusan pengadilan final.
Tiara melawan dengan sekuat tenaga. Ia berteriak, menangis, memohon. Ia memeluk Rafan erat-erat, tak ingin melepaskannya. Rafan, yang tak mengerti apa-apa, menangis ketakutan dalam pelukan Tiara.
"Mama, jangan tinggalkan Rafan! Rafan mau sama Mama!" teriak Rafan, mencoba berpegangan pada Tiara.
"Tidak, Nak, Mama tidak akan tinggalkan kamu!" Tiara mencium putranya berkali-kali, air matanya membanjiri wajah Rafan.
Namun, kekuatan Tiara tak sebanding dengan pengawal Adrian yang besar-besar. Mereka menarik Rafan paksa dari pelukan Tiara. Tiara menjerit, mencoba meraih putranya, namun ia dihalangi. Rafan terus menangis dan memanggilnya, "Mama! Mama!"
Pemandangan itu bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Tiara melihat Rafan dibawa masuk ke dalam mobil mewah Adrian, mata putranya yang ketakutan menatapnya dari balik kaca jendela. Lalu mobil itu melaju kencang, membawa pergi belahan jiwanya.
Tiara jatuh terduduk di jalan, meraung-raung, seperti orang gila. Hatinya hancur berkeping-keping. Putranya telah direbut. Ia merasa kosong, hampa, seolah sebagian jiwanya telah ikut pergi bersama Rafan. Ibunya, Kartika, segera berlari menghampirinya, memeluknya erat, ikut menangis bersamanya.
"Rafan... anakku..." Tiara meracau, tubuhnya gemetar tak terkendali. "Mereka merebut Rafan dariku, Bu! Adrian merebut anakku!"
Kartika hanya bisa memeluk putrinya, mencoba menenangkannya, namun ia sendiri juga tak sanggup menahan kesedihannya.
Setelah peristiwa itu, Tiara jatuh sakit. Ia demam tinggi, nafsu makannya hilang, dan ia seringkali hanya bisa berbaring lemah. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Rafan yang ketakutan dan panggilannya yang pilu selalu membayang. Ia tidak bisa tidur nyenyak, sering terbangun di tengah malam dengan keringat dingin, menjeritkan nama Rafan.
Kartika merawatnya dengan sabar, namun Tiara tak kunjung pulih. Ia kehilangan semangat hidup. Dunia terasa gelap tanpa kehadiran Rafan. Rumah kecil mereka, yang dulu dipenuhi tawa Rafan, kini terasa begitu sunyi dan hampa.
Adrian, melalui pengacaranya, sesekali mengirimkan surat resmi tentang proses hukum hak asuh. Setiap surat itu datang, Tiara merasa seperti disiram air dingin. Ia harus menghadiri persidangan, menghadapi Adrian dan pengacaranya yang tangguh.
Di setiap persidangan, Adrian selalu tampil sempurna, dengan argumen-argumen kuat yang didukung oleh bukti-bukti finansial. Ia menunjukkan rekening banknya, aset-asetnya, semua hal yang menunjukkan bahwa ia mampu memberikan masa depan terbaik bagi Rafan. Sementara Tiara, hanya bisa bersaksi dengan hati yang hancur, bercerita tentang perjuangannya, tentang cintanya pada Rafan. Namun, di mata hakim, bukti cinta tidak sekuat bukti finansial.
Pengacara Adrian selalu menekankan bahwa Tiara tidak memiliki penghasilan yang stabil, bahwa suaminya, Bagus, bahkan tidak menunjukkan perhatian yang cukup pada Rafan. Mereka menggali semua "kekurangan" Tiara, bahkan mengungkit masa lalu Tiara yang kelam, bagaimana ia hamil di luar nikah. Semua itu membuat Tiara merasa semakin kecil dan tak berdaya.
Bagus, yang diharapkan bisa menjadi saksi pendukung bagi Tiara, justru memperparah keadaan. Ia tidak hadir di sebagian besar persidangan, dan ketika ia datang, kesaksiannya terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Bahkan, ia sempat keceplosan mengatakan bahwa ia "tidak terlalu dekat" dengan Rafan, sebuah pernyataan yang langsung dimanfaatkan oleh pengacara Adrian.
"Bapak Bagus, apakah benar Anda jarang berinteraksi dengan Tuan Rafan?" tanya pengacara Adrian.
Bagus menggaruk tengkuknya. "Ya... begitu, Pak. Saya kan sibuk kerja. Anak-anak biasanya diurus ibunya."
Jawaban itu sudah cukup bagi pengacara Adrian untuk memperkuat argumen mereka.
Tiara menatap Bagus dengan tatapan terluka. Ia tahu Bagus tidak berniat jahat, ia hanya mengatakan apa adanya. Namun, di mata hukum, kejujuran itu justru merugikan mereka.
Semakin hari, kondisi mental Tiara semakin memburuk. Ia mulai sering bicara sendiri, terkadang tertawa tanpa alasan, terkadang menangis tanpa henti. Ingatannya mulai kacau. Ia sering lupa di mana ia meletakkan barang-barang, atau bahkan lupa apa yang baru saja ia katakan. Dunia nyata dan fantasinya mulai bercampur.
Kartika berusaha keras membawanya ke psikiater, namun Tiara menolak. Ia tidak mau mengakui bahwa ia gila. Ia hanya ingin Rafan kembali. Ia yakin, jika Rafan kembali, ia akan sembuh.
Suatu hari, ketika persidangan masih berlangsung dan belum ada putusan final, Tiara menerima kunjungan dari seorang psikolog yang ditunjuk oleh pengadilan. Psikolog itu mencoba berbicara dengannya, mengevaluasi kondisi mentalnya.
"Bagaimana perasaan Anda, Bu Tiara?" tanya psikolog itu lembut.
Tiara menatap kosong ke arah jendela. "Perasaan saya? Saya baik-baik saja. Saya hanya... merindukan anak saya. Rafan. Dia sedang bermain, kan? Dia pasti akan pulang sebentar lagi."
Psikolog itu menatap Kartika yang duduk di samping Tiara dengan tatapan prihatin. Kartika hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, air mata menetes.
Laporan psikolog itu menjadi pukulan terakhir bagi Tiara. Laporan itu menyatakan bahwa kondisi mental Tiara tidak stabil, dan ia tidak mampu merawat Rafan dengan baik. Laporan itu juga mendukung argumen Adrian bahwa Rafan harus berada di bawah pengasuhan ayahnya yang "stabil" dan "mampu."
Ketika putusan pengadilan akhirnya keluar, hati Tiara terasa mati. Hakim memutuskan bahwa hak asuh Rafan sepenuhnya diberikan kepada Adrian Wiratama. Tiara dinyatakan tidak layak menjadi wali karena kondisi mentalnya yang terganggu dan ketidakmampuannya secara finansial.
Dunia Tiara runtuh sepenuhnya. Ia tidak lagi memiliki apa-apa. Putranya telah direbut secara paksa, dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Suara hakim yang membacakan putusan itu terdengar seperti gema di telinganya, semakin mendorongnya ke dalam jurang kegilaan.
Sejak hari itu, Tiara benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia tidak lagi mengenali Kartika sebagai ibunya, kadang-kadang ia mengira Kartika adalah Adrian. Ia seringkali berbicara tentang Rafan seolah-olah putranya masih bersamanya, sedang bermain di kamar, atau sedang makan. Ia tertawa sendiri, menangis sendiri, meracau tak jelas. Matanya yang dulu penuh harap kini kosong, tanpa kilau.
Ia seringkali duduk di teras, menatap jalanan, seolah menunggu kedatangan Rafan. Ia akan tersenyum dan melambaikan tangan pada anak-anak kecil yang lewat, mengira mereka adalah Rafan. Hatinya telah pecah menjadi jutaan keping, dan ia tak lagi bisa menyusunnya kembali.
Adrian, setelah memenangkan hak asuh Rafan, membawa putranya tinggal di apartemen mewahnya. Ia memastikan Rafan mendapatkan semua yang terbaik: sekolah elit, guru privat, mainan terbaru, dan semua kemewahan yang dulu tak pernah bisa Rafan bayangkan. Namun, Rafan, meskipun berada di lingkungan yang serba ada, seringkali terlihat murung. Ia merindukan ibunya. Ia seringkali memanggil nama Tiara dalam tidurnya.
Adrian mencoba mengisi kekosongan itu dengan segala cara, namun ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tak bisa ia beli dengan uang: kasih sayang seorang ibu. Rafan seringkali menolak makanan, tidak bersemangat untuk belajar, dan tatapan matanya seringkali kosong, persis seperti tatapan Tiara di akhir-akhir pertemuan mereka.
Beberapa kali Adrian mencoba membawa Rafan menjenguk Tiara di rumahnya yang sederhana. Namun, setiap kali mereka datang, Tiara tidak mengenali Rafan. Ia hanya tersenyum kosong, memanggil nama Rafan dengan nada aneh, atau bahkan menatap Rafan dengan tatapan orang asing. Pemandangan itu selalu menyakitkan hati Rafan, membuatnya semakin murung. Adrian akhirnya memutuskan untuk tidak membawa Rafan lagi ke sana, dengan alasan tidak ingin memperparah kondisi psikologis putranya.
Adrian melihat Tiara yang kini benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia merasa sedikit... bersalah? Atau mungkin, hanya penyesalan samar. Ia telah mendapatkan Rafan, putranya, namun ia telah menghancurkan Tiara. Ia telah mengubah seorang wanita kuat dan penuh kasih menjadi cangkang kosong yang tersenyum hampa.
Kartika, yang kini harus mengurus Tiara yang sakit jiwa, juga hidup dalam penderitaan. Ia melihat putrinya yang dulu ceria, kini hanya bisa meracau dan melamun. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain merawatnya, memandikannya, memberinya makan, dan menjaga agar Tiara tidak melukai dirinya sendiri. Setiap kali ia melihat Tiara tertawa sendiri, hatinya terasa terkoyak.
"Ya Tuhan, apakah ini akhir dari segalanya?" Kartika seringkali bertanya pada dirinya sendiri, sambil menatap putrinya yang tak berdaya.
Di tengah kegilaannya, apakah Tiara akan selamanya terperangkap dalam dunianya sendiri yang hampa? Apakah ia akan selamanya gila karena kehilangan putranya?
Dan akankah ada keadilan untuk Tiara? Keadilan yang selama ini selalu jauh dari genggamannya? Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban pasti. Tiara mungkin telah kehilangan akal sehatnya, namun luka di hatinya terlalu dalam untuk sembuh. Dan mungkin, hanya waktu, atau takdir, yang bisa menjawab apakah ada secercah harapan di balik kegelapan yang menelannya.