Bab 1

KEJUTAN UNTUK SUAMIKU

"Apa, Dok? Saya hamil?" tanyaku setengah berteriak karena tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh wanita berbaju putih itu.

Saat ini aku sedang berada di rumah sakit seorang diri untuk memeriksakan kandunganku ini karena suamiku sibuk bekerja.

"Iya, dan usia kandungan Mbak Ulfa sudah enam Minggu." Wanita berkaca mata itu tersenyum.

Aku masih belum sepenuhnya percaya kalau dalam rahimku ada sebuah kehidupan. Untuk meyakinkanku, sang dokter memintaku untuk melakukan tindakan USG.

Bukan tanpa alasan jika aku tidak begitu percaya saat dinyatakan positive hamil. Enam tahun yang lalu dokter menyatakan aku akan sulit punya keturunan.

Di dalam rahimku bersarang kista atau sejenis tumor jinak. Dokter sudah menyarankan untuk mengambil kista beserta rahimnya, tetapi aku tidak mau karena aku masih berharap ingin punya anak agar bisa menjadi seorang wanita seutuhnya--wanita sempurna.

Tumor itulah yang menyebabkan kemungkinan aku bisa hamil hanya beberapa persen saja, tetapi kata dokter tetap masih ada harapan meskipun tipis.

"Sayang, apa nggak sebaiknya kamu melakukan operasi saja?" ucap Mas Rey waktu itu. Lelaki bergelar suamiku itu membelai rambutku dan menciumnya.

"Enggak, Mas. Aku masih ingin punya anak karena aku percaya keajaiban itu ada." Aku tersenyum. Kurebahkan kepalaku di dada bidangnya sehingga aku dapat mendengar dengan jelas jantungnya yang berdegup kencang serta napasnya yang memburu.

Aku semakin yakin untuk tidak mengangkat penyakit ini dari rahimku karena ada salah seorang temanku yang bisa hamil meski punya kista dan kista itu bisa keluar bersamaan dengan bayi yang ia lahirkan. Semoga aku juga bisa seperti dia, punya anak sekaligus mengeluarkan penyakit ini.

Sekali lagi karena aku percaya keajaiban itu ada.

Mas Rey tidak pernah mempermasalahkan aku yang tidak punya anak. Ia tetap mencintaiku sepenuh hati. Perlakuannya tidak pernah berubah sejak menikah hingga pernikahan kami yang sudah menginjak usia ke enam ini. Ia tidak pernah menganggapku sebagai istri cacat

"Mas, kamu yakin akan tetap mencintaiku meskipun aku belum mempunyai anak hingga saat ini?"

"Iya, coba kamu lihat mataku, adakah kedustaan di sana?" Mas Rey menatapku lekat.

Aku bersyukur mempunyai suami seperti Mas Rey yang tidak pernah menuntutku untuk punya anak.

Aku pernah memintanya untuk menceraikan aku dan menikah lagi dengan wanita yang mampu memberikan keturunan, tetapi ia tidak mau.

"Aku tidak akan menceraikan kamu, Sayang. Bagiku menikah itu cukup hanya sekali. Masalah keturunan itu adalah hak Allah. Aku tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi." Mas Rey mengusap pucuk kepalaku.

Aku menunduk. Mataku memanas dan sesaat kemudian bulir bening ini luruh membasahi pipi. Ini adalah tangis kebahagiaan.

"Yakin kamu tidak akan meninggalkan aku, Mas, meskipun aku adalah wanita yang tidak sempurna?" Aku mendongak dan menatap lekaki bermata teduh itu.

"Iya, Sayang. Untuk membuktikan ucapanku aku akan memberikan semua yang kumiliki menjadi milikmu. Besok aku ajak kamu untuk menemui pengacaraku untuk mengurus balik nama semua aset menjadi atas nama kamu."

"Enggak perlu seperti itu, Mas."

"Tidak, Sayang. Aku akan tetap memberikan semua aset menjadi milikmu tanpa kecuali, rumah, mobil, serta toko yang kita miliki bersama agar kamu yakin kalau aku benar-benar serius dengan ucapanku."

"Ini, Bu. Jabang bayinya. Masih belum begitu jelas karena masih kecil. Nanti akan semakin jelas seiring dengan bertambahnya usia kehamilan Ibu," sang dokter membuyarkan lamunanku tentang Mas Rey yang tidak bisa mengantarku periksa kali ini.

Saat ini aku tengah menjalani program kehamilan dan setiap bulan Mas Rey selalu mengantar. Syukurlah suamiku itu tidak pernah bosan meski entah sudah berapa biaya yang ia keluarkan dan waktu yang ia butuhkan untuk menemaniku periksa ini.

"Masya Allah, Allahu Akbar." Bulir bening ini menetes tiada henti melihat kenyataan yang ada di depan mata ini. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil.

Aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar gembira ini pada suami dan juga ibu yang sudah lama menantikan malaikat kecil ini.Senyum mengembang di bibirku tatkala membayangkan betapa bahagianya Mas Rey dan ibu mengetahui hal ini.

Aku tidak pulang ke rumah karena katanya Mas Rey pulang malam, bahkan kemungkinan akan menginap, tetapi aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar gembira ini.

Aku menuju rumah ibu mertua. Wanita yang sudah melahirkan suamiku itu juga harus segera tahu perihal berita bahagia ini.

Aku kecewa saat sampai di rumah ibu ternyata sepi. Ke mana mereka? Padahal aku sudah membayangkan akan mendapat sambutan luar biasa dari mertuaku itu.

Kukeluarkan ponsel dan menghidupkan GPS untuk mengetahui keberadaan Mas Rey. Dahiku mengernyit saat GPS di ponselku menunjukkan Mas Rey sedang berada di suatu tempat yang tidak jauh dari rumah mertuaku ini. Kuikuti arah GPS hingga sampailah di sebuah rumah yang sedang mengadakan acara pesta yang sudah dipastikan itu adalah pesta pernikahan, tampak dari janur kuning yang melengkung di depan tenda.

"Siapa yang sedang menikah?" Gumamku.

"Kalau teman atau kerabat Mas Rey biasanya aku selalu diajak ikut serta, tumben sekarang tidak?" Aku terus berbicara pada diri sendiri sambil sesekali menggelengkan kepala. Pikiranku mulai tidak karuan.

Aku turun dari mobil dan mendekat ke acara itu. Entah kenapa aku sangat penasaran tentang siapa yang sedang menikah sehingga aku tidak diajak. Mataku terbelalak saat melihat seorang lelaki yang aku cintai sudah duduk di pelaminan dengan seorang wanita. Ia menggenggam erat pengantin wanita yang duduk di sampingnya. Aku ingin memberinya kejutan malah aku yang dikejutkan dengan kenyataan yang tidak kubayangkan sebelumnya.

"Mas Rey, benarkah itu, kamu, Mas?" Aku mencubit pipiku berulang-ulang, berharap ini hanya mimpi.

Aku hendak maju ke pelaminan dan ingin melabraknya sekarang juga, tetapi kuurungkan. Menurutku, tindakan itu dapat mempermalukan diriku sendiri juga. Apalagi mereka sudah menikah kalau pun kulabrak tidak menjamin Mas Rey akan kembali padaku.

Aku memilih berbalik dan segera pulang setelah mengambil gambar Mas Rey yang sedang tersenyum lebar di pelaminan.

Aku segera mengambil koper dan memasukkan semua pakaian Mas Rey kemudian meletakkan di luar. Jika kamu bisa memberiku kejutan, aku juga bisa memberimu kejutan, Mas. Aku memang mencintaimu, Mas, tetapi aku hanya wanita biasa yang tidak akan mau diduakan.

"Aku tunggu kepulanganmu di rumah ini, Mas." Aku kembali tersenyum kala membayangkan kenyataan yang sangat menyakitkan ini.

Setelah ini aku akan minta pisah dan kamu harus pergi dari sini karena rumah ini sudah menjadi milikku. Sekarang aku hanya tinggal menunggu reaksi Mas Rey saat mengetahui kopernya sudah berada di luar.

Bab 2

KEJUTAN UNTUK SUAMIKU 2

Usai menaruh koper berisi pakaian Mas Rey di luar, aku masuk dan berdiri di belakang pintu. Tubuhku lemas hingga jatuh merosot. Tanpa sadar wajahku sudah basah oleh air mata. Aku menangis, tidak kusangka kata-kata manis yang keluar dari mulut suamiku waktu itu hanya palsu.

"Sayang, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Mas Rey waktu itu.

"Aku tidak pernah mempermasalahkan kamu yang tidak punya anak." Mas Rey mengusap pundakku dengan lembut kemudian tangannya terulur dan mengusap air mataku.

Aku adalah wanita paling beruntung di dunia, punya kekurangan, tetapi dipertemukan dengan lelaki berhati malaikat seperti Mas Rey yang mungkin hanya ada seribu banding satu di dunia ini.

"Bersabarlah, jika Allah berkehendak, kita pasti akan memiliki keturunan." Mas Rey tersenyum untuk menghibur hatiku yang gundah.

"Sekarang kita fokus saja untuk menyembuhkan penyakitmu dulu, setelah itu kita baru program kehamilan," ucap Mas Rey lagi. Aku hanya diam karena terharu.

"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menangis, Sayang." Senyumannya semakin terlihat manis.

"Bersandarlah di pundakku agar kamu tenang." Lelaki bertubuh tegap itu meraih tubuhku dan aku menjatuhkan kepalaku di pundaknya.

"Tetaplah di sisiku sampai tua nanti." Mas Rey menggusuk punggungku dengan lembut.

"Aku bahagia menjadi istrimu, Mas." Aku berbisik lirih.

"Lebih baik kita mengadopsi anak dan kita akan membesarkannya bersama-sama dengan penuh kasih sayang," ucap Mas Rey mantap.

Kata-kata Mas Rey terngiang di telingaku. Mungkin ia sudah lupa dengan ucapannya waktu itu sehingga dengan mudah berpaling ke wanita lain. Aku memang tegar, tetapi tidak bisa dipungkiri, aku hanya wanita biasa yang memiliki rasa sakit.

Ponselku di atas meja berdering disertai getar sehingga benda pipih yang canggih itu bergerak. Aku beranjak dari duduk dan mengambil benda itu, nama Mas Rey terpampang di layar, ia melakukan panggilan.

Kuusap air mata dan mencoba mengatur suara agar tidak kelihatan kalau aku baru saja menangis karena Mas Rey melakukan video call.

"Halo, Sayang." Mas Rey menyapa lembut dari seberang sana. Bisa-bisanya ia masih memanggiku sayang setelah berhasil membuatku menangis.

"Iya, ada apa, Mas?" Aku berusaha untuk menjawab sewajar mungkin.

"Sayang, maaf, ya, Mas nanti pulangnya agak telat karena toko sedang rame,"

"Iya, Mas."

Hatiku kembali merasa nyeri mendengar ucapan Mas Rey. Tak kusangka ia pandai bersilat lidah. Di depanku bersikap manis, tetapi di belakang berbuat jahat dengan menduakanku.

Aku tahu ia sedang berbohong, tetapi kubiarkan saja. Toh, aku sudah menyiapkan kejutan untuknya.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh saat aku mendengar suara deru mobil milik Mas Rey. Biasanya aku akan berlari untuk membukakan pintu baginya dan menyiapkan senyum terbaikku untuk menyambutnya, tetapi kali ini tidak.

Mas Rey mengetuk pintu berkali-kali dan berteriak memanggilku, bahkan mengetuk jendela. Tidak hanya sampai di situ, ia bahkan berjalan ke arah samping untuk mengetuk jendela kamar.

"Sayang, kamu ada di rumah, kan? Kenapa tidak dibuka pintunya dan tidak menyambutku seperti biasa?" tanya Mas Rey sambil mengetuk jendela kamar. Aku tahu ia kebingungan meskipun aku tidak melihat wajahnya karena terhalang gorden.

"Sayang, itu kenapa ada koper di depan pintu. Itu milik siapa?" Mas Rey kembali mengetuk jendela kamar.

Aku tidak peduli dan memilih mengambil headset untuk menyumpal telinga agar tidak mendengar suaranya lagi.

Entah jam berapa aku tertelap. Aku terbangun saat mendengar suara azan bersahut-sahutan dari masjid setempat. Gegas aku bangun untuk mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslimah.

"Mas Rey." Aku terkejut saat mendapati ia tidur di depan pintu.

"Dek Ulfa. Akhirnya kamu membukakan pintu juga. Kenapa tadi malam kamu tidak membuka pintu untukku?" Mas Rey meraih tanganku, tetapi dengan cepat aku menepisnya.

"Aku kira kamu sudah tahu jawabannya apa sehingga aku membiarkan kamu tidur di luar seperti ini." Aku membelakanginya dan tanganku bersedekap.

Mas Rey bengong, entah memang tidak tahu atau hanya pura-pura tidak mengerti.

"Jadi kamu tahu aku pulang dan kamu memang sengaja tidak membukakan pintu untukku? Salahku apa?" Mas Rey menahanku saat aku ingin masuk dan menutup pintu.

"Ini salahmu, Mas?" Aku menunjukkan foto dirinya yang tengah tersenyum di pelaminan dengan seorang wanita.

"Ini siapa?" Mas Rey terperangah.

"Kamu lupa dengan wajah sendiri, Mas? Sudah jelas kalau ini kamu." Aku mendekatkan foto itu ke wajahnya agar ia lebih jelas.

"Kamu dapat foto itu dari mana? Itu pasti editan. Zaman sekarang teknologi sudah canggih untuk mengedit foto agar terlihat asli." Mas Rey tetap tidak mau mengakui kesalahannya.

"Ibu bukan editan, Mas. Ini asli." Aku kesal karena Mas Rey masih mencoba untuk mengelak. Tahu begini aku langsung melabraknya kemarin sehingga tidak perlu ada drama seperti ini.

Kata orang, penyesalan itu selalu ada di belakang dan kini aku telah membuktikannya. Ya, aku menyesal kenapa kemarin tidak langsung melabrak saja.

"Kamu belum jawab pertanyaanku, Sayang. Kamu dapat foto itu dari mana? Jangan-jangan ada orang yang sengaja ingin menghancurkan rumah tangga kita yang harmonis dengan mengirimkan foto ini padamu. Dek, kamu harus tahu, kita ini memang pasangan yang membuat iri banyak orang karena kita pasangan yang serasi. Kamu cantik dan aku tampan. Tidak heran jika ada orang yang tidak bertanggung jawab mengirimkan foto palsu itu. Kira-kira siapa pelakunya? Aku merasa selama ini tidak pernah punya musuh? Apa jangan-jangan mantan pacar kamu?" Mas Rey mencerocos.

"Foto ini bukan dari siapa-siapa. Aku kemarin datang ke pernikahanmu ini dan aku sendiri yang mengambil gambarnya," ucapku dengan nada tinggi.

Aku berusaha terlihat tegar dan bersikap setenang mungkin meskipun dada ini bergemuruh hebat.

"Apa? Kemarin kamu datang ke pesta pernikahanku? Maksudku ke pesta orang ini? Dengan siapa kamu ke sana? Kemarin aku di toko dan tidak pergi ke mana pun," ucap Mas Rey gugup.

"Sekali berbohong akan terus berbohong, Mas," ucapku sinis.

Dadaku bergemuruh saat mengucapkan kalimat itu. Baru kali ini aku bersikap sinis pada lelaki yang sangat kucintai ini.

"Apa maksudmu?" tanya Mas Rey lirih.

Mas Rey tidak meninggikan suaranya, ia terlihat lunglai.

"Bukankah kemarin kamu izin tidak ke toko karena menjenguk ibu yang sakit dan kamu juga bilang mau menginap, tetapi sekarang kamu bilang di toko seharian. Mana yang benar?" tanyaku.

Emosiku mulai naik ke ubun-ubun mendengar jawaban Mas Rey yang berubah-ubah. Beginilah reaksi orang yang bersalah, plin-plan.

"Iya, maksudku sepulang dari toko langsung ke rumah Ibu dan hendak menginap, tatapi Ibu tidak mengizinkan karena Ibu kasihan sama kamu jika ditinggal sendiri." Mas Rey menggaruk kepalanya yang mungkin memang gatal.

"Terus saja berbohong, Mas. Aku tidak akan percaya dengan ucapanmu itu. Mulai detik ini aku mau minta kita pisah dan karena rumah beserta semua aset sudah menjadi atas namaku, maka aku mau kamu yang pergi dari sini," ucapku tegas.

Hatiku memang sakit, tetapi aku tidak mau terlihat lemah di mata lelaki yang pernah kucintai ini.

"Apa?" Mata Mas Rey melotot.

Bab 3

KEJUTAN UNTUK SUAMIKU 3

"Apa maksudmu bilang mau pisah sama aku? Katakan apa salahku?" Mas Rey berlutut di kakiku. Hampir saja aku meneteskan air mata melihat lelaki yang selama ini kucintai dan kubanggakan tega berbuat seperti itu.

"Ya Allah, Mas, masih saja bilang apa salahmu? Sudah jelas kamu mengkhianatiku dengan menikah diam-diam masih saja mempertanyakan di mana salahmu. Astagfirullah." Aku mengurut dada perlahan.

Kupandangi Mas Rey yang masih bersimpuh di kakiku dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Tangan yang hendak terulur untuk menyekanya, kuurungkan lagi.

"Itu bukan aku, Sayang. Mungkin saja hanya wajahnya yang mirip." Mas Rey tetap bersikukuh tidak mau mengakui foto yang ada di ponselku.

"Ya Allah, Mas. Tidak ada orang yang benar-benar mirip seratus persen. Orang kembar saja masih ada perbedaaannya. Apa lagi jelas-jelas ini nama kamu." Aku menunjuk foto sebuah karangan bunga yang bertuliskan Reyhan Pratama.

"Em." Mas Rey menggaruk kepalanya.

"Kamu tidak bisa mengelak lagi, kan kalau yang ada di pelaminan ini memang kamu, wahai Reyhan Pratama." Bibirku bergetar saat memanggi namanya. Ini untuk pertama kalinya aku memanggilnya tanpa embel-embel atau langsung menyebut nama saja.

Almarhumah ibuku selalu mengajarkan untuk menghormati siapapun. Salah satunya dengan tidak menyebut langsung pada orang. Apalagi saat aku berada di pesantren, terbiasa menyebut 'mbak' pada teman-teman. Di sana tidak ada yang langsung memanggil nama saja, pasti memanggilnya dengan sebutan mbak meskipun dengan adik kelas.

Sejak pertama kali bertemu dengan Mas Rey, aku langsung memanggilnya Mas, selain untuk menghormati juga karena usianya lebih tua dariku.

"I--iya. Aku mengaku memang itu aku." Lelaki yang menikahiku enam tahun lalu itu menunduk.

Ada rasa nyeri di hati ini saat akhirnya ia mengakui kalau itu memang dia. Bulir bening ini lolos tanpa permisi dari sudut mata ini. Aku sudah berusaha untuk tegar, tetapi aku hanya wanita biasa yang tidak mempunyai hati sekuat baja.

"Kenapa kamu tega, Mas? Apa kamu lupa dengan janjimu dulu?" ucapku lirih. Aku menjauhinya. Aku mendongak untuk menahan air mata ini agar tidak keluar terlalu banyak.

"Aku hanya menikah siri dengannya, Dek." Mata Mas Rey berkaca-kaca.

"Mau nikah siri atau resmi sama saja tetap menorehkan luka di hatiku. Sakit rasanya, Mas," ucapku lirih.

Aku mengurut dada untuk meredam rasa salit yang kian membuncah di hati ini. Sungguh, ini adalah rasa sakit yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

"Aku hanya nikah siri karena tidak mau kehilangan kamu. Ini semua atas permintaan ibu dan demi kebaikan kita juga. Kebaikan kamu, Dek. Demi keutuhan rumah tangga kita."

"Maksudmu apa bilang demi kita? Demi aku? Jelas-jelas aku tersakiti dengan pernikahanmu yang diam-diam itu." Aku mendongak dan menatap matanya yang sembab.

"Aku mohon kamu mau menerima Anisa sebagai madumu. Aku pulang sebenarnya juga mau minta izin untuk membawanya ke sini untuk tinggal bersama. Semoga kalian bisa akur sebagai madu," ucap Mas Rey.

Permintaan macam apa ini? Mana ada seorang istri yang mau dimadu. Itu hanya ada dalam dongeng dan tidak akan pernah terjadi di dunia nyata.

"Anisa? Oh, jadi wanita itu bernama Anisa?" Aku manggut-manggut.

"Jadi kamu setuju menjadikan dia sebagai adik madumu? Aku janji akan berlaku adil pada kalian berdua." Mas Rey mengusap pundakku dengan lembut.

"Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki madu, Mas. Aku tidak mau!" Aku melengos dan tidak sanggup lagi menatap wajahnya.

"Aku mohon, Dek. Aku yakin kalian pasti bisa akur. Maaf, sebenarnya aku mau minta izin dulu sama kamu sebelum pernikahan ini terjadi, tetapi ibu melarang, katanya lebih baik izinnya setelah nikah saja. Aku pikir kamu akan menerimanya karena istri yang mau dimadu itu akan mendapat pahala, kan?"

"Aku tahu, Mas, tetapi mencari pahala tidak harus rela dimadu," ucapku dengan tangan bersedekap.

Entah apa yang ada di dalam otaknya sehingga bisa punya pemikiran seperti itu. Rela dimadu untuk mendapatkan pahala sama artinya dengan menyiiksa diri sendiri.

"Terus mau kamu apa sekarang?"

"Lebih baik aku mundur dari pada harus dimadu," ucapku mantap

Semoga keputusanku ini benar meskipun alu belum bisa membayangkan jika harus hidup tanpa lelaki yang dulu sempat kuanggap sebagai cinta sejati itu.

"Maksudnya?" tanya Mas Rey dengan dahi mengernyit.

"Aku mau kita pisah, Mas."

"Aku tidak mau pisah dengamu karena aku mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkan jika harus hidup tanpamu," ucap Mas Rey.

"Kalau kamu mencintaiku kenapa tega, Mas. Apa itu yang namanya cinta? Sengaja membuat orang yang dicintai terluka?" tanyaku dengan nada tinggi.

"Sayang, dengarkan dulu penjelasanku," ucap Mas Rey.

Lelaki yang dulu kupuja itu mengulurkan tangan dan hendak meraihku, tetapi dengan cepat aku menepisnya.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Mas. Aku tetap mau pisah sama aku,"

"Aku menikahi Anisa atas permintaan Ibu agar aku punya keturunan karena sepertinya kamu sudah tidak punya harapan untuk hamil." Mas Rey menunduk.

"Siapa bilang aku tidak punya harapan untuk hamil dan punya anak. Bukankah dokter sudah bilang kalau aku masih memiliki peluang untuk punya anak?"

"Buktinya enam tahun kita menikah belum juga ada tanda-tanda kamu hamil. Aku tidak bisa menunggu lama lagi."

Tak kusangka pikirannya bisa berubah secepat itu. Dulu ia bilang tidak masalah aku tidak punya anak, tetapi sekarang bilang seperti itu. Apakah semua lelaki plin-plan?

"Tapi, sekarang aku sedang hamil, Mas." Aku mengusap perutku yang masih rata.

"Itu pasti hanya halusinasimu saja. Seperti biasanya kan? Kamu selalu berkhayal kalau hamil padahal tidak." Mas Rey tersenyum sinis.

Wajar saja Mas Rey bilang seperti itu karena memang sudah sering aku bilang hamil dan ternyata tidak.

Aku sering mengalami tanda-tanda hamil seperti mual, muntah, dan masuk angin serta terlambat datang bulan.

Semua anggota keluarga sudah bahagia ketika aku terlambat datang bulan disertai dengan mual dan muntah, apalagi aku juga mendadak ingin makan yang seger-seger seperti orang ngidam. Kami menyangka Allah mengabulkan permohonan kami.

"Yey, akhirnya aku akan punya cucu juga." Mama mertua bersorak kegirangan.

Semua bersuka cita menyambut kehamilanku, bahkan pernah juga diadakan sukuran. Aku dimanja dan diperlakukan bak seorang ratu yang selalu dituruti keinginannya.

Akan tetapi, kami harus kecewa, seminggu setelah syukuran aku datang bulan lagi. Tidak bisa dibayangkan betapa kecewanya ibu mertua dan Mas Rey karena memang begitu mendambakan seorang anak.

"Sebenarnya kamu ini perempuan tulen nggak sih? Kok nggak bisa punya anak juga?" tanya mama waktu itu. Sebuah pertanyaan yang sangat menyakitkan.

Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Setiap kali aku terlambat menstruasi, mereka selalu berharap ada janin dalam rahimku. Padahal semenjak dokter menyatakan ada kista di rahimku, aku memang mengalami menstruasi yang tidak teratur.

Entah sudah berapa banyak aku melakukan test kehamilan, terlambat satu hari langsung test, hingga test pack itu sudah menumpuk dan hasilnya sama, garis satu atau negative.

Sekarang di saat aku benar-bebar hamil dan sudah dibuktikan dengan USG malah seperti ini keadaannya.

Bagaimana ini? Apakah aku harus bertahan? Bukankah kehamilan ini yang selalu ditunggu ibu mertua dan Mas Rey?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED