"Assalamu'alaikum, Nek."
Salmah mengetuk daun pintu mewah di hadapannya. Hingga beberapa kali barulah muncul si pemilik rumah yang dipanggil Salmah dengan sebutan Nenek.
"Wa'alaikum salam. Siapa?" daun pintu pun dibuka.
Wajah wanita tua itu terlihat tidak senang dengan kehadiran Salmah. Tanpa basa-basi ia langsung ingin menutup kembali pintu. Akan tetapi Salmah berusaha menahannya agar tetap pada kondisi terbuka.
"Tunggu, Nek! aku mohon!" wajah Salmah mengiba pada wanita tua itu.
"Apa lagi? pasti ingin menyusahkan lagi," ketus Wanita tua itu yang tidak lain adalah Nenek kandung Salmah.
"Ibu sedang sakit Nek, tolong pinjam uang untuk bawa ibu berobat!"
"Sudah Kuduga," sinis tatapan sang Nenek. Lalu ia melanjutkan ucapannya, "Tidak ada yang namanya pinjaman! Itu resikonya kalau durhaka kepada orang tua. Dibilang jangan menikah dengan Ayahmu itu.
Hidupnya miskin melarat, mana bisa membahagiakan Ibumu. Sekarang jalani saja! Toh itu pilihannya sendiri. Sudah sana kamu pulang!"
Pintu ditutup dengan keras hingga membuat Salmah terkejut.
Ini bukan yang pertama kali, namun tidak membuat Salmah jera. Kepada siapa lagi ia akan meminta bantuan kalau tidak kepada keluarga sendiri. Namun yang dianggap keluarga, tidak pernah sedikitpun peduli.
Begitu juga dengan Bibi dan Pamannya yang lain. Mereka semua sama saja, selalu menghina Ayah dan Ibu Salmah.
Menurut mereka, Ibu Salmah tidak ada lagi hubungan keluarga antara mereka semenjak Ibu Salmah memilih menikahi Ayah Salmah.
Menurut mereka, Ayah Salmah tidak sederajat dengan mereka.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, uraian air mata berlinang di pipi Salmah.
Ia tidak habis pikir mengapa ada keluarga seperti itu?
Mungkin bisa dibenarkan semua sikap mereka karena rasa kecewa terhadap anak mereka. Namun adakah hati orang tua sekeras itu, membiarkan anaknya sendiri dalam kesusahan?
Salmah berdiri lesu di ambang pintu rumahnya yang reot. Terlihat Sang Ayah sedang menuntun ibunya keluar dari rumah reot mereka itu.
"Salmah, dari mana saja kamu nak?" ujar Pak Zainal melihat pada wajah putri bungsunya.
"Dari rumah Nenek Ayah."
Winda langsung menegakkan kepalanya. Menatap Salmah penuh marah.
"Apa yang kau harapkan di rumah itu, Salmah? sudah berapa kali Ibu melarangmu? lupakan mereka! anggap kita tidak punya keluarga di sini."
"Tapi, Bu. Ibu sedang membutuhkan biaya untuk berobat."
"Salmah, apa kamu tidak mencintai Ayahmu? apa kamu akan melukai hatinya dan pergi merendahkan harga dirinya di depan keluarga yang tidak menyukai Ayahmu ini?"
Air mata Winda berlinang. Ia terkulai lemah dalam dekapan suami yang selama ini sudah menjadi nahkoda dalam mengarungi samudera rumah tangga.
Meskipun Zainal tidak kaya seperti yang diharapkan orang tua Winda. Meskipun hidupnya dalam garis kemiskinan, namun Winda tidak pernah menyesal menikah dengan Zainal.
Bahkan ia sangat bahagia, karena Zainal selalu memperlakukan dia dengan baik dan lemah lembut.
"Sudah, Buk. Jangan marah, kamu lagi tidak sehat."
Zainal mencoba meredam amarah sang istri. Meskipun ia selalu tersakiti oleh keluarga Winda, tidak sedikit pun ia ingin menaruh dendam di hati. Menurutnya itu hanya akan membuat dirinya sendiri tidak tenang. Ia hanya mencoba mengikhlaskan semuanya kepada Sang maha kuasa.
"Maafkan Salmah, Ibu! Salmah hanya sangat khawatir dengan kondisi Ibu." Salmah meremas jari-jari tangannya dan menundukkan kepalanya, ada penyesalan di dalam hatinya saat ini.
"Ya sudah, kita bawa Ibumu ke puskesmas sekarang!"
Zainal menggendong Winda hati-hati. Berjalan setapak demi setapak menuju puskesmas terdekat. Salmah pun mengekori langkah sang Ayah dari belakang.
Setibanya di puskesmas, Winda langsung diperiksa.
Seorang Dokter muda lagi tampan yang kini memeriksa Winda saat ini. Di sampingnya pun terdapat beberapa orang Dokter muda juga.
"Apa keluhannya, Ibu?" tanya sang Dokter.
"Badan saya lemas sekali Dokter, terus dada saya sakit sekali." jawab Winda sambil terbatuk-batuk.
"Mari silahkan, Ibu berbaring dulu ya!"
Stetoskop ditempelkan pada bagian dada Winda. Tensimeter pun juga di tangannya.
"Banyak bawa istirahat ya, Bu! dan ini obatnya. Bila setelah ini belum ada perubahan, bawa kembali ke sini." ucap sang Dokter muda dengan tersenyum ramah.
*****
Sore hari yang begitu indah. Rona langit mengukir bagaikan curahan tinta sang seniman.
Angin sepoi-sepoi menambah suasana nyaman saat ini.
Jhondra Mahardika, seorang Dokter muda, berparas tampan nan menggoda siapa saja lawan jenisnya yang menatap.
Dia dan dua temannya yang lain sedang menjalani internship selama sembilan bulan di sebuah desa.
Bertugas di sebuah puskesmas sebelum ia benar-benar dilepas untuk melakukan tugas Dokternya tanpa pengawasan dari Dokter senior.
Sore ini Jhondra sedang memetik tali gitarnya. Melantunkan lagu-lagu bersama kedua temannya.
Salmah lewat dengan menundukkan kepalanya karena merasa sungkan melewati rumah kost Jhondra.
Evan yang mengenakan kaos dan celana pendek sedang menepuk pahanya sendiri, mengikuti alunan suara gitar Jhondra langsung menghentikan aktivitasnya.
"Sore, Neng," sapa Evan ramah terhadap Salmah.
Sekilas Salmah melirik arah suara itu dan tersenyum kaku lalu menundukkan kepalanya kembali seraya melangkah menuju masjid. Ia sangat pemalu terlebih lagi kurang percaya diri. Bullying yang kerap ia terima dari teman-temannya juga keluarganya sendiri membuat rasa percaya diri itu memudar. Ia seakan tidak pantas bergaul, atau pun memiliki kehidupan.
Seburuk itulah dampak bullying bagi Salmah.
Salmah mengisi harinya selalu menyendiri tanpa merasakan perasaan seperti yang dirasakan oleh remaja lazimnya.
Untuk mengisi kekosongan harinya itu, setiap sore sebelum masuk waktu magrib, Salmah mengajari anak-anak desa mengaji dengan tanpa imbalan. Karena ia sangat senang melakukannya.
"Shodaqollahul Adzim"
Salmah menyudahi mengaji sore ini, karena waktu magrib telah tiba.
Anak-anak berhamburan berlarian keluar masjid untuk mengambil wudhu. Begitu pula dengan Salmah.
"Eh, Neng, yang tadi bukan?" sapa Evan saat berpapasan dengan Salmah di depan tempat berwudhu.
Salmah hanya tersenyum kaku dan menganggukkan sedikit kepalanya.
"Neng, Ibunya yang berobat kemarin bukan?" tanya Evan lagi.
"Iya,"
Kali ini Salmah menatap serius pada Evan.
"Kenalkan saya Dokter Evan, dan ini Dokter Jhondra dan yang ini Dokter Gavin." Evan menunjukkan kedua temannya dan memperkenalkan mereka kepada Salmah.
"Bagaimana keadaan Ibunya? sudah mendingan?" tanya Evan lagi.
Salmah kemudian tersadar selama itu Evan berbicara, selama itu pula ia memperhatikannya.
Lalu buru-buru ia kembali menunduk.
"Alhamdulillah sudah mendingan, Dokter," jawab Salmah.
"Alhamdulillah. Rumah Neng yang sebelum rumah kost itu kan?"
"Iya, Dokter."
"Wah, berarti kita bertetangga."
Suara adzan pun berkumandang Salmah permisi dari sana untuk mengambil wudhu yang sempat tertunda.
Saat mereka sedang berwudhu, Jhondra mengatakan kepada Evan, jangan kegenitan. Harus menjaga wibawa karena mereka adalah Dokter.
Setelah usai melaksanakan sholat magrib, Salmah pergi menuju pulang.
Rona langit yang mulai temaram, tanda matahari akan meninggalkan langit.
Sesekali Salmah menatap kosong pada langit itu, seakan berharap asa masih tersisa untuk dia.
Asik dengan pikiran sendiri, Salmah dikejutkan oleh suara yang tidak asing baginya mulai semenjak sore tadi.
"Mau pulang, Neng?"
Salmah melirik arah suara dan mengangguk pelan sambil terus mengayunkan langkah kakinya.
"Emang berani pulang sendiri?"
"Insyaallah."
"Kalau takut, saya bisa nemani," seloroh Evan lagi.
"Terima kasih. Saya sendiri saja."
Salmah menjawab sopan lagi pelan suaranya, seraya mempercepat langkah kakinya.
"Sombong amat sih! Mending ada seorang Dokter tampan yang menyapa," ucap Jhondra dengan ketus. Ia sangat kesal melihat Salmah, seolah Salmah angkuh dimatanya.
"Itu bukan sombong Jhon! tapi itu rasa sopan dia terhadap lawan jenis, makanya dia menunduk dan menghindar." Gavin menepuk pundak Jhondra yang masih terlihat sangat kesal.
"Lain kali, jangan menegur cewek itu lagi Van! kesal aku dibuatnya."
"Aku tidak tersinggung sama sekali, malah menurutku jarang ada gadis seperti dia. Bahkan sebelumnya setiap gadis tergila-gila padaku." Evan menepuk dadanya sambil tersenyum puas karena telah memuji dirinya sendiri.
"Hanya gadis desa sombong! penampilan kumuh, wajah juga pas-pasan,"
Jhondra duduk di kursi teras kost dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya ketika mereka sudah tiba.
Evan dan Gavin juga duduk bersamaan.
"Jangan menilai orang dari luar! juga jangan merendahkan." Gavin menasehati Jhondra.
"Hooh, banyak kejadian. Orang yang kita rendahkan malah jadi pendamping hidup."
Evan terkekeh sambil meraih gitar yang tersandar di dinding. Kemudian ia memetik tali gitarnya sambil bersenandung.
"Najis. Dindaku tidak akan pernah tergantikan."
Jhondra menekan tombol memanggil nama Dinda sang pujaan hatinya.
Sementara Gavin masuk ke dalam. Ia mengambil mushaf Al-Qur'an dan membacanya.
Salmah?
Dia kini sedang asyik bermain dengan khayalan tingkat tingginya. Sambil telungkup ia menopang dagunya menggunakan kedua tangan.
Sesekali ia menepuk kepala sendiri sambil tersenyum bagaikan orang gila.
"Salmah! Salmah!" Rara menepuk pundak adiknya itu.
Salmah terlonjak dan langsung duduk.
"Ada apa sih kak! kaget tau."
"Makanya jangan melamun! lagi pula tidak biasanya kamu begini."
"Kak, ada gak sih orang miskin seperti kita berjodoh dengan pangeran seperti di dongeng Cinderella?"
Rara menempelkan telapak tangannya pada kening Salmah.
"Kamu sehat?" tanya Rara.
Cepat Salmah menepis tangan kakaknya itu. Wajahnya langsung cemberut karena Rara bukannya menjawab pertanyaan, malah menanyakan kondisi kesehatannya pula. Angannya yang tadi sempat melambung tinggi terhempas seketika. Dia menghembuskan napasnya kasar seolah kenyataan tidak seindah khayalan. Andai saja, nasib itu seperti kisah-kisah dalam novel maupun dalam dongeng. Tentu saja Salmah punya harapan akan masa depannya kelak. Akan tetapi sudahlah, biarkan waktu yang berbicara.
"Mukanya jelek di buat cemberut seperti itu. Lagi pula, sudah dari tadi kakak memanggil kamu, tapi tidak dijawab. Memangnya kamu memikirkan apaan sih?"
"Au ah, Kakak tidak enak diajak bercerita. Aku mau keluar saja by."
Salmah bangkit dari duduk dan keluar dari kamarnya. Hanya dengan keluarganya sendiri yang bisa tempat Salmah menjadi diri sendiri tanpa berhati-hati dalam berucap atau pun bersikap.
Rara, dia mempercepat langkah kakinya untuk menyamai langkah Salmah.
"Enak itu khusus makanan tau." goda Rara.
Kakak beradik ini sangatlah dekat bagaikan sahabat.
Saat itu muncul seorang bocah.
"Tante, Syakil mau di gendong dong!"
Syakil bocah berusia empat tahun, putra dari Rara keponakan Salmah. Dia sangat manja dengan Salmah. Setiap sore dia selalu ikut dengan Salmah untuk pergi mengaji ke masjid. Hanya saja kemarin sore dia sedang tidak sehat, sehingga tidak ikut seperti biasa.
"Syakil sudah besar sayang. Berat, Tante sudah tidak sanggup menggendong kamu lagi."
"Ga mau, pokoknya Tante, gendong Syakil!"
"Sama Ibu kamu aja ya!" bujuk Salmah sambil berjongkok untuk menyamai tingginya dengan syakil.
"Syakil mau sama Tantenya, Salmah!" ucap Rara.
Salmah mengeluh sambil melotot matanya pada Rara namun dia akhirnya menggendong Syakil.
Mereka bersama pergi ke dapur untuk makan malam. Meskipun hidup pada garis kemiskinan, keluarga mereka terlihat sangat bahagia, penuh canda dan tawa.
*****
Baru saja Salmah akan memejamkan mata, bayangan seorang Dokter muda berparas tampan hadir dalam benaknya. Tidak pernah sebelumnya ia merasakan sensasi seperti ini. Ketika bayangan itu muncul tanpa permisi, irama detak jantung Salmah pun bergemuruh hebat. Cepat dia membuka mata kembali.
"Astaghfirullah, ampuni hambamu ini Tuhan! karena sudah memikirkan seorang akhwat yang tidak halal bagiku,"
Salmah memanjatkan doa, karena dia tau tidak pantas untuk dia mengingat wajah itu. Akan tetapi, entah mengapa semakin dia mencoba menghilangkan bayangan Dokter itu, semakin pula ia hadir berulang kali seperti kaset DVD rusak. Dengan gerakan cepat Salmah membolak-balik badannya, gelisah menghantui jiwa.
"Tuhan! bantu aku! aku mohon!"
Takdir berkata lain, dia dihadapkan pada kesusahan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sehingga dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan dirinya saat ini. Mata yang dipaksakan terpejam menimbulkan rasa berasap pada matanya. Karena hanya mata yang terpejam namun hati dan pikirannya menari-nari.
Salmah bangkit dari tidurnya dengan langkah gontai ia pergi menuju kamar Rara. Saat sudah tiba di depan pintu kamar itu, datang keraguan untuk mengetuk, karena takut mengganggu tidur iparnya. Namun dia butuh bantuan. Ini sangat darurat. Bila tidak, bisa sampai pagi dia akan tersiksa.
Perlahan dia ayunkan tangan mengetuk pintu sambil memanggil Rara.
"Kak, Kak Rara," panggil Salmah.
Rara pun membuka pintu, dahinya mengernyit heran. Sebenarnya semenjak Salmah pulang dari masjid sore tadi, Rara sudah merasa heran dengan tingkah adiknya itu.
Rara keluar dan menutup pintu kamar perlahan dan hati-hati, supaya tidak membangunkan suami dan anaknya.
"Ada apa?" tanya Rara penuh penekanan.
"Tidak enak bicara di sini, bagaimana kalau kita ke kamarku saja!"
Rara mengangguk mengiyakan. Saat sudah tiba di kamar Salmah, Rara mengulangi pertanyaannya.
"Ada apa?"
"Mmm, aku bingung harus memulainya."
"Katakan saja! kalau tidak ingin bercerita, mending Kakak pergi tidur aja. Ngantuk." Rara menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Jangan, Kak! aku mohon! aku butuh bantuan. Aku tidak bisa tidur. Hatiku gelisah. Setiap akan memejamkan mata, hati dan pikiranku menari-nari."
"Kenapa bisa begitu? apa ada yang sedang kamu pikirkan saat ini?"
"Sebenarnya, aku--"
"Ya." Rara menunggu cerita selanjutnya.
"Aku--, setiap aku memejamkan mata, wajah seseorang selalu hadir. Membuat aku sulit untuk tidur."
Saat ini wajah Rara, sulit untuk diartikan. Namun ujung bibirnya melengkung.
"Siapa orangnya?" tanya Rara antusias.
"Itu, Dokter yang baru datang ke kampung kita, Kak. Kost mereka akan kita lalui bila mau pergi ke masjid."
"Oh, Dokter tampan yang sedang menjadi buah bibir di kampung ini. Dokter muda dan tampan yang tengah menjadi perbincangan hangat mulai dari gadis desa sini, hingga para emak-emak yang menginginkan mereka untuk jadi menantu. Diantara mereka bertiga, yang mana?"
"Namanya Evan," jawab Salmah malu-malu.
"Sudah Kenalan rupanya?" goda Rara.
"Tidak. Dia sendiri yang memperkenalkan diri."
Rara menatap teduh pada adiknya itu. Ia sangat senang sekali Salmah akhirnya mau membuka hatinya. Karena selama ini Salmah selalu menyendiri dan tidak pernah bergaul dengan teman sebayanya.
Bukan tanpa alasan. Salmah menjadi pribadi tertutup begini adalah efek dari bullying yang selalu dia terima dari teman-temannya juga dari keluarga besar sendiri. Alasannya hanya karena faktor ekonomi dan wajah pas-pasan yang ia miliki.
"Kakak sangat bahagia melihat kamu dalam situasi sekarang. Keluar dari keterpurukan dan rasa kurang percaya diri. Kamu berhak untuk menjalani hidup seperti semestinya."
"Dan tentang pertanyaan kamu sore tadi, tentang dongeng Cinderella bisa saja berlaku kepada siapa pun saja."
"Tapi, aku takut berharap, Kak. Berharap seorang diri yang mustahil untuk digapai. Jadi sebelum semuanya menjadi terasa sakit lebih baik dari sekarang aku menyudahinya."
"Lho, baru tadi kakak bilang, jangan merasa rendah diri. Kehidupan tidak ada seorangpun yang tahu kedepannya bagaimana,"
"Jadi, Kak! bagaimana dengan pertanyaanku yang tadi?"
"Yang mana?"
"Cara melupakan. Aku sampai lelah memejamkan mata."
"Ya, nikmati saja. Karena perasaan yang baru tumbuh tidak akan mudah untuk di kubur."
"Jadi?"
"Ya, itu. Nikmati saja! Bawa sholat dan sisipkan namanya dalam doamu," goda Rara sambil mengedipkan mata. Lalu dia langsung pergi meninggalkan Salmah seorang diri.
Salmah melempar gulingnya pada Rara yang hampir menghilang di balik pintu kamar.
"Oke, baiklah. Aku akan sholat sekarang. Mudahan aku bisa tidur nyenyak." gumam Salmah.
****
Saat ketika Dokter muda itu akan keluar dari kost untuk pergi ke masjid. Dari kejauhan tampak Salmah sedang berjalan dengan Syakil.
"Sudah punya suami rupanya. Pantesan aja dia tidak menggubris," gumam Evan lirih.
"Kamu kecewa? Kasihannya jadi jomblo akut seperti kamu ini. Istri orang disangka gadis," ejek Jhondra.
"Dia masih terlihat sangat muda. Jadi wajarlah aku mengira dia gadis."
"Bukannya gadis desa memang begitu? mereka tidak berpendidikan, jadi lebih memilih untuk berumah tangga di usia muda," jawab Jhondra merendahkan.
Di teras masjid, mereka mendengar suara Salmah sedang mengaji.
"Masya Allah, sungguh menyejukkan jiwa. Rasanya adem mendengar suara dia," gumam Gavin takjub. Salmah gadis pemalu dan pendiam juga berhijab. Masuk dalam kategori istri idaman Gavin. Gavin berharap dalam hati semoga kelak dia bisa mendapatkan jodoh yang seperti gadis ini.
"Woi, sadar! sudah istri orang." bisik Evan menyenggol bahu Gavin.
"Satu lagi terkena virus. Gadis kampung seperti itu tidak habisnya jadi topik mereka," ucap Jhondra.
"Aku hanya sekedar mengagumi saja. Dan seandainya ada stok seperti itu lagi, pasti akan aku lamar untuk di jadikan sebagai seorang istri," ucap Gavin.
Jhondra langsung menahan tawa.
"Puff, hampir lupa, kamu 'kan juga dari kalangan bawah. Yah, jadi sepadanlah. Seleranya pasti tidak jauh dari model beginian," ejek Jhondra.
Gavin tidak menghiraukan ocehan Jhondra. Dia seakan sudah terbiasa mendengar setiap kata yang tidak baik dari mulut temannya ini. Gavin langsung pergi meninggalkan mereka berdua masuk ke dalam Masjid.
Setelah kepergian Gavin, Evan langsung memukul bahu Jhondra dan menasehatinya.
"Kamu keterlaluan Jhon! Gavin itu teman kita. Tidak seharusnya berucap menghinanya seperti tadi."
"Salah dia sendiri." Jhondra berjalan masuk ke masjid. Evan mengejarnya dan ikut duduk di sebelahnya.
Di balik tirai pemisah shaf lelaki dan perempuan. Terdengar suara Salmah sedang berbicara dengan Ustadz.
"Alhamdulillah, Nak Salmah sudah ikut berpartisipasi dalam mendidik anak-anak desa dengan mengajari mereka tanpa pamrih. Semoga Allah mengirimkan jodoh yang baik lagi sholeh." Doa sang Ustadz tulus.
Doa sang Ustadz langsung di amini oleh Salmah. Sementara Jhondra, Evan dan Gavin yang mendengar percakapan itu membuat mereka heran.
"Mengapa pak Ustadz mendoakan dia dapat jodoh? apa dia seorang janda?" tanya Evan kepo.
"Bukan urusanku. Lagi pula tidak ada yang akan betah punya istri yang berwajah biasa seperti dia," jawab Jhondra masih dengan mulut pedasnya. Entah mengapa dia seakan tidak menyukai Salmah. Entah apa kesalahan gadis itu kepada dirinya.
Usai melaksanakan sholat, mereka langsung pulang. Beriringan dengan Salmah dan Syakil.
Evan berbasa-basi menegur Salmah.
"Suaminya tidak ikut sholat, Neng?"
Syakil bocah lelaki itu menjawab pertanyaan tersebut.
"Tante belum punya suami, om," jelasnya menatap ke atas untuk melihat Evan.
"Tante? jadi ini Tantenya?"
"Iya, om Tante Salmah," jawab Syakil lagi.
Sementara Salmah, hanya menatap wajah Evan sekilas lalu menundukkan kepalanya kembali. Jantungnya berulah lagi hingga dia berkeringat dingin. Karena grogi dia pun mengajak Syakil pulang.
"Maaf, kami harus pulang sekarang," Salmah permisi kepada Evan kemudian membimbing tangan keponakannya itu untuk pergi dari sana buru-buru.
"Salmah! nama yang bagus," ucap Evan menatap kepergian Salmah.
"Biasa saja. Tidak ada bagus-bagusnya. Bahkan seribu gadis seperti dia bisa aku dapatkan hanya dengan satu kali jentikan jari tangan," balas Jhondra angkuh.
Mendapati keangkuhan Jhondra membuat Evan geram. Lalu dia menantang Jhondra untuk taruhan.
"Kalau begitu, aku tantang kamu untuk mendapatkan cinta gadis itu. Seandainya kamu bisa, semua keinginan kamu akan aku penuhi," tantang Evan.
"Ah, ngapain? aku tidak tertarik sedikitpun melihat dia."
"Katakan saja kalau kamu takut. Dasar pengecut! katanya kamu primadona setiap gadis. Ditantang untuk merebut hati seorang gadis desa saja tidak berani," cibir Evan.
Gavin yang diam sedari tadi melihat perdebatan kedua temannya ini angkat bicara.
"Jangan mempermainkan perasaan orang lain demi ego kalian, kasihan orang yang tidak bersalah jadi korban," Gavin menasehati kedua temannya ini. Karena menurut dia mereka berdua ini sudah keterlaluan.
Namun ucapan yang dilontarkan Evan kepadanya sangat menghina harga dirinya yang begitu angkuh.
"Oke! Siap-siap saja kamu jatuh miskin," gertak Jhondra geram.
*****
Karena taruhan dengan Evan kemarin, terpaksa Jhondra harus menurunkan standar statusnya. Walaupun berat hati tetap saja ia berusaha untuk mendapatkan cinta Salmah supaya dia memenangkan taruhan.
Taruhan yang ia yakini akan membuat jatuh miskin temannya itu. Karena Jhondra yakin Salmah akan langsung meleleh saat dia menyatakan cinta. Sama seperti gadis lain yang selalu mengharapkan Jhondra menjadi kekasih.
Ketika Salmah melewati kost mereka, Jhondra menegur gadis itu dengan sangat ramah. Berbasa-basi bertanya berbagai hal sebagai upaya pendekatan.
Siapa yang tidak meleleh hatinya ketika seorang Jhondra yang tampan rupawan memberikan perhatian. Begitu juga dengan Salmah. Namun begitu, hatinya sudah duluan tertambat pada Evan pada pandangan pertamanya. Jadi Salmah hanya menanggapi Jhondra dengan biasa saja.
Pada suatu Sore Jhondra mengajak Salmah untuk bertemu dengan dia selepas ashar.
"Mau kemana Jhon?" tanya Evan ketika melihat Jhondra bersiap dan terlihat rapi.
"Mau menunjukkan kepada kamu secepatnya bahwa aku ini bukan pengecut. Dan bersiaplah untuk memenuhi apapun keinginanku."